Episode 70 - Santun Petaka



Keesokan pagi harinya, hampir seluruh penduduk Kutaraja Mega Mendung beserta ribuan Prajurit tampak mengadakan doa bersama di rumah Ki Mantri Citrawirya, istri dan putri Ki Citrawirya yang mendengar kabar kematian Sang Mantri tersebut langsung memutar balik kembali ke Rajamandala, para pembesar Mega Mendung pun melayat ke tempat kejadian perkara. Di pendopo rumah, jenasah Ki Citrawirya serta belasan jenasah prajurit dan pembantunya ditaruh didalam keranda, para pelayat pun membacakan surat Yasin untuk para almarhum.

Ki Sentanu memacu kudanya dengan cepat menuju ke rumah Ki Citrawirya, ia lalu tergopoh-gopoh masuk ke Pendopo, di sana ia langsung menemui Ki Balangnipa dan Sang Prabu. “Bagaimana keadaan Ki Wirya?” tanyanya dengan panik.

Ki Balangnipa menatap sebentar pada Ki Sentanu, ia lalu menyibakan kain kafan yang menutupi jenasah Ki Citrawirya, “Astagfirullah!” seru Ki Sentanu tertahan ketika melihat keadaan jenasah Ki Citrawirya yang amat mengenaskan, sekujur tubuhnya hangus dan mengeluarkan bau sangit yang teramat sangat! Istri dan putri almarhum pun menangis tersedu-sedu melihat keadaan jenasah orang yang mereka sayangi tersebut.

“Kakang! Mengapa jadi begini?!” ratap Istri Ki Citrawirya sambil mendekap Ki Sentanu yang merupakan kakak kandungnya.

Ki Sentanu pun memeluk adiknya sambil mengelus-elus punggungnya. “Ada sesuatu yang tidak bisa kita tolak kedatangannya dalam hidup ini... Yaitu takdir!” ucap Sang Tumenggung, “Siapapun tidak akan mampu menolaknya… Raja, para wali, bahkan para Nabi pun tidak akan bisa menolak datangnya takdir! Kematian suamimu sudah tercatat dilangit, bahkan sebelum beliau dilahirkan ke dunia, jadi tidak perlu terlalu kau ratapi, meskipun hatimu sedih…” ungkap Ki Sentanu membesarkan hati adiknya.

“Lalu apa yang harus saya lakukan?” tanya Nyi Citrawirya dengan mata berlinang.

“Sabar! Tawakal pada Gusti Allah!” jawab Ki Sentanu sambil tersenyum.

“Saya belum sempat membalas semua budi Kakang Citrawirya, saya belum cukup berbakti kepadanya! bahkan semalam saya tidak berada disisinya sebelum ia meninggal!” ujar Nyi Citrawirya lagi.

“Berdoa, kamu harus berdoa pada Gusti Allah adikku, berdoalah agar dosa-dosa suamimu diampuni oleh Gusti Allah dan segala amal baktinya diterima olehNYA…” Jawab Ki Sentanu dengan lembut.

*****

Malam itu disebuah gua di lereng Gunung Gede, Jaya Laksana nampak berjalan mengendap-endap memasuki goa tersebut dengan langkah dan gerakan yang tanpa menimbulkan suara, di bagian gua yang terdalam, ia melihat Mega Sari, Ki Silah, dan Emak Inah sedang tertidur pulas, dan disatu cekungan tembok gua, nampaklah mayat Dharmadipa yang terbujur kaku.

Jaya melangkah menghampiri mayat Dharmadipa, sejenak ia menatap mayat yang terbujur kaku itu. Jaya lalu melepaskan selendang Pati Sukma dari pinggang Dharmadipa dan melepas benang Tirta Sukma dari jempol kaki kanan Dharmadipa, Jaya lalu melemparkan selendang dan benang pusaka itu kedalam kobaran api unggun yang menyala di sana!

Perlahan Mega Sari membuka matanya, ia langsung meloncat ketika Jaya membakar kedua benda pusaka itu, “Kakang apa yang kau lakukan?!” jeritnya, tanpa ragu ia langsung hendak mengambil kedua benda yang telah dilalap api tersebut, tapi tangan perkasa Jaya segera mencengkram tubuhnya. “Adikku biarkan kedua benda celaka itu habis terbakar!”

Mega Sari terus meronta. “Tidak Kakang! Tanpa kedua benda itu aku tidak bisa menghidupkan kembali Kakang Dharmadipa!”

“Justru kedua benda itu memang harus dimusnahkan adikku! Mega, lihat aku! Kamu harus menghentikan ini semua sebelum terlambat! Yang merasuki dan menggerakan tubuh Dharmadipa itu bukan sukma Dharmadipa, tapi Jin Bagaspati yang sangat jahat! Cepat atau lambat ia akan berbalik mencelakaimu Adikku!” peringat Jaya.

Akan tetapi Mega Sari tidak mempedulikannya, ia terus meronta. “Tidak! Kakang tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai! Kakang tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan segalanya! Selama ini hanya Kakang Dharmadipa yang mencintaiku dengan tulus! Biarkan ia terus hidup abadi selamanya! Aku tidak peduli! Lepaskan aku!” jerit Mega Sari.

“Lepaskan! Lepaskan!” jerit Mega Sari sambil meronta-ronta dalam tidurnya.

Ki Silah dan Emak Inah terbangun mendengar igauan Mega Sari, mereka lalu membangunkan Gustinya. “Gusti! Gusti! Bangun Gusti! Gusti!” ucap Emak Inah sambil menepuk-nepuk pundak Mega Sari, Mega Sari pun membuka matanya, dengan sekujur tubuh dipenuhi keringat dingin, ia bangun lalu duduk.

“Gusti kenapa? Kenapa Gusti sampai mengigau begitu?” tanya Emak Inah.

Mega Sari menghela nafas berat, ia lalu mengusap keningnya yang banjir keringat dingin. “Saya bermimpi buruk sekali Emak!”

Emak Inah mengerutkan keningnya, “Mimpi buruk apa?”

Mega Sari terdiam sebentar, ia lalu menatap selendang Pati Sukma dan benang Tirta Sukma yang tergeletak disebelah mayat Dharmadipa yang kini terbujur kaku. “Saya bermimpi Kakang Jaya datang kemari, ia lalu membakar selendang dan benang pusaka itu, saya berusaha mencegahnya tapi Kang Jaya terus membakarnya, ia berujar bahwa saya saya harus menghentikan semua ini sebelum Jin Bagaspati itu berbalik mencelakai saya!”

Ki Silah dan Emak Inah saling pandang, Emak Inah lalu menghela nafas, ia memberanikan diri berujar pada Gustinya. “Gusti, Emak mohon maaf sebesar-besarnya... Tapi mimpi itu mungkin satu tali penyambung rasa antara Gusti dan Raden Jaya, mungkin ia mengetahui apa yang kita lakukan dan hendak memberi peringatan bahwa apa yang kita lakukan ini sangat berbahaya!” Emak Inah lalu menyiku Ki Silah agar suaminya meneruskan. “Benar Gusti... apa tidak sebaiknya kalau kita... Menghentikan semua ini?” lanjut Ki Silah.

“Tidak!” tegas Mega Sari, “Aku tidak peduli sebahaya apapun ini! Aku tidak peduli apapun taruhannya! Aku akan berhenti kalau Negeri Mega Mendung sudah hancur lebur dan terhapus dari jagat raya ini!” Tandas Mega Sari.

Emak Inah dan Ki Silah hanya bisa saling pandang dengan lemas, “Sudah sebaiknya kita tidak usah pedulikan mimpi itu! Abah, simpan Selendang dan Benang itu baik-baik! Besok malam kita akan adakan upacara pemanggilan lagi, besok kita akan lenyapkan sasaran kita yang berikutnya!” tandas Mega Sari.

*****

Malam itu di rumah Tumenggung Jaya Laksana di Surasowan Banten, Jaya yang baru sampai ke rumahnya tadi sore tidak bisa memicingkan matanya, ia terus teringat pada Mega Sari setelah mendapat pesan dari gurunya sewaktu habis bertapa di Pelabuhan Ratu. “Mega Sari... Dimana kamu? Oh Gusti... Seandainya posisiku tidak serba sulit seperti sekarang, ingin benar aku mencari satu-satunya adikku untuk menyelematkannya dan membebaskannya dari jerat kesengsaraan…” bathin Jaya.

Saat itu Galuh yang tidur disampingnya jadi terbangun karena suaminya terus gelisah, ia membuka matanya lalu menatap wajah suaminya. “Kakang tidak tidur? Apa ada yang kakang khawatirkan setelah bertapa kemarin?”

Jaya melirik pada Galuh lalu membelai kepala Galuh sambil tersenyum. “Maafkan aku istriku kalau aku membuatmu terbangun, tidurlah lagi.”

Galuh menggelengkan kepalanya. “Tidak Kakang, kalau Kakang mempunyai masalah aku ingin mendengarnya!”

Jaya tersenyum kecil sebentar lalu menghela nafas berat. “Seperti yang tadi aku ceritakan Nyai, sesudah bertapa aku mendapatkan pesan dari Guruku Kyai Supit Pramana bahwa saat ini Mega Sari sedang terancam satu bahaya besar! Aku ingin sekali mencarinya dan membawanya kemari agar kita bisa hidup saling berdampingan dan aku bisa terus mengawasinya... Tetapi seperti yang kamu tahu, gerak-gerikku sangat terbatas di Banten ini, ditambah aku baru saja izin untuk pergi selama beberapa hari untuk menyepi, rasanya tidak mungkin kalau aku meminta izin lagi pada Gusti Sultan untuk mencari Mega Sari.”

Jaya lalu menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan sedih. “Aku sangat khawatir padanya, aku mendapatkan firasat yang buruk! Perasaanku sangat tidak enak!” lanjutnya.

“Kakang benar... Tapi mungkin saat ini sebaiknya Kakang bersabar, apalagi seperti yang aku ceritakan tadi bahwa saat ini di Banten tengah terjadi peristiwa pembunuhan misterius, belasan orang Prajurit yang berjaga didaerah perbatasan Kutaraja banyak yang tewas terbunuh dengan tubuh menghitam!”

Jaya mengangguk-ngangguk. “Kamu betul Nyai, dalam perjalan pulangpun aku mendengar kabar bahwa di Banten sedang terjadi banyak kasus pembunuhan, beberapa pedagang beserta para pengawalnya yang melewati daerah Banten Girang untuk menuju ke wilayah Mega Mendung untuk berdagang banyak yang tewas terbunuh dengan sekujur tubuh menghitam!”

Sementara itu dilluar benteng rumah Jaya, dua sosok bayangan berpakaian hitam-hitam berkelebat menaiki tembok benteng rumah Jaya yang tinggi itu, saat kaki mereka menjejak tanah, dua orang prajurit penjaga rumah Jaya melihat mereka. “Hei siapa kalian?!” bentak prajurit jaga, salah seorang dari orang berpakaian serba hitam itu merogoh saku pakaiannya, lalu dilemparkan dua buah jarum yang langsung menancap tepat di leher dua orang prajurit jaga itu, mereka berdua langsung tewas kejang-kejang dengan sekujur tubuh menghitam!

Saat itulah datang lagi dua orang prajurit jaga yang lain yang sedang berpatroli “Hei siapa kalian?!” bentak yang satu, “Maling! Maling!” teriak yang seorang lagi, si pelempar jarum itu langsung melemparkan dua jarumnya lagi yang langsung membuat kedua prajurit jaga itu menyusul dua rekannya yang terlebih dahulu tewas! Dua orang berpakaian serba hitam itu lalu melompati lagi tembok benteng rumah Jaya lalu langsung kabur menjauhi wilayah Kauman Katumenggungan Surasowan.

Mendengar keributan diluar, Jaya, Galuh, dan Indra Paksi segera keluar dari kamarnya masing-masing dan melihat ke halaman belakang dimana tempat kejadian itu berlangsung, para prajurit jaga yang lainnya pun segera berkumpul di sana, “Biadab! Siapa yang melakukan ini?!” maki Indra Paksi.

Jaya segera memeriksa mayat-mayat para prajurit jaga tersebut.”Awas jangan sentuh mayat mereka!” peringat Jaya setelah melihat keadan mayat para penjaga rumahnya tersebut. “Hmm... Mereka mati akibat racun yang sangat ganas! Mirip dengan bisa ular kobra, tapi bukan...” Jaya lalu melirik pada Indra Paksi. “Kematian mereka sama dengan kematian para pedagang dan pengawalnya yang tewas di hutan wilayah Banten Girang!”

Jaya lalu melirik pada para prajurit Jaga/ “Apakah kalian melihat siapa yang melakukan ini?”

Seorang prajurit jaga segera menjura hormat sebelum menjawab. “Ampun Gusti, saya hanya melihat ada dua bayangan hitam yang berkelebat melewati tembok ini.” jawab si prajurit.

“Tapi kenapa mereka kemari? Mau apa mereka?” tanya Indra Paksi.

“Apakah mereka mengincarku?” tanya Jaya pada Indra Paksi.

Indra Paksi mengangkat bahunya. “Entahlah Raden, selama ini mereka beraksi secar acak, baru kali ini mereka berani menyerang di dalam kota, apalagi mereka berani menyerang rumah seorang pejabat keraton!”

Jaya memegang dagunya sambil menatap mayat para prajurit itu. “Entah mengapa aku mempunyai firasat kalau mereka sedang mengincarku!” ia lalu melirik pada semua prajurit. “Urus jenasah mereka secara layak, jangan sentuh tubuh mereka dengan tangan telanjang, gunakanlah daun pisang untuk melindungi tangan kalian! Dan mulai saat ini perketat penjagaan, kalau ada apaa-apa langsung laporkan padaku!”

Semua prajurit di sana pun mengamini perintah Jaya. “Dan berhati-hatilah! Jangan bertindak seorang diri, setiap regu patroli dan penjaga harus terdiri minimal empat orang!” lanjut Jaya.

Setelah memberi perintah demikian, ia dan Galuh pun masuk kembali kedalam rumah, tiba-tiba Galuh terbatuk-batuk dan berlari kebelakang, ia terus terbatuk-batuk kemudian muntah! Jaya segera berlari dan mengusap-usap tengkuk Galuh. “Kamu kenapa Nyai? Sakit?”

Galuh menggelengkan kepalanya. “Entahlah Kakang, sudah beberapa hari ini aku merasa tidak enak badan, kepalaku sering pusing, perutku sering mual, apalagi kalau mencium bau makanan yang menyengat.”

Jaya mengerutkan keningnya, “Kenapa bisa begitu Nyai?”

Galuh berbalik dan menatap Jaya dengan malu-malu, “Yang jelas sudah dua bulan ini aku tidak dapat Kakang.”

Jaya melotot, senyum lebar mengembang di bibirnya, hatinya dibuncah oleh perasaan senang. “Tidak dapat? Itu artinya?” Galuh mengangguk sambil tersenyum, Jaya langsung menggendong Galuh, di wajahnya terlukis senyum penuh kebahagiaan “Alhamdulillah! Akhirnya Gusti Allah memberikan kepercayaannya pada kita istriku!” ujar Jaya sambil menggendong Galuh kedalam kamarnya, ia lalu mengunci pintunya. Mumpung perut Galuh belum membesar, ia langsung menuntaskan rasa rindunya pada Galuh karena sudah lumayan lama tidak bertemu dengan istrinya yang hitam manis dan sangat cantik itu!

*****

Di keraton Mega Mendung, Prabu Arya Bogaseta memanggil seluruh sisa pembesar kerajaan yang masih ada, beliau juga memanggil istri dan putri almarhum Ki Citrawirya untuk menceritakan kesaksian mereka. “Sebenarnya kami tidak tahu bagaimana kejadian pastinya Gusti Prabu, karena saat kejadian, kami sedang menuju ke Kademangan Cipanas untuk menjenguk Ibu saya yang meninggal dua malam yang lalu, akan tetapi menurut orang-orang pandai yang saya tanyai, suami saya meninggal karena dimakan Banaspati.” (Banaspati = Mahluk Ghaib penjelmaan Jin berbentuk Api yang memiliki kekuatan dengan inti api yang dikenal di masyarakat Sunda dan Masyarakat Jawa, disebut juga Kemangmang di daerah Pantura Jawa Barat & Jawa Tengah, terutama di Indramayu dan Sindangkasih Majalengka).

“Iya betul... Kalau melihat muka dan badan jenasah yang gosong begitu, saya yakin kalau itu perbuatan Banaspati!” sahut Ki Sentanu. 

“Masalahnya, Apa di Negeri ini ada Banaspati?” tanya Ki Balangnipa, “Sebab setahu saya Banaspati hanya berada di daerah hutan geledegan yang terdapat di daerah pegunungan berapi, dan paling sering saya dengar kisahnya dari wilayah Kadipaten Sindangkasih atau lebih tepatnya di daerah Gunung Ceremai.” lanjut Sang Mahapatih tersebut. (Hutan Gledegan = Hutan Perawan yang sangat lebat).

“Memang selama ini saya belum pernah mendengar Ki Patih, tapi kalau bukan karena Banaspati, lalu siapa? Dibakar orang? Disekitar kejadiannya sama sekali tidak ada tanda-tanda habis kebakaran, memang pohon dibelakang rumah terbakar oleh sebuah obor, tapi di lokasi orang menemukan jasad suami saya, berjauhan dengan pohon itu!” jawab Nyi Citrawirya.

“Sebenarnya pada siang hari kemarin saat kami mendapt kabar kematian Nenek, kami mendengar suara cuitan burung Sirit Uncuing yang keras dan parau yang terus bercuitan sampai seolah menggema di sekitar rumah kami, kemudian saat dalam perjalanan menuju ke Cipanas, sepanjang perjalanan kami mendengar suara lolongan serigala dan kaokan burung-burung gagak, kuda-kuda kami juga meringkik tiada henti dan menjadi binal seolah ketakutan, tak lama kemudian suara cuitan burung Sirit Uncuing pun bergema disepanjang jalan perjalanan kami, karena perasaan kami semakin tidak enak, kami pun memutuskan untuk kembali ke Rajamandala, dan ketika sampai di rumah, kami melihat tumpukan mayat para pembantu serta para prajurit jaga di gerbang depan, kemudian kami pun menemukan ayah sudah meninggal dalam keadaan hangus terbakar!” tutur putri Ki Citrawirya yang nyaris hendak dijodohkan dengan Raden Jaya Laksana tersebut.

Sang Prabu mengangguk-ngangguk mendengar penuturan istri dan putri Ki Citrawirya tersebut. “Hmm... lebih baik kita jangan mengaitkannya dengan masalah takhayul terlebih dahulu, saya ingin tahu, apakah Ki Citrawirya punya musuh?”

Nyi Citrawirya menggelengkan kepalanya, “Tidak Gusti, bahkan meskipun menjadi pihak yang bersebrangan dalam politik dengan Prabu Kertapati dan Pangeran Dharmadipa, mereka berdua tidak pernah mengetahui pasti kalau Kakang Citrawirya memusuhi mereka dan menjadi salah satu penggagas gerakan untuk melengserkan Prabu Ketapati.”

Sang Prabu lalu menatap istri dan putri almarhum Ki Citrawirya dengan tatapan penuh rasa penasaran. “Mengapa saya simpulkan begitu? Karena tubuh hangus seperti itu, bisa saja terjadi akibat terkena pukulan Aji Pukulan Gerhana Matahari, atau aji Pukulan Sirna Raga, seperti yang dimiliki oleh Raden Jaya Laksana atau Pangeran Dharmadipa!”

Ki Balangnipa merasa tidak enak karena ucapan Sang Prabu barusan terkesan menuduh Jaya Laksana sebagai pelakunya, ia pun menjura hormat. “Maaf Gusti, kalau menurut saya, melihat luka bakar seperti itu lebih mirip dengan akibat terkena aji Pukulan Sirna Raga, sewaktu beberapa pejabat yang muslim dan ulama dibantai oleh Dharmadipa.”

“Tapi Paman Patih, bukankah Dharmadipa itu sudah mati? Menurut kesaksian Raden Jaya Laksana sendiri, ia tewas oleh pukulan Petir Menyambar Samudera Prabu Kertapati!” sela Prabu Bogaseta.

“Akan tetapi saya setuju dengan pendapat Kakang Patih, lagipula bukan hanya Dharmadipa saja yang memiliki pukulan Sirna Raga, selain ia ada beberapa orang yang memiliki pukulan tersebut, seperti si penciptanya sendiri Kyai Pamenang, Adipati Kuningan, seorang pandai besi bernama Kadir Muhamad di lereng gunung Pangranggo, juga Raden Jaya Laksana sendiri, mereka semua merupakan murid Kyai Pamenang” sahut ki Sentanu…

“Dan maksud saya juga hanya memberi percontohan Gusti, karena amat sulit untuk menyelidikinya kalau yang melakukan semua pembunuhan ini adalah mahluk Ghaib!” lanjut Ki Balangnipa.

“Tapi bagaimana dengan suara Sirit Uncuing yang selalu menyertai pembunuhan yang terjadi pada korban-korban sebelumnya?” tanya Sang Prabu.

“Itu pertanda yang paling kuat, bahwa pembunuhnya orang yang sama, dengan cara-cara yang sama juga, saya sangat yakin, bahwa selain membunuh, dia juga ingin menakut-nakuti semua penduduk dengan burung Sirit Uncuing, sehingga penduduk akan resah, dan menjadi tidak puas kepada pemimpinnya! Ini benar-benar rencana yang matang dan paling cerdas!” jawab Ki Sentanu.

“Ya betul, hal itulah yang paling masuk diakal! Dan sekali lagi yang harus kita ingat bahwa sampai saat ini kita belum berhasil menangkap Putri Mega Sari sebagaimana yang dititahkan oleh Gusti Prabu, maka menurut hemat saya, kita akan mendapat titik terang begitu kita berhasil menangkap Putri Mega Sari, atau minimal kita bisa mempersempit dugaan-dugaan yang kian melebar ke mana-mana ini!” ujar Ki Patih Balangnipa yang merasa sungguh keberatan kalau Jaya Laksana disudutkan oleh tuduhan-tuduhan dari Prabu Bogaseta.

***


Pengumuman:

Hai hai para sahabat pembaca setia Wasiat Iblis yang budiman dimanapun anda berada, dengan ini saya ingin memohon maaf sebesar-besarnya, karena Wasiat Iblis akan libur terlebih dahulu selama 1 minggu alias 2 episode (tanggal 1 dan 5 Januari 2019), karena penulis akan berlibur untuk pulang kampung dulu. Wasiat Iblis akan kembali hadir menemani anda mulai selasa 8 Januari 2019. Demikian, salam :)