Episode 17 - Naga Penghuni Telaga Ngebel



Hari ini adalah hari Minggu, di mana tadi malam tidak bertemu guruku entah karena apa. Kemungkinan beliau sedang sibuk, eh malah ketemu sesuatu yang membuatku kaget sekaligus syock banget, kenapa Hesti dan Mei datang ke mimpiku sambil IYKWIM, dan ah ya sudahlah. Begitu bangun pagi aku merasakan di daerah selangkanganku, dan aku lihat. “Wanjirrr…. apaan ini!” teriakku dalam kamar, kemudian mbah Kosim datang menghampiriku.

“Ada apa bos Edi?” tanya mbah Kosim padaku.

“Gak apa-apa mbah, hehe..” jawabku sanbil terkekeh. Kemudian mbah Kosim menatapku dengan tajam.

“Ada apa mbah melihat saya, apakah ada yang aneh,” tanyaku heran.

“Aura bos Edi sIbuin tebal, mungkinkah bos Edi sudah akil baliq?” tanya mbah Kosim penasaran.

“Akil baliq?” gumamku penasaran sambil mencerna omongan mbah Kosim.

“Selamat bos Edi sudah akil baliq, bos Edi sIbuin bertambah dewasa,” ucapan selamat dari mbah Kosim membuatku lebih bingung.

“Ya mbah, ya sudah aku mau mandi dulu mbah,” jawabku kemudian turun dari tempat tidur.

Aku lari ke kamar mandi, ku copot semua pakaianku, lalu aku cuci semuanya, terus mandi besar deh. Selesai mandi aku duduk di teras depan, melihat nyai Yun duduk di atas pohon mangga sambil memegang payung hitamnya yang melihat ke arah jalan. “Mungkin nyai sedang melihat kendaraan lalu lalang, karena zaman dulu belum ada kendaraan kali,” gumamku pelan. Kemudian aku menghampiri nyai Yun yang sedang duduk di atas pohon.

“Nyai Yun, ngapain di atas sana?” tanyaku pada nyai Yun.

“Eh bos Edi,” Nyai Yun turun melayang dari atas pohon mangga lalu berdiri di depanku.

“Nyai Yun ngapain di atas pohon?” tanyaku lagi kepada nyai.

“Lagi lihat itu bos Edi, kok bisa ya jalan sendiri tanpa di tarik kuda,” jawab nyai Yun sambil menunjuk kendaraan bermotor.

“Itu namanya motor Nyai Yun,” jawabku memberikan penjelasan. 

“Motor itu apa bos Edi?” tanya nyai Yun lagi.

“Motor itu, perkembangan dari delman kalau dulu delman ditarik dengan kuda, sekarang berubah jadi motor itu Nyai,” jawabku asal ngarang.

“Berarti kuda sekarang bisa berubah wujud jadi motor bos Edi?” tanya nyai Yun polos.

“Ya bisa dibilang seperti itu Nyai,” jawabku asal-asalan karena kalau dijelaskan sampai detail sampai kiamat gak bakal selesai.

Setelah bertanya kepadaku, nyai Yun memandang serius ke arahku.

“Ada apa nyai melihat saya, apakah ada yang aneh?” tanyaku heran sambil memicingkan kedua mataku.

“Bos Edi sudah akil baliq ya, selamat bos Edi,” ucap nyai Yun memberikan selamat padaku.

“Kok tau, nyai Yun siapa yang ngasih tahu, apakah mbah Kosim?” tanyaku heran kok bisa mereka berdua tahu.

“Saya lihat aura bos Edi lebih tebal dari sebelumnya,” jawabnya sama dengan jawaban mbah Kosim barusan. Apa jangan-jangan mereka berdua janjian ya.

“Oh, gitu ya Nyai, ya sudah maaf ya ganggu rutinitas Nyai,” balasku lagi.

“Gak apa-apa bos Edi,” jawab nyai sambil naik lagi ke pohon mangga lagi.

Ya rutinitas nyai Yun pagi sampai sore diatas pohon mangga nonton kendaraan lewat, sedangkan rutinitas mbah Kosim, pagi sampai sore molor di kursi ruang tamu, kalau malam mereka berdua berjaga di sekitar rumah. Jam menunjukkan pukul 10.00 wib, dari arah utara ada mobil sedan warna hitam, “Sepertinya aku pernah lihat ini mobil, tapi dimana ya!” gumamku mengingat-ingat memori lama. Kemudian mobil tersebut masuk ke dalam halaman rumahku. Sesampainya di halaman rumahku, keluarlah sopirnya dan ternyata adalah pak Hariadi.

Berarti yang di belakangnya adalah, sang tuan putri. Pak Hariadi menuju pintu belakang mobil dan keluarlah sang putri Mei Lin dengan pakaian one piece di padukan celana jeans dengan rambut dibiarkannya tergerai lurus, “Cantiknya,” ucapku lirih, sampai aku gak sadar sudah sejak tadi memandangi sang dewi ini.

“Heh bengong saja Ed,” respon Mei membuyarkan lamunanku.

“Eh, maaf Mei. Loh kok tau rumahku?” tanyaku mencairkan suasana canggung dengan pertanyaan bodohku.

“Ya, aku tahu dari pak Haliadi,” jawab Mei Lin.

“Oh, kamu kesini gak bilang-bilang,” tanyaku lagi pada Mei.

“Ya mau ngehubungi kamu gimana, kamu kan gak ada hp,” jawab Mei bener.

“Oh iya, kenapa gak kemarin aja ngomong ke aku pas disekolah,” tanyaku lagi seperti wartawan.

“Lupa... hehe, sebenelnya gak ada lencana mau kesini Ed,” jawabnya sambil terkekeh.

“Trus kalau gak ada rencana, kok bisa sampai disini?” tanyaku memulai perang.

“Ah, kamu mah nyebelin,” jawab Mei Lin sambil mencubit lenganku.

“Aduhh... duh... duh sakit Mei, gila cubitan kamu sakit juga ya,” ucapku kesakitan sambil mengelus lenganku.

“Mau lagi,” tawar Mei kepadaku.

“Engga, engga mau,” jawabku dengan takut.

“Yuk masuk Mei,” ajakku untuk masuk ke dalam rumah.

Kemudian aku mengajak masuk ke dalam rumah, lalu memanggil Ibu yang dibelakang rumah.

“Bukk.. ada tamu,” ucapku kepada Ibuku yang sedang di dapur.

“Tamu, siapa nak?” tanya Ibuku.

“Gak tau, orangnya cuantik banget,” ucapku mengerjai Ibuku.

“Hah..” Kemudian Ibu berjalan ke dalam rumah.

“Eh, ada pak Hariadi, sudah lama pak?” tanya ibuku dari dapur lalu bersalaman dengan pak Hariadi.

“Engga kok bu, baru saja tiba,” jawab pak Hariadi berdiri dari duduknya menjabat tangan Ibuku.

“Ini yang di sebelah siapa pak, cantik banget anak bapak?” tanya ibuku penasaran.

“Bukan Bu, nyonya ini anak dari tuan rumah tempat saya bekerja,” jawab pak Hariadi menjelaskan.

“Maaf ya Dek beginilah rumahnya Edi, namanya siapa Dek,” tanya ibuku pada Mei.

“Gak apa-apa Bu, nama saya Mei Lin Bu, saya teman sekelasnya Edi,” jawab Mei tersenyum memperkenalkan dirinya.

“Oh nak Mei ya, ya sudah ibu tinggal ke dapur dulu ya, Ed temenin mereka ya awas main mulu,” kata ibuku.

“Iya Bu, tenang,”

Ibu berjalan ke arah dapur, aku ajak deh mereka berdua ngobrol.

“Kamu kesini udah pamit sama orang tua kamu Mei?” tanyaku kepada Mei.

“Udah, sama papa dibolehin kok, ya sudah aku main kesini,”

“Enak ya di sini, udalanya sejuk banget, gak kayak di lumahku panas,”

“Namanya pedalaman Mei, ya gini lah tunggu 10 tahun lagi mungkin jadi panas juga,”

“10 tahun masih lama Ed,”

“10 tahun itu cepat loh, gak kerasa nanti kita jadi dewasa,”

“Benel sih Ed, eh kamu mau gak aku ajak jalan,”

“Jalan kemana Mei?”

“Emmm, ke mall yuk di MT,”

“Emm ogah ah, aku gak terbiasa ke mall gituan,”

“Lalu kemana Ed,”

“Emmm. Bagaimana kalau ke Ponorogo saja, kita main di telaga Ngebel,”

“Oke deh, aku mau ke sana Ed,”

“Ya sudah, aku ganti baju dulu ya,”

“Iya Ed,”

Aku masuk kamar lalu ganti baju, aku memilih pakaian ini saja deh. Hem putih corak hitam dengan celana jeans warna hitam. Setelah berganti pakaian aku ke ruang tamu, di ruang tamu sudah ada Ibu yang ngobrol sama Mei dan pak Hariadi.

“Mau kemana Nak?” tanya ibuku.

“Itu di ajak Mei main ke Ngebel Bu,”

“Oh, yasudah hati-hati ya Ed,”

“Iya Bu,”

Aku dan Mei pamit ke Ibu untuk main ke Ponorogo. Aku masuk kedalam mobilnya Mei dan duduk di sebelahnya, awalnya aku mau duduk di depan dengan pak hariadi tapi Mei menarikku untuk duduk di belakang dengannya, ya sudah aku menemani Mei duduk di belakang deh dari pada dia manyun mulu di jalan. 15 menit berjalan, mobil masuk ke jalan raya Madiun - Surabaya, 10 menit keluar dari jalan desa, sekilas aku melihat suatu gambaran, ya gambaran tersebut menjelaskan mobil yang aku tumpangi ini ditabrak oleh truk muatan pasir dari arah berlawanan karena setirnya patah, aku dibangunkan oleh Mei dari lamunanku.

“Ed, kenapa ngelamun telus,” tanya Mei sambil menggoyangkan tubuhku.

“Eh gak apa Mei, cuma...”

“Cuma apa Ed,”

“Nanti kamu akan tahu sendiri Mei,”

Ekspresi Mei dengan wajah bingungnya di sertai memiringkan kepalanya menghadapku membuatku ingin mencubit pipinya yang mulus itu tapi ku urungkan niatku dari ini bukanlah situasi yang tepat. Setelah hampir memasuki tempat kejadian, aku meminta tolong kepada pak Hariadi untuk menepi.

“Pak berhenti pak, kita menepi sekarang ada sesuatu yang ingin saya urus,” kataku kepada pak Hariadi agar menepi ke sisi jalan.

“Baik Dek,” mobil Mei menepi dengan panduanku barusan.

“Memang kamu mau ngapain Ed?” tanya Mei padaku.

“Lihat saja Mei, nanti juga tahu,”

“Pak hariadi, kita mulai jalan lagi setelah truk warna biru itu lewat ya,” seruku menunjuk truk bermuatan pasir di depan sana.

“Kenapa nunggu truknya lewat Dek, sekarang aja kita jalan,”

“Jangan pak, tunggu aja, nanti bapak juga tahu,”

“Baik Dek,”

Kemudian dari arah berlawanan terlihat truk warna biru dari tikungan jalan raya memuat pasir, truk tersebut berbelok dengan kecepatan lumayan tinggi, belum selesai belokan jalan raya, tiba-tiba truk tersebut berjalan lurus ke arah depan kami lalu, “ciiieeettttt…. Jeblurrrrr...” suara rem truk yang mencoba berhenti tetapi tidak bisa hingga masuk ke parit yang lumayan dalam yang ada airnya, sontak saja membuat pak Hariadi kaget dengan keringat bercucuran di wajahnya. Para pengendara motor berhenti di samping jalan raya menonton truk tercebur ke parit, ya cuma menonton tidak ada yang berusaha menolongi pengemudi truknya.

“Hampir saja kan pak,” kataku membuyarkan lamunan pak Hariadi.

“Iya dek, kok bisa ya,”

“Ya itulah pak, yuk jalan pak agak cepet aja ya pak,”

“Baik dek,”

Kemudian kita melanjutkan perjalanan ke arah telaga, hingga 2 jam kemudian kita sampai di telaga Ngebel.

“Wah udalanya dingin ya Ed,” kata Mei setelah keluar dari mobil.

“Iya, brrrr...! tahu gini tadi aku bawa jaket,” kataku mendekap tubuhku sendiri karena dinginnya gak nahan.

“Ayo Ed, kita ke pondok itu nyali makan,” ajak Mei melihat pondok bambu di sebrang telaga.

“Loh mana tadi pak Hariadi, gak ikut kita makan,” tanyaku melihat pak Hariadi sudah hilang duluan.

“Pak Haliadi gak ikut Ed, dia nanti nyali makan sendili,” nyari makan sendiri, dikirain burung. Kami berdua berjalan menuju pondok bambu, setelah mencari meja kami putuskan duduk di sebelah lereng agar bisa melihat pemandangan telaga.

“Mbak-mbak pesen dong,” kataku memanggil pelayan kedai. Pelayan itu menghampiri kita menanyakan pesanan.

“Iya Dek mau pesan apa?”

“Kamu mau pesan apa Ed,”

“Aku pesan teh anget aja sama bakso,”

“Aku juga mbak samain ya,”

“Baik Dek tunggu bentar ya,”

“Kok samain Mei?”

“Iya Ed, bial aku tahu makanan kesukaan kamu, eh ngomong-ngomong makanan kesukaan kamu apa Ed,”

“Aku sih gak terlalu pilih-pilih makanan Mei, selama dibuat sepenuh hati aku suka,”

“Kok gitu Ed,”

“Iya Mei, bersyukur saja dengan apa yang diberikan Mei, makanan kesukaanmu apa Mei”

“Nasi goleng Ed,”

“Oh... kirain!”

“Kilain apa Ed?”

“Kirain kamu gak makan, hahaha..”

“Yey, lemes dong.”

15 menit makanan pesanan kita datang di sambut dengan cuaca dingin ini menjadikan makanan terasa lebih nikmat, apalagi di depanku ada dewi yang sangat baik dan cantik.

“Mei aku mau nanya boleh?” kataku sambil memakan bakso.

“Mau nanya apa Ed,”

“Kamu punya saudara gak Mei, kakak atau adik,”

“Ada Ed, aku punya kakak selisih 10 menit denganku,”

“Uhuk..” tersedak bakso tadi “Kamu kembar Mei,” aku terkejut dengan penuturan Mei bahwa ia mempunyai saudara kembar.

“Iya aku kembal Ed, kakak ku cewek dia sekolah di smp dekat lumah sana,”

“Kok gak ikut sekolah sama kakakmu aja Mei,”

“Kakak ku gak mempunyai mata sipit sepeltiku Ed,” ekspresi Mei berubah murung setelah pertanyaanku barusan.

“Gak usah murung Mei, kamu cantik dengan mata sipitmu,”

“Hehe, kamu bisa aja Ed,”

“Ya udah, habisin dulu gih makannya,”

Selesai kita makan kita berkeliling telaga ini, airnya dingin banget. Disaat aku menyentuh permukaan air ini, aku merasakan riak energi mahluk astral yang kuat sekali. Perkiraanku ada di bawah telaga ini. Aku mencoba mendeteksi wujudnya. “Seekor naga bersisik hijau gelap, sedang melingkarkan tubunya. Hibernasi. Tanduknya bercabang-cabang dan taringnya yang banyak mencuat keluar dari mulutnya,”. Sekitar sejam kita berkeliling menikmati telaga indah ini, kemudian kita menuju mobil Mei untuk pulang. Sebelum masuk ke mobil Mei nyai Yun datang menghampiriku.

“Eh nyai, ada apa nyai?” tanyaku melihat kedatangan nyai Yun.

“Begini bos Edi, bolehkah saya meminta ijin sebentar,”

“Memang Nyai mau kemana,”

“Saya mau bertapa digunung semeru bos Edi, untuk meningkatkan kekuatan saya karena bos Edi sudah akil baliq,”

“Baiklah nyai, masih ada mbah Kosim kok, nyai hati-hati ya,”

“Baik bos Edi, saya pamit dulu bos Edi,”

“Baik nyai Yun,”

Nyai Yun pergi meninggalkan aku sendirian bersama mbah Kosim, “berapa lama nanti nyai bertapa,”gumamku dalam hati. Ya sudahlah tidak ada untungnya memikirkannya terus, aku masuk ke mobilnya Mei lalu menuju rumahku. Sampai rumah jam menunjukkan pukul 16.00 wib.

“Kamu gak apa-apa Mei pulang sore begini,” tanyaku khawatir.

“Gak apa Ed, kan tadi sudah ijin sama papa,”

“Oh yasudah hati-hati ya,”

“Iya Ed, kapan-kapan kamu mau gak main kelumahku Ed,”

“Ke rumahmu, rumahmu jauh Mei, nanti lah kalau aku sudah bisa naik motor,”

“Gak apa, nanti bial di antal jemput sama sopilku,”

“Gak ngerepotin nih Mei,”

“Engga kok, tenang saja,”

“Oke deh, hati-hati Mei,”

“Iya Ed, dadah Edi, cuppp,,” Mei memberiku ciuman di pipi kananku sedangkan aku masih bengong dengan memegang pipi kananku. Hingga ucapan Mei membuyarkan lamunanku.

“yey malah bengong, ya sudah aku pamit dulu ya Ed, daaaahhh..”

“Eh iya, daaahhhh...”

Mei masuk mobil, lalu meninggalkan halaman rumah sampai mobil pun tidak terlihat lagi, aku masih bengong dengan kejadian barusan. Coba kalau waktu bisa berhenti, aku ingin hentikan waktu saat Mei mencium pipiku. Aku kemudian masuk rumah dengan ditemani mbah Kosim yang sedang tiduran di sampingku.

“Mbah jangan pergi dulu ya, solanya nyai Yun tadi pergi ke gunung semeru mbah,” kataku sambil ngelus-ngelus bulu halus nya mbah Kosim.

“Iya bos Edi, tadi nyai menitipkan pesan kepada mbah untuk menjaga bos Edi sementara,”

“Ya sudah mbah kalau begitu,”

Aku mengingat kejadian waktu pagi, bagaimana bisa gambaran masa depan berada dalam fikiranku, padahal aku berlatih penerawangan baru 2 hari. Aku lantas menunaikan shalat isya lalu menuju kamar untuk tidur. kali ini aku bertemu guru besar dan memulai latihan penerawangan kembali.