Episode 52 - Ikuti Aku


Wendy dan yang lainnya tidak sadar, di ujung gang yang sedang mereka lewati, seorang pemuda dengan pakaian serba hitam sedang melihat mereka dengan tajam.

“Hahaha, sialan, seperti yang aku duga pemirsa, rumor tentang iblis hitam itu hanya bohongan.”

“Benar, orang-orang yang menyebarkan rumor ini hanya mencari-cari sensasi saja.”

“Ini hanya pengalihan isu.”

“Hei, apa maksudmu dengan pengalihan isu, kau pikir orang-orang bodoh itu adalah politisi.”

“Kau salah, menurutku semua politisi itu orang-orang yang lebih bodoh, mereka mencari tanggung jawab, padahal mereka tidak mampu menanggungnya, kurang bodoh apa lagi.”

“Hahaha, kau benar sekali.”

Wendy dan teman-temannya terus mengatakan omong kosong untuk membuat siaran menjadi lebih menarik, dan tanpa mereka sadari mereka mulai masuk ke dalam topik politik, padahal mereka tidak tahu sama sekali tentang politik, mereka hanya tahu tentang keburukan dari para politisi, semua itu berkata para tim sukses yang sangat aktif menyebarkan kelemahan musuh, bukan kelebihan calon yang mereka dukung.

Ketika mereka sedang asik mengobrol, sebuah langkah kaki lemah mulai mendekat. Mereka masih belum menyadarinya, tapi langkah kaki itu pelan tapi pasti semakin mendekat.

“Sialan, ini buang-buang waktu saja.”

“Kau benar, sebaiknya kita mencari orang yang menyebarkan rumor ini dan menghajarnya, berani sekali dia membuat kita seperti ini.”

“Kau benar, kurasa itu lebih baik daripada berjalan di tengah malam tidak jelas seperti ini.”

“Baiklah, kita akhiri saja omong kosong ini.”

“Oke, dan kalian dengar, kan, kami akan mengganti sasaran kami menjadi orang-orang yang menyebarkan rumor omong kosong ini, jadi bersiaplah kalian.”

Mereka tertawa dengan keras tanpa tahu bahwa nasib buruk akan segera menimpa mereka. 

Di sela tawa Wendy dan teman-temannya, ketika Jenny hendak menghentikan rekaman, tiba-tiba saja matanya terpaku pada sosok serba hitam yang bergerak mendekati mereka. Jenny terus memperhatikan, hingga akhirnya dia mendapatkan satu kesimpulan, sosok hitam itu pasti si Iblis Hitam yang saat ini sedang di rumorkan, sosok yang sedang mereka cari keberadaannya.

Namun, Jenny tidak pernah menyangka bahwa sosok yang ada dalam rumor tersebut benar-benar nyata, dia sedikit senang dan juga gelisah, jika memang si Iblis Hitam akan menyerang siapapun yang dia temui, maka mereka pasti adalah target selanjutnya.

“Jenny, apa yang kau lakukan, matikan saja kameranya.” Lamunan Jenny terbuyar oleh Wendy yang berkata dengan agak keras karena Jenny yang mengacuhkannya.

“Wendy, teman-teman, coba lihat di belakang sana.” Jenny menunjuk dengan jarinya.

Wendy dan yang lainnya menoleh dan seketika sosok serba hitam masuk dalam bidang pandang mereka.

“Itu ... Iblis Hitam, kan?”

“Apakah itu benar-benar dia?”

“Tidak salah lagi, itu pasti si Iblis Hitam.”

“Wendy, bagaimana menurutmu?”

“Sial! Bodoh sekali, sudah pasti dia adalah si iblis Hitam sialan itu,” Wendy berteriak dengan wajah sumringah, “haha, kita pasti akan terkenal, ayo kita ungkap siapa sebenarnya dia.”

“Tapi, menurut rumor dia menghabisi semua orang yang dia temui, apakah mungkin bagi kita untuk menglahkannya?”

“Haha, jangan mau dibodohi, aku yakin bahwa dia yang membuat rumor itu sendiri, agar tak ada anak muda yang berani keluar pada malam hari. Ayo kita lihat siapa orang sok pahlawan itu.” Wendy tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, karena dia yakin, dengan membongkar siapa sebenarnya Iblis Hitam yang sedang hangat diperbincangkan saat ini pasti akan membuat dia akan terkenal.

“Sialan! ayo kita lihat siapa orang sok pahlawan itu.”

“Hehe, mari kita buka kedoknya hari ini dan permalukan dia agar tak lagi sok menjadi pahlawan.”

“Benar, dia layak mendapatkannya.”

“Berhenti membuang-buang air ludah kalian, ayo kita beraksi.” Teriakan Wendy membuat teman-temannya berhenti berbicara.

“Ayo kita maju,” Wendy berkata lagi,”Jenny, ambil gambar dari posisi terbaik, karena peristiwa ini sama sekali tidak boleh kita sia-siakan.”

“Tenang saja, kau bisa serahkan masalah ini padaku.” Jenny menjawab dengan senyum manis di wajahnya.

“Bagus, ayo bergerak.” Perintah Wendy.

Dengan komando dari Wendy, semua teman-temannya dengan serempak maju dan memenuhi gang yang tidak terlalu lebar itu. Tidak butuh waktu yang lama hingga akhirnya mereka semua kini berhadapan dengan si Iblis Hitam.

“Hai, tuan sok pahlawan, hari ini kau pasti akan menyesali semua perbuatanmu.”

Jika memang apa yang dipikirkan oleh Wendy benar, bahwa si Iblis Hitam ini adalah orang yang menyebarkan rumor itu, maka memang dia akan menyesalinya.

“Haha, jangan salahkan kami, kau sendiri yang mencari masalah.”

Apa yang dia katakan sangat tidak masuk akal, jika memang benar tujuan si Iblis Hitam itu menyebarkan rumor agar tidak ada pemuda yang pergi saat tengah malam, maka tujuannya sangat mulia, dan memang banyak orang tua yang meskipun tidak mengatakan apa-apa, bahagia dengan kehadirannya, hal ini karena dia membuat anak-anak mereka tidak berani untuk keluar malam. 

Namun, Wendy dan teman-temannya lah yang mencari masalah dengan mencoba untuk membongkar kedok si Iblis Hitam. 

“Berhenti mengatakan omong kosong,” Wendy berteriak dengan keras lalu memandang si Iblis hitam dengan wajah galak, “aku akan memberikan kesempatan bagimu untuk mengakui sendiri siapa sebenarnya kau, atau kami akan melakukanya dengan cara paksa.”

Meskipun belum sepenuhnya apa yang Wendy katakan tentang si Iblis Hitam bahwa yang sebenarnya menyebarkan rumor tersebut adalah dia, akan tetapi Wendy yakin, begitulah kenyataan yang sebenarnya. Wendy membuang opsi bahwa si Iblis Hitam memang menghabisi setiap orang yang dia temui di gang sepi pada malam hari, karena menurutnya itu sangat tidak masuk akal. 

Coba bayangkan saja, memangnya apa keuntungan yang dia dapatkan setelah melakukan semua itu? tidak ada bukan, setidaknya begitulah menurut Wendy.

Semenatara itu si Iblis Hitam masih terdiam menatap tajam Wendy dan yang lainnya. Mereka semua tidak bisa melihat bagaimana ekspresi si Iblis Hitam saat ini, akan tetapi sorot matanya bisa dengan jelas mereka rasakan menusuk jiwa, membuat bulu kuduk mereka berdiri tanpa mereka sadari.

“Hei, katakan sesuatu!”

“Sialan! cepat jawab, apakah kau bisu?”

“Dia benar-benar mencari masalah, ayo kita paksa saja dia dengan sedikit kekerasan.” 

Seorang pemuda maju dengan senyum kecil menghiasi wajahnya, akan tetapi dengan cepat Wendy “?hentikan.

“Tenang saja, jangan terburu-buru, lagipula kita juga masih punya banyak waktu.” Wendy berkata untuk menenangkan temannya.

“Baiklah.”

Dia mematuhi apa yang Wendy katakan. Memang saja, di dalam kumpulan mereka, Wendy adalah orang yang paling dihormati, tidak hanya dia kuat dan pandai berkelahi, tapi dia juga memiliki kharisma dan keberanian. Sosok yang sangat tepat untuk menjadi pemimpin kelompok tersebut, tapi sayang, dia terlalu percaya diri.

Dalam beberapa kondisi, rendah hati bisa menjadi senjata paling tajam untuk menyelesaikan semua masalah.

“Hei, teman, aku peringatkan sekali lagi, aku tidak ingin menggunakan kekerasan untuk membuatmu mengakui semua perbuatanmu.” Wendy dengan nada bijak mencoba membuat si Iblis Hitam mengungkapkan dirinya.

“....”

Namun, tidak ada jawaban yang dia dapatkan. Lalu tiba-tiba saja si Iblis Hitam kembali berjalan mendekati Wendy dan teman-temannya.

“Haha, Jenny, jangan biarkan momen ini hilang, akhirnya kami akan mengungkap siapa si Iblis Hitam sebenarnya.” Teriak Wendy dengan semangat, dia beranggapan si Iblis Hitam terdiam karena takut pada mereka semua, dan akhirnya dia maju untuk mengungkapkan diri karena tidak punya pilihan lain. 

“Ba-baik.” Jenny berkata dengan ragu, karena menurut firasatnya, si Iblis Hitam berjalan mendekat bukan dengan tujuan yang baik. Tapi dia tidak berani mengatakan hal tersebut pada Wendy.

Kini si Iblis Hitam hanya berjarak tiga langkah dari Wendy, “Haha, baiklah, sekarang cepat ungkapkan siapa dirimu yang sebenarnya.”

Jenny terus merekam adegan tersebut dengan saksama. Gelap malam dan sedikitnya penerangan di gang membuat sosok si Iblis Hitam masih tidak jelas.

Lalu, ketika akhirnya si Iblis Hitam berada di depan Wendy, dengan sangat tak terduga dia segera melepaskan tinju yang amat sangat cepat dan tiba-tiba saja Wendy telah terlempar ke belakang dan menghantam beberapa temannya yang berada di belakangnya.

Mereka semua tersentak dengan adegan tersebut, sama sekali tak menyangka bahwa si Iblis Hitam akan dengan tiba-tiba menyerang Wendy.

“Wendy, Wendy, cepat bangun.” Teriak salah seorang sembari memukul-mukul pipi Wendy, akan tetapi tidak ada respon sedikitpun. Wendy telah jatuh pingsan hanya dengan satu pukulan si Iblis Hitam.

Melihat bahwa pemimpin mereka tak sadarkan diri setelah di serang oleh si Iblis Hitam, teman-teman Wendy tidak tinggal diam, mereka semua secara serentak maju dan mencoba menyerang si Iblis Hitam. Namun, semua serangan bisa dengan mudah dia hindari atau tangkis, dan dengan satu serangan saja mereka satu-persatu tumbang.

Sebuah kekuatan absolut yang sangat mendominasi.

“Sialan, ternyata rumor itu memang benar.”

“Iblis, dia memang Iblis.”

“Lari.” 

Setelah salah seoorang berteriak untuk melarikan diri, mereka semua yang masih sadarkan diri segera berlari menjauh. Namun, keingingan tersebut hanya menjadi keinginan saja, si Iblis Hitam tidak mengizinkan mereka untuk pergi.

Dengan sangat cepat si Iblis Hitam mengejar orang yang melarikan diri. Tidak ada yang menyadarinya, seperti teleport, dalam sekilas dia sudah tepat berada di sampingnya dan segera melepaskan tinju yang seketika membuat orang tersebut tak sadarkan diri.

Satu persatu mereka mulai tumbang, hingga tidak ada lagi yang tak tersisa. Mereka semua terbaring tak sadarkan diri.

Malam yang gelap, di gang yang sepi, tak ada sedikitpun suara kecuali suara hewan malam.

Di salah satu pojok gang, Jenny terjatuh sambil memegang kameranya merekam semua adegan yang baru saja terjadi. Semua itu terjadi dalam sekejap mata, sangat singkat sekaligus menakutkan. 

Jenny terus memegang kamera tersebut dengan gemetar dengan satu tangan, sedangkan itu tangan yang lainnya dia gunakan untuk menutup mulutnya agar tidak berteriak. Tanpa dia sadari tanah yang dia duduki terasa hangat.

Si Iblis Hitam menatap tajam pada tempat dimana Jenny terduduk, lalu tiba-tiba saja karena terlalu takut Jenny tak sadarkan diri.

Waktu terus mengalir, si Iblis Hitam masih berdiri di sana, hingga tak tahu berapa lama, akhirnya Wendy terbangun dari pingsannya. Kepalanya terasa sakit, terutama di bagian wajahnya, tempat dimana Wendy dipukul.

Si Iblis Hitam menoleh ke arah Wendy lalu dengan suara yang berat dia berkata, “Ikuti aku.”