Episode 29 - Mantan Jawara Prathama


Batu mulia yang dimuntahkan dari mulut seekor anjing tetaplah batu mulia.

—Penyair Li-Sing


Sidya menatap langit yang nampak diantara rapat teduh pepohonan. Sepertinya Pisun memang benar-benar pergi, tak terlihat lagi sosoknya menjelajah birunya angkasa semudah seseorang melangkahkan kaki. Dia mengerling gurunya, yang kali ini posisi tidurnya jadi sangat miring hingga Sidya tak akan heran jika nantinya melihat air liurnya menetes jauh ke bawah.

Tak ia sangka usaha untuk menyusul gurunya malah membuahkan hasil seperti ini. Walaupun hanya sedikit, ia sudah diajari dasar dari ilmu peringan tubuh yang luar biasa. Sidya merasa akan sulit menyusul gurunya, meski dia sudah belajar. Mustahil baginya untuk melompat sejauh itu sekarang, apalagi meringankan diri hingga mirip terbang. Betapapun Pisun menganggap bahwa Sidya memiliki bakat, hal lain yang mendukung bakat adalah pengalaman dari pengamalan ilmu. Dia belum punya pengalaman dan pengamalannya hanya dilakukan dua kali, itupun dimulai dari hari ini. Maka dari itu, dia menyandarkan diri ke batang pohon mati yang sebelumnya menjadi sasaran pukul, berniat untuk langsung memanggil ketika gurunya terbangun, sembari sesekali mengamati sekitar jikalau ada orang yang datang.

Matanya kembali mengawasi gurunya, yang makin lama makin sembrono saja tidurnya. Hikram berbalik, menggaruk punggung, kemudian memutar badan. Kalau seperti itu terus-terusan, dia benar-benar akan jatuh.

Tepat saat Sidya memikirkan kata “jatuh”, Hikram benar-benar menggelundung dari tempatnya. Sidya berteriak kaget, tapi dengan kecepatan yang sangat mengagumkan Hikram berhasil memutar badan di udara kemudian melakukan salto putar tepat saat ia melabrak permukaan. Jatuh bergulungnya membuat rasa sakit yang akan dideritanya berkurang.

Hikram terengah-engah mengatur napasnya karena hawa murni yang digunakannya untuk meringankan diri menguras tenaga yang sedang tidak penuh, sementara Sidya malah amat senang melihat unjuk kecepatan tersebut, sampai-sampai bertepuk tangan.

“Guru hebat!”

“Tentu saja aku hebat!” Hikram langsung menjawab sembari berkacak pinggang, “Ilmu peringan tubuhku tak kalah hebat dengan bocah walet yang sok mengajar itu, tahu?”

“Loh,” Sidya tersadar, “guru tahu dia ada di sini? jadi guru menguping? Guru tidak sedang tidur saat jatuh?”

“Aku tidur, tapi telingaku masih pada tempatnya dan tengah terpasang jikalau ada orang mendadak menyerang.”

“Yang berarti guru sedang tidak tidur, duh,” batin Sidya. Ia tidak menyuarakan hal itu tentu saja. Sama dengan cari hukuman namanya kalau menyanggah Hikram pada saat tak tepat seperti ini.

“Lihat tanganmu itu, lecet-lecet dan berdarah, walau tidak separah tangan kananmu. Aku harus merawat lukamu lagi.”

Sidya menunduk, tapi nada gurunya yang masih seperti biasa memberikannya harapan. Mungkin, mungkin untuk saat ini guru tidak marah besar. Dengan takut-takut ia melirik gurunya, yang sedang menyobek kain lagi, kemudian menutul-nutul luka Sidya untuk menghentikan pendarahan. Perih, tapi ia lebih cemas tentang reaksi gurunya kali ini.

“Guru tidak berniat menghukumku?”

“Tidak. Buat apa?”

Sidya segera mengingatkannya, “guru melarang Apit mengambilku sebagai murid.”

 “Aku tidak melarangnya. Hal yang kukatakan adalah “Tak boleh seorang murid menuntut ilmu tambahan sementara guru pertamanya tidak mengijinkan”. Buat apa kau diajar Apit sementara ilmunya turun dari orang tuanya yang sebenarnya guruku juga? Pisun berbeda, aku tak mengenal gurunya, jadi ini sebuah kesempatan yang bagus untuk mendapatkan pelajaran yang benar-benar baru. Ya, aku mengijinkanmu belajar dari bocah walet itu.”

“Pasti karena guru tidak begitu pandai menggunakan ilmu peringan tubuh, ya?”

Hikram pura-pura tersedak sesuatu, kemudian terbatuk-batuk keras. Ia menepuk-nepuk dada sembari berkata, “Sudah, tak perlu dibahas. aku telah memberi ijin, jadi tak perlu membicarakannya lagi. Sekarang, mari kita kembali ke kemah legiun. Ada urusan yang harus diselesaikan.”

 “Uhh, sebenarnya,” Sidya bergerak tak nyaman, “ada hal yang baru kuketahui saat aku sedang berada di perkemahan tadi, Guru.”

Hikram menatapnya baik-baik. Menilik dari mimik Sidya, ini bukan hal main-main seperti biasanya. Ia menghela napas, mengutuki ketidakmujuran yang selalu mampir padanya di dalam hati, kemudian lekas berkata, “baiklah. Jelaskan padaku hal buruk apa yang lagi-lagi kau temukan.”

Maka, Sidya menceritakan semua sedetil-detilnya. Dari jalan-jalan sebentar melihat perbaikan gerbang, melewati para pembawa peti, hingga petualangan kecilnya ke kemah paling mewah, tempat pertemuan kapten legiun dengan Hung yang berakhir buruk bagi bahu si kapten.

“Merepotkan,” komentar Hikram setelah Sidya mengakhiri ceritanya. Hikram agak bosan karena Sidya menambahkan deskripsi panjang kemah legiun beserta umpatan pada ibunya, tapi setidaknya ia paham garis besarnya.

“Karena itu aku tak bisa ikut.”

Hikram membelai-belai jenggotnya. Ia tak bisa meninggalkan Sidya di sini, tempat ini terlalu dekat dengan kemah. Bisa-bisa dia diketemukan, tak mungkin menyuruh Sidya sembunyi terus-terusan di sini. Satu detak jantung saja Sidya lengah, para legiun bisa saja menemukannya, menanyainya, lalu membawanya pergi. Beruntung, Hikram menemukan sebuah solusi.

“Kau pikir kemana Pisun terbang?”

“Ke arah barat, sepertinya,” Sidya menjawab cepat sembari menunjuk cabang sebuah pohon jati yang patah, jelas baru saja ditabrak oleh seseorang yang kurang hati-hati dan karena jaraknya ratusan depa dari permukaan, mustahil dipatahkan oleh orang biasa.

Hikram mendengus kesal. Pemuda itu ternyata memang tak berniat membantu legiun. Dugaan Jisan Si Perangkak Halimun bahwa Pisun akan berupaya untuk membantu penumpasan bandit ternyata tidak benar.

“Guru bertanya pasti ada sebabnya,” tukas Sidya.

“Ya, tentu saja. Aku ingin kau menyusulnya, ajak dia ke sini. Masalah beres, bukan? Kau menjauh dari perkemahan, dan akan ada satu Pemegang Gelar lagi yang akan membantu. Aku yakin dia mau kalau … kau bisa meyakinkannya bahwa ada sesuatu yang menarik di kandang musuh.”

“Lalu setelah itu aku harus kembali? Guru, itu sama saja bohong, percuma kalau aku harus ke sini lagi.”

“Tidak, aku sudah menyusun rencana. Aku tak bisa membeberkannya padamu sekarang, tapi pastikan Pisun dan dirimu nanti berada dekat dengan perkemahan para bandit. Aku akan berada di sana.”

Sidya jadi bimbang kali ini. Guru menyuruhnya untuk menyusul Pisun, yang dianggapnya jelas tak akan senang jika tahu bahwa Hikram yang menyuruh Sidya untuk memanggilnya kembali. Apalagi, kemungkinan bahwa dia harus berpisah dengan guru membuatnya kurang suka dengan perintah ini.

Tapi, setelah Sidya memikirkan semua sekali lagi, dia mengangguk. Kalau dia mencari Pisun ke barat, yang memang arahnya berlawanan dengan kemah legiun tempat Hung berada, ia tak akan ditemukan oleh si pendongeng istana. Peluang orang-orang yang tak langsung kenal dengannya mengetahui bahwa ia putri kaisar hanya dari wajahnya saja makin kecil, tak lain karena Ambal telah membotaki kepalanya, belum lagi petunjuk bahwa ia harus melumuri wajahnya dengan tanah.

“Hati-hatilah,” Hikram berkata, “jika dalam pencarianmu dia tak bisa ditemukan dalam waktu sehari, kembalilah, bersembunyi seperti perintahku semula. Aku akan menemukanmu.”

Hikram mengangguk, mengakhiri percakapan dan mau segera menuju ke tenda kapten yang telah disebut-sebut Sidya, tapi muridnya itu menggamit tangannya. Hikram menatapnya dengan alis terangkat, sementara Sidya memaksa tangannya untuk menepuk kepala Sidya sendiri.

“Apa maksudnya ini?” Hikram bertanya sembari menarik pergelangan lengannya dengan kasar dari genggaman Sidya. Tapi, mau tak mau sebuah senyum kecil muncul di bibirnya yang belakangan ini jadi makin tidak kaku karena ia sering memasang tawa.

“Untuk keberuntungan,” Sidya menjawab pendek, lalu lari ke arah barat, arah yang sama dengan arah yang dituju Pisun. Sejenak Hikram memandang sosoknya pergi sembari menggelengkan kepala, sebelum akhirnya benar-benar melangkah menuju kemah legiun.

--

Hikram melangkah menuju pusat perkemahan dengan santai, tidak terburu-buru. Matanya melirik-lirik pada siapa saja yang berpapasan dengannya. Ia dibalas dengan wajah galak oleh para legiun, tapi selain itu, tak ada gangguan lain yang berarti. Dia berusaha mencari sosok legiun perempuan yang dengan enteng melemparnya itu. Akan sulit, tapi sepertinya memang keberuntungan untuk saat ini berpihak padanya, tidak seperti biasanya.

Hikram menemukannya tepat di depan sebuah tenda, yang kelihatan sedang ramai dikelilingi oleh legiun. Ciri-ciri tenda itu mirip dengan yang dirincikan oleh Sidya, maka dia mempercepat langkahnya. Tepat saat Hikram mencapai mereka, seseorang dengan kulit gelap dan pakaian angkatan perang yang lengkap keluar dari tenda, sedikit bebatan kain mengintip dari sela baju, posisi bahunya janggal.

“Ah, Dewa Arak Kolong Langit,” si perempuan legiun berpaling dari obrolannya dengan rekannya yang segera Hikram kenali sebagai legiun pemegang gada yang sempat memerintahnya mundur. Hikram mau mendelik padanya, tapi urung ketika si legiun perempuan membungkukkan badan lurus-lurus padanya, yang disusul oleh si pemegang gada dengan kikuk. Berlainan dengan orang Nagart yang menjura, adat orang pulau selatan ternyata membungkukkan badan untuk menyambut seseorang yang dihormati.

“Aku berasumsi bahwa dia adalah pemimpinmu,” Hikram tanpa membalas sapaan segera mengangguk pada lelaki yang bahunya sedang terluka cukup serius itu. Dia hanya dibalas dengan tatapan kosong oleh si lelaki berkulit gelap. Para legiun yang berada di sekitar berbisik-bisik, beberapa terang-terangan menunjuk Hikram. Lamat-lamat Si Dewa Arak bisa dengar orang-orang itu menyebutkan Gelarnya saat ia menajamkan telinga.

“Kudengar ada seorang kasim membuat kacau di sekitar sini,” Hikram menambahkan hati-hati, sampai membuat si kulit hitam membuang muka. Ia menjawab, “Aku tak heran jika berita kecil ini sudah sampai ke telinga siapapun yang berada di sekitar kemah, baik prajurit maupun rakyat biasa. Sebuah kebodohan yang dilakukan oleh orang lingkar dalam istana. Melukai seorang kapten di tengah-tengah pengepungan … benar-benar sebuah pemikiran yang cerdas. Kini aku tak bisa lagi mengawasi semuanya dengan baik. “

“Ah, jadi kau juga telah mendengar tentangku, yang pasti diberitahukan oleh para anak-buahmu. Kabar-kabar terbang cepat bagaikan burung, tapi berhati-hatilah dengan kabar burung.”

“Aku tak punya waktu untuk permainan kata,” si kapten legiun mendongakkan kepala. “Suplai yang dikirim tersendat pengirimannya … garnisun Sanfeilong berlambat-lambat hingga tak kunjung sampai … si kasim yang mengganggu anak buahku dengan cecaran pertanyaan sekaligus melukaiku … satu masalah lagi, dan operasi ini akan jadi kegagalan besar.”

“Tidak selama aku di sini,” Hikram menjawab percaya diri. “di manakah kiranya si kasim sekarang?”

“Pergi. Aku tak tahu ke mana. Aku juga tidak peduli.”

Dahi Hikram mengerut akibat jawaban itu, terutama karena dia mendadak cemas dengan keadaan Sidya. Walaupun kecil, kemungkinan bahwa Hung mengetahui keberadannya bukan hal yang mustahil. Tapi dia segera mengalihkan pembicaraan ke topik yang menurutnya lebih penting sekarang. “Aku berharap bahwa kau memulai penyerangan malam ini juga, Kapten. Kita tunjukkan pada mereka. Terus terang, aku jijik dengan kelembekan prajurit Nagart jaman sekarang. Kurasa garnisun Sanfeilong yang kau tunggu-tunggu ini tak setangguh para prajurit yang kuingat saat berperang dengan orang-orang Jaffar dahulu.” Hikram membersut hidung, sebenarnya mau bergaya tapi gagal karena ingusnya tak disangka ikut keluar. Selagi membersihkan tangannya yang terkena kotoran hidungnya sendiri pada bagian belakang pakaiannya, Hikram bertanya untuk mengalihkan perhatian mereka semua, “uh, namamu?”

Air muka si kapten yang semula sekaku batu agak berubah, walaupun sedikit. Ia mungkin terlalu terkejut dengan kekonyolan Hikram dan ingusnya.

Walaupun begitu, akhirnya ia menjawab, sementara beberapa legiun bergegas kabur karena tak kuat menahan tawa, “Namaku Erutuhu. Doktrin militer mengatakan bahwa dalam pertempuran yang melibatkan Pemegang Gelar dari pihak lawan, kita harus melawan dengan sepuluh kali lipat jumlah musuh, sepuluh orang prajurit untuk satu Pemegang Gelar. Maafkan jika aku kurang sopan, tapi kau hanya seorang Pemegang Gelar, tuan pengembara. Keadaan kami cukup baik tanpa harus menyerang, kita sudutkan mereka hingga kelaparan dan jika mereka memutuskan turun bukit kami punya cukup kekuatan untuk mendorong mereka kembali ke tempat sembunyi. Para tikus-tikus itu tak mungkin lari.”

“Begitukah?” Hikram bertanya sangsi. “Pendapatku berkata lain. Malam ini juga kita akan bersihkan bukit makam Panglima Perkutut dari para penyamun. Kudengar beliau tak suka ada yang mengganggu tempat peristirahatan terakhirnya, arwahnya pasti sedang meratap sekarang jika tahu bahwa para bandit sedang berada tak jauh dari jenazahnya bersemayam. Selain karena aku menghormatinya sebagai seorang pendekar ternama, aku juga cemas akan hasil yang akan didapat para bandit jika mereka cukup nekat untuk membongkar makam. Kau pikir apa yang tersembunyi di makam itu? pastinya bukan benda-benda biasa. artefak, serta mustika milik si panglima dan kudengar banyak rahasia-rahasia yang bisa bikin kalian kencing di celana saking mengerikannya. Tidak, aku tak mau menunggu, berhubung aku juga punya urusan lain.”

Si kapten berpaling pada anak buahnya, yang hanya menggeleng tak berdaya. Tatapannya yang kembali kosong menatap Hikram tajam, tapi bukan Hikram namanya kalau mudah diintimidasi hanya dengan pandangan dari mata ke mata.

“Kau sedang memerintahku, Pemegang Gelar? Apa pangkatmu hingga mau—”

“Cukup, kalian sepertinya sama sekali tak memahamiku. Kini, aku yang pegang kendali, Kapten. Gelarku Mantan Jawara Prathama. Siapkan anak buahmu sekarang, kita mulai pergerakan saat bulan telah berkenan hadir ke langit.”

Mata si kapten memicing, sepertinya mustahil baginya untuk mempercayai bahwa lelaki tua berpakaian butut di depannya ini bergelar Mantan Jawara Prathama. Gelar itu langka, jika ada yang mengaku-ngaku memiliki Gelar itu tanpa bukti, dia bisa ditangkap akibat penipuan. Seorang Mantan Jawara Prathama memang berada setingkat dibawah seorang jenderal atau laksamana, tapi Erutuhu hanyalah seorang kapten. Menurut peraturan, memang Hikram bisa mengambil alih komando jika dia bisa benar-benar memegang Gelar tersebut.

“Dewa Arak, Kapten kami bukanlah orang yang mudah percaya. Tolong buktikanlah,” Si jubah kuning lekas berkata, suaranya lebih terdengar seperti berbisik. Ia membungkuk sekali lagi hingga membuat Hikram tak enak dibuatnya.

Hikram menunjukkan sabuk yang melingkari pinggang, yang sebelumnya tersembunyi oleh baju bututnya. Gambar lima elemen pembentuk dunia digambarkan memutar di tengah-tengah, bagian depan ditempa dari baja terbaik Nagart yang dibentuk dengan pola serupa rantai, dihadiahkan langsung oleh Kaisar Syaidrin kepadanya setelah masa melayani negara telah usai.

Mustika ini bernama Ikatan Panca Anasir, yang saat ini hanya ada enam buah di Nagart, dua lainnya telah dikubur bersama jenazah pemiliknya. Sabuk itu tak mungkin palsu, karena mereplikasi benda yang langsung diberikan oleh kaisar diancam akan diganjar dengan hukuman maut, tak ada yang cukup bodoh untuk melakukan hal tersebut.

“Demi Dewa-Dewi Sebrang Lautan,” si kapten berujar tertahan.

“Janganlah terkaget-kaget seperti itu. Lagipula, aku sepertinya tahu mengapa si kasim menyiksamu, walaupun bisa saja dugaanku tidak tepat.”

“Beritahukan padaku, Mantan Jawara Prathama.”

Hikram mencondongkan diri sedekat yang ia bisa hingga omongannya hanya bisa didengar oleh si petinggi legiun asing. “Mereka ingin mengikis legiun sampai habis. Melukai keseluruhan legiun adalah kesalahan, tapi dia cerdas. Dia tak mungkin mengganggu kalian secara terang-terangan, maka dia menyiksamu, yang sebenarnya hanya upaya untuk melemahkan keseluruhan legiun. Potong kepala ular untuk membunuhnya, lemahkan mereka yang berada di puncak hingga anak buahnya tak bisa apa-apa. Istana sengaja menempatkan kalian pada tugas-tugas yang makin lama makin sulit, tugas-tugas yang kian lama kian berat hingga kalian habis tak bersisa, sampai kalian tak bisa pulang ke negeri asal. satu sapuan, dan pihak istana mendapatkan dua pasang kaki. Pertama, kalian akan mati satu-persatu ditimpa tugas yang berat. Kedua, kalian tak akan bisa mengorganisir pemberontakan sampai cengkraman Nagart pada tanah airmu tak dapat terlepas.” Hikram mendekat lagi, bahkan sulit bagi Erutuhu untuk mendengar bisikannya. “Tunggu dua generasi lagi, maka orang-orang senegerimu tak akan ingat bahwa mereka pernah merdeka. Kau tahu binatang apa yang paling sabar dalam berburu mangsa? Bukan anjing atau macan, melainkan naga. Lambang resmi negeriku adalah naga, Erutuhu. Jangan lupakan itu.”

“Jadi,” Hikram menambahkan lagi setelah jeda yang agak lama, dan menjauhkan diri karena Erutuhu hanya diam saja untuk mencerna kata-katanya, “aku akan membantu hingga tak perlu banyak darah legiun tertumpah. Lagipula, banyak Pemegang Gelar di sekitar sini, yang pergerakannya tidak kalian ketahui. Majulah, maka mereka akan mendampingimu dari arah yang tak diduga-duga. Dan ini bukan saran, ini adalah perintah. Aku membantu memenangkan separuh dari pertempuran dengan orang Jaffar, Erutuhu. Aku akan membantu memenangkan yang satu ini juga.”

“Kami tidak punya pilihan lain, bukan?” Erutuhu bertanya, nadanya sudah pasrah menerima nasib.

“Tidak. Dan … aku punya satu permintaan lagi.”

“Apa itu?”

Hikram menyeringai menunjukkan giginya yang tak lagi genap. “Aku tahu bahwa ada dua orang Jaffar yang sekarang berada di bawah komandomu. Aku minta mereka berdua mendampingiku di garis depan. Aku punya sebuah rencana yang akan kulaksanakan bersama mereka.”

“Rencana apa, Pendekar?”

Hikram hampir saja menepuk bahu Erutuhu, tapi dia menahan diri. Ia lupa si kapten baru saja kena Ilmu Titah tingkat-tinggi tepat di bagian tubuhnya itu. Alih-alih bahu, Hikram menepuk lengannya yang dibalas jengitan karena lengan yang harusnya dibiarkan kaku itu bergerak sedikit. Sebelum ia memprotes, Hikram sudah berkata, “Nah, aku butuh minuman untuk menjelaskan semuanya. Jauh lebih mudah kalau ada arak atau minuman keras lain untuk melicinkan lidah. Dan udara begitu dingin, Kapten. Jauh lebih menyenangkan menghangatkan diri di dalam tenda ketimbang mengutuki hawa tanpa melakukan apa-apa.”

Erutuhu memejamkan mata, sepertinya minta kesabaran pada dewa-dewi yang disembahnya, kemudian lekas melangkah menuju kemahnya disusul oleh Hikram yang menggosok-gosokkan tangan dengan antusias, sudah tak sabar untuk segera mengisi kantung minumnya yang kosong.

--