Episode 288 - Sekelumit Peristiwa Masa Lampau (2)



Barisan berbanjar dan tertata rapi di hamparan padang nan luas. Setiap barisan terdiri dari lima puluh anggota yang dikelompokkan menjatu satu peleton. Lima pleton kemudian dikelompokkan lagi menjadi satu kompi. Secara keseluruhan, terdapat sepuluh kompi. Dengan kata lain, jumlah mereka mencapai 2.500 ahli. 

Tak ada setitik pun debu yang menodai pakaian serba putih yang dikenakan oleh seiap satu anggota. Belaian lembut angin pagi menyapa rambut, serta sentuhan sinar mentari membuat raut wajah merona merah. 

Kesemuanya adalah perempuan. Mulai dari gadis-gadis belia yang lebih junior dan baru menumbuhkan sinar kecantikan, perempuan dewasa muda yang sedang berkembang, serta perempuan dewasa yang berada pada kondisi puncak. Berbagai postur dan lekuk tubuh. Sebut saja jenis mana yang para lelaki paling idam-idamkan, maka akan ditemukan di padang luas ini. Raut wajah seperti apa yang didamba, pun akan tersedia, lebih dari dua.

Ke-2.500 perempuan sedang menghadap kepada sebuah panggung megah yang juga serba putih. Ibarat upacara bendera pada Senin pagi, mereka terlihat sabar dan khusyuk menanti.

Di atas panggung, sebentuk kipas lipat nan besar terkembang. Putih bersih bertahtakan lembaran benang emas yang membentuk motif mirip ular dan cawan di sisi kiri, serta motif tongkat di sisi kanan. Tetiba, kepulan asap putih lagi bersih menyibak di permukaan panggung. Perlahan merayap tinggi, bahkan sang angin tiada kuasa menghembus pergi kepulan asap nan mulia. 

“Sreeekkk!” 

Tetiba kipas lipat nan besar menyingkap ke kiri dan ke kanan. Kepulan asap terlihat sangat tebal di balik kipas. Selang beberapa waktu, secara perlahan asap putih menipis, untuk menyibak kehadiran seorang lelaki tua. Ia mengenakan pakaian juga serba putih. Alis, kumis dan janggutnya yang putih tebal sungguh berwibawa. Sekali pandang, maka kemuliaan dan kebijaksanaan adalah aura yang kental ia pancarkan. 

Sontak para perempuan berbagai usia, kecantikan, serta lekuk tubuh membungkuk. Serempak tanpa perlu diberi aba-aba, mereka 2.500 ahli menunjukkan kesetiaan dan kekaguman nan tiada dapat dilukiskan dalam kata-kata.

“Salam sayang kami haturkan kepada Yang Mulia Jenderal Keenam Pasukan Bhayangkara! Salam cinta kepada Maha Maha Tabib Surgawi!” 

Ibarat menikmati iringan merdu paduan suara, lelaki tua itu tersenyum dan menampilkan ketenangan penuh wibawa. Walaupun demikian, sesungguhnya di dalam benak ia melompat-lompat girang. 2.500 pasang ketiak yang berkumpul di hadapannya, bukanlah bilangan yang kecil. Bahkan, bisa dikatakan bahwa ini adalah pencapaian yang sangat tinggi di kalangan para ahli.

“Tak lama lagi... Perang Jagat akan mencapai titik puncak,” Ginseng Perkasa berujar penuh wibawa. Suara yang keluar dari bibir tebalnya diimbuh dengan tenaga dalam sehingga dapat didengar sangat jelas. “Kita adalah Pasukan Bhayangkara yang bertugas sebagai sebagai Pasukan Penyembuh. Peran kita akan menjadi sangat penting! Bahkan dapat menentukan arah kemenangan!” 

“Salam sayang kami haturkan kepada Yang Mulia Jenderal Keenam Pasukan Bhayangkara! Salam cinta kepada Maha Maha Tabib Surgawi!” tanggap serempak seisi pasukan senada dan seirama. 

“Hari ini kita akan menyebar ke seluruh penjuru Negeri Dua Samudera... untuk nantinya memberikan dukungan kepada setiap pertempuran.”

“Salam sayang kami haturkan kepada Yang Mulia Jenderal Keenam Pasukan Bhayangkara! Salam cinta kepada Maha Maha Tabib Surgawi!” 

“Sebagai Pasukan Penyembuh, kita bertarung di belakang layar. Akan tetapi, bukan tak mungkin kita dipaksa bergerak ke garis depan untuk memberi dukungan...”

“Salam sayang kami haturkan kepada Yang Mulia Jenderal Keenam Pasukan Bhayangkara! Salam cinta kepada Maha Maha Tabib Surgawi!” 

“Oleh karena itu, senantiasa waspada dan jangan sekalipun pernah lengah di kala menjalankan tugas!” 

“Salam sayang kami haturkan kepada Yang Mulia Jenderal Keenam Pasukan Bhayangkara! Salam cinta kepada Maha Maha Tabib Surgawi!” 

“Ancaman bukan hanya datang dari kaum siluman yang menabuh genderang perang... Ancaman terbesar justru datang dari dalam diri serta dari sekutu kita sendiri!” 

Suasana sontak berubah hening. Pasukan besar yang hanya terdiri dari kaum hawa, bahkan mulai terlihat bingung. Apakah gerangan maksud dari kata-kata junjungan mereka Yang Mulia Jenderal Keenam Pasukan Bhayangkara, Maha Maha Tabib Surgawi...? Mengapa justru harus lebih waspada kepada para sekutu...? Bukankah tugas mereka menyembuhkan para prajurit yang cedera atau kelelahan di medan pertempuran...?

“Ingatlah agar jangan setiap satu dari kalian terbuai! Jangan terlena akan janji-janji manis dan kata-kata indah yang sesungguhnya hanya kiasan belaka!” lanjut Ginseng Perkasa menggelora. “Ancaman paling besar yang akan kalian hadapi bernama... cinta lokasi!”

“Salam sayang kami haturkan kepada Yang Mulia Jenderal Keenam Pasukan Bhayangkara! Salam cinta kepada Maha Maha Tabib Surgawi!” Sepertinya setiap satu anggota mulai memahami maksud dari kata-kata junjungan mereka. 

“Jangan sampai ketiak kalian ternoda!” tutup Ginseng Perkasa berapi-api. “Aku tak rela!”


===


Di tengah lautan berombak nan luas, seorang lelaki kurus kering berdiri di atas permukaan air. Istilah ‘kurus kering’ mungkin belum cukup untuk melukiskan betapa kerempengnya tokoh yang satu ini. Tubuhnya tinggi, namun melengkung hampir seperti bulan sabit. Oleh karena itu, ‘kurus melengkung’ adalah penggambaran yang lebih cocok akan postur tubuhnya. 

Wajah tirus, mata melotot. Perawakan ini sama sekali tiada mencerminkan kekuatan. Aura yang ia tampilkan pun sangat lemah, bahkan rentan lagi rapuh. 

Kendatipun demikian, ia memikul sebilah dayung raksasa berwarna biru tua di atas pundak. Mungkin karena saking beratnya senjata pusaka ini, adalah penyebab mengapa tubuhnya menjadi bergemetar lemah. Akan tetapi, terlepas dari itu, sesuatu yang pelik terlihat. Dalam radius sepuluh kaki mengelilingi dirinya, ombak lautan sama sekali tak beriak, di mana air laut sangatlah tenang. Bila diperhatikan dengan lebih seksama lagi, maka sesungguhnya ia sedang berdiri berjinjit di atas sebulir air! 

Di balik tokoh yang terkesan lemah itu, adalah satu kompi ahli-ahli nan perkasa yang melayang tinggi, yang mana setiap satu dari mereka berada pada Kasta Emas tingkat atas. Di belakang kompi tersebut, membentang armada perang yang terdiri dari berbagai jenis perahu. Berjajar perkasa di tengah lautan, terlihat pencalang, jukung, pinisi, sandek sampai kora-kora, serta beragam jenis perahu lain yang berlayar megah tiada tara. (1)

Di hadapan tokoh tersebut, terpisah sekira lima ratus langkah, seorang perempuan berdiri di atas seekor binatang siluman ikan pari raksasa. Pari raksasa itu tiada berada di dalam lautan, namun melayang cukup tinggi di atas jalinan gelombang. Buih-buih lautan melayang ringan mengelilingi perempuan dan pari raksasa miliknya. 

Suasana mencekam kemudian terasa pekat menyibak dari belakang perempuan dan binatang siluman pari raksasa. Berbagai jenis dan ukuran binatang siluman yang menguasai lautan terlihat mengapung. Ribuan jumlah mereka, siap melibas beringas, mencerminkan bahwa di samudera luas, tiada yang dapat menaklukkan kerumanan binatang siluman yang paling berkuasa! 

“Jenderal Kelima Pasukan Bhayangkara...” Perempuan itu berujar penuh percaya diri kepada lelaki kurus melengkung. “Rupanya telah tiba waktu di mana kau dan aku menentukan siapa yang paling berkuasa di dalam dua samudera.” 

“Oh... mo... mohon maaf... wahai... Raja Angkara Durkarsa...” Lelaki kurus melengkung, yang disapa sebagai Jenderal Kelima Pasukan Bhayangkara, terbata-bata di kala berujar. Terlihat sekali bahwa ia gentar, bahkan terkesan sangat takut. 

“Heh...” Raut wajah Raja Angkara Durkarsa berubah kesal. Betapa ia membenci lawan bicaranya yang selalu bertingkah polah layaknya tokoh nan lemah. 

“Akan tetapi.... yang paling perkasa di antara dua samudera... tak lain adalah sang Laksamana Raja di Laut...”

“Apa katamu...?”

“Akan tetapi, engkau Raja Angkara Durkarsa, masih terlalu jauh dari layak untuk bertempur menghadapi beliau... Dayung Penakluk Samudera ini... yang akan menenggelamkan engkau...” Lelaki kurus melengkung Jenderal Kelima Pasukan Bhayangkara hendak mengacungkan senjata pusakanya ke arah lawan. Akan tetapi, ia terlihat bergemetar, selayaknya tak kuat mengangkat. Demikian, ia pun mengurungkan niat.

“Bangsat!” Raja Angkara Durkarsa melompat turun dari binatang siluman pari raksasa miliknya. Ia tenggelam ke dalam lautan, dan disambut oleh gejolak ombak besar yang berasal dari kerumunan binatang siluman nan bersiaga di belakangnya. 

Menyaksikan tindakan lawan, lelaki kurus melengkung Jenderal Kelima Pasukan Bhayangkara, tetiba terlihat jatuh dari sebulir air yang menyangga dirinya. Demikian, ia pun tenggelam ke dalam lautan. 

Para ahli perkasa dan armada perang digdaya, sontak bergerak maju. Perang besar di lautan luas mulai bergejolak.  


===


Suasana di rimba raya demikian tenang lagi tenteram. Nyanyian binatang-binatang malam membangun melodi nan indah. Terkadang mengalun cepat, lain waktu pelan namun khusyuk. Rembulan tiada memantulkan sinar mentari, karena ia sedang menikmati peristirahatan di sisi lain bumi.

Tiga puluh ahli bergerak dalam diam. Mereka membelah kerumunan semak belukar dan menyisir pepohanan nan besar-besar. Tetiba pasukan tersebut berhenti bergerak. Suasana hening, namun terasa mencekam. 

Paling depan, adalah seorang ahli bertubuh tegap. Tak sulit untuk menyimpulkan bahwa ia adalah peimpinan pasukan yang sedang bergerak dalam diam. Sebagai petunjuk akan jati dirinya, salah satu bola matanya tertutup oleh kain berwarna merah. Seorang ahli bermata satu!

“Ketua, ada apakah gerangan...?” Jalinan mata hati menebar dalam membangun ikatan komunikasi. 

“Ingatkah kau bahwa aku sempat berfirasat buruk ketika berlabuh di pulau ini...?” 

“Ingat... Akan tetapi, menurut hematku, firasat buruk dikarenakan ‘beliau’ tidak ikut dalam perjalanan kali ini...”

“Bukan... Bukan hanya karena ketiadaan istriku...” Ia menghela napas panjang. “Persiapkan diri... Kita sudah terkepung...”

Sontak ke-29 ahli lain bersiaga. Upaya penyelinapan mereka telah terbongkar. Tak ada lagi gunanya menyembunyikan diri. Tiada satu pun yang mempertanyakan siapa yang membocorkan perihal kedatangan mereka. Masing-masing ahli perkasa memasang kuda-kuda, pun mengeluarkan senjata. Panjang sekali bilah senjata mereka.

“Tempuling Api Neraka!” (2)



===


Lima remaja belia terlibat dalam perbincangan serius...

“Aku harus meninggalkan Sastra Wulan...,” seorang gadis berusia sekira 13 atau 14 tahun angkat bicara. Nada suara dan raut wajahnya terlihat resah. 

“Kau hendak ke mana...? Ayahandamu bersama Pasukan Lamafa Langit sedang berada di Pulau Belantara Pusat,” tanggap seorang anak remaja. Pembawaannya berwibawa, meski terlihat jelas bahwa usianya sedikit lebih muda. 

“Guru Tuah menanti kehadiranku di Pulau Barisan Barat...” Mayang Tenggara menanggapi cepat.

“Elang Wuruk... Aku... aku juga terpaksa kembali ke Kerajaan Siluman Gunung Perahu...”

“Ah... Cebong Cebol! Kau ikut-ikutan saja... Mentang-mentang Mayang hendak menghadap gurunya, kau pun hendak ikutan pergi...” tanggap anak remaja lelaki lain yang sedari tadi hanya duduk melamun. 

“Hei, Airlangga... Situasi di Tanah Pasundan semakin memanas. Kemaharajaan Pasundan membutuhkan bala bantuan Kerajaan Siluman Gunung Perahu, sedangkan sebagian besar ahli di Kerajaan Siluman Gunung Perahu sedang menghadapi pertarungan di perbatasan. Pergerakan kawanan binatang siluman liar kali ini sangat terkoordinasi. Mereka memecah perhatian para ahli dan pasukan perang secara terstruktur dan terencana.”

“Dengan kata lain, para Raja Angkara mulai bergerak...” Gadis belia lain menanggapi. “Aku pun terpaksa meninggalkan ibukota dan segera kembali ke kampung halaman...” 

“Aakh... Panjang sekali tetek bengek kalian... Banyak alasan!”

“Airlangga... sudahlah...” Elang Wuruk menengahi. “Bukankah engkau juga harus kembali ke Kota Baya-Sura...?” 

“Aakh... Aku malas pulang. Sebentar lagi Perang Jagat mencapai puncaknya... Akan lebih aman berada di Sastra Wulan... di tengah-tengah pengawalan para ahli nan perkasa...”

“Kalian pergilah menjawab panggilan... Janganlah khawatir... Aku akan menetap di Sastra Wulan...,” Elang Wuruk berujar tenang. “Masih banyak ahli perkasa yang bersiaga dan dengan dapat dengan mudah mempertahankan Ibukota Sastra Wulan dari amuk binatang siluman...” 

Aura kebangsawanan namun bersahaja menyibak kental dari diri sang pewaris sah takhta Negeri Dua Samudera. Tiada ia ketahui, bahwa sebuah tragedi akan menimpa dirinya dalam beberapa hari ke depan. Tiada yang memperkirakan, bahwasanya guratan luka di dalam batin akan membekas terlampau dalam... serta mengubah sudut pandangnya akan dunia keahlian. (3)



Catatan:

1) Sumber: http://destinasian.co.id/6-kapal-tradisional-khas-indonesia/ 

Pencalang: “Pencalang berasal dari Melayu, sekitar perairan Selat Malaka,” tulis Djoko Pramono dalam Buku Budaya Bahari. “Pencalang” memiliki akar kata yang sama dengan “lancang,” dan legenda Hang Tuah menyebut Lancang Kuning sebagai kendaraan perkasa Sumatera.

Jukung: Menurut Sejarah Nasional Indonesia II, jukung sudah tertulis dalam Prasasti Julah dari abad ke-10. Perahu Bali ini memiliki cadik ganda dan layar segitiga. Jukung juga dikenal sebagai perahu khas Banjar. (Banjarmasin menggelar Festival Jukung Hias setiap tahunnya.) Uniknya, Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak mengenal istilah ‘jukung’, melainkan ‘jongkong’.

Pinisi: Tulisan Lawrence Blair dalam Ring of Fire, sebagai produk hibrida antara perahu Sulawesi dan galleon pembawa rempah khas Portugis dari abad ke-17. Kapal ini dicirikan oleh dua tiang utama dan tujuh layar. Pinisi sempat digunakan oleh Alfred Russel Wallace saat melakukan penelitian di Indonesia, serta pernah diabadikan dalam lembaran Rp100 keluaran 1992.

Sandek: Lazim disebut “sandeq,” perahu khas Mandar ini memiliki lambung ramping, cadik ganda, dan stempost (penahan arus di muka) yang mencuat hingga membuatnya mirip kapal Viking. Sandek memiliki panjang lima hingga 16 meter. Perahu ini tersohor akan kecepatannya yang mencapai 40 kilometer per jam, kecepatan yang dibutuhkan untuk mengejar tuna.

Kora-Kora: Perahu ramping khas Maluku ini memiliki panjang sekitar 10 meter dengan kapasitas 40 pendayung. Pernah digunakan dalam perang, kora-kora kini lebih merupakan aset budaya yang rutin dipertontonkan dalam festival-festival akbar, misalnya Festival Budaya Banda Neira atau Festival Kora-Kora di Ternate.

2) Episode 32

3) Episode 119