Episode 80 - Reward Chest



“Yay! Kita berhasil!” Fhonia lompat-lompat kegirangan. “Wohooo!”

Setelah boss berhasil dikalahkan, seketika sebuah cahaya berbentuk pintu gerbang dan peti harta muncul. Cahaya itu meletup dan menghadiahkan para petualang yang berhasil mengalahkan boss untuk melangkah ke lantai berikutnya dan peti harta dengan isi yang berbeda-beda.

Mereka berjalan ke arah berlawanan secara bedampaingan, dari tempat mereka diteleportasi ke ruangan ini.

“Peti? Woahh besar sekali? Apa isinya ya?” tanya Chandra yang penasaran untuk segera membukanya.

“Sama-sama aku juga,” Fhonia ikut berlari untuk bergegas membuka peti itu. “Isinya apa ya?” 

“Jadi itu peti hadiah yang dijelaskan di kelas?” kata Alzen sambil berjalan menuju gerbang ke lantai berikutnya. “Bentuknya mirip seperti peti kemas biasa ya...”

“Sayang sekali kita tak ada kepentingan untuk membawanya keluar.” balas Gunin pada Alzen. Kemudian ia menoleh ke depan untuk memberitahu Chandra dan Fhonia. “Hei! Lihat saja ya, tak ada yang perlu diambil, kita disini untuk ujian, bukan mencari barang.”

“Cih, dasar kalian para pemula...” ucap Luiz dengan kertak gigi selagi berjalan menuju gerbang ke lantai berikutnya. “Kalau ada benda kecil yang kalian tertarik, ambil saja. Karena ketika kita keluar dari ruangan boss ini. Semuanya akan di reset kembali dan peti harta itupun lenyap bersamanya.”

“Oke-oke, aku hanya mau lihat-lihat saja.” kemudian Chandra membuka peti itu dan mendapati isinya. “Hah? Apaan nih? Bagian tubuh monster? Buat apa ini semua jadi hadiah.”

“Lihat-lihat! Ada batu-batu berwarna juga.” tunjuk Fhonia. “Ini semua buat apa sih?”

“Dijual dan digunakan sebagai bahan Crafting.” balas Luiz yang telah bediri duluan di pintu keluar, lalu ia menoleh ke belakang untuk menjelaskan. “Bagi penjelajah dungeon, barang-barang itu adalah uang. Tapi bagi para Crafters di kota, benda-benda tak berguna itu adalah bahan baku mereka.”

“Hoo begitu? Kenapa tak dihadiahkan uang saja sih?” tanya Chandra menggerutu.

“Bodoh, uang itu dicetak oleh pemerintah sesuai kebutuhannya.” balas Luiz menjelaskan. “Kalau setiap penjelajah dungeon bisa mencetak uang mereka sendiri yang didapat dari peti-peti itu. Maka inflasi besar-besaran akan terus terjadi dari tahun ke tahun.”

“Ahh aku tak begitu mengerti. Sudah yuk, ternyata hadiahnya tidak sepenting itu.” kata Fhonia sambil berjalan ke tempat Luiz berdiri dengan tangan menekuk di belakang kepalanya. “Aku mau bawa beberapa batu-batu ini, tapi bakal merepotkan nanti.”

“Uhmm... Luiz? Memangnya batu-batu ini buat apa?” tanya Alzen.

“Sama, Untuk para Crafter. Tapi untuk benda-benda seperti Gemstone itu, kalau tidak dijadikan perhiasan ya... digunakan oleh para Enchanter dalam membuat senjata sihir.” nalas Luiz. “Kalau kalian masih betah disini aku duluan saja. Sentuh saja gerbangnya maka kalian akan diteleportasi, jangan kalian sentuh gerbang yang sebelah sana ya... kalian akan kembali ke lantai 1. Sudah, ayo cepat.”

Luiz menyentuh gerbang itu, kemudian...

SYUUUSSHHH !!

Luiz diteleportasi dari tempat ini.

“Ayo teman-teman, kita ke lantai berikutnya.” Alzen menyusul dan menyentuhnya gerbangnya.

SYUUUSSHHH !!

“Huuh... lain kali harus bawa karung untuk bawa barang-barang ini.” Kata Fhonia yang kemudian menyentuh gerbangnya,

SYUUUSSHHH !!

“He-hei tunggu...” Chandra dengan tergesa-gesa menyusul mereka, lalu...

SYUUUSSHHH !!

Gunin yang terakhir, ia menatap ke belakang sebentar,

“Dungeon ini tempat yang sangat aneh ya...” Gunin berbalik dan menjadi orang terakhir yang keluar dari tempat ini.

SYUUUSSHHH !!

Saat tak ada orang lagi tersisa di ruangan boss ini, tempat ini pun lenyap bersamaan dengan peti dan gerbang itu. Ruangan ini segera di reset untuk melawan boss yang sama, di dimensi yang berbeda-beda sesuai dengan party yang terlibat.

***

SYUUUSSHHH !!

“Huh!? Huwaa... Kaget aku...” Chandra mengelus-ngelus perutnya. 

“Kamu kenapa Chan?” tanya Alzen.

“Kampungan,” Luiz menghinanya. “Sama teleportasi saja kamu mual.”

“Grr... kau ini.” Chandra tak terima. “Kaget tahu, tiba-tiba tempat sekitarmu berubah dalam sekejap.”

“Loh ini kan sama seperti gerbang teleportasi di jalan keluar masuk kota Vheins.” kata Alzen. 

“Tapi tetap saja, kaget rasanya.”

“Sekarang lagi dimana kita? Goa? Tapi lebih seperti tempat menyimpan mayat. Hiiiy serem.”

“Hei lihat, party Leena sudah kesana duluan.” tunjuk Gunin.

“Aku pikir kita yang pertama.” kata Alzen yang melihat Leena sudah di ujung cahaya dari goa gelap ini.

“Ayo bergegas.” Luiz mengayunkan tangannya mengisyaratkan untuk berangkat. Namun kepalanya tertunduk dan sibuk membaca buku panduannya. “Musuh di lantai 2 adalah Wolf, sepertinya di luar goa ini adalah dungeonnya.”

Sesaat mereka mau beranjak pergi.

“Hee? Kita keduluan sama si anak miskin ini.” terdengar suara Nicholas dan nada merendahkannya yang familiar buat mereka. “Mungkin kita masih terlalu santai.

“Huh, beda beberapa menit saja.” balas Sinus.

“Huh... memangnya penting ya.” kata Velizar dengan wajah datar. “Di tempat yang katanya berbahaya inipun aku masih belum perlu mencabut pedangku.”

“Ya yang bertarung hanya kau dan aku.” kata Luxis. “Tentu saja akan lebih lambat.”

“Abaikan saja mereka.” kata Luiz dengan suara kecil memberitahu kelompoknya sambil menahan diri. “Kita tidak sedang diuji cepat-cepatan.”

“Hah? Buku? Kau sibuk membaca buku panduan tak berguna itu?” kata Nicholas ketika melihat Luiz dengan genggaman buku panduannya. “Kamu perlu bimbingan untuk melawan kucing api itu?”

“Kami tak perlu panduan itu, cukup aku tikam perut boss monster barusan dangan tusukan es raksasa dan Nicholas yang menyelesaikannya.”

“Kalau kau ingin cari gara-gara, tempat ini terlalu berbahaya untuk itu.” balas Luiz.

“Berbahaya? Jangan bercanda, kita baru di lantai-lantai awal.” kata Nicholas menyepelekan. “Jadi bersenang-senanglah, toh kita cuma disuruh hanya melewati lantai ketiga saja. Kau tak perlu secemas itu. Bye orang-orang lemah.”

Party Nicholas maju duluan meninggalkan mereka semua.

“Cih orang itu, sombongnya kebangetan.” balas Chandra geram.

“Maklumi saja, dari awal kita mengenalnya di turnamen dia selalu seperti itu.” balas Alzen memaklumi sikap Nicholas.

“Tapi dia tetap superstar!” kata Fhonia tersenyum. “Dia sombong tapi memang ada yang disombongin.”

“Alzen, andai saja kau mengalahkannya waktu di turnamen.” Gunin ikutan kesal.

“Sudah-sudah,” Alzen merasa terbebani. “Yang sudah terjadi tak perlu disesali lagi.”

“Kalau kalian tahu keluarganya seperti apa, kalian akan paham kenapa ia punya sifat seperti itu.” balas Luiz.

“Hee? Kau mengenal Nicholas secara pribadi?” tanya Alzen.

“Tidak seperti itu, tapi keluarganya terkenal di kalangan Bounty Hunter. Aku sering mendengar cerita keluarga Obsidus dari ayahku yang adalah seorang kepala mercenary dan yang kudengar, mereka dididik sangat keras. Menjadi yang terbaik dan terus menjadi yang terbaik, atau kalah dan menjadi sampah.” 

Mendengar itu, Alzen melihat Nicholas dari belakang. “Jadi begitu, segala sesuatu pasti punya alasannya ya.” pikir Alzen.

***

Mereka berjalan menyusuri dungeon Tomb of the Great King lantai 2 ini. Berbeda dengan lantai 1, dungeon lantai 2 ini gelap. Tempatnya seperti menaruh mayat yang lagi-lagi hanya dekorasi dungeon, tapi bau busuk mereka masih tercium.

Mereka berjalan menyusuri tempat yang penuh jebakan ini, namun karena suatu kelalaian. Gunin yang berjalan di posisi paling belakang tak sengaja menginjak jebakan. Seketika jebakan itu aktif, sebuah pisau tulang langsung muncul dari tanah dan menikam telapak kaki Gunin secara langsung.

“UAAAGGGHH!!” Gunin teriak keras sekali. Sepatu tertembus pisau tulang itu hingga sobek namun yang lebih menyakitkan, pisau itu benar-benar menancap hingga menembus daging dan tulang kaki Gunin.

“Gunin!? Ada apa?”

“Ka-kakiku... tertikam. UAGGHHH!!” Gunin mengatakannya dengan merintih perih.

“Sayangnya jebakan-jebakan ini dihapus dari buku ini. Tapi malah ini yang terjadi,” kata Luiz yang terus membolak-balik buku panduannya yang isinya tak lebih dari database monster. “Hei Healer, kamu segera sembuhkan Gunin sesaat kita mencabut kakinya dari pisau itu.”

“UAGHHH!! Sakit! Sakit!”

“Gunin tahan sejenak, kami cabut dulu kakimu dari...”

CREEEGGHH!!

Kaki Gunin ditarik paksa dengan aba-aba yang terlambat. Secara tiba-tiba kakinya ditarik bersama-sama dan terlepas dari pisau itu, namun darah di kakinya terus mengalir.

“HUWAAA !! SAKIT! SAKIT!”

Gunin merintih perih dengan kakinya yang berlumuran darah.

“Healer! Kau sedang apa sih?!” bentak Luiz. “Cepat sembuhkan dia!”

“Iya... uhmm tapi...” balas Chandra dengan ragu-ragu. “Aku perlu air.”

“Gunakan ini saja.” Luiz segera menarik botol air milik Gunin dan membantingkannya ke tanah.

PRAANNKK !!

“Nah sekarang cepat sembuhkan.” tegas Luiz.

“Ba-baik... Chandra menggerakan air yang membasahi tanah itu, membalutnyake luka tusuk yang diterima Gunin, tapi bukan menutup lukanya, air itu malah membungkus luka itu tanpa menyembuhkannya dan rasanya menjadi semakin perih.

“Chandra! HUWAA!! Kau sedang apa sih? Cepat sembuhkan...” kata Gunin yang merasakan luka yang lebih parah. 

“Geez, jangan bilang kau tidak bisa menyembuhkan dengan becus.” Kata Luiz kesal. “Gunakan potion saja, potion.” 

“I... i-i-i... Iya.” Fhonia segera mengambil tas Potion dan membuka tutup botolnya lalu menyiramkannya cairan merah potion itu pada luka di kaki Gunin, dan seketika regenerasi berlangsung cepat sekali. 

“Hosh... hosh...” Gunin dengan badan penuh keringat dan menarik nafas panjang mulai merasa lukanya sembuh. “Terima kasih teman-teman.”

“Untung kita diberi potion ini.” Luiz kemudian menoleh pada Chandra. “Apa maksudnya ini? Healer kita ternyata tidak bisa menyembuhkan?”

“Bu-bukan begitu, aku bisa hanya saja-”

“Hanya saja apa?” Luiz memotong lalu membentak Chandra. “Selagi dibutuhkan kau malah tidak bisa apa-apa!”

Mendengar itu hati Chandra serasa tertusuk sekali. “Apa hakmu bicara begitu?!”

“Kau memilih peran sebagai Healer, tanpa bisa menyembuhkan. Kau tahu peran itu sangat vital pada setiap party. Tapi ternyata kau!”

“Hei diam! Hentikan!” bentak Gunin selagi duduk di tanah goa. 

Dan tatapan mereka berdua langsung berfokus pada Gunin.

“Maaf, ini sepenuhnya salahku yang tidak hati-hati.” Gunin merasa bersalah, ia duduk dengan tersenyum kecil pada pertengkaran mereka berdua. “Aku tahu Chandra itu seorang petarung. Tapi sejak di kelas Liquidum, dia mati-matian berusaha untuk bisa sihir penyembuhan melalui elemen air. Aku tahu itu tidak mudah. Dan kalau belum bisa, maklumi saja lah... “

“Kalau orang yang bersangkutan tidak keberatan, baiklah...” Luiz menjauh. “Tapi apa kau bisa berjalan?” tanya Luiz sambil menoleh ke belakang.

Gunin mencoba berdiri dibantu dengan topangan tombaknya. “Te-tenang saja, Potionnya bekerja sangat cepat.”

***

Sementara itu di party Leena yang baru saja berhasil keluar dari Goa tempat penyimpanan mayat-mayat. Setelah mengikuti cahaya putih terang yang bisa terlihat dari dalam goa.

“Woahh... gak mungkin, gak mungkin.” Sintra terheran-heran. “Kita ini ada di bawah tanah kan? Kenapa bisa ada padang rumput, matahari terik dan langit biru di dalam sini?”

“Bu Lunea kan sudah menjelaskan.” balas Leena. “Jangan berpikir dengan logika di tempat yang tak ada logika seperti Dungeon. Memang tidak masuk akal, tapi ini kenyataannya.”

“Woah tempat yang benar-benar aneh.” Sintra menatap langit biru dengan tangan menutupi mata agar tidak menerima cahaya matahari secara langsung. “Sungguh benar-benar aneh.” 

Party Leena keluar dan tiba di sebuah padang rumput luas, dengan daratan padang rumput membentang luas, ada laut di pesisirnya yang tidak bisa diakses karena terhalang sebuah tembok tak terlihat. Tempat ini sepenuhnya disinari matahari dan banyak monster seperti Wolf berkeliaran di tempat ini saling bersahut-sahutan untuk berkumpul sebagai kawanan serigala.

Leena melihat sekitar dan berusaha untuk menerimanya sekalipun tidak masuk akal. Ia sendiri juga belum punya pengalaman memasuk dungeon sebelumnya. Dan ia sendiri juga terkaget-kaget melihat keanehan ini tapi tetap berusaha bersikap cool seperti dirinya sebagai ketua party.

“Huh? Batu tulis?” Leena mengamati sebuah batu seperti papan yang terletak pas di depan lubang keluar goa. 

“Kenapa ada apa Leena?” Sintra melihat Leena terpaku pada sesuatu.

Leena berjalan mendekat dan membaca pahatan di batu itu. "Satu dari ketujuh malaikat, akan menuntunmu ke altar persembahan." Ucap Leena membaca tulisan di batu itu.

“Huh? Apa maksudnya ini?” Leena bertanya-tanya.

Sintra kemudian mengamati batu tulisnya juga. "Satu dari ketujuh malaikat, akan menuntunmu ke altar persembahan?"

***