Episode 16 - Keilmuan Gaib dan Keilmuan Khodam.



“Kalian mau kemana?” tanya Hesti kepada kami berdua yang hendak keluar dari kelas.

“Mau ke kantin, kenapa Hes?” jawabku kepada Hesti dengan menengok ke arahnya.

“Aku ikut ya, ada yang aku ingin tanyakan,” jawab Hesti sambil melirik ke arah Andik. Andik dan aku saling pandang apakah keputusan yang tepat untuk mengajak Hesti dalam pembicaraan kami berdua.

“Oke baiklah... Ayo,” jawabku ke Hesti, sebelum aku melangkahkan kakiku keluar pintu kelas, tiba-tiba kerah bajuku ada yang menarik dari belakang. Secara spontan aku menengok ke belakang, siapa sih yang menarik kerah bajuku dan ternyata …

“Ada apa, Mei?” tanyaku pada Mei Lin yang menarik kerah bajuku, baru aja aku hendak marah tapi tidak jadi. Aku tanyain nih anak enggak jawab cuma nunduk aja, mungkin dia ingin bicara denganku secara pribadi, hingga aku menyuruh Hesti dan Andik untuk pergi duluan ke kantin.

“Kalian berangkat duluan ya ke kantin, nanti aku susul,” ucapku ke Hesti dan Andik.

“Oke Ed, aku tunggu di kantin,” jawab Hesti pergi dengan ditemani Andik. 

Lalu aku ngobrol dengan Mei Lin, apa maksudnya tadi narik kerah bajuku. “Ada apa Mei, kok narik kerah bajuku?” tanyaku kepada Mei karena penasaran akan tindakannya barusan.

“Kamu suka ya Ed, sama Hesti?” tanya Mei yang membuatku kaget, kenapa Mei bisa berbicara seperti itu.

“Haaaa... Suka!? Maksudmu, Mei?” kataku yang gagal paham dengan perkataan Mei barusan.

“Kamu suka Ed sama Hesti, jatuh cinta deh gampangnya?” ucap Mei seraya matanya yang bulat nan indah itu hampir berkaca-kaca.

“Bukan suka, Mei... Aku nganggep Hesti sebagai teman saja gak ada lebih,” ucapku jujur dengan perasaanku, walaupun sempat beberapa kali ide jahat dari sosok diriku yang jahat masih terngiang di kepalaku.

“Ohhh gitu ya, hehehe... kilain,” ucapnya sambil terkekeh dengan memalingkan wajahnya ke samping.

“Kirain apa, kirain kamu mau jadi pacarku?” ledekku kepada Mei untuk mencairkan suasana.

“Iiihhh... kamu tuh kegeelan banget sih Ed, hemb..” balas Mei sambil memukul-mukul lenganku.

“Aduhh.. duh.. duh.. udah dong Mei, sakit ini,” ucapku sambil berpura-pura meringis kesakitan.

“Kamu mau ikut aku ke kantin Mei, kamu kan biasanya makan bekal dari rumah?” tawarku pada Mei ke kantin sekolah.

“Emmm.. Ayo deh sekali kali aku mau ke kantin sekolah juga,” jawab Mei menggandeng tanganku lalu berjalan pergi.

“Kamu emang tahu di mana kantinnya?” tanyaku pada Mei yang tiba-tiba menggandeng tanganku pergi. Kemudian Mei menoleh kepadaku lalu nyengir..

“Hehe, enggak tahu,” jawabnya tanpa dosa.

“Aduh... Maka dari itu jangan main tarik saja Mei, ayo kutunjukkan jalannya,” kataku dengan mencubit kedua pipi putihnya Mei Lin.

“Aduh... duh... duh, lepasin Ed, sakiittt..!” ucapnya sambil menahan tanganku yang mencubit pipi mulusnya.

“Eh, maaf Mei kelepasan, habisnya lembut banget itu pipi jadi gak sabar ingin nyubit saja,” kataku sambil melepas cubitan ku pada pipi Mei.

“Ya udah ayok jalan,” sambungku lagi.

Beberapa menit kemudian aku berjalan menuju kantin sekolah. Aku lihat sudah sangat ramai sekali dengan anak-anak yang mengantri. Aku mencari Hesti dan Andik di dalam kerumunan anak-anak ini. Aku tidak sadar bahwa Mei masih menggandeng tanganku, sontak saja aku melihat sekelilingku, banyak mata anak-anak yang memandang kami mungkin dalam benak mereka bertanya-tanya kok bisa laki-laki item, dekil, kumel, jelek lagi bisa jadian sama cewek cantik, mulus, dan baik ini...? Lalu aku melepaskan tangan Mei disambut dengan wajah Mei yang cemberut. Setelah melepas tangannya Mei, balik lagi Mei memeluk tanganku, lalu aku lepas lagi tangannya, eh di peluk lagi.

“Kenapa sih Ed dilepasin, gak suka?” tanya Mei cemberut yang menambah nilai kecantikan ini anak.

“Bukan gitu Mei, engga enak aja dilihatin anak-anak,” ucapku membela perlakuanku yang melepas tangannya secara sepihak.

“Alesan aja kamu Ed, bilang aja takut ketahuan Hesti, ya kan?” balasnya tak kalah cemberut. 

Aduh, malah cemberut ini anak, terpaksa deh mau gak mau.. “Ya sudah, nih.. ambil saja Mei, semuanya kamu lepas juga gak apa,” seruku sambil menyodorkan lenganku kepadanya.

“Hehehe...” Ia terkekeh dengan menggandeng kembali lenganku.

Malunya diriku yang digandeng kesana kemari seperti orang baru pacaran saja. Setelah mencari agak lama, ketemulah mereka di pojokan sana, tapi kok di sebelahnya ada..

“Hei bro sini gabung,” ajak Wijaya yang sudah standby di sana terlebih dahulu.

“Iya bro,” aku dan Mei jalan ke arah Wijaya dan teman-temannya.

“Wihh selamat ya bro,” ucapnya memberi selamat kepada sambil tersenyum penuh arti.

“Eh bentar, ucapan selamat ini untuk apaan?” kataku heran kepada Wijaya, memangnya aku habis apa dikasih ucapan selamat segala. 

“Ya selamat aja, udah lepas dari status jomblo yang kamu pegang sejak lahir, hahaha...” Tawa Wijaya dibarengi dengan teman-temannya.

“Eee... enak saja, siapa yang jadian,” ucapku bingung dengan kata Wijaya barusan.

“Itu, kamu pegangan tangan sama Mei, berarti udah jadian kan?” jawab Wijaya sambil menunjuk lenganku yang dipeluk Mei.

“Oh ini, engga kok, kita gak jadian, ya kan Mei?” tanyaku pada Mei.

“Iya Jay, kita belum jadian kok,” balas Mei kepada Wijaya sambil tersenyum.

“Hem.. aku paham, jangan menyerah Mei,” kata Wijaya memberikan jempol kepada Mei, hingga membuatku gagal paham.

Setelah berbincang sebentar dengan Wijaya aku menghampiri Andik dan Hesti yang duduk di sebelah Wijaya dan teman-temannya.

“Maaf, lama ya nunggunya,” sapaku ke mereka berdua.

“Engga juga Ed,” balas Hesti sambil melirik Mei yang di sebelahku.

“Oh iya Ndik, kenalin sang dewi penyelamatku Mei Lin,” ucapku sambil memperkenalkan Mei kepada Andik. Andik menoleh ke arah Mei dan tersenyum.

Keduanya bersalaman sambil menyebutkan nama masing-masing.

Aku memberikan instruksi kepada Mei untuk diam sebentar kalau nanti penasaran. “amu bisa nanya ke aku sepuasnya setelah ini selesai...”

Aku pun membuka obrolan ku dengan Andik. “Langsung saja ya, sejak kapan kamu tahu aku bisa melihat mereka, Ndik?” tanyaku kepada Andik langsung to the point karena aku orangnya tidak suka bertele-tele.

“Sejak pertama ketemu kamu Ed di waktu perkenalan, karena auramu aku bisa memastikan bahwa kamu punya kelebihan,” jawab Andik yang masuk dalam salah satu analisisku.

“Kamu punya penjaga juga, Ndik? Kalau punya ada berapa mereka, Ndik?” tanyaku lagi kepada Andik untuk memastikan keberadaan mereka membahayakan atau tidak.

“Aku punya satu Ed, wujudnya yaitu kakek-kakek, beliau adalah penjaga turun-temurun dari keluarga besarku,” balasnya lagi menatap tajam ke arahku.

“Maksudmu mereka Jin Saka? Oke, sampai sini saja pertanyaanku Ndik, yang jelas jangan ada yang tahu kalau kita punya kemampuan untuk melihat mereka,” nasihatku kepada Andik karena aku tidak mau kehidupan normalku terganggu hanya karena rasa penasaran dari bocah-bocah alay.

“Lalu Hes, apa yang ingin kamu tanyakan mumpung kita berkumpul di luar kelas,” kataku ke Hesti karena sejak tadi kulihat ia menahan diri untuk tidak bertanya.

Sedangkan Mei sejak tadi mencoba masuk ke dalam pembicaraan kami, tapi kelihatannya dia tidak paham apa yang kami bicarakan, hingga akhirnya dia memilih diam.

“Tadi waktu kamu masuk ke dalam kelas Ed, gak begitu lama masuk juga hantu cewek baju putih yang di toilet, apa kamu tahu penyebabnya?” tanya dia kepadaku.

“Oke jadi gini Hes, tadi aku ke toilet pojokan kelasnya Wijaya... Sempet ngobrol juga sama itu setan, aku menyuruhnya jangan ganggu siapa pun dan dia mengerti tapi...” ucapku menjelaskan keadaan sambil melirik ke arah Andik.

“Tapi apa, Ed?” tanya Hesti lagi.

“Tapi.. nih bocah malah manggil tuh setan buat masuk ke ruangan kelas kita,” jawabku menunjuk Andik yang sejak tadi memasang wajah tidak bersalah dan dengan santainya makan jajanan.

“Hehe...” jawab Andik yangg cuma terkekeh.

“Malah ketawa dia,” balasku sinis.

“Iiihh... kamu Andik bawa-bawa gituan. Kalau ada yang kesurupan gimana coba?” tanggap Hesti mulai cerewet dengan memukul-mukul bahu Andik.

“Engga bakal ada yang kesurupan Hes, soalnya dia lemah gak pernah ganggu manusia,” jawab Andik memberikan penjelasan sambil menjauh dari pukulan yang dilakukan oleh Hesti.

“Tapi... walaupun begitu...,” sambung Hesti yang kemudian aku potong.

“Udah yang penting aman,” potongku kepada Hesti. Jika tidak dipotong sampai sini bakal merembet sampai kemana-mana.

Sebelum menutup pembicaraanku, Andik memberikan sebuah peringatan dan peringatan ini membuatku mengurungkan niatku.

“Dan, jangan sekali-kali kalian mengganggu penghuni pohon beringin yang depan ruang kepala sekolah karena di sana ada tiga mahluk yang kuat,” ucap Andik serius menatap kami secara bergantian.

“Tiga mahluk kuat, apa aja Ndik?” tanya Hesti penasaran.

“Ada Kuntilanak merah yang usianya sekitar 600 tahun, lalu ada genderuwo yang usianya sekitar 500 tahun dan terakhir ada ular hitam yg usianya sekitar 350 tahun,” ucap Andik membuyarkan lamunanku.

“Haaa.. yang bener!? Ee... enam ratus tahuuunnn...” ucapku agak keras. Langsung deh anak anak sekitar melihat ke arahku.

“Upsss,” aku buru-buru menutup mulutku dengan kedua tanganku.

“Gila, kuat banget 600 tahun Ndik,” lanjutku masih kaget.

“Yups, jangan sekali-kali kalian menggangu mereka,” ucap Andik memberikan peringatan kepada kami.

Gila bener deh, nyai Yun aja cuma 530 tahun, mbah Kosim 490 tahun, ini malah 600 tahun apalagi kuntilanak merah yang punya ilmu kanuragan tinggi! Aku gak bisa ngebayangin, deh. Tapi buat apa juga mikirin mereka toh kita-kita jarang duduk di bawah pohon beringin sana. 

Gak terasa, bel pun berbunyi menandakan jam istirahat telah usai, kami pun masuk ke kelas masing-masing, pelajaran berikutnya adalah bahasa daerah.

Sehabis pelajaran bahasa daerah, bel kembali berbunyi menandakan waktunya pulang sekolah. Kemudian aku menjelaskan semua tentang aku, Andik, dan Hesti kepada Mei. Mei belum percaya tapi lama-lama akhirnya mulai percaya dan pulanglah kita ke rumah masing-masing. Besoknya Mei kembali menanyakan tentang kelebihanku, dengan sabar aku memberitahu Mei mulai kejadian awal aku mempunyai kemampuan ini dan sampai hari ini aku memiliki dua khodam penamping.

Tentang khodam, apa sih sebenarnya khodam itu. Sebelum memahami Khodam ada baiknya saya jelaskan terlebih dahulu keilmuan gaib dan keilmuan khodam. Ilmu gaib dan ilmu khodam adalah suatu jenis ilmu atau kemampuan untuk melakukan suatu perbuatan yang tidak sewajarnya, yang melebihi kemampuan manusia biasa. Perbuatan-perbuatan yang ajaib dan bernuansa gaib, sering juga disebut sebagai Ilmu Supranatural atau Metafisika, karena menyangkut hal-hal yang tidak tampak oleh mata manusia biasa dan di luar kewajaran. Kemampuan ini sering juga disamakan dengan ilmu kebatinan, karena banyak berisi mantra-mantra dan amalan-amalan gaib atau adanya laku prihatin dan puasa seperti dalam ilmu kebatinan.

Ilmu gaib adalah suatu jenis keilmuan yang bertujuan untuk menciptakan perbuatan-perbuatan gaib atau ajaib yang berasal dari kekuatan sugesti pada amalan-amalan gaib, doa dan mantra. Ilmu-ilmu di dalam ilmu gaib dapat sama dengan ilmu tenaga dalam, kebatinan, dan spiritual dalam praktek penggunaannya, tetapi dalam pengamalan ilmu ini tidak diutamakan penggunaan potensi diri, karena sumber kekuatan kegaibannya bisa berasal dari mana saja. Bisa dari diri sendiri, bisa juga dari kegaiban lain. Di dalamnya juga ada mantra-mantra atau amalan-amalan gaib, puasa, tirakatan, dsb. Seperti halnya dalam ilmu kebatinan, sehingga banyak orang yang menganggap ilmu gaib sama dengan ilmu kebatinan, tetapi sebenarnya berbeda. 

Tujuan dalam mempelajari ilmu gaib penekanannya adalah pada hasil yang ingin dicapai, yaitu keberhasilan dalam menguasai dan mempraktekkan ilmu-ilmu gaib tertentu, bukan mengoptimalkan potensi diri atau mengolah kebatinan. Selain itu, dalam pembelajarannya tidak diperlukan filosofi-filosofi kebatinan untuk membentuk kerohanian atau kebatinan pelakunya. Dengan kata lain, ilmu gaib ini adalah jenis ilmu terapan, yaitu ilmu yang tujuannya adalah untuk menerapkan atau mempraktekkan kegaiban, biasanya dilakukan dengan membacakan mantra atau amalan gaib.

Secara umum pada masa sekarang aliran ilmu gaib dicirikan sebagai jenis keilmuan gaib yang mengandalkan diri pada kekuatan sugesti atau wiridan doa, amalan ilmu gaib atau mantra-mantra. Sumber kekuatan ilmunya adalah pada kekuatan mengsugesti amalan gaib atau mantra-mantra, bukan kebatinan. Dengan demikian proses laku, tata cara dan hasil yang dicapai dalam keilmuan gaib ini akan berbeda dengan ilmu kebatinan, walaupun orang sering menganggapnya sama.

Ilmu Khodam adalah jenis ilmu gaib yang kegaiban ilmunya meminjam jasa kegaiban sesosok mahluk gaib sebagai khodam ilmu (bangsa jin, kuntilanak, gondoruwo, dsb). Dilakukan dengan cara mengucapkan mantra-mantra atau amalan gaib tertentu atau dengan berkomunikasi langsung dengan mahluk gaibnya. Jadi yang membedakan ilmu khodam dengan ilmu-ilmu lain adalah pada penggunaan jasa gaib lain sebagai sumber kekuatan ilmunya. Bisa dikatakan, ilmu khodam adalah ilmu gaib yang menggunakan khodam ilmu atau prewangan. Kadangkala untuk memperoleh ilmu khodam tertentu, seseorang juga harus menjalankan laku tirakat dan berpuasa yang mirip dengan yang dilakukan dalam olah kebatinan, sehingga kedua jenis ilmu itu seringkali dianggap sama. 

Seseorang yang menguasai ilmu gaib berkhodam seringkali tidak mengetahui bahwa keilmuan gaibnya adalah menggunakan jasa mahluk halus atau prewangan, karena sepengetahuannya ilmunya adalah ilmu gaib kebatinan. Seseorang yang menurunkan suatu ilmu khodam juga seringkali tidak menyatakan bahwa keilmuan gaibnya adalah menggunakan jasa suatu mahluk halus. Karena itu, seseorang yang mempelajari atau diberi suatu ilmu gaib (amalan ilmu) seringkali tidak menyadari adanya penggunaan jasa mahluk halus ini, karena ia hanya mewirid mengucapkan saja amalannya, atau laku tirakat dan puasanya, sesuai syarat ilmunya.

Jenis mantra atau amalan gaib yang kegaibannya berasal dari kegaiban sesosok mahluk halus seringkali tidak akan bekerja jika seseorang belajar sendiri mengamalkan atau mewirid amalannya (sekalipun ilmunya bekerja biasanya kegaibannya tidak besar). Jenis ilmu ini hanya akan efektif bekerja jika seseorang sudah menerima khodamnya dengan cara transfer ilmu, misalnya melalui transfer khodam atau diijazahkan.