Episode 287 - Sekelumit Peristiwa Masa Lampau (1)



Bumi bergetar dan langit menggelegar. Suara derap langkah dan kepak sayap sambung-menyambung, sehingga menabuh genderang telinga sampai menggetarkan nyali. Raungan dan teriakan penyemangat diri berbaur dengan pekik pilu kesakitan, membaur menjadi aba-aba untuk terus menapak maju atau tergolek jatuh tak bernyawa. 

Tanah yang bersimbah basah menyeruak ke semerata penjuru. Merah, berbaur dengan daging dan tulang-belulang. Entah darah, daging atau tulang-belulang umat manusia atau kaum siluman, tiada lagi dapat diketahui pasti. Bau anyir darah dan busuk bangkai yang merayap membuat pening kepala, bahkan udara seakan menyibak kabut beracun . 

Gelombang kerumunan binatang siluman yang ribuan jumlahnya semakin mendekat. Ibarat ribuan semut yang hendak melahap butiran-butiran gula yang jumlahnya terbatas. Sejauh mata memandang, hanya kegelapan yang semakin lama semakin mendekat. Akan tetapi, derap langkah mereka sebentar melambat, karena menyadari akan keberadaan aura mengerikan yang baru saja tiba di tempat sasaran amuk, beberapa waktu sebelumnya. 

“MAJU KALIAN!” gertak membahana datang dari menara pengawas sebuah benteng yang terletak berseberangan dengan arah datangnya kerumunan kaum siluman. Terpaut jarak sekira lima kilometer, sesosok tubuh tinggi dan kekar menanti garang sembari mengacungkan kepalan tinju ke hadapan. Sebentuk medali keemasan nan besar dengan ukiran mentari bersudut delapan di dadanya, memantulkan sinar terang. Medali tersebut bergeser pelan ke kiri akibat gerakan lengan yang mengacung.  

Ia adalah seorang lelaki dewasa bertubuh tinggi dan kekar, berambut panjang yang tebal dan berat sehingga tak dapat dimainkan angin. Berbagai gradasi warna merah menghiasi sekujur tubuh nan kokoh itu. Merah darah kering, dan juga merah darah yang masih basah, menjadi pola tambahan di permukaan kulit bersisik pun bernuansa merah. 

Tiada tebersit setitik pun gentar dan ragu dari sorot mata sosok tersebut. Walaupun di hadapan sana ribuan binatang siluman berbagai ukuran dengan berbagai kemampuan merangsek semakin mendekat, ia tetap memasang kuda-kuda ibarat hendak membuka serangan. Menggeretakkan gigi, ia kemudian meneriakkan kata-kata pembangkit semangat, “Selagi langit dijunjung dan bumi dipijak, maka aku tak akan gentar!” 

Di belakangnya, adalah pasukan manusia. Bertolak belakang dengan jumlah lawan yang semakin mendekat dari arah depan, jumlah mereka hanya sepersepuluhnya sahaja, dalam ratusan. Pasukan ini merupakan sisa-sisa prajurit yang gagah perkasa menghadang laju kaum siluman. Sudah lebih dari satu purnama pasukan ini menjaga benteng pertahanan dari gelombang demi gelombang gempuran kaum siluman. Karena tak jauh di balik benteng, adalah sebuah kota di mana sanak keluarga mereka berdiam. Tumbangnya benteng berarti ancaman besar terhadap orang-orang terkasih. 

“Yang Mulia Jenderal...,” seorang lelaki dewasa meniti tertatih tangga menara. Wajahnya terlihat sangat gelisah. “Pasukan ini sudah tak lagi dapat bertempur...”

Awalnya jumlah pasukan penjaga benteng dan binatang siluman cukup berimbang. Namun jumlah pasukan menyusut dan terus menyusut di kala dipaksa bertahan menghadapi hantaman yang datang bertubi. Kerumunan siluman baru menggantikan yang mati, sementara jumlah pasukan semakin berkurang. Mereka kini terlihat lelah, bahkan sangat lemah. Tak sedikit dari mereka yang mengalami cedera, berat dan ringan, dari luka-luka nan dalam sampai yang kehilangan anggota tubuh. Hanya beberapa saja yang dapat berdiri tegap. 

Hari ini, mungkin adalah pemuncak dari pertempuran yang seolah tak berkesudahan. 

“Jangan konyol!” Sosok tinggi dan kekar itu memutar tubuh, wajahnya terlihat kesal. “Aku datang ke tempat ini bukan untuk bertahan dari serangan lawan! Aku datang untuk memandu dan mengantarkan nyawa kalian!”

“Yang Mulia Jenderal...,” lelaki dewasa itu sontak terlihat kaget, namun masih cukup sadar untuk merendahkan suara sembari menoleh cemas ke arah belakang. Ia berharap bahwa pasukan di bawah sana tiada seorang pun yang mendengar pembicaraan di antara mereka. “Mengapa Yang Mulia Jenderal datang seorang diri...? Kami sangat berharap bahwa Pasukan Bhayangkara akan datang memberi bantuan...,” lanjutnya. 

“Tak ada waktu...,” tanggap sosok tinggi dan kekar tersebut. “Aku bergegas datang dan meninggalkan pasukan di belakang. Mungkin mereka baru akan tiba dua atau tiga hari lagi...”

“Jadi... kita akan bertahan dari gempuran kaum siluman tanpa bala bantuan...?” tanggapnya semakin cemas. 

“Heh! Apakah sudah tuli telingamu!?” hardik sosok yang disapa sebagai Jenderal. “Sudah kukatakan bahwa aku datang bukan untuk bertahan! Kehadiranku adalah agar kalian tak mati konyol, tapi mati terhormat di dalam pertempuran!”

Walau sempat terlihat meragu, kerumunan binatang siluman terus menapak maju. Bagi mereka, kendatipun aura siluman sempurna yang kini berada di dalam benteng di hadapan demikian menekan, pada kenyataannya hanya terdiri dari satu aura sahaja. Karena jumlah berkali-kali lipat, maka muncul keberanian untuk terus mendatangi benteng. 

Jarak hanya terpaut sekira satu kilometer. Raungan dan pekikan kerumunan binatang siluman terdengar semakin meriah. Mendengarkan kedatangan kaum siluman, bukan hanya nyali yang diremuk. Isi perut bergejolak, menyebabkan setiap prajurit yang tersisa di dalam benteng ingin muntah mengeluarkan ransum yang memang sudah terbatas jumlahnya 

“Keluarkan isi perut agar tubuh kalian terasa lebih ringan!” teriak siluman sempurna bertubuh tinggi dan kekar yang menjabat sebagai jenderal itu. “Buka pintu gerbang benteng!” 

“Tapi... tapi... Yang Mulia Jenderal...,” suara yang menyapa kini bergetar tiada terkendali. “Para prajurit tak lagi memiliki kekuatan dan nyali untuk maju bertempur. Bertahan saja sudah setengah mati dibuatnya...” 

“Buka pintu gerbang kataku!” 

“Strategi apakah yang akan Yang Mulia Jenderal terapkan...?”

“Tak ada strategi! Kita hadapi langsung dari depan!” 

Demikian, sosok tinggi kekar bertelanjang dada itu melompat turun dari menara pengawas. Di hadapannya, pintu gerbang benteng membuka perlahan. Menyaksikan kejadian ini, segenap prajurit menganga, tatapan mata kosong. Tak satu pun memahami apa yang akan dilakukan oleh sosok Jenderal yang membelakangi mereka. Benteng di mana mereka berdiam, tak lagi memiliki formasi segel pertahanan, hanya tembok tanah gempal dan pintu kayu tebal yang tersisa setelah serangan rutin selama satu purnama belakangan ini. Dengan membuka pintu gerbang, maka ajal akan datang melenggang, lalu menjemput sesiapa saja yang ada di hadapannya. 

Menyaksikan pintu gerbang terbuka lebar, posisi kerumunan binatang siluman secara naluriah mengerucut bak anak panah yang hendak melecut tajam. Derap langkah mereka semakin bergelora, bahkan beberapa sudah memacu langkah dengan kecepatan penuh! 

Ratusan binatang siluman terdepan saling berhimpitan ketika sampai di duma gerbang. Mereka hendak merangsek masuk ke dalam benteng. Di dalam, mereka nanti bisa sepuasnya mengamuk, memporak-porandakan, menyapu apa pun yang berada di hadapan mata! Betapa daging manusia, yang terkenal lembut dan nikmat, sudah tinggal sejengkal lagi... 

“Tinju... Super... Sakti... BADAK!”

Tinju tangan kanan yang dikepal erat melepaskan pukulan secara beruntun, berkali-kali hingga mencapai kecepatan super tinggi. Sebagai syarat, diperlukan paling sedikit lima rentetan tinju berkecepatan tinggi untuk menghasilkan kecepatan yang diperlukan. 

“BELEDAR!” 

Suara dentuman keras terdengar menggelegar. Suara memekakkan tersebut muncul bukan karena hempasan ombak, sambaran halilintar, atau bahkan genung meletus. Suara tersebut ditimbulkan oleh sebuah gelombang kejut, yaitu wilayah dimana terjadinya perubahan pada massa jenis, tekanan, serta suhu udara secara mendadak. Gelombang kejut tercipta karena gerakan benda yang melebihi kecepatan suara, atau lebih cepat dari 344 m/detik (1.238 km/jam). Kecepatan melebihi kecepatan suara ini biasa dikenal dengan nama kecepatan supersonik.

Adalah sepuluh pukulan beruntun yang dilepaskan, sehingga kekuatannya tiada dapat disangsikan. Dari gelombang kejut yang tercipta itulah kemudian nama ‘Badak’ muncul. Pukulan tinju bermuatan gelombang kejut ibarat hantaman tanduk badak yang dapat menggegarkan bukit, meluluh-lantakkan batu karang menjadi kerikil-kerikil kecil. 

Demikian yang dirasa oleh gerombolan binatang siluman di muka gerbang benteng. Bahkan naluri binatang siluman terlambat bereaksi, sehingga tak kurang dari lima ratus tubuh meledak dan berhamburan di tempat, meregang nyawa dalam seketika. 

Kekuatan hantaman tak hanya melibas binatang siluman yang berada pada baris terdepan, namun juga sampai ke barisan tengah. Kerumunan binatang siluman yang awalnya merangsek rapat, kini terbelah menjadi dua bagian! 

Tak sedikit prajurit di dalam benteng yang menutup rapat kedua telinga karena terkejut akan suara ledakan yang demikian membahana. Akan tetapi, kelopak mata mereka terbuka lebar, menampilkan bola mata yang melotot. Tak pelak mereka menyaksikan sebuah jurus persilatan nan maha digdaya. Betapa pemandangan di hadapan membangkitkan semangat, bahwa masih terdapat harapan bagi jiwa-jiwa nestapa. 

Sontak para prajurit bangkit dan berdiri tegak. Mereka meraih senjata. Yang cedera, yang lelah, semuanya. Satu pukulan tinju membuka secercah cahaya hari esok, yang bersinar di mata masing-masing prajurit benteng. Cahaya tersebut menyinari hati yang lemah dan membangkitkan semangat. 

“Ini adalah kekuatan dari salah satu Jenderal!”

“Ia akan membawa kita memenangkan pertempuran hari ini!“

“Inilah dia Jenderal Ketiga dari Pasukan Bhayangkara!?”

“Hraaaarrggghhh!”


===


Di medan pertempuran lain pada selang waktu yang tak terpaut terlalu lama, tujuh unsur kesaktian menari-nari tatkala seorang ahli menceburkan diri ke tengah-tengah kerumunan binatang siluman yang tak terbilang jumlahnya. 

Berbeda dengan ahli yang sebelumnya dikisahkan, tokoh kali ini datang dengan tujuan mencegat laju gelombang binatang siluman. Ia bertubuh gempal dan kekar, dengan wajahnya bundar lagi ramah. Dari pakaian yang ia kenakan dan aura yang menyilaukan, mengisyaratkan akan keagungan sang penguasa. Siapa pun yang berhadapan dengannya, akan merasakan betapa mulia sesungguhnya tokoh kali ini. 

Reaksi kerumunan siluman sontak berubah beringas. Segera mereka menyerbu dan menerkam. Cakar dan taring nan tajam serta panjang-panjang melibas. Di dalam kemelut, meski postur tubuhnya terbilang besar, tokoh ini bergerak lincah. Berputar ke kiri, lalu melompat ke kanan. Setiap satu serangan dihindari dengan apik. 

Merasa berada pada posisi yang paling ideal di tengah kerumunan ribuan binatang siluman, ia kemudian mengangkat kedua belah lengan tinggi di atas kepala. Posisi jemari di kedua tangannya terlihat seolah sedang menggenggam sesuatu. Padahal, baik kasat mata dan tak kasat mata, tak ada barang sesuatu pun di dalam genggaman... 

Tokoh tersebut tetiba berteriak lantang. Kurang terdengar jelas apa yang ia teriakkan karena berbaur dengan raung dan pekik binatang siluman yang menyerang ganas. Terbersit kesan kesan bahwa ia bukan sekadar berteriak, namun sesungguhnya sedang memanggil. Yang kentara terasa, adalah suhu di sekitar tubuhnya serta-merta berubah panas. Seketika itu terjadi, sudah terlihat sebilah parang raksasa nan melengkung dan megah berwarna putih, telah bersemayam di dalam genggaman. 

Jerit kesakitan tak berlangsung lama ketika parang besar tersebut membelah puluhan binatang siluman dalam gerakan menebas lurus dari atas ke bawah. Akan tetapi, tebasan parang besar berwarna putih dan panas itu tiada berhenti... 

“Duar!” 

Ketika bilah parang menghantam tanah, kerikil-kerikil melecut ke sisi kiri dan kanan. Bukan semata kerikil, namun kerikil yang menyala bara api! Oleh karena itu, ratusan binatang siluman di dalam radius tak kurang dari lima puluh meter tercabik-cabik dibuat oleh butiran kerikil nan panas membara! 

Sungguh sebuah taktik tempur yang unik. Bahwasanya sudah sejak awal tokoh ini bergerak untuk mengincar bongkahan batu kerikil besar di dalam tanah dan di tengah kerumunan binatang siluman. Tujuannya adalah menciptakan serpihan kerikil yang berhamburan dan menjadi bara akibat keampuhan senjata pusakanya. Dampak yang tercipta ibarat mengerahkan senjata pemusnah massal! 

Raungan dan lolongan binatang siluman terdengar keras dan nyaring. Kendatipun banyak dari mereka yang terpangkas, bilangan binatang siluman di wilayah tersebut masih dalam hitungan ribuan. Dipenuhi amarah bergelora, tanpa ragu mereka binatang siluman mengepung dan kembali menerkam dengan cakar dan taring panjang lagi tajam. Upaya bersama dilancarkan karena memang mereka menang jumlah. 

Kali ini, tokoh bertubuh gempal kekar dan berwajah bulat itu merentangkan kedua lengan lebar-lebar. Tak terlihat lagi parang nan besar tadi, raib sudah entah kemana. Sembari bergerak lincah, lagi-lagi ia berteriak memanggil dan lagi-lagi posisi jemari di kedua tangan seolah sedang menggenggam sesuatu. Tetiba, sepasang badik kembar tiba di dalam genggaman tangan! (1)

Panjang bilah badik tak lebih dari setengah depa, dan biasanya digunakan untuk menebas serta menikam sasaran. Akan tetapi, tokoh tersebut tiada melakukan kedua tindakan tersebut. Ia hanya mengarahkan ujung badik ke musuh... 

“Dash!” 

Sebuah peluru air melecut deras dari ujung badik, dan langsung bersarang tepat di antara dua bola mata seekor binatang siluman. Peluru air menembus sampai ke dalam cangkang tengkorak kepala, dan binatang siluman tersebut roboh tak lagi bernyawa. 

“Dash! Dash! Dash! Dash! Dash! Dash!” 

Badik di kedua genggaman tangan bergerak lincah. Dengan menebar jalinan mata hati, keduanya dibidikkan ke arah lawan secara jitu. Kemudian rentetan peluru air yang melecut deras merobohkan satu persatu binatang siluman yang berupaya mendekat. Tak seekor pun binatang siluman yang berhasil menjangkau tokoh bertubuh gempal nan kekar.

“Dash! Dash! Dash! Dash! Dash! Dash!” 

Tujuan kawanan binatang siluman adalah menyerang sebuah kota, sehingga perlu dicegat di tengah perjalanan. Oleh karena itu pula, memang jumlah mereka ini terlampau banyak. Pada akhirnya, meski sangat efektif menjatuhkan lawan, tembakan-tembakan peluru air sulit mengimbangi laju kawanan binatang siluman yang datang bergerombol semakin beringas. Tak lagi peduli kehilangan nyawa, ratusan binatang siluman menyergap dalam waktu yang bersamaan! 

Tokoh tersebut masih tampil tenang meski dikeroyok. Sepasang badik telah menghilang dari genggaman tangan. Sebagai gantinya, kini ia menggenggam sebuah gagang parang tanpa mata bilah. Posisi pegangan mirip seperti hendak menikam. Kemudian, secepat kilat ia memutar tubuh, sambil menebaskan golok tersebut. Tak pelak lagi, bilah angin tercipta dan melibas deras ke segala penjuru. Serta merta ratusan binatang siluman dalam radius seratus meter dari posisi di mana ia berdiri, terpenggal semudah mengiris bawang!

Sesungguhnya rangkaian peristiwa ini berlangsung teramat cepat, walau penggambaran di dalam tulisan terkesan lambat. Parang, badik dan golok datang dan pergi di dalam genggaman tangan ibarat menggunakan ilmu sulap. Menebaskan parang api, menembak dengan badik air, dan mengiris menggunakan golok angin, kesemuanya berlangsung secara silih berganti dan sangat tangkas. Waktu yang berlalu untuk rangkaian kejadian ini tak lebih dari sepuluh kedipan mata! 

Lelaki dewasa bertubuh gempal terus membantai binatang siluman yang merangsek ke arahnya. Berbagai senjata pusaka lain dikerahkan silih berganti dengan mudahnya. Ia bergonta-ganti senjata sesuai dengan kebutuhan, semudah memanggil nama senjata tersebut lalu muncul di dalam genggaman. Uniknya, tiada terlihat dari sudut pandang binatang siluman, perihal dari mana datangnya senjata-senjata tersebut. 

Tak terlihat bukan berarti tak ada. Karena sesungguhnya berdiri tak kasat mata seorang perempuan dewasa tak jauh dari lelaki dewasa bertubuh gempal. Wajahnya dipenuhi suka cita dan rasa bangga. Dari dirinyalah senjata pusaka berasal. Tujuh senjata pusaka melayang mengelilingi tubuhnya yang sintal, walau masih tersisa satu gagang senjata yang tertancap di tubuhnya. Mengerikan sekali! 

Perlu disadari bahwanya ketujuh senjata tersebut bukanlah sembarang senjata pusaka. Berjuta-juta tahun yang lalu, dunia sempat dipenuhi oleh binatang siluman. Bentuk dan ukuran tubuh mereka gergasi. Daratan, lautan dan angkasa raya mereka kuasai. Kekuatan setiap satunya tiada tertandingi. Bilamana mereka bertarung, maka gunung berubah rata, lautan mengering, serta langit tercerai berai!

Zaman tersebut dikenal sebagai zaman purbakala. Syahdan, pada suatu hari terjadi bencana besar yang melingkupi seluruh dunia. Binatang-binatang siluman di zaman purbakala punah hampir tak berbekas, tak terkecuali yang mendiami wilayah Negeri Dua Samudera. Walau sisa-sisa keturunan mereka ada yang bertahan sampai saat ini, tidaklah banyak jumlahnya. 

Berjuta tahun setelah punahnya binatang siluman purbakala, hadirlah manusia mengisi dunia. Peradaban pun mulai berdiri. Dari beberapa manusia, menjadi kelompok. Kelompok mendirikan dusun… kemudian membangung desa, kota, negara. Di Negeri Dua Samudera, peradaban manusia secara tak sengaja menemukan delapan senjata pusaka yang terlahir dari anggota tubuh binatang-binatang siluman digdaya di zaman purbakala. 

Manusia yang dikuasai hawa nafsu duniawi, menyalahgunakan kekuatan dari senjata-senjata pusaka purbakala. Perang pecah, dan manusia saling bantai. Oleh karena itu, demi menyelamatkan kemanusiaan, seorang ahli bernama Resi Gotama bertindak. Ia kemudian mengumpulkan Delapan Senjata Purbakala, dan menyegel  ke dalam Cembul Manik Astagina.


Catatan:

1) Badik atau badek adalah pisau dengan bentuk khas yang dikembangkan oleh masyarakat Bugis dan Makassar. Badik bersisi tajam tunggal atau ganda, dengan panjang mencapai sekitar setengah meter.