Episode 28 - Halus dan Kasar



“Alkisah, suatu hari Sang Nagart muda bertemu dengan seorang anak-anak yang nakal. Dia selalu mengganggu tetangga-tetangganya dengan tingkah-polahnya yang tak bisa diam, orangtuanya telah kewalahan mengurus saudara-saudara serta beratus-ratus ternak tak dapat menghentikannya baik dengan nasihat maupun dengan kekasaran. Dia mengejek Sang Kaisar, membuatnya murka hingga Sang Nagart mengubahnya menjadi seekor burung walet kecil, sosoknya akan terbebas dari kutukan jika dia telah melaksanakan seratus kebaikan. Dalam perjalanan untuk melaksanakan seratus kebaikan, dia menemukan tiga anak lain yang juga dikutuk menjadi burung walet oleh Sang Kaisar. Bersama, keempat anak itu akan menjadi apa yang kita sebut sebagai Empat Walet Pertama ….”

—Paragraf pembuka dari Kitab Awal Mula Nama-Nama, bagian “Tentang Gelar Walet”.


“Kita berlatih sekarang juga, kenapa mesti tunggu lama? coba susul aku, Adik Plontos!” Pisun langsung melompat ke udara, melayang cukup lama, kemudian serta-merta mendarat di salah satu dahan pohon yang begitu jauh dan duduk berjongkok dengan enaknya.

“Ayo!” teriaknya ketika Sidya diam di tempat, sembari membenarkan posisi duduknya menjadi ongkang-ongkang kaki. “Praktik langsung, aku tak percaya dengan teori!”

Sidya menyedekapkan tangan sembari menggeleng. Si Walet ini belum mengajarkannya apapun, tiba-tiba langsung menyuruhnya untuk menyusul. Tempatnya sekarang bahkan lebih tinggi dari tempat yang dipakai Hikram.

“Ckckck. Lamban! Salurkan hawa murni ke kedua telapak kakimu, kemudian cobalah melompat! Lepas dulu sepatu bututmu itu.”

Nah, kali ini lebih baik. Setidaknya, Pisun telah memberikan petunjuk yang dapat diikuti. Sidya langsung melaksanakan perintahnya. Ia melepas sepatu dengan cepat, lalu mengalirkan hawa murninya ke bagian badan bawahnya. Saat saluran hawa serupa kumpulan semut menyengat dari paha lalu menyelimuti kakinya, mendadak keseluruhan kakinya terasa diperkuat. Sidya mencoba menjejak-jejakkan kakinya, tanah yang tertimpa melesak dengan mudahnya. Sidya makin bersemangat karena hal ini. Kenapa dia tak memikirkan hal ini sebelumnya? Kalau mau coba lompat tinggi, kenapa tidak mencoba menguatkan kaki saja?

Begitu dirasa bahwa saluran hawa murni telah benar-benar menyeluruh, Sidya mundur terlebih dahulu, lari sekuat tenaga, kemudian langsung melompat. Akan tetapi, tidak semudah itu Sidya mampu mempelajari ilmu terbang milik Pisun. Lompatannya sama sekali tak tinggi, malahan jauh lebih pendek daripada biasanya. Bahkan, kakinya yang jatuh mendebam tanah begitu keras hingga kakinya hampir melesak karena permukaannya memang cukup gembur khas tanah yang biasa menerima hujan.

Pisun menepuk dahinya begitu Sidya menarik kakinya yang hampir menancap. “Haduh, ‘gak gitu! Ringankan, mirip kapas. Bukan malah dikeraskan!”

Sidya menggigit-gigit bibirnya. Badannya masih sakit semua akibat kejadian-kejadian yang belum lama, lalu dia disuruh-suruh untuk melakukan hal yang sama sekali tidak pernah diketahui ataupun dipelajarinya. Demi Kahyangan, dia juga ingin menangisi tangannya yang baru saja cedera, tapi dia malah diajak untuk melatih sesuatu yang tak kelihatan hasilnya ini. Dia mengentak-ngentakkan kaki karena emosi, tanah makin melesak akibat ulahnya.

“Idih, marah-marah? jangan ngambek, itu akan membuat hawa murni bereaksi menjadi keras juga! Tahan emosi, sabarkan diri! Ilmuku ini ilmu halus, tak bisa dipraktekkan oleh orang kasar yang emosinya gampang meledak-ledak.”

Oh. Mungkin itu sebabnya mengapa guru Hikram tak begitu ahli dalam ilmu peringan tubuh. Tak lain karena emosinya gampang merantak seperti api yang baru disiram minyak.

Sejenak terlintas sebuah pikiran gila menyuruhnya untuk membentak Pisun dengan Ilmu Titah agar dia turun karena Sidya mau mengajaknya berkelahi, tapi dia segera mengurungkan niat. Selain karena Pisun memang lebih pandai bersilat, ia ingin menguji dirinya sendiri untuk mengetahui apakah ia pantas mempraktekkan ilmu halus yang katanya halus ini. Ilmu ini sulit, terutama karena orang yang melompat memang biasanya hanya menggunakan tenaga, tapi rupanya semua berbeda jika dilakukan dengan dorongan hawa murni.

Dia mengatur napasnya untuk meredakan amarah. Menghembus, menarik. Menghembus, menarik. Begitu terus sampai dirasanya emosi cukup stabil. Badannya yang kaku kembali tenang, hatinya tak lagi ingin berontak dan Sidya merasa bahwa seperti inilah bagaimana seharusnya seorang putri dari lingkar dalam istana bersikap. Dia melangkahkan kaki untuk mengambil ancang-ancang sekaligus menyalurkan hawa murni, kemudian dengan penuh harapan akan hasil, ia mulai melompat.

Kali ini hasilnya tak terlalu buruk. walau dia jatuh dengan cepat, dirasanya jarak yang ia tempuh cukup jauh. Ditambah, kakinya bertemu tanah dengan lembut. Kurang sedikit lagi dia bisa menapak tanah tanpa suara sama sekali.

Pisun bertepuk tangan. “Pelajar cepat, aku suka itu! Jika ingin berlatih, latihlah terus seperti ini. Adik Plontos, ingat- bahwa hal yang baru kamu ketahui ini hanya dasar dari ilmu meringankan tubuh. Sekarang, akan kutunjukkan rahasia mengapa ilmu Walet Menjelajah Awan dapat membantumu terbang jauh lebih jauh lagi!”

Dia turun dari tempatnya duduk santai dengan mulusnya, Pisun bisa disebut hampir melayang sampai kakinya menapak tanah dengan halus untuk mendekati Sidya yang masih saja berdecak kagum meski sudah berkali-kali dilihatnya si pemuda melakukan hal tersebut.

“Kamu lihat posisi tanganku saat aku turun tadi?”

“Tidak. Mengapa?”

“Kamu harus jadi pengamat yang baik untuk jadi murid ilmu peringan tubuh yang baik.”

“Hampir semua ilmu pengetahuan menuntut kita untuk jadi pengamat yang baik, bukan?” Sidya bertanya, tak sadar kalau dia mengangkat bahu menirukan gerakan yang sering diulang-ulang oleh Pisun.

Pisun tertawa sambil mengangkat bahu juga, “Benar juga ya! Sekarang lihat tanganku.”

Telunjuk, ibu jari, serta jari tengahnya lurus. Kaku, sementara kelingking dan jari manisnya menutup. Wajah Pisun berubah ceria, seperti sedang senang-senangnya walau Sidya tak tahu apa yang membuatnya begitu.

“Paham, Adik Plontos?”

“Sama sekali tidak paham.”

“Aduh, ‘gimana sih! Ini mirip kaki burung walet! Tirukan persis sepertiku, maka lompatanmu akan jauh tinggi lagi. Ada simpul hawa murni yang bertemu diantara jepitan jari tengah dan telunjuk kita, itu membuat dengkul-betis kita jauh lebih kuat melompat tanpa membuatnya lebih berat. ibu jari terbuka memudahkan hawa murni mengalir dari ujung ibu jempol ke seluruh bagian tubuh. Paham tidak, kalau jempolmu itu ternyata menyimpan hawa murni yang besar terutama jika dipakai untuk terbang? Cobalah menekuk jempol, itu pasti akan mengganggu terbangmu.”

“Apa itu sebabnya kenapa Kakak Walet tak pernah membawa senjata saat terbang meski sedang berkelahi?”

“Ya, kecuali kalau situasinya sudah terlalu berbahaya. Mau tak mau kupanggil mustikaku.”

Sidya mengamati kedua tangannya yang menirukan posisi jari-jemari yang ditunjukkan Pisun. Ia ingin menanyakan apakah bentuk mustika milik Pisun, tapi dia punya pertanyaan yang jauh lebih penting untuk saat ini. “Lalu mengapa Kakak menutup jari kelingking dan jari manis? Apa ada sebab lainnya?”

Pisun mendadak mengembalikan posisi jari-jarinya ke posisi yang biasa. Ia berdecak, “kamu itu banyak maunya! aku sudah membocorkan beberapa rahasiaku, sekarang saatnya menunjukkan cara meninjumu padaku!”

Sidya merengut, tapi Pisun ada benarnya juga. Dia harus bersikap adil kalau masih mau diberi tahu rahasia-rahasia lain olehnya. Lagipula, bukankah dia telah sepakat untuk berbagi rahasia satu sama lain?

Sidya mengerling Hikram, terutama teringat akan perkataannya tentang seorang murid yang tak boleh belajar tanpa ijin gurunya saat Apit bersikeras untuk mengambilnya sebagai murid. Kalau guru sedang menontonnya sekarang, bisa gawat. Untuk kali ini, Sidya senang Hikram masih tidur. Dilihatnya si tukang minum yang telah mengajarinya berbagai hal itu masih diam di tempat, masih ngorok keras mirip seekor kodok bangkong. Sidya memastikan gurunya benar-benar masih tidur sekali lagi sebelum akhirnya menggenggam tinjunya, lalu menunjukkan tangan pada Pisun, yang mengangguk setelah mengamati tangannya yang membentuk kepalan. Sidya mengambil jarak beberapa langkah agar tak melukai Pisun, lalu dia menarik tangannya, berkonsentrasi untuk menyalurkan hawa murni, lalu meninju ke hadapan, tepat ke bagian wajah Pisun. Angin pukulannya muncul seperti siulan, sampai membuat rambut Pisun yang baru disadari oleh Sidya sedikit disemir dengan warna merah terangkat, rambutnya yang semula menutupi dahi menjadi tegak sekarang. Dia bahkan tidak mengembalikan poninya, dia masih menunggu penjelasan Sidya.

“Aku menarik dulu seluruh hawa murniku hingga terhimpun, lalu kuhempaskan semuanya dalam bentuk garis lurus bersamaan dengan tinjuku,” jelas Sidya.

“Berarti kamu menyatukan hawa murnimu, kemudian memadatkanny? Angin itu pasti hasil dari olahan hawa murni. Ilmumu belum sempurna, Adik Plontos, kurasakan masih ada angin yang mengenai bagian badanku yang lain. Tapi, aku cukup paham caranya setelah kau jelaskan begitu. Cukup susah melakukan pukulan begini, karena musti konsentrasi terus-terusan.” Pisun menambahkan dengan cengiran, “aku malas mikir keras-keras, sih.”

“Lebih baik Kakak coba dulu sebelum berkomentar.”

Sembari mengangguk-angguk, Pisun langsung menarik tinjunya, wajahnya mengernyit berkonsentrasi sebelum memukul ke udara kosong persis seperti Sidya. Tak ada hembusan yang terjadi. Ia mengawasi tangannya yang masih mengepal, wajahnya mengernyit.

“Kok tak berubah ya, angin pukulannya malah tak ada.”

“Coba kakak pukul batang pohon yang paling keras, hasilnya tak bisa ditaksir hanya dari angin pukulan saja.”

Pisun mengerling kedua tangan Sidya. Yang satu dibebat, yang satu kentara penuh luka. Dia terkekeh rikuh, “lain kali saja ah.”

“Tak berani?” Sidya mencemooh, sementara Pisun tertawa. “Berani, tapi nanti. Anehnya, guruku malah mengajarkan untuk menyebar hawa murni jika kusalurkan lewat pukulan. Tak tahulah apa inginnya.”

Sidya berpikir-pikir sebentar sebelum menarik sebuah kesimpulan. Senyumnya mengembang. Dia merasa seperti seorang guru yang menjelaskan sesuatu pada muridnya. “Itu agar hasil pukulan merata, tidak terpusat. Ditambah, memusatkan hawa murni sepertiku akan sangat memakan hawa murni, karena bentuk hawa murninya dipaksa padat.”

Pisun mengangguk-angguk. “Akan sangat sulit melakukan pukulan semacam ini tanpa banyak menumpuk hawa murni dengan semedi, ditambah latihan berkonsentrasi pula. Sungguh sulit, merepotkan pula! Lalu apa lagi rahasianya, Adik Plontos?”

“Cuma itu.”

“Cuma itu? Yang benar?”

“Aku tidak bohong. Sekarang, kakak tunjukkan padaku rahasia ilmu peringan tubuh yang lain. Kenapa Kakak Walet menutup jari kelingking dan jari manis?” tuntut Sidya yang sudah tak sabar ingin belajar lebih jauh lagi.

Pisun mendadak tersenyum lebar. Ia langsung menjura, mendadak kelihatan berlawanan dengan gaya biasanya yang seenaknya sendiri. “Terima kasih sudah membuka mataku, tapi dengan bakat seperti itu, aku sangat khawatir bahwa empat Gelar Walet dari empat penjuru akan kau sambar sendiri. Aku memang yang termuda diantara Walet-Walet lainnya, tapi bukan berarti aku bisa sesuka hati mengabaikan peraturan mereka begitu saja. Mereka tak akan memaklumiku, mereka akan mengulitiku hidup-hidup kalau tahu aku membocorkan rahasia.”

Sidya melongo.

“Apa maksudnya, Kakak? Mereka? Memangnya siapa mereka?”

Senyum Pisun digantikan seringai, lebih mirip dengan kesan yang ditunjukkannya pada Sidya selama ini, yang suka bersombong ria walau ada bahaya mengancam di depan mata. “Sudahlah. Nanti kamu juga tahu sendiri. Ada orang-orang tua rewel yang suka ikut campur urusan orang-orang muda, Adik Plontos.”

Pisun meluruskan diri, lalu mengangguk. Ia mengedar pandang sambil lalu, kemudian memosisikan bibir ke kantung minumnya lagi. Firasat Sidya mengatakan bahwa isinya pasti bukanlah air biasa, mengingat pipi Pisun yang merah mirip gurunya yang suka menenggak minuman keras. 

Pisun mengusap bibir dengan bagian belakang tangannya. Kemudian berkata, “Baiklah, akan kubacakan semuanya secara lengkap untukmu. Aku jarang sekali mengucapkan semuanya secara utuh, tapi aku cukup senang bisa kenal denganmu.”

Pisun mengambil napas, lalu segera memulai, “Di pojok rumah paman petani yang sederhana, terdapatlah sebuah sarang, milik seekor burung layang-layang. Tanpa sopan santun, atau tata krama, si burung datang, lalu pergi. Tualang, uji diri ….”

Sidya memejamkan matanya. Dia memilih menikmati lantunan suara Pisun, yang walaupun tidak begitu indah, diucapkannya semua isi dari Balada Layang-Layang dengan sepenuh hati. Ketika ia selesai, Sidya membuka mata. Sosoknya terlihat sejenak diantara puncak pepohonan sebelum sepenuhnya lenyap, sekali lagi menjadi satu dari sekian banyak pengembara rimba persilatan yang suka pergi dan datang secara mendadak. Mungkin mereka akan bertemu lagi, mungkin juga tidak. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini.

--