Episode 66 - Pesan Pembawa Petaka (2)



Panji Andara memacu kudanya dengan sangat cepat sejak berpisah dengan Jaka Yaksa, Ki Sentanu, dan Ki Citrawirya tadi di alun-alun, sepanjang perjalanan ia mendengar suara cuitan Sirit Uncuing yang terus menerus bercuit-cuit parau dengan suara yang sangat keras dan menggema dimana-mana, anehnya lagi di jalanan Kauman Kutaraja itu nampak sangat sepi, tidak ada seorang pun yang lewat ataupun prajurit yang berpatroli, ditambah suara cuitan Sirit Uncuing dan lampu-lampu jalan yang tidak ada yang menyala hingga mirip suasana di kuburan! 

Perasaan takut ditambah firasat tidak enak menguasai perwira muda ini, tiba-tiba ia juga teringat pada istri dan anak semata wayangnya yang masih balita, teringat ia pada senyum istrinya dan senyum anaknya yang melepasnya pergi saat pagi tadi yang membuatnya mempercepat kudanya karena ingin cepat pulang! “Perasaan aneh apa ini? Nyai... Dan kamu Asep... Tunggu, aku akan segera sampai!” gumamnya.

Sebenarnya jarak dari Kepatihan ke rumahnya tidak terlalu jauh malah bisa dibilang dekat, tapi entah mengapa, malam ini Panji Andara merasa perjalanannya seolah sangat jauh hingga ia terus mempercepat lari kudanya. Setelah melalui perjalanan yang terasa sangat jauh tapi sebenarnya tak jauh, akhirnya ia sampai juga ke depan rumahnya, ia menarik nafas lega ketika melihat pintu gerbang rumahnya, ia pun melambatkan jalan kudanya dan membawanya masuk kedalam gerbang rumahnya.

Tapi satu keanehan terjadi, ketika ia memasuki pintu gerbang rumahnya, tiba-tiba ia berada di komplek kuburan kuno yang berantakan dan tidak terurus! Suasananya angker sekali! “Astagfirullah! Kenapa aku bisa berada disini? Bukankah tadi aku memasuki gerbang rumahku?!” kejutnya, ia lalu celingukan melihat-lihat pekuburan itu dengan bulu kuduk merinding karena suasana di sana memang sangat menyeramkan!

“Bukankah ini kuburan Palagan Pati? Kuburan ini kan terletak di lereng Gunung Gede, kuburan yang dipakai untuk orang-orang yang dihukum mati oleh Prabu Kertapati, mustahil aku bisa sampai disini karena jaraknya sangat jauh!” pikirnya yang mengenali kuburan itu. Kuburan itu memang bernama Kuburan Palagan Pati, kuburan khusus untuk para terpidana mati pada zaman pemerintahan Prabu Kertapati.

“Bagiku tidak ada yang tidak mungkin! Kau memang berada di kuburan Palagan Pati! Sengaja kubawa kau kesini agar orang-orang tidak usah repot-repot membawamu ke kuburan!” ucap seseorang dengan suara datar dan dalam yang tiba-tiba menggema disana. 

“Kurang ajar! Siapa kau?!” bentak Panji Andara sambil melihat kesekelilingnya, tiba-tiba terdengarlah suara cuitan burung Sirit Uncuing berkali-kali dengan suara keras, merindinglah hati Panji Andara, tapi ia penasaran dengan orang yang berbicara tadi, ia terus melihat kesekelilingnya hingga melihat seekor burung Sirit Uncuing diatas sebuah cabang pohon!

“Burung Sirit Uncuing? Apakah burung itu yang sedari tadi bercuit di Kepatihan?” tanyanya pada diri sendiri.

“Betul! Aku jugalah yang membawamu kemari!” ucap burung itu, terkejutlah Panji Andara mendengar burung itu dapat berbicara, ia semakin terkejut ketika melihat burung tersebut berubah wujud menjadi Dharmadipa! 

“Dharmadipa?!!!” seru Panji yang bukan main terkejutnya melihat Dharmadipa kini berdiri sekitar 25 langkah dihadapannya, ia melotot dengan tatapan tidak percaya pada apa yang ia lihat!

Dharmadipa tertawa terbahak-bahak mengerikan, suaranya menggema ke seantero tempat itu menimbulkan angin ribut yang berseoran mengerikan, serta menggetarkan seluruh tempat itu! Sementara Panji menatapnya dengan tatapan antara tak percaya dan ketakutan, kuda yang ia naiki pun menjadi binal dan meringkik-ringkik ketakutan! Akan tetapi sebagai seorang kesatria sejati pantang baginya untuk merasa jerih dan kabur begitu saja, meskipun hatinya tergetar hebat, ia tetap melompat turun dari kudanya yang langsung melarikan diri, dengan gagah berani ia pun menantang Dharmadipa. “Jangan kau menggertak aku! Aku tidak takut dengan siluman!” lantangnya!

Panji Andara membuka kuda-kudanya, menyilangkan kedua tangannya, kedua kakinya menjejak bumi dengan teguh, kemudian mengangkat tangan kanannya keatas, dan menyalurkan seluruh tenaga dalamnya, tangan kanannya memancarkan cahaya hijau tua! Di tempatnya Dharmadipa tidak bergerak sedikitpun melihat lawannya sedang menyiapkan aji pukulan saktinya, ia hanya tertawa terbahak-bahak saja.

Panji Andara berteriak menggeledek sambil memukulkan tangan kanannya ke muka, satu bola api besar berwarna hijau dalam aji pukulan “Api Hijau” menggebu menerjang Dharmadipa dengan hebatnya! Dharmadipa masih terus tertawa tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya, hingga... Blarrr!!! Lidah api hijau itu menerjang tepat pada sasarannya hingga menimbulkan satu ledakan dahsyat! Tubuh Dharmadipa hancur berkeping-keping berhamburan ke mana-mana dengan terbakar api berwarna hijau dan mengeluarkan bau sangit!

Panji Andara menarik nafas lega, ia lalu tertawa puas, perwira muda ini lalu melangkah melihat setiap bongkahan tubuh Dharmadipa yang hancur berantakan dan masih terbakar serta mengepulkan asap hitam berbau sangit. “Hahaha... Ternyata hanya segitu kemampuanmu Dharmadipa? Makanya jangan bermain-main dengan Panji Andara, si Singa Dari Gunung Hejo! Hahaha...”

Tetapi saat mulutnya masih mangap karena tertawa bekakakan, bagian-bagian tubuh Dharmadipa yang tadi tercerai berai tiba-tiba bergerak-gerak! Perlahan bagian-bagian tubuh itu menyatu kembali sehingga utuh menjadi Dharmadipa kembali tanpa kuran satu apapun jua! Bukan main terkejutnya Panji Andara. “Setan Alas! Ternyata kau memiliki ajian Rawarontek hah?!” makinya sambil menghunus Keris pusakanya!

Dharmadipa tertawa lebar melihat keterkejutan lawannya itu. “Aku tidak memiliki ajian apapun! Aku hanya hidup abadi dan tidak bisa mati! Hahaha...”

Panji Andara menatap tajam pada mayat hidup dihadapannya itu, ia lalu memejamkan matanya sekejap sambil membaca mantera ajian untuk Keris pusakanya, kemudian menerjanglah ia dengan Keris pusakanya itu! Wusshhh! Sungguh ajaib! Ketika Panji Andara menerjang untuk menusuk jantung Dharmadipa, Kerisnya seolah hanya menusuk tempat kosong belaka, malah ia jadi ikut terpapah beberapa langkah kedepan terdorong oleh tenaganya sendiri setelah menembus tubuh Dharmadipa yang bagaikan asap itu.

“Setan! Meskipun kau punya ilmu iblis begini aku tidak akan undur setapak pun!” tekadnya, ia lalu menendang sebuah batu nisan kuno yang besar, batu itu melayang menerjang Dharmadipa! Dengan tenang Dharmadipa mengangkat tangan kanannya, satu sinar merah melesat menghancurkan batu nisan kuno itu!

Penuh penasaran Panji Andara menendang beberapa kotak makam di sana, Wushh! Wushh! Wsuhh! Tujuh kotak makam batu menerjang Dharmadipa! Dharmadipa melompat keatas dan menggerakan kedua tangannya, tujuh larik sinar merah besar yang sangat panas menderu! Blarrr! Tujuh ledakan dahsyat terdengar tujuh kali berturut-turut, hancurlah tujuh kotak makam kuno itu!

Dharmadipa balas menyerang, ia mengibaskan kedua tangannya, belasan kotak makam batu kontan menerjang Panji Andara! Dengan sigap perwira muda ini melompat kesana kemari menghindari terjangan belasan kotak makam yang seolah dikendalikan dengan tali oleh Dharmadipa tersebut! Karena ia terfokus pada menghindari belasan makam itu, ia jadi tidak waspada pada keadaan disekitarnya, tahu-tahu wajah pucat pasi seputih kapas Dharmadipa sudah menyeringai didepan wajahnya!

Panji Andara langsung sabetkan Keris pusakanya membabat beberapa bagian tubuh Dharmadipa, tapi seperti tadi, ia seolah hanya menyerang tempat kosong! Dharmadipa langsung melancarkan serangan balasan, ia cengkram tangan kanan Panji yang sedang menggenggam Keris, Krekkk! Terdengar suara tulang berderak disusul suara lolongan kesakitan Panji Andara yang tangannya patah, disusul empat pukulan beruntun dan satu tendangan dahsyat yang bersarang telak ditubuhnya!

Tubuh Panji Andara mencelat, terlempar beberapa tombak kebelakang! Tubuhnya menubruk satu pohon besar hingga ia jatuh berguling-guling dan muntah darah! Beberapa tulang rusuk perwira muda yang sakti mandraguna dan terkenal memiliki tenaga dalam tingkat tinggi ini patah hanya dengan empat pukulan dan satu tendangan Dharmadipa, maka dapat dibayangkan bagaimana dahsyatnya tenaga Jin Bagaspati yang bersemayam didalam tubuh Dharmadipa!

Dengan angker, Dharmadipa melangkah perlahan menghampiri Panji Andara yang masih merintih kesakitan serta keadaannya sangat kritis itu, mayat hidup inipun menyeringai bengis. “Akan aku akhiri penderitaanmu penghianat busuk!” ucapnya dengan suara dalam bagaikan suara dari dalam sumur yang dalam lagi gelap! Dharmadipa menunjuk satu pohon besar disebelah Panji dengan jari telunjuknya, tiba-tiba pohon itu terguncang dahsyat dan tercabut dari akarnya! Pohon raksasa tersebut kemudian melayang keatas dan jatuh roboh menimpa Panji Andara! Panji Andara mengerang sebentar, tubuhnya kelojotan, sampai beberapa saat kemudian tubuhnya berhenti berkutik! Perwira Muda Mega Mendung ini tewas dengan seluruh tulang tubuhnya hancur!

Dharmadipa tertawa terbahak-bahak melihat kematian Panji Andara, ia lalu berbalik dan melangkah pergi sampai tubuhnya hilang bagaikan asap ditiup angin! Berbarengan dengan hilangnya Dharmadipa, tempat itu pun langsung berubah kembali menjadi halaman rumah Panji Andara, Panji ternyata tewas akibat tertiban pohon besar yang ada di halaman rumahnya sendiri! 

Para prajurit jaga pun kaget bukan kepalang ketika tiba-tiba melihat Sang Rakrean Rangga itu tergeletak mati tertimpa pohon di halaman rumahnya sendiri, gemparlah keadaan rumah itu, karena tidak ada seorang pun yang melihat kenapa Panji bisa tiba-tiba tewas tertimpa pohon besar di halaman rumahnya sendiri!

***

Sementara itu di alun-alun, Ki Balangnipa menatap nanar pada mayat Jaka Yaksa yang tewas secara sangat mengenaskan, kepalanya meleleh sehingga otaknya hancur meleleh dan darahnya berhamburan ke mana-mana! “Gusti… Jaka Yaksa tewas dengan cara yang sungguh kejam! Siapapun yang melakukannya, selain kejam orang itu pasti memiliki ilmu yang sangat tinggi!” pikirnya.

“Kalian mintalah bantuan pada prajurit jaga untuk mengurus jenasah Manggala Jaka Yaksa ini!” perintahnya pada para prajurit Kepatihan yang menyertainya, “Daulat Gusti!” sahut mereka.

Ki Balangnipa lalu menatap lagi jenasah Jaka Yaksa yang sedang diurus oleh para prajurit, saat itu tiba-tiba terdengar suara cuitan burung Sirit Uncuing yang keras sekali, Ki Balangnipa pun terkesiap sejenak, lalu menggunakan mata tuanya untuk melihat keatas. “Lagi-lagi burung Sirit Uncuing!” ucapnya sambil bersiap-siap, tangannya memegang hulu keris pusakanya.

Ketika ia sedang terus memperhatikan ke atas tiap cabang pohon dan atap bangunan yang ada di alun-alun, datanglah dua orang prajurit menghadapnya. “Ampun Gusti Patih” lapor prajurit itu.

“Ada apa?” tanya Ki Balangnipa.

“Ampun Gusti, Gusti Rangga Panji Andara telah meninggal dunia!” lapor si prajurit.

“Apa?! Dimana dia meninggalnya?!” tanya Ki Balangnipa yang terkejut setengah mati.

“Gusti Rangga meninggal tertimpa pohon yang roboh di halaman rumahnya sendiri!” jawab si Prajurit.

“Tertimpa pohon roboh? Kenapa bisa? Bukankah malam ini tidak ada hujan badai yang sanggup menumbangkan pohon?!” cecar Ki Balangnipa penasaran.

“Ampun Gusti, kami pun tidak mengerti, kami yang berjaga di gerbang rumah Gusti Rangga tidak melihat kedatangan beliau, tiba-tiba kami lihat Gusti Rangga sudah tewas tertimpa pohon besar yang roboh di halaman rumah!” jelas si Prajurit.

Ki Balangnipa berpikir keras, bagaimanapun kematian Panji Andara menurut keterangan para prajurit itu sangat tidak masuk akal! “Sudah, sekarang antarkan aku kesana!” berangkatlah Ki Balangnipa ke rumah Panji Andara dengan diantar kedua prajurit itu setelah sebelumnya memerintahkan para prajurit kepatihan untuk mengurus jenasah Jaka Yaksa dan memberi tahu keluarganya.

Sang Prabu yang langsung diberi tahu atas tragedi naas itu langsung menuju ke rumah Panji Andara, di sana sudah ada Ki Balangnipa, Ki Sentanu, dan Ki Citrawirya, mereka sedang memimpin puluhan prajurit yang sedang mengungkit pohon besar yang roboh menimpa Panji Andara untuk mengambil jenasahnya, sementara anak dan istri Panji menangis tersedu-sedu melihat jenasah suaminya yang tewas secara mengenaskan. “Sebenarnya bagaimana bisa terjadi hal seperti ini? Bagaimana bisa kalian tidak melihat kedatangan Ki Rangga dan tiba-tiba kalian melihatnya sudah tewas tertimpa pohon seperti ini?” tanya Sang Prabu pada para prajurit jaga.

“Ampun Gusti Prabu, kami semua tidak melihat kedatangan Gusti Rangga, kami hanya melihat tiba-tiba jenasah Gusti Rangga tergeletak disini tertimpa pohon besar ini, bahkan kami juga tidak mendengar suara dan melihat robohnya pohon besar ini... Ampun Gusti, sejujurnya kami juga tidak mengerti, sebab kalau Gusti Rangga masuk kemari, pasti akan berpapasan dengan kami di pintu gerbang halaman rumah” jelas si Prajurit.

Sang Prabu lalu menatap pohon raksasa yang menindih jenasah Panji Andara “Sebenarnya ini pohon apa? Kenapa ada pohon sebesar ini di rumah ini?” tanyanya pada istri Panji yang masih menangis sesegukan.

“Ampun Gusti, pohon itu adalah pohon pemberian guru Kakang Panji dari Gunung Hejo, Kakang menanamnya disini dengan alasan untuk sebagai pelindung kami sekeluarga, tapi... Tapi... Kakang malah tewas tertimpa pohon itu...” jelas istrinya sambil terus menangis.

“Mungkin pohon itu memang angker Gusti, lalu Panji dianggap berbuat sembarangan oleh penghuni pohon itu” celetuk Tumenggung Ranadikarta.

“Lalu pohon itu ditumbangkan penghuninya? Nah kalau sudah roboh begitu penghuninya lantas pindah lagi, begitu? Dan bukankah kau sudah dengar tadi kalau pohon ini merupakan azimat pelindung Panji andara?” tanya Sang Prabu.

“Lagipula menurut keterangan para prajurit jaga, mereka tidak ada yang melihat Panji Andara masuk kesini, mereka juga tidak mendengar suara pohon yang rubuh, tahu-tahu mereka melihat Panji sudah tewas disini!” sambung Ki Balangnipa.

Prabu Arya Bogaseta mengangguk-ngangguk, Ia tahu kalau keterangan prajurit itu tidak bohong atau mengada-ada. “Hmm... kejadian ini sama dengan kejadian tewasnya Mang Juju, dan sebelumnya Jaka Yaksa pun tewas dengan mengenaskan di alun-alun yang seharusnya masih ramai dan banyak prajurit yang berjaga di sana... Semua ini tidak wajar! Kematian mereka bertiga tidak wajar!”

***

Sementara itu di goa lereng gunung Gede, Mega Sari yang sedang bersemedi membuka matanya ketika mendengar suara cuitan burung Sirit Uncuing, seekor burung Sirit Uncuing berwarna hitam terbang masuk kedalam goa lalu hinggap disebelah Mega Sari dan Wusshhh! Burung itu berubah Dharmadipa yang duduk bersila disebelah Mega Sari. Mega Sari tersenyum lalu mengambilkan segayung batok air murni yang berasal dari mata air yang masih suci lalu menyiramkannya ke batok kepala Dharmadipa.

“Bagaimana Kakang?” tanyanya sambil tersenyum hangat.

“Jaka Yaksa dan Panji Andara sudah kubunuh!” jawabnya dengan datar.

“Bagus! Bagus! Sekarang Mega Mendung pasti akan goyah setelah kehilangan Manggala dan Rangganya!” angguk Mega Sari sambil tersenyum lebar.

“Aku lelah Nyai, aku ingin beristirahat keluar dari tubuh ini, aku mau pulang!” pinta Dharmadipa dengan dingin.

“Kakang bisakah Kakang memintanya lebih lembut? Dengan mesra layaknya suami pada istrinya begitu?” tanya Mega Sari.

“Aku lelah, aku beristirahat keluar dari tubuh ini, aku mau pulang!” pinta Dharmadipa yang mengulangi permintaannya tetap dengan dingin dan datar, Mega Sari menghela nafasnya dengan raut wajah kecewa, ia tahu tak bisa meminta lebih pada Jin Bagaspati ini, maka ia pun membaringkan tubuh Dharmadipa secara perlahan, lalu mencabut benang Tirta Sukma dan selendang Pati Sukma, Jin Bagaspati pun keluar dari tubuhnya lalu melayang pergi meninggalkan Goa itu.

Setelah Jin Bagaspati pergi, Mega Sari lalu berbaring disebelah jasad Dharmadipa dan membelai kepalanya. “Kakang maafkan aku, selama ini aku menyembunyikan berita gembira ini, tapi sekarang aku pikir sudah waktunya untuk memberi tahukannya padamu Kakang, aku hamil Kakang, hamil untuk yang kedua kalinya setelah anak kita yang pertama diminta oleh Ayahanda Prabu sebagai tumbal perjanjian wasiat iblisnya! Kakang... Sekarang aku minta pertanggung jawabanmu, tidak lama lagi anak kita akan lahir, dia yang akan meneruskan kekuatan kita, yang akan meneruskan trah kita berdua, kekuasaan kita! Segera setelah kakang menghacur leburkan Mega Mendung, kita akan mendirikan satu negeri baru diatasnya, negeri yang akan menguasai seluruh wilayah Pasundan!

Saat itu masuklah Ki Silah. “Gusti, apakah Gusti Pangeran masih bisa mendengar? Saya tadi melihat Mbah Bagaspati sudah pergi” tanyanya sambil menitikan air mata, Mega Sari menyeringai tersenyum manis “Dia bahkan bisa mendengar suara bisikan hati saya Abah, Abah kenapa menangis?”, Ki Silah menggelengkan kepalanya “Saya tidak tega Gusti, saya tidak tahan melihat Gusti membelai mayat Gusti Pangeran, saya sedih! Maaf...”

“Apa yang perlu disedihkan? Sungguh saya bahagia sekali Abah! Bagaimanapun kita sudah bisa membalas sakit hati kita, saya akan tetap membelai Kakang Pangeran, karena cinta kami tidak bisa dipisahkan! Walau oleh kematian sekalipun! Karena kami sudah dijodohkan, bahkan sebelum kami dilahirkan di muka bumi ini!” pungkas Mega Sari sambil berbaring disebelah Dharmadipa, Ki Silah pun hanya menghela nafas berat, ia lalu kembali ke tempatnya.

Mega Sari terus menatap wajah suaminya yang kini sudah terbujur menjadi mayat itu sambil tersenyum manis. “Kakang aku sangat mencintaimu! Aku memang mempunyai kesalahan padamu, dulu pada saat engkau masih hidup, aku terlalu sering memanfaatkanmu sehingga kamu mendapat celaka karenanya... Aku sangat menyesali perbuatanku itu! Tapi sungguh aku mencintaimu! Aku akan membayar kesalahanku dengan membunuh semua orang yang menganiayai kita dan membuatmu menjadi penguasa tunggal di tanah Pasundan ini!”

Di pelupuk mata wanita ini tergambar jelas kehidupan mereka saat masih menjadi putrid an pangeran Mega Mendung, lalu datanglah bencana yang membuat Mega Sari terpaksa harus meninggalkan Mega Mendung, Jaya Laksana kakaknya memintanya meninggalkan Mega Mendung demi keselamatannya, dengan berat hati ia pun meninggalkan Mega Mendung meskipun berat untuk berpisah dengan Kakaknya, dan terakhir bagaimana menderitanya mereka selama dalam masa pelarian ke Gunung Patuha, setiap orang yang mereka temui tidak ada yang mau membantu, malah mau menangkap atau membunuh mereka, sepanjang perjalanan terus menantang maut dan dirundung ketakutan yang teramat sangat Karena mereka telah menjadi buronan Negeri Mega Mendung! Beberapa kali mereka terpaksa bentrok untuk melindungi diri dari para pengejarnya, beberapa kali nyaris mati diracun oleh orang-orang Mega Mendung yang mengejar mereka! Mega Sari mengepalkan tangannya sampai berdarah, di antara derai air matanya, ia bertekad akan meratakan Mega Mendung dengan tanah!