Episode 79 - First Boss



“Fireball !!”

“Fireball !!”

Lio sibuk menembakkan api pada setiap Zombie yang mendekat. Akan tetapi monster-monster di udara tidak mempan terhadap, malah cenderung menyerapnya.

“Lio minggir!” sahut Ranni selagi melompat dengan tongkatnya yang digenggam kuat-kuat hingga siap menghantam tanah. “HYYAAAA !!”

BRUSSHHHTTT !!

Sebuah hempasan api besar membakar 13 zombie di depan Ranni hingga hangus terbakar dan mati, kemudian berubah menjadi gas hitam dengan barang kecil yang dijatuhkannya. Namun tak selang berapa lama, Monster itu muncul kembali di tempat yang tak jauh dari sana.

“Cih! Kalau begini sih tidak ada habisnya.” kata Ranni yang kesal melihat respawn itu.

“Woah! Luar biasa Ran!” Lio memujinya dengan ekspresi kagum. “Benar-benar luar biasa.”

“Replenish !!”

Cast Cefhi untuk mengisi kembali aura mereka dan stamina mereka.

“Loh kok, tiba-tiba aku segar lagi.” Lio merasa enakan dan membuka tutup telapak tangannya lalu mengerakkan-gerakkan tubuhnya.

“Kami membagi tugas,” kata Fia. “Karena kita punya dua healer, dan Cefhi punya kelebihan lain dibanding diriku. Maka aku yang bertugas menyembuhkan luka, Cefhi yang memulihkan Aura dan stamina kalian.”

“Woah begitu ya...” Lio terpukau mendengarnya. “Wow! Kita punya anggota party yang sangat bagus.”

“Hei kamu ngapain?” tanya Ranni dengan nada ketus. “Kamu mungutin apa?”

“Sayang kalau Lootnya tidak diambil.” balas Nirn yang sibuk mengambil benda-benda kecil barang dropan dari monster. “Kita bisa membawanya pulang dan menjualnya di kota.”

“Tinggalkan saja, kita ini sedang ujian bukan mencari benda-benda untuk dijual.”  

“Tapi, kalau dalam satu jam tidak diambil, maka benda-benda bernilai ini akan...”

“Buang saja benda itu.” jawab Ranni dengan nada rendah tapi terasa sedang marah. “Jangan membawa beban apapun, sekali lagi... kita ini sedang ujian tahu.”

“Ba-baik...” Nirn menjatuhkan barang-barang pungutannya dengan kepala tertunduk dan perasaan kecewa. “Padahal lumayan kalau dijual.”

***

SRESSSHHHTT !! 

Wrugh! Wrugh! Wrugh!

Sever dengan pedang anginnya berpose anggun setelah mengalahkan monster-monster zombie itu.

“Enyahlah, monster-monster buruk rupa.” katanya dengan nada pria feminim.

“KYAAA !! Sever keren!”

“Tenang saja Ladies, kalian semua akan kulindungi dari tangan kotor monster-monster ini.”

“Waahhh kerennya.” 

“Hatiku meleleh.”

“Dia tampan banget.”

Sementara iris dengan tampang cemberut melihat sikap absurd ketiga gadis-gadis itu. “Dih apaan sih mereka ini, padahal biasa saja, Cuma karena dia ganteng. Huh?! Dasar gadis-gadis genit.” pikir Iris.

***

“GRAAAA !!”

Joran menggenggam zombie-zombie itu meremasnya dalam genggaman tangannya.

“GRAHHH! GRAHH! GRAH!” lalu membenturkannya satu sama lain hingga menjadi remuk.

“HYAAAA !!”

Joran membantingkan Zombie itu ke tanah.

“HYA! HYA HYA!”

Kemudian menginjak-injaknya seperti serangga berlendir hingga mati dan berubah menjadi gas hitam. 

“Joran! Kau mahakuat!” puji Bartell.

"Aku malah kasian dengan monsternya." kata anggota party Joran.

"Sial banget aku ada di party ini." kata anggota yang lain.

"Kita disini juga karena diundi.” sambung anggota yang lainnya lagi.

"Ngomong apa kalian??" ancam Bartell.

"Tidak! tidak... bukan apa-apa." jawab mereka bertiga bersamaan dengan penuh keringat.

***

Nicholas maju sendiri dan membakar dengan api hitam Zombie manapun yang ada didekatnya.

"Huh ini sih masih terlalu mudah,” kata Nicholas dengan angkuhnya menghanguskan puluhan zombie-zombie dalam sekejap dengan api hitamnya. “Ayo cepat kita lawan bossnya! Aku sudah jenuh berada di tempat terang begini.”

Mereka terus berjalan sambil bicara.

"Huh...bosan,” kata Velizar dengan wajah datar. “Seharusnya aku tak perlu masuk party kalian ya...” 

“Memangnya. Selain kita, ada yang mau se-party sama orang lempeng kayak kamu.” balas Sinus.

“Ha-aah...” balas Velizar menghela nafas dengan datar. “Soalnya, aku jadi tak perlu mencabut pedangku. Katanya tempat ini menarik. Tapi..."

"Masih lantai satu, tenang saja." balas Nicholas di depan."

Luxis sarkas. "Huh!? Kalian memang orang-orang sinting ya. Beruntung aku bisa satu kelompok denganmu."

“Nico, apa perlu aku beri buff?” tanya anggota partynya yang berasal dari kelas Stellar Umbra juga, berperan sebagai support.

“Tidak usah, tunggu sampai melawan boss saja, aku yakin bossnya besar-besar. Tapi apa bakal menarik? Entahlah...”

“Tunggu sebentar,” Nicholas memberi instruksi berhenti. “{atung? Sayap? Trisula? Wajah iblis?” Nicholas menerka-nerka.

DUARRR !!

Patung itu langsung diserang dengan api hitam Nicholas dan hancur berkeping-keping.

Batu-batu yang rusak itu berubah perlahan menjadi Gargoyle dan mati dengan segera.

“Seperti aku bakal tertipu saja.”

***

Sementara itu, party Alzen sibuk melawan dua Gargoyle.

"Fireball!" kata Alzen

"Fireball!" kata Chandra

"Hei! Kau healer ngapain di depan dan ikut nyerang.” Luiz membentak. “Simpan auramu untuk menyembuhkan kami nanti."

"Ba-baik..." Chandra mundur dan tidak melakukan apa-apa di belakang.

"Thunder Trap !!"

Fhonia meng-cast sihirnya dan ranjau tersebar kembali.

Tapi Gargoyle itu terbang dan ranjau Fhonia tidak akan diinjaknya.

“Wah curang, dia terbang. Kalau begitu.”

“Trap !! Activate !!”

Fhonia tersenyum sambil memetikkan jarinya.

BAM!! BAM!! BAM!! BAM!! BAM!!

Puluhan ranjau yang Fhonia petakan di lantai, meledak satu persatu dan menyengat Gargoyle itu hingga tersungkur di tanah, lumpuh dan tidak bisa bergerak lagi.

"Wohoo! Yeah!" Fhonia melompat senang.

"Biar kusambung,” Gunin membuka tutup botol di pinggangnya, melepas talinya dan menyiramkannya ke depan dengan hempasan tangan kirinya.

“Aqua Lance !!”

Dengan air dari botol itu, Gunin menyelimuti ujung Guandaonya dengan air, lalu mengangkat tombaknya tinggi-tinggi 

“HYAAA !!”

Dan menikam Gargoyle yang lumpuh karena sengatan listrik Fhonia. Hingga Gargoyle itu berdarah-darah, mati dan enyah menjadi gas hitam.

“Woah, hebat! Hebat! Kerja bagus Gunin.” Fhonia melompat-lompat senang.

“Justru kamu yang luar biasa.”

Alzen melihat air yang digunakan Gunin, dan langsung menggerakkan tangan kirinya untuk mengontrol air itu, kemudian dicipiratkan ke Gargoyle yang satunya.

Di tangan kanannya, Alzen telah diselimuti listrik yang siap menyambar Gargoyle ini, kemudian...

BRUSSSZZZTTT !!

Gargoyle yang satunya dikalahkan dan mati, lalu hilang menjadi gas hitam.

Setelah selesai bertarung, Gunin menggerakkan air yang tersisa di lantai untuk dimasukkan kembali ke botol yang ia kenakan di pinggang.

“Hosh... hosh... maaf teman-teman aku salah injak.“ kata Alzen yang merasa bersalah.

“Tak perlu minta maaf, jebakan adalah hal yang lumrah di dungeon.” balas Luiz yang sudah sempat menggunakan pedangnya. “Ayo bergegas, gerbangnya sudah kelihatan.”

***

Mereka tiba di sebuah gerbang besar yang terbuat dari besi dan memiliki ukiran-ukiran timbul berpola dengan kristal di tengah-tengah gerbang itu. Di sekitar gerbang itu hanya terdapat tembok dan pot tanaman dengan air mengalir di sekelilingnya, gerbangnya terlihat sangat kokoh dan memang tidak bisa dihancurkan.

“Ini yang disebut gerbang boss?” kata Alzen sambil meraba-raba gerbang berwarna perunggu itu. 

“Iya, di kelas sudah dijelaskan kan? Ini tempat menuju lantai berikutnya.” Luiz menjelaskan. “Hati-hati... karena kita belum pernah melawan bossnya, mau tak mau kita harus diteleportasi lalu bertarung sebagai party di dalam sana.” 

“Belum ada yang kesini, kita mungkin salah satu yang pertama sampai.” kata Gunin.

“Boss! Boss! Ayo lawan boss! Wohoo!” Fhonia mengangkat tangan dengan semangat.

“Baiklah aku siap...” Chandra meneguhkan diri.

“Semuanya,” Luiz mengulurkan tangannya ke depan kristal merah di tengah itu. “Kita sentuh kristal ini bersamaan.”

Semuanya melakukan seperti yang Luiz katakan dan secara berbarengan mereka menyentuh kristal merah itu lalu...

SYUUUUPP !!

Badan mereka menghilang, mereka di teleportasi ke tempat lain. Hanya dalam waktu sekejap, sekitar mereka berubah menjadi sebuah arena luas.

Mereka muncul di sebuah gudang harta emas. Tempatnya bulat, terang berwarna emas, di tempat yang seperti galian bawah tanah ini memiliki banyak harta karun berupa peti, koin emas, serta beberapa harta lainnya yang jadi properti dungeon. Tidak bisa dihancurkan atau diambil dari tempat seharusnya.

“Woah tempat apa ini?” Alzen terpukau melihat sekitarnya.

“Bossnya seperti apa ya?” kata Chandra.

“Terus gimana kita keluarnya?” kata Fhonia.

“Kita akan bertarung melawan bossnya disini, jadi berhati-hatilah.” Luiz segera membuka buku database monsternya. 

Tuk! Tuk! Tuk!

Terdengar suara langkah kaki di depan mereka.

“Setiap Monster punya pola berulang dan dapat diprediksi.” kata Gunin yang sudah siap dengan kuda-kuda tombaknya. “Jadi pertama-tama kita analisa dulu geraknya. Kuncinya adalah menghafal, dan sabar untuk mengobservasi kapan harus menyerang, kapan harus menghindar kapan harus menangkis di setiap cela-cela tertentu.”

Tuk! Tuk! Tuk! Tuit!

“Ihh lucu...” kata Fhonia di depan monster Lizard imut berwarna oranye. “Ini bossnya?” 

“Oke aku mengerti.” Luiz memasukkan buku database monsternya ke saku, menarik pedang besar dari belakang punggungnya yang ia namai The Punisher. Lalu...

SRASSHHTT !!

Luiz menebas monster kecil itu sekuat tenaga hingga badannya terbelah dua.

Fhonia kaget sekali dengan aksi Luiz yang tiba-tiba. “LUIZ!? Kamu apakan monster imut itu!?”

Seketika monster kecil itu menjadi marah lalu tubuhnya meledakkan api besar 

BRUSSHHHTT !!

Muncul sosok boss monster yang sebenarnya, yang terlihat dalam bentuk siluet di dalam api tersebut. Sebuah singa api berukuran 3 kali tubuh manusia, besar sekali ukurannya. Dengan kepala singa, bersayap kelelawar dan punggung kobaran api.

“Loh!!? Kamu apakan dia Luiz!”

“Heh! Semuanya ditulis di buku ini. Beruntung sekali kita. Mungkin Vheins ingin mengajarkan kita untuk membaca panduan.” kata Luiz dengan tersenyum menyombong. “Boss lantai pertama adalah Flame Chimera. Monster ini punya dua wujud, dan wujud kedua inilah yang harus kita kalahkan.” tunjuk Luiz pada monster besar di depannya. 

“GRAAAOOO !!”

Flame Chimera mengayunkan cakarnya untuk mengibas mereka semua.

Luiz menebas pedangnya secara vertikal dari bawah ke atas.

“Thunder Shield !!”

Dan muncul sebuah gelombang listrik mengupul secara vertikal membentuk perisai di depan Luiz.

BRSSSSSZZZTT !!

“Hehe... aku pegang peran tanker kan?” kata Luiz sambil sekuat tenaga menahan serangan Flame Chimera. “Kelemahannya air, pertama-tama padamkan api di punggungnya dulu.”

Gunin membuka tutup botolnya lalu...

“Aqua Lance !!”

“Aku tak yakin air yang kumiliki cukup untuk memadamkan kobaran api sebesar itu.” kata Gunin dengan kuda-kudanya.

“Kalau begitu serang buntutnya!” sahut Luiz sambil terus menahan. “Cepat!”

Gunin berlari menyamping menjaga jarak dengan monster besar itu. 

“HMRRR !!” Pandangan Flame Chimera beralih fokus melihat Gunin, lalu menghentikan serangannya pada Luiz dan...

“BRAAAAAA !!”

Flame Chimera menyemburkan api dari mulutnya ke arah Gunin.

“Gawat!?” Gunin dengan segera menggunakan air yang ia miliki untuk membasahi dirinya.

Dan...

BRSSSTTT!!

Semburan api itu membuat air yang Gunin miliki menjadi uap. Karena besar semburan apinya, Gunin kini dalam kondisi terbakar hidup-hidup. Air yang membasahi tubuhnya tak cukup kuat untuk menahan kobaran api sebesar itu.

Flame Chimera kini berbalik arah, berjalan menuju tempat Gunin berada.

“Hei! Sini! Sini singa bodoh!” Luiz mengibas-ibas pedanngya untuk menarik perhatian namun Flame Chimera mengabaikannya.

“HWAA! Panas! Panas!” teriak Gunin dalam kondisi terbakar.

“Thunder Strike !!”

BRZZZZZTT !!

Sebuah sambaran petir melesat ke Flame Chimera. 

“GROAAA !!” Flame Chimera seketika tumbang dengan tubuhnya yang dialiri listrik hingga membentur sebuah benda bulat terbuat dari logam di tanah yang seketika menyemburkan air dalam jumlah besar setelah benda itu hancur tertiban badan besar Flame Chimera.

“Giliranku! Giliranku!”

“Thunder Trap !!”

Fhonia meng-cast sihir andalannya di tempat Flame Chimera itu berbaring dengan kesakitan disetrum listrik, Fhonia memunculkan ranjau-ranjaunya yang otomatis langsung aktif dalam jumlah banyak untuk monster sebesar itu.

BRZZTT! BRZZTT! BRZZTT!

“Wohoo! Yeah!” Fhonia melompat gembira. Flame Chimera itu dibuat Paralyzed oleh sengatan petir tegangan tinggi.

Melihat air mancur itu mengucur deras. Chandra inisiatif menggerakkan air itu untuk di tumpahkan ke tubuh Gunin dan menghilang api yang membakar tubuhnya.

“Hah...hah...” Gunin menghela nafas setelah tubuhnya basah kuyup. “Terima kasih Chandra.”

“Hei kau ini Healer.” kata Luiz membentak. “Tidak perlu melakukan hal yang tak perlu.”

“...!!?” hati Chandra serasa tertusuk, ia ingin membalas tapi dengan segera ia menahan dirinya.

“Hah... hah...” Gunin dengan tubuh basah kuyup bergerak maju menggenggam tombaknya. “Dengan air sebanyak itu, saatnya pembalasan.” 

“Aqua Lance !!”

Gunin kini membuat Guandaonya seperti pedang raksasa. 

“HYAA !!”

Ia menyabet Guandaonya secara vertikal lalu memotong buntut Flame Chimera yang sedang lumpuh itu dalam sekali tebas.

“GRAAAOO !!”

Flame Chimera itu menjerit setelah buntutnya terlepas dari tubuhnya.

“Water Dragon !!”

Gunin membuat air yang terus menyembur dari tanah itu menjadi sebuah naga air yang menjadi jurus andalannya. Naga air itu cukup besar meski tak sebesar yang ia gunakan sewaktu turnamen. Lalu digerakkan untuk menelan Flame Chimera yang tumbang itu dan terus bergerak melewati tubuh naganya yang panjang, hingga api di punggung Flame Chimera padam saat itu juga.

“Woahh Gunin! Kau luar biasa!” Alzen memujinya.

“Alzen, biar kutunjukkan padamu,” balas Gunin dengan tatapan serius. “Kalau Elemen air itu hebat!”

balas Alzen. “Dan akan lebih hebat lagi jika...”

“Thunder Strike !!”

Alzen menyambar naga air Gunin yang terus berputar menelan dan mengelilingi Flame Chimera itu, hingga membuat naga air itu kini dialiri listrik juga dan memberikan serangan yang sangat fatal pada Flame Chimera itu.

“GROAAARR !!”

Jerit Flame Chimera itu kesakitan.

Setelah tiga putaran, Naga air gunin dilepas dan dalam sekejap tidak memiliki bentuk dan jatuh seperti mengguyur tanah.

BRASSHHHTT !!

“Sisanya kuserahkan pada kalian...” kata Gunin dengan tersungkur lelah.

“Huh! Kalian memang orang-orang edan.” Luiz maju mendekati Flame Chimera itu, mengangkat pedang The Punishernya ke atas dengan dialiri listrik uniknya yang berwarna ungu, Lalu...

CRASSSHHTTT !!

Luiz membelah tubuh Flame Chimera hingga terbelah dua dan Monster itu besar itu menghitam lalu perlahan-lahan menjadi wujud gas hitam kemudian menghilang.

***