Episode 15 - Arah Niat Jahat



Malam itu aku berlatih dengan Guru Besar di dunia nyata karena kami akan belajar hal yang berbeda. Pada bab ke-5 kitab Al Ajnas yaitu tentang Penerawangan, yaitu menerawang sesuatu dari jarak jauh lewat media baik itu khodam, foto, dzikir dan masih banyak lagi. Awal mula aku berlatih sekitar satu atau dua jam, karena berlatih terawang itu melelahkan. Aku tak sadarkan diri karena kecapekan, hingga tiba adzan subuh berkumandang. 

Matahari terbit dari timur, pagi itu aku melaksanakan aktifitas seperti biasa yaitu lari pagi, kali ini di temani oleh mbah Kosim. Setelah dirasa cukup aku kembali ke rumah, istirahat sejenak, kemudian mandi lalu berangkat ke sekolah tentunya bersama dengan Wijaya. 30 menit mengendarai sepeda, aku dan Wijaya sampai di sekolah. Aku menuju parkiran untuk menaruh sepeda kami terlebih dulu, kemudian aku mendengar ada yang ribut-ribut, karena penasaran aku bertanya pada salah satu orang yang lewat.

“Mas-mas, ada apa kok ramai gini?” Aku bertanya pada seseorang yang sedang lewat.

“Itu mas ada yang berantem,” jawabnya.

“Dimana berantemnya mas?” tanyaku lagi.

“Sepertinya di ujung lorong sana mas,” jawabnya sambil menoleh ke ujung lorong kelas, dekat dengan ruang seni dan sekaligus dekat dengan kelasku dan kelasnya Wijaya.

Wah, ujung lorong ‘kan dekat dengan kelasku, ada apa ini? ucapku dalam batin. Aku lalu berlari ke arah sana dengan Wijaya yang mengikuti di belakangku. 

“Sialan, pagi-pagi gini sudah lari-larian seperti kabur dari kejaran satpol PP saja,” gumamku menggerutu. Setelah aku sampai di lokasi kejadian, banyak anak-anak yang bergerombol melihat adegan film laga tersebut.

“Kamu sekali lagi jangan dekati cewekku,” kata laki-laki arogan dengan postur tinggi dan agak gendut ini, sepertinya dia kelas 2. Terlihat dari warna badge di sisi kiri lengan seragamnya.

“Cewekmu!? Dia saja belum menjawab perasaanmu, kok bisa ngomong dia cewekmu,” jawab laki-laki putih agak kurus sambil duduk di lantai memegangi rahangnya.

“Coba aja kamu tanya dia,” sambung laki-laki kurus tadi.

“Jadi gimana jawabanmu, apa kau menerimaku?” tanya laki-laki dengan postur tinggi kepada seorang cewek di depan semua orang yang berkerumun.

“Aku gak milih kamu, Yus. Kamu sering berantem terus,” ucap wanita tersebut yang sepertinya aku mengenalinya.

“Jadi jika aku tidak berantem, kamu mau jadi pacarku?” sergahnya lagi.

“Aku belum mau berpacaran dulu, Yus,” jawab cewek tadi yang menjadi rebutan kedua laki-laki ini.

“Oh jadi namanya Yus, seperti gak ada wanita lain saja...?” ucapku lirih sambil mengangguk. Kemudian aku maju ke depan dengan memaksa mencari jalan dari gerombolan anak-anak yang sedang melihat, dan ternyata benar dia adalah Hesti. Hesti berdiri sambil berkaca-kaca. Setelah jawaban Hesti kepada Yus tadi, Yus sepertinya ingin menampar Hesti sontak aku berlari di antara mereka lalu menangkap tangan Yus sebelum menampar pipi mulusnya Hesti.

“Enak aja main tampar, aku aja belum ngrasain rasa pipinya Hesti main tabok saja,” gumamku kesal.

“Kamu siapa berani menghalangiku?” tanya Yus ini yang tangannya aku tahan karena hendak menampar Hesti.

“Ini namaku,“ kataku sambil memberi tahukan namaku di baju SMP kepadanya. Aku lihat namanya di baju smpnya ‘Yusril’. Hh jadi namanya Yusril, mungkin dia kelas 2F.

“Aku gak perlu tahu namamu, kenapa kamu menghalangiku,” ucapnya sambil menarik tangannya.

“Lihat gak Mas, ini kelasku. Aku wakil ketua kelas, sedangkan yang ingin kamu tampar itu ketua kelasku... Apa kamu tahu konsekuensinya menampar ketua kelasku yang cantik ini...?” balasku kepadanya sambil mendekatkan badanku.

“Aku gak ada urusan sama kamu bocah!” serunya kepadaku, kemudian kaki kirinya melayang ke arah pinggangku, sebelum mengenai pinggangku, aku tahan dengan tasku. “Bruukk...” suara benturan tendangan kaki Yusril dengan tasku.

“Kamu kenapa menghalangiku!?” ucapnya lagi.

“Kan sudah aku kasih tau Mas... Kalau kamu menampar ketua kelasku, aku yang akan kerepotan,” ucapku tak mau mengalah karena ini masalah tugas dan harga diri.

“Apa untungnya buatmu membantu cewek jalang ini,” ucap Yusril sambil menunjuk Hesti yang berlindung takut di belakang punggungku.

“Bruukk...” pukulanku melesat ke arah ulu hati Yusril, kemudian dia jatuh sambil kesakitan. Aku jambak rambutnya lalu aku tarik paksa wajahnya menghadapku.

“Kau tahu...? Kalau ketua kelas tidak masuk sekolah, aku yang akan mengurus segala urusan kelas ini... Apa kau tahu rasanya mengurusi kelas dengan banyaknya anak-anak yang mulutnya ember ini...? Capek!” sergahku kepadanya karena memang, mengurusi kegiatan seperti ini sangat-sangat capek sekali.

“Aku paling tidak suka orang menyuruhku seenaknya, karena aku ingin menggunakan waktu luangku untuk tidur,” sambungku lagi.

“Sekali lagi sampean membuat ketua kelasku tidak masuk, aku cari kamu! Kalau kamu gak terima silahkan cari aku di kelas,” ucapku memberi peringatan kepadanya sambil aku melepaskan jambakanku.

Sebelum dia berdiri, aku tendang lagi perutnya. “Bruukk...” Dia jatuh mengenai tanaman di belakang tubuhnya. 

“Itu untuk air mata yang telah jatuh dari seorang wanita!” kataku menutup pembicaraan. Dan sialnya aku lupa, tukang kebun di sekolah ini galaknya minta ampun. Apalagi taman di depan kelasku yang rusak, sudah pasti pengurus kelas yang harus bertanggung jawab. 

“Sungguh sialnya diriku hari ini,” ucapku sambil menutup kedua mataku dengan tangan. Dan tak selang lama guru dan satpam datang untuk membubarkan, aku menarik laki-laki putih ini sama Hesti ke kelasnya Wijaya untuk sembunyi sebentar. “Huft.. kalian gak apa-apa?” tanyaku pada mereka berdua.

“Aku gak apa-apa, Ed. Makasih ya udah nolongin,” balas Hesti kepadaku.

“Makasih sudah nolongin aku ya,” jawab laki-laki berkulit putih ini.

“Oh ya Mas, kenalin saya Edi, nama Masnya siapa?” tanyaku kepada laki-laki berkulit putih ini.

“Nama saya Sopian, Ed,” balas laki-laki putih ini yang bernama Sopian dengan senyum ramahnya. Sepertinya Sopian juga kelas 2.

“Oh, Mas Sopian ini pacarnya Hesti?” tanyaku penasaran pada Sopian, kalau Hesti punya cowok bisa gagal total ini merasakan kemulusan pipinya Hesti.

“Haha... bukan. Saya sepupunya Hesti, Ed,” ucap Sopian. Lega rasanya karena dia bukan cowoknya Hesti. Aku masih belum yakin mana mungkin cewek secantik Hesti jomblo dari lahir. Lanjut ke modus berikutnya.

“Oh, lalu yang Yusril tadi cowok kamu Hes?” tanyaku pada Hesti.

“Bukan Ed, dia kemarin nembak aku tapi aku tolak,” balas Hesti sambil membantu Sopian duduk.

“Oh, kamu gak mau sama dia, karena kamu punya cowok ya Hes? Hem.. itu bagus Hes, kamu tidak mendua,” modusku selanjutnya menyelidiki.

“Aku belum punya cowok Ediii… dari tadi cowok cowok mulu,” balas Hesti sambil mencubit perutku.

“Aduuuh… duh…, lepasin dong sakit ini,” ucapku kepada Hesti untuk melepaskan cubitannya 

“Hehe, maaf,” balas Hesti terkekeh. Rasanya cubitan Hesti luar biasa sakit.

“Ya deh, kumaafkan,” balasku sambil memulai obrolan ringan untuk menunggu jam masuk kelas.

Karena Hesti belum punya cowok, bisa nih melanjutkan ekspedisiku ke padanya, Hahaha... Diriku yang jahat mulai muncul dengan ide liciknya.

Setelah kami mengobrol sebentar di kelas Wijaya, bel tanda masuk berbunyi menandakan dimulainya pelajaran pertama. Aku bergegas masuk ke dalam kelas, lalu duduk di bangku pojok belakang sendirian, ya sendirian. Kemudian ibu guru masuk membawa seorang laki-laki di belakangnya. Yang jelas sih murid baru di kelas ini. Hanya kelasku yang muridnya ganjil yang lain lengkap 36 siswa. “Siapa laki-laki ini?” ucapku heran karena aura dari tubuhnya tidak bersahabat.

“Baik anak-anak, ini ada murid baru kemarin belum sempat mengikuti MOS karena dia baru pindah dari Bogor,” ucap Ibu Rita. 

“Dia di sini ikut ayah dan ibunya yang dipindahtugaskan di sini,” sambung Ibu Rita lagi.

“Ayo perkenalkan namamu,” ucap ibu Rita kepada anak itu.

“Baik, perkenalkan namaku Andik. Saya asli dari Bogor. Saya pindah ke sini karena orang tua saya pindah tugas di sini, mohon bantuannya teman-teman,” ucap Andik memperkenalkan dirinya kepada penghuni kelas.

“Wih, ganteng ya, iya seperti artis Primus Yustisio,” gosip para cewek-cewek di kelas.

“Kamu duduk dipojok sana ya dengan Edi,” ucap ibu Rita kepada Andik sambil melirik ke arahku.

“Baik bu,” balasnya mengangguk.

Lalu Andik berjalan ke arah tempat dudukku, kemudian berjabat tangan denganku. 

“Kamu nanti ikut saya ya, Ndik. Nanti aku ajak kamu berkeliling sekolahan,” ucapku kepada Andik. Pantas saja logatnya beda, karena Andik dari Sunda. Perasaan intimidasi dari khodamnya juga lumayan, sepertinya ini khodam leluhur. Serta Andik banyak menarik perhatian wanita di kelas ini, karena fisiknya bagus. Kulitnya putih bersih dengan mata yang bulat khas orang Sunda.

Satu jam telah berlalu. Pelajaran dimulai dengan matematika, ya salah satu pelajaran yang paling tidak aku sukai. Perasaan pagi ini aku sial banget ya. Pertama, secara tidak langsung aku ikut berantem, kedua ngerusak taman di depan kelas, ketiga kena cubitannya Hesti yang masih membekas hingga sekarang, keempat rasa kantuk mulai menyerang. 

“Ah... mending aku ke toilet saja cuci muka, siapa tahu rasa kantuk yang menyerang ini bisa hilang,” gumamku mengingat kejadian pagi ini. Aku meminta ijin ke bu Rita untuk cuci muka ke belakang. Sekitar lima menit aku berjalan kaki menyusuri lorong kelas, sampailah aku di toilet ujung kelasnya Wijaya. Aku masuk ke pintu depan toilet dan di samutlah oleh seorang wanita. 

“Hihi... mas-mas,” sebuah suara wanita yang memanggil seseorang di sekitar toilet ini. Aku mendongakkan kepala mencari sumber suara tadi, sepertinya suaranya dekat. Dan ternyata tersangkanya adalah...

“Eh, sialan ngagetin aja setan!” ucapku kepada cewek rambut panjang memakai gaun putih dengan noda tanah di hampir seluruh bajunya. Bau anyir darah tercium darinya.

“Hihi.. mas-mas auramu enak, ikut dong. Hihihihi...” ucapnya lagi sambil melayang berpindah tempat.

“Enak saja main ikut! Kamu kira aku pemilik panti. Hust-hust pergi sana aku mau buang air kecil dulu,” seruku kepada cewek ini sambil mengibaskan tanganku menyuruhnya untuk pergi dari hadapanku.

“Hihihi... Engga mau mas tempat saya di sini, hihi...” ucapnya lagi gak mau kalah.

“Eeee, ini cewek gak mau pergi lagi. Awas jangan ngintip, berani mengintip kucongkel matamu,” kataku memberi peringatan kepadanya.

“Hihihi... Engga mas... paling punyamu kecil,” ucapnya meledekku.

“Eh, setan tau juga ya masalah besar kecil,” ucapku sambil buang air kecil.

“Hihihi... Iya mas yang besar enak,” jawabnya lagi. 

Ini setan sengaja atau mau nyindir aku ini, tahu saja mana yang besar enak. Setelah aku selesai menyelesaikan urusanku buang air kecil, aku keluar toilet untuk membasuh muka.

“Kamu jangan ganggu anak sini, ya...,” ucapku kepada setan wanita ini.

“Hihihi... engga mas, aku gak pernah ganggu.”

“Beneran, biasanya setan sejenismu suka berbohong,” ucapku lagi sambil membasuh kedua tanganku.

“Hihi... Engga mas. Saya gak bohong,” balasnya.

“Ya sudah aku mau balik ke kelas, awas kamu ganggu orang lain aku usir kamu dari sini,” ancamku kepada setan wanita ini.

“Hihihi... Engga mas, aku gak ganggu,” balasnya lagi sambil terbang pergi meninggalkan toilet.

“Jangan ketawa mulu, itu mulut gak capek apa,” balasku sewot sambil meninggalkan toilet.

Sejenak aku keluar dari toilet, aku melihat Andik masuk kelas sambil tersenyum kepadaku. “Sehatkah tuh bocah? Senyam senyum sendiri,” gumamku heran. 

Aku melanjutkan berjalan menuju kelasku. Sampai di kelas aku lalu duduk di sebelah Andik. Andik memulai obrolan yang membuat aku agak kaget.

“Ed, kamu bisa melihat mereka ya?” tanya Andik kepadaku yang membuat aku sedikit kaget.

“Hem, melihat apa Ndik,” ucapku balik bertanya.

“Melihat mereka..” sambil Andik menunjuk cewek yang berdiri di depan kelas melihat ibu Rita menerangkan.

Aku melihat ke depan yang ditunjukan oleh Andik. “Wanjir.. Itu kan setan yang di toilet tadi masa ngikutin aku,” gumamku heran kenapa setan itu muncul di kelasku. Hesti yang berada di depannya pas, menutup muka karena takut. Kemudian aku mencoba berkomunikasi secara batin kepada cewek di toilet tadi.

“Heh, kamu ngapain masuk sini?” ucapku kepada setan wanita ini. Kemudian dia menoleh kepadaku. sambil tersenyum. Anjirr… Ini cewek malah senyum.

“Aku diajak mas sama orang yang duduk di sampingmu itu,” balasnya menjawab rasa penasaranku.

“Haaaah,” aku kemudian memandang Andik yang tersenyum. “Sialan ini bocah bener-bener gak sehat ini,” umpatku kesal.

“Kamu sekarang balik, atau aku bakar di sini,” ancamku kepadanya, sambil aku memanggil mbah Kosim.

“Iya mas, aku balik ampun jangan dibakar mas,” ucap wanita tersebut lalu pergi meninggalkan kelasku.

“Kita ngomong nanti di kantin Ndik,” ucapku kepada Andik.

“Oke,” balasnya santai. 

Lalu aku menyuruh mbah Kosim untuk jangan pulang dulu. Tiga jam terlewat, bel pertama menunjukkan bahwa pelajaran telah usai. Aku mengajak Andik ke kantin untuk membicarakan sesuatu, sebelum aku keluar kelas aku dicegat oleh Hesti di pintu kelas.

“Kalian mau kemana?” tanya Hesti kepada kami.

“Mau ke kantin, kenapa Hes?” jawabku kepada Hesti.

“Aku ikut ya, ada yang aku ingin tanyakan,” jawab Hesti kepadaku. Aku dan Andik saling pandang apakah keputusan yang tepat mengajak Hesti ikut dengan pembicaraan kita. Akhirnya kami putuskan Hesti boleh ikut.

“Oke baiklah ayo,” jawabku ke Hesti.

Akan tetapi, sebelum melangkahkan kakiku keluar pintu, kerah bajuku ada yang menarik dari belakang. Aku menengok... siapa sih yang menarik kerah bajuku...? Dan ternyata...