Episode 34 - Tigapuluh Empat


Pagi itu, Darra dan Rin baru saja tiba di kelas. Mereka melihat teman-temannya mengerumuni papan tulis. Rin langsung mengajak Darra untuk ikut melihatnya.

“Apa sih? Ujian kan baru selesai. Masa nilainya udah keluar?” tanya Rin.

Rupanya di papan tulis tertempel nama-nama siswa yang akan mengikuti program Sunday Meeting pelajaran English Conversation selama dua hari satu malam di Cimacan. Biasanya Sunday Meeting diadakan di sekolah setiap hari Minggu, tapi Darra tidak mengikutinya. Jadi dia tidak peduli dan kembali ke kursinya.

“Ra, nama kamu ada di sana!” ujar Rin yang menyusul Darra ke mejanya.

Darra tercengang. Bagaimana bisa namanya ada di sana, sementara dia tidak pernah mengikutinya? Bahkan namanya tertera sebagai ketua kelompok saat Darra kembali ke depan untuk memeriksanya. Mungkinkah ada kesalahan? Darra langsung menanyakannya pada Pak Rudi saat pelajaran English Conversation dimulai.

“Nggak, kok. Itu benar,” jawab Pak Rudi. “Nama kamu memang dimasukkan sebagai ketua supaya bisa membimbing teman-teman kamu yang belum lancar.”

“Tapi... saya nggak bisa bayar biayanya, Pak,” kata Darra.

“Nggak apa-apa. Bebas biaya, kok. Udah termasuk di iuran yang biasa kamu bayar setiap bulan,” balas Pak Rudi.

Darra langsung bersemangat. Bukan hanya karena ia dipercaya sebagai ketua, melainkan juga karena akhirnya ia bisa bepergian bersama teman-teman sekolahnya. Namun, Aline langsung menolak saat Darra meminta ijin padanya.

“Saya nggak mau ngeluarin uang untuk kamu,” kata Aline sambil mengunyah buah melonnya.

“Itu nggak bayar kok, Tante. Cuma tinggal ikut aja,” kata Darra.

“Tetap saja. Emangnya kamu di sana nggak pakai jajan?”

“Nggak kok, Tante. Kan makan, transport, sama akomodasi ditanggung sekolah.”

Aline mengibas-ngibaskan tangannya dengan tidak sabar. “Nggak usah ikut-ikut begituan segala. Apalagi dua hari. Mendingan kamu di rumah, beres-beres. Lumayan dua hari, kamu bisa bersihin satu rumah ini.”

Darra kembali ke dapur tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ia sangat kecewa. Bagaimana dia harus menjelaskannya pada Pak Rudi?

~***~

“Andarra, ikut saya sebentar,” panggil Bu Tike, wali kelas XII Sos 3.

Darra mengikutinya ke ruang guru. Setelah itu Bu Tike memperlihatkan daftar nilai miliknya.

“Saya mengamati nilai-nilai kamu banyak yang mengalami penurunan,” kata Bu Tike. Ia menunjukkan beberapa nilai yang turun dua puluh hingga tiga puluh persen. “Sebenarnya nilai-nilai kamu nggak terlalu buruk. Tapi dibandingkan nilai-nilai kamu selama ini, penurunan ini cukup jauh.”

Darra memandangi daftar nilai di hadapannya. Dia sendiri tidak tahu mengapa nila-nilainya bisa turun. Padahal dia belajar seperti biasa.

“Saya sih nggak mau memaksakan kamu,” lanjut Bu Tike. “Tapi kamu sudah kelas tiga dan sebentar lagi akan menghadapi ujian. Jangan sampai nilai kamu semakin turun dan malah menggagalkan usaha kamu untuk masuk universitas. Kamu mau kuliah, kan?”

Darra hanya memandang Bu Tike. Ia belum memikirkan rencananya untuk melanjutkan kuliah atau tidak. Biaya kuliah cukup besar, dan Darra tidak ingin dipusingkan olehnya. Bukan berarti papanya tidak bisa membiayai Darra untuk kuliah. Hanya saja dengan keadaannya bersama Aline seperti sekarang ini, Darra tidak ingin kuliahnya berhenti di tengah jalan hanya karena suasana hati Aline yang tidak bagus.

Setelah Bu Tike selesai menceramahinya, Darra berpamitan kembali ke kelas. Ia duduk di mejanya dan tanpa sadar menoleh ke arah meja Dika. Ah, mungkin ini yang membuat nilai-nilainya menurun. Darra jadi sering tidak fokus di kelas karena ia sering melihat ke arah cowok itu. Darra menghela napas. Ternyata bisa sekelas dengan Dika juga bukanlah hal yang menyenangkan.

“Nggak usah terlalu dipusingin,” hibur Rin. “Yang penting kan nilai kamu nggak turun drastis sampai mesti remedial. Aku sih bukannya mau pengaruhin kamu supaya nggak belajar. Tapi aku cuma nggak mau kamu terlalu stres karena mikirin nilai.”

Darra hanya mengangguk-ngangguk. Setelah itu ia pergi ke perpustakaan saat jam istirahat kedua. Ia ingin mendinginkan kepala karena ia belum bisa menemui Pak Rudi. Padahal acara Sunday Meeting tinggal dua hari lagi.

“An,”

Darra mendongak. Dika menghampirinya lalu duduk di hadapannya. Padahal sudah lama Dika tidak menemaninya di perpustakaan saat jam istirahat. Namun, entah mengapa perasaan Darra tidak seceria biasanya. Mungkin karena diam-diam Darra menyalahkan Dika atas nilai-nilainya yang turun.

“Ujian kan udah selesai. Kenapa masih belajar?” tanya Dika.

“Belajar kan nggak harus pas mau ujian aja,” balas Darra.

“Iya, aku tahu. Maksud aku, sekali-sekali kamu mesti santai juga. Sebentar lagi kan liburan semester. Masa mau belajar terus?”

Darra tidak menjawab. Dalam hati ia sadar bahwa nilainya menurun bukan karena salah Dika. Tapi salahnya sendiri yang terus melihat ke arah cowok itu. Sepertinya Darra harus mengakhiri hubungan mereka agar ia tidak lagi terganggu selama pelajaran di kelas.

“Dika, aku...”

“Nanti pulang bareng, yuk. Aku mau ajak kamu jalan-jalan,” sela Dika.

Darra memandang Dika. Mungkin dia bisa menyampaikannya nanti saat mereka pulang bersama. Darra mengangguk.

~***~

Begitu bel tanda pulang berbunyi, Darra merapikan buku-bukunya lalu memasukkannya ke dalam tas. Entah mengapa perasaannya lebih gugup dari biasanya. Tiba-tiba ia jadi ragu untuk mengakhiri hubungannya dengan Dika. Kenapa ia harus mengakhirinya? Padahal hubungan mereka baik-baik saja. Mereka juga tidak pernah bertengkar. Darra melirik Rin. Ia juga tidak bisa mendiskusikan masalah ini padanya.

Setelah kelasnya berangsur-angsur sepi, Darra dan Rin bangkit lalu keluar dari kelas. Darra melirik ke arah Dika yang kemudian menyusulnya bersama Emil.

“Kamu pulang sama Emil?” tanya Darra pada Rin.

“Iya,” jawab Rin. “Kamu pulang sendiri, nggak apa-apa, kan?”

“Dika ngajak aku pulang bareng,” bisik Darra. Rin mengangkat alisnya.

“Kok tumben? Ada angin apa dia ngajak kamu pulang bareng?” tanya Rin balas berbisik.

Darra mengangkat bahu. “Mau jalan-jalan katanya.”

Mereka bertemu Maya dan Rahmi yang sudah menunggu di depan kelas XII IPA. Setelah mengumpulkan buku jurnal kelas di meja piket, mereka berjalan melintasi lapangan. Agung dan yang lainnya sudah duduk di dekat gerbang.

“Andarra!”

Darra menoleh ke arah parkiran motor. Abrar sedang melambaikan tangan lalu mengeluarkan motornya. Rin, Rahmi, dan Maya memilih pergi ke gerbang duluan agar tidak mengganggu Darra dan Abrar. Darra melirik ke arah Dika yang diam-diam berjalan sambil mengawasinya.

“Ada apa?” tanya Darra setelah Abrar berada di depannya.

“Ayo pulang,” kata Abrar sambil duduk di atas motornya. Darra tercengang.

“Nggak usah. Aku pulang sendiri aja,” tolak Darra.

“Mama nyuruh aku pulang sama kamu,” kata Abrar lagi.

Darra memandang Abrar tidak percaya. Untuk apa Aline menyuruh Abrar pulang bersamanya? Padahal Aline tidak mengijinkan Darra dekat-dekat dengan putra kesayangannya itu.

“Cepat naik,” kata Abrar, mengagetkan Darra.

“Emang nggak apa-apa kalau teman-teman kamu lihat?” tanya Darra.

“Biarin aja.”

Mau tidak mau Darra naik ke atas motor Abrar. Teman-temannya menatap ke arah mereka saat Darra dan Abrar melewati mereka.

“Gue duluan, ya. Ada urusan,” kata Abrar pada teman-temannya, disusul oleh ledekan di sana-sini. Darra melambaikan tangan ke arah Rin, Rahmi, dan Maya, sementara ia menunduk, tidak berani melihat ke arah Dika.

Motor Abrar melaju meninggalkan sekolah. Abrar sengaja memilih melalui jalan-jalan kecil karena ia tidak membawa helm untuk Darra. Sepanjang jalan Darra sibuk mengira-ngira, kenapa Aline menyuruh Abrar pulang bersamanya? Apa Darra telah melakukan kesalahan? Seingatnya, dia tidak melakukan apa-apa hari ini yang membuat Aline kesal. Darra jadi merasa cemas karenanya.

Setelah mereka tiba di rumah, Abrar menghentikan motornya di depan gerbang. Darra bertambah cemas saat melihat mobil yang biasa dipakai Pak Dimas terparkir di halaman rumah. Apa terjadi sesuatu?

“Kamu nggak ikut masuk?” tanya Darra begitu melihat Abrar memutar balik motornya.

“Nggak. Kamu masuk aja duluan. Ntar aku nyusul,” jawab Abrar. Darra tercengang melihat Abrar melajukan motornya pergi. Sekarang dia harus bagaimana?

Darra pergi memutar dan masuk lewat pintu samping. Ia hampir bertabrakan dengan Bi Atun saat membuka pintu dapur.

“Kok Mbak Darra lewat dapur, sih?” bisik Bi Atun.

“Saya kan emang setiap hari lewat sini, Bi,” jawab Darra, balas berbisik. “Kok Bi Atun tumben di rumah?”

“Ada Bapak di depan. Dari tadi nunggu Mbak Darra sama Mas Abrar pulang.”

Darra melongo. Bapak? “Bapaknya siapa, Bi?”

“Ya papanya Mbak Darra. Lho, Mas Abrar kemana?”

“Tadi habis nganter saya terus dia pergi lagi.”

“Ya udah. Mbak temuin Bapak dulu.”

Darra melangkah ke arah ruang tamu dengan dada berdebar-debar. Ia merasa gugup setelah mengetahui papanya ada di rumah yang sama dengannya. Dilihatnya Aline sedang berada di ruang tamu sambil mengobrol dengan seorang pria. Aline langsung menoleh begitu melihat Darra.

“Ini dia baru pulang,” ujar Aline sambil melempar senyum yang paling manis yang pernah Darra lihat.

Seorang pria yang duduk di sofa langsung berbalik ke arah Darra. Tubuhnya tegap dengan kumis yang tipis. Ia terlihat menyeramkan bagi Darra. Namun, begitu pria itu tersenyum, wajahnya langsung berubah menjadi hangat.

“Kamu udah pulang?” sapa pria yang adalah papanya.

Darra mengangguk sambil menyalaminya. Ia merasa canggung saat Papa memberikan pelukan ringan.

“Mas-mu kemana?” tanya Papa.

“Tadi sih aku pulang sama Mas Abrar. Tapi terus dia pergi lagi,” jawab Darra gugup.

“Ah, anak itu. Sudah kelas tiga masih main terus,” gerutu Papa.

“Ra, kamu ganti baju dulu, sana. Papa mau makan siang bareng kamu,” kata Aline.

Darra langsung berbalik dan buru-buru menaiki tangga. Setelah berganti pakaian, ia kembali turun dan melihat papanya sudah berada di meja makan bersama Aline. Darra menghampiri mereka dengan canggung. Bagaimanapun, ia belum pernah makan di meja ini selama ini.

“Gimana sekolah kamu? Papa dengar kamu sering dapat nilai tertinggi di sekolah?” tanya Papa sementara Aline menyendokkan nasi untuknya.

“Aku baru dipanggil sama wali kelas karena nilai-nilaiku turun,” jawab Darra pelan.

“Ya, nggak apa-apa. Selama nilai kamu nggak dibawah rata-rata,” kata Papa. “Maaf ya, Papa nggak bisa ajak kamu makan di luar. Soalnya Papa sibuk, habis ini sudah harus pergi lagi.”

Darra hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia belum pernah bertemu papanya sebelumnya. Dulu saat Darra masih tinggal di panti, Bu Retno tidak memberi ijin bagi Papa untuk menemui Darra. Hanya terkadang Papa menitipkan hadiah untuknya. Namun, setelah akhirnya bertemu dengannya hari ini, Darra sudah cukup merasa senang.

“Terus, liburan ini kamu ada rencana kemana?” tanya Papa.

“Nggak ada. Di rumah aja,” jawab Darra sambil melirik Aline yang sedang mengawasinya. “Lagian aku kan udah mau ujian kelulusan. Jadi mesti banyak belajar.”

“Iya, Darra juga nggak pernah kemana-mana. Dia di kamarnya terus sambil belajar,” sahut Aline.

“Sekali-kali kamu main keluar juga nggak apa-apa. Biar nggak bosan di rumah terus,” kata Papa. Kemudian Darra teringat sesuatu.

“Dua hari lagi ada acara Sunday Meeting dari sekolah. Acaranya menginap di Cimacan selama dua hari satu malam. Aku dipilih sebagai ketua kelompok.” Darra mengabaikan Aline yang sudah memberikan tatapan mengancam ke arahnya. “Aku boleh ikut pergi nggak, Pa?”

“Jadi ketua kelompok? Wah, tentu aja boleh. Kenapa nggak? Itu kan acara dari sekolah. Mas-mu juga pasti ikut, kan?”

Darra menghela napas lega setelah mendengar jawaban papanya. Setelah ini mau tidak mau Aline pasti mengijinkannya pergi. Ia tidak peduli jika nantinya harus menerima omelan panjang darinya.

Setelah makan, Darra membantu Bi Atun merapikan meja makan. Tiba-tiba papanya memanggil Darra ke samping rumah sementara Aline sedang bersiap di kamar.

“Ini hadiah untuk kamu,” bisik Papa sambil memberikan beberapa buah paper bag yang dibawakan oleh Pak Dimas. “Papa nggak tahu selera anak jaman sekarang, tapi semoga kamu suka.”

Darra membuka paper bag itu satu persatu dan melihat sebuah jaket berwarna biru cerah, satu stel piama, dan sepasang sepatu.

“Di situ juga papa masukin uang jajan untuk kamu,” kata Papa lagi. “Cepat kamu simpan di kamar kamu.”

Darra tersenyum. “Makasih, Pa,” katanya sambil memberikan pelukan pada papanya.