Episode 27 - Jatuh, Tiga Kali!



Kalau pengembara memang mengandaikan diri sebebas burung layang-layang, lalu kenapa mereka tak bisa terbang?!

—Pisun, Si Walet dari Timur


Sidya kabur dari tempat persembunyiannya seperti sedang kesetanan, bahkan tak mempedulikan beberapa prajurit yang ditabraknya meski mereka mencela dengan umpatan yang menghina ibunya. Sidya hanya mendengar sepatah dua-patah kata, tapi dia sudah mengerti apa yang mereka maksudkan. Sidya lebih memilih untuk segera menuju tempat gurunya beristirahat tanpa berhenti satu kali pun untuk membalas ujaran-ujaran pedas mereka semua.

Sidya sampai di kumpulan pepohonan tempat Hikram beristirahat. Lahan umbi-umbian tertata rapi di pinggiran , tapi mengingat sedang ada legiun berada dekat sekali Sidya jadi tak heran saat tak ada seorang pun yang menjaganya, barangkali memang pemiliknya memilih untuk meninggalkan tanam-tanamannya demi mencari keselamatan. Sidya tak melihat gurunya untuk sementara waktu, akan tetapi dia kemudian ingat akan kebiasaan guru.

Hikram senang tidur di batang pohon yang tinggi, kadang menggelantung dengan kaki mengait, kadang dengan posisi miring yang berbahaya, dia bisa saja jatuh kalau tidak awas, terutama saat dalam posisi tidurnya yang seperti kelelawar.

Sidya tak pernah mengerti apa maunya Hikram tidur dengan sikap tak biasa itu. Yang dikeluhkannya adalah dia harus berada di bawah selama gurunya terlelap di atas pohon. Si bocah kecil terlalu takut untuk memanjat, celakanya lagi guru belum berkenan mengajarinya cara meringankan tubuh, yang Sidya anggap mungkin saja bisa secara ajaib juga menyembuhkan rasa takutnya akan ketinggian.

Sidya segera menengok ke atas. Benar saja, Hikram sekarang sedang berada di salah satu dahan pohon yang rimbun daunnya, dengkurnya yang teratur terdengar jika telinga dipasang baik-baik.

Ia ingin menyusul gurunya, tak peduli bahwa ia tak punya keahlian memanjat. Saat ini dia takut, sangat cemas kalau-kalau Hung menemukannya secara kebetulan. Bukan hal yang mustahil kalau ketela serta tetumbuhan itu akan dipanen sewaktu-waktu oleh legiun. Dengan anggota sebanyak itu, mereka akan butuh banyak bahan makanan.

Kalau dia tertangkap, dia akan dikurung, diperangkap, dimasukkan kurungan bernama Istana Giok sekali lagi dan tak ada kemungkinan kabur untuk kedua kalinya. Belum lagi kemungkinan bahwa guru kelak akan dituduh telah menculiknya. Betapapun Sidya akan membantah tudingan itu, ayahnya bukanlah seseorang yang mudah menerima saran.

Murid baru dari Dewa Arak Kolong Langit itu menguatkan tekad. Dia mencoba berpegangan pada salah satu sisi kulit pohon yang cukup besar. Sidya tak mengenali jenis kayunya, tapi kulit pohon yang mudah terkelupas seperti ini tak akan memudahkannya untuk memanjat. Tetapi, karena pohon ini agak menjorok, dia tetap nekat. Tangan kiri Sidya menyusul tangan kanannya, kakinya beranjak naik mengikuti badan. Dengan hati-hati Sidya meraih badan pohon, hampir memeluk, kemudian merambat naik seperti seekor tupai kecil yang baru dilepas induknya. Pelan tapi pasti, Sidya terus naik, mencapai cabang terendah lalu melanjutkan dari satu cabang ke cabang yang lain.

Sidya menatap ke atas lagi. Gurunya terasa sangat jauh, padahal dia merasa sudah mencapai setengah ketinggian. Sidya sedari tadi sudah menahan diri untuk tidak mengintip ke bawah. Peraturan dasar dari orang yang baru belajar memanjat adalah jangan sekali-sekali tengok ke bawah karena jaraknya dengan permukaan akan kelihatan sangat jauh, tapi kali ini dia tak mampu menahan diri lagi.

Berlawanan dengan keinginan diri, ia mencuri pandang, lalu melihat sendiri bahwa tanah terlihat sangat jauh darinya sekarang. Sidya menelan ludah sebelum memaksakan diri untuk menatap ke atas lagi.

Melihat ke bawah merupakan sebuah kesalahan besar, kakinya yang berpijak terasa ngilu, belum lagi tangan kanannya yang cedera kini makin gemetar. Bahkan, pandangannya sejenak menggelap. Ia menggelengkan kepala, lalu melepaskan salah satu pegangan untuk meraih dahan yang agak jauh. Sedikit lagi, sedikit lagi … yap, dapat!

Tangan kirinya yang berkeringat mampu mencengkeram dengan cukup erat, maka dia mencoba mengangkat tubuh. Tak jauh lagi sekarang. Sejenak ia menghela napas lega, tapi di saat itu jugalah pegangan tangan kanan Sidya terlepas, dia tidak cukup kuat mendukung seluruh tubuhnya hanya dengan satu tangan. Dengan ngeri Sidya menggapai-gapaikan tangan kanannya, tepat saat pegangannya berada pada saat paling longgar, tumpuan kakinya langsung goyah karena panik. Tak ayal lagi, dia terjun tanpa pengamanan, jidatnya terbentur salah satu cabang yang melintang, tangannya yang panik tak cukup cepat untuk meraih, beberapa saat lagi tubuh akan bertemu tanah dan dia memejamkan mata seolah dengan begitu dia bisa meringankan rasa sakit yang akan diderita ….

Dia merasa tubuhnya disambar. Terpikir oleh Sidya bahwa guru membantunya, tapi pikiran bodoh seperti itu membuatnya ingin memaki diri sendiri dengan kata-kata yang didapatnya dari Seto dan Daeng. Tak mungkin orang tua yang sibuk tidur di puncak pohon itu menolongnya sementara dengkurnya masih keras terdengar dari atas sana!

Dia merasakan seseorang yang membopongnya menapak tanah dengan ringan, nyaris tanpa suara. Sidya memberanikan diri membuka mata. Sekilas terlihat olehnya pakaian bergaya dengan balutan kulit di berbagai sisi, tapi Sidya tak bisa mengamati lebih jauh lagi karena tepat pada saat itu, dia langsung dijatuhkan.

“Aduh!”

“Tuh. Kalau kamu mau tahu rasanya jatuh, ‘gak perlu manjat-manjat segala.”

Sidya mendongak dari tempatnya dilempar begitu saja. Dia mengawasi pemuda yang menjatuhkannya, pakaiannya yang mentereng, celana kulit ketat, sampai sepatu kayu yang baru digosok, dan langsung mengenalinya sebagai pemuda bergelar Si Walet Dari Timur. Saat ini si anak muda berpakaian gaya sedang menyeringai dengan kedua tangan berada di pinggang, lagaknya seperti orang yang baru saja menyelamatkan seseorang dari bencana besar.

“Sakit, tahu?!”

“Wah, maaf. Tapi kamu salah ngomong. Harusnya “terima kasih”, ‘gitu. Kalau belum tahu, aku sudah menyelamatkanmu. Bakal jauh lebih sakit lagi kalau kamu menggelinding dari tempat setinggi itu. Tulangmu bisa patah kalau saja aku tak kebetulan lewat.”

Sidya berdiri, sejenak meringis begitu merasakan kepegalan yang masih menjalari kaki dan tangannya sembari membersihkan pakaian dari noda kotor yang disebabkan jatuhnya.

“Ada alasan tertentu untuk memanjat-manjat? ‘Gak mungkin karena ingin sakit, ‘kan? Anak kecil bermain sendiri memang bahaya, di dekat kemah prajurit lagi.”

“Guruku ada di sana!” Sidya menunjuk ke salah satu cabang pohon yang cukup tinggi, tempat Hikram masih terlelap seolah tak peduli dengan urusan dunia.

Pisun mendongak, matanya memicing mengawasi sosok pendekar tua yang tidur miring itu. “Wah, ketemu lagi sama bapak-bapak tukang minum. Kamu apanya? Anaknya?”

“Bukannya aku sudah bilang kalau guruku ada di atas sana?” Sidya bertanya balik.

Pisun mengamatinya sebentar, seperti seorang maling yang baru saja menemukan sekarung beras tanpa penjagaan. Terpikir oleh Sidya bahwa pemuda ini cemas akan luka-lukanya, tapi Sidya segera mengusir pikiran itu dengan rasa jengkel. Tak mungkin Pisun yang terkesan seenaknya sendiri peduli dengan orang yang hampir tak dikenalnya sampai sejauh itu. Apalagi mengingat bahwa kemarin hari setelah pertarungan sengit dengan belasan bandit pun ia langsung pergi tanpa bertanya apakah ada yang cedera atau tidak.

“Sudah diajari apa saja sih? Coba kasih tahu aku. kalau menurutku, dia cukup hebat. ‘Gak dibantu mungkin masih bisa menang kemarin. Apa muridnya juga sama hebatnya?”

Sidya bergerak tak nyaman. Agak malu, sebenarnya. Terutama karena dia merasa belum diajari hal yang bisa dianggap hebat. Namun, karena pemuda ini sepertinya akan menganggapnya tak berkemampuan jika dia jujur, maka Sidya cepat-cepat mengarang bebas, ”Tinju Mabuk adalah jurus warisan guruku! Gelar beliau adalah Dewa Arak Kolong Langit, akan memalukan andai muridnya tak dibekali dengan jurus yang sama besar dengan namanya, Empat puluh delapan gerak semuanya, dibagi dalam beberapa tataran yang makin tinggi semakin berbahaya!”

“Menarik sekali, coba kita uji!” Di tengah-tengah ucapannya itu, Pisun langsung melayangkan tinjunya!

“Eh, apa-apaan …!” Sidya tanpa berpikir langsung menampik dengan tangannya yang sehat, gerakannya tepat sasaran. Keberuntungan saja sebenarnya, terutama karena dia sudah melatih jurus Menepuk Lalat Dengan Bergaya berulang-ulang sampai capek, setiap hari sepanjang minggu. Sejenak kemudian tinju Pisun yang lain menyusul, dan Sidya lagi-lagi menangkis dengan gerakan yang sama persis. Sebuah kekeliruan, karena tinju itu hanya gerak tipu. Betis Pisun bergerak, dan tanpa ampun menyelempang kaki Sidya. Dia sama sekali tak menduga, sehingga jatuhnya kali ini bahkan lebih keras lagi daripada sebelumnya, kepalanya diserang denyar pening ketika beradu dengan tanah. Ditambah, kakinya yang kena serang berdenyut luar biasa sakitnya. Kalau diandaikan, betis Pisun sama kerasnya dengan sebuah batang pohon jati yang tebal.

“Empat puluh delapan gerak? Omong kosong yang cukup lucu, Bocah Cantik. Kamu bahkan belum mampu menangkap maksud gerak keduaku. Memalukan sekali! Inikah murid dari Dewa Arak?”

Sidya kembali berdiri, tangannya lagi-lagi membersihkan baju, sementara si pemuda lagi-lagi mengamatinya, garis tawa mendadak muncul di wajahnya. “Hayo, bohong, ya?”

Sidya menghela napas lelah. “Ya, baiklah, aku mengaku. Guru hanya membangkitkan hawa murniku, melatih kuda-kuda, serta mengajari jurus lima gerakan dengan nama konyol yang tak akan kuberitahukan.”

Pisun meraih kantung minumnya yang menggantung di sabuk, kemudian bertanya sambil lalu, “Sudah belajar berapa tahun? Satu? Dua?”

Sidya mencoba mengingat-ingat. “Tidak selama itu, kok. Mungkin baru dua minggu.”

Si Walet Dari Timur langsung tersedak. Dia terbatuk sembari menepuk-nepuk dadanya, lantas bertanya untuk memastikan, “Yang benar?! Dua minggu, hawa murni. ‘Gak mungkin!”

“Apa sih yang tidak mungkin di dunia ini?” Sidya bertanya menirukan ucapan para orang-orang tua, kedua tangannya bersedekap. Sudah cukup dia dikalahkan dalam adu jurus, tak perlu lagi ia kalah dalam adu omongan.

“Banyak hal yang tidak mungkin di dunia ini, tahu. Anak kecil jangan sok tahu. Contohnya aku bisa terbang karena aku ini keturunan burung, nah itu tidak mungkin. Atau … atau … Ya, atau kamu ternyata anak dari Sang Kaisar itu tidak mungkin.”

Jika saja Sidya yang minum kali ini, tentu dia akan tersedak pula, tak lain karena sebenarnya dia memang anak kandung dari Sang Kaisar sendiri.

“Tapi guru memang telah membangkitkan hawa murniku, Kakak Walet,” Sidya berkata setelah mengobati rasa kagetnya.

Pisun, yang sepertinya tidak menangkap kekagetan Sidya kali ini cengengesan. “Alah, paling bohong lagi. Coba tunjukkan padaku. Kalau hawa murnimu memang sudah bangkit, kamu bisa salurkan—”

Sidya memukulkan tinjunya saat Si Walet sibuk bicara, kali ini tepat pada batang pohon yang telah mati. Ditimpa oleh tinju ciliknya, tentu orang mengira tak akan terjadi apa-apa. Walaupun pohon mati memang biasanya telah keropos dimakan rayap, tapi tenaganya tak akan cukup bahkan hanya untuk menggetar pohon. Paling buku-buku jarinya malah akan lecet karena dia terlalu memaksakan diri. Tapi, bunyi keras terdengar bersamaan dengan tinjunya yang melesak dalam ke batang pohon itu sampai sebatas siku!

“Demi dada Singa Kensa yang berbulu,” Si Walet dari Timur terkesima.

Selagi Pisun mencerna apa yang telah terjadi, matanya terpaku pada tinju Sidya yang melesak tanpa bisa dilepas. Sidya meringis kesakitan, berusaha menarik tangannya, tapi usahanya nihil. Tangannya masih menyangkut di sana, ditambah rasa sakit yang luar biasa, seperti tangannya sedang dihimpit dengan benda yang amat berat dari berbagai sisi.

“Tapi … hawa … tak mungkin ….”

“Bantu aku, Kakak Walet!”

Pisun masih terbengong-bengong. Dia menampar-nampar pipinya sendiri, tersadar, kemudian segera membantu Sidya. Dia mencari-cari diantara tempelan kulit sapi di bajunya yang dipergunakan sebagai saku, kemudian cepat-cepat mengeluarkan sebilah pisau. Dengan hati-hati Pisun mencukil sisi batang pohon, yang sekiranya dapat memudahkan tangan Sidya terbebas.

Pada akhirnya, setelah tarikan entah yang keberapa, dibantu dengan pisau Si Walet dari Timur, Sidya berhasil melepaskan keseluruhan lengan dan tangannya yang melesak dalam.

Tangan Sidya keluar tidak tanpa cacat. Banyak sekali sobekan di jari, serta bagian lengannya lecet-lecet akibat gesekan dengan badan pohon.

“Gila!”

“Percaya?” Sidya bertanya singkat, wajahnya masih mengernyit menahan beragam rasa sakit. Kemarin cuma sebelah tangannya yang luka. Kini malah keduanya, semua hanya untuk mendatangkan kepercayaan Pisun saja. Sidya jadi menyesal dia sudah buang-buang tenaga serta kesehatan dirinya hanya untuk mendapatkan pengakuan.

“Ya, percaya. Sialan, aku tahun-tahunan melatih tinjuku dan kau yang baru belajar dua minggu berhasil menggempur batang pohon sampai bolong. Ajari aku!”

“Aku bisa memberitahu kakak bagaimana cara mengalirkan hawa murni dengan cukup baik, asal kakak mau mengajariku sesuatu juga.”

“Apa menyelamatkanmu dari tulang punggung yang patah saat ketemu tanah itu masih kurang juga?”

“Masih kurang. Aku minta diajari ilmu peringan tubuh kakak yang jempolan!”

Si Walet tertawa terbahak-bahak.

“Cari untung nih!”

“Mau apa tidak?”

Pisun berpikir-pikir sebentar, tapi akhirnya dia setuju juga sembari mengacungkan jempolnya. “Baiklah, tapi perlu kau ketahui bahwa Ilmu Walet Penjelajah Awan bukan ilmu yang mudah dipelajari. He, namamu siapa, Bocah Cantik?”

“Aku Sidya.”

Si Walet dari Timur mengikik. “orang tuamu terlalu tunduk pada kaisar hingga menamakan anak laki-lakinya dengan nama Sidya, hahaha! Aku Pisun, tapi tak keberatan kalau dinamai Kakak Walet. Aku malah senang. Hei, bagaimana kalau kau kupanggil Adik Plontos?”

Sidya meringis, sebagian karena rasa sakit yang masih menyemut, sebagian lagi karena nama pemberian yang cocok dengan keadaan kepalanya sekarang, yang memang sedang tak ada rambutnya.

“Boleh. Jadi, Kakak Walet, kapan kita berlatih?”

--