Episode 64 - Korban Pertama


Malam itu hujan badai disertai petir melanda Kutaraja Rajamandala, air bagaikan dicurahkan tanpa batas dari atas langit, kilat saling berkilatan menerangi sesaat langit malam yang hitam kelam disusul suara ledakan petir yang dahsyat, angin badai bertiup amat kencang hingga membuat banyak pohon tumbang!

Dalam sebuah rumah Di bagian belakang Keraton Mega Mendung dekat dengan istal kuda, Mang Juju baru saja selesai makan malam bersama istri dan anaknya. “Astagfirullah!” seru putrinya yang masih remaja ketika petir menggelegar keras sekali sampai seolah menggetarkan dinding dan jendela serta pintu rumah mereka.

“Gusti... Hujan malam ini lebat sekali, sampai diiringi badai dan petir seperti ini! Sudah lama tidak ada hujan badai yang seperti ini.” desah Nyi Juju istri Mang Juju.

“Benar Nyai... Wah tanaman para petani bisa rusak oleh hujan seperti ini, tapi untunglah, meskipun itu terjadi kita masih bisa merasa tenang karena Gusti Prabu kita yang sekarang sangat baik, tidak seperti mendiang Prabu Kertapati dulu, meskipun tanaman para petani rusak oleh cuaca buruk, beliau tetap meminta pajak seperti biasanya hingga mencekik para petani, apalagi dengan adanya Pangeran Dharmadipa yang seperti menjilat Sang Prabu, wah makin menderitalah hidup para petani kita!” tanggap Mang Juju.

“Iya Kang, semenjak Prabu Kertapati tewas ditangan putra sulungnya sendiri, negeri ini semakin tenang, apalagi Prabu yang baru sudah menurunkan pajak yang harus dibayar dan tidak memaksa para pemuda untuk menjadi prajurit.” sahut Nyi Juju.

“Dulu waktu mendiang Prabu Wangsareja menjadi penguasa negeri ini, keadaannya seperti ini, aman, makmur, dan tenang. Negeri ini seperti danau yang tenang, tidak ada riak, tidak ada gelombangnya, yang ada hanya kedamaian dan ketenangan.” balas Mang Juju.

“Benar, aku masih terkenang suasa dulu yang tenang dan menyenangkan Kakang, aku ingin mengalami lagi jaman seperti itu…” angguk istrinya

Mang Juju menghela nafas berat mendengar ucapan istrinya tersebut, “Tidak bisa Nyai, setiap jaman itu membawa watak sendiri-sendiri, ada yang berwatak air, ada yang berwatak angin, ada yang berwatak bumi, juga ada yang berwatak api, dulu itu keadaannya tentram, karena selain negeri ini dalam keadaan tentram, Pajajaran yang menguasai negeri ini juga dalam keadaan tentram dalam masa pemerintahan mendiang Sri Baduga Maharaja, waktu itu belum ada kesultanan Banten, yang sekarang dicemaskan akan menjajah negeri kita sehingga usaha kita untuk merdeka dari Pajajaran akan sia-sia. 

Kemajuan orang-orang Banten yang bekerja keras membangun negerinya membuat para pembesar negeri kita menjadi cemas, yang berlanjut menjadi ketakutan, apalagi Prabu Arya Bogaseta dulu pernah berkhianat dan membelot ke Banten, akibatnya meskipun menurut kita yang orang kecil saat ini keadaan negeri kita lebih tentram dibanding saat jaman Prabu Kertapati, tapi keadaan politik negeri tidak stabil, selalu diterpa isu penjajahan Banten hingga negeri ini terus menjadi goyah dan penuh gonjang-ganjing! Keadaan inilah yang dipengaruhi sifat api yang menguasai zaman ini…”

Istrinya mendesah memikirkan kondisi Gusti Prabunya, “Kasihan Gusti Prabu, padahal ia sangat baik pada kita…” 

Mang Juju pun ikut mendesah, “Benar, saya memutuskan untuk membantu beliau menjadi mata-matanya meski dulu saya adalah pekatik kuda Pangeran Dharmadipa karena ingin negeri ini menjadi negeri yang aman dan tentram, saya sungguh tidak bisa membayangkan kalau orang seperti Dharmadipa yang akan menjadi raja di Mega Mendung kelak! Tapi sayangnya Gusti Prabu Bogaseta pun belum bisa memberikan rasa aman pada rakyat Mega Mendung, gonjang-ganjing politik terus terjadi soal sahnya beliau bertahta, apalagi karena beliau menggeser putra sulung Prabu Kertapati dan tidak memiliki keris Kyai Segara Geni yang menjadi perlambang sahnya seseorang menjadi pemimpin Mega Mendung... Dan beliau juga masih belum dapat menyelesaikan satu persoalan penting lainnya yang akan sangat menentukan aman tidaknya negeri ini kedepannya!”

“Maksud Bapa, jadi keadaan negeri ini belum sepenuhnya aman?” tanya putri Mang Juju.

Mang Juju mengangguk, “Betul Teh, karena sampai saat ini, keadaan Mega Sari bersama kedua abdinya yang setia Ki Silah dan Emak Inah masih buron, ditambah belum adanya kepastian siapa yang kelak akan menguasai negeri ini, apakah Gusti Prabu Arya Bogaseta akan terus menjadi raja dan akan diteruskan oleh keturunannya, atau diganti dengan Putra Sulung Prabu Kertapati yang didukung oleh para pejabat senior seperti Ki Patih Balangnipa yang bernama Jaya Laksana itu.”

Mang Juju lalu menatap ke atas langit-langit rumahnya, pandangan matanya menerawang jauh. “Aku kenal watak Putri Mega Sari, ia seorang wanita pendendam, ia adalah wanita yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan! Kematian suaminya, pasti tidak akan dia diamkan begitu saja!”

Nyai Juju dan putrinya itu saling berpandangan, “Yah mudah-mudahan mereka akan segera tertangkap dan mendapatkan hukuman yang berat karena dulu putri Mega Sari membuat rakyat banyak sangat menderita! Wajahnya saja yang ayu dan cantik, tapi hatinya sejahat iblis, sama seperti suaminya!” tekan putri mereka yang merasa sangat ketakutan sekaligus dendam pada Putri Mega Sari.

Mang Juju mengangguk, “Yah mudah-mudahan, karena sampai saat ini pasukan pencari yang dipimpin oleh Tumenggung Tapak Ireng masih belum ada kabarnya, padahal semua orang di Mega Mendung ini pasti akan menangkap Putri Mega Sari kalau ketemu karena rakyat sudah sangat dendam pada Putri Mega Sari!”

“Yang saya khawatirkan kalau Mega Sari akan bersekongkol dengan Raden Jaya Laksana untuk membalas dendam dan mengkudeta Gusti Prabu Bogaseta, kalau sudah begitu pasti negara ini akan mengalami kemelut yang berkepanjangan… Siapa di Negeri ini yang akan sanggup untuk menandingi Raden Jaya Laksana? Bahkan Gusti Prabu Kertapati yang teramat sakti pun bisa ia kalahkan!” Desah istrinya.

Mang Juju menggelengkan kepalanya dengan lemas, “Semoga saja hal itu tidak akan terjadi Nyai, saya dengar Raden Jaya Laksana adalah orang yang lurus dan menjungjung tinggi kebaikan juga keadilan, rasanya tidak mungkin ia akan melakukan hal sepicik itu… Ya setidaknya kalau tidak ada yang menghasutnya…”

Saat itu di antara suara hujan badai dan gemuruhnya halilintar yang saling bersahutan, tiba-tiba terdengar cuitan burung Sirit Uncuing yang amat keras hingga jelas terdengar oleh mereka bertiga. “Suara burung Sirit Uncuing? Kenapa ada Kedasih hujan-hujan begini? Apalagi suaranya sampai keras terdengar jelas begitu?” tanya Mang Juju.

“Haduh Kang, aku jadi merinding, dulu saat kejadian Prabu Karmasura dan istrinya tewas karena diteluh oleh Mega Sari di keraton ini, kita juga sering mendengar suara Sirit Uncuing dan melihat mahluk pembawa petaka itu! Aku jadi takut!” keluh Nyi Juju.

Mereka bertiga pun terdiam ketika suara cuitan burung Sirit Uncuing itu semakin keras terdengar mengalahkan suara derasnya hujan badai diluar, kemudian mereka saling terdiam karena dilanda ketegangan yang teramat sangat. Suara cuitan Sirit Uncuing pun berhenti, mereka terus memasang telinganya baik-baik untuk memastikan suara Sirit Uncuing itu telah hilang, dan akhirnya mereka pun menarik nafas lega ketika Sirit Uncuing itu tidak bersuara lagi. Akan tetapi tiba-tiba satu halilintar menyambar pintu istal kuda sehingga belasan kuda-kuda dari dalamnya berlarian berhamburan keluar dari keraton Mega Mendung.

“Astagfirullah! Apa itu?!” jerit Nyi Juju.

Mang Juju pun membuka jendela dan melihat keluar jendelanya. “Celaka! Ada-ada saja! Kuda-kuda itu melarikan diri!” keluhnya.

Ia segera mengambil sebilah golok dan caping lebar, “Aku harus menangkap kuda-kuda itu, kalian tunggulah disini!” pesannya.

“Baiklah, hati-hati Kang!” sahut Nyi Juju, Nyi Juju dan putrinya melepas kepergian Mang Juju dengan perasaan yang sangat tidak enak, mereka juga diliputi ketakutan yang teramat sangat!

Mang Juju segera menghampiri pos Jaga dan meminta bantuan para prajurit untuk menangkap kuda-kuda yang lepas berlarian di areal keraton, tapi satu kejadian aneh terjadi lagi, satu halilintar besar menyambar dinding keraton sampai tembok itu hancur jebol dan mengepulkan asap gosong! Belasan kuda pun melarikan diri lewat lobang itu.

“Atagfirullah!” kejut Mang Juju sambil menatap tembok yang jebol disambar petir tersebut, hatinya mulai merasa aneh dan ngeri bercampur tidak enak, dia mulai berpikir dengan menghubungkan petir yang sebelumnya menyambar dan membobol pintu istal kuda.

“Petir itu pasti bukan petir sembarangan, petir yang yang membobol pintu istal pun pasti bukan petir sembarangan karena terlalu kebetulan sehingga membuat kuda-kuda lari semua, ada apa ini?” pikirnya, tapi ia tak bisa berpikir panjang karena belasan kuda-kuda itu terus berlarian keluar keraton, terpaksa Mang Juju berlari mengejar kuda-kuda itu keluar keraton bersama belasan prajurit jaga.

Mang Juju bukanlah orang sembarangan, meskipun ia hanya seorang pekatik kuda Sang Prabu, tapi ia juga adalah orang kepercayaan sang prabu dan juga memiliki kepanadaian cukup tinggi, oleh karenanya ia memiliki ilmu lari cepat untuk menyusul kuda-kuda itu. Satu persatu kuda-kuda berhasil ia tangkap dan setelah ia bacai satu mantera, kuda itu berjalan pulang ke istal di Keraton, ia terus mengejar kuda-kuda itu sampai akhirnya ke hutan diluar Kutaraja Rajamandala.

Malam semakin larut, hujan badai semakin deras, petir terus menyambar-nyambar mengerikan! Dengan nafas terengah-engah Mang Juju berhasil menyusul tiga kuda yang melarikan diri sampai ke hutan diluar Kutaraja, ia berhasil menangkap dua ekor dan membacainya mantera, kedua kuda itu pun berjalan kembali ke arah keraton, tinggal satu lagi harus Mang Juju tangkap.

Kuda itu berhenti di bawah satu pohon besar yang sangat rimbun, Mang Juju lalu mendekatinya dengan perlahan dan sangat hati-hati, tiba-tiba cuitan burung Sirit Uncuing yang tadi terdengar di rumahnya bercuit lagi, Mang Juju pun melihat kesekelilingnya dengan bulu kuduk yang berdiri, “Juju!” panggil seseorang yang suaranya sangat Mang Juju kenali, bukan main terkejutnya pria paruh baya itu ketika melihat diatas kuda itu tiba-tiba duduk Prabu Kertapati sambil memegang tali kekangnya.

“Gusti Prabu Kertapati?!” seru Mang Juju terkejut sekali dengan mata melotot! Prabu Kertapati menyeringai, lalu wussh! Kuda dan prabu Kertapati berubah menjadi Dewi Nawangkasih! “Gusti Dewi?!” seru Mang Juju dengan suara tercekat, seluruh tubuhnya bergetar hebat, lututnya terasa lemas, ia pun terus melangkah mundur sampai terjatuh. Ia lalu melihat kesekelilingnya, teringatlah ia bahwa tempat ia berada saat ini adalah tempat pertarungan antara Jaya Laksana dengan Prabu Kertapati beberapa bulan yang lalu.

Dewi Nawangkasih tersenyum dan Wushhh! Sang Dewi beserta kuda tersebut berubah menjadi Dharmadipa! Seluruh kulit tubuhnya pucat pasi seputih kapas, bola matanya semerah darah, rambutnya panjang jabrik riap-riapan, “mantan” pangeran Mega Mendung yang mengenakan pakaian dan jubah serba putih itu menyeringai sadis pada Mang Juju. “Pangeran Dharmadipa?!” seru Mang Juju lagi.

“Pekatik kuda penghianat! Mata-mata si penghianat Arya Bogaseta!” tunjuk Dharmadipa.

“Ampun! Ampun Gusti Pangeran, jangan bunuh saya! Tolong!” ratap Mang Juju sambil ngesot kebelakang ketakutan, Dharmadipa terus melangkah mendekati Mang Juju dengan angker dan dingin, mayat hidup ini lalu melemparkan berkantong-kantong uang emas pada Mang Juju. “Itu uang pemberian Arya Bogaseta untuk menghianatiku bukan?!” tanyanya dengan suara menggeram.

“Ampun! Jangan bunuh saya Gusti! Tolong!” pinta Mang Juju sambil menangis dengan ketakutan sekali.

Grep! Tangan kanan Dharmadipa mencekik leher Mang Juju sampai lidahnya terjulur. “Jadi inilah lidah si penghianat yang menyampaikan rahasia-rahasiaku pada Arya Bogaseta!” geram Dharmadipa.

Tangan kirinya bergerak dan mencabut lidah Mang Juju sampai terputus! Mang Juju menjerit setinggi lagit ketika lidahnya ditarik sampai putus oleh Dharmadia! Dharmadipa lalu melemparkan tubuh Mang Juju sampai terguling-guling. “Langit akan menghukum siapa saja yang berkhianat pada tuannya!” ucap Dharmadipa dengan suara dalam, Ctaarrrr!!! Satu petir menyambar Mang Juju! Tewaslah pekatik kuda kepercayaan Prabu Bogaseta yang dulunya adalah pekatik kuda Dharmadipa yang menjadi mata-mata Arya Bogaseta dengan sekujur tubuh hangus disambar petir! 

Mayat hidup Dharmadipa memelototi mayat Mang Juju yang telah hangus tersambar petir, ia lalu berbalik dan melangkah, kemudian hilang bagaikan asap ditiup angin, hujan badai itu pun langsung reda bersamaan dengan hilangnya mayat hidup Dharmadipa!

Di gua lereng gunung Gede, Mega Sari membuka kedua matanya setelah sedari tadi bersemedi ketika telinganya mendengar cuitan burung Sirit Uncuing, beberapa saat kemudian masuklah Dharmadipa kedalam goa, mayat hidup itu lalu duduk disebelah Mega Sari. “Aku sudah membunuh Mang Juju si Pekatik kuda penghianat itu, apa lagi tugasku?”

Mega Sari pun menyeringai puas penuh kemenangan. “Jangan berkata seperti itu Kakang, aku tidak suka, seolah-olah Kakang hanya pesuruhku, ingat Kakang adalah suamiku! Semua yang Kakang lakukan adalah hanya untuk membalas apa yang telah mereka lakukan kepada Kakang!”

Mega Sari lalu menaruh kepalanya di dada Dharmadipa yang bidang. “Sekarang Kakang beristirahatlah, Kakang pasti letih.” 

Mayat hidup Dharmadipa pun berbaring, Mega Sari lalu melepaskan ikatan benang sukma dari jempol kaki Dharmadipa dan selendang Pati Sukma dari pinggang Dharmadipa, Jin Bagaspati pun keluar dari tubuh Dharmadipa lalu menghilang bagaikan asap ditiup angin!

Mega Sari lalu berbaring disebelah mayat Dharmadipa yang kini kembali kaku dan memejamkan matanya. “Kakang, kita akan hancurkan Mega Mendung secara perlahan, kita akan biarkan mereka terus dikuasai ketakutan yang teramat sangat setiap harinya sampai mereka putus asa dan kehilangan harapan pada rajanya! Saat itulah kita ratakan Mega Mendung dengan tanah!” bisik Mega Sari pada mayat Dharmadipa.

***

Pagi harinya terjadilah kegemparan di Keraton Mega Mendung, seorang tukang kebun menemukan mayat Mang Juju yang tewas terpanggang oleh sambaran petir di hutan luar Kutaraja, ia segera melaporkannya ke pihak keraton. Berbondong-bondonglah orang-orang Keraton ke tempat kematian Mang Juju, termasuk Sang Prabu yang ingin melihat langsung tempat kematian pekatik kudanya yang setia padanya itu.

Prabu Arya Bogaseta termenung menatap mayat Mang Juju yang gosong yang sedang dievakuasi oleh para prajurit Keraton, ia lalu menatap anak dan istri Mang Juju yang terus menangis melihat jenazah ayah dan suaminya itu. “Paman Mantri!” panggilnya pada Ki Mantri Citrawirya.

“Ya Gusti.” Prabu Bogaseta menatap lagi pada anak istri Mang Juju.

“Suruh anak dan istri Mang Juju menghadapku nanti setelah proses pemakaman selesai!”

Ki Citrawirya pun menjura hormat “Baik Gusti.”

Siangnya setelah pemakaman Mang Juju selesai, Nyi Juju dan putrinya datang menghadap Sang Prabu di balai bengong halaman taman Keraton, “Sebenarnya suamimu itu mau ke mana Nyai? Kenapa jasadnya sampai ditemukan di hutan luar Kutaraja?” tanya Sang Prabu.

“Ampun Gusti Prabu, suami saya hendak mencari kuda-kuda yang lepas dari istal.” jawab Nyi Juju sambil masih terisak.

“Kuda yang lepas? Bagaimana Kuda-kuda bisa lepas dari istal? Aku tidak mendapat laporan kalau ada kuda yang lepas?” tanya Prabu Arya Bogaseta keheranan.

Nyi Juju dan putrinya saling berpandangan karena heran dengan ucapan Sang Prabu, ia pun menceritakan kronologis kejadian semalam, “Ampun Gusti, semalam ada petir yang sangat dahsyat menyambar pintu istal kuda sehingga kuda-kuda berhamburan lari keluar, suami saya segera keluar rumah untuk menangkapi kuda-kuda yang lepas itu dengan dibantu beberapa prajurit jaga, tapi baru saja mereka hendak mengejar kuda-kuda itu, ada satu lagi petir yang menyambar tembok istana sampai temboknya berlobang besar, sehingga kuda-kuda itu melarikan diri lewat tembok yang hancur itu, suami saya segera mengejarnya keluar dibantu dengan beberapa prajurit.”

“Petir yang menyambar pintu istal kuda... Petir menyambar tembok istana sampai hancur dan berlobang besar... Rasanya hal itu sangat tidak mungkin dan tidak masuk akal, di wilayah Kutaraja ini sangat jarang petir sampai bisa menyambar bangunan seperti itu, apalagi tembok keraton ini tebal lagi sangat kokoh, butuh meriam besar untuk mejebolnya, sambaran petir biasa tidak akan sanggup menjebol tembok keraton!” ucap Prabu Bogaseta.

“Ampun Gusti Prabu, hamba melihatnya dengan mata kepala hamba sendiri dari jendela rumah saya!” sahut Nyi Juju.

Prabu Bogaseta berpikir sambil menatap kedua orang dihadapannya itu, “Baik, sekarang tunjukanlah dimana petir itu menyambar!” perintahnya. Nyi Juju dan putrinya pun mengantar Prabu Bogaseta ke istal kuda di bagian belakang keraton, terkejutlah mereka karena tidak ada apa-apa di sana, tembok yang semalam mereka lihat disambar petir nampak tidak apa-apa, begitu pun istal kuda, tidak ada seekor kuda pun yang hilang!

“Tidak ada apa-apa Nyai, mana tembok yang bilang telah jebol oleh sambaran petir itu?” tanya Prabu Bogaseta.

“Ampun gusti, sungguh kami berdua melihatnya semalam! Bahkan tadi pagi pun sampai berangkat ke pemakaman tembok itu masih jebol!” ucap Nyai Juju dengan ketakutan karena takut dianggap berbohong pada seorang raja.

Prabu Bogaseta menatap tembok itu beberapa saat, kemudian ia menghampiri beberapa prajurit yang sedang berjaga di sana. “Panggil semua prajurit yang berjaga tadi malam disini sekarang juga!”

Para prajurit itu mengangguk dan segera beringsut kemudian berlari memanggil kawannya yang tadi malam berjaga disini, “Apakah semalam kalian melihat ada petir yang menyambar tembok ini sampai jebol?” tanya Sang Prabu. Wajah Prajurit jadi tampak kebingungan, mereka pun menggelengkan kepalanya “Tidak Gusti, kami tidak melihat ada petir yang menyambar tembok ini!”

Prabu Bogaseta mengangguk-ngangguk, ia lalu melangkah ke istal kuda “Menurut keterangan Nyi Juju, semalam juga ada petir yang menyambar pintu istal sehingga kuda-kuda didalamnya berlarian keluar, lalu Mang Juju berusaha menangkap kuda-kuda itu dibantu oleh kalian semua, apa betul?”

Lagi-lagi para prajurit itu bengong keheranan, “Ampun Gusti Prabu, semalam meskipun hujan badai disertai petir turun dengan lebatnya, tapi tidak ada petir yang menyambar ke keraton ini, tidak ada petir yang menyambar tembok keraton apalagi sampai menyambar pintu istal! Tidak ada seekor kudapun yang lepas dari istal semalam! Semalam kami hanya melihat Mang Juju tiba-tiba keluar dari rumahnya dan berteriak-teriak sendiri, saat kami tanya ada apa padanya, ia tidak menjawab malah berteriak-teriak minta tolong kejarkan kuda-kuda yang lepas, tapi karena tidak ada kuda yang lepas kami tidak menggubrisnya dan mengira Mang Juju sedang bercanda atau sedang mengigau, Mang Juju lalu berteriak-teriak sambil bertindak aneh lalu melompati tembok dan terus berlari keluar keraton!” jelas si Prajurit.

Kini giliran istri dan anak Mang Juju yang melongo, Prabu Bogaseta pun bersedekap dan memejamkan matanya, “Hmm... Ada satu tabir yang tebal hingga aku tidak bisa melihat kejadian semalam, tapi yang jelas baik istri Mang Juju maupun semua prajurit ini semuanya mengatakan hal yang jujur... Hmm apa yang terjadi sebenarnya?” bathinnya.