Episode 63 - Jin Bagaspati


Malam semakin larut, Angsoka terus memacu kudanya keluar dari kota Surasowan. Seolah dikendalikan oleh satu kekuatan ghaib, gadis ini terus memacu kudanya tanpa sadar, tanpa tujuan, hingga sampailah ia di hutan luar kota Surasowan, barulah ia menghentikan kudanya dan menatap berkeliling, barulah ia tersadar kalau ia telah jauh meninggalkan Kota Surasowan menuju ke daerah pedalaman di Banten Girang.

“Tak terasa aku sudah jauh dari Kota, mau ke mana aku sekarang?” gumamnya.

Tiba-tiba ia merasakan rasa sakit yang teramat sangat di dada dan perutnya yang kena hajar Galuh tadi yang sedari tadi ketika memacu kudanya seolah tidak ia rasakan, “Ehk! Sialan! Aku pasti akan membalas pengemis dan mengenyahkannya dari muka bumi! Baiklah aku akan mencari guru untuk mengalahkan perempuan dekil itu!” tekadnya.

Ia menjalankan kudanya dengan perlahan hingga di tempat yang rimbun ia mendengar suara-suara kemerosok dedaunan, ia pun mengawaskan matanya, dan benar saja, dedaunan di sana nampak bergerak-gerak. “Siapa kalian? Demit, setan, atau begal silakan keluar dan hadapi aku!” baru saja ia menutup mulutnya berlompatanlah orang-orang berpakaian serba hitam dengan tampang sangar-sangar. 

Seseorang yang nampaknya pemimpin mereka tertawa terbahak-bahak melihat orang yang dicegatnya itu. “Rupanya ada seorang gadis cantik yang berkunjung ke wilayah Tapak Gatra hahaha…” 

Angsoka mendelikan matanya “Wilayah Tapak Gatra? Setahuku ini masih wilayah Kesultanan Banten!”

Tapak Gatra mengangguk-ngangguk sambil tertawa lebar, “Aslinya ini wilayahku, Sultan cuma menumpang saja disini! Hahaha!”

“Mau apa kalian mencegatku?!” Tanya Angsoka dengan brangsan.

“Yah mau mengajakmu bersenang-senang Nona manis, kau kan sudah jauh-jauh datang kemari, masa tidak kami sambut dengan semestinya? Hahaha!” 

Marahlah Angsoka mendengar ucapan kepala begal tersebut. “Kurang ajar! Tidak tahu siapa aku!” ia menghunus pedangnya lalu melompat menerjang Tapak Gatra yang buru-buru melompat menghindari pedang Angsoka.

“Whei! Dasar gadis kasar, diajak bersenang-senang malah ngasongkeun pedang! Hoi ringkus dia tapi jangan sampai lecet!” perintahnya pada para anak buahnya. (Ngasongkeun = Memberi).

Para begal anak buah Tapak Gatra itu pun mengeroyok Angsoka. Selain karena ia masih terluka cukup parah, belasan begal ini juga mempunyai kemampuan yang diatas rata-rata, hingga terdesaklah Angsoka, beberapa kali tangan kasar para begal itu berhasil mencolek tubuhnya, membuat gadis pemberang ini semakin mengamuk, tapi sayang ia tidak dapat berbuat banyak, hingga akhirnya ia lemas kehabisan tenaga dan hampir pasrah, “Oh ayah, ibu maafkan aku, Kakang Tumenggung selamat tinggal!” keluhnya dalam hati sambil memejamkan matanya.

Saat itu tiba-tiba satu bayangan kelabu menerjang para begal itu, belasan tubuh begal itu berpelantingan ke terjang si bayangan kelabu yang menolong Angsoka. “Kurang ajar! Orang asing! Siapa kau?! Berani menganggu urusan Tapak Gatra!” hardik Tapak Gatra.

Orang yang menolong Angsoka ini menyeringai, “Aku hanya gatal melihat segerombolan buaya mengeroyok seorang gadis yang tidak berdaya!” tegasnya. Perlahan Angsoka membuka matanya, ia melihat tuan penolongnya, orang itu mengenakan pakaian ala Tiongkok, kulitnya putih pucat, matanya sipit, dan wajahnya nampak pucat dan sangat dingin!

“Kurang ajar! Bunuh dia!” perintah Tapak Gatra, belasan orang anak buahnya pun mengeroyok pria Tiongkok ini, yang diserang mengeluarkan jurus-jurus dengan gerakan yang amat aneh bagi Angsoka, gerakannya nampak sangat lamban dan ringan namun sebenarnya sangat cepat bertenaga, bahkan para begal yang berbadan tinggi besar itu dibuat mental berpelantingan kesana kemari.

“Bakul nasi! Kalian tidak sanggup menghadapi orang asing yang pucat kerempeng seperti dia?! Ayo bangun! Bunuh dia!” teriak Tapak Gatra memberi semangat anak buahnya.

“Hentikan dan jangan ganggu kami kalau kalian ingin selamat!” gertak si Pria Tiongkok.

“Kentut busuk! Serang!” maki Tapak Gatra tak mengindahkan peringatan lawannya, pria asing ini dengan tenang mengambil sesuatu dari balik bajunya, kemudian terdengar suara berdesing, dan terdengarlah teriakan sepuluh orang anak buah Tapak Gatra, mereka roboh bekelojotan dengan tubuh menghitam lalu mati!

“Jarum beracun!” desis Tapak Gatra melihat di leher anak buahnya ditancapi satu jarum kecil, pria ini hanya sekali melemparkan jarumnya tapi langsung kena sepuluh orang, sungguh satu ilmu melempar senjata rahasia yang lihay sekali!

“Pengecut! Aku kirim kamu ke neraka orang asing!” bentak Tapak Gatra menerjang pria tersebut menggunakan golok bercagaknya, yang diserang meladeninya dengan sangat tenang.

Gerakan orang asing ini sungguh ringan seperti kapas, semua sabetan dan tusukan Tapak Gatra lewat begitu saja, hingga pada satu kesempatan ia balas menyerang mengirimkan satu tendangan dan dua pukulan yang membuat pemimpin begal ini tersungkur! Tapak Gatra segera bangun lagi, lawanya melempar beberapa buah jarum beracun, Tapak Gatra menyabetkan goloknya, jarum-jarum beracun itu rontok semua!

Tapak Gatra menyerang lagi mengeluarkan jurus-jurusnya yang terhebat, golok bercagaknya berseliweran mencari mangsa, pria Tiongkok ini lalu melompat mundur, tiba-tiba telapak tangan kanannya berubah menjadi hitam legam mengeluarkan bau engas yang sangat menusuk! Tapak Gatra yang sedang dikuasai emosinya tidak sadar bahwa satu bahaya sedang mengancam nyawanya! Pada satu kesempatan ia menerjang, pria Tiongkok mencengkram tangan kanannya yang memegang golok oleh tangan kirinya, sedang telapak tangan kanannya memukul tepat ke dada Tapak Gatra!

Desshhh!!! Pukulan yang nampak pelan dan lambat bersarang telak di dada Tapak Gatra, namun sungguh ajiab, tubuh kepala begal yang tinggi besar itu mencelat beberapa tombak sampai ia jatuh tersungkur dibuatnya! Sungguh tak terkira kandungan tenaga dalam dalam pukulan si Babah Tua berwajah pucat yang nampak pelan dan lambat tak bertenaga tersebut!

Tapak Gatra jatuh tersungkur, ia segera bangkit lagi, tapi tiba-tiba ia merasakan panas yang teramat sangat, kepalanya pusing, nafasnya sesak memburu, ia pun jatuh berlutut, dari kedua lubang hidung dan mulutnya serta telinganya mengalir darah kental berwarna hitam, didadanya yang kena pukul lawan nampak membekas telapak tangan berwarna hitam, beberapa detik kemudian ambruklah kepala begal ini dengan sekujur tubuh menghitam! Seluruh sisa anak buahnya segera melarikan diri meninggalkan mereka berdua.

Pria Tiongkok ini melihat berkeliling, setelah ia memastikan keadaan sudah aman ia menghampiri Angsoka, “Kamu tidak apa-apa Nona?” Tanyanya.

“Eh saya tidak apa-apa uhuk! Uhuk!” jawab Angsoka sambil batuk darah.

Si pria Tiongkok ini segera melihat keadaan gadis itu, “Kamu terluka cukup parah oleh pukulan bertenaga dalam tinggi nona!” ia segera menotok beberapa bagian tubuh Angsoka dan memberinya sebuah pil “Ini adalah obat dewa dari negeri Tiongkok yang bisa mengobati luka dalammu, telanlah segera!”

Angsoka menerima pil itu, sejenak ia menatap tuan penolongnya, pria berwajah pucat dan dingin itu mengangguk, Angsoka pun dengan segan menelan pil itu, “Aturlah nafas dan tenaga dalammu Nona, kau akan langsung sembuh!” ucap pria itu, dan benar saja, setelah Angsoka melakukan apa yang disuruh pria itu, ia langsung merasa baikan!

“Terima kasih atas pertolongan tuan, bagaimanakah saya harus membalas budi Tuan?” ucap Angsoka.

“Kalau Nona ikhlas mau membalas budi, saya hanya ingin mengajukan pertanyaan pada Nona.” jawab Pria itu.

“Apakah itu Tuan?” Tanya Angsoka.

“Apakah kau tahu orang yang bernama Jaya Laksana yang berjuluk Pendekar Dari Lembah Akhirat?” sahut pria itu.

Kagetlah Angsoka mendengar pertanyaan tersebut .“Ada hubungan apa orang ini dengan Kakang Tumenggung?” pikirnya, “Saya tahu tuan, tapi ada keperluan apakah Tuan hendak menemuinya?” tanyanya.

“Dimana tempat tinggalnya?” balas orang asing itu tanpa menggubris pertanyaan Angsoka dengan nada datar tapi penuh penekanan.

“Maaf Tuan, saya tahu segalanya tentang Jaya Laksana, saya akan memberi tahu tuan asalakan Tuan mau mengatakan apa tujuan tuan menemuinya!” tegas Angsoka.

Pria itu berpikir sejenak nampak menimbang-nimbang. “Benar nona tahu semua tentang dia?”

Angsoka mengangguk, “Dia telah membunuh Kakak seibu saya! Kedatangan saya ke tanah Pasundan ini adalah untuk membalas kematian Kakak saya!”

Angsoka tercekat sesaat mendengar tujuan orang tersebut, tapi kemudian gadis cerdas mengangguk-ngangguk setelah mendapatkan ide untuk memanfaatkan orang ini, “Orang yang tuan cari ada di Surasowan ibukota Banten, oya nama saya Angsoka, nama tuan siapa?”

“Nama saya Bun Pek Cuan, cukup, terimakasih! Saya akan segera ke Surasowan!” pungkas pria bernama Bun Pek Cuan itu.

Angsoka yang sudah mendapat ide untuk memanfaatkan orang ini segera menahan kepergian orang ini. “Tunggu! Tuan tidak bisa sembarangan menemuinya karena ia adalah seorang pejabat penting di Banten!” cegah Angsoka.

Bun Pek Cuan menoleh pada Angsoka, “Apa maksudmu? Yang kudengar dia hanya seorang pendekar biasa yang selalu mengembara bersama gundiknya!”

Angsoka menggelengkan kepalanya sambil menyeringai, “Dia adalah seorang Tumenggung di Kesultanan Banten! Tuan tidak akan mudah melaksanakan niat Tuan! Maka dari itu saya bisa membantu Tuan, asalakan Tuan mau mengabulkan satu permintaan saya!”

Bun Pek Cuan menatap penuh tany pada Angsoka dengan matanya yang dingin itu, “Apa itu?”

“Saya mohon tuan sudi mengangkat saya jadi murid Tuan, saya lihat ilmu silat Tuan hebat sekali terutama pukulan pamungkas dan cara tuan melempar jarum-jarum beracun itu! Tolong ajari saya barang beberapa jurus terhebat yang tuan miliki dan saya akan membantu tuan untuk membunuh Jaya Laksana!” ucap Angsoka.

Bun Pek Cuan berpikir sejenak tapi kemudian membalikan badannya “Tidak, terima kasih! Saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri!”

Angsoka buru berlari kedepan Bun Pek Cuan dan berlutut didepannya, “Tolonglah Tuan sudi mengajarkan saya barang beberapa jurus saja, saya akan melakukan apa saja demi menjadi murid Tuan!”

Bun Pek Cuan menggelengkan kepalanya, “Tidak! Aku tidak bisa sembarangan mengajarkan ilmu kungfuku! Lagipula aku tidak tahu alasan mengapa kau mau membantuku untuk membunuh Jaya Laksana!”

Tapi Angsoka tetap memohon, “Karena saya juga sama seperti Tuan, saya memiliki dendam kesumat pada Jaya Laksana dan istrinya! Tuan tolong pertimbangkanlah hal ini, saya tahu rumah Jaya Laksana, saya tahu istrinya, saya tahu jumlah pasukan pengawal di rumahnya, saya tahu setiap jengkal kota Surasowan, saya tahu cara memancing Jaya Laksana untuk keluar dari pengawalan ketatnya, saya tahu kapan waktu terbaik untuk menyerang Jaya Laksana!”

Bun Pek Cuan terdiam memikirkan tawaran Angsoka, selama di tanah Pasundan ini dia memang mendengar Jaya Laksana adalah seorang pendekar yang sangat sakti, dan sekarang ia juga telah menjadi seorang Tumenggung di satu Negara besar, maka balas dendamnya dapat dipastikan tidak akan berjalan mulus, ia pun berkesimpulan kalau tawaran Angsoka sangat menguntungkan bagi dirinya. “Baik, aku terima tawaranmu!”

Bukan main senangnya Angsoka, ia pun berterima kasih pada Bun Pek Cuan “Teerima kasih guru! Terima kasih! Saya akan segera mengantar tuan ke rumah Jaya Laksana dan memancing ia keluar begitu guru sudah menurunkan beberapa jurusmu yang hebat pada saya!”

Bun Pek Cuan menatap wajah Angsoka lalu mengambil pedang gadis itu, “Baik, aku akan menurunkan beberapa jurus padamu, tapi kita harus cepat! pertama-tama... Kau harus mengganti pedangmu yang kaku ini dengan pedang yang lebih tipis dan lentur seperti karet!”

“Pedang yang tipis dan lentur? Saya tidak mengerti guru, bagaimana saya bisa menebas lawan dengan pedang yang luntur?” tanya Angsoka.

“Ilmu beladiriku disebut Kungfu, jurusku disebut Tai Chi, dengan pedang yang lentur kau bisa melakukan sepuluh serangan dengan hanya satu serangan!” jelas Bun Pek Cuan.

“Baiklah guru, oya apa nama pukulan pamungkas guru tadi? Apakah saya boleh mempelajarinya?” tanya Angsoka lagi.

“Itu namanya Pukulan Telapak Kobra Hitam, kau tidak akan bisa mempelajarinya!” jawab Bun Pek Cuan.

“Kenapa guru?” cecar Angsoka penasaran.

“Karena kau harus meracuni dirimu sendiri, kalau tidak kuat kau bisa mati! Sudah! Aku akan mengajarimu jurus yang lain! Kau mau atau tidak?” tukas Bun Pek Cuan.

Angsoka pun mengangguk “Mau guru!”

***

Di sebuah goa lereng gunung gede, Mega Sari memakaikan pakaian pada mayat Dharmadipa, pakaian serba putih juga jubah putih yang membuat tampang Dharmadipa semakin seram karena kini seluruh kulit tubuhnya berwarna putih pucat pasi hampir seputih kapas, hanya bola matanya yang merah semerah darah yang kini masih tertutup karena belum dibangunkan oleh Mega Sari.

Selesai memakaikan baju, Mega Sari lalu bersidekap dan memejamkan matanya dalam posisi bersemedi. “Bangun Kakang Pangeran! Bangun!” perintahnya, terbukalah mata merah mayat Dharmadipa, “Saatnya sudah tiba untuk membalaskan semua sakit hati kita!” tandas Mega Sari, Dharmadipa pun bangun terduduk dihadapan istrinya, Emak Inah dan Ki Silah saling berpelukan saking takutnya melihat hal ini!

Mega Sari menatap tajam pada mata merah Dharmadipa. “Kakang adalah Pangeran Dharmadipa, yang tewas oleh orang-orang Mega Mendung yang ingin merebut tahtamu, orang yang merebut tahta Kakang bernama Arya Bogaseta yang kini menjadi prabu di Mega Mendung! Kakang adalah seorang pemberani yang bercita-cita menjadi seorang penguasa Tanah Pasundan, bahkan ingin menyatukan tanah Pasundan dan tanah Jawa! Kakang terhina dan dendam pada Sultan Banten yang menyerbu Mega Mendung! Kakang dendam pada semua orang di Mega Mendung karena telah menghianati Kakang! Sekarang Kakang kembali untuk membalaskan dendam yang masih terpendam!”

Nafas Dharmadipa memburu, ia lalu menjerit-jerit seperti orang gila, “Bogaseta! BOGASETA!!!!!” jeritnya yang menggetarkan seluruh goa itu.

“Benar Kakang, Arya Bogaseta! Penghianat itu yang menghasut agar Sultan Banten menyerbu Mega Mendung, ia juga yang merebut tahta yang seharusnya jatuh pada Kakang!” ucap Mega Sari yang mempengaruhi atau “mendoktrin” Jin Bagaspati yang merasuki mayat Dharmadipa.

Mayat hidup Dharmadipa itu mendengus sambil memelototi Mega Sari, “Mega Sari, kenapa kau hidupkan lagi mayatku?”

Mega Sari menyeringai “Karena saya belum puas mengabdi kepada Kakang, karena saya terlalu mencintai Kakang!”

Mata merah Dharmadipa melotot menatap Mega Sari dengan tatapan setajam pedang, “Awas kalau kau berani menghianatiku!” ancamnya, 

Mega Sari menggeleng-gelengkan kepalanya “Tidak mungkin Kakang, tidak mungkin orang yang mencintaimu setulus hati akan menghianatimu!”

“Sekarang apa yang harus kulakukan?” tanya Dharmadipa.

“Membalaskan dendam Kakang, membalaskan dendam kita! Tapi sebelumnya apakah Kakang ingin mencoba kesaktian Kakang?” ucap Mega Sari.

Dharmadipa mengangguk dan wusss! Tiba-tiba ia berubah menjadi seekor ular! Berubah lagi menjadi seekor burung elang, berubah lagi menjadi Jaya Laksana, berubah lagi menjadi Galuh Parwati, berubah lagi menjadi Dewi Nawangkasih, lalu berubah menjadi Prabu Kertapati, berubah menjadi Emak Inah, dan terakhir Berubah menjadi Ki Silah!

Mega Sari, Ki Silah, dan Emak Inah dibuat terkagum-kagum oleh kesaktian Jin Bagaspati ini, dengan penasaran Ki Silah menghampiri dan melihat dari dekat Dharmadipa yang kini menjelma menjadi dirinya. “Mirip sekali Gusti, sama malah!” ucapnya terkagum-kagum.

Mega Sari mengangguk sambil tersenyum bangga, “Kakang Pangeran, apakah Kakang tahu siapa dirimu sekarang?” tanya Mega Sari.

Dharmadipa mengangguk, “Namaku Silah, lahir di Desa Magatru di Kaki Gunung Burangrang, anak dari Ki Jabat dan Nyai Lilis, pertama mengabdi di Mega Mendung saat pemerintahan Prabu Wangsareja sebagai tantama, jatuh cinta pada pembantu istana bernama Inah dan menikahinya, tidak pernah dikaruniai seorang anakpun, diangkat menjadi pengawal dan kusir pribadi putri Mega Sari setelah berusia 55 tahun, sekarang aku mengabdi pada Putri Mega Sari karena sayang dan menganggap anak padanya!”

Ki Silah melongo karena penjelasan Dharmadipa benar semuanya, Mega Sari pun tersenyum bangga, “Kamu sangat luar biasa Kakang, kamu bisa berubah menjadi apa saja termasuk menjadi benda mati!”

Dharmadipa mengangguk, wusss! Dia berubah lagi menjadi sebongkah batu gunung besar, berubah lagi menjadi batu kerikil yang kecil, berubah menjadi sebatang pohon perdu, berubah menjadi Mega Sari, dan akhirnya berubah kembali menjadi dirinya.

“Kakang Dharmadipa, kakang sudah tahu siapa-siapa yang menyebabkan Kakang tewas?” tanya Mega Sari.

“Jaya Laksana! JAYA LAKSANA!!!!” jerit Dharmadipa yang menggetarkan seluruh goa tersebut.

Mega Sari menggelengkan kepalanya dan menenangkan Dharmadipa. “Kakang Jaya Laksana adalah Kakakku, kakak iparmu, ia tidak terlibat apa-apa dalam kematianmu dan penderitaan kita!”

Tapi seolah tak perduli dengan ucapan Mega Sari, Dharmadipa tetap meneriakan nama Jaya Laksana! Mega Sari pun marah lalu… Jebred! Mega Sari memukulnya dengan Sapu Lidi yang diikat oleh tali Sangga Sukma! “Sekali lagi aku katakan Jaya Laksana tidak terlibat dalam pembunuhanmu! Ia kakakku dan kakak iparmu!” bentak Mega Sari, Dharmadipa pun mengangguk sambil menatap ketakutan ke sapu lidi di tangan Mega Sari.

“Sekarang sebutkan siapa saja yang harus kamu bunuh!” perintah Mega Sari.

“Juju pekatik kudaku si penghianat, Sultan Banten, Balangnipa, Sentanu, Citrawirya, Jaka Yaksa, Panji Andara, Arya Bogaseta!!!” jawabnya dengan menyebut Arya Bogaseta sambil berteriak.

Mega Sari mengangguk sambil tersenyum senang, “Tumpahkan dendamu pada mereka Kakang! Yang paling penting, kita hancurkan Mega Mendung secara perlahan sampai akhirnya hancur lebur dan terhapus dari catatan sejarah!”

“Siapa yang harus aku bunuh terlebih dahulu?” tanya Dharmadipa.

Mega Sari mengambil baskom tembaga yang telah diisi air kembang tujuh rupa, ia membaca mantera dan wussshhh! Terlihatlah satu gambar seseorang di air itu. “Orang inilah yang harus Kakang bunuh malam ini, dia Mang Juju Pekatik kudamu dulu yang kini menjadi pekatik kuda Prabu Arya Bogaseta, dia adalah mata-mata Arya Bogaseta saat kamu masih hidup, dialah yang pertama menghianatimu!” ucap Mega Sari.

Dharmadipa mengangguk dan Wusssh! Ia berubah menjadi seekor burung sirit uncuing dan terbang keluar dari goa, Mega Sari menatap kepergian Dharmadipa sambil tersenyum penuh kepuasan “Mega Mendung... Seluruh negeri Mega Mendung akan kuhancurkan mulai malam ini!” tekadnya. (Sirit Uncuing = Kedasih atau Wiwik Kelabu).