Episode 50 - Yang Terkuat.


Pada pagi yang cerah. Ketika semua orang sedang beranjak dari kasur untuk memulai aktifitas mereka masing-masing. Begitu pula yang terjadi dengan bocah kecil itu, dia dengan semangat berlari keluar dari rumah untuk bermain dengan teman-temanya.

“Kak, tunggu aku!” suara seorang gadis kecil berteriak dari belakang bocah kecil tersebut. Dia adalah Lin Er, dan tentu saja bocah kecil itu adalah Lin Fan.

“Jangan ikuti aku.” teriak Lin Fan tanpa menoleh ke belakang dan terus berlari.

“Tapi, aku bosan sendirian di rumah.” Teriak Lin Er sambil terus mengejar Lin Fan.

Lin Fan berhenti dan berbalik, “Di luar berbahaya, siapa yang akan bertanggung jawab jika terjadi apa-apa padamu?”

Lin Er mengatur napasnya untuk beberapa saat kemudian berkata, “Lalu, kenapa Kakak boleh pergi, sedangkan aku tidak?”

“Kakak bisa menjaga diri, jika terjadi sesuatu Kakak bisa mengatasinya.” Jawab Lin Er.

Lin Er membusungkan dadanya dan berkata dengan tegas, “Aku juga bisa, aku pasti bisa menjaga diri sendiri, jadi aku ikut.”

“Tidak, kamu itu lemah.” Ucap Lin Fan lalu berlari meninggalkan Lin Er sendirian.

Sedangkan itu, Lin Er terdiam membisu sembari menggigit bibirnya dan mencengkeram erat bajunya. Kemudian Lin Er menghentakan kakinya ke tanah dan kembali masuk ke rumah.

Di siang hari, Lin Fan pulang bermain dan segera mengganti pakaiannya dengan pakaian bela diri berwarna hitam dan putih. Lalu berlari dengan riang menuju bangunan megah di samping rumahnya, yaitu Sekte Gerbang Surga.

Lin Fan dengan riang menyapa teman-temannya di sekte dan masuk ke ruang latihan. Tapi, ketika dia masuk, dia tersentak kaget melihat bahwa di sana ada adiknya, Lin Er, yang juga memakai pakaian bela diri dengan warna yang sama dengan miliknya.

“Eh? Kenapa kau ada disini?” tanya Lin Fan dengan bingung.

“Mulai hari ini aku akan ikut berlatih bersama Kakak.” Jawab Lin Er sembari merapikan pakaian bela dirinya.

“Kenapa? Bukannya kau tidak menyukai bela diri?” tanya Lin Fan dengan heran. 

Sebelumnya, Lin Fan dan Lin Dong sering meminta Lin Er untuk ikut berlatih di sekte, akan tetapi selalu Lin Er tolak dengan alasan dia tidak suka melihat orang lain terluka. Dan, Lin Dong tidak mau memaksakan kehendak putrinya itu, akan tetapi tiba-tiba saja hari ini Lin Er dengan kemauannya sendiri berkata bahwa dia ingin masuk dan ikut berlatih di sekte.

“Hmm ... itu bukan urusanmu, lebih baik kau berlatih lebih giat lagi, atau aku akan segera menyusulmu.” Ucap Lin Er dengan angkuh. Wajah manisnya terlihat sangat menggemaskan ketika dia mencoba membuat wajah angkuh tersebut.

“Haha, tidak mungkin aku kalah darimu.” Ucap Lin Fan dengan senyum yang mengembang di wajahnya semabari mengacak-acak rambut Lin Er.

Waktu terus berlalu, siang berganti malam, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Dengan sangat giat, Lin Er mengikuti jadwal latihan yang telah ada. perkembangannya sangat pesat, hingga tidak ada anak seusianya yang mampu menjadi lawan yang sebanding baginya. 

Hingga akhirnya Lin Er ditandingkan dengan anak yang lebih tua darinya. Namun, meskipun dengan bersusah payah, Lin Er mampu mengalahkan lawannya. 

Semua pertandingan yang dilakukan Lin Er sangat biasa dan tidak terlalu berkesan bagi penonton. Namun, dari sudut pandang Lin Dong, pertandingan tersebut sangat menakjubkan, karena Lin Er mampu mengalahkan semua musuhnya tanpa melukai mereka.

Setelah sesi latihan selesai, Lin Er berlari menuju Lin Fan yang sedang beristirahat. 

“Lihat Kak, aku sudah bisa menguasai gerakan yang sebelumnya Ayah ajarkan.” Ucap Lin Er dengan ceria lalu mempraktikannya.

“Haha, tapi tetap saja kau lebih lemah dari aku.” Ucap Lin Fan dengan cepat sambil tersenyum. 

Namun, tanpa Lin Er sadari, Lin Fan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Hatinya dipenuhi rasa takut, bahwa suatu hari nanti Lin Er akan melampauinya.

“Hehe, lihat saja, suatu hari nanti aku pasti akan lebih kuat daripada Kakak.” Lin Er berkata dengan senyum manis menghiasi wajahnya.

“Baiklah, terus berusaha, jangan hanya diucapkan, tapi buktikan padaku.” Lin Fan berkata sambil berjalan mendekati Lin Er lalu mengelus kepala Lin Er dan pergi.

“Hmm, tentu saja, aku pasti akan melampauimu dan menjadi lebih kuat dari siapapun.” Ucap Lin Er dengan tekad yang kuat sambil melihat punggung kakaknya yang mulai menjauh.

Pada hari itu pula, Lin Fan mulai menambah porsi latihannya. Dia terus berlatih, berlatih, dan berlatih, hingga tidak ada lagi waktu bagi Lin Fan dan Lin Er untuk berbicara dengan gembira. Semua waktunya telah dia habiskan untuk berlatih dan tanpa disadari, tercipta jarak yang tak terlihat antara Lin Fan dan Lin Er.

Perkembangan Lin Er menjadi berkah tersendiri bagi Lin Dong. Pada awalnya, dia sedikit ragu untuk melanjutkan kursi kepemimpinan Sekte pada Lin Fan, karena meskipun dia sangat giat berlatih, akan tetapi kemampuannya bisa dibilang sedikit di atas rata-rata saja. Juga, dia sedikit bermasalah dalam mengendalikan emosinya yang terkadang akan meledak dan menimbulkan masalah bagi orang lain.

Kehadiran Lin Er menjadi jawaban atas semua keresahan Lin Dong. Meskipun tidak pernah ada dalam sejarah Sekte, bahwa pemimpin sekte adalah seorang perempuan. Namun, Lin Dong tidak peduli. Yang lebih Lin Dong pedulikan adalah martabat sekte. Lin Dong tidak mau sekte ini dipimpin oleh orang yang lemah.

Karena pemimpin mencerminkan bagaimana orang-orang yang dipimpinnya. 

Ketika pemimpin itu dipandang hormat, maka semua orang yang berada di bawahnya juga akan dianggap terhormat. Namun, ketika pemimpin itu dinggap hina, maka orang-orang yang berada di bawahnya juga akan dipandang hina.

“Haha, sekarang aku sudah sama kuatnya dengan Kakak.” Ucap Lin Er setelah mengalahkan Zhang Xuan, salah satu murid terkuat di Sekte.

“Bagaimana mungkin? Sudah jelas aku masih lebih kuat darimu.” Jawab Lin Fan.

Sampai saat ini, tidak ada yang tahu siapa yang paling kuat di antara mereka berdua, karena mereka belum pernah bertarung. 

“Kemarin Ayah berkata sendiri, bahwa sekarang aku sudah sama kuatnya dengan Kakak.” Lin Er berkata dengan senyum yang mengembang pada wajah cantiknya.

“Jangan percaya, Ayah berbohong supaya kamu berlatih lebih giat lagi.” Jawab Lin Fan dengan acuh.

“Tidak mungkin Ayah berbohong.” Balas Lin Er dengan cepat.

“Haha, terserah saja kalau kamu tidak percaya, yang pasti, aku jauh lebih kuat darimu.” Lin Fan berkata lalu pergi menjauh.

Awalnya Lin Er tidak menyadari hal ini, akan tetapi akhirnya dia sadar, punggung yang sedang menjauh itu, sangat sulit untuk dia gapai kembali. Masa-masa dimana dia bisa tersenyum bersamanya, kini hanya kenangan semata.

Waktu terus berlalu, hingga akhirnya Ayah mereka, Lin Dong, dengan tiba-tiba memberitahukan bahwa Lin Er harus bertarung melawan Lin Fan.

Bagi Lin Er, ini semacam berkah, karena mungkin saja, setelah pertarungan itu, ketika dia mampu menang dan membuktikan bahwa dia lebih kuat dari Lin Fan, maka Lin Fan tidak akan mengacuhkannya lagi. Sebab, Lin Er selalu berpikir, alasan kenapa Lin Fan mulai menjauh darinya adalah karena dia lebih lemah.

Sedangkan bagi Lin Fan, ini adalah pertarungan biasa, tapi juga istimewa. Sebab ini adalah pertama kalinya dia berhadapan dengan Lin Er di arena pertarungan.

Hingga akhirnya pertarungan antara Lin Fan dan Lin Er dimulai dan ternyata dimenangkan oleh Lin Er. 

Lin Er merasa sangat bahagia dengan kemenangan itu, dia berpikir dengan kemenangan ini hubungannya dengan Lin Fan akan membaik. Karena akhirnya dia bisa membuktikan pada Lin Fan bahwa dia bukanlah gadis lemah seperti dulu lagi, kini, dia sudah cukup kuat, bahkan untuk mengalahkan Lin Fan.

Namun, semuanya tak berjalan seperti bagaimana Lin Er inginkan, sejak kekalahan itu, Lin Fan sudah tak pernah datang untuk berlatih di Sekte lagi. Hingga akhirnya Lin Er diangkat menjadi Pemimpin Sekte yang baru, Lin Fan tak pernah sekalipun menginjakan kakinya ke Sekte.

Lin Fan merasa sedih dan kecewa. Pada awalanya dia tidak pernah meragukan kerja kerasnya selama ini, dia selalu berannggapan bahwa selama dia berlatih lebih giat, maka dia akan menjadi lebih kuat dari Lin Er. 

Namun, kenyataan berbicara lain, Lin Er yang diberkati dengan bakat dan kerja keras bisa melampaui Lin Fan dengan cepat, bahkan menjadi lebih kuat dari Lin Fan. Hasil pertarungan itu adalah buktinya.

**

Lin Fan mendekatkan wajahnya ke samping wajah Lin Er yang dapat terjatuh kapan saja. Dengan lembut dia berbisik, “Ini pasti berat bagimu, serahkan sisanya padaku.”

Dengan kemenangan ini, sesuai perjanjian di awal tantangan yang telah Lin Fan berikan, sekte seharusnya diambil alih oleh Lin Fan, jadi Lin Dong dengan geram dan kesal berkata, “Sekarang sekte ini adalah milikmu, lakukan apapun yang kau mau, tapi cepat lepaskan tanganmu dari Lin Er.”

“Heh, apakah kau bodoh, aku ingin mengambil alih, bukan menjadi pemimpin sekte, dan Lin Er yang adalah pemimpin sekte, termasuk bagian dari sekte, jadi dia juga adalah milikku.” Ucap Lin Fan dengan tegas.

“Kau...” Lin Dong menggertakan gigi dengan marah.

“Kalian semua, cepat usir Pak Tua itu.” Teriak Lin Fan dengan lantang sambil memandang Lin Dong dengan penuh kebencian. Semua dendam di dada Lin Fan telah sirna dengan pembalasan yang telah dia lakukan, kecuali untuk ayahnya, yang telah memulai semua ini.

Andai saja dia tidak pernah membuat pertarungan itu, pasti semuanya akan berbeda, dan dia juga tidak perlu merasakan semua penderitaan selama setahun ini.

Semua murid saling memandang dengan kebingungan, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Di satu sisi, Lin Dong adalah mantan pemimpin sekte yang sangat mereka hormati, di sisi lain Lin Fan adalah orang yang mengambil alih sekte, jadi kata-katanya bukanlah sesuatau yang dapat mereka abaikan begitu saja.

Karena di sekte ini, mereka diajarkan untuk menghormati hasil pertarungan dan menerima apapun konsekuensi dari apa yang telah mereka lakukan sendiri.

Hingga akhirnya, salah seorang murid yang sebelumnya menonton pertarungan Lin Fan melawan tiga terkuat di sekte maju dan mendekati Lin Dong.

“Tuan ... aku ...” Murid itu berkata dengan gugup.

“Tidak perlu.” Lin Dong berkata dengan kesal sambil mendengus keras dan pergi keluar. punggungnya semakin jauh hingga akhirnya tak terlihat lagi.

Lin Fan memandang punggung itu dan berpikir tentang masa depan sekte.

Mulai hari ini, dia akan mereformasi total sekta ini, dan tentu saja, menjadi lebih baik dari sebelumnya. 

Tidak, tapi menjadi yang terbaik.