Episode 14 - Serangan Santet


Lalu Mbah Kosim datang menghampiriku.

“Mbah keren bisa nyala gitu... Bagaimana mbah bisa mendapatkan api putih itu?” ucapku heran perihal mbah Kosim mendapatkan kekuatan barunya.

“Kekuatan saya akan berangsur-angsur kembali saat bos Edi mulai beranjak dewasa. Di saat bos Edi sudah akil baliq nanti, kemampuan api saya akan bertambah kuat,” ucapnya memberikan penjelasan dengan ekspresi datarnya mbah Kosim. 

“Hem..” aku mengangguk sambil memejamkan mata. Jika ingin khodamku bertambah kuat, aku juga harus bertambah kuat.

“Baiklah Nyai, keluarkan kita dari sini Nyai,” perintahku kepada nyai Yun untuk mengeluarkan kami dari alam jin.

“Baik, Bos Edi.” Nyai membawa kita semua keluar dari dalam gedung kosong.

Aku melepaskan cincin mustika impian dari jariku lalu membopong Hesti duduk di depan aula yang sekaligus dijadikan tempat parkir. Aku menyandarkan kepalanya di pahaku, kemudian menyuruh mbah Kosim dan nyai Yun balik ke rumah. Setelah khodamku kembali ke rumah, Hesti menunjukkan tanda-tanda ia bangun. Aku yang selama 30 menit memberikan bantal gratis mulai kesemutan di kedua kakiku.

“Aleh, Edi... kok bisa disini...?” ucapnya pertama kali ketika membuka mata. Yang buat agak jengkel itu ketika kakiku sudah kesemutan, dianya malah gak bangun-bangun.

“Aleh pala lu peyang, buruan bangun, kesemutan ini kaki!” ucapku kepadanya yang setengah linglung karena kejadian barusan. Hesti bangun sambil memegangi kepalanya.

“Kamu kemana tadi, aku tinggal sebentar ngobrol sama teman-teman kok ngilang..?” tanyaku kepada Hesti sambil menggerakkan kedua kaki.

“Tadi aku …

“Tadi aku ikut kamu ke kantin, tiba-tiba ada yang nyolek aku lalu aku menoleh kepadanya. Siapa sih yang nyolek...? Setelah itu aku tidak ingat apa-apa, Ed.” ucapnya sambil mengingat kenapa ia bisa bangun di pangkuanku. “Aduh Hesti, 

Jika saja aku telat sedikit saja, mungkin qhorinmu sudah diajak kimpoi sama itu genderuwo, batinku bimbang antara memberitahukan kejadian yang sebenarnya atau tidak.

“Tinggg…”

Gambar lampu pijar berdiri di atas kepalaku. Ide jahatku mulai keluar untuk menakuti Hesti. Aku bicara secara batin kepada penjaganya Hesti untuk diam sebentar. Kemudian aku menceritakan kejadian palsu kepada Hesti.

“Jadi gini Hes, ceritanya... Kamu tadi dituntun oleh setan pria yang kecelakaan. Kamu mau di ajak kimpoi sama itu setan, tahu gak muka setan itu seperti apa...? Kulit wajahnya mengelupas, bola matanya menggelantung satu, mukanya bau busuk keluar belatung dari mulutnya bekas orang kecelakaan. Hes.”

Hesti menyimak.

Aku melanjutkan, “Aku melihatnya sungguh kasihan, Hes. Jadi rencananya aku biarkan saja kamu sama setan itu kimpoi. Tapi karena perintah Bu Rita maka dengan terpaksa aku usir setan tadi yang ngajak kamu, Hes,” ucapku membuat cerita palsu kepada Hesti.

“Masa sih, Ed? kamu ngarang pasti...” jawab Hesti tidak percaya akan ceritaku.

“Ngarang bagaimana? Emangnya wajahku ini seperti ngarang begitu? Kalau gak percaya tanya sama penjagamu saja, Hes. Sudah ditolong gak terima kasih malah dibilang ngarang,” ucapku berpura-pura marah.

“Iya Ed, aku percaya. Alhamdullilah lega deh kalau sudah kamu usir Ed,” kata Hesti dengan menghembuskan nafas panjang.

Adegan sesungguhnya baru dimulai, batinku memulai rencana.

Kemudian aku memanggil mbah Kosim lagi, “Mbah Kosim hadir...” ucapku memanggil mbah Kosim dalam batin. Setelah mbah Kosim datang aku memberikan perintah kepadanya. “Mbah, bisa gak mbah berubah wujud menjadi laki-laki yang menakutkan, mbah? Dengan wajah rusak dan mata yang keluar satu,” ucapku ke mbah Kosim.

“Bisa bos Edi, tapi untuk apa?” tanggap mbah Kosim sambil memiringkan kepalanya.

“Sudah mbah, nanti aku kasih tahu... Mbah berdiri di pojokan sana untuk berubah bentuk, ya,” ucapku memberi isyarat ke mbah Kosim.

“Baik bos Edi,” jawab mbah Kosim, lalu berdiri di pojokan bangunan dekat Hesti sekitar enam meteran.

Karena Hesti habis pingsan, analisaku mata ketiganya belum stabil, dan indera perasanya masih belum kembali sempurna. Jadi waktu yang pas ngerjain ini bocah yang udah bikin repot, ide licik yang melintas di kepalaku. Setelah mbah Kosim berubah menjadi laki-laki muda yang menyeramkan yang aku deskripsikan ke Hesti tadi, kemudian..

“Hes, itu dia muncul lagi,” ucapku sambil menunjuk mbah Kosim yang berubah menjadi laki-laki arwah korban kecelakaan.

“Mana, Ed!?” ucapnya sambil menoleh... “Kyaaaaa!!!” jeritnya sambil memelukku erat sekali.

Lumayan agak berasa ini... Lima tahun lagi mantap ini bocah, diriku yang jahat berbicara dalam hati. Kemudian aku memberikan jempol kepada mbah Kosim sekaligus menyuruh mbah Kosim pulang. Hampir sepuluh menit Hesti memelukku.

“Ed, sudah hilang belum?” tanya Hesti yang masih memelukku.

“Belum Hes, malah makin mendekat...,” balasku sambil terkekeh.

Dan bodohnya aku, ada penjaga Hesti yang berdiri di samping Hesti. Hesti menyuruh penjaganya untuk mengusir setan pria tadi, lalu apa jawaban penjaganya Hesti.

“Nona, setan pria sudah hilang dari tadi,” jawab penjaganya Hesti.

“Sialan,” ucapku lirih. Kemudian Hesti mulai memandang ke arahku sambil tersenyum jahat dan..

“Plakkk....” Sambil melepaskan pelukannya dan berdiri, bogem mentah Hesti melaju ke arah wajahku! 

“Aduhhhh....” gayaku akting kesakitan, padahal sih gak kerasa apa-apa.

“Kenapa dipukul sih, Hes!?” ucapku protes kepadanya.

“Hem, salah sendiri siapa yang berbohong tadi!” katanya sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya.

“Ya elah, itung-itung hadiah dari menyelamatkanmu, kok,” seruku akting meringis kesakitan.

“Oh gitu ya? nih mau lagi hadiah?” ucap Hesti sambil mengepalkan tangannya ke arahku.

“Engga, engga jadi...”

Kelihatannya sih impas. Aku menolong Hesti dan mendapatkan pelukan kehangatan dari wanita, sekaligus mendapatkan bogem mentah. Karena urusan di sini sudah selesai, kami pun kembali ke kelas. Nanti aku harus alasan apa ya...? Karena hampir sejam lebih ninggalin kelas, dan Hesti dari tadi manyun mulu. Aku akui sih Hesti cantik apalagi lagi manyun pengen rasanya nyubit itu pipinya tapi aku tahan dulu, bisa gawat tiba-tiba nyubit pipinya dikira pelecehan seksual nanti. Setelah berjalan sebentar sampailah kita di depan kelas lalu aku dan Hesti masuk.

“Ini nih yang lagi berduaan di depan gedung kosong, cie.. cie..” sambut mulut ember teman satu bangku Hesti.

“Apaan sih kamu Sis? Aku gak ngapa-ngapain kok sama bocah bego ini!” balasnya ketus. 

Aku baru tahu bahwa yang satu bangku dengan Hesti namanya Siska. “Kamu tahu dari mana Sis,” sambungku ikut nimbrung.

“Ya, tau deh... 30 menit kamu gak datang Ed. Aku ijin ke bu Rita ke toilet, lalu aku mencarimu ke seluruh sekolahan. Mungkin 15 menit ada aku mencarimu, setelah aku hampir menyerah, aku lihat kamu sama Hesti di gedung tua, si Hesti pakai acara tiduran pula di pahamu,” ucap Siska menjelaskan dan kulihat wajah Hesti merona merah.

“Haaah! Masa sih Sis!? Aku.. aku,” ucap Hesti malu memasang muka yang merah padam.

“Gak apa-apa Sis, Hesti lagi pingin tidur di pangkuanku,” ucapku menambahi bensin ke dalam api.

“Bruukk!” Aku dapat sikutan ke arah perut dari Hesti, dengan wajahnya yang masih menunduk karena malu.

Kemudian aku duduk di kursiku di belakang. Aku lihat Mei cemberut... Kenapa dengan dewi penyelamatku...? Nanti coba tanya ah. Karena bu Rita keluar dari tadi gak datang-datang, di kelas cuma banyakan orang ngegosip, sesekali Hesti mencuri-curi pandang ke arahku. Waktu pandangan kita bertemu Hesti langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. 

Jam menunjukan pukul 13.00 WIB bel pun berbunyi menandakan pulang sekolah. Sebelum Mei keluar kelas, aku tarik tangannya untuk aku ajak ngobrol sebentar.

“Mei, bentar aku mau ngomong...” cegahku sambil memegang tangannya Mei sebelum keluar kelas.

“Ada apa, Ed?” jawabnya masih cemberut.

“Kenapa kamu cemberut Mei, apakah ada yang mengganggumu?” ucapku penasaran padanya. Gak biasanya Mei seperti ini.

“Aku gak apa-apa, Ed. Gak ada yang menggangguku...,” balasnya masih juga cemberut.

“Terus kalo gak ada yang mengganggumu, kenapa kamu cemberut begitu...?” tanyaku lagi.

“Apa benal tadi Hesti tidul di pangkuanmu, Ed?” tanyanya kepadaku.

“Iya memang benar Hesti tidur di pangkuanku, karena dia pingsan dekat dengan gedung tua tadi Mei,” balasku mencari aman.

“Ohhh, masa sih Ed? Kamu gak bohong kan..?” tanyanya lagi.

“Suer deh... Aku gak bohong, tanya saja sama orangnya langsung,” ucapku melepas pegangan tangan kami berdua.

“Ya sudah kalau gitu, aku kila kamu...” balas Mei belum selesai.

“Kamu apa Mei?” tanyaku lagi.

“Engga jadi deh... Ya udah aku pulang dulu ya Edi... Dadaah... Edi...” Ekspresinya berubah menjadi gembira seperti Mei yang aku kenal, lalu ia berlari sambil melambaikan tangannya kepadaku.

“Aneh ini anak... tadi cemberut, sesaat kemudian senang. Perlu diperiksa tuh...,” ucapku heran dengan kelakuan Mei.

Setelah aku ngobrol dengan Mei, aku berjalan menuju parkiran sepeda dan menemukan Wijaya yang sudah di parkiran terlebih dahulu. Setelah aku datang, kami berdua mengayuh sepeda kami menuju rumah. Sore harinya Jam menunjukan pukul 15.30 WIB, aku bangun dari tidur siangku lalu mengambil air untuk wudhu menunaikan shalat ashar. Setelah shalat ashar aku melihat nyai Yun duduk di atas pohon mangga depan rumah sambil melihat orang lalu lalang di jalan depan rumah. Aku mencari mbah Kosim, ternyata dia tidur di atas kursi ruang tamu.

“Ya elah ini macan tiap hari kerjaannya molor terus...,” ucapku lirih melihat kelakuan mbah Kosim. Kemudian aku pergi dengan teman temanku di lapangan desa untuk bermain bola. Sekitar satu setengah jam kami bermain bola, waktu hampir magrib baru kami selesai main bola. Aku dan Wijaya balik ke rumah. Sesampainya di rumah, aku mandi kemudian shalat magrib lalu pergi ke pengajian bersama Putra. 

Di dalam pengajian ini diberikan tentang keutamaan wirid Ratib Al-Haddad. Wirid Ratib Al-Haddad merupakan kumpulan dzikir harian yang disusun oleh Habib Abdullah Al-Haddad. Beliau salah satu ulama besar di abad 12 H. Adapun khasiat umum dari wirid ini adalah:

Barang siapa menekuni bacaan ratib ini, Allah akan memberikannya meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.

Ratib yang kami susun akan menjaga kota selama ratib tersebut dibaca.

Ratib kami ibarat pagar besi mengelilingi seluruh kota yang dibaca di dalamnya ratib.

Dapat memperkuat dan menyelamatkan akidah atau keimanan seorang muslim dari berbagai macam aliran sesat.

Ratib Al-Haddad yang dibaca selepas sholat magrib mampu mengamankan diri, keluarga, dan harta benda yang membacanya. Segala jenis sihir, teluh, dan gangguan setan akan dilumpuhkan dan berbalik mengenai orang yang mengirimnya dengan izin Allah. Sekitar dua jam kemudian pengajian pun selesai. Sebelum pulang kami sempat berbincang-bincang dengan beberapa orang dewasa, setelah puas berbincang-bincang kami pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya aku di rumah aku ganti pakaian lalu merebahkan tubuhku tiduran di atas kasur. Kulihat jam di meja belajarku menunjukkan pukul 21.30 WIB. Saat aku hendak memejamkan mata, aku mendengar suara keras sekali seperti suara tembakan... Bahkan, aku sempat merasakan getaran di dalam kamarku.!

“Dhuar...”

“Suara apa itu!” teriak ayahku yang kaget. 

Ayah langsung bangun dari posisi tiduran karena beliau sedang menonton TV sambil rebahan di lantai. Saat ayahku hendak menuju keluar rumah, aku melarangnya karena mbah Kosim sedang berdiri di depan pintu dengan mode siaga. Setelah mbah Kosim menyatakan aman, aku dan ayahku keluar dari rumah.

“Tadi ada bola api, pak. Di atas rumah bapak...,” ucap tetanggaku yang melihat kejadian ledakan tadi. Aku melangkah keluar untuk memastikan. Aku lihat tiga genteng rumahku jatuh... 

“Sialan! Apa-apaan ini!?” umpatku merasakan firasat buruk. 

Kemudian mbah Kosim datang ke sampingku, “Ini santet bos Edi.” 

“Apa? Santet mbah!?” ekpresiku marah melihat ada yang mengirim santet menuju rumahku.

“Lalu apa santetnya berhasil, mbah?” ucapku bertanya pada mbah Kosim.

“Tidak, bos Edi. Nyai Yun melindungi penghuni rumah,” balas mbah Kosim membuat rasa khawatirku menghilang. Aku lalu memanggil nyai Yun yang sedang berdiri di atas genteng.

“Nyai, apakah Nyai tau siapa yang mengirim santet ini?” tanyaku penasaran siapa yang mengirim kepadaku.

“Saya sudah tau, Bos Edi... Jati diri yang mengirim santet,” ucap nyai Yun.

“Baiklah kalau begitu, Nyai kembali ke rumah lindungi ibu sama bapak, ya.”

“Oke bos Edi... Bos Edi mau kemana?” tanya nyai Yun.

“Aku sama mbah Kosim mau ke makam tetua desa untuk mengurus sesuatu,” ucapku ke nyai Yun.

Kemudian aku dan mbah Kosim menuju makam tetua desa yang ada pohon beringinnya. Penghuni di sana banyak, apalagi kuntilanak merah yang mempunyai ilmu kanuragan tinggi. Tapi niatku ke sana bukan berperang. Sesampainya di makan desa, aku mengucapkan salam ke penjaga makam desa.

“Assalamuallaikum,” ucapku kepada khadam penjaga makam tetua desa.

“Waalaikumsalllam,” balasnya.

“Bisakah saya bertemu dengan tetua desa...? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan,” ucapku kepada khadam penjaga.

“Baiklah tunggu sebentar, Nak,” ucap penjaga tersebut. Sesaat kemudian seorang lelaki tua muncul dari belakang pohon beringin.

“Assalamualaikum,” salamku kepada tetua desa.

“Waalaikumsalam,” balas tetua desa.

“Maaf ,mbah... Mengganggu waktu Anda. Saya mau meminta tolong sedikit boleh...?” ucapku kepadanya.

“Saya tahu maksudmu ke sini... Jadi apa yang ingin kamu lakukan terhadap dukun yang mengirimu santet,” balas tetua desa.

Sontak saja aku kaget, belum aku ngomong, eh sudah tahu duluan.

“Saya minta ilmu kanuragannya dan seluruh khadamnya dicabut mbah, supaya tidak bisa menyakiti orang lain lagi,” ucapku kepada tetua desa.

“Hem... baiklah, Cu... Cucu pulang saja biar mbah yang urus,” jawab tetua desa.

“Baik mbah, semoga Allah senantiasa melindungi kita, amin,” ucapku mengakhiri pembicaraan dengan tetua desa.