Episode 285 - Menghilang Pergi



Ia mendarat pelan. Tenang. Raut wajahnya tiada mencerminkan kecemasan barang seberkas pun. Akan tetapi, setelah menanti beberapa saat, sungguh tak dapat ia memendam rasa penasaran, karena sampai gerbang dimensi ruang antar dunia menutup, tiada seorang ahli pun yang ikut menyusul keluar. 

Menghela napas panjang, ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Tetiba raut wajahnya berubah. Ia pastikan sekali lagi, hanya untuk memperoleh kepastian bahwa hasil pengamatannya di awal tiada keliru. Melangkah gontai, ia pun bergerak ke arah di mana sang mentari terbenam.

Selang tak berapa lama, langkah kakinya terhenti. Di hadapan berdiri perkasa dan berjajar sembilan candi besar yang menjulang dan membentang. Setiap satu candi terpisah jarak hampir satu kilometer. Di hadapan setiap satu candi, terdapat antrian yang mengular panjang. Mulai dari candi pertama sampai dengan yang kesembilan, terlihat sampai ratusan jumlah ahli yang berdiri sabar menanti giliran masuk.

Ia memusatkan perhatian. Candi kesembilan menarik perhatiannya. Sangat bersih dan terawat. Banyak pula ahli yang mengantri di hadapannya. Jika ingatan tiada mengelabui, maka keadaan ini sungguh berbeda dengan keadaan di masa lampau. 

“Enyahlah dari tempat ini, wahai pengemis!” Suara menyergah membuyarkan lamunannya. Datangnya suara dari sekelompok prajurit ronda yang memandang jijik. Sepuluh jumlah mereka. 

“Hm...?”

“Rimba Candi bukan tempat bagi pengemis kotor!” tuding prajurit ronda lain. 

Menghadapi seseorang dengan rambut awut-awutan, jambang tebal tiada terurus, dan mengenakan pakaian yang kotor dan compang-camping, siapa pun akan berkesimpulan bahwa lelaki di depan mereka adalah pengemis. Atau lebih parah lagi, bisa saja orang yang tak waras! 

“Apakah kalian hendak menanyakan Sijil Syailendra kepadaku...? Karena sungguh diriku tiada pernah membutuhkan benda itu...” Lelaki berpenampilan layaknya pengemis itu berujar santun. 

“Cih! Orang gila rupanya!” sergah prajurit ronda lain dari kelompok projurit ronda yang sama. 

“Pengemis gila!”

Di mata mereka, mana mungkin seorang pengemis gila bisa memiliki Sijil Syailendra. Lebih lancang lagi, si pengemis gila itu seolah hendak masuk ke Rimba Candi tanpa kewajiban memiliki Sijil Syalendara. Sungguh tindakan yang melecehkan junjungan mereka, para bangsawan Wangsa Syailendra dan Kemaharajaan Cahaya Gemilang! 

“Sepertinya telah terjadi kesalahpahaman...” Lelaki dewasa itu mengangkat lengan dan membuka telapak tangan di depan dada, hendak menunjukkan bahwa kedatangannya tanpa ada niatan buruk sama sekali. 

Para prajurit ronda, sebaliknya, melihat gelagat ini sebagai tindakan menantang. Bahkan, mereka merasa bahwa pengemis gila itu hendak menyerang. Sontak mereka memasang kuda-kuda. Dengan wajah garang, tiga prajurit dari antara mereka melangkah hendak menyerang.

“Enyah sebelum kami mencabut...” 

Akan tetapi, belum sempat prajurit ronda menyelesaikan kata-kata atau pun bertindak lebih lanjut, aura nan tiada dapat dicerna tetiba menyeruak dari sudut jauh. Demikian kelam, datangnya dari arah candi kesembilan. 

“Srash!” 

Kelebat berwarna putih melesat ibarat bilah sabit raksasa yang diayunkan dengan sekuat tenaga. Demikian cepat, bahkan si pengemis gila terlambat mencegah. Darah berhamburan dari tiga batang tubuh yang tak lagi memiliki kepala! Aroma daging manusia nan hangus terbakar menyibak kental di udara. Lalu, tubuh-tubuh tersebut jatuh terkulai tiada berdaya. 

“Bangsat!” Para prajurit ronda maju beberapa langkah. “Apa yang engkau lakukan...!?” 

Si pengemis gila mengabaikan kata-kata dan gelagat para prajurit ronda. Ia melontar pandang jauh ke arah candi kesembilan. Di atasnya, telah melayang seorang lelaki tua dan renta. Wajahnya dipenuhi dengan amarah tiada terperi. Ia kemudian mengibaskan lengan beberapa kali seperti hendak mengusir lalat. 

Tebasan berwarna putih terlihat jelas melesat pada setiap kibasan tangan. Bentuknya besar dan melengkung layaknya bilah sabit yang dibawa oleh malaikat maut. Empat bilah mengincar para prajurit ronda yang sedang melangkah maju! 

Di saat yang bersamaan, delapan ahli terlihat telah mengudara dari delapan candi lain. Semua mengetahui bahwa mereka adalah ahli-ahli Kasta Emas nan terhormat. Mereka adalah yang menjabat sebagai para Juru Kunci dari masing-masing candi, yang bertugas menjaga pintu masuk dan keluar dari dan menuju ibukota Minangga Tamwan!  

Beberapa dari Juru Kunci tersebut sontak bergerak. Mereka berupaya menghentikan bilah sabit putih raksasa sebelum sampai ke sasaran. Ada yang terlambat, ada pula yang tak kuasa menghadang. Setiap satu bilah sabit putih terlepas terus mengincar keempat prajurit ronda yang telah bersikap lancang!

Pada detik-detik akhir, si pengemis gila menggerakkan jari-jemari. Beberapa lorong dimensi ruang membuka tepat di sisi masing-masing prajurit ronda yang menjadi sasaran. Bilah-bilah sabit putih pun menghilang ke dalam lorong dimensi ruang, yang serta-merta menutup usai fungsinya telah tercapai.

Segenap khalayak yang berada di tempat itu tertegun. Awalnya, tindakan para prajurit ronda yang menghadang seorang pengemis gila tiada menarik perhatian. Terkadang, memang ada saja ahli-ahli lancang yang mencoba masuk ke Rimba Candi tanpa memiliki Sijil Syailendra. Biasanya adalah ahli-ahli nan besar kepala, atau memang kelewat bodoh. Akan tetapi, hari ini seorang prajurit ronda yang menjalankan tugas malah dijagal oleh seorang Juru Kunci. Ini baru berita yang layak ditelusuri. 

“Wahai Yang Terhormat Juri Kunci Candi Kesembilan,” salah seorang Juru Kunci lain angkat suara. “Apakah maksud Tuan dengan menjagal para prajurit ronda...?”

Juru Kunci Candi Kesembilan hanya diam. Semua juga mengetahui, bahwa lelaki tua dan renta itu adalah tuna wicara. Oleh karena itu, pertanyaan yang diajukan disadari sebagai formalitas belaka. Walau, beberapa Juru Kunci lain mulai penasaran, mengapa Juru Kunci Candi Kesembilan yang biasanya menyepi seorang diri, kini justru bertindak di luar kebiasaan. 

“Hei!” Seorang Juru Kunci tetiba menuding dan menghardik kepada si pengemis gila. “Siapakah gerangan engkau yang berani merapal formasi segel di hadapan Rimba Candi!” 

“Srash!” 

Belum sempat Juru Kunci tersebut memperoleh jawaban, kilatan sabit berwarna putih telah mengincar deras ke arahnya. Bukan semata gertakan, namun ancaman jiwa yang nyata mengincar! Juru Kunci tersebut terpaksa berkelit, bahkan sampai terlihat seperti hendak jatuh tersungkur dalam upayanya menyelamatkan diri. 

“Yang Terhormat Juri Kunci Candi Kesembilan! Apakah yang dikau lakukan!? Menyerang sesama Juru Kunci merupakan pelanggaran besar!”

“Jangan mentang-mentang sang Yuvaraja berasal dari Kadatuan Kesembilan, sehingga dikau dapat berbuat sesuka hati!” 

Juri Kunci Candi Kesembilan tiada menanggapi. Dalam sekelebat mata, ia telah tiba tepat di hadapan si pengemis gila. Teleportasi jarak menengah! 

Si pengemis gila, di lain sisi, segera mendatangi Juru Kunci Candi Kesembilan. Ia membantu tokoh itu bangkit berdiri, karena posisi tubuh orang tua renta itu sedang bersimpuh sujud ke arah dirinya!

Para Juru Kunci lain, yang masih mengudara di atas candi mereka masing-masing, terkesima. Khalayak yang menyaksikan pun ikut terpana. Bagaimana mungkin seorang tokoh terhormat sekelas Juru Kunci, bisa bersujud di hadapan seorang pengemis gila. Tak dapat dicerna akal! 

Kedelapan Juru Kunci lain, tentu bukanlah tokoh-tokoh yang bodoh dan bebal adanya. Sia-sia belaka hidup selama ratusan tahun serta dipercayakan menjabat peran menjaga gerbang keluar-masuk, bilamana tak memiliki kearifan yang memadai. Mereka menyaksikan sang Juru Kunci Candi Kesembilan memenggal kepala para prajurit ronda, lalu menyerang sesama Juru Kunci tanpa setitik pun berkas keraguan. Dua tindakan tersebut dikarenakan mendapati ada yang berujar lancang kepada sekadar seorang pengemis gila. Tidak hanya itu, Juru Kunci Candi Kesembilan kini sampai bersimpuh sujud di hadapan si pengemis gila itu! 

Di lain sisi, demikian gampangnya si pengemis gila itu membuka dan menutup lorong dimensi, empat di saat yang bersamaan. Sebagai ahli Kasta Emas nan digdaya, mereka sepenuhnya menyadari bahwa tanpa media seperti prasasti batu, ahli sekelas mereka membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk dapat melakukan apa yang dilakukan si pengemis gila. Pastilah tokoh tersebut merupakan seorang bangsawan Wangsa Syailendra. Bahkan, kemungkinan besar adalah...

Sontak mereka para delapan Juru Kunci mendarat di hadapan si pengemis gila. Mereka semuanya bertekuk lutut. Kejadian ini membuat para prajurit jaga yang sempat diselamatkan dan khalayak yang menonton semakin tercengang...

Andai saja mereka tahu, bahwa di sana yang berpenampilan ibarat pengemis gila, tak lain adalah si jenius dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang, yang telah lama menghilang... Andai saja mereka tahu, bahwa tokoh tersebut tak lain adalah Balaputera Ragrawira dari Kadatuan Kesembilan, ayahanda kandung dari sang Yuvaraja!

Balaputera Ragrawira terlihat salah tingkah. Ia tiba di dekat Rimba Candi karena kebetulan semata. Sesungguhnya, sejak awal tiada niatan untuk mengunjungi ibukota Minangga Tamwan. Ia hanya hendak melihat-lihat suasana di pintu masuk kampung halaman sahaja. Setelah nanti bertegur sapa dengan Juru Kunci Candi Kesembilan, pastilah dirinya akan meneruskan perjalanan. Masih banyak hal penting lain yang patut dijalani. 

Kini, segenap perhatian khalayak di Rimba Candi terpusat kepada Balaputera Ragrawira. Betapa sulit mereka mempercayai mata sendiri, bagaimana mungkin tokoh yang berpenampilan sedemikian dapat menyandang nama Balaputera Ragrawira!? Terlebih, tak ada aura kasta dan tingkat keahlian yang menyibak dari dirinya. Siapa pun akan menyimpulkan bahwa sosok tersebut hanyalah manusia biasa saja!

Di lain sisi, segenap Juru Kunci adalah buta mata hati bila tak menyadari dan memahami kebiasaan para ahli Wangsa Syailendra trah Balaputera dari Kadatuan Kesembilan. Hampir kesemuanya anggota keluarga bangsawan itu gemar merapal formasi segel terhadap diri mereka sendiri. Sebuah tindakan yang disengaja untuk menyamarkan kemampuan sejati mereka. 

Seluruh perhatian yang berlebihan ini disebabkan oleh tindakan brutal si Juru Kunci Candi Kesembilan. Balaputera Ragrawira menatap orang tua renta itu dengan lembut. Tak mungkin ia memarahi, karena tokoh tersebut sudah ada bahkan jauh sebelum kakek Balaputera Dharanindra berada di masa jaya. Malahan, kemungkinan besar hanya dirinya dan sang penguasa Kemaharajaan Cahaya Gemilang yang saat ini mengetahui jati diri sesungguhnya dari tokoh yang menyibak aura nan sangat berbeda dari kebanyakan ahli...

“Kumohon... bangkitlah... bangkitlah...” Balaputera Ragrawira terlihat tak nyaman dan salah tingkah. 

Di saat kejadian canggung berlangsung, sebuah pilar cahaya nan bersinar gemilang melesat keluar dari setiap satu sembilan candi. Lurus jauh ke angkasa tinggi, di mana kesembilan pilar cahaya lalu bersatu padu dan membuka sebuah lorong dimensi. 

“Balaputera Ragrawira... Kemarilah!” 

Suara yang demikian perkasa bergema sampai menggetarkan mustika di ulu hati. Suara itu membawa sebuah titah yang menggetarkan jiwa, yang seolah turun dan merupakan kehendak dari langit! 

Segenap khalayak tercengang. Beberapa prajurit ronda yang sempat berlaku lancang, bahkan terjatuh pingsan karena goncangan jiwa. Kedelapan Juru Kunci lain sudah berada dalam posisi bersimpuh sujud sempurna. Hal ini terjadi bukan karena memperoleh kepastian akan jati diri si pengemis gila saja. Melainkan, mereka sepenuhnya mengetahui bahwa titah yang keluar dari lorong dimensi ruang di atas sana, tak lain datang dari... Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa! 

Balaputera Ragrawira menatap pilar cahaya dan lorong dimensi ruang yang membuka. Ia mengagguk pelan, lalu... berlawanan dengan harapan suara, ia memutar tubuh! Tak hanya itu, ia pun melangkah bergegas meninggalkan wilayah Rimba Candi! 

“Balaputera Ragrawira! Apakah engkau menentang titahku!?” 

Kali ini suara yang bergema diimbuh dengan tenaga dalam. Segenap ahli di wilayah Rimba Candi merasakan tekanan yang teramat berat membebani tubuh. Tak sedikit yang kehilangan kesadaran, atau dipaksa merebahkan tubuh!

Kendatipun demikian, tekanan yang dikeluarkan oleh suara tersebut tiada berpengaruh sama sekali terhadap Balaputera Ragrawira. Tak sepatah kata pun terucap, tatkala ia meneruskan langkah santai ibarat tanpa beban. Bukan tak hendak menghormati sang penguasa, akan tetapi, memang ia sedang tak ada alasan khusus untuk mengunjungi Kemahararajaan Cahaya Gemilang atau bersua dengan Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa. 

“Balaputera Ragrawira!” tetiba sebuah formasi segel nanti rumit melesat dari dalam lorong dimensi ruang. Ia mengincar lurus ke arah si pengemis gila yang sedang melangkah pergi... 

Akan tetapi, formasi segel tersebut hanya menerpa angin, karena Balaputera Ragrawira yang muncul secara tetiba di Rimba Candi, telah kembali menghilang pergi... entah ke mana. 


===


“Biar kutebak...” Terdengar suara berat, yang sengaja hendak menampilkan wibawa. 

“Apakah kita akan bermain tebak-tebakan....?” sambutan datang dengan cepat.

“Tidak!” 

“Lalu, apakah maksud dikau dengan menebak...?”

“Murka Alam pertama adalah angin, yang dihadapi dengan berkelit. Murka Alam kedua merupakan air, yang dihadang dengan Tinju Super Sakti warisan dari Super Guru nan maha perkasa. Super Guru ini sungguh teramat digdaya. Sebut saja namanya, maka tak ada ahli di Negeri Dua Samudera yang tak bergemetar lututnya... bahkan sampai terkencing-kencing!”

“Ehem...” Ginseng Perkasa menyuarakan ketidakpuasannya. “Super Guru atau hantu...?”

“Jaga kata-katamu!” Komodo Nagaradja berang. “Murka Alam ketiga, tanah, kembali dihadapi dengan menghindar.... Lalu, pada Murka Alam terakhir, api, dia... dia malah melarikan diri!” 

“Hm...? Dari mana dikau mengetahui akan kemungkinan-kemungkinan ini...?”

“Aku mengenal betul muridku! Bukankah demikian, wahai Murid...? Jangan berpura-pura tidur...”

Pembicaraan yang sedang berlangsung itu memanglah dapat didengar oleh Bintang Tenggara dengan sangat jelas. Ia bangkit duduk dan mendapati diri sedang berada di atas sebuah dipan. Kepala pening dan sekujur tubuh nyeri. Inilah kekurangan utama dari dunia keahlian. Seorang ahli dapat kehilangan kesadaran, hanya untuk mendapati diri di suatu tempat asing dengan kondisi tubuh yang sangat tak nyaman. 

“Benar...,” jawab Bintang Tenggara mengamini tebakan super jitu sang Super Guru. 

“Mengecewakan!” sergah Komodo Nagaradja. 

Perhatian Bintang Tenggara sedang teralihkan ke mustika retak yang dibalut tumbuhan siluman Akar Bahar Laksamana di ulu hati. Berkali-kali ia hendak memastikan, hanya untuk mendapati bahwa isi di dalam mustika di ulu hati masih saja berwarna hijau kemerahan. Perunggu!