Episode 6 - Kao Sie Liong (2)



Seraya menoleh pada kawannya, Kao Sie Liong menundukkan kepala. Ia tidak ingin melewati batasan seorang tamu. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada Resi Gajahyana. Resi Gajahyana sadar tentang hal itu, katanya,” Benar angger Mutaram.”

Ia melanjutkan,” Aku telah meminta Bhre Pajang agar mengijinkan kedua ini bermalam di padepokan. Aku sengaja lakukan itu sambil menunggu kedatangan Bondan.”

“Aku tidak ingin ada perkiraan yang tidak terkendali di dalam lingkungan istana. Karena kalian tentu sudah mengerti setiap pikiran yang menjauhi pengamatan diri, maka darinya akan menyeret manusia dalam kegoncangan yang tidak mempunyai arti. Terlebih angger Kao Soe Liong dan angger Zhe Ro Phan , sudah tentu akan melibat lebih dalam keterikatan jika berdua berada di istana lebih lama.”

Resi Gajahyana menoleh ke kedua orang asing itu, lalu,” Angger berdua datang kemari dalam satu perjalanan yang luhur.”

“Ki Mutaram,” Resi Gajahyana berkata lirih,” Pada dasarnya aku akan bercerita panjang padamu. Namun aku tahu kehadiranmu akan menjadi beban bagi Kao Sie Liong dan kawannya. Karena mereka tidak ingin banyak orang tahu mengenai kepentingan yang sedang mereka jalankan saat datang kemari. Tetapi, aku yakinkan pada mereka bahwa mereka tidak dapat selamanya mempunyai kelemahan untuk mempercayai orang lain.”

Kao Sie Liong menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia berkata,”Baiklah, Eyang Resi.” Ia berpaling kemudian pada Ki Mutaram yang mengangguk padanya.

“Ketika itu,” Resi Gajahyana mengawali kisahnya,” Kao Sie Liong menerobos kepungan api yang melingkari gedung perpustakaan di sebelah barat istana Kaisar Ning Tsung. Ketajaman pikirnya sangat membantu dalam memperkirakan serangan mendadak yang sangat liar seperti yang terjadi ada malam itu. Sejumlah perwira muda dibantu oleh para prajurit yang setia telah bersiaga mengawasi istana kaisar Ning Tsung. Ketika terompet tanda bahaya dibunyikan dari sebelah barat istana, Kao Sie Liong bergegas meloncat ke punggung kuda dan memacu sangat cepat mendahului para prajurit. Jenggotnya yang rapi terawat berkibar-kibar terhempas angin malam. Sinar mata Kao Sie Liong menyiratkan mata seorang yang benaknya tidak dibebani sepenuhnya dengan carut marut kekuasaan dan kepentingan.

“Aku tidak dapat membiarkan orang-orang liar itu dapat menguasai istana ini dengan mudah. Seandainya benar jika mereka berada di pihak Suku Jurchen, tentu hal ini akan mudah untuk diselesaikan. Akan tetapi permasalahan ini akan menjadi rumit jika pada akhirnya mereka mempunyai kepentingan yang tersembunyi, karena dengan begitu Suku Jurchen pun akan menghadapi kekalutan yang tak akan kunjung usai,” desah Kao Sie Liong dalam hati ketika ia menatap kobaran api dari gedung perpustakaan. Kao Sie Liong sepenuhnya memahami hanya dengan membebaskan diri dengan sadar dan bebas, maka hidupnya akan menjadi penuh dengan pengabdian kepada kemanusiaan. Dalam hal ini, kesetiaan Kao Sie Liong kepada kaisar Ning Tsung sedang diuji dengan segelintir teman-temannya yang berbalik arah dengan berpihak pada Suku Jurchen.

Kobaran api menjilat setinggi dinding istana Kaisar Ning Tsung. Lengkung tajam yang menjadi ujung tombak Kao Sie Liong mengeluarkan sinar putih yang menyelimuti tubuhnya dari jilatan api. Sementara itu, Toa Sien Ting meneriakkan perintah untuk dilaksanakan oleh para pengikutnya yang bertempur berhadapan dengan pasukan pengawal Kaisar Ning Tsung. Lelaki bertubuh sedikit pendek dan berbadan gempal ini sesekali mengibaskan senjatanya yang berupa rantai bergerigi tajam pada ujungnya. Umpatan kotor keluar dari bibirnya yang terbalut dengan kumis tipis. Para pengikutnya agaknya telah terbiasa bertempur sambil memaki-maki sehingga para pengawal istana menjadi risih dan sedikit terganggu dengan kata-kata kotor itu.

“Kalian akan mendapatkan kemuliaan jika malam ini dapat menguasai Kaisar Ning Tsung. Emas, permata dan perhiasan lainnya bahkan para wanita yang berada di dalam istana itu akan segera menjadi milik kalian sepenuhnya!” seru Toa Sien Ting yang kemudian disambut teriakan kasar para pengikutnya. Sorak sorai itu berhenti dengan sendirinya ketika sejumlah perwira muda mengikuti jejak Kao Sie Liong, menerjang kepungan pengikut Toa Sien Ting. Para perwira ini berkelebat sangat cepat dengan pedang yang berputaran bagaikan badai menerjang batu karang. Perwira-perwira muda ini sebetulnya adalah para perwira kerajaan yang sedang melakukan penyelidikan. Mereka adalah orang yang memiliki kemampuan tinggi. Kaisar Ning Tsung dan Menteri Zhang Xun Wei membentuk sepasukan khusus untuk menyelidiki keberadaan sekelompok orang yang berilmu tinggi yang akan membelot pada Suku Jurchen. Pengikut Toa Sien Ting tercekat, untuk sesaat mereka tidak tahu harus berbuat apa untuk membendung laju para perwira yang setia pada Kaisar Ning Tsung.

Seorang dengan perawakan gemuk dan perut buncit menatap tajam pertempuran yang terjadi di bawah tempatnya berdiri. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat jika gedung perpusakaan itu dijaga oleh tiga lapis prajurit. Sedangkan dari kejauhan, ia dapat memperkirakan jika istana kaisar Ning Tsung dikelilingi parit selebar satu lontaran tombak. Lalu empat lapis barisan prajurit dan satu pasukan berkuda. Ia berdiri di atas atap gedung yang lebih kecil dan terletak di sebelah utara gedung perpustakaan. Bibirnya sedikit tebal dan lengannya menggambarkan tenaga yang kasar namun kuat. Rambutnya yang panjang terjurai segaris dengan bahu. Tatap matanya lekat menatap jalannya pertempuran. Ia lantas melayang turun, sebatang tombak dengan ujung berbentuk bulan sabit yang digenggamnya bergulung-gulung sangat cepat mengurai serangan para perwira Kaisar Ning Tsung.

“Toa Sien Ting, aku tidak bermaksud mencampuri urusan orang lain. Apalagi urusan yang terkait dengan dirimu. Tetapi telah menjadi persetujuan kita bersama bahw pekerjaanku adalah menolongmu agar tidak terjerat perangkap Kao Sie Liong.”

“Tak usah kau berkata seperti itu, Chow Ong Oey. Karena kau sendiri pun mempunyai kepentingan jika istana ini berada dalam kuasaku,” seru Toa Sien Ting. “Sebaiknya kau katakan itu pada si tua Tung Fat Ce’”

“Persetan!” bentak Chow Ong Oey. Para pengikut Toa Sien Ting nampaknya tidak terpengaruh dengan percakapan kasar kedua tokoh dunia hitam itu. Mereka tenggelam dalam sorak sorai dengan kehadiran Chow Ong Oey yang terkenal dengan julukan Naga Hitam dari Gurun Gobi. Julukan yang diperolehnya karena ia memiliki ilmu luar biasa yang mampu meremas jantung lawan melalui bau busuk yang keluar dari nafasnya. Chow Ong Oey dengan garang menerobos barisan yang disusun perwira-perwira dari istana. Satu tubuh melayang keluar ketika mencoba menangkis hempasan tombak yang bermata bulan sabit milik Chow Ong Oey. Keseimbangan pertempuran menjadi berubah. Kehadiran Chow Ong Oey ternyata memberi pengaruh pada mental prajurit istana yang bertarung dengan orang-orang berwajah kasar. Para perwira ini tidak segera menyerahkan senjatanya, justru mereka semakin rapat melakukan kepungan dan menyerang Chow Ong Oey dengan kuat dan rapi.

Tentu saja Toa Sien Ting tidak dapat berdiam diri melihat kepungan itu semakin rapat mendesak Chow Ong Oey. Setelah ia melihat anak buahnya berada dalam keadaan yang cukup baik, ia lantas mengambil dua atau tiga perwira muda untuk mengurangi jumlah lawan Chow Ong Oey. Sayang sekali usaha Toa Sien Ting mendapatkan hambatan baru. Sepasukan pengawal yang datang dari lapisa yang kedua menyusul kemudian dari istana Kaisar NIng Tsung datang menyerbunya dan mengepung Chow Ong Oey. Chow Ong Oey menyadari datangnya bahaya bahwa ia tidak akan bisa lolos dari kepungan, maka suitan nyaring keluar dari bibirnya.