Episode 32 - Kuau Kakimerah


“Anakku, ingatlah bahwa darah Dayak Kaki Merah mengalir di dalam nadimu.” ungkap seorang ayah kepada anak perempuannya.

Sang ayah terlihat sebagai seorang lelaki tua dengan aneka rajah atau tato yang menghiasi sekujur tubuhnya. Kalau dilihat dari motif jumlah rajah-rajah tersebut, maka tidak diragukan lagi betapa besar peran dan pangkat lelaki tersebut di dalam sukunya.

“Ingatlah bahwa Dayak Kaki Merah adalah suku paling perkasa di rimba belantara. Tubuh kita ringan, langkah kaki cepat, dan alam mengaruniai kemampuan penyembuhan diri. Roh tetumbuhan pun selalu mengikuti dan melindungi dari mara bahaya,” kembali sang ayah berujar kepada anak perempuannya.

“Kaum lelaki Dayak Kaki Merah adalah pemburu yang tangguh. Meski demikian, kita berpantang membunuh binatang yang lengah. Kejutkan rusa yang sedang diam, barulah kita mulai berburu menggunakan sumpit dan mandau! Ada pun kaum perempuan Dayak Kaki Merah, yang cermat memelihara tetumbuhan, memiliki keterampilan meramu kesaktian dari daun, bunga, buah, dahan dan akar.”

Sepertinya lelaki tua itu sudah sering mengingatkan tentang kearifan suku, namun dari ekspresi wajah keriputnya, justru terlihat kepedihan yang mendalam.

“Malangnya, suku Dayak Kaki Merah adalah suku yang dinistakan. Suku kita dituduh dan dianggap sebagai pembelot saat Perang Jagat berlangsung. Betapa keji perlakuan mereka yang dianggap sahabat... mencelakai para pahlawan Dayak Kaki Merah tanpa memberi kesempatan membela diri.”

Kini kepedihan lelaki tua itu berubah menjadi percik-percik amarah.

“Beruntunglah Dewan Rimba bersikeras bahwa keturunan suku kita wajib dipertahankan. Itu pun dikarenakan kenyataan bahwa hanya garis keturunan Dayak Kaki Merah yang dapat membuka Gua Awu-BaLang, sebuah dimensi sakral untuk meningkatkan keahlian persilatan dan kesaktian.”

Ciri khas suku Dayak Kaki Merah terlihat jelas dari orang tua itu. Kedua kakinya diwarnai merah menggunakan daun saronang atau daun jarenang. Meski demikian, ada yang berbeda dari anak perempuan yang sedang mendengarkan petuah dari ayahnya itu.

“Sesaat sebelum kau lahir, seekor binatang siluman burung Kuau Raja Ganda datang berkunjung. Lalu saat kau lahir... betapa terkejutnya aku ketika melihat bahwa kaki kananmu berwarna merah!” sang ayah kini tersenyum lembut.

“Hari itu kau kunamakan... Kuau Kakimerah,” ungkap sang ayah bangga, sambil mengingat perasaan betapa senang dirinya di saat kelahiran putrinya itu.

“Namun, selama 12 tahun hidupmu, kau harus menjalani hinaan dan cacian sebagai keturunan suku pembelot... Bahkan, tak satu pun suku besar di Pulau Belantara Pusat ini yang sudi mengangkat dan mendidikmu...”

“Ayah...” Belum sempat Kuau Kakimerah menyampaikan bahwa selama ia berada bersama keluarga, yang hanya terdiri dari beberapa puluh orang anggota suku, ia sudah cukup bahagia... sang ayah segera melanjutkan kata-katanya.

“100 malam yang lalu aku bermimpi... binatang siluman burung Kuau Raja Ganda kembali datang berkunjung. Burung itu menatapmu, lalu terbang ke langit tinggi...” ekspresi sang ayah kini berubah serius.

“Pada tengah malam itu aku terbangun, lalu menengadah... dan kulihat... sebuah ‘bintang’ di langit ‘tenggara’ bersinar cemerlang.”

Selama ini, Kuau Kakimerah selalu menerima umpatan dan hinaan sebagai keturunan suku pembelot dengan senyuman. Tidak pernah ia menunjukkan emosi duka. Saat ini pun, ia melihat ayahnya sambil tersenyum, walau air mata mulai menetes di kedua pipi lembutnya.

“Kejadian ini selaras dengan ramalan ratusan tahun lalu...” sang ayah kini menatap bintang di langit malam.

Air mata Kuau Kakimerah tak terbendung mengalir, ia tak ingin berpisah...

“Esok, Kuau Kakimerah putriku, kau akan bertolak menuju Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa.”


***


Hari telah beranjak petang ketika perahu yang membawa Bintang merapat ke dermaga yang terletak di wilayah timur Pulau Sabana.

Para penjemput telah bersiaga. Terlihat seorang suami menanti anak dan istrinya terkasih. Terlihat pula belasan buruh panggul menunggu kedua saudagar majikan mereka.

Tidak terlihat ada rombongan penjemputan untuk bangsawan yang kini tak lagi bernyawa. Berdasarkan informasi dari kepala pengawal, majikan mereka hanyalah bangsawan kecil tanpa wilayah kekuasaan yang berarti di Kerajaan Parang Batu. Ia hanya berhak atas beberapa petak perkebunan dan sebuah istana kecil. Hidupnya sebatang kara tanpa sanak keluarga dekat. Seluruh pengikutnya hanyalah rombongan duka yang kini bersiap turun dari perahu dan melanjutkan perjalanan mereka ke Pulau Batu.

“Adik Ahli, abdi ingin mengucapkan terima kasih karena menyelamatkan kami semua dari serangan di atas perahu pagi tadi,” ungkap si pendekar sambil berjalan menghampiri Bintang di dermaga.

“Cih, apa mau pendekar kelas teri ini?” Nagaradja masih saja menyepelekan si pendekar.

Bintang tersenyum ke arah si pendekar. Pada saat yang sama mata hatinya mencari sesuatu dari dalam ruang dimensi di dalam mustika retak milik Nagaradja.

Di dalam ruang dimensi mustika itu tentu terdapat Tempuling Raja Naga, naskah daun lontar Delapan Penjuru Mata Angin, Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian, beberapa kitab tak dikenal, beberapa bilah belati, sekantong kecil mustika binatang siluman, sebuah kantong sedang yang berisi kepingan emas, Lencana Pasukan Telik Sandi, sebuah gulungan naskah rahasia titipan, serta berbagai jenis batuan. Kecuali Lencana Pasukan Telik Sandi dan gulungan naskah rahasia milik Panggalih Rantau yang perlu diantarkan ke Kerajaan Parang Batu, kesemuanya adalah barang-barang milik Komodo Nagaradja dari Pulau Bunga.

Mata hati Bintang terhenti pada sebuah batu berkilau berwarna hijau. Di antara batu-batu lain, batu ini terlihat paling biasa. Segera ia keluarkan batu yang berukuran sebesar ibu jari orang dewasa tersebut dengan berpura-pura menyelipkan tangan ke dalam celah di antara kancing baju.

“Paman pendekar, terimalah batu ini,” ungkap Bintang.

Seketika itu juga si pendekar tersontak! Kedua bola matanya melotot. Lututnya bergetar, kedua telapak tangannya perlahan mengangkat, dan menggigil.

“Ba… Batu… Bacan… Taruna…” suaranya terbata-bata. “Adik Ahli, darimana dikau memperoleh batu ini? Sudah puluhan tahun lamanya abdi mencari-cari batu ini ke seluruh penjuru Negeri Dua Samudera...”

Bintang sedikit tertegun. Ia sama sekali tidak mengetahui nama dan manfaat batu tersebut. Ia hanya merasa perlu memberi sesuatu kepada si pendekar karena berani membela kebenaran meski berbekal kesaktian hanya ala kadarnya. Terlebih lagi, berkali-kali gurunya menghina si pendekar. Meski tak ada orang lain yang mendengar, Bintang merasa bersalah.

“Hei, murid paling berbakti… apa yang kau lakukan?” Nagaradja menegur mata hati Bintang dengan nada mencemooh.

“Batu tersebut adalah pemberian guruku. Mohon paman pendekar sudi menerimanya.”

“Aku tak pernah memberikan batu itu kepadamu. Kau mengutilnya dari ruang penyimpananku di Pulau Bunga…”

“Atas alasan apa Adik memberikan batu ini kepada abdi…? Abdi bersedia membeli batu ini,” ungkap si pendekar masih belum berani menyentuh batu tersebut.

“Paman terimalah… Aku tak memerlukannya,” jawab Bintang ringan sambil menyodorkan batu tersebut.

Dengan mata yang kini berkaca-kaca, si pendekar menerima Batu Bacan Taruna.

“Adik Bintang Tenggara, sungguh abdi ucapkan terima kasih yang tak terkira atas pemberianmu ini. Di saat yang sama, abdi memohon maaf bila saat ini belum bisa mengungkap jati diri yang sebenarnya. Sebagai gantinya, terimalah lencana ini. Tunjukkan lencana ini bilamana Adik berada di wilayah barat Pulau Jumawa Selatan.”

Bintang menerima sebuah lencana lonjong dengan ukiran sebuah senjata tajam berbentuk unik di bagian tengahnya. Setelah memberikan lencana, si pendekar menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat, lalu memutar badan dan bergegas pergi. Bintang tak terlalu menghiraukan lencana tersebut dan melemparnya ke dalam ruang dimensi penyimpanan.

“Eh…?” terdengar Nagaradja bereaksi ketika melihat lencana, tapi tak ada amarah yang menyusul.

Ada kemungkinan gurunya mengenal lencana tersebut. Namun Bintang tak mau memancing di air keruh, dan memutuskan lebih baik tidak berbicara dengan sang guru untuk sementara waktu.

Bintang pun melanjutkan langkah menuju pintu keluar dermaga. Kedua matanya lalu menangkap sebuah spanduk berwarna kuning lebar terbentang di atas gerbang menuju ke kota.

 

          Selamat Datang di Kota Dana

Peserta Muktamar Pawang Tingkat Wilayah


“Astaga!” Tiba-tiba perut Bintang terasa mual. Ia sangat, sangat berharap bahwa pertemuan dengan Kum Kecho tidak akan terulang kembali. Tapi kini, ia menyadari bahwa anggota Partai Iblis tersebut memang memiliki tujuan khusus di Kota Dana.

Kehidupan di Kota Dana, sebuah kota kecil di timur Pulau Sabana, cukup ramai. Sebagai kota yang menghubungkan pulau-pulau di wilayah tenggara, kehidupan masyarakatnya diuntungkan dengan maraknya perdagangan. Maka tidak heran bila pelabuhannya cukup besar. Di sepanjang jalan kota pun banyak terdapat berbagai gerai dan kamar dagang saudagar dari seluruh penjuru Negeri Dua Samudera. Tambahan lagi, karena masyarakat kota dan wilayah sekitar juga memiliki atau bekerja di lahan pertanian, perkebunan dan perikanan, pilihan sumberdaya yang diperdagangkan semakin ramai.

Namun keramaian di pusat kota kali ini bukan lagi disebabkan oleh hiruk-pikuk perdagangan. Sebagai tuan rumah Muktamar Pawang Tingkat Wilayah, telah banyak berdatangan pawang dari wilayah tenggara Negeri Dua Samudera. Hadir pula pawang-pawang dari wilayah timur Pulau Jumawa Selatan dan wilayah selatan Pulau Logam Utara. Tentu saja, karena hanyalah muktamar skala wilayah, tak seorang pun pawang yang berkasta emas hadir. Pawang terkuat yang hadir paling tinggi berada pada Kasta Perak Tingkat 5.

Akibat ramainya pawang yang hadir, Bintang kesulitan mencari penginapan tempat tinggal sementara. Karena tak hendak terus-menerus menyalahgunakan Lencana Perunggu Perguruan Gunung Agung, pada akhirnya ia menumpang di rumah penduduk. Perahu berikutnya yang akan menuju Pulau Batu baru bertolak dua hari kemudian.

Keesokan harinya Bintang menelusuri jalanan Kota Dana. Ini adalah kali pertama ia mengunjungi sebuah kota, meski hanya kota kecil. Sambil melakukan kebiasaan menghitung setiap langkah kaki, ia menelusuri penjuru kota. Ia keluar masuk berbagai gerai untuk memanjakan mata. Ia juga mengikuti seminar dasar-dasar keterampilan khusus tentang pawang yang diberikan oleh panitia muktamar untuk masyarakat umum.

Pada beberapa kesempatan, ia juga bertanya-tanya seputar serangga siluman, seperti nyamuk, kutu, kepik dan capung kepada pawang-pawang yang ia temui. Alangkah terkejutnya ia ketika mendeskripsikan serangga-serangga siluman milik Kum Kecho dan menemukan bahwa kesemua serangga tersebut sangatlah langka. Sedangkan si lintah, tak satu pun pawang yang ia temui mengetahui tentang lintah sebagaimana yang ia gambarkan. Satu-satunya kesimpulan yang dapat ditarik adalah karena pawang yang ia temui hanyalah mereka yang berkasta perunggu, sehingga memang terbatas pengetahuan mereka. Atau mungkin Kum Kecho memiliki seorang guru yang luar biasa tinggi keahlian keterampilan khususnya.

Di sudut lain kota, Bintang melihat anak-anak kecil mengikuti lomba mewarnai gambar berbagai binatang siluman. Bentuk gambar-gambar tersebut sangatlah lucu dan penuh warna-warni. Tiada kesan menyeramkan bila dibandingkan dengan ceritera-ceritera tentang Perang Jagat seribu tahun lalu. Mungkin ini adalah salah satu pesan yang ingin disampaikan oleh muktamar pawang, bahwa binatang siluman tidaklah jahat, malahan memiliki banyak manfaat.

Tiba-tiba Bintang melihat kerumanan orang di pusat kota. Terdengar pula sorak-sorai layaknya orang-orang yang memberikan dukungan. Bintang pun segera menghampiri. Di atas panggung, atau lebih tepatnya undakan tanah yang ditinggikan, ia melihat dua orang lelaki berhadapan.

“Kakak Ahli, panggilanku Pawang Tanduk Besi dari Pulau Logam Utara. Sudi kiranya Kakak Ahli memberikan tunjuk-ajar.”

“Haha... Kebetulan sekali. Panggil aku Pawang Tanduk Banteng,” ungkap lawannya. “Asalku dari Pulau Garam.”

Pawang Tanduk Banteng kemudian mengeluarkan sebuah kartu. Bentuk kartu tersebut persegi empat, ukurannya sekitar setelapak tangan orang dewasa. Pada permukaan sisi luar kartu terlihat gambar formasi segel, sedangkan pada permukaan sisi dalamnya terlihat gambar seekor banteng serta deretan keterangan dan angka yang mewakili daya serang, daya tahan, kecepatan, dan kemampuan khusus banteng tersebut.

Kemudian, Bintang merasakan kehadiran aura segel dari lembar kartu di tangan Pawang Tanduk Banteng tersebut.

“Banteng Karapan, keluarlah! Penuhi harapan tuanmu!”

Di saat itu juga kartu berpendar, lalu muncul sebuah lubang hitam besar dimana dari dalamnya seekor banteng besar keluar. Terdengar sorak-sorai penonton yang tak sabar menantikan dua orang pawang mempertunjukkan keterampilan khusus mereka.

“Maka aku memohon kehadiranmu... Anoa!” teriak Pawang Tanduk Besi sambil mengeluarkan kartu yang sama bentuknya. Perbedaan pada kartu miliknya tentu saja terletak pada gambar formasi segel di sisi luar dan gambar anoa bersama statistiknya pada sisi dalam kartu.

Berkat seminar yang ia ikuti sebelumnya, Bintang kini lebih memahami tentang keterampilan pawang. Seorang pawang pertama-tama menjinakkan dan membangun ikatan dengan binatang siluman agar bersedia menuruti perintah. Mereka memelihara binatang siluman dengan kasih sayang sampai ke tahap binatang tersebut rela dikendalikan, dan rela disegel. Proses menjinakkan inilah yang paling rumit, karena memakan upaya dan waktu bertahun-tahun, bahkan sampai belasan tahun.

Binatang siluman yang dapat dijinakkan pun haruslah dari kasta yang sama dengan pawangnya. Bila tidak, seorang pawang berkasta perunggu, tentu akan sangat kesulitan menjinakkan binatang siluman berkasta perak.

Setelah dijinakkan, barulah binatang siluman dapat ‘disimpan’ di dalam kartu. Segel ruang dan waktu sederhana yang menggunakan kartu sebagai medium, menciptakan gerbang dimensi yang kemudian memperbolehkan binatang siluman memasuki ruang hampa dimana waktu terhenti.

Kartu tempat berdiam binatang siluman dikenal luas dengan nama ‘Kartu Satwa’.

Dari waktu ke waktu, pawang perlu mengeluarkan binatang silumannya untuk menghindari efek samping dari segel ruang dan waktu, serta memberi makan atau berlatih. Sungguh panjang syarat dan ketentuan atas keterampilan khusus pawang, pikir bintang.

Bilamana hendak memanggil binatang siluman, para pawang lalu mengirimkan tenaga dalam kepada Kartu Satwa, lalu membuka segel menggunakan mata hati. Setelah binatang siluman menembus dan keluar dari gerbang dimensi, pawang akan terus menggunakan mata hati untuk mengomandoi binatang silumannya. Pemandangan inilah yang kini terjadi di depan mata Bintang.

Uji tanding berlangsung cepat. Penonton terus menerus bersorak-sorai. Pada akhirnya, tak ada yang menang dan tak ada yang kalah. Tak ada pula yang terluka. Kedua pawang di atas panggung berjabat tangan menandakan keduanya banyak belajar dari satu sama lain.

“Menjemukan!” tiba-tiba terdengar suara mencemooh dari sudut panggung. Seorang lelaki kurus tinggi kemudian terlihat menaiki tangga panggung dengan raut wajah angkuh.

“Apa manfaatnya bertarung namun tak meneteskan darah! Apa yang kalian pelajari dari jual-beli serangan lemah seperti itu?!” kini dari atas panggung lelaki tersebut berseru ke khalayak.

“Barangsiapa yang dapat mengalahkanku, maka akan mendapatkan hadiah binatang siluman ini,” ungkapnya dengan nada menantang sambil mengayunkan-ayunkan sebuah Kartu Satwa ke atas.

“Aku, Panglima Segantang, yang akan mengalahkan dikau dan mengambil kembali Kartu Satwa Harimau Bara itu!” tiba-tiba terdengar suara menjawab. Lalu, seorang anak remaja berambut cepak, bertelanjang dada, dan bertubuh kekar melompat ke atas panggung. Dengan menyoren sebilah parang besar di punggung, ia terlihat begitu percaya diri.