Episode 31 - Misteri Kematian Bangsawan


“Kyaaa!”

Terdengar teriakan salah seorang dayang-dayang yang bertugas merawat si bangsawan memecah keheningan pagi. Teriakan itu juga menyadarkan semua yang ada di geladak perahu. Di hadapan gadis itu, si bangsawan, mata melotot, tergeletak tak bernyawa.

...

Seorang kepala pengawal berusia sekitar 30an tahun. Bertubuh besar dan dipercaya sebagai tangan kanan sang bangsawan. Kesetiaannya tiada tara, bahkan rela mengorbankan jiwanya untuk melindungi sang majikan, dan istrinya. Apakah mungkin ia memendam sesuatu? Cinta terlarang?

Empat orang prajurit di bawah komando si kepala pengawal. Keempatnya seperti seumuran, belum ada 20 tahun usia mereka. Prajurit A, Prajurit B dan Prajurit C terlihat tidak memiliki ambisi yang terlalu besar. Bahwa kehidupan sebagai prajurit saja sudah cukup bagi mereka menafkahi keluarga. Akan tetapi, Prajurit D terlihat berbeda. Lagaknya menunjukkan bahwa ia memiliki kepandaian di atas rata-rata. Dari gelagatnya pula ia terlihat terpesona pada salah satu dayang-dayang. Mungkinkah... cinta terlarang?

Dua orang dayang-dayang. Sebut saja Mawar dan Melati. Berumur sekitar 17 tahun. Lebih kurang sama cantiknya. Apakah si bangsawan pernah berupaya memanfaatkan mereka lebih dari sekedar dayang-dayang. Petunjuk akan adanya... cinta terlarang?

Si pemegang payung. Seorang lelaki bertubuh kecil berusia sekitar 20an tahun. Senantiasa menjaga agar si bangsawan tidak terkena paparan sinar matahari berlebih yang dapat menyebabkan bertambahnya keriput di wajah. Kemana pun si bangsawan pergi, ia akan selalu mengikuti. Meski ada dayang-dayang, tapi ialah yang paling dekat dengan si bangsawan. Apakah ini... cinta terlarang?

“Guru, mengapa Guru menarasikan para pendamping bangsawan sedemikian rupa? Dan ada apa pula dengan tema ‘cinta terlarang’?” tanya Bintang dengan polos.

“Diam kau!” sergah Nagaradja. “Murid tak tahu diuntung. Aku belum selesai dengan narasi ‘Misteri Kematian Bangsawan’...

Dua orang saudagar. Sebut saja mereka Saudagar 1 dan Saudagar 2. Meski tak terlihat sebagai orang-orang yang berperangai jahat, tapi para saudagar dikenal dengan kemampuan mereka memanipulasi dan menyusun rencana tersembunyi.

Seorang ibu dan anak kecilnya mengarungi lautan. Kemanakah suaminya? Apakah penyebab ketidakhadiran sang suami? Setega itukah seorang suami kepada darah dagingnya?

Seorang pendekar rendahan. Berumur sekitar 30an tahun, tapi hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 3. Berpetualang dengan niat mengasah ilmu. Ah... Dalam seumur hidupnya, mungkin paling tinggi hanya akan mencapai Kasta Perunggu Tingkat 5. Sungguh mengecewakan.

“Guru...” Bintang kembali menyela. “Guru mulai menghina orang lain.”

“Aku hanya memaparkan kenyataan. Kau diam saja dulu!”

Lalu, ada seorang bocah beruntung. Ia diangkat murid oleh seorang guru digdaya bernama Komodo Nagaradja. Masa depannya cerah, sepanjang ia mau mendengarkan kata-kata gurunya. Sang guru sangat terkenal di pelosok negeri, membasmi kebatilan dan membela kebenaran. Sungguh pribadi yang mulia...

Oh... Bintang Tenggara nama bocah tersebut.

Bintang: “...”

Lalu terakhir... Seorang tokoh misterius. Mengenakan Jubah Hitam Kelam. Anggota Partai Iblis. Menjagal teman-temannya sendiri tanpa ampun. Sungguh kejam. Kum Kecho ia dikenal...

Siapakah di antara mereka yang membunuh si bangsawan? Akankah Misteri Kematian Bangsawan terpecahkan sebelum perahu tiba di Pulau Sabana? Mampukah Komodo Nagaradja menuntaskan misteri kali ini...?

Nagaradja menutup narasi dengan nada penuh misteri. Sayup-sayup terdengar suara semilir angin dan desir ombak.

Di saat Nagaradja menyampaikan narasi, kepala pengawal bersama keempat orang prajurit, serta si pendekar telah mengelilingi Kum Kecho. Mereka seperti yakin betul bahwa Kum Kecholah pelakunya.

“Pembunuh!” teriak kepala pengawal.

“Akui kejahatanmu!” sergah si pendekar.

Kum Kecho hanya menatap kosong kepada orang-orang yang mengelilinginya.

“Jika aku hendak membunuh bangsawan itu, tak perlu aku lakukan dengan sembunyi-sembunyi.” Kemudian Kum Kecho berdiri, dan berjalan menuju mayat bangsawan.

“Aku dapat membunuh kalian semua saat ini juga.” Kini Kum Kecho berada tepat di samping mayat bangsawan. Dahinya berkerut. Dalam hati ia pun bertanya-tanya siapakah pembunuh si bangsawan. Berani-beraninya pembunuh tersebut mengkambinghitamkan dirinya. Ia sadar bahwa si pembunuh sengaja mengambil kesempatan ketika muncul sosok yang tak dikenal sekaligus mencurigakan.

Yang paling membuat penasaran, sebagai ahli pawang yang memiliki kemampuan indera keenam lebih baik dari rata-rata ahli silat dan ahli sakti, sejak awal tiba dan selama berada di atas perahu, ia telah menebar mata hatinya. Semalaman pun ia tak tidur, lalu bagaimana mungkin pembunuhan terjadi tanpa ia sadari, pikir Kum Kecho.

“Lintah Intai Sergap,” Kum Kecho bergumam pelan. Seketika itu juga seekor lintah berukuran selebah satu setengah jengkal dan sepanjang lengan, berwarna abu-abu gelap dengan alur berwarna kuning tipis di sisi-sisi tubuhnya, merayap perlahan ke tubuh mayat bangsawan.

“Apa yang kau lakukan?!” teriak kepala pengawal, meski ia tak berani berbuat apa-apa.

Penonton lain yang sedang berada di lokasi menyeringai menyaksikan geliat lintah.

“Tidakkah kalian ingin mengetahui penyebab kematian dan pelaku pembunuhan?” Kum Kecho menjawab tenang. “Lintah ini memiliki kemampuan untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut.”

“Benarkah itu? Bagaimana kami bisa mempercayaimu?” si pendekar menyergah, namun tak berani melangkah maju. Lintah terus merayap ke sekujur tubuh mayat.

“Penyebab kematian adalah bekas terbakar kecil di tengkuknya,” ungkap Kum Kecho.

Kepala pengawal bergegas memeriksa tengkuk bangsawan. Saat menyibak rambut tipis di bagian tengkuk, terlihat bekas ruam seperti terkena benda panas sekecil biji buah pepaya.

Siapa pun bisa menyimpulkan bahwa pembunuhan dilakukan bukan oleh sembarang orang. Hanya seorang ahli yang dapat membunuh hampir tanpa meninggalkan jejak seperti itu. Berbicara tentang ahli, di atas perahu hanya ada Kum Kecho, Bintang, si pendekar, dan kepala pengawal. Apakah ada ahli lain? Ahli yang dapat menyembunyikan mustika tenaga dalamnya?

“Bagaimana kami bisa mempercayai kata-katamu!?” sergah kepala pengawal. “Bisa saja kau membuat ceritera dusta! Mungkin saja kau adalah pembunuh bayaran!”

“Kau tanyakan saja padanya,” jari telunjuk Kum Kecho mengacung ke arah Bintang.

Bintang yang sedari tadi hanya berdiam, tidak ingin melibatkan diri, tidak menyangka bila Kum Kecho akan membawa-bawa dirinya. Apa rencana tokoh itu, pikir Bintang.

Ia lalu mengeluarkan Lencana Perunggu Perguruan Gunung Agung. Kepala pengawal, para prajurit dan si pendekar terkejut. Baik di hadapan Kepala Dusun di Dusun Pelabuhan Bukit Kapur maupun kini di atas perahu, ia hanya menunjukkan lencana tersebut. Tak pernah ia menyebutkan diri sebagai murid Perguruan Gunung Agung, karena memang bukan. Belum. Meski, ia tak pernah menampik anggapan orang-orang tersebut.

“Tuan Ahli, maafkan kelancangan hamba sehari yang lalu,” ungkap kepala pengawal, yang kini kehilangan perannya sebagai pengawal.

“Adik Ahli, sungguh aku tak menyangka. Kami mohon bila Adik dapat memberi petunjuk,” ungkap si pendekar.

“Hm…? Ternyata benar bukan Kum Kecho pembunuhnya…” Nagaradja terdengar seolah-olah sudah mengetahui sejak awal. “Kalau demikian, pastilah si pendekar mengecewakan itu. Ia adalah pembunuh bayaran yang berpura-pura menjadi pendekar lemah.”

“Tuan pengawal dan pendekar, cara untuk mengetahui pembunuhnya persis seperti yang telah disampaikan Tuan Pawang itu tadi,” ungkap Bintang dengan tenang, mengabaikan gurunya.

“Sungguh seekor lintah yang istimewa,” Bintang berbicara kepada Kum Kecho, dengan lagak bahwa ia mengetahui asal-usul lintah.

“Kemampuannya bukan hanya dapat mencari tahu penyebab kematian. Lintah itu juga dapat mendeteksi aura si pembunuh dari bekas ruam yang ditinggalkan. Sehingga, bila si pembunuh menyentuhnya, maka pastilah lintah tersebut bereaksi.”

Meski Kum Kecho terlihat tenang, ia kembali merasa dimanfaatkan. Pertama oleh si pembunuh, kini oleh Bintang. Meski ia juga menyadari bahwa ini merupakan pembalasan atas tindakannya melibatkan Bintang dalam teka-teki misteri ini.

“Ijinkan kami menyentuh lintah milik Tuan secara bergantian untuk menemukan siapa pembunuhnya,” ungkap Bintang kepada Kum Kecho.

Penumpang kapal lainnya hanya memandang Kum Kecho. Dua gadis dayang-dayang menyeringai membayangkan betapa menjijikkannya bila mereka harus menyentuh makhluk yang lembek dan berlendir tersebut.

“Terserah maumu,” Kum Kecho acuh tak acuh, sambil membuang muka. Padahal, tak ada alasan baginya membantu orang-orang itu. Sepertinya ia hanya ingin menyaksikan rencana Bintang. Rasa penasaran masih ada di dalam hatinya, karena ia belum mengetahui siapa sesungguhnya Bintang.

“Baik, sekarang kita bisa bergiliran menyentuh lintah itu,” Bintang menunjuk ke arah lintah yang masih berada di atas tubuh mayat bangsawan. Dalam hati ia turut meringis, karena ia sendiri enggan menyentuh lintah tersebut.

Satu per satu penumpang perahu menempelkan telapak tangan mereka ke sisi bagian atas lintah. Lintah sama sekali tak menunjukkan reaksi apa-apa. Pada akhirnya, hanya Kum Kecho dan Bintang yang belum menyentuh tubuh lintah. Saat gilirannya tiba, Kum Kecho justru mengangkat perlahan tubuh lintah, lalu tiba-tiba melempar lintah tersebut ke salah satu dayang-dayang!

Lintah segera menempel dan menyebar membalut pundak dan lengan dayang-dayang tersebut.

“Apa yang kau lakukan!?” bentak kepala pengawal.

“Lepaskan aku!” dayang-dayang tersebut berupaya melepaskan lintah yang kini terus membesar di pundak dan lengannya.

“Ia sudah menyentuh lintahmu dan tak ada reaksi, apa maumu sekarang!?” teriak sang pendekar.

“Sungguh ia tidak menyentuh lintah itu,” ungkap Bintang. “Jika diperhatikan dengan seksama, ia hanya berpura-pura menyentuh lintah, lalu segera menarik telapak tangannya dan menyeka menggunakan sapu tangan seolah ingin segera membersihkan lendir yang menempel. Padahal, memang tak ada lendir yang menempel di telapak tangannya.”

Kum Kecho juga menyadari hal yang sama. Bedanya, sebagai seorang pawang dengan mata hati yang sangat tajam, ia dapat merasakan apa pun yang dirasakan lintah miliknya. Tambahan lagi, lendir lintah yang menempel tidak akan mudah dibersihkan, karena memang salah satu dari kelebihan jurus Lintah Intai Sergap adalah kemampuan lendir untuk meninggalkan jejak yang meski dibersihkan, akan tetap meninggalkan aura yang dapat dirasakan oleh pawangnya.

Namun, meski benar bahwa lintah tersebut dapat mendeteksi aura, bekas ruam yang tertinggal di tengkuk mayat bangsawan sesungguhnya tidak meninggalkan aura sama sekali. Kum Kecho telah menyadari hal ini sedari awal, dan berkesimpulan bahwa si pembunuh sangat berhati-hati dalam bertindak. Tapi, rupanya si pembunuh tetap ingin berjaga-jaga sehingga memilih agar lebih baik tidak menyentuh lintah.

Dengan memanfaatkan keberadaan lintah dan sikap kehati-hatian yang berlebihan dari si pembunuh, Bintanglah yang sesungguhnya berhasil menjebak si pembunuh. Sungguh kecerdikan yang tidaklah lazim ditemukan pada anak seusianya.

“Benarkah kau pembunuhnya?” tanya kepala pengawal, yang masih meragukan kenyataan di depan matanya.

“Aku tak bisa terima bila Melati adalah pembunuhnya. Segera bekuk pendekar kecewa itu!” ungkap Nagaradja dalam kesadaran Bintang.

“Cuih!” dayang-dayang yang kini dililit lintah, dan oleh Nagaradja dinamai Melati, meludahi mayat bangsawan.

“Bersama gerombolannya, bangsawan busuk itu memfitnah dan menyebabkan kematian keluargaku! Apa salahnya bila aku menuntut balas!? Apa salahku!?”

Kedua bola mata Melati melotot dan memerah! Urat-urat menyembul keluar dari pelipis, rambutnya acak-acakan. Wajah yang tadinya ayu berubah menjadi beringas!

“Bagaimana caranya kau menyembunyikan mustika tenaga dalammu?” tanya Kum Kecho pelan.

Karena Lintah Intai Sergap dapat menyerap tenaga dalam korbannya, Kum Kecho kini dapat merasakan bahwa gadis tersebut sesungguhnya memiliki mustika tenaga dalam; atau dengan kata lain, adalah seorang ahli. Senyum tipis kemudian muncul di sudut bibir Kum Kecho.

Meski tubuhnya mulai melemah akibat lilitan Lintah Intai Sergap, kedua mata melati terus melotot. Kedua mata itu mengungkapkan bahwa sampai mati pun takkan ia membuka mulut.

“Kau akan ikut denganku... Sedangkan kalian semua akan segera menemui ajal!”

Seketika itu juga terlihat semacam pusaran angin putting beliung berwarna hitam menyibak dari balik Jubah Hitam Kelam. Bersamaan dengan itu terdengar bunyi berdenging yang membuat dengkul menggigil.

1000 Nyamuk Buru Tempur!

Kawanan nyamuk segera menyebar menuju sasaran mereka. Kepala pengawal bersama empat orang prajuritnya, seorang pemegang payung dan dayang-dayang satunya, hanya bisa diam terpaku. Terlihat kengerian dari raut wajah mereka. Si pendekar meloncat mundur ke arah ibu dan anak serta kedua saudagar. Ia akan mengemban tanggung jawab melindungi mereka.

Bintang pun terkejut dengan perubahan situasi yang demikian mendadak. Ia lengah. Semestinya ia tetap waspada terhadap keberadaan Kum Kecho. Segera ia melompat ke arah Kum Kecho, mengabaikan kawanan nyamuk, dan merangsek menyerang!

Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak!

Kum Kecho dengan tepat memperkirakan reaksi Bintang. Bersamaan dengan menyebarnya kawanan nyamuk, ia telah terlebih dahulu meraih pinggang Melati lalu melompat ringan. Menyentakkan napas ringan, ia kini berada di udara…

Kepik Cegah Tahan!

Gelombang kejut dari kecepatan supersonik menghantam kubah besar berwarna hitam berbintik-bintik merah muda. Gelombang kejut yang tercipta mengeluarkan dentuman memekakkan telinga sekaligus membuyarkan kawanan nyamuk.

Kum Kecho memanfaatkan dorongan Tinju Super Sakti yang menghantam kepik untuk melontarkan diri jauh ke arah laut di depan haluan kapal. Kepik turut terpental, kawanan nyamuk pun terbang menyusul tuannya.

Kecapung Terbang Layang!

Di kejauhan terlihat Kum Kecho menenteng gadis pembunuh dan mendarat di atas capung raksasa. Pelan-pelan mereka sirna dari pandangan.