Episode 9 - Kegundahan Hati Soka Dwipa

 

Banyak manusia kalah serta harus merelakan impiannya tergilas oleh roda takdir kehidupan, sebaliknya hanya sedikit dari mereka yang dapat mewujudkan mimpinya. Aku beruntung dapat menjadi salah satu orang yang berhasil mewujudkan cita-citaku. Tidak… bukan hanya mewujudkan impianku, aku bahkan melampauinya.

Ketika datang utusan Pararaton ke Pangkubayan, telah kugantungkan impian menjadi prajurit kadipaten itu di benakku. Namun, kini aku malah berhasil menjadi prajurit Keraton Watugaluh, kerajaan besar di tanah Jawa Dwipa. Namun siapa sangka, impian ini begitu melelahkan. Melelahkan?

Bayangkan, tiap hari aku harus bangun sebelum matahari terbit. Lalu melakukan latihan fisik. Ketika siang hari aku harus belajar strategi perang, strategi pertahanan keraton, hingga latihan tempur. Lalu, di malam harinya aku harus berjaga, berpatroli mengelilingi Watugaluh yang sangat luas. Rasanya aku ingin kabur dan kembali ke rumah Empu Parewang, kembali membuat senjata saja.

Begitulah aktifitas yang harus dilakukan sebagai seorang Bhayangkara keraton. Kegiatan yang kujalani lebih banyak bila dibandingkan dengan para prajurit keraton yang lebih senior. Tugas mereka hanya berjaga di lingkungan keraton, berpatroli ke desa dan pasar, berjaga di perbatasan, dikirim ke medan perang, dan lain-lain. Kedengarannya sama, ya? Namun percayalah, belajar strategi perang dan pertahanan keraton tak ubahnya seperti penyiksaan bagiku.

Benar-benar sangat membosankan! Terlebih lagi, pelajaran seperti ini memaksaku menggunakan otak yang jarang kupakai. Aku harus membaca berbagai macam serat yang tertulis di atas daun lontar oleh para Empu terdahulu. Tapi meski begitu, aku harus tetap melahap semua pengetahuan yang terdapat dalam berbagai serat itu, anggap saja ini sebagai rasa syukurku karena para Dewata telah menghendakiku sebagai seorang Bhayangkara Keraton Watugaluh.

Siang itu, saat tengah berjaga di sekitar gapura keraton Watugaluh, kulihat ada rombongan orang datang mendekat menuju keraton. Rombongan itu diarak oleh rakyat Watugaluh. Ada apa itu? Apa ada tamu dari negeri lain? Pertanyaan di dalam hatiku terjawab tatkala kulihat seorang bertubuh tegap dengan pakaian perangnya turun dari kuda dan menghampiriku.

“Sahabatku, senang melihatmu lagi. Wah, seperti dugaanku, kau berhasil menjadi prajurit keraton Watugaluh,” ujar Soka Dwipa yang baru tiba di Watugaluh.

“Terima kasih, Raden. Senang juga bisa melihat raden Soka Dwipa pulang dengan selamat.”

“Banyak yang ingin kuceritakan kepadamu. Namun, aku harus lapor diri terlebih dahulu. Ada beberapa hal penting yang harus kusampaikan kepada Kanjeng Gusti Prabu Reksa Pawira. Nanti akan kutemui kau di kesatriaan,”

“Baik, kanjeng gusti.”

Soka Dwipa kembali ke atas kudanya dan bergegas menuju Keraton Watugaluh untuk menghadap Kanjeng Gusti Prabu Reksa Pawira. Aku mengamankan jalan, menghalau rakyat yang hendak masuk ke lingkungan Keraton Watugaluh. Saking senangnya, ternyata orang-orang itu tidak sadar kalau telah mengikuti rombongan Soka Dwipa hingga hampir masuk ke lingkungan keraton yang terlarang untuk mereka masuki.

“Kamu mengenal Raden Soka Dwipa, Ro?” tanya Darojat yang meninggalkan pos jaganya dan menghampiriku.

“Iya, dia sahabatku.”

“Bagaimana bisa kau mengenalnya dan bersahabat dengan dia?”

“Wah… kalau itu ceriteranya panjang... nanti kuceritakan. Sana, kembali berjaga jika tidak ingin dimarahi Ki Purboyo,”

Aku menyuruh Darojat kembali ke pos jaganya setelah melihat Ki Purboyo melempar tatapan tajamnya ke arah kami berdua. Ki Purboyo adalah Punggawa Keraton yang diberi mandat untuk melatih dan mengawasi para prajurit baru. Dia sangat senang memberi hukuman kepada prajurit binaannya yang melanggar aturan. Hal tersebut juga tergambar jelas dari raut wajahnya yang menunjukan rasa puas ketika melihat kami tersiksa dan menderita.

Setelah makan siang, aku dan Darojat duduk-duduk di bawah pohon yang ada di depan kesatrian. Kuceritakan kepadanya mengapa aku dapat mengenal dan menjadi sahabat Sang Adipati Pararaton. Di saat aku menceritakan kisahku pada kepada Darojat, Soka Dwipa yang dikawal oleh beberapa punggawa keraton menghampiri kami dan bergabung bersama kami.

“Wah, kalian sedang membicarakan apa? Boleh aku bergabung?” tanya Soka Dwipa sembari duduk disampingku.

“Hamba hanya membagi kisah hamba dengan sahabat baru hamba, Raden. Oh iya, perkenalkan ini Darojat sahabat saya.”

“Darojat? Senang berkenalan denganmu. Saya Soka Dwipa, sahabat Kuntjoro,” Soka dwipa memperkenalkan dirinya sembari memberikan salam kepada si Darojat.

Darojat yang sedari tadi hanya diam memandang kami berdua itu pun menjawab salam dari Soka Dwipa. Sewaktu ia mengangkat tangannya untuk memberi salam hormat, kulihat tangannya bergetar di depan dadanya dan wajahnya menjadi pucat pasi.

“Kau ini kenapa? Seperti melihat hantu saja?” tanyaku pada si Darojat yang masih mengangkat tangannya yang bergetar itu sembari menundukkan kepalanya.

“Maafkan saya Raden atas sikap saya. Tapi jujur, seumur hidup saya baru kali ini bisa berbicara dengan pembesar seperti Raden dari jarak sedekat ini.”

“Kau seharusnya tak perlu sungkan karena bagi saya, kasta bukan pembeda perlakuan antar manusia dengan manusia lainnya, melain pembeda tugas antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Lagipula, kau ini ‘kan sahabat dari sahabatku, berarti kau juga sahabatku,” ujar Soka Dwipa sembari menepuk pundak Darojat.

“Coro, ceritakanlah padaku bagaimana kau dapat menjadi prajurit Keraton Watugaluh. Awalnya kukira kau sudah betah menjadi cucuk angkat Empu Parewang dan membantunya di padepokan Brojobhumi,” pinta Soka Dwipa sembari meledekku.

Kuceritakan semuanya kepada Soka Dwipa, termasuk kedatangan Wiraguna dan Paman Bagja ke padepokan Brojobhumi. Ternyata sama seperti Empu Parewang, Soka Dwipa pun pernah mendengar nama pemuda itu. Aku ceritakan padanya bila aku dilatih oleh Wiraguna memanah.

“Wah, berarti kau kini telah mahir memanah, ya?”

“Ah... tidak juga Raden, masih lebih ahli si Darojat.”

Darojat hanya menggeleng-gelengkan wajahnya yang pucat, memberi tanda bila dia tidak begitu setuju dengan ucapanku. Tidak kusangka, wajah sesangar si Darojat bisa terlihat ciut juga. Padahal waktu pertandingan, terutama babak ketiga saat ia tengah menghajar lawannya, wajah sangar itu terlihat begitu menakutkan.

“Oh iya, ampun beribu ampun Kanjeng Gusti, tapi bolehkah saya mendengar kisah Kanjeng Gusti yang telah menaklukkan empat kadipaten yang dikuasai oleh pasukan Jayalodra?”

Belum sempat permintaanku itu dijawab oleh Soka Dwipa, tiba-tiba datang Ki Purboyo bersama Prajurit Keraton yang mengawalnya. Punggawa galak itu menegurku dan Darojat yang tidak kembali ke pos jaga kami masing-masing.

“Sebelumnya saya mohon maaf Raden, saya ingin berbicara dengan dua orang prajurit ini. Kalian! Lekas kembali ke pos jaga kalian masing-masing! Kalau tidak akan kuberi hukuman!”

Suara Ki Purboyo yang semula halus ketika berbicara dengan Soka Dwipa mendadak berubah jadi serak-serak menggelegar kembali ketika berbicara kepadaku dan Darojat.

“Emm… Begini kisanak, kebetulan saat ini saya sedang ada perlu dengan mereka berdua. Setelah perbincangan kami selesai, saya akan memastikan mereka berdua akan kembali ke pos jaga mereka dan menunaikan tugas mereka masing-masing. Saya yang menjamin mereka, bagaimana?” Soka Dwipa membela kami.

“Maafkan saya Raden, saya tidak tahu jika Raden tengah ada urusan dengan mereka. Jika begitu saya mohon diri untuk kembali mengerjakan tugas saya.”

“Saya maafkan. Silahkan lanjutkan tugasmu.”

Ki Purboyo beserta prajurit keraton yang ikut bersamanya meninggalkan kami. Namun kulihat sesekali ia menoleh ke arah kami dan melontarkan tatapan kejamnya itu ke arah kami, seolah menyimpan dendam kepada kami berdua, aku dan Darojat.

“Sampai mana tadi perbincangan kita?” tanya Soka Dwipa.

“Tadi saya menanyakan kepada Raden tentang kisah Raden menaklukan empat kadipaten jajahan Arya Jayalodra.”

“Oh itu, sebenarnya ada sedikit kekeliruan. Saya tidak menaklukan empat kadipaten yang dikuasai oleh Jayalodra, melainkan hanya dua kadipaten saja. Dan itu pun bukan hanya karena aku, ada Adipati Surya Kusuma dan bala tentaranya juga di sana. Dia yang dengan ilmu kanuragannya mampu menekuk kekuatan musuh, sedangkan saya hanya mempimpin pasukan, menyusun dan menerapkan strategi perang.”

“Oh, lalu dua kadipaten lainnya bagaimana Raden?”

“Dua kadipaten lainnya berhasil diambil alih oleh pasukan yang dipimpin oleh Adipati Tedjo Alur. Jadi setelah kami melintasi perbukitan Sindang Mojo di sebelah barat Watugaluh, kami memutuskan untuk berpencar dengan tujuan untuk menghemat waktu. Saya bersama Surya Kusuma dan beberapa prajurit pergi ke arah selatan, sedangkan Tedjo Alur bersama sebagian besar prajurit keraton melanjutkan perjalanan ke arah barat.”

“Saya dan Surya Kusuma menyerang Kadipaten Banyu Kidul dan Kadipaten Kemukus. Dalam waktu kurang dari satu purnama kami telah berhasil merebut kedua kadipaten di pesisir selatan. Selain itu, kami pun berhasil memutus akses menuju dua kadipaten tersebut, supaya bala bantuan yang dikirimkan oleh Jayalodra dari Pring Dawa tidak dapat mencapai dua kadipaten tersebut. Hal ini juga berguna untuk mempersempit ruang gerak Jayalodra.”

“Jadi pada saat penyerangan itu, Jayalodra tidak ada di dua kadipaten tersebut?”

“Untungnya begitu. Jayalodra sedang berada di pusat kekuasaannya di kadipaten Pring Dawa yang jaraknya cukup jauh dari dua kadipaten yang kami serang. Selain itu, yang kami habisi terlebih dahulu secara senyap adalah para telik sandi dari kedua kadipaten tersebut, sehingga berita penyerangan kami pun tidak sampai kepada Jayalodra. Bila dia ada di salah satu kadipaten yang kami serang, mungkin saat ini aku tidak ada di sini bersama kalian.”

“Oh iya, Adipati Tedjo Alur pun tidak kalah hebat. Meski memakan waktu yang lebih lama dari kami, namun dia pun mampu menaklukan dua kadipaten yang ada di bagian barat Watugaluh, Kadipaten Kedu dan Kadipaten Dukuh. Sebenarnya dua kadipaten ini tidak terlalu penting bagi rencana Jayalodra sehingga pasukan yang ditempatkannya di sana pun sangat sedikit,” ungkap Soka Dwipa.

“Sepertinya dua kadipaten tersebut ditaklukan oleh Jayalodra hanya sebagai antisipasi bila kelak dirinya kalah dan membutuhkan tempat bersembunyi. Pasalnya, medan menuju dua kadipaten tersebut terbilang cukup sulit untuk dilalui, sehingga kedua kadipaten tersebut cukup strategis bila dijadikan tempat persembunyian. Dan hal itu pulalah yang menyebabkan pasukan yang dipimpin oleh Tedjo Alur membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menaklukan dua kadipaten tersebut. ”

Saat kami tengah asik mendengarkan ceritanya, tiba-tiba datang utusan Prabu Reksa Pawira menyampaikan pesan kepada Soka Dwipa untuk segera menghadap sang Prabu. Soka Dwipa pamit kepadaku dan Darojat lalu bergegas menemui Prabu Reksa Pawira. Wah, sepertinya dia benar-benar sangat dibutuhkan di sini. Meski sudah tidak memiliki ilmu kanuragan lagi, namun kecerdasannya masih sangat dibutuhkan oleh Watugaluh untuk mengalahkan Jayalodra.

 

Bukan hanya Soka Dwipa yang punya kesibukan, aku dan Darojat pun juga masih ada tugas menunggu yang bila tidak dikerjakan akan mendatangkan amarah Ki Purboyo. Setelah menyelesaikan tugas berjaga dan belajar strategi pertahanan, aku bersama para prajurit keraton lainnya yang tidak kebagian jatah berjaga malam kembali ke kesatrian. Di gerbang kesatrian kulihat Soka Dwipa berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia memandang ke arah bawah sambil berjalan modar mandir seolah tengah memikirkan sesuatu.

“Mohon maaf Raden, sedang apa Raden malam hari di depan kesatrian?” tanyaku yang membuatnya sedikit terkejut, tersadar dari lamunannya.

“Nah, aku sedari tadi menunggumu. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”

“Apa yang bisa saya bantu, Raden?”

“Begini, tadi aku diminta untuk menghadap Prabu Reksa Pawira. Dan ternyata dia memanggilku untuk menyampaikan bahwa aku hendak dijodohkan dengan putri bungsunya, Putri Rara Gendhis.”

Putri Rara Gendhis merupakan putri bungsu dari pernikahan Prabu Reksa Pawira dengan Kanjeng Nyai Ratu Nila Kencana, Ibu Suri Watugaluh. Dari pernikahan pertamanya tersebut, Prabu Reksa Pawira dikaruniai tiga orang anak, dua perempuan dan satu orang laki-laki.

Anak pertamanya, Nyai Rara Kemuning telah dipersunting oleh Lembu Sutta, Mahapatih Watugaluh. Sedangkan anak keduanya, Pangeran Hastabrhahma telah lama meninggalkan keraton dan memilih jalan dharma. Sang Pangeran bersama para Guru berkeliling tanah Jawa Dwipa untuk menyebarkan kebaikan dan ajaran kawuruh. Sementara anak ketiga dari Prabu Reksa Pawira, Putri Rara Gendhis, merupakan kebanggan Watugaluh. Kecantikannya mampu menundukan hati setiap insan yang menatap wajahnya.

Selain ketiga anak dari Sang Permaisuri, Prabu Reksa Pawira juga memiliki seorang putri bernama Rara Andhini, buah cintanya dengan seorang selir bernama Nyai Nawang Sari. Rara Andhini tidak kalah cantik dengan Rara Gendhis, hanya saja dia memiliki kekurangan. Ketika Rara Andhini dilahirkan, ia tidak menangis sama sekali dan ternyata hingga kini dia pun tidak pernah mengeluarkan suara dari mulutnya.

“Wah… itu bagus Raden. Putri Rara Gendhis memang yang tercantik, Raden beruntung itu namanya. Lantas, apa Raden menyetujui perjodohan itu?”

“Aku sampaikan kepada Kanjeng Prabu bila aku tidak dapat menjawabnya sekarang, karena keadaan masih sangat genting dan aku sampaikan kepadanya bahwa aku hendak memusatkan pikiranku untuk mengalahkan Jayalodra dan mengembalikan kedamaian di Watugaluh dan kadipaten yang berada di bawah naungannya.”

“Lho... maaf bila saya lancang Raden. Siapa tau kalau habis menikah nanti semangat juang Raden jadi meningkat... hehehehe...”

“Yang jadi permasalahan sesungguhnya... sebenarnya aku tidak memiliki rasa terhadap Rara Gendhis. Aku justru jatuh cinta kepada Rara Andhini,” ungkap Soka Dwipa sembari tangannya menepuk-nepuk pelan dadanya dan menatap ke arah rembulan.