Episode 7 - Sang Kepala Desa


Dua bawahan Cakrakinaryo duduk bosan di ruangan kepala desa. Mulawarman, sekretaris desa duduk bersebelahan dengan Agnes Warini, kepala urusan pembangunan. Mulawarman berusia 30 tahun dan masih lajang. Ia memiliki paras yang enak dilihat, karena itulah lumrah kalau banyak gadis yang berusaha dekat dengannya. Tapi Mulawarman merasa belum menemukan gadis yang cocok untuk dijadikan istri.

Rekan Mulawarman, Agnes Warini sudah menikah tahun lalu saat usianya 27 tahun tapi belum dikaruniai anak.

Mulawarman dan Agnes duduk diam dengan perasaan tak sabar yang berusaha mereka sembunyikan dari Cakrakinaryo.

Mereka sudah di ruangan itu selama setengah jam tapi belum tahu maksud dan tujuan Cakrakinaryo memanggil mereka ke ruangannya. Padahal pekerjaan mereka sendiri masih menumpuk dan tak akan selesai dengan berlama-lama mendengarkan pidato Cakrakinaryo.

Cakrakinaryo sendiri lebih banyak mondar-mandir ke sekeliling ruangan dan bercerita tentang potensi Bukit Menoreh bagi warga Desa Rejowinangun dan kesuksesan Buhri Brothers dalam mengelola tambang uranium di Sulawesi yang memberi efek pada tingginya nilai saham Buhri Brothers.

Sejujurnya Mulawarman tidak mengerti apa yang dibicarakan atasannya itu. Tambang emas di Bukit Menoreh sudah ditutup bertahun-tahun lantaran merusak lingkungan. Sebelum ditutuppun keberadaannya sudah ilegal karena tidak ada izin dari pihak berwenang. Tambang yang mana yang dibicarakan Cakrakinaryo? Ah, kenapa juga ia bicara lama sekali, bikin aku ngantuk saja, gumam Mulawarman.

Sementara Agnes Warini, yang awalnya mencatat apa saja perkataan Cakrakinaryo yang penting untuk dilakukan sehubungan dengan tugasnya, kini sudah tidak lagi mencatat. Pulpennya dimainkan diantara jemarinya dan notesnya tergeletak dipangkuannya. Dan Cakrakinaryo masih berbicara soal kebanggaan Desa Rejowinangun saat Agnes Warini menguap lebar yang ditutupinya dengan tangannya.

Mulawarman dan Agnes Warini sudah dalam keadaan setengah melamun ketika pada akhirnya Cakrakinaryo memberi perintah.

"Mas Mul, buatkan draft surat rekomendasi tambang emas di Bukit Menoreh, selesaikan paling lambat lusa, yo," kata Cakrakinaryo.

Yang ditanya diam saja karena masih belum mengerti dan berusaha keras mengusir lamunannya.

"Draft surat rekomendasi untuk diberikan kepada bupati. Supaya bupati bisa mengizinkan tambang emas Bukit Menoreh beroperasi kembali," sambung Cakrakinaryo dengan nada tegas.

Mulawarman dan Agnes Warini heran dan saling pandang.

"Maksud njenengan (Anda -Jawa), tambang emas kita yang dulu ditutup kementerian lingkungan hidup?" tanya Mulawarman ragu.

"Memang yang mana lagi, to?" jawab Cakrakinaryo.

Agnes Warini menyela, "Nyuwun ngapunten, Pak, tapi, tambang itu direkomendasikan untuk ditutup, dilarang beroperasi selamanya. Ada keputusan menteri. Kalau kita buat rekomendasi apa ndak melanggar keputusan menteri?" Agnes meyakinkan bahwa beroperasinya kembali tambang emas di Bukit Menoreh adalah ilegal.

"Saya dan tim dari Jakarta sudah meneliti emas di Menoreh masih puluhan ribu ton, apa tidak sia-sia kalau tidak digunakan untuk kesejahteraan rakyat?" Cakrakinaryo bertanya balik.

"Tim darimana to, Pak? Saya belum dengar ada tim yang meneliti Menoreh lagi sejak tambang itu ditutup," kata Mulawarman ragu.

"Kamu kerja di kantor desa baru enam tahun, penelitian itu sudah ada sebelum kamu kerja disini," Cakrakinaryo tidak sabar karena bawahannya terus membantah.

Mulawarman dan Agnes Warini saling pandang lagi. Mereka tidak yakin harus membuat surat rekomendasi sementara tambang itu sendiri sudah dilarang.

Di lereng Bukit Menoreh ada dua desa yang warganya beternak kambing dan sapi. Kadangkala peternak membiarkan hewan mereka mencari makan sendiri di semak-semak dan rerumputan yang tumbuh diantara pepohonan rimbun di Menoreh. Karena rimbunnya pepohonan disana, binatang-binatang betah membuat sarang. Banyak binatang yang masuk klasifikasi langka masih ada di Menoreh. Bahkan beberapa warga mengatakan pernah melihat harimau Jawa. Harimau Jawa sudah dinyatakan punah oleh pemerintah enam puluh tahun lalu. Tetapi sebagian masyarakat Jawa yang percaya hal gaib yakin bahwa harimau itu siluman penunggu Menoreh yang menjaga bukit itu dari tangan-tangan jahil.

"Ayo cepat kerjakan. Draft rekomendasi itu lusa harus jadi, yo!" Cakrakinaryo mengulang lagi perintahnya sekaligus menyuruh Mulawarman dan Agnes Warini keluar dari ruangannya.

Mulawarman keluar ruangan Cakrakinaryo sambil geleng-geleng kepala. Tambang akan membuat Menoreh gundul dan tandus. Kalau hujan akan mudah longsor dan banjir yang akan menerjang desa-desa di lerengnya. Bahkan desa-desa yang tak berada di lereng Menoreh juga akan terkena imbas banjir, pikir Mulawarman.

"Bagaimana? Kita buat rekomendasinya tidak?" tanya Agnes.

"Ya sampeyan buat saja, nanti aku rapikan formatnya," jawab Mulawarman dengan nada antara bingung dan terpaksa.

Agnes mengangguk. Draft surat itu sebenarnya dalam lima belas menit sudah selesai, tapi perlukah membuat rekomendasi untuk tambang yang jelas-jelas sudah dilarang keberadaannya? Agnes meneguk air putih banyak-banyak untuk meredakan kebingungannya. Agnes lalu mulai membuat surat itu dilaptopnya.

Di ruangannya, Cakrakinaryo menerima pesan instan dari Claudius yang memberitahukan bahwa dokumen-dokumen kelayakan eksplorasi tambang emas di Bukit Menoreh sudah dikirim dari Jakarta dan akan tiba esok pagi di kantor desa Rejowinangun.

Buhri Brothers menyewa perusahaan auditor lingkungan untuk memeriksa apakah tambang di Bukit Menoreh layak diteruskan atau tidak. Tentu saja, dengan bantuan oknum kementerian lingkungan hidup, auditor itu memberi rekomendasi layak.

Cakrakinaryo tersenyum puas. Begitu dokumen itu datang, ia akan menyerahkannya kepada Heri Darwindo berikut rekomendasi yang ia buat. Kemudian, ah, Cakrakinaryo membayangkan akan membelikan cincin berlian untuk istrinya, rolltop baru untuk Galih, treadmill yang diinginkan Gendis, dan tentu saja sisanya aman di rekening bank yang ia buat atas nama keponakannya.

Sore hari menjelang jam pulang kerja, Mulawarman menyerahkan surat rekomendasi yang dibuat Agnes kepada Cakrakinaryo. Surat itu sudah rapi formatnya, diketik dikertas kuarto tebal dan siap dtanda tangani Cakrakinaryo. Tapi Mulawarman diterpa keraguan yang mendesak. Apa yang terjadi kalau tambang itu benar-benar beroperasi kembali? Ditatapnya surat itu selama beberapa detik. Lalu dengan mantap Mulawarman merobek surat itu menjadi potongan-potongan paling kecil sehingga bisa diremasnya dengan satu tangan. Kemudian dilemparkannya ke tempat sampah yang ada di sudut ruangan. Mulawarman pulang dengan senyum tipis tersungging dibibirnya.

Hari yang diminta Cakrakinaryo agar Mulawarman dan Agnes menyerahkan surat rekomendasi sudah tiba. Dan ketika semua staf kantor desa sudah selesai beristirahat makan siang, Cakrakinaryo meminta surat itu pada Mulawarman.

"Surat rekomendasi tambang bagaimana, Mas?" tanyanya memanggil Mulawarman.

"Belum jadi, Pak. Saya kesulitan menyusun kalimat dalam surat itu. Tidak ketemu alasannya, Pak," jawab Mulawarman.

Cakrakinaryo mengerutkan kening. "Bukankah kau tinggal menerima surat itu dari Agnes dan merapikannya?!"

"Agnes juga tidak mengerti, Pak," kata Mulawarman melirik Agnes.

Agnes heran karena kenyataannya ia sudah membuat surat itu dan menyerahkannya pada Mulawarman. Tapi tak diungkapkannya keheranannya itu setelah melihat raut wajah Mulawarman yang meliriknya dan menyiratkan bahwa Agnes harus mengiyakan apa yang dikatakan Mulawarman pada Cakrakinaryo.

"Agnes tidak mengerti?! Bagian mana yang tidak kau mengerti, Agnes?" Cakrakinaryo berpaling pada Agnes.

"Eh, err, anu... " tapi Mulawarman cepat memotong. "Agnes tidak tahu apa yang harus ditulisnya, Pak. Saya sama juga tidak tahu jadi kami tidak bisa membuat surat rekomendasi itu," kata Mulawarman.

Wajah Cakrakinaryo yang semula tenang berubah menjadi tegang dengan raut keras.

"Saya sudah katakan tambang itu akan membawa.kesejahteraan buat warga kita. Mereka akan dipekerjakan di tambang, gaji tinggi, biaya hidup terjamin, dan seluruh Magelang akan kaya raya karena emas itu menghidupi kita!" Cakrakinaryo kesal karena Mulawarman dan Agnes bisa begitu bodoh.

Agnes memandang Mulawarman dengan cemas. Khawatir kena semprot karena dianggap tidak mengerjakan tugas dengan benar.

"Saya bingung, tidak mengerti bagaimana menyusun kalimat yang pas. Agnes sudah mengerjakannya tapi saya pikir surat yang dibuat Agnes tidak pas juga," jawab Mulawarman berusaha mengamankan posisi Agnes.

Cakrakinaryo sekarang geram campur gemas.

"Sekarang kamu buat surat itu, Mulawarman!" kata Cakrakinaryo dengan nada tinggi.

"Saya tidak berani, Pak," jawab Mulawarman dengan nada merendah namun tegas.

Semua orang yang ada di ruangan kantor itu mendadak mengeluarkan aura tegang. Mereka saling pandang lalu bergantian memandang ke arah Mulawarman dan Cakrakinaryo, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Agnes Warini juga terdiam tegang karena merasa bertanggung jawab atas terbitnya surat rekomendasi yang jadi tugas pokok dan fungsinya. Ia setengah menunduk.

"Kamu tidak mau membuat surat itu?! Kamu siap dengan risikonya, Mulawarman?!" Cakrakinaryo mengancam.

Mulawarman mengangguk. Dalam hati ia yakin tidak akan dapat sanksi berat dari Cakrakinaryo karena kepala desa tidak bisa memberhentikan atau memutasi bawahannya kecuali terjadi pelanggaran berat. Dan Mulawarman tidak melakukan pelanggaran apapun kecuali menolak membuat rekomendasi atas tambang emas ilegal yang sudah ditutup pemerintah.

Cakrakinaryo mendengus. Ia berlalu dari ruangan itu dan kembali ke ruangannya dengan perasaan kesal.

"Tak bisa diandalkan!" Cakrakinaryo mengumpat dalam hati. Ia duduk dan menyiapkan komputernya untuk membuat surat rekomendasi yang harusnya dikerjakan Mulawarman.

Hampir satu jam lamanya Cakrakinaryo membuat surat itu. Selain karena tidak pandai membuat surat resmi, ia kesulitan menyusun kalimat. Bolak-balik dibaca dan dihapusnya padanan kalimat-kalimat yang dirasanya tidak cocok. Setelah dibacanya berkali-kali ia tersenyum puas dan mencetak surat itu lalu menandatanganinya sendiri.

Satu minggu kemudian kantor kepala desa Rejowinangun kedatangan Raka Atmaja, bupati yang dua tahun terakhir ini memerintah di Magelang. Bupati datang ditemani lima stafnya, termasuk Heri Darwindo, staf ahli bupati yang menyerahkan surat rekomendasi dan dokumen dari Buhri Brothers untuk Cakrakinaryo ke bupati.

Bupati Raka berbincang di ruangan Cakrakinaryo selama beberapa menit sebelum menuju lokasi tambang. Mulawarman mendampingi Cakrakinaryo dalam kapasitasnya sebagai sekretaris desa. Mulawarman tidak setuju dengan segala urusan tambang ini tapi ia tahu ia tidak punya kuasa apapun untuk menghentikannya. Maka terpikirkan olehnya bahwa ia harus mengumpulkan bukti untuk digunakan kelak jika tambang itu bermasalah lagi. Yang dilakukan Mulawarman adalah menyimpan perekam dalam saku celananya. Perekam itu aktif merekam semua pembicaraan yang berlangsung di ruangan itu.

Dan alat perekam Mulawarman itu masih aktif saat ia, Agnes Warini, dan Cakrakinaryo berada di lokasi tambang bersama bupati.

"Izin lingkungan dari kementerian lingkungan sudah ada. Auditor juga sudah menyatakan tambang ini layak dioperasikan kembali. Semua sudah lengkap, tinggal menunggu izin lokal dari panjenengan (Anda -Jawa halus) selaku bupati," kata Cakrakinaryo sambil tangannya menunjuk ke sekeliling area tambang yang luasnya berhektar-hektar.

Raut wajah Bupati Raka seperti termenung.

"Ya, saya sudah tahu. Tapi bagaimana kalau terjadi banjir dan longsor? Air bah akan lancar bebas hambatan menerjang desa-desa dibawah Menoreh ini," ujar Bupati Raka.

Cakrakinaryo mendesah pelan menyesalkan kelambatan cara berpikir bupati. Tinggal tanam pohon banyak-banyak di sekeliling tambang toh tidak akan longsor.

"Nanti kita tanam pohon dan sodetan sungai sesuai rekomendasi auditor," sahut Cakrakinaryo berusaha tersenyum ramah untuk meyakinkan bupati.

Heri Darwindo cepat menambahkan, "Potensi emas disini puluhan ribu ton, bisa kita manfaatkan untuk membangun Magelang, seluruh Pulau Jawa bahkan sampai Papua. Semua izin sudah lengkap berarti tidak akan ada masalah karena tim dari auditor, perusahaan, dan kementerian sudah turun memeriksa dan meneliti tambang ini, Pak. Saya yang mendampingi mereka dan Bapak sudah menerima laporan dari saya, kan. Tambang ini tidak ada alasan lagi untuk disebut ilegal. Tambang ini sah untuk dieksplorasi.

Bupati Raka diam saja sambil memandang ke sekelilingnya dengan tidak yakin.

"Bagaimana kalau terjadi bencana akibat tambang ini?" tanya bupati.

"Ya memang Bukit Menoreh ini oleh kementerian lingkungan hidup dijadikan lokasi penyangga banjir dan longsor, jadi kondisinya harus sealami mungkin dengan tumbuhan dan hewan didalamnya," celetuk Mulawarman.

Cakrakinaryo membelalakkan matanya pada Mulawarman tanda ia menyuruh bawahannya itu tutup mulut.

Mulawarman pura-pura tidak melihat Cakrakinaryo dan melemparkan pandangannya ke arah yang berseberangan dengan Cakrakinaryo.

"Apa maksudnya tadi, Mas?" tanya Bupati Raka pada Mulawarman.

Cakrakinaryo langsung menjawab mendahului Mulawarman.

"Oh, maksudnya, meski tambang ini nantinya beroperasi kembali, tapi tetap menjadi penyangga banjir dan longsor sehingga tumbuhan dan binatang tetap merasa berada di habitat alaminya," tukas Cakrakinaryo.

Bupati Raka mengerutkan kening. Ia diam sejenak. Cakrakinaryo dan staf bupati juga diam.

"Kalau memang izinnya lengkap dan tidak ada masalah dengan audit lingkungan, saya kira tambang ini bisa beroperasi kembali. Saya akan keluarkan peraturan bupatinya," kata Bupati Raka.

Cakrakinaryo senang bukan main dan secara spontan memeluk Bupati Raka untuk berterima kasih sekaligus meluapkan kegembiraannya. Tapi Bupati Raka yang risih dipeluk tertawa dan segera menarik tubuhnya mencegah Cakrakinaryo memeluknya lebih lama.

"Izin akan keluar kalau Buhri Brothers bersedia menandatangani perjanjian akan bertanggung jawab penuh apabila terjadi keadaan bencana alam yang tidak biasa dan kerusakan lingkungan yang disebabkan adanya tambang itu," Bupati Raka memberikan syarat segera setelah melepaskan diri dari pelukan Cakrakinaryo.

Cakrakinaryo membatin, "Apalagi ini! Tinggal keluarkan izin saja pakai syarat ini-itu." Tapi segera disanggupinya perintah bupati itu.

Mulawarman ingin menghalangi agar bupati tidak mengeluarkan izin itu tapi diurungkan karena dalam pikirannya Cakrakinaryo bisa jadi nekat dan kalap kalau bupati batal mengizinkan tambang itu beroperasi. Mulawarman hanya bisa merutuk dalam hati dan berharap agar rekamannya ini berguna suatu hari nanti.

"Saya nanti akan koordinasikan dengan Pak Heri soal perjanjian itu secepatnya," jawab Cakrakinaryo kepada Bupati Raka.

Tak butuh waktu lama bagi Buhri Brothers untuk menandatangani perjanjian di kantor bupati karena beberapa minggu berikutnya alat-alat berat mulai beroperasi di lokasi tambang emas Bukit Menoreh.

Lubang besar dibuat untuk jalan mengangkut emas didalam perut bumi dengan cara deep ore zone. Bijih hasil penambangan diangkut ke pengolahan di pabrik dekat Gunung Halimun Bogor menggunakan hyperloop (kendaraan supercepat mendekati kecepatan suara) untuk dihancurkan menjadi pasir yang sangat halus.

Sementara itu Mulawarman sudah menyimpan file berisi rekaman percakapan saat proses perizinan, pembukaan hingga pengoperasian tambang ke cloud storage miliknya, mengenkripsinya, lalu menyimpan link-nya dalam surat elektronik pribadinya.

Seiring dengan sibuknya tambang emas di wilayahnya, Cakrakinaryopun sudah menerima imbalan berupa mobil jenis city car dari Buhri Brothers. Bupati Raka sendiri mendapat komisi senilai puluhan ribu dolar yang dikirim melalui Heri Darwindo. Tapi Bupati Raka menolak komisi itu dengan alasan dirinya tidak perlu disumbang seperti orang miskin.

Maka mulai dari sekarang Kepala Desa Rejowinangun, Cakrakinaryo --yang merasa tugas utamanya sebagai kepala desa adalah mengawasi supaya tambang emas di Bukit Menoreh beroperasi tanpa gangguan-- berhasil mencatatkan dirinya sebagai kepala desa terkaya di Indonesia.