Episode 30 - Menumpang Perahu


Apakah ini yang disebut bekerja? Bintang memperhatikan para kuli panggul dermaga yang sedari subuh sibuk mengangkut berbagai macam barang. Mereka memanggul, menenteng, menyeret atau mendorong; mengandalkan tenaga fisik untuk menyelesaikan pekerjaan. Upah mereka ditentukan dari berapa banyak barang yang dapat mereka unggah ke atas perahu. Semakin banyak barang yang diangkut, semakin besar pula upah yang mereka terima.

Upah diperoleh dari para saudagar. Saudagar bekerja dalam bentuk lain. Mereka memiliki modal dan koneksi. Mereka mempertemukan kebutuhan satu pihak dengan pihak lain. Dari proses transaksi, mereka mengambil sedikit keuntungan. Semakin besar jumlah dan nilai transaksi, semakin besar pula keuntungan yang diperoleh. Bintang teringat pada Panggalih Rantau, seorang saudagar keliling. Apakah ia berhasil menyelamatkan diri setelah mengalihkan perhatian anggota Partai Iblis?

“Barang siapa yang hendak bertolak ke Pulau Sabana, bolehlah naik ke atas geladak,” teriak salah satu kerani perahu.

Bintang bergegas menuju perahu. Sebuah papan titian selebar dua jengkal dibentangkan untuk menghubungkan geladak perahu dengan dermaga yang berjarak kurang dari 2 m. Ketika pekerjaan bongkar-muat berlangsung, jembatan ini berayun-ayun ke atas dan ke bawah mengikuti irama langkah laki.

Bintang baru hendak meniti jembatan ketika mendengar teriakan.

“Hei, bocah! Lancang sekali kau!” terdengar suara seorang laki-laki dari arah belakang.

Bintang menoleh ke arah suara tersebut. Terlihat seorang lelaki bertubuh kekar mengenakan pakaian berwarna hitam, dengan kain tenun ikat menghias dari pinggang sampai ke lutut. Seutas ikat kepala melingkari kepalanya. Di belakang lelaki tersebut, berdiri dua orang berdampingan dengan pakaian yang serupa, perbedaan terletak pada bentuk ikat kepala. Mereka terlihat melindungi sebuah payung besar. Di belakang payung, berdiri lagi dua orang dengan seragam yang sama.

“Itu... rombongan bangsawan dari Kerajaan Parang Batu,” terdengar bisik-bisik dari orang-orang di sekitar.

Bintang pun mundur selangkah, kemudian dua langkah, memberi jalan. Ia penasaran seperti apakah rupa bangsawan. Para bangsawan tidak perlu bekerja. Status kebangsawanan mereka memberikan hak istimewa untuk menikmati hasil pajak. Jadi, sumber penghidupan mereka adalah rakyat jelata, yang saban hari membanting tulang. Meski ada juga bangsawan yang gemar berdagang, biasanya berdagang barang mewah.

Lelaki kekar melewati Bintang sambil mendecakkan lidah. “Bocah dusun tak mengenal tata krama,” gumamnya.

Dua orang prajurit pengawal terlebih dahulu menaiki geladak perahu untuk melakukan pemeriksaan. Salah satu dari mereka kemudian memberi kode bahwa perahu aman untuk ditumpangi. Seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal kemudian melangkah perlahan. Dagunya tinggi menatap langit, tatapan matanya angkuh menatap lurus ke depan. Kepala pengawal menuntun sang bangsawan menyeberangi titian. Seorang pelayan laki-laki pemegang payung mengikuti dari belakang, disusul dua orang lagi gadis dayang-dayang.

Setelah dua orang pasukan pengawal sisi belakang naik ke atas perahu, barulah kerani perahu memanggil kembali penumpang lain untuk naik ke atas perahu.

Geladak perahu tidaklah luas. Lebarnya sekitar 4 m dengan panjang 6 m. Barang-barang yang tadinya dimuat tidak terlihat, karena ditempatkan di dalam palka. Rombongan bangsawan mengambil posisi dengan pundak menempel pada anjungan perahu. Perahu tidak memiliki kabin, sehingga rombongan bangsawan harus berbaur di atas geladak. Mereka memakan tiga perempat luas geladak, menyisakan tempat sempit di sisi depan perahu untuk penumpang lain berhimpitan. Termasuk Bintang, hanya terdapat enam orang penumpang lain: seorang ibu dan anak, seorang lelaki yang terlihat seperti pendekar, serta dua orang saudagar.

Perahu menarik sauh dan memulai pelayaran. Waktu tempuh menuju Pulau Sabana akan berlangsung lebih kurang dua hari satu malam.

Empat jam sudah perahu berlayar. Suasana di atas geladak sangat tenang, kalau tak bisa dikatakan kaku. Sang bangsawan hanya duduk diam. Kepala pengawal menjaga garis batas antara darah biru dan darah kotor.

Laut pun begitu tenang. Angin berhembus sedang, tidak terlalu kencang dan tidak pula pelan. Awan-awan lebih tenang lagi, hanya bergeser pelan seolah malas bergerak. Matahari kini menggantung di atas kepala.

“Ada yang datang!” Tiba-tiba kerani perahu berteriak sambil menunjuk ke arah laut di sisi kanan belakang geladak. Para penumpang menoleh mengikuti arah telunjuk. Dari kejauhan terlihat sesuatu terbang ke arah perahu. Gerakannya ganjil. Terkadang terbang lurus, lalu berhenti, lalu menyamping dengan cepat, berhenti lagi, kembali lurus, lalu menyerong… Gerakan terbang yang tak beraturan.

Bintang merasa ada yang ganjil. Semakin dekat, semakin terlihat seekor binatang siluman terbang. Sepasang matanya adalah yang pertama menarik perhatian. Ukuran kedua mata tersebut berdiameter setinggi tubuh orang dewasa, padahal kepalanya lebih kecil. Tubuhnya panjang, hampir mencapai 5 m dengan motif melingkar hitam dan merah. Binatang siluman tersebut terbang melintasi perahu dengan kecepatan tinggi. Lalu, ia terbang mundur dan mengambang persis di atas perahu. Binatang siluman serangga, seekor capung raksasa, pikir Bintang.

Belakangan, atau lebih tepatnya setelah bersua Kum Kecho, Bintang sangat peka dan tanggap terhadap keberadaan serangga. Jika saja ada serangga di dekatnya, Bintang akan segera memilih untuk pergi menjauh.

Binatang siluman capung tersebut masih melayang di atas perahu. Para pengawal bangsawan memasang kuda-kuda siaga. Ibu dan anak terkesima, dua orang saudagar bergerak merunduk, sedangkan si pendekar menatap tajam ke atas.

Tiba-tiba sesosok tubuh melompat dari pundak capung. Sesaat sebelum mencapai geladak, capung raksasa seolah mengecil lalu menghilang.

Sosok tersebut mendarat dengan ringan di tengah geladak, tepat di samping kepala pengawal bangsawan. Kepala pengawal tersontak. Spontan ia menjangkau pedang di pinggangnya. Belum sempat ia menggengam gagang pedang, tangan kanan lawan telah mencengkeram lehernya dan menarik leher tersebut ke arah bawah. Tubuh kekar kepala pengawal dengan tinggi badan lebih dari 180 cm, dipermainkan begitu mudah oleh sosok yang tinggi badannya tak lebih dari 160 cm. Dalam keadaan berlutut, kepala pengawal hanya mampu merintih kesakitan. Pasukan pengawal di belakangnya terpana.

“Lepaskan tanganmu!” teriak laki-laki yang mirip pendekar sambil menghunuskan pedangnya.

“Aku hendak menumpang perahu menuju Pulau Sabana,” terdengar suara serak dan parau tanpa sedikit pun menoleh. “Tiada niat untuk mencari perkara. Tetapi bila ada sesiapapun yang hendak menjual, maka dengan senang hati aku siap membeli!”

Bintang menyadari bahwa kata-kata tersebut sepenuhnya ditujukan pada dirinya. Kum Kecho! Apa pula tujuannya kali ini? Sisik Raja Naga yang kini membungkus dari punggung tangan sampai sikut dan dari mata kaki hingga lutut, kembali mengecil ke bentuk semula. Jantungnya berdetak keras, ia tetap waspada.

Kepala pengawal yang hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 2 dan si pendekar dengan Kasta Perunggu Tingkat 3 tidak mungkin dapat berbuat apa-apa terhadap ahli pawang dengan Kasta Perunggu Tingkat 5. Mendengar kata-kata dari Kum Kecho, si pendekar kembali menyarungkan pedangnya. Kum Kecho melepaskan cengkeraman tangan dari leher kepala pengawal, yang kini terduduk di lantai dan termegap-megap menghirup udara kehidupan.

Kum Kecho mengambil posisi di sisi lain perahu, tepat di seberang Bintang. Ia lalu duduk bersila. Jubah Hitam Kelam diombang-ambingkan oleh angin. Disingkapkannya bagian jubah yang menutup kepala. Helai-helai rambut yang berserakan, dimainkan angin menyibakkan wajah yang pucat pasi. Yang paling kentara adalah garis hitam di bawah kedua matanya.

Kurang darah dan kurang tidur… itulah yang terlintas di benak Bintang saat mencerna raut wajah Kum Kecho. Pantas saja emosinya tak stabil, pikir Bintang lagi. Perjalanan ini akan terasa semakin panjang.

"Segera tanyakan padanya dari mana ia dapatkan Jubah Hitam Kelam," perintah Komodo Nagaradja dalam kesadaran Bintang.

"Guru, pada pertemuan pertama kami, aku menerapkan Taktik Tempur No. 21 dan mengabaikan pertanyaan-pertanyaannya," jawab Bintang pelan.

"Jika aku bertanya sekarang, kemungkinan jawabnya adalah kerumunan nyamuk dan tiga ekor kutu. Memikirkannya saja membuat merinding rambut kuduk," tambah Bintang.

"Kau benar. Tetaplah waspada," demikian Nagaradja kembali menarik diri.

Yang tak Bintang ketahui adalah emosi Kum Kecho sedang berkecamuk. Sesungguhnya sangat mudah baginya membunuh Bintang saat itu juga, dan memang ia hendak membunuh anak di hadapannya. Alasannya sangatlah jelas. Kum Kecho mengetahui persis bahwa kunci segel yang dirapal Bintanglah yang secara tak sengaja membebaskannya. Dan bukan tak mungkin, dengan kemampuan sedemikian pada usia yang masih sangat muda, di masa depan anak tersebut akan menjadi permasalahan tersendiri.

Namun, sekali lagi, ada sesuatu yang mengganjal jauh di dalam lubuh hatinya agar tak membunuh Bintang saat ini. Kum Kecho yang terbiasa tegas dalam mengambil keputusan, kini ragu dan memilih menunda mencabut nyawa lawan.


...


Malam pun tiba. Bintang-bintang berserakan tak tentu arah. Bulan sabit terlihat runcing, mirip senjata mematikan yang siap mengayau, memisahkan kepala dari tubuh. Genangan-genangan darah terlihat lembab mengotori langit di beberapa tempat, bergerak perlahan menyebar, padahal itu adalah awan. Demikianlah langit malam yang seharusnya begitu sempurna menjadi mencekam oleh kehadiran Kum Kecho.

Pasukan pengawal bangsawan tetap waspada. Mereka silih berganti berjaga di dekat sang bangsawan yang kini tertidur pulas. Dayang-dayang juga bergantian jaga, meski dengan tujuan yang berbeda. Salah satu dari mereka harus siaga bilamana sang bangsawan terjaga dari tidurnya dan menginginkan sesuatu. Kedua saudagar pun sama, mereka sepakat untuk saling menjaga dengan tidur bergiliran. Sepasang ibu dan anak tidur berpelukan. Sang pendekar berusaha setengah mati menahan kantuk, hanya kekuatan tekad saja yang membuatnya terjaga.

Kum Kecho duduk bersila. Kedua matanya menatap jauh ke langit, seolah mencari-cari ingatan yang telah lama hilang. Sejak terlepas dari segel Kepompong Sutera Lestari, ia bersumpah tidak akan tidur barang sebentar pun sampai tujuannya tercapai. Untuk mencapai tujuan tersebut, kemudian ia bergabung dengan Partai Iblis. 

Pertemuan Kum Kecho dengan Partai Iblis sesungguhnya terjadi tanpa disengaja. Selepas terbebas dari segel yang mengungkung jiwa dan raganya, Kum Kecho berjalan tanpa arah. Tak berapa lama, ia melihat sekelompok pemuda dan pemudi berbondong-bondong menapaki perjalanan menuju sebuah gunung. Penasaran, ia pun bergabung dengan rombongan tersebut. 

Dari para pemuda di dalam rombongan ia mendapati bahwasanya tujuan mereka adalah menuju Gunung Mulut Raja di wilayah selatan Pulau Logam Utara. Sesampainya di sana nanti, mereka dijanjikan harta berlimpah. 

Kum Kecho mengingat Gunung Mulut Raja. Di saat kejayaan Negeri Dua Samudera dulu, memang wilayah tersebut merupakan tempat berkumpul sejumlah ahli maha tenar. Di sana, para ahli tersebut sering memberikan wejangan dan perkuliahan tentang persilatan dan kesaktian secara lisan. 

Wejangan dan perkuliahan tersebut disajikan terbuka dan cuma-cuma, tidak seperti di perguruan yang hanya membatasi pada murid-muridnya saja. Tambahan lagi, tidak sedikit ahli-ahli muda yang setelah mengikuti perkuliahan berhasil membangun pemahaman, merumuskan penafsiran, lalu meraih pencerahan. Karena perkuliahan yang dilakukan secara lisan dan bermanfaat itulah, kemudian gunung tersebut dikenal sebagai Gunung Mulut Raja. 

Namun, Kum Kecho ingat betul bahwa tak pernah sekalipun para ahli tersebut menjanjikan harta-benda. 

Sesampainya di kaki Gunung Mulut Raja, rupanya sejumlah ahli telah menunggu ketibaan rombongan. Mereka lalu membuka gerbang dimensi agar orang-orang bisa masuk untuk mengambil harta karun yang dijanjikan. Masih penasaran, Kum Kecho pun ikut melompat ke dalam gerbang dimensi. 

Sesampainya di sisi lain gerbang dimensi, Kum Kecho menyaksikan bahwa mereka telah ditunggu oleh sekelompok ahli lain lagi. Rombongan itu lalu disergap dan disekap! Sigap, Kum Kecho menyelinap dan bersembunyi. 

Sejak awal ia memang curiga. Pertama, mana ada orang yang ingin berbagi harta benda secara cuma-cuma. Kedua, pengamatannya menyimpulkan bahwa rombongan pemuda tersebut berisikan orang-orang yang malas berusaha, dan ingin mencari jalan pintas dalam menggapai kekayaan. Terakhir, gerbang dimensi yang dibuka menyibak aura kematian yang kental. 

Kum Kecho kemudian menunggu sampai keadaan lebih tenang sebelum ia menangkap salah satu penghuni dimensi itu. Ia kemudian menginterogasi, atau lebih tepatnya menyiksa, tawanannya itu untuk menggali informasi lebih lanjut. Barulah kemudian ia mendapati penjelasan tentang tipuan berbau harta yang sesungguhnya adalah cara untuk mengumpulkan budak. Lalu ia peroleh pula uraian lengkap tentang Partai Iblis, visi dan misinya, serta bagaimana cara bergabung dengan organisasi tersebut. 

Tak disangka bahwa tugas pertama dari Partai Iblis membawa dirinya berhadapan dengan Tinju Super Sakti, yang sempat menggetarkan ketegaran hatinya. Sejak terbebas, jalan hidupnya menemui kebetulan demi kebetulan. Menumpang di perahu yang sama dengan Bintang pun, merupakan sebuah kebetulan lagi. 

Di geladak perahu, mata hati Komodo Nagaradja terus mengamati Kum Kecho. Sangat disayangkan mata hatinya tak bisa mendeteksi aura di balik Jubah Hitam Kelam, karena memang tak ada yang bisa, sehebat apa pun keahliannya. Meski samar, seperti ada sesuatu ia kenal dari raut wajah Kum Kecho. 

Komodo Nagaradja banyak bertemu dan bertarung dengan sejumlah ahli, saking banyaknya ia tak pernah mengingat wajah, atau malah setiap wajah justru terlihat mirip ahli-ahli yang pernah ia temui dulu. Entahlah.

Satu hal yang saat ini jelas adalah penyesalan dirinya. Ia menyesal menawarkan diri memantau situasi agar muridnya dapat beristirahat. Murid yang tak tahu diuntung itu kini sedang tertidur super pulas.