Episode 29 - Taktik Tempur No. 21



Selepas menggumamkan kata-kata pertemuan dan perpisahan dalam satu kalimat, sekonyong-konyong kerumunan nyamuk beterbangan ke arah Bintang dengan kecepatan sedang. Suara berdeging yang tercipta membuat kepala pening dan bulu tengkuk merinding.

1000 Nyamuk Buru Tempur!

Bintang segera melompat beberapa langkah ke samping kiri. Dengan sigap kerumunan nyamuk berbelok arah mengikuti. Di sebelah Bintang kini sebuah batu kapur setinggi pinggang bercokol. Tepat di saat kerumunan nyamuk hendak menyergap...

“Plop!” tubuh Bintang lenyap.

Berkat cahaya matahari sore di ufuk barat, bayangan batu kapur yang hanya setinggi pinggang berubah memanjang. Di saat genting tadi, Bintang segera merapal Bentuk Pertama: Terhimpit di Atas, Terkurung di Luar dari jurus Bayangan Linsang Halimun. Ia kini berada di dalam ruang dimensi di balik bayangan batu kapur.

Di lain sisi, sesuai namanya, jurus 1000 Nyamuk Buru Tempur adalah kemampuan memberi komando atas 1000 ekor binatang siluman nyamuk. Jadi 1000 Nyamuk Buru Tempur adalah nama jurus, bulan nama siluman nyamuk.

Ke-1000 nyamuk kini masih melayang dan berputar di atas batu, mencari-cari mangsa mereka. Ketinggian terbang nyamuk paling atas dari kawanan tersebut mencapai tiga meter dari permukaan tanah. Suara denging mereka sangat mengintimidasi. Sosok yang memakai Jubah Hitam Kelam berjalan mendekat.

Lintah Intai Sergap!

Lalu seekor lintah merayap keluar dari balik jubah hitamnya. Ukurannya sepanjang lengan orang dewasa, dengan lebar lebih kurang satu setengah jengkal. Warnanya abu-abu gelap dan mengkilap, dengan alur berwarna kuning tipis melingkasi sisi-sisi tubuhnya. Lintah yang tak memiliki mata tersebut merayap, meliuk-liuk lambat, meninggalkan sisa lendir di tempat yang telah ia lalui.

Lintah Intai Sergap kini berada tepat di atas bayangan. Dengan kata lain, tepat berada di atas lokasi persembunyian Bintang. Tak dinyana, perlahan si lintah menyerap ke dalam bayangan.

Bintang yang memutuskan untuk bersembunyi sambil menyusun rencana menghadapi lawannya, tidak menyadari apa yang terjadi di luar. Jantungnya berdetak keras. Terang saja, ini kemungkinan akan menjadi pertarungan hidup mati pertama baginya.

Seorang pawang binatang siluman, pikir Bintang sambil menenangkan diri. Keterampilan pawang binatang siluman mirip dengan perapal segel, dalam artian sama-sama merupakan keterampilan khusus.

Keterampilan khusus bisa dipelajari oleh ahli mana pun, tapi hanya sampai batasan tertentu. Di lain sisi, mereka yang memiliki keterampilan khusus seperti pawang binatang siluman atau perapal segel, kecuali memiliki bakat yang luar biasa, sulit mendalami ilmu silat dan atau ilmu sakti. Bintang adalah contoh ahli yang berbakat, dimana ia memiliki keterampilan segel lahiriah dan dapat mempelajari jurus silat di saat yang bersamaan.

Pada akhirnya, banyak ahli dengan keterampilan khusus lebih memilih mendalami keterampilannya. Keterampilan khusus juga mencakup peramal yang mampu memperkirakan masa depan, peramu yang banyak meracik ramuan sakti, pandai besi yang menempa dan mengimbuh senjata dan perisai dengan unsur sakti, dan bahkan tabib yang menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Tentunya, masih banyak lagi keterampilan khusus lain. Perbedaan antara ahli silat dan ahli sakti dengan ahli berketerampilan khusus utamanya terletak pada cara menggunakan mustika tenaga dalam dan mata hati.

Tiba-tiba mata hati Bintang merasakan seperti ada sesuatu yang menyerap masuk ke dalam ruang dimensi persembunyian.

Berbahaya! Seketika itu juga ia melompat keluar. Dengan mengerahkan otot-otot yang telah diperkuat daging ekor Nagaradja dan mengalirkan tenaga dalam pada sendi di kaki dan pinggang, ia melenting jauh tinggi ke udara. Lentingan menerobos kawanan nyamuk, yang ia tepis menggunakan Sisik Raja Naga di kedua lengan dan kaki.

Naluri dan keputusan yang sangat tepat. Meski bergerak sangat lambat, jurus Lintah Intai Sergap memanfaatkan binatang siluman lintah yang dapat dengan akurat mendeteksi keberadaaan sasarannya. Tubuhnya ibarat lendir yang dapat menyerap kemana pun sasarannya bersembunyi, bahkan ke dalam ruang dimensi. Bila binatang siluman tersebut telah menyergap dan menempel di tubuh, ia akan mengunci gerakan, sambil perlahan menyerap tenaga dalam.

“Tempuling Raja Naga!” Pada titik tertinggi lompatan, Bintang mengeluarkan senjata pusakanya. Tempuling putih dengan ukiran ruas-ruas tulang tersebut demikian gemilang, bahkan seolah menyedot udara di atas sana.

Sosok berjubah hitam hanya memandang mengikuti gerakan lawan. Jemarinya tertuju ke arah Bintang, diikuti deru dan denging kawanan nyamuk. Dari bawah, ia memastikan bahwa lawannya tidak lagi memiliki ruang gerak.

Kawanan nyamuk lalu menyebar seolah membentuk jala. Tidak mungkin menghindar di udara kecuali memiliki kemampuan terbang, atau benda pusaka yang memungkinkan penerbangan. Namun, tiba-tiba sosok berjubah hitam merasa ada sesuatu yang aneh.

Bintang terlihat mengambil ancang-ancang melompat, padahal ia berada di udara dan posisi tubuhnya miring.

“Hop!”

Benar saja, Bintang melompat ke samping menghindari jala kawanan nyamuk. Ketika sudah berada di luar jangkauan jala, ia kembali melenting. Kali ini lentingan ke arah bawah sambil menghujamkan tempulingnya ke arah sosok berjubah hitam.

Berkat Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian, Bintang kini dapat membuat semacam pijakan segel. Kemampuan ini awalnya tak sengaja ia temukan saat berusaha membuat kerangkeng untuk memerangkap Ayam Jengger Merah di Pulau Bunga.

Pijakan segel yang mampu ia rapal hanyalah sebesar telapak kaki, yang sifatnya keras tak bergeming, sehingga dapat menjadi titik tumpu berpijak. Bersamaan dengan lompatan tinggi ke atas tadi, Bintang melempar satu segel pijakan ke arah atas. Lalu, ia juga melempar satu lagi ke arah samping, di luar jangkauan jala nyamuk.

Apakah ia memiliki kesaktian terkait unsur angin?! Sosok berjubah hitam terkejut. Tidak hanya sekali, melainkan dua kali lawannya melompat-lompat saat posisi berada di udara. Lalu, melesat dengan cepat, sebuah tempuling menikam mendekat!

Kepik Cegah Tahan!

Di saat genting, seekor kepik raksasa berdiameter lebih dari 1 m muncul di antara mereka. Bentuk tubuhnya menyerupai sebuah kubah, warnanya hitam dengan bintik-bintik besar berwarna merah muda. Ya, merah muda! Di bagian kepala yang berukuran kira-kira delapan kali lebih kecil dari tubuhnya, tumbuh sepasang tanduk. Kepik ini bertugas melindungi tuannya.

Tanpa pikir panjang, Bintang segera mengalirkan tenaga dalam menuju tempuling. Berat Tempuling Raja Naga kini mencapai 100 kg. Meski melihat sebuah perisai besar, ia tetap merangsek menyerang.

“Bam!”

Di saat Tempuling Raja Naga berhantaman dengan punggung Kepik Cegah Tahan, Bintang merasakan getaran yang sangat keras. Kedua belah tangannya seperti kesemutan. Untunglah Sisik Raja Naga meredam sebagian besar getaran, sehingga tempuling yang hampir terlepas kembali dapat digenggam erat. Meski demikian, tubuhnya terpental belasan meter ke belakang.

Di lain sisi, Kepik Cegah Tahan bergetar dan terhenyak ke permukaan tanah, menghimpit tubuh sosok berjubah hitam. Di permukaan kubahnya, yang merupakan eksoskeleton atau lapisan ekternal yang keras khas kumbang, terlihat retakan kecil.

Sesaat sesudah mendarat, mata Bintang menangkap bayangan tangan keluar dari bawah Kepik Cegah Tahan. Jari telunjuk tangan tersebut sedari tadi tertuju ke arahnya. Seketika itu juga ia melihat tiga ekor kutu berukuran sebesar buah kelapa melompat-lompat cepat tanpa suara ke arahnya.

Trio Kutu Gegana Ledak!

Para saat yang sama, dari arah berlawanan terdengar denging kawanan nyamuk sudah mendekat dengan cepat dan beringas!

1000 Nyamuk Buru Tempur!

Berkat simulasi bertarung yang dipandu oleh Komodo Nagaradja sebelum meninggalkan Pulau Bunga, reaksi Bintang cukup cepat. Secepat kilat pula Bintang melepaskan jurus Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak!

“Duar!” Lontaran beruntun tinju tangan kanan sebanyak lima kali menghasilkan kecepatan supersonik, lalu gelombang kejut. Dentuman memekakkan telinga terdengar sampai ke Dusun Pelabuhan Bukit Kapur. Ketiga kutu yang siap meledakkan diri pada saat bersentuhan dengan tubuh Bintang pun meledak di ujung kepalan tinju. Sementara kawanan nyamuk yang terpapar dampak gelombang kejut dari gerakan jurus Tinju Super Sakti, berhamburan kebingungan ke segala arah.

Di samping kepik, sosok berjubah hitam bangkit berdiri sambil menyeka keringat yang mengalir dari dahi menuju kelopak matanya. Jika diperhatikan dengan lebih cermat, ada darah mengalir keluar dari kedua lubang hidungnya. Rupanya melancarkan jurus 1000 Nyamuk Buru Tempur, Lintah Intai Sergap, Kepik Cegah Tahan, dan Trio Kutu Gegana Ledak dalam waktu yang berdekatan menguras deras isi mustika tenaga dalam dan kemampuan mata hatinya.

Keterampilan pawang bertolak belakang dengan ahli silat dan ahli sakti dalam memanfaatkan mustika tenaga dalam dan indera keenam. Bagi ahli silat dan ahli sakti, mustika tenaga dalam merupakan sumber utama kekuatan, dan mata hati sebagai unsur penunjang. Sebaliknya, para pawang binatang siluman sangat mengandalkan kemampuan mata hati untuk memandu binatang silumannya. Oleh mereka, mustika dan tenaga dalam dimanfaatkan untuk mendukung agar mata hati dapat memperluas jangkauan, memperkuat ikatan, serta mengontrol gerakan binatang siluman.

Mengontrol empat jurus binatang siluman pada saat yang bersamaan belum tentu dapat dilakukan oleh pawang kasta perak tingkat awal sekali pun. Padahal, sosok berjubah hitam itu jelas-jelas masih berada pada kasta perunggu tingkat menengah.

Kini ia tak hanya menatap Bintang dengan nafsu membunuh, namun juga keheranan. Saat melihat jurus Tinju Super Sakti beraksi, tubuhnya bergetar dan ia terhuyung setengah langkah ke belakang. Emosinya bergejolak.

“Siapa namamu!? Dari mana asalmu!?” teriaknya dengan suara parau dan melengking. Kerumunan nyamuk yang terpencar kini kembali melayang dan berdenging di belakangnya.

Bintang hanya berdiam diri. Ia bahkan tidak menghadap ke arah lawannya. Tubuhnya berdiri menyamping. Napasnya menderu. Jantungnya berdetak kencang. Perasaannya campur aduk antara takut, cemas, bersemangat, senang. Tenaga dalam yang ada di mustika setelah melompat, memperberat bobot Tempuling Raja Naga dan melontarkan jurus Tinju Super Sakti, hanyalah tersisa sekitar 10 persen.

Jurus Delapan Penjuru Mata Angin sedang bekerja menyerap dan menyuling tenaga alam. Jurus ini belum dapat ia gunakan bersamaan dengan jurus-jurus lain saat bertarung, karena kondisi mental yang diperlukan sebagai syarat membangun emosi ‘hampa’, memerlukan konsentrasi tingkat tinggi. Mata hatinya menyebar, waspada memperhatikan gerak-gerik lawan.

“Tatap aku dan jawab pertanyaanku!” sosok berjubah tidak dapat menahan kesabaran. Pada pertukaran beberapa jurus pembuka, ia dalam keadaan tertinggal.

Pertarungan bukan hanya tentang siapa yang tangguh dan jurus apa yang ampuh. Pertarungan juga melibatkan teknik memancing emosi lawan. ‘Taktik Tempur No. 21’ versi Komodo Nagaradja menyebutkan: ‘Abaikan lawan, kecewakan hatinya’.

“Tidakkah kau dengar?! SIAPA namamu!? DARI MANA asalmu!?”

Bintang tetap tak bergeming. Di lihat dari kejauhan, mereka ibarat sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Yang satu berteriak kesetanan, sedangkan yang satunya lagi hanya diam membatu dan memalingkan wajah. Suasana menjadi semakin mengena dengan posisi mentari sayu yang sebentar lagi terbenam. Tentu bukan pemandangan seperti ini yang menjadi tujuan akhir dari Taktik Tempur No. 21.

Benak Bintang berpikir keras. Sosok tersebut membunuh kawan-kawannya tanpa ampun. Sosok tersebut juga sejak awal mengincar nyawanya tanpa basa-basi. Akan tetapi, mengapa sekarang bertanya tentang nama dan asal-usul? Apakah ia hendak mengenal lebih jauh?

“Kum Kecho sebutanku! Ingatlah baik-baik, karena nama itu yang akan mencabut nyawamu!” setelah berteriak, ia membalikkan badan dan melangkah pergi.

Bintang menghela napas panjang. Detak jantungnya perlahan kembali normal. Lawannya pergi begitu saja. Sungguh mangkus Taktik Tempur No. 21.

Meski demikian, nalurinya mengisyaratkan bahwa sang lawan belum mengerahkan seluruh kemampuannya. Sementara dirinya, sudah berada di ambang batas kemampuan.

Kum Kecho… Nama seperti apa itu? Sungguh nama yang cocok untuk seorang tokoh jahat, pikir Bintang.

***

Malam pun tiba. Dengan kehadiran malam, jurus Silek Linsang Halimun, Bentuk Pertama: Terhimpit di Atas, Terkurung di Luar dapat bekerja di banyak tempat. Mungkin ini alasan Kum Kecho tidak melanjutkan pertarungan.

“Selamat! Selamat! Selamat! Kau memenangkan pertarungan pertamamu. Bahkan terhadap lawan yang dua tingkat di atas. Gurumu bangga!” Nagaradja terdengar tertawa dan bersorak kegirangan.

Saat ini Bintang sudah memasuki Dusun Pelabuhan Bukit Kapur. Setelah bertanya kepada orang yang berpapasan di jalan, ia mengetahui bahwa perahu telah bertolak di pagi hari tadi. Perahu akan tiba kembali esok hari, dan berangkat menuju Pulau Sabana di hari berikutnya.

Tak sengaja ia bertemu Kepala Dusun di sana. Bermodalkan Lencana Perunggu Perguruan Gunung Agung, ia diundang menginap. Bahkan, Kepala Dusun bersikeras menjamu makan malam dan memberikan tempat secara cuma-cuma di perahu menuju Pulau Sabana dua hari kemudian.

“Guru, mengapa di dalam Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian tidak banyak membahas tentang keterampilan khusus?” tanya Bintang sembari membaca kitab kesayangannya itu. Membaca saat menjelang tidur sudah menjadi kebiasaan.

“Dahulu, persilatan dan kesaktian adalah dua cabang keahlian yang utama. Saat itu, keterampilan khusus dipandang sebelah mata. Hanya dianggap sebatas penunjang bagi keahlian silat dan sakti,” ungkap Nagaradja mengingat-ingat.

“Sudahlah, sekarang waktunya kita meninjau ulang pertempuranmu tadi,” ungkap Nagaradja memaksa Bintang menutup Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian.

“Meninjau ulang?” tanya Bintang mencoba membaca arah pembicaraan gurunya.

Catatan: