Episode 6 - Perayaan


Inilah hari yang ditunggu-tunggu Cakrakinaryo. Hari Sabtu, hari pemilihan kepala desa. Ia yakin bisa memenangkan pertarungan ini karena punya modal dana yang besar. Claudius Sutanto memberinya uang yang cukup untuk mengupah enam orang tim suksesnya, membuat spanduk dan souvenir untuk warga desa. Sedangkan uang dari anak-anak kota yang bodoh itu sungguh berguna untuk membelikan anak-anakku apapun yang mereka mau, gumamnya senang. Sebentar lagi ia juga akan dapat sebuah motor baru dari Claudius. Ia juga yakin menang karena didukung oleh tangan kanan bupati, dan tampaknya sebagian besar warga percaya padanya.

Maka dengan sumringah Cakrakinaryo menuju tempat pemungutan suara untuk memberikan pilihannya. Tentu saja ia akan memilih dirinya, tidak mungkin tidak.

Sementara itu Yashwan, Pastha, Desitra, dan Narin yang sejak subuh sudah berada di depan rumah Cakrakinaryo sebelum akhirnya dipersilahkan masuk oleh istri Cakrakinaryo, juga ikut dalam barisan tim sukses yang mengantar Cakrakinaryo ke tempat pemungutan suara.

Desitra dan Narin yang beberapa waktu sebelumnya sudah akrab dengan warga sekitar dengan mudah berbaur dan bercengkrama dengan warga yang mereka temui. Narin dengan sigap juga mengambil gambar dan video pada momen-momen yang dirasanya perlu untuk didokumentasikan.

Kini hari sudah jam 12.00 siang dan penghitungan suara di kantor desa sudah dimulai. Hasilnya, seperti yang sudah diyakini Cakrakinaryo ia menang karena 1749 orang memberikan suara untuknya, sementara ada 854 suara diberikan untuk Selo Sumarman, 576 diberikan kepada Doddy Bernardi, dan ada 143 orang yang tidak memilih.

Cakrakinaryo merayakan kemenangan dengan mengajak keluarga besarnya, tim sukses beserta keluarga mereka dan ketua-ketua RW dan RT di Desa Rejowinangun untuk makan bersama di rumahnya. Hidangan nasi, soto ayam, tengkleng (semacam gulai kambing), mie goreng dan kupat tahu, serta emping dan kerupuk udang terhidang dimeja. Di meja panjang yang ditaruh di teras tersedia teh, kopi, wedang jahe, air mineral, aneka kue dan gorengan beserta gelas-gelas bening berjejer rapi untuk dinikmati para tamu.

Saat sedang menikmati kue klepon, Yashwan mendengar suara Cakrakinaryo sedang bicara di telepon selulernya. "Iyo, sesuk, sesuk, saiki aku durung dilantik ra iso opo-opo," kata Cakrakinaryo dari suara yang bisa didengar Yashwan.

Yashwan terus memasang telinga kalau-kalau ada percakapan lagi dari Cakrakinaryo tapi tidak ada. Hanya sepenggal kalimat itu yang dikatakan Cakrakinaryo.

Sepanjang acara makan-makan berlangsung Cakrakinaryo tampak berbincang serius secara empat mata dengan tiga orang, salah satunya dikenali Yashwan sebagai Claudius Sutanto dari Buhri Brothers. Tapi Yashwan sulit mencuri dengar percakapan Cakrakinaryo karena suasana ramai oleh orang yang tertawa, mengobrol keras, bahkan sesekali bersorak meneriakkan nama. Seringkali terdengar suara-suara nyaring memanggil Cakrakinaryo untuk berfoto bersama. Ia memberi kode pada Narin untuk memotret orang-orang yang berbicara berdua saja dengan Cakrakinaryo. Narin melakukannya dengan baik.

Perhatiannya kepada Cakrakinaryo tiba-tiba teralihkan oleh Desitra yang sudah ada didepan matanya.

"Kau kelihatan tegang sekali sepanjang hari ini, Yashwan, santai sedikit saja," kata Desitra berusaha menghibur Yashwan.

"Tegang? Aku tidak merasa tegang, Desitra," jawab Yashwan yang diam-diam senang karena Desitra perhatian padanya.

"Wajahmu kaku seperti celana jins yang salah dicuci. Kau juga hampir tidak pernah tersenyum apalagi tertawa seharian ini. Apa itu tidak tegang namanya?!"

"Apa?! Wajahku dibilang seperti celana jins?!" Yashwan berkata dalam hati. Tapi ia mengakui ia tegang seharian ini. Ia berharap Cakrakinaryo kalah dalam pemilihan kepala desa karena bekerjasama dengan perusahaan yang ingin menambang di lokasi yang dilarang. Tapi ia sudah mengeluarkan uang puluhan juta untuk Cakrakinaryo. Amanat ayahnya juga jelas; bantu keturunan Hamengkubuwono IX menjadi pemimpin. Ini yang dilakukannya. Tapi hati kecilnya merasa tidak tenang. Mungkin inilah penyebab ia kelihatan tegang.

"Hai!" Desitra mengibaskan tangannya ke wajah Yashwan. "Kok malah melamun?" tegurnya.

Yashwan hanya tersenyum kecut.

"Kita kembali ke hotel saja bagaimana? Kita semua sudah lelah, dan aku khawatir kau akan meledak karena kau tegang terus," usul Desitra.

Yashwan setuju bahwa mereka harus kembali ke hotel untuk beristirahat. Ia dan teman-temannya juga harus membicarakan banyak hal.

Desitra memanggil Narin sementara Yashwan mohon diri kepada Cakrakinaryo dan istrinya untuk kembali ke hotel. Yashwan sempat menghubungkan pemancar dengan ponsel Galih, anak kedua Cakrakinaryo, saat menemani Pastha berpamitan pada Gandis. Yashwan juga sempat melihat wajah sedih Gandis juga wajah aneh Pastha yang setengah lega setengah menyesal.

Alat sadap yang terpasang di beberapa sudut rumah Cakrakinaryo dianggap Yashwan tidak efektif karena Cakrakinaryo tidak membicarakan selain urusan keluarga didalam rumah. Maka Yashwan akan mencabutnya jika ada kesempatan. Dan sejauh ini usahanya itu berhasil. Enam alat sadap semua sudah dicopot dari tempatnya. Salah satu usaha yang paling sulit adalah mencabut alat sadap di kamar Cakrakinaryo. Entah bagaimana dahulu Damar berhasil memasangnya disana. Yashwan harus melemparkan kotoran-kotoran tikus kedalam kamar lalu memberitahu istri Cakrakinaryo bahwa ada bau tak sedap, kemudian mengajukan diri untuk membersihkan kamar itu dari kotoran tikus. Yashwan terbiasa dengan pupuk kandang di rumah kaca, tapi kotoran tikus tetap saja membuatnya jijik dan ngeri tertular penyakit.

Acara makan-makan di rumah Cakrakinaryo masih berlangsung ketika pada malam hari tamu yang datang makin banyak. Warga desa pendukung Cakrakinaryo berdatangan untuk memberikan selamat. Makanan tak henti-hentinya dihidangkan seolah Cakrakinaryo sudah mempersiapkannya untuk pesta besar kemenangannya. Rumah Cakrakinaryo berubah menjadi ajang kenduri warga di malam Minggu.

Yashwan dan teman-temannya sudah lima hari berada di Magelang. Meskipun Pastha merasa tidak ada gunanya mereka ada di Magelang untuk mendampingi Cakrakinaryo, tapi Yashwan bersikeras mereka harus ada disana. Yashwan ingin menyadap telepon seluler Cakrakinaryo dan sebanyak mungkin orang yang terkait dengannya. Ia juga ingin mengenal karakter anak-istri Cakrakinaryo lebih baik lagi.

Dan usaha untuk menyadap telepon seluler tidak mudah. Mereka bukan dinas intelijen sehingga tidak punya alat canggih untuk menyadap telepon seluler dari jarak jauh. Penyambungan pemancar oleh satelit harus dilakukan sedekat mungkin dengan telepon yang akan disadap. Setelah itu baru bisa diaktifkan dari jarak jauh dan dipantau melalui satelit.

Untuk itulah Desitra dan Narin harus selalu berada dekat Cakrakinaryo untuk mengalihkan perhatian Cakrakinaryo dan tim suksesnya dari usaha Yashwan yang akan menyadap telepon seluler mereka.

Pastha diminta Yashwan untuk berada dekat dengan Kinasih, istri Cakrakinaryo, untuk membantunya menyiapkan apapun kebutuhan keluarga itu. Apapun, perintah Yashwan, untuk mengenal seperti apa karakter istri dan anak Cakrakinaryo. Anak pertama Cakrakinaryo dan Kinasih yang berumur lima belas tahun tampaknya tertarik pada Pastha sejak Pastha membantunya mendekorasi ulang kamarnya. Perawakan Pastha memang lebih kecil dari Yashwan, tapi dengan rambut hitam dipotong ala pria-pria Korea, bibir tipis dan hidung bangir, paras tampan Pastha selalu enak dilihat.

Bagian dari mendekor ulang kamar itu termasuk mengecat dinding kamar dengan warna kuning muda, menggeser tempat tidur lama ke dapur dan menggotong tempat tidur baru berbentuk tubuh perempuan ke tengah kamar menempel pada tembok. Pastha juga memasang pelapis dinding bergambar langit biru dengan awan putih di langit-langit kamar. Ia juga menempelkan beberapa hiasan dinding berlapis fluorescent yang akan menyala dalam gelap. Bukan hanya mendekorasi ulang kamar Gendis, nama anak Cakrakinaryo, Pastha juga menjadi tempat curhat gadis itu bahkan menjemputnya di sekolah dan menemaninya belanja baju dan nonton film di mal. Kemudian Pastha merasa bahwa diantara teman-temannya, tugasnyalah yang paling berat.

Yashwan juga berada dalam tugas yang sama dengan Pastha, namun dengan fokus utama mencabut semua alat sadap dan memasang pemancar pada setiap telepon seluler yang ditemuinya di rumah itu.

Sementara Damar tetap berada di hotel tempat mereka menginap dan Jardis berada di Cinere bersiap sedia siaga di rumah kaca.

Malam harinya sepulang dari rumah Cakrakinaryo, mereka semua berada di hotel dalam keadaan kenyang dan lelah. Meski demikian Yashwan memesan dua cangkir espresso untuknya dan Pastha serta dua gelas jus buah untuk Desitra dan Narin.

"Cakrakinaryo bahkan tidak mengucapkan terima kasih pada kita. Padahal kita membantunya menempel spanduk, pamflet, juga berkeliling membagikan notes kepada warga sambil berceloteh tentang betapa ia akan membuat desanya bangga," keluh Pastha ketika menceritakan kembali peristiwa tadi siang. "Kita bahkan memberinya empat puluh juta!"

"Tapi kau berhasil membuat anaknya jatuh cinta padamu, kan," celetuk Narin tersenyum lebar.

"Hah? Itu tidak dihitung!" sahut Pastha. "Aku lebih merasa diperalat daripada dimintai tolong," keluhnya.

"Hahaha, diperalat?! Kau tak tampak seperti diperalat, kau kelihatan seperti menikmati," goda Narin lagi.

"Huh!" Pastha menunjukkan wajah berang pada Narin.

Yashwan tidak mengacuhkan kedua temannya yang sedang saling meledek.

"Pelantikan Cakrakinaryo minggu depan. Selama ini kita sudah punya bukti awal bahwa Cakrakinaryo sudah menerima uang dari Claudius Sutanto untuk biaya kampanyenya. Ada indikasi ia juga akan menerima suap, entah kapan, untuk keperluan memuluskan izin tambang emas," Yashwan mencoba mengurutkan sedikit bukti yang diperoleh dari alat sadap bahwa Cakrakinaryo akan memanfaatkan jabatannya sebagai kepala desa untuk merekomendasikan izin tambang emas kepada bupati Magelang untuk Buhri Brothers.

Yashwan mengecek rolltopnya untuk melihat apakah pemancar dan gelang penjejak bekerja dengan baik pada ponsel-ponsel yang disadapnya.

"Kapan kita kembali Jakarta, Yashwan?" tanya Pasta setelah menyeruput espresso dari bangkitnya.

Yashwan bergeming dari layar rolltop, "Besok siang, sesuai tiket yang sudah kita pesan," jawabnya.

Pastha menepuk jidatnya karena melupakan hal itu.

Pada saat yang bersamaan Desitra mengatakan bahwa ingin tidur lebih dulu karena kelelahan. Yashwan mengiyakan sambil wajah Desitra penuh perhatian yang sengaja ditunjukkannya pada Desitra. Desitra membalas dengan senyumnya yang paling cantik lalu mengucapkan selamat malam. Ia menggamit tangan Narin untuk mengajaknya kembali ke kamar mereka. Terdengar suara Pastha berdehem menggoda sebelum sebuah bantal mendarat diwajahnya dengan keras.