Episode 28 - Pertemuan Pertama


Panggalih Rantau menyusun rencana. Bintang, yang wajahnya belum dikenal oleh Partai Iblis, dipercayakan membawa gulungan naskah ke Kerajaan Parang Batu di Pulau Batu. Ia akan menempuh jalur sesuai rencana awal, yaitu bertolak dari wilayah barat Pulau Kuda menuju ke Pulau Sabana, untuk kemudian ke Pulau Batu. Perbedaannya, bila tadinya mereka akan menunggangi Undan Paruh Cokelat, kini Bintang akan menumpang perahu penyeberangan layaknya penduduk awam yang sedang bepergian. Sebuah dusun pelabuhan di barat daya Pulau Kuda adalah perhentian pertama. 

Panggalih bertugas mengecoh para pengejar dengan menyusuri pantai utara Pulau Kuda. Tentu saja perjalanan dilakukan dengan menunggangi Undan Paruh Cokelat kesayangannya. Bilamana ia diburu oleh anggota Partai Iblis yang memiliki kecepatan Elang Laut Dada Merah, Panggalih akan berlindung di dalam paruh Undan Paruh Cokelat, dan burung tersebut akan menyelam ke dalam laut untuk muncul di arah berlawanan. Dengan cara ini, para pengejar rencananya akan dibawa berputar-putar di tempat. 

Sedangkan Kakek Karang… Kakek Karang enggan membantu banyak. Dengan keahlian hanya pada Kasta Perunggu Tingkat 2, kemampuan pengobatan ala kadarnya dan tubuh yang sudah renta, ia ingin menjalani hidup lebih lama lagi. Tujuannya hidup menyendiri di Pulau Karang pun adalah mencari ketenangan, jauh dari hiruk-pikuk dunia. Menampung Panggalih saja sungguh sebuah risiko baginya. Jika bukan karena Panggalih selalu membawakan kebutuhan pokok secara cuma-cuma setiap kali bertandang, pastilah ia sudah menendang saudagar tersebut jauh-jauh dari pulau kecil tempat ia berdiam. 

Satu-satunya kegunaan Kakek Parang dalam rencana Panggalih adalah Kuda Cendana tua yang ia miliki, yang akan digunakan Bintang dalam menempuh perjalanan. Secara teknis, yang berguna adalah si kuda, bukan si kakek. 

Rencana akan digerakkan sehari kemudian. Dengan harapan Panggalih sudah cukup kuat menempuh perjalanan, dan Undan Paruh Cokelat sudah cukup beristirahat. 

Bintang menghabiskan waktu dengan berlatih jurus Silek Linsang Halimun. Linsang, atau biasa dikenal dengan Musang Congkok, adalah mamalia yang beraktivitas di malam hari – alias nokturnal. Linsang adalah binatang biasa, sedangkan Linsang Halimun merupakan binatang siluman, yang secara khas berasal dari wilayah barat di Pulau Barisan Barat. Kemampuannya adalah bersembunyi dan menyatu dalam bayangan. Dan karena kemampuan ini, tak banyak yang dapat melihat langsung binatang siluman tersebut. Hampir tak pernah ada catatan tentang Linsang Halimun yang pernah ditangkap oleh ahli mana pun. 

Demikianlah kemampuan jurus Silek Linsang Halimun yang dapat memanfaatkan, menciptakan, bahkan mengubah menjadi bayangan. Sebuah ilmu silat yang sangat cocok bagi anggota Pasukan Telik Sandi. Meski belum sepenuhnya menguasai, Bintang kini sudah dapat menerapkan Bentuk Pertama: Terhimpit di Atas, Terkurung di Luar. Ia bisa memanfaatkaan bayangan untuk menyembuyikan diri, karena bentuk pertama tersebut menciptakan ruang dimensi seukuran tubuh penggunanya. Syaratnya, lingkar bayangan tidak boleh lebih kecil dari lingkar tubuh pengguna. 

“Jurus Silek Linsang Halimun ini sungguh unik,” tukas Komodo Nagaradja di saat Bintang sedang berlatih. “Jurus ini berada di persimpangan antara ilmu silat dan ilmu sakti. Digolongkan ke dalam ilmu silat karena diperlukan pengolahan tubuh dalam melancarkan jurus. Tapi pada saat yang sama, dapat pula dicermati sebagai jurus sakti karena sedikit banyak penggunaannya memanfaatkan unsur bayangan.

“Penggunaan unsur bayangan tersebut kemungkinan adalah kemampuan dasar dari Linsang Halimun itu sendiri. Sungguh tak banyak jurus yang memiliki sifat seperti ini,” tutup Nagaradja menyampaikan kekagumannya. 


***


Pada subuh hari berikutnya, Bintang sudah memulai perjalanan. Ia mengenakan penutup kepala dan penutup muka yang berbeda warna daripada hari sebelumnya. Sebagai tambahan, ia juga mengenakan jubah lapuk dan lusuh yang tak jelas lagi warnanya, dengan berbagai ukuran lubang di sana-sini. Satu lagi sumbangan teramat berharga dari Kakek Karang. 

Binatang siluman Kuda Cendana tua yang ia tunggangi masih cukup bertenaga dalam menapak, meski tak selaju Kuda Kencana dua hari sebelumnya. Perkiraan waktu tempuh menuju perhentian pertama adalah kurang lebih delapan jam, yaitu menuju dusun pelabuhan di barat Pulau Kuda. 

Jelang siang, Panggalih memulai perjalanan. Wajahnya kelihatan lebih merah dari hari sebelumnya. Pengobatan dan perawatan dari Kakek Karang yang terkesan setengah hati rupanya cukup mujarab. Menunggangi Undan Paruh Cokelat, ia terbang rendah tepat di atas pantai pesisir utara Pulau Kuda. 

Perjalanan Bintang berlangsung mulus. Jelang petang, ia dapat melihat pintu masuk ke Dusun Pelabuhan Bukit Kapur. Tali kekang di tangan, kini Kuda Cendana tua dan anak remaja berjalan beriringan. Dari kejauhan terlihat suasana dusun sudah sepi. Perahu berikutnya hanya akan bertolak ke Pulau Sabana pada keesokan pagi. 

“Berhenti di sana!” tiba-tiba teriak seorang laki-laki bertubuh besar dari balik batu kapur setinggi pohon cendana. Bersamaan dengan kemunculannya, sekelompok orang terlihat berdiri di balik bukit. 

“Kami petugas dusun yang berkewajiban memeriksa jati diri orang-orang yang akan memasuki Dusun Pelabuhan Bukit Kapur.” 

Bintang terlihat tenang. Kalau pun para ‘petugas’ ini adalah anggota Partai Iblis, mereka adalah regu yang berbeda dengan regu yang dua hari lalu mencegat di tengah padang rumput. Hal ini terlihat dari pakaian dan keahlian mereka. Kesepuluh orang ini berpakaian layaknya penduduk dusun dan hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 1 dan Tingkat 2. 

Bintang membuka penutup muka dan jubah lusuhnya. Awalnya mereka berlagak kasar. Namun setelah menduga-duga keahlian anak tersebut, mereka pun mulai menjaga kata-kata. 

Lelaki pertama yang tadi berteriak kembali bersuara, “Kami hanya menjalankan tugas. Mohon bersedia menyebutkan jati diri dan memperlihatkan barang bawaan untuk diperiksa sebelum memasuki dusun.” 

“Namaku Bintang Tenggara, tujuanku ke Pulau Dewa,” ungkap Bintang dengan mengangkat dagu seraya menampilkan ekspresi sedikit angkuh. Ia kemudian memperlihatkan sebuah lencana perunggu. Di permukaan lencana terdapat ukiran sebuah gapura dengan latar belakang sebuah gunung. 

“Lencana Perunggu Perguruan Gunung Agung!” salah seorang yang berdiri di belakang terkesima. 

“Mohon maaf atas kelancangan teman saya tadi. Silakan Tuan Muda melanjutkan perjalanan,” sergah salah satu dari mereka, seorang pria bertubuh tinggi. 

Di wilayah tenggara, siapa yang tak kenal kemasyuran Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa. Petinggi Partai Iblis sekalipun takkan berani berhadapan secara terang-terangan dengan murid-murid dari perguruan tersebut. 

“Tidakkah kalian wajib memeriksa barang bawaanku?” Bintang menyodorkan tas punggungnya. 

“Oh, benar. Terima kasih atas kesediaan Tuan Muda menjalani pemeriksaan ini.” Pria tersebut menerima tas punggung dan memeriksa sepintas. Di dalam tas punggung ia mendapati sebuah kantong penyimpanan air dan beberapa potong pakaian. Lalu segera mengembalikan tas punggung tersebut. 

“Sekali lagi terima kasih, Tuan Muda. Silakan melanjutkan perjalanan.”

Tentu saja mereka tak akan menemukan gulungan naskah yang dicari. Gulungan naskah tersebut berada di tempat yang paling aman. Sejak memulai perjalanan, Bintang telah memindahkan gulungan naskah dan Lencana Pasukan Telik Sandi ke dalam dimensi penyimpanan di mustika retak gurunya. 

Sambil menenteng tali kekang Kuda Cendana, Bintang pun melangkah pergi. 

“Tahan dia!” tiba-tiba terdengar suara parau. 

“Tidak perlu…” sergah laki-laki yang tadi mempersilakan Bintang melanjutkan perjalanan. “Ia adalah murid Perguruan Gunung Agung.”

“Kau menolak perintahku?” suara parau kembali terdengar. 

“Apa maumu?!” Laki-laki pertama dan bertubuh besar berteriak sambil melangkah ke balik batu kapur. Sepertinya ia sudah tak bisa lagi menahan kesabarannya.

“Kau baru tiba beberapa hari yang lalu dan sudah sesukanya memerintah kami! Hanya karena kau utusan dari cabang, bukan berarti kau paling berkuasa di wilayah ini!” 

“Kalian menolak perintahku?” suara parau terdengar dingin. 

Tak satu pun dari kesepuluh orang itu menjawab. Begitu pula, tak satu pun dari mereka melaksanakan perintah menahan Bintang. 

“Kuanggap kalian menolak perintah…” 

“Nging… Ngiiinnngg…”

Seketika itu juga terdengar suara berdenging khas mirip nyamuk yang berterbangan… Lalu disusul jeritan kesakitan!

Bintang menoleh ke belakang. Pikirnya mungkin terjadi kegaduhan atau perkelahian dalam kelompok tersebut. Mereka pastilah berada dalam keadaan tertekan karena belum berhasil membekuk Panggalih Rantau. 

Akan tetapi, yang ia saksikan adalah kengerian tiada banding. Setiap satu dari sepuluh orang dari regu Partai Iblis kini sedang dikerubuti ratusan nyamuk. Nyamuk-nyamuk sebesar kepalan tangan manusia menempel di tubuh mereka. 

Tak terperi rasa sakit yang mereka alami ketika nyamuk-nyamuk tersebut menusuk dan menyayat kulit, lalu menghisap. Tidak hanya darah, nyamuk-nyamuk tersebut mengisap tenaga dalam yang mengalir bersamaan dengan darah. Kesepuluh orang tersebut menggelepar, tak ada kata-kata yang terdengar, hanya jeritan dan rintihan keputusasaan. 

Bintang masih terkesima ketika hanya dalam beberapa detik, terlihat sepuluh tubuh berkeriput menyisakan kulit dan tulang. Mereka binasa tanpa sempat melakukan perlawanan dalam bentuk terkecil sekalipun... 

Rupanya ada orang ke-11. Dari balik kawanan nyamuk sebuah sosok berjubah hitam terlihat mengibaskan tangan, ibarat malaikat maut yang dengan mudahnya menjalankan tugas keseharian. Jubah hitam yang ia kenakan menutup dari kepala sampai ke bawah mata kaki hampir menyentuh tanah. Dari sela-sela tudung kepalanya, terlihat rambut hitam yang menyembunyikan wajah putih pucat pasi. Mata Bintang lalu bertatapan dengan sorot mata yang sangat dingin. Meski samar-samar, ia dapat merasakan keberadaan mustika tenaga dalam pada tingkat yang lebih tinggi. 

Sosok tersebut melangkah pelan. Jarak Bintang dan sosok itu kini hanya terpaut belasan meter. Setelah mencermati, Bintang bisa memperkirakan bahwa tinggi tubuh mereka setara. Apakah sosok tersebut orang dewasa yang bertubuh pendek, karena tak mungkin anak seusia Bintang dapat dengan mudah membantai sepuluh orang, dan tetap menampilkan pembawaan seperti biasa. Tak ada keraguan, perasaan bersalah, apalagi perasaan menyesal dari gerak tubuh maupun sorot mata sosok tersebut. 

“Mustahil!” sergah kesadaran Nagaradja. “Jubah Hitam Kelam!” 

“Jubah Hitam Kelam…?” Bintang mengulangi kata-kata gurunya. 

“Nanti saja kujelaskan. Kasta Perunggu Tingkat 5… Waspadalah! Ia seperti mengincarmu,” ujar Nagaradja menenangkan diri. 

Berbeda dengan pusaka Untaian Tenaga Suci yang menyembunyikan mustika tenaga dalam pemakainya, Jubah Hitam Kelam dapat menyamarkan aura dan sedikit memanipulasi raut wajah. Oleh karena itu, benda pusaka tersebut dapat mengubah aura dan penampilan pemiliknya sehingga sama sekali tak dapat dikenal oleh orang lain. 

Seketika itu juga pelindung bersisik merah gelap di pergelangan tangan dan kaki Bintang menyebar. Dari hanya di pergelangan tangan, kini pelindung tersebut menyelimuti punggung tangan sampai menyentuh sikut. Sedangkan di kaki, pelindung menutupi mata kaki sampai ke lutut. Berkat panduan Nagaradja, Bintang sudah mulai dapat menggunakan Sisik Raja Naga secara efektif sebagai pelindung di lengan dan kakinya. 

“Ini adalah pertemuan pertama… dan terakhir kita,” ungkap sosok tersebut dengan datar. 



Catatan:

Sabar, ya… Pertarungan masih di episode depan :)