Episode 8 - Alas Kaki Pemberian Darojat


Sambil terus memberi rusa itu makan dengan cara memotek wortel yang terselip diketiakku dan kujatuhkan ke tanah, aku juga mencoba untuk mengelus-elus kepala hingga tengkuknya, berusaha membuatnya merasa nyaman. Sesekali kuusap leher bagian kiri rusa jantan tersebut.

Di saat yang tepat, tanpa rusa itu sadari aku berhasil menjerat lehernya dengan tali sandalku. Setelah wortelnya habis, rusa jantan itu menoleh ke arahku dan kubalas dengan senyuman. Menyadari dirinya dalam bahaya rusa itu berusaha untuk berlari namun tidak bisa. Lehernya telah terikat kuat dan semakin rusa itu berusaha berlari, jeratnya akan semakin mencekik lehernya.

Dengan wajah pasrah, rusa itu kubawa ke alun-alun Kota Raja. Ternyata di alun-alun sudah banyak calon prajurit dengan rusa yang berhasil mereka tangkap. Di sana aku pun melihat si Darojat yang melambaikan tangan ke arahku sambil memanggil-manggil namaku.

“Kau dapat rusa juga? Kupikir kau tidak akan berhasil. Hehehe…,” Gurau Darojat kepadaku.

“Tadinya sih hampir begitu, tapi untungnya dengan kecerdikan dan ketampanan yang aku miliki, akhirnya aku bisa mendapatkan rusa ini.”

“Eh, tadi aku tidak melihat kau saat mengejar rusa. Kau mengejar ke arah mana?” tanyaku kepada si pria berwajah sangar itu.

“Ya, ketika melihat rusa berlarian, aku langsung berlari ke warung, tapi ternyata warung makannya tutup.”

“Lah? Kok lari ke warung makan?”

“Iya, karena aku baru ingat kalau aku belum makan. Dan aku sadar bila perburuan ini akan membutuhkan tenaga yang banyak. Jadi kuputuskan untuk mencari warung makan… Hehehe…,”

“Lalu bagaimana kau bisa mendapatkan rusa itu?”

“Saat aku duduk-duduk di warung makan, aku melihat seorang calon prajurit telah berhasil menangkap seekor rusa dan hendak membawanya ke alun-alun. Namun tiba-tiba orang itu terjatuh, kejang-kejang, mulutnya mengeluarkan busa dan mati. Jadi kuambil saja rusa miliknya… Hehehe…”

Aku hanya bengong mendengtar ceritanya yang sedikit aneh itu. Mana mungkin ada keberuntungan seperti itu? Apa jangan-jangan Darojat membunuh calon prajurit lain? Melihat tubuhnya yang kekar dan wajahnya yang sangar, hal tersebut bukan tidak mungkin dilakukannya.

“Bercanda, setelah duduk-duduk sejenak di warung makan itu aku melihat sekor rusa yang kebingungan lalu kukejar rusa itu. Pengejaran cukup lama sampai aku bisa mendekati rusa itu dan kutarik salah satu kakinya lalu kutahan rontaannya. Sampai akhirnya berhasil kutaklukkan rusa itu.”

“Oooh... begitu ceritanya.. syukurlah…”

“Syukur kenapa?’

“Tidak… bukan apa-apa… Hehehe…”

“Sendalmu mana?” tanya Darojat yang baru menyadari bila aku tidak mengenakan alas kaki.

“Oh… itu… aku tinggal di pasar, talinya kugunakan untuk mengikat rusa ini.”

“Tunggu di sini sebentar... Tolong jaga rusaku sebentar, ya.”

Darojat menitipkan rusanya kepadaku dan berlari ke luar alun-alun, entah mau kemana dia, kebelet ingin buang air besar mungkin. Tak lama dia kembali sambil membawa sepasang sandal.

“Ini sandal cadanganku, sengaja kubawa kalau-kalau sendalku rusak diperjalanan. Berhubung sendalku tidak ada masalah, kau dapat mempergunakannya.”

“Wah… terimakasih, Darojat. Emm… sandal ini agak kebesaran, sedikit tidak nyaman di kakiku, tapi bagaimanapun terimakasih, ya,” ucapku sambil mencoba sandal yang diberikan oleh Darojat.

Karena masih banyak sisa waktu, kami menunggu diselenggarakannya babak kedua sambil berbincang-bincang di lapangan alun-alun sambil duduk santai. Sementara rusa yang berhasil kami tangkap malah asyik di samping kami memakan rumput hijau yang ada di sini.

“Gong! Gong! Gong!”

“Babak pertama selesai! Para calon prajurit keraton yang berhasil mendapatkan rusa harap berkumpul di alun-alun sebelah timur dan yang gagal harap berkumpul di sebelah barat,” perintah Lembu Sutta kepada kami didahului dengan pukulan Gong.

Aku dan Darojat bersama para calon prajurit lainnya yang berhasil menangkap rusa berbaris di alun-alun bagian timur. Kulihat wajah-wajah kecewa nampak dari para calon prajurit keraton yang berkumpul di alun-alun bagian barat. Di antara mereka ada yang bermandikan lumpur, entah apa yang habis ia kerjakan.

“Kepada para calon prajurit yang telah berhasil menangkap rusa, saya ucapkan selamat. Dan untuk yang tidak berhasil, saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya dan penghormatan kepada kalian semua yang telah rela berjuang demi menjadi prajurit Keraton Watugaluh. Tanpa mengurangi rasa hormat, kalian yang tidak berhasil menangkap rusa diperkenankan untuk membubarkan diri dan beristirahat.”

Setelah ada komando dari seorang prajurit keraton, para calon prajurit yang gagal pun membubarkan diri dan bergabung dengan rakyat Watugaluh yang menyaksikan ujian masuk prajurit keraton ini.

“Nah, melihat cukup banyak juga yang berhasil… Babak kedua akan dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama akan memanah lebih dulu, dilanjut kelompok dua dan seterusnya”

Setelah ada aba-aba untuk menghadap ke kiri, kami mengikuti aba-aba tersebut dan kini kami menghadap ke arah barat di mana matahari yang mulai bergulir dari atas kepala kami kini ada dihadapan kami. Cahayanya membuat mataku silau, aku harus menyipitkan mataku agar dapat melihat lebih jelas.

“Kepada rakyat Watugaluh yang berada di sebelah barat, mohon mengosongkan tempat itu. Tolong berpindah dari sana karena babak kedua akan segera dimulai.”

Mendengar perintah itu, rakyat yang menyaksikan acara ini dari tempat itupun bergegas meninggalkan tempat mereka berdiri.

“Dua saf awal akan menjadi kelompok pertama, diikuti dengan dua saf berikutnya yang menjadi kelompok kedua dan dua saf selanjutnya menjadi kelompok yang terakhir.”

Mendengar itu, aku langsung celingukan. Aku coba menghitung, masuk ke dalam kelompok yang mana. Dan ternyata aku masuk ke dalam kelompok yang kedua. Sementara si Darojat yang kini berada di depanku masuk ke dalam kelompok yang pertama.

Kulihat beberapa prajurit membagikan busur panah dan anak panah yang telah ditandai kepada para calon prajurit yang berada di saf pertama dan kedua. Selain itu, terlihat pula beberapa prajurit lainnya membawa kandang panjang yang berisi ratusan burung ke tepi alun-alun bagian barat.

 

“Setelah bunyi gong ketiga, tutup kandang tersebut akan ditarik. Saat burung-burung yang ada di dalamnya keluar, kalian boleh langsung memanahnya. Kalian mengerti?”

“Siap dimengerti!” sahut para calon prajurit yang telah siap dengan panahan di tangan mereka.

Kami yang tidak memanah diberi aba-aba untuk mundur. Sedangkan para calon prajurit yang kebagian giliran memanah dibebaskan untuk memilih posisi memanah asal tidak melewati batas yang telah ditentukan yaitu jalan yang membelah alun-alun. Setelah bunyi gong yang ketiga, salah satu prajurit di sebelah utara menarik tutup kandang burung yang terbuat dari anyaman bambu dan terbanglah burung-burung dara itu keluar dari kandangnya.

Kulihat para calon prajurit itu dengan berbagai gaya dan model kuda-kuda berusaha secepat mungkin memanah burung yang berterbangan. Namun, si Darojat malah terlihat begitu santai. Dia tidak terburu-buru seperti yang lainnya tapi juga tidak terlalu lambat. Cukup tenang. Namun arah anak panah yang dilesatkannya begitu akurat, hingga terlihat beberapa burung dara harus tersungkur karena anak panahnya. Ketenangannya patut untuk kutiru.

Sudah tidak ada burung lagi yang terlihat di sekitar alun-alun, sebagian telah terpanah oleh calon prajurit dan sebagian lainnya terbang jauh meninggalkan alun-alun. Para prajurit keraton yang ditugaskan menghitung jumlah burung dara yang terpanah pun mulai menjalankan tugasnya. Mereka mengumpulkan burung-burung itu dan mulai menghitungnya.

Kami harus menunggu beberapa saat sampai para prajurit itu selesai menghitungnya. Saat pengumuman, hanya kurang dari separuh calon prajurit keraton di kelompok pertama yang berhasil masuk ke babak selanjutnya. Dan kawanku Darojat termasuk calon prajurit yang berhasil lolos ke babak berikutnya dengan menjatuhkan enam burung dara. Hebat juga dia!

“Sekarang giliran kelompok kedua. Kelompok kedua dipersilahkan mengambil posisi memanah,” ujar Lembu Sutta setelah para prajurit keraton mengganti kandang yang kosong dengan kandang lainnya yang masih terisi oleh burung.

“Plak….koplak… koplak… koplak…” suara sandal pemberian darojat yang kukenakan terdengar aneh. Sendalnya lebih besar dari ukuran kakiku. Sebenarnya agak sedikit mengganggu tapi tak masalah. Bukan gangguan yang berarti, hanya membuatku sedikit kurang nyaman. Tidak… ini benar-benar membuatku tidak nyaman!

Alas kaki yang kukenakan terasa lebih berat, seolah enggan terlepas dari tanah ketika aku mengangkat kaki. Untungnya di babak kedua ini hanya uji memanah, aku tidak perlu terlalu banyak menggerakkan kakiku. Tidak dapat kubayangkan jika ujian kedua ini sama seperti ujian yang sebelumnya, bisa-bisa aku terjatuh karena alas kaki ini.

“Aba-abanya masih sama. Setelah bunyi gong yang ketiga, kalian boleh langsung memanah burung-burung yang dilepaskan itu, mengerti?

“Siap! Mengerti,” sahutku dan para calon prajurit lainnya di kelompok kedua.

Ini saatnya kupraktikkan apa yang telah diajarkan Wiraguna kepadaku. Kupasang kuda-kuda, kubuka bahuku sambil kutarik anak panah yang telah kupertemukan dengan busurnya. Kuatur nafas setenang mungkin dan…. Gong…. Gong…. Gong… kandaang itupun terbuka. Aku coba memfokuskan pandanganku yang terganggu oleh cahaya matahari yang mengarah kepadaku.

Kuincar sekor burung yang terbang ke arah utara dan kulepaskan anak panahku yang melesat begitu cepat ke arah yang dituju. Namun sayang, arah anak panah itu meleset. Aku yang panik jadi lupa dengan apa yang diajarkan oleh Wiraguna. Saat aku mencoba mengingat dengan cepat apa yang diajarkan oleh si pendekar panah itu, yang muncul dikepalaku malah wajah Paman Bagja dan candaan-candaannya. Wah gawat ini!

Akhirnya dengan penuh kepasrahan, kulesatkan seluruh anak panah yang kupunya ke arah kerumunan burung itu yang terlihat mulai terbang menjauh dan menyebar. Aku tidak peduli lagi, yang penting aku telah mencoba berusaha memanah mereka. Tak apalah aku kembali menjadi panjak dan membantu Empu Parewang membuat senjata untuk Keraton Watugaluh, mungkin itu satu-satunya pengabdian yang dapat kuberikan kepada Watugaluh.

Giliran kami pun selesai dan kami diminta menunggu hasil. Aku pasrahkan semuanya kepada Jagad Dewa Batara. Apa pun yang terjadi itu telah menjadi ketetapannya kepada diriku.

Saat pengumuman ternyata aku dinyatakan lolos! Aku berhasil memanah lima ekor burung. Ya, memang itu jumlah minimalnya. Tapi tidak apa-apa yang penting aku lolos ke babak berikutnya.

Aku dan calon prajurit lainnya yang berhasil lolos ke babak ketiga diminta bergabung dengan mereka dari kelompok pertama yang telah lebih dulu berhasil melewati babak kedua. Kami berbaris di tepi utara alun-alun Watugaluh. Berbaris dua saf dan aku memilih berdiri di samping Darojat, biar bisa mengobrol.

“Kemampuanmu memanah boleh juga, kau biasa berburu?”

“Ah… tidak juga, bila dibandingkan kau aku tidak ada apa-apanya. Berburu? Mana sempat, setiap harinya aku harus membantu Empu Parewang membuat senjata pesanan keraton,” jawabku kepada Darojat.

Kelompok ketiga pun telah usai melalui babak kedua. Terlihat sebagian dari mereka yang berhasil berjalan ke arah barisan kami dan ikut berbaris. Sebagian dari mereka ada yang mengisi barisan yang pertama dan ada pula yang mengisi barisan kedua.

“Untuk mempersingkat waktu, babak ketiga akan langsung dimulai. Kepada para prajurit keraton dipersilahkan menyiapkan tempat,” titah Lembu Sutta.

 Para prajurit keraton pun membagi tugas, ada yang menghitung jumlah kami, ada pula yang menyiapkan tempat pertarungan. Beberapa prajurit keraton membuat batas kotak-kotak di lapangan alun-alun dengan bambu, jumlahnya ada banyak. Meski ini pertarungan satu lawan satu, tapi untuk mempersingkat waktu akan dilaksanakan bersamaan. Jadi satu pasang petarung akan mengisi satu arena yang telah disiapkan dan akan bertarung bersamaan dengan pasangan lain di arena yang berbeda.

“Kepada para prajurit keraton yang berada di barisan pertama silahkan berbalik badan,” perintah Lembu Sutta yang diikuti oleh calon prajurit keraton yang ada di barisan di depanku.

“Nah, yang kini ada di hadapan kalian, itulah yang akan menjadi lawan tanding kalian.”

Celaka! Aku memang tidak bertarung dengan si wajah sangar Darojat, tapi aku bertemu dengan wajah sangar lainnya. Aku tidak sempat berkenalan dengannya, dia hanya senyum-senyum manja ke arahku, seolah gembira karena mendapat lawan seperti aku ini.

Darojat, bisakah kita bertukar tempat?! Ini tidak imbang bagiku! jeritku dari dalam hati.

“Sekarang silahkan masuk ke arena masing-masing, dan untuk yang diujung timur, karena tidak memiliki musuh maka dinyatakan lolos menjadi prajurit keraton Watugaluh… Selamat!” perintah Lembu Sutta kepada kami agar segera masuk ke arena.

“Sial! Kenapa tidak aku saja yang tadi berbaris di ujung sana? Kalau begitu ‘kan aku tidak perlu melawan pria berkumis tebal ini?” gumamku sambil berjalan masuk ke arena.

“Senjata yang boleh dipergunakan hanya senjata jarak dekat yang telah disiapkan oleh kami, silakan pilih senjata yang kalian sukai. Batas waktu pertarungan adalah sampai matahari terbenam. Yang dapat bertahan hingga matahari terbenam akan dinyatakan lolos. Setelah gong ketiga berbunyi, maka pertarungan dimulai,” ujar Lembu Sutta yang telah siap memukul gong.

Senjata yang dipegang oleh pengawas pertandingan perwakilan Keraton Watugaluh hanya gada, pedang dan tombak. Semua senjata yang tidak aku kuasai. Untuk mencari aman aku pilih tombak, aku berfikir jika tombak dapat menjaga jarakku dari si pria berkumis tebal itu, aku hanya perlu menahannya sampai matahari terbenam. Sementara itu si pria berkumis tebal itu memilih gada sebagai senjatanya. Sambil melempar-lempar gadanya dari tangan kanan ke tangan kiri dan sebaliknya. Ia tetap memasang senyum manja itu kepadaku. Seolah sedang meledek dan meremehkanku.

“Gong! Gong! Gong!”

Dan pertarungan pun dimulai. Si pria berkumis tebal itu memainkan gadanya, diputar ke kanan, dipindah ke kiri, diputarkan ke kepalanya, lalu dia berlari ke arahku. Aku yang panik hanya bisa menyodorkan dombakku padanya dan ia pun memukul ujung tombak yang kupegang.

Karena kerasnya hantaman yang dia berikan, tanganku terbawa oleh tombak yang kupegang. Melihat dia hendak menyerangku lagi kucoba menangkis serangannya yang datang dari arah atas dengan gagang tombakku. Namun tombakku patah dan dia pun menendangku hingga aku terguling ke belakang. Tombakku terbelah menjadi dua, yang satu masih kupegang dengan tangan kiriku sementara yang satunya lagi terlepas dan menancap di tanah.

Aku meminta senjata lagi kepada pengawas pertandingan tapi tidak diberikan. Aku lihat patahan tombakku yang satunya lagi, yang ada mata tombaknya tertancap di belakang pria berkumis tebal itu. Wah… gawat ini, gimana cara mengambilnya. Saat tengah memikirkan bagaimana cara mengambil tombak itu, si pria berkumis tebal malah berlari ke arahku. Pikiranku buntu, dan kuputuskan untuk mengambil resiko dengan berlari ke arahnya, berusaha untuk mengambil patahan tombakku yang tertancap di tanah tepat di belakangnya.

Ketika kami sudah dekat, kulihat dia mengarahkan serangan dari arah atas dengan gadanya!

Dan…. Aku pun tersandung karena sandal pemberian Darojat yang kebesaran ini terlepas. Aku jatuh dan kepalaku menyundul kemaluan si pria berkumis tebal. Dia meronta kesakitan sambil memegang kemaluannya. Gada yang dia gunakan sebagai senjata dijatuhkannya.

Ini kesempatanku! Kuambil gadanya dan kuhantamkan ke wajah pria berkumis tebal itu. Dia pun terjatuh ke belakang dan punggungnya tertancap oleh patahan tombakku.

Aku dinyatakan menang oleh prajurit yang mengawasi pertandingan dan aku kemudian disuruh menunggu di pinggir panggung tempatku tadi berbaris. Aku masih tidak percaya dengan kemenanganku. Alas kaki pemberian Darojat yang kebesaran ini ternyata membawa keberuntungan untukku. Darojat sendiri masih bertarung. Kulihat tubuhnya bersimbah darah, bukan darahnya tapi justru darah dari musuhnya yang babak belur dihajarnya dengan pedang. Ini baru sesuai, antara wajahnya yang sangar dengan kemampuan bertarungnya baru terlihat pas.

Setelah musuhnya menyerah, Darojat pun dinyatakan lolos dan berbaris di sampingku. Setelah matahari tenggelam, semua petarung dinyatakan selesai. Kami semua yang berhasil menyelesaikan ujian prajurit keraton dikumpulkan di tengah alun-alun. Kami diajak bersama-sama mendoakan calon prajurit yang gugur dalam ujian ini. Dan setelah mendengarkan penutup dari Prabu Reksa Pawira, kami dimandikan dengan air kembang sebagai simbol penyucian. Dan kami pun diperkenankan untuk tinggal dan menghuni kesatrian yang ada di dalam keraton.

Aku celingukan mencari Empu Parewang, karena ingin pamit kepadanya. Namun, hingga sampai pada saat aku digiring masuk kedalam lingkungan keraton oleh para prajurit, aku tidak melihat Empu Parewang. Kemana dia pergi? Apa dia ada di dalam keraton?