Episode 8 - Akhir Sebuah Janji

Untuk ke sekian kalinya, Kirana menatap perempuan yang sudah hampir tandas kesabarannya itu. Lidya, seorang petugas operator mall, sudah tidak bisa menguasai diri sebab jam kerjanya hampir habis. Pikiran negatif mulai menyerbu otaknya. Mulai dari Kirana tidak waras, lah, Kirana tengah mempermainkannya, lah, dan lain-lain. Berkali-kali pula, Lidya mengatakan bahwa kemungkinan Badut, lelaki yang dicari Kirana, sudah pulang ke rumah dan lupa mengisi daya ponsel. Namun, berkali-kali pula Kirana membantah. Katanya, dia—Badut—tidak mungkin pulang tanpa saya.

“Boleh minta panggilkan lagi, Mbak Lidya?”

“Duh!” Lidya mengeluh, sebelum akhirnya mendekatkan bibirnya ke pengeras suara, menarik napas untuk mengembalikan suara ramahnya, dan berkata, “Panggilan kepada Bapak Badut, panggilan kepada Bapak Badut, diharapkan segera ke bagian informasi, karena ditunggu oleh Ibu Kirana.”

Claudya menghela napas. Matanya menatap tajam ke arah Kirana. “Kalau setengah jam lagi belum datang, saya nggak bisa bantu lagi karena mall sudah harus tutup.”

Kirana mencoba menerima, meskipun wajahnya kecewa. Lebih dari kecewa kepada Badut, Kirana kecewa kepada dirinya sendiri; pada keyakinannya yang terlampau naif perihal janji sudah seharusnya ditepati. Dan, dia, meskipun setengah bergurau, menganggap janjinya untuk menemukan Badut sore tadi adalah sejatinya janji.

Kirana tidak hanya berdiam di meja operator. Dia bahkan berkeliling mall untuk menemukan Badut. Namun, hasilnya nihil. Sekarang, perempuan itu hanya bisa duduk, sementara di sebelahnya, Lydia, sibuk berkemas pulang.

Berjarak beberapa kilometer, Badut masih bertanya-tanya kepada keputasannya sendiri untuk kembali ke mall. Seperti dugaan Lydia, meskipun tak sepenuhnya tepat, Badut memang pulang ke rumah. Namun, dia tak lupa mengisi daya ponselnya, melainkan sengaja membiarkannya mati.

Sore tadi, ketika melangkah meninggalkan Kirana di lorong, secara tak sengaja Badut kembali melihat Claudya dan Daniel. Hatinya kembali tertikam, dan seketika saja dia memutuskan untuk pulang ke rumah, menumpahkan seluruh ketidakberdayaan yang larut dalam air matanya.

Badut setengah berlari, kembali pulang. Dia sudah tidak peduli apa pun, sebab satu-satunya yang dia inginkan adalah meninggalkan Claudya sejauh mungkin. Dia berlari, mencoba menjauh dari kenangan yang memburunya. Dan, yang terjadi dia tak peduli kepada Kirana.

Namun, setelah beberapa jam di rumah, menumpahkan tangis sekaligus memaki, Badut mulai berpikir bahwa ada kemungkinan Kirana masih di mall, menunggunya. Dia mencoba menelepon Kirana, namun sialnya ponsel perempuan itu mati. Akhirnya, setelah menimbang cukup lama, Badut memutuskan kembali ke mall.

Sekarang, dia mulai mempertanyakan keputusannya sendiri. Baginya, ini terlalu konyol untuk dilakukan. Kekhawatirannya soal kemungkinan Kirana masih menunggu tak masuk akal. Toh, sudah pasti Kirana sudah pulang, dan membencinya. Tetapi, Badut tidak punya pilihan lain, karena ternyata, kembali ke mall, lah, yang paling bisa menjawab kegelisahannya.

Badut turun dari bus Transjakarta, menyeberang jalan, dan memutuskan menumpang ojek untuk memintas waktu.

Sementara itu, Lydia sudah selesai berkemas. Lampu-lampu mall satu per satu padam, dan keyakinan Kirana untuk selalu menepati janji adalah satu-satunya yang masih menyala.

Kirana menatap ke sekelilingnya. Lelah membuat dadanya jadi sepetak yang subur untuk tumbuhnya melankolia. Lalu, perasaan yang tak dipahaminya itu terus menjalar ke arah matanya.

Kirana menatap ke langit-langit mall, menjaga agar kesedihannya tak berceceran dan mengotori lantai mall. Dia tak mau merepotkan petugas kebersihan mall, meskipun artinya dia mesti susah payah mengalihkan pikirannya kepada hal-hal lucu. Namun, rupanya, tak ada yang lebih lucu daripada kisah seorang perempuan yang merelakan dirinya menunggu seorang lelaki pecundang di meja informasi.

Badut bertanya tentang meja informasi di lantai tempat dia meninggalkan Kirana kepada sekelompok pelayan toko yang telah memakai baju bebas. Lalu, salah seorang menjelaskan sembari tangannnya menuju ke satu arah. Badut mengangguk, kemudian berjalan tergesa. Entah mengapa, dia tak juga berhasil memenangkan logikanya bahwa Kirana sudah pasti pulang sejak sore.

Tak jauh dari Badut, Lydia mengangkat ponselnya. Di seberang sambungan, pacarnya mengatakan bahwa dia sudah menunggu di tempat biasa. Namun, merasa iba dengan Kirana, Lydia berniat untuk mengajak perempuan itu keluar serta dari mall.

Di kejauhan, Badut menatap samar Kirana masih terduduk di meja informasi. Dia segera berlari menghampiri perempuan yang melankolianya hampir pecah jadi air mata itu.

Badut sampai. Dadanya sedikit bergetar melihat Kirana di hadapannya.

“Na,” panggil Badut.

Melihat sosok Badut datang, Kirana segera bangkit dan mendekat ke hadapannya. Matanya berair, dan tubuhnya bergetar.

“Oke! Aku sudah melunaskan janjiku. Sekarang aku mau pulang!”

Tak tahu mesti berkata apa, Badut menarik lengan Kirana yang hendak pergi, dan mendekap erat tubuh perempuan itu. Badut tak mengerti, mengapa dia bernyali melakukan itu. Sementara tersembunyi dalam pelukan Badut, Kirana merasa aman untuk menangis sejadi-jadinya.

“Maaf, ya, Na.” Badut cuma bisa mengucapkan itu. Sementara Kirana masih meraung, seraya satu lengannya memukuli pelan dada Badut.

Satu menit lewat. Melihat kejadian langka di hadapannya, Lydia memutuskan menunda kepulangannya. Sementara dalam pelukan Badut, Kirana sudah bisa mengatasi dirinya. Isaknya reda, dan tangisnya sudah menguap sempurna.

“Na,” ucap Badut, tanpa melepaskan pelukannya. “Ada hal lain yang sangat ingin aku lakukan bersama Claudya dan tak pernah terwujud.”

Ucapan Badut menyengat Kirana. Dia segera melepaskan tubuhnya dari pelukan Badut. “Peduli amat dengan keinginanmu! Aku sudah nggak mau bantu mewujudkannya!”

“Tapi kita baru saja melakukannya, Na. Aku sangat pengin memeluk Claudya yang tengah menangis di depan operator mall.” Badut mencoba bergurau, mencairkan kecanggungan di antara mereka.

“Eh, sebentar, Dut!” Menyadari Lydia masih berdiri di meja kerjanya, Kirana segera menghampiri perempuan itu dan membisikkan sesuatu. Lydia mengangguk, kemudian menyalakan pengeras suaranya.

“Panggilan kepada Bapak Badut, panggilan kepada Bapak Badut. Diharapkan segera mengajak Ibu Kirana makan malam, karena menangis bisa mengakibatkan perut lapar.”