Episode 27 - Silek Linsang Halimun


Telik sandi berarti mata-mata. Pasukan Telik Sandi merupakan pasukan mata-mata pemerintah Negeri Dua Samudera. Fungsi mereka adalah menelusuri dan mencari informasi dari seluruh pelosok negeri. Informasi yang terkumpul kemudian diolah, dan menjadi salah satu faktor penentu dalam merumuskan kebijakan.

Utamanya, pemerintah saat ini lagi-lagi tidak ingin mengulang kesalahan pemerintahan sebelumnya. Saat itu, kondisi dipermukaan seolah baik-baik saja. Padahal, dimana-mana timbul percik-percik ketidakpuasan rakyat atas pengelolaan negeri.

Pasukan Telik Sandi melebur diri ke setiap lapisan masyarakat. Menjadi tukang batu, petani, pengemis, tukang jahit, pengawal pribadi, penenun, pawang binatang siluman, penyepuh perisai, tabib, penjahit, ibu rumah tangga, tukang gosok batu, prajurit, penambang, pedagang... Mereka ada di mana-mana. Mengumpulkan informasi secara rahasia.

Dengan berselangnya waktu, langkah kaki Pasukan Telik Sandi dan Partai Iblis sering bertemu di persimpangan jalan. Tidak jarang rencana busuk dan tindakan laknat anggota Partai Iblis dibongkar habis oleh para telik sandi. Dengan demikian, pasukan pemerintah dan ahli dari aliran putih pun mendapat informasi tepat waktu dalam menumpas kegiatan Partai Iblis. Tidak jarang pula anggota Partai Iblis menjebak dan menangkap anggota Pasukan Telik Sandi, yang kemudian mereka siksa tanpa belas kasih.

Demikianlah Partai Iblis dan Pasukan Telik Sandi. Yang satu bergerak dari balik bayang-bayang, yang satunya lagi melebur ke dalam tatanan masyarakat. Dua organisasi ini saling memburu dan diburu.

Jutaan bintang berkedap-kedip menghiasi langit-langit malam. Penerangan utama malam adalah sebentuk bulan sabit yang menggantung indah. Andai kata malam ini dihabiskan bersama seorang kekasih, sejuk semilir angin tentunya akan menjadi alasan untuk saling mendekapkan diri. Tergantung dari pendekatan, mungkin sepasang kekasih bisa berbuat lebih dari sekadar berdekapan.

Selama menjadi saudagar keliling, dan anggota Pasukan Telik Sandi, berbagai pelosok di wilayah tenggara telah ia kunjungi. Tidak sedikit gadis-gadis dusun yang menantikan kehadirannya, tentu karena ia membawa barang pesanan dan dagangan. Di antara gadis-gadis tersebut, adalah satu dua yang menarik hatinya. Oh, alangkah sempurna malam ini bila bersama si dia.

Malangnya, di sini jiwaku, di dalam botol kecil di tangan seorang anak remaja. Dunia tidaklah adil. Mungkin demikian perasaan Panggalih Rantau. Jauh dari suasana romantis.

“Kakak Panggalih, kemanakah tujuan kita?” Bintang bertanya karena Panggalih yang sedari tadi hanya terdiam.

“Kita akan menuju ke kediaman seorang tabib kenalanku,” ungkap Panggalih cepat. “Racun di dalam tubuhku harus segera dikeluarkan.”

Tak lama berselang, Undan Paruh Cokelat terbang semakin rendah dan mendekatkan diri ke garis pantai. Posisi mereka saat ini persis di titik paling utara Pulau Kuda. Samar-samar terlihat sebuah tanjung dan beberapa batu karang besar. Batu karang terbesar bahkan bisa disebut sebagai pulau kecil. Semakin dekat, Bintang dapat melihat satu titik cahaya dari pulau karang tersebut.

“Undan Paruh Cokelat?” terdengar sambutan ketika burung pelikan raksasa mendarat di air di samping pulau karang. “Di mana majikanmu?” lanjut suara tersebut setelah hanya mendapati seorang anak di pundak burung.

“Salam hormat,” ungkap Bintang sesaat sebelum Undan Paruh Cokelat memuntahkan tubuh Panggalih dari paruhnya.

Seorang kakek tua menyeringai. Di tengah hembusan angin laut, ia bertelanjang dada. Rambutnya acak-acakan, begitu pula janggut dan kumisnya. Bintang menyodorkan botol bekas serbuk penawar racun ke arah sang kakek.

“Tuan Kakek Karang, tubuh hamba terkena racun,” Panggalih Rantau berbicara dengan mata hatinya.

“Kau datang dan pergi sesuka hati…” ungkap sang kakek memegang kaki Panggalih dan mulai menyeret tubuhnya ke dalam gubuk. “Hanya dalam kesusahan kau mengingat padaku…”

“Tuan Kakek Karang, mohon sedikit berhati-hati dengan tubuh hamba. Hamba belum menikah...”

“Ah… Aku tak mampu memindahkan jiwamu dari dalam botol ramuan kembali ke tubuhmu,” ungkap sang kakek setengah mengabaikan kata-kata Panggalih sebelumnya.

“Hamba hanya minta Tuan Kakek Karang mengobati racun setelah temanku ini mengembalikan jiwa Hamba ke tubuh. Bintang Tenggara namanya,” ungkap Panggalih sambil memperkenalkan.

“Anak ini…?” Baru kali ini sang kakek benar-benar memerhatikan Bintang. “Benarkah kau mengerti keahlian segel?”

“Salam kenal, Kakek Karang,” ungkap Bintang dengan santun. “Aku belum yakin dapat mengembalikan jiwa kepada raga…”

“Apa?!” Panggalih terkejut.

“Apa?!” Komodo Nagaradja siap mengamuk.

Jelas saja membatalkan jurus segel Memutarbalikkan Fakta adalah perkara mudah bagi Bintang. Bahkan, ia tidak perlu merapal segel lagi. Meski demikian, ia tak berbohong, karena memang selama ini baru dua kali merapal jurus tersebut, dan belum sekali pun pernah membatalkan jurus tersebut.

Bintang memainkan jemarinnya ke arah botol bekas ramuan penawar racun yang memuat jiwa Panggalih Rantau, lalu mengutak-atik formasi segel yang menyegel tubuh. Seketika itu juga, jiwa dan kesadaran Panggalih kembali ke tubuhnya.

“Huuaaaphhh…” Reaksi yang sama dengan ketika jurus segel Memutarbalikkan Fakta berhasil dirapalkan terjadi lagi. Sebagai tambahan, kali ini bukan hanya terdengar suara menarik napas panjang layaknya hampir tenggelam di perairan, namun terlihat dada Panggalih naik-turun karena deras napasnya.

Kakek Karang terperangah. Wajahnya mencerminkan ekspresi seolah melihat keajaiban. Jurus yang ia saksikan sungguh-sungguh dapat ‘memutarbalikkan’ dunia pengobatan. Kondisi tubuh yang seharuskan memburuk karena reaksi racun, seolah membeku. Reaksi racun terhenti. Bayangkan bila jurus tersebut bisa digunakan oleh para tabib, yang dengan mudah akan dapat menghentikan dampak suatu penyakit, lalu memiliki waktu sangat luang untuk menyiapkan pengobatan.

Setelah segel dibatalkan, selayaknya, racun bekerja kembali. Panggalih merasakan kesakitan yang luar biasa. Sendi di sekujur tubuhnya mengejang, suhu tubuhnya meningkat drastis. Kakek Karang segera menyelidiki asal-muasal racun…

“Hm… Racun Ular Laut Dangkal,” ungkap Kakek Karang. “Beruntung aku memiliki penawarnya. Binatang siluman ini banyak ditemukan di perairan Pulau Dewa.”

Bintang menghabiskan sisa malam beristirahat. Ketika pagi tiba, ia mendapati Panggalih tidak berada di tempatnya. Di luar gubuk, dalam keadaan tertatih, Panggalih sedang berdebat dengan Kakek Karang.

“Hamba hendak ke Pulau Batu dan bertemu dengan Kepala Pengawal Kerajaan Parang Batu... Mesti diserahkan secepatnya!” ungkap Panggalih Rantau

“Kau hendak mati konyol?! Berjalan saja kau kesusahan. Belum lagi ada satu regu Partai Iblis yang hendak mencabut nyawamu!” jawab Kakek Karang dengan nada tinggi.

Seketika itu juga Panggalih terhuyung. Terbatuk-batuk, disertai darah berwarna hitam yang keluar dari tenggorokannya. Racun Ular Laut Dangkal belum sepenuhnya berhasil dikeluarkan dari tubuhnya, ia belum pulih. Belum lagi, karena pengaruh racun, tubuhnya tidak dapat mengalirkan tenaga dalam dari mustika kasta perunggu. Apa pun itu alasannya yang membuat Panggalih Rantau bersikeras, bepergian dalam kondisi demikian sama saja dengan mengantarkan nyawa.

Bintang bergegas keluar dari gubuk, memapah Panggalih kembali ke dalam. Kakek Karang hanya menyaksikan tanpa kata-kata.

“Sang Lamafa Muda, kau telah menyelamatkan nyawa ini. Sedangkan hamba hanya melibatkanmu dalam permasalahan pelik,” ungkap Panggalih sambil merebahkan diri. Rasa hormat kepada Bintang tumbuh karena rasa terima kasihnya.

“Kakak Panggalih, janganlah dirisaukan,” ungkap Bintang.

“Kakak Panggalih, aku tadi mendengar Kakak hendak mengantarkan sesuatu ke Pulau Batu. Bukankah Pulau Batu adalah pulau persinggahan kita setelah Pulau Sabana?”

Rencana perjalanan Bintang bersama Panggalih menuju Pulau Dewa menggunakan jalur yang sangatlah biasa. Dari Pulau Paus menyeberang lautan ke arah barat daya menuju Pulau Kuda. Dari Pulau Kuda, perjalanan dilanjutkan ke arah barat laut menuju Pulau Sabana, baru kemudian terus ke arah barat menuju Pulau Batu. Barulah nanti di arah barat Pulau Batu dan kembali dipisahkan lautan, Pulau Dewa berada.

Berbeda dengan Pulau Paus dan Pulau Kuda yang terdiri dari kelompok-kelompok penduduk yang hidup dalam kesatuan dusun, di Pulau Batu terdapat sebuah kerajaan kecil. Meski terbilang kecil, kerajaan yang bernama Kerajaan Parang Batu tersebut merupakan satu-satu kerajaan tua di wilayah tenggara yang selamat dari peperangan seribu tahun lalu. Kerajaan inilah yang menjadi tujuan Panggalih saat ini.

“Jika kakak Panggalih tiada kuasa untuk menempuh perjalanan, ijinkan aku yang mewakilkan,” ungkap Bintang dengan tenang.

“Tidak, itu tidaklah mungkin!” jawab Panggalih sambil membangunkan tubuhnya. Wajahnya masih terlihat pucat pasi.

“Mengapa tidak?” sela Kakek Karang. “Hanya dengan menitipkan ‘naskah’ tersebut kepada anak inilah, kemungkinan keberhasilan akan berpihak kepada kita,” tambah Kakek Karang dengan memberikan penekanan lebih pada kata naskah.

“Partai Iblis sepertinya telah mengenal dirimu dengan baik. Mereka juga tidak ragu mengirimkan sepasukan pengejar. Bahkan fakta bahwa mereka mengerahkan binatang siluman berkemampuan terbang adalah petanda bahwa hal ini di luar kebiasaan. Dari kenyataan tersebut, kita dapat menyimpulkan betapa pentingnya naskah itu bagi mereka. Kemungkinan besar, Partai Iblis bahkan mengirimkan lebih dari satu regu pengejar,” tambah Kakek Karang menjelaskan.

Panggalih berpikir keras sebelum menatap Bintang dengan dalam. “Apakah benar adik bersedia membantu?” Panggalih hendak memastikan sekali lagi.

“Yap,” Bintang menganggukkan kepala dengan pasti.

“Tidak hanya hamba melibatkan Sang Lamafa Muda, tapi juga akan menyeretnya lebih jauh ke dalam permasalahan ini,” Panggalih menghela napas panjang. Perasaan dan tubuh terasa sama beratnya.

Panggalih kemudian memberikan uraian lebih mendalam.

Singkat kata, ia berceritera tentang peran dirinya sebagai anggota Pasukan Telik Sandi pemerintah. Semula, ia hanyalah saudagar keliling. Karena pemahaman dan jaringan yang terbangun baik sebagai saudagar, ia pun memperoleh kesempatan mengabdi pada negeri. Tugas utamanya mencari dan mengumpulkan informasi terutamanya di wilayah tenggara, yang secara berkala dikirimkan kepada pemerintah wilayah dan pemerintah pusat.

Selama bertahun-tahun bergerak sebagai telik sandi, ia belum mengendus pergerakan Partai Iblis di wilayah tenggara. Namun, beberapa pekan lalu, ia berpapasan dengan beberapa orang yang mencurigakan. Melalui berbagai cara, ia mendekatkan diri dengan salah satu dari mereka. Akhirnya ia dapat menyimpulkan bahwa mereka adalah anggota Partai Iblis. Dari penelusuran lebih lanjut, ia juga menemukan bahwa mereka membawa sebuah naskah rahasia. Panggalih kemudian mencuri naskah tersebut. Walhasil, sampailah pada situasi saat ini.

“Hamba tidak mengetahui apa isi gulungan naskah ini,” ungkap Panggalih sambil mengeluarkan sebuah gulungan naskah berwarna hitam. Bintang dapat melihat aura segel menyelubungi naskah.

“Kita perlu menyerahkan gulungan naskah tersebut kepada Kepala Pengawal di Kerajaan Parang Batu,” tambah Kakek Karang yang sedari tadi hanyalah berdiam diri. “Biarkan Kepala Pengawal itu nanti yang mencari jalan untuk membuka segel gulungan naskah itu.”

Bintang mengambil gulungan naskah dari tangan Panggalih. Perasaan ingin membuka segel muncul dalam dirinya. Menyadari bahwa mengetahui isi di dalam naskah bukanlah kepentingannya saat ini, ia pun menahan diri.

“Aku akan mengantarkan gulungan ini atas nama Kakak Panggalih. Janganlah khawatir, aku dapat melindungi diriku sendiri.” Bintang kemudian meletakkan gulungan naskah ke dalam tas punggungnya.

“Sebagai ungkapan terima kasih karena menyelamatkan nyawa ini, hamba hadiahkan jurus silat Silek Linsang Halimun,” Panggalih menebar mata hatinya.

“Ilmu silat ini berasal dari kampung halaman hamba, terdiri dari tiga bentuk. Bentuk Pertama: Terhimpit di Atas, Terkurung di Luar; Bentuk Kedua: Tegang Mengalun, Kendor Berdenting; dan Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut.” *

Bintang membiarkan mata hati Panggalih Rantau merasuki dirinya. Seutas benang keperakan kemudian terlihat menghubungkan mereka, lalu merasuki Bintang. Ia merasakan sensasi yang sama ketika Komodo Nagaradja mewariskan jurus silat Tinju Super Sakti.

Benak Bintang melayang, tubuhnya bergetar. Bintang meresapi ketiga bentuk jurus silat yang baru ia terima. Tubuhnya menghapal setiap gerakan dari ketiga bentuk.

Bentuk Pertama merupakan kepiawaian menyembunyikan diri di balik bayangan. Bentuk Kedua adalah ketangkasan dalam menghindar seolah menjadi bayang-bayang. Sedangkan Bentuk Ketiga merupakan kemampuan berpindah tempat dengan hanya meninggalkan bayangan. Bentuk ketiga inilah yang digunakan Panggalih saat membunuh pimpinan regu Partai Iblis. Menurut Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian, kebolehan berpindah tempat yang sedemikian dinamakan ‘teleportasi jarak dekat’.

“Peruntunganmu luar biasa baiknya!” tiba-tiba Komodo Nagaradja berkomentar.

“Sebagai ungkapan terima kasih dalam mengemban tanggung jawab ini, Hamba hadiahkan pula Lencana Telik Sandi. Kapan saja dan dimana saja, bilamana membutuhkan bantuan, dengan mengirimkan pesan melalui mata hati ke lencana ini maka anggota Pasukan Telik Sandi terdekat akan memberikan bantuan suka rela,” tambah Panggalih.

Bintang menerima Lencana Telik Sandi. Bentuknya bundar selebar kepalan bayi dan terbuat dari logam berwarna biru. Sisi luar lencana terukir lingkaran berwarna kuning. Pada sisi dalam lingkaran, 30 buah bintang kecil berwarna hitam tersusun melingkar.

Catatan:

* Nama bentuk-bentuk ‘Silek Linsang Halimun’ diadaptasi dari beberapa peribahasa.