Episode 26 - Partai Iblis vs Pasukan Telik Sandi


Seribu tahun lalu, pandangan umum mengatakan bahwa Negeri Dua Samudera tumbuh makmur dan sejahtera. Dunia persilatan dan kesaktian mencapai puncak kejayaan. Berbagai jurus silat dan jurus sakti baru diciptakan. Sebagian besar jurus yang diciptakan bermanfaat, baik bagi para ahli maupun khalayak awam.

Dari sudut pandang pemerintahan, kepemimpinan Sang Maha Patih berlaku adil kepada semua. Pembangunan tidak mengenal kawasan atau daerah tertentu saja. Seluruh pemangku kepentingan bahu-membahu membangun negeri.

Malangnya, kemakmuran dan kesejahteraan tersebut hanyalah di permukaan saja. Untuk mencapai kemajuan, ada segelintir pihak yang dirugikan. Pembangunan istana baru nan megah, misalnya, memerlukan pembebasan lahan dalam skala besar. Walhasil, tanah dan lahan pertanian milik siapa pun, termasuk para ahli, diambil paksa.

Perumusan jurus silat dan sakti baru, memerlukan kelinci percobaan untuk diuji-coba. Demikian banyak para ahli yang bersaing, saling mengalahkan dan membunuh. Proses ini menumpuk dendam dimana-mana. Anak yang kehilangan ayah, akan membalas dendam dengan membantai pembunuh ayahnya, untuk kemudian menjadi sasaran balas dendam oleh anggota keluarga dari orang yang baru saja ia bunuh. Demikian terus-menerus menjadi jalinan mata rantai dendam yang tak terputuskan.

Kongkalikong antar para bangsawan dengan sesama bangsawan, antar bangsawan dengan saudagar, atau antara para saudagar, bergerak di balik layar. Mereka mengejar keping-keping emas karena memajukan persilatan dan kesaktian memerlukan sumber daya dalam jumlah besar, yang tak jarang sangat terbatas. Ahli yang tidak memiliki sokongan pembesar, bahkan ahli berbakat dari keluarga kecil menjadi korban. Mereka ditipu, ditindas, diperdaya, bahkan dibunuh tanpa alasan.

Tentu saja Sang Maha Patih tidak menutup mata dan berdiam diri. Ia membangun sebuah sistem peradilan. Namun, sistem tersebut tidak bertahan lama. Sebaik apa pun sebuah sistem hukum, bilamana dijalankan demi kepentingan pribadi atau sekelompok orang, maka akan berlaku semena-mena. Keadilan membela yang kaya. Para hakim disogok, menjatuhkan hukuman kepada yang lemah, membela yang mampu membeli jasa mereka. Betapa keji.

Sungguh, di balik kemakmuran terpendam ketidakadilan dan ketidakpuasan.

Oleh karena itu, sekelompok ahli berkeyakinan bahwa tindakan Kaisar Iblis Darah menabuh genderang perang merupakan langkah mulia nan suci. Tata negara yang kotor diporak-porandakan. Melahirkan tatanan yang baru.

Para ahli pendukung Kaisar Iblis Darah membangun Partai Kaisar Mulia. Anggotanya datang dari berbagai wilayah dan latar belakang. Di balik bayang-bayang, mereka menyusup ke dalam ranah politik dan ekonomi. Visi partai adalah membangun pemerintahan baru. Misi yang diemban adalah mendobrak tatanan yang selama ini telah terbangun.

Demikian adalah niat awal berdirinya. Ratusan tahun kemudian, Partai Kaisar Mulia tumbuh semakin besar. Namun, lagi-lagi dorongan duniawi mengubah idealisme.

Demi sumber daya untuk meningkatkan persilatan dan kesaktian, anggotanya merompak, menculik, memeras, menganiaya… Mereka tak ubahnya penjahat yang berasal dari aliran sesat. Tak dinyana, partai revolusi justru menjelma menjadi sesuatu yang dulu mereka perangi. Ditambah dengan fanatisme buta dan memuja kepada Kaisar Iblis Darah, Partai Kaisar Mulia menjelma menjadi… Partai Iblis!

 

“Mereka tiada berasal dari wilayah tenggara,” ungkap Panggalih Rantau sambil memacu Kuda Cendana. “Kabar burung tentang Partai Iblis hendak membangun ranting di wilayah tenggara sungguh benar adanya.”

Panggalih dan Bintang memacu Kuda Cendana secepat mungkin. Di belakang mereka sembilan orang anggota Partai Iblis mengejar, juga dengan menunggang Kuda Cendana. Di padang rumput yang luas, sulit mengecoh para pengejar tersebut.

"Swush!" tiba-tiba seekor binatang siluman Elang Laut Dada Merah membayang-bayangi kecepatan pacu Panggalih dan Bintang!

"Sialan!" Panggalih terlihat cemas. "Mereka tidak hanya mengejar dari daratan."

"Berhenti!" Terdengar suara dari balik elang. "Jikalau kalian masih sayang nyawa, berhentilah sekarang juga."

Keadaan sangat berbahaya. Bisa saja Elang Laut Dada Merah menukik dan menyambar mereka. Panggalih berpikir keras. Para pengejar masih memberi amaran, mungkin masih ada peluang tawar-menawar.

Panggalih menurunkan kecepatan pacunya, diikuti Bintang. Di tengah padang rumput di siang hari nan terik mereka berhenti. Elang laut mendarat, mengangkat kepulan debu tinggi ke udara. Pengejar berkuda berhenti pada jarak sekitar 10 m dari Panggalih dan Bintang.

"Apa gerangan maksud Tuanku mengejar Hamba," ungkap Panggalih kepada penunggang kuda yang kini telah menyusul.

"Hamba hanyalah saudagar keliling yang hendak menjemput perbekalan." Walau mengenakan penutup kepala dan wajah, para pencegat tersebut seperti sudah mengenal sasaran mereka yang tak lain adalah Panggalih Rantau.

"Panggalih Rantau! Serahkan gulungan naskah yang kau bawa!" teriak lelaki yang turun dari kuda tanpa basa-basi. Wajahnya tertutup, hanya menyibak dua bola mata. Jubah yang ia kenakan sama hitamnya dengan yang lain, hanya sedikit lebih pendek. Sejak awal ia adalah pimpinan mereka.

"Naskah apa yang Tuan maksud? Apakah ada naskah yang ingin Tuan pesan?" ungkap Panggalih bernada layaknya saudagar keliling yang hendak menerima pesanan.

"Jangan berpura-pura! Serahkan segera!" sergah penunggang elang sambil turun dari tunggangannya.

"Sungguh hamba tiada mengerti maksud dan tujuan Tuan sekalian..." Panggalih terlihat kebingungan. "Hamba hanyalah saudagar keliling kecil di wilayah tenggara. Teman seperjalanan hamba pun hanyalah seorang anak yang ingin belajar menjadi seorang saudagar."

Bintang waspada. Ia mengamati gerak-gerik setiap orang berjubah hitam di hadapannya. Kesimpulan pertama: kesepuluh orang tersebut kegerahan karena mengenakan jubah hitam di tengah terik matahari di atas padang rumput.

"Hei, keparat! Berhentilah berpura-pura!" penunggang kuda semakin tak sabar.

"Sergap dia!" perintah pimpinan regu Partai Iblis. Kesembilan orang berjubah hitam di belakangnya bergerak bersamaan.

"Silek Linsang Halimun!"

Sedikit lagi cengkeraman para penyergap menggapainya, tubuh Panggalih Rantau berbayang. Sebuah jurus silat. Kemudian, satu lagi bayangan dirinya muncul tepat di belakang pimpinan regu. Karena pergerakan maju anak buahnya menutup pandangan, menghilangnya Panggalih tidak ia sadari. Oleh karena itu kehadiran mendadak Panggalih tentunya mengejutkan pimpinan regu tersebut. Terlambat sudah!

Secepat kilat Panggalih menjambak kepala sang pimpinan regu ke belakang dan menghujamkan belati tepat di sisi lehernya. Percikan darah terlihat mengalir deras. Di saat yang sama terdengar pula suara si kepala regu tersedak darahnya sendiri. Sebelum akhirnya roboh di atas rerumputan yang berubah merah.

Gerakan membunuh yang ringkas, cepat, dan tanpa ragu. Meski keahlian kepala regu dua tingkat di atas Panggalih, namun kelengahanlah yang merobohkannya.

"Kurang ajar!" kesembilan orang yang terlanjur melompat ke depan segera memutar arah.

Bintang tertegun. Ini kali pertama ia melihat seseorang tewas terbunuh. Begitu cepat nyawa melayang, oleh gerakan silat dan belati teman seperjalanannya sendiri.

"Apa yang kau pikirkan?" bisik Nagaradja malas. "Kau kira dunia persilatan dan kesaktian itu bersih dari noda darah?"

Panggalih kembali menjadi bayang-bayang dan muncul tepat di belakang orang terakhir yang menuju ke arahnya. Tiba-tiba anggota Partai Iblis tersebut bergerak ke samping. Sedangkan dari balik posisinya tadi, sebuah pedang menusuk tepat ke arah dada Panggalih.

Rupanya mereka menjadi lebih waspada. Ketika temannya menghindar, seorang lagi langsung menghunuskan pedang.

Panggalih melompat ke belakang. Pedang menggores lengan kanannya. Ia terus merangsek mundur, namun kurang cepat dibandingkan dengan langkah pengejarnya…

"Badak!"

Sebuah dentuman memekak telinga tiba-tiba membahana! Bintang melompat dan sudah berada di antara Panggalih dan para pengejarnya. Ia menghantamkan gerakan pertama jurus Tinju Super Sakti ke arah tanah. Lima pukulan beruntun menghasilkan kecepatan supersonik dan gelombang kejut yang mengangkat tanah bercampur debu, mengepul tinggi ke udara. Sebuah kawah di tanah tercipta dari kekuatan tinju tersebut.

Kesembilan orang pengejar tak sempat berbuat apa-apa ketika dipaksa terpental belasan langkah ke belakang. Elang Laut Dada Merah terkejut dan melompat terbang. Kuda Cendana milik para anggota Partai Iblis pun lari berhamburan.

"Ke utara!" sergah Panggalih ke arah Bintang. Mereka melompat ke atas kuda dan memacu tali pelana selaju mungkin. Darah mengalir dari sisi bibir Panggalih. Kesadarannya memudar. Pedang yang menyabetnya mengandung racun!

Hampir seperempat jam mereka melaju. Kuda Panggalih terus melambat. Akhirnya terhenti. Bintang segera menurunkan Panggalih. Racunnya pastilah cukup ganas, hanya dalam selang 15 menit Panggalih hampir tak bisa bergerak.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Panggalih merogoh kantongnya. Jemari tangannya yang lemah lalu mengeluarkan botol kecil yang kemudian terjatuh ke tanah. Bintang segera memungut botol tersebut, membuka tutupnya, dan berniat menuangkan isinya ke mulut Panggalih.

Mulut Panggalih tertutup rapat. Matanya melotot! Bintang mencengkeram keras rahang Panggalih, berupaya membuka paksa rahang yang kini begitu kaku. Apakah rahang kaku dan mata melotot ini dampak racun?

Panggalih masih melotot, sebentar lagi mungkin mata tersebut akan berlinang air mata. Tapi kini bola matanya bergerak berkali-kali dari arah botol kecil penawar racun, ke arah lengan kanannya yang terluka oleh sabetan pedang salah satu anggota Partai Iblis.

"Oh!" Bintang mengangguk.

Isi botol tersebut ternyata serbuk penawar racun untuk luka luar. Tentu bukan untuk diminum, melainkan ditaburkan ke luka akibat sabetan pedang. Panggalih tak lagi melotot. Setelah serbuk penawar racun ditabur, kini ia terkulai lemas, mulai putus asa.

Meski tujuan perjalanan mereka ke arah barat, Panggalih justru memilih melarikan diri ke arah utara. Bintang dapat membaca arah pemikiran Panggalih. Saudagar tersebut pastinya ingin memotong arah terbang Undan Paruh Cokelat. Bila sesuai rencana, dan keberuntungan berpihak pada mereka, binatang siluman tersebut akan terbang menyusul dengan mengitari sisi utara Pulau Kuda.

Bintang memacu Kuda Cendana dengan menggandeng kuda yang satunya lagi di belakang. Panggalih beristirahat dalam posisi telungkup. Kecepatan mereka tidak maksimal.

Jauh di belakang, kepulan debu mengudara. Empat atau lima anggota Partai Iblis berhasil mendapatkan Kuda Cendana mereka kembali. Mengejar dengan hati dongkol.

Selang satu atau dua jam kenudian, para pengejar semakin mendekat. Malam segera tiba, pikir Bintang. Kemudian ia merasakan hembusan gemulai angin laut. Sebentar lagi mereka tiba di pesisir pantai.

Pesisir pantai sudah mulai terlihat. Sedikit ke barat, sudah terlihat Undan Paruh Cokelat sedang berburu ikan. Panggalih Rantau adalah pribadi yang waspada. Rupanya bukan hanya mengatur rute terbang, ia bahkan telah menentukan titik-titik perhentian binatang siluman tersebut. Persiapan kalau-kalau sampai terjadi hal yang tak terduga.

Kejadian membahayakan jiwa tentu bukan baru sekali ini ia alami. Bintang menerima pelajaran berharga, sekaligus bertanya-tanya apakah antisipasi sedemikian dalam merupakan sesuatu yang lazim bagi para saudagar keliling...

Lalu, masih terbayang gerakan membunuh Panggalih yang demikian efisien. Ia masih tak percaya teman seperjalanan yang terkenal ramah tersebut bisa bertindak demikian kejam…

Bintang memacu kuda ke arah Undan Paruh Cokelat. Kini mereka sudah berada di pesisir pantai. Panggalih masih tak sadarkan diri. Menurut bab tentang keterampilan khusus para pawang binatang siluman di dalam Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian, seorang pawang menjalin semacam kontrak antara dirinya sendiri atau orang lain dengan binatang siluman yang telah dijinakkan. Dengan demikian, hanya pemilik kontrak tersebut yang dapat mengendalikan binatang silumannya. Adalah sia-sia upaya mencapai Undan Paruh Cokelat bila Panggalih tak sadarkan diri, karena jelas Bintang tak dapat memberikan perintah kepada binatang siluman tersebut.

Para pengejar semakin mendekat.

Bintang menurunkan Panggalih dari kuda. Menampar pipinya beberapa kali. Namun lelaki tersebut masih tak sadarkan diri. Bintang meraih botol kecil penawar racun. Mungkin ini bukan penawar yang tepat, pikirnya. Ia lalu kembali menaburkan sisa serbuk penawar racun.

Panggalih tak kunjung sadar. Botol penawar racun di tangan Bintang kini telah kosong. Tidak ada cara lain, terpaksa kutempuh cara itu, pikir Bintang…

Para pengejar kini hanya berjarak puluhan meter.

"Memutarbalikkan Fakta!"

"Haaaaphh..." terdengar suara seperti menghirup napas sangat dalam dari botol kecil penawar racun. Bintang berhasil memindahkan jiwa dan kesadaran Panggalih Rantau ke dalam botol kecil tersebut.

Tak pernah terpikir oleh Bintang jurus segel itu akan kembali ia gunakan. Syarat dan ketentuan untuk menyegel raga Panggalih dan memindahkan jiwanya ke dalam botol terpenuhi. Pertama, segel hanya bisa dirapalkan kepada target yang menjelang ajal. Dan kedua, target tersebut harus kehilangan semangat hidup, termasuk berputus asa, walau hanya seberkas.

"Di mana ini?!" Kesadaran Panggalih berbicara menggunakan mata hatinya.

"Tunggu dulu… Hei, Sang Lamafa Muda! Kau hampir mengirimku lebih cepat ke liang kubur saat mencoba memaksakan serbuk penawar racun ke dalam mulutku." Panggalih yang biasanya tenang, terdengar kesal.

"Kakak Panggalih, hal-hal kecil kita bahas nanti saja. Para pengejar sudah menyusul."

Seketika itu juga Undan Paruh Cokelat dengan cepat terbang mendekat ke arah mereka. Cukup menggunakan indera keenam, Panggalih dapat memberikan perintah kepada binatang siluman tersebut.

Undan Paruh Cokelat segera membuka paruh besarnya dan melahap tubuh Panggalih. Masih memegang botol kecil penawar racun, Bintang pun mengusir kedua Kuda Cendana mereka, sebelum melompat ke pundak burung pelikan raksasa itu.

Para pengejar yang terlambat beberapa meter dari mereka hanya dapat merasakan sapuan angin dari kepak sayap Undan Paruh Cokelat. Mereka menyaksikan burung itu terbang menyisir pantai, namun terlalu jauh untuk bisa mereka sergap.

"Burung pelikan akan terbang menyisir pantai, sebelum terbang ke Pulau Sabana. Kita berjaga di pesisir barat menantikan kemunculan saudagar sialan itu," ucap salah seorang anggota Partai Iblis kepada temannya. Sedangkan yang lainnya sontak mereka berteriak kesal.

"Kali ini kau beruntung dapat melarikan diri!”

“Tapi tak akan lama!”

“Kami akan segera mencincangmu!"

“Hei, telik sandi keparat!”

Demikian teriakan para anggota Partai Iblis sahut-menyahut membangun harmoni yang sungguh tak enak didengar.

Telik sandi? Bintang bertanya dalam hati. Apakah telik sandi?



Catatan:

Episode dengan jumlah kata terbanyak, sejauh ini…