Episode 7 - Pemilihan Prajurit Keraton Watugaluh


Hari yang kunantikan itu pun akhirnya tiba. Ya, hari ini merupakan hari dimana seleksi prajurit Keraton Watugaluh dilaksanakan. Selepas terbangun dari tidur, aku bergegas pergi ke halaman rumah Empu Parewang dan melakukan beberapa latihan untuk terakhir kalinya.

Semangatku pagi ini mengalahkan semangat sang surya. Sudah sedari tadi aku berlatih namun fajar tak jua bangkit dari tempatnya beristirahat. Oh, ternyata… Aku yang bangun terlalu pagi. Di sela latihanku terdengar suara ayam berkokok. Tak lama setelah langit berubah warna menjadi jingga, Empu Parewang keluar dari rumah dan menghampirku.

“Sudah…. Latihannya sudah cukup. Bersihkan dirimu, makan, lalu kita pergi ke alun-alun Kota Raja,” ujar Empu Parewang dengan kantuk yang masih tersisa di wajahnya.

“Baik, Kek. Oh iya, kira-kira nanti sainganku banyak apa tidak ya, Kek? Mereka tangguh atau tidak ya, Kek?”

“Kalau masalah banyak, cukup banyak... ratusan orang. Kalau masalah tangguh atau tidak, aku pun tidak tahu. Yang jelas di antara mereka ada prajurit yang dikirim oleh kadipaten-kadipaten di bawah Kerajaan Watugaluh untuk ikut seleksi.”

“Oh, begitu…. Aku agak sedikit cemas kek…”

“Percaya pada dirimu sendiri dan binasakanlah setiap kecemasan yang menggerogoti pikiranmu itu. Sudah, mandi sana!”

Selesai mandi dan sarapan, aku bersama Empu Parewang pergi ke Alun-Alun Watugaluh. Di sanalah acara tersebut akan digelar. Sepanjang jalan kulihat orang ramai berjalan kaki menuju ke arah alun-alun Kota Raja yang letaknya berada di depan Keraton Watugaluh. Rupanya hari ini bukan saja hari yang istimewa untukku seorang, tapi juga untuk seluruh rakyat Watugaluh. Seleksi prajurit Keraton Watugaluh menjadi tontonan dan hiburan yang menarik bagi rakyat.

Selain itu, aku juga melihat umbul-umbul kerajaan terpasang di sepanjang jalan, menghiasi jalan menuju Keraton Watugaluh. Selama seleksi prajurit, akses ke dalam dan ke luar Kota Raja Wilujaya pun diperketat. Tidak ada yang diperkenankan keluar maupun masuk ke dalam Kota Raja Wilujaya. Sehingga, beberapa orang dari luar Wilujaya yang hendak mengikuti seleksi prajurit atau pun yang hendak menyaksikan jalannya acara tersebut harus datang beberapa hari sebelumnya.

“Kamu lapor diri dulu sana, setelah itu berkumpul dengan calon prajurit lainnya,” ujar Empu Parewang ketika kami tiba di alun-alun.

“Hm… maaf, Kek. Saya harus lapor diri ke mana, ya?”

“Lihat ke arah timur alun-alun, di sana ada para prajurit kerajaan yang duduk di belakang meja dan dipayungi oleh prajurit lainnya, ‘kan? Nah, kamu bergabung dengan barisan yang ada dihadapan mereka dan lapor diri.”

“Oohh.. mereka yang berbaris itu sainganku ya, Kek?”

“Bisa jadi. Sudah, ikut baris sana! Aku mau menemui Prabu Reksa Pawira dulu….”

Suasana di sini begitu ramai, untuk berjalan pun agak sedikit sulit karena harus berhimpitan dengan rakyat Watugaluh yang hendak menonton. Meskipun begitu, alun-alun yang akan dijadikan tempat ujian calon prajurit terlihat kosong. Ya, memang begitu, karena untuk saat ini belum ada yang boleh masuk ke area alun-alun atau pun sekedar melewati jalan yang membelah alun-alun itu. Empu Parewang pun kulihat berjalan memutar melalui jalan yang ada di sisi barat alun-alun untuk menuju Keraton.

Aku berbaris mengikuti barisan para calon prajurit keraton yang hendak lapor diri. Saat berbaris itu aku berkenalan dengan seorang kawan baru, namanya Darojat. Dia berasal dari Kadipaten Lor Gunung di sebelah utara Watugaluh. Darojat orangnya sangat ramah, namun cukup berisik. Selama kami menunggu giliran melaporkan diri, selama itupula ia mengoceh. Suaranya pun sedikit lucu, seperti orang bindeng atau orang yang sedang pilek, padahal badannya besar dan wajahnya pun cukup sangar.

 Setelah kami lapor diri dan menunggu beberapa saat, kulihat Patih Lembu Sutta naik ke atas panggung yang disediakan di depan gerbang Keraton Watugaluh. Para calon prajurit dimintanya untuk berkumpul dan membuat barisan di alun-alun. Kami membagi dua barisan, satu di alun-alun yang berada di kanan jalan dan barisan yang satunya lagi di alun-alun yang berada di kiri jalan. Setelah barisan kami rapih, Lembu Sutta mempersilakan keluarga kerajaan untuk naik dan duduk di singgahsana yang telah dise diakan diatas panggung.

Prabu Reksa Pawira bersama dengan Permaisuri, selir dan anak-anaknya pun naik ke atas panggung. Kami dikomandoi oleh seorang prajurit di ujung sebelah kanan untuk memberikan hormat dan kami pun berlutut memberi hormat kepada Prabu Reksa Pawira dan keluarganya. Setelah menerima hormat kami, Prabu Reksa Pawira menyampaikan terimakasihnya kepada kami yang masih setia kepada Watugaluh. Dia pun memberikan beberapa wejangan kepada kami sebelum memulai proses seleksi dan memukul gong yang dibawa oleh ajudannya ke sudut kiri pangung sebagai tanda dimulainya seleksi prajurit Keraton Watugaluh. Setelah itu, Prabu Reksa Pawira bersama keluarganya menempati tempat yang telah disediakan.

Sebelum Patih Lembu Sutta membacakan peraturan dan tata cara pemilihan prajurit keraton kepada kami semua, dia menyampaikan sebuah kabar gembira. Lembu Sutta mengatakan bahwa pasukan yang dipimpin oleh Soka Dwipa, Adipati Surya Kusuma dan Adipati Tedjo Alur telah berhasil merebut empat kadipaten yang sebelumnya dikuasai oleh pasukan Jayalodra.

Seluruh rakyat yang ada di tempat ini pun langsung bersorak-sorai mendengar informasi tersebut. Aku, di dalam hatiku merasa kagum sekaligus khawatir dengan sahabatku Adipati Soka Dwipa. Kagum karena tanpa ilmu kanuragannya ia mampu memimpin pasukan bersama dengan dua adipati lainnya dan merebut kembali beberapa kadipaten yang telah dikuasai oleh pasukan Jayalodra. Khawatir, karena aku tahu, bila ia sampai berhadapan dengan Jayalodra dan tersentuh oleh mustika Karang Abang maka Soka Dwipa akan lenyap dari muka bumi.

“Kini akan kubacakan tata cara pelaksanaan dan aturan dalam pemilihan prajurit Keraton Watugaluh. Harap semua calon prajurit mendengarkannya baik-baik!” terdengar suara Patih Lembu Sutta membahana.

“Ujian pemilihan prajurit keraton akan dilaksanakan dalam tiga babak. Babak pertama akan dilaksanakan dari saat bayangan pohon itu,” ia menunjuk sebuah pohon besar yang berada di luar alun-alun sebelah timur, “keluar dari alun-alun keraton hingga saat matahari tepat berada di atas kepala.”

Lalu ia melanjutkan bahwa babak pertama adalah uji kegesitan. Kecepatan akan diuji di babak dengan cara menangkap seekor rusa. Bagi yang berhasil menangkap rusa berhak mengikuti babak kedua yang akan dilaksanakan mulai dari saat bayangan pohon, kali ini menunjuk sebuah pohon besar yang berada di luar alun-alun sebelah barat, mulai condong ke arah timur hingga bayangannya masuk ke dalam alun-alun.

Nah, di babak yang kedua ini giliran ketangkasan yang diuji. Kalian akan diberikan kesempatan untuk memanah burung dengan panahan yang kami sediakan. Setiap calon prajurit akan diberikan sebuah busur panah dan sepuluh anak panah yang telah ditandai.

“Kalian harus mampu memanah lima burung dari burung-burung yang diterbangkan. Jika kalian berhasil maka kalian akan masuk ke babak ketiga, babak penentu, yang akan dilaksanakan mulai dari saat bayangan pohon itu di sebelah barat memasuki wilayah alun-alun hingga saat matahari terbenam,” ungkap Patih Lembu Sutta lagi.

Pada babak ketiga kekuatan yang akan diuji dengan cara bertarung. Calon prajurit yang berhasil sampai ke tahap ini akan diacak dan diadu dengan calon prajurit lainnya. Sampai di sini, terdengar suara riuuh dari calon rajurit keraton mulai terdengar di sana-sini. Sepertinya mereka membicarakan tentang ujian yang akan mereka hadapi.

“Semuanya harap tenang!” lagi-lagi Patih Lembu Sutta berseru.

“Saya akan membacakan peraturan dalam seleksi penerimaan prajurit Keraton Watugaluh,” dengan demikian ia menggariskan peraturan yang cukup panjang.

Peraturan dalam babak yang pertama, para calon prajurit tidak diperkenankan membunuh atau melukai rusa yang dilepaskan. Jika berhasil menangkap rusa namun rusa tersebut mengalami luka maka calon prajurit tersebut dinyatakan gugur. Selain itu, calon prajurit juga dilarang berebut rusa, dalam artian bila sudah ada yang berhasil menangkap rusa dilarang merampasnya. Dan bila terjadi perselisihan maka rusa tersebut akan kembali dilepaskan lalu mulai menangkapnya kembali.

Dalam babak kedua, para calon prajurit keraton hanya diperkenankan menggunakan panahan yang telah disediakan oleh pihak Keraton Watugaluh. Calon prajurit yang bertanding dilarang mengganggu arah panah calon prajurit lainnya. Bila ada yang mengganggu arah panah calon prajurit secara langsung, maka ia akan dinyatakan gugur.

Di babak yang ketiga, para calon prajurit diperbolehkan menggunakan senjata atau pun ilmu kanuragan. Di babak ini para calon prajurit dapat menunjukkan kebolehannya sebaik mungkin. Cedera atau kematian di babak ketiga ini adalah tanggung jawab dari calon prajurit keraton itu sendiri. \

“Bagaimana? Paham semuanya?” tutup Patih Lembu Sutta.

“Siap!”

“Paham!”

Seluruh calon prajurit keraton termasuk Darojat yang sedari berbaris serius mendengarkan arahan dari Patih Lembu Sutta, menjawab bersahut-sahut.

“Ini baru benar!” Darojat kini berubah sangat berbeda dengan saat menunggu giliran lapor diri. Wajah sangarnya pas dengan sikapnya saat ini, tidak seperti tadi. Eh… Kalau nanti dia yang jadi musuhku di babak ketiga, sepertinya serem juga. Jangan sampai…

“Bagus kalau begitu. Selamat mengikuti ujian prajurit keraton Watugaluh dan dengan ini saya nyatakan babak pertama dimulai!” Patih Lembu Sutta berujar sembari memukul gong sebanyak tiga kali.

Setelah pukulan gong yang ketiga, terlihat beberapa rusa berlarian dari belakang panggung ke berbagai arah. Aku tidak tahu pasti berapa jumlah rusa tersebut. Cukup banyak namun tidak sebanyak calon prajurit keraton.

“Itu adalah rusa-rusa yang harus kalian tangkap! Cepat tangkap rusa-rusa itu sebelum jauh!” titah Patih Lembu Sutta.

Kini bukan hanya rusa-rusa itu yang kulihat berlari berhamburan, namun juga para calon prajurit keraton yang mulai berlari berebut mengejarnya. Aku pun tidak mau kalah, aku ikut mengejar rusa yang jumlahnya terlalu sedikit bila dibandingkan dengan jumlah calon prajurit. Rakyat yang menyaksikan acara ini tertawa melihat aksi kami menangkap rusa, mereka juga sengaja membuka jalan agar rusa-rusa itu bisa berlarian ke penjuru kota.

Wah! Bahaya kalau sampe rusa-rusa itu masuk ke kota raja Wilujaya. Di sana lebih luas daripada di alun-alun ini. Akan semakin sulit untuk menangkap mereka. Dan benar saja, kebanyakan dari rusa itu berlarian ke arah Kota Raja, sementara rusa lainnya ada yang berputar-putar di tengah alun-alun dan dikejar oleh beberapa calon prajurit. Ada pula rusa yang kulihat seperti takut dan kebingungan dengan keramaian yang ada. Aku juga melihat ada beberapa calon prajurit yang telah berhasil mendapatkan rusa.

Wajah sangar Darojat tidak terlihat, kemana dia mengejar rusa itu? Ah… sudahlah… aku harus fokus dengan buruanku. Aku berlari ke arah Kota Raja dimana terlihat banyak rusa yang berlarian ke arah sana. Dan benar saja, tidak lama berselang setelah aku memasuki Kota Raja aku melihat seekor rusa, namun aku mengurungkan niat untuk menangkap rusa itu. Telah ada lima orang lain yang berusaha menangkap rusa yang berlari ke sana ke mari.

Aku telusuri jalan yang ada di permukiman penduduk dan tak kusangka ada rusa yang berlari ke arahku. Entah mengapa rusa itu berlari ke arahku, namun yang jelas ini merupakan keberuntungan bagiku. Rusa itu terus melaju sangat cepat ke arahku, hingga akhirnya seolah aku yang berlari dikejar oleh rusa jantan itu.

“Eh… tunggu dulu, seharusnya rusa itu kutangkap!” ujarku pelan sembari memutar balikan badanku.

“Nah! Ta tangkep koe!”

Rusa yang menyadari dirinya terancam itu pun menahan laju larinya dan berusaha berlari ke arah yang sebaliknya. Melihat hal tersebut aku pun tidak tinggal diam. Kukejar rusa itu dengan kecepatan penuh. Aku tidak mempedulikan apa yang ada di hadapanku, yang ada di mataku hanya rusa itu. Beberapa kali rusa jantan itu mengecohku dengan lari berbelok-belok. Jika aku berhenti karena lelah, rusa itu pun ikut berhenti seolah meledekku.

Aku mengejarnya hingga masuk ke pasar yang ada di Kota Raja Wilujaya. Di sana aku menghentikan pengejaranku karena lelah. Aku duduk selonjoran di samping meja penjual sayur yang lapaknya sedang tutup karena ada acara pemilihan Prajurit Keraton ini. Dan… Lagi-lagi rusa itu pun berhenti sambil sesekali menoleh ke arahku.

“Rusa edan… Bukannya lari malah celingukan. Lari sana!” ujarku kepada rusa yang hanya berputar-putar di tempat.

“Weehhh.. ngeyel.. ta suruh lari malah muter-muter di sana!”

Kulihat rusa itu hanya berputar di tempat sambil mengendus jalanan lalu memakan rumput yang tumbuh di samping jalan pasar. Melihat rusa itu tengah asik memakan rumput, aku ambil kuda-kuda untuk mengejarnya. Perlahan aku bangkit, mengambil posisi untuk mengejarnya. Belum juga aku berdiri rusa itu sudah menorah ke arahku dengan tatapan sinisnya.

“Sudah… makan saja.. aku nggak ganggu kok.. nggak ngejar lagi...” ujarku sambil kembali duduk.

Saat aku duduk kembali tak sengaja aku melihat ada beberapa wortel yang tergeletak di bawah meja. Mungkin terjatuh dan tidak dibereskan lagi oleh si pemilik lapak. Melihat wortel itu dan rusa yang sedang makan, aku pun punya ide.

“Sssttt… ssssttt… Rusa…. Rusa… mau nggak?” ujarku sambil menyodorkan wortel yang kuambil dari bawah meja.

Rusa jantan itu sejenak menghentikan kegiatannya memakan rumput dan menoleh ke arahku. Namun, tak berapa lama dia kembali menikmati rumput di pinggir jalan itu dan mengacuhkanku. Aku ambil kembali beberapa wortel dan coba menawarkannya kembali pada rusa itu.

“Ssstttt…. Rusa… yakin tidak mau?” ujarku sambil mengedipkan mata dan menyodorkan wortel dengan kedua tanganku.

 Akhirnya rusa jantan itu termakan oleh rayuanku. Dia berjalan mendekatiku dan berdiri di hadapanku. Aku sodorkan satu per satu wortel yang kupegang untuknya. Sambil memberinya makan dengan wortel mataku terus jelalatan ke sana ke mari mencari benda yang dapat kupergunakan untuk menangkapnya dan membawanya ke alun-alun kota raja.

 Karena tidak menemukan apa pun, aku memutuskan untuk menggunakan tali sandalku untuk mengikat rusa tersebut. Perlahan kulepas kedua sandalku sambil terus menjatuhkan wortel yang kupotek-potek ke hadapan rusa itu, supaya perhatian rusa jantan itu hanya tertuju pada makanannya. Lalu kuselipkan beberapa wortel yang tersisa ke ketiakku, agar tanganku leluasa mengikat tali tersebut di leher si rusa.