Episode 25 - Saudagar Keliling


Panggalih Rantau merupakan laki-laki berumur sekitar 22-23 tahun. Ia berasal dari wilayah pantai barat di Pulau Barisan Barat, dari sebuah tempat bernama Kota Bengkuang. Cukup jauh perjalanan yang pernah ia tempuh untuk merantau ke wilayah tenggara. Mungkin itu pula sebabnya nama belakang laki-laki ini adalah ‘rantau’.

“Apakah kakak tak merindukan kampung halaman?” pernah suatu waktu Bintang bertanya kepada laki-laki tersebut.

“Karena kecintaan pada kampung halamanlah yang menjadi alasanku untuk meninggalkannya…” jawab Panggalih Rantau saat itu tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Tentu saja jawaban tersebut mengherankan bagi seorang anak kecil. Meski demikian, tak menyurutkan semangat Bintang untuk terus bertanya tentang segala sesuatu di luar Pulau Paus kepada saudagar keliling tersebut.

Pekerjaan saudagar keliling adalah menjajakan barang dagangan dari pulau ke pulau. Barang dagangannya tidaklah tentu. Seringkali ia menerima pesanan, untuk lalu membawakan pesanan tersebut kepada si pembeli. Selain itu, seorang saudagar keliling memiliki pengamatan yang sangat baik, sehingga ia tahu siapa saja yang memiliki keping-keping perunggu serta barang apa saja yang mereka idamkan. Layaknya, Panggalih Rantau memiliki kemampuan pengamatan tersebut, bahkan mungkin di atas rata-rata saudagar lain.

Panggalih rantau dikenal sebagai seorang yang jujur. Tidak satu pun barang dagangannya yang pernah mengecewakan. Harga yang ia tawarkan pun terbilang sepadan. Pagi ini, ia tiba sesuai informasi yang diterima dari pulau sebelah.

Burung Undan Paruh Cokelat kesayangannya sedang beristirahat sambil menikmati penganan ikan yang telah disiapkan Kepala Dusun Lembata Keraf. Burung undan, atau lebih dikenal sebagai burung pelikan, merupakan burung pilihan banyak saudagar keliling. Binatang siluman burung Undan Paruh Coklat memiliki panjang tubuh sekitar empat meter dengan tungkai leher hampir setengah sepanjang tubuhnya. Bila Elang Laut Dada Merah bertubuh ramping, Undan Paruh Cokelat memiliki bobot tubuh yang jauh lebih besar. Meski tidak dapat terbang kencang, Undan Paruh Coklat memiliki kemampuan terbang dalam jangka waktu yang lebih panjang, serta mampu membawa beban banyak dan berat di dalam paruhnya. Selain itu, ia juga merupakan perenang dan penyelam yang tangguh.

“Apa kiranya yang bisa hamba bantu?” Panggalih Rantau berbasa-basi saat berhadapan dengan Lembata Keraf. Ia sebenarnya sudah membaca layanan seperti apa yang dikehendaki Kepala Dusun itu. Ceritera tentang kehadiran Sang Lamafa Muda dari Dusun Peledang Paus sudah beredar kemana-kemana. Lengkap dengan bumbu-bumbunya.

“Kami akan membeli seluruh dagangan Tuan Panggalih hari ini, serta menambahkan imbal jasa bila Tuan Panggalih berkenan mengantarkan anak kami ke Pulau Dewa,” ungkap Lembata Keraf tanpa basa-basi. Di belakangnya, enam orang kepala dusun lain berdiri.

“Oh?” Panggalih cukup terkejut. Ia sudah mengantisipasi akan permintaan tersebut. Sebagai seorang saudagar keliling pastilah ia mengetahui kabar tentang Perguruan Gunung Agung yang akan membuka penerimaan murid baru dalam waktu lebih kurang sebulan dari sekarang. Selain itu, warta tentang kemunculan seorang Lamafa dari Pulau Paus pun sudah sampai ke telinganya. Benang merah keduanya pun terjalin jelas. Yang baru ia sadari bahwa keberhasilan perburuan binatang siluman Paus Surai Naga bukanlah kabar angin, tapi nyata adanya. Dari mana lagi dusun tersebut memperoleh keping-keping perunggu demikian banyak, kalau bukan dari hasil perburuan paus?

Tentu permintaan Lembata Keraf tidak mungkin tidak ia terima, ditambah lagi ada enam kepala dusun lain di belakangnya. Permintaan ini sesuai dengan falsafah hidupnya dalam merantau, yaitu selalu menghormati penduduk setempat, dan secara khusus memenuhi permintaan mereka bilamana memungkinkan. Apalagi, dalam hal ini, Pulau Paus adalah salah satu pasar bagi Panggalih Rantau, lalu ada upah jasa pula.

“Tanpa Kepala Dusun sekalian membeli barang dagangan dan memberi upah, hamba dengan rendah hati akan memenuhi permintaan Kepala Dusun sekalian,” ungkapnya dengan tenang.

“Kami tetap akan senang memborong dagangan Tuan, dan memberi imbal jasa.”

“Bilamana Kepala Dusun memaksa, hamba tak berani menolak,” jawab Panggalih singkat. Mata hati Kasta Peringgu Tingkat 2-nya lalu meraba-raba siapa gerangan Sang Lamafa Muda.

Biasanya seseorang dengan kasta lebih rendah sulit merasakan secara tepat kasta di atasnya. Namun, pengalaman berkelana dari satu tempat ke tempat lain memberikan Panggalih Rantau kemampuan untuk secara akurat mendeteksi tingkat di atas kasta dirinya sendiri. Pengamatanya terhenti pada seorang anak yang mengenakan baju kemeja putih tanpa kerah dengan celana tenun ikat setengah tiang. Alas kakinya baru. Di pundaknya sebuah tas punggung kulit yang baru juga menggantung. Wajahnya sangat bersemangat. Benar-benar terlihat seorang anak yang hendak berangkat pada hari pertama ke sekolah.

Anak ini? Kasta Peringgu Tingkat 3? Ia teringat seorang anak kecil yang suka banyak bertanya. Sungguh perjalanan akan terasa panjang, pikirnya dalam hati.

“Kita akan bertolak seusai makan siang,” ungkap Panggalih sambil mengeluarkan bungkusan dagangannya dari paruh Undan Paruh Cokelat dan menghitung dalam benaknya keuntungan hari ini.

Waktu yang dinanti telah tiba. Bintang berpamitan pada ibunya. Kemudian mengucapkan terima kasih kepada enam Kepala Dusun lain di Pulau Paus yang hadir melepas kepergiannya. Lembata Keraf langsung bertekuk di satu lutut dan langsung memeluk erat tubuhnya. Sambil meneteskan air mata, ia menggumamkan beberapa patah kata-kata nasehat. Lamalera hanya berdiri dari kejauhan, di atas batu karang. Bintang melambai ke arahnya, dijawab dengan anggukan. Mata Lamalera sembab, itulah alasan ia tak mau mengucapkan perpisahan dari dekat.

Hari itu langit berawan, tapi tak mendung. Awan besar-besar berwarna putih terlihat berarak bergandengan. Berkat awan, terik matahari cukup bersahabat. Namun, kawanan awan masih jauh terletak di atas sana, sedangkan binatang siluman burung Undan Paruh Cokelat yang ditunggangi dua orang ahli berkasta perunggu tingkat rendah hanya terbang rendah menyisir laut. Duduk dimuka mengendalikan terbang Undan Paruh Cokelat adalah Panggalih, sedangkan Bintang duduk tepat di belakangnya. Aroma khas laut tercium kental.

Terpaan angin membuat Bintang sulit memandang ke hadapan. Rasa dingin pun mulai merasuki tubuhnya. Beruntung ia pernah menghabiskan waktu di Telaga Biru di Telaga Tiga Pesona. Tidak pernah terbayang olehnya program latihan Nagaradja begitu ampuh. Walau pada saat itu sempat terbersit di benaknya bahwa sang guru hanya ingin menyiksa saja.

“Kita… menuju… Pulau Kuda!” teriak Panggalih Rantau sambil sedikit menoleh.

Terpaan angin membuat berbicara sedikit sulit. Panggalih terpaksa berteriak, sehingga air liur mengalir dari sudut bibirnya. Butiran liur tersebut lalu dibawa angin melesat ke arah muka Bintang. Sigap, Bintang mengelak dari serangan mendadak tersebut.

“Kita… akan tiba… jelang malam!” air liur kini menyerang bertubi-tubi. Bintang mengambil posisi merunduk.

“Kakak Panggalih, lebih mudah berbincang dengan cara ini,” ungkap Bintang menggunakan mata hatinya.

“Eh?” Panggalih yang tingkatan kasta keahliannya lebih rendah sesungguhnya tidak bisa memulai pembicaraan menggunakan mata hati dengan ahli pada tingkat yang lebih tinggi. Jadi, hanya bila Bintang terlebih dahulu memulai jalinan, barulah mereka bisa berkomunikasi menggunakan indera keenam.

Pulau Kuda terletak di barat daya Pulau Paus. Perjalanan menuju Pulau Kuda memakan waktu yang cukup panjang, sekitar 8-10 jam. Bintang sadar bahwa bila Pulau Bunga tidak dalam keadaan tersegel, maka mereka akan menempuh rute yang lebih singkat.

Waktu berlalu cepat. Kini mereka telah mendarat di pesisir barat daya Pulau Kuda.

“Di depan terletak kediaman seorang teman,” ungkap Panggalih sambil memberi makan Undan Paruh Coklat. Ia pun mengeluarkan bekal dan menyerahkan satu bungkus kepada Bintang.

Panggalih dan Bintang lalu berjalan kaki sekitar setengah jam sebelum tiba di sebuah dusun. Saat melewati hutan tipis setelah pantai, Bintang berhenti menghitung langkah kaki ketika melihat pemandangan yang cukup aneh.

Matanya menangkap sejumlah menara dari lokasi yang mereka tuju. Benar saja, ketika tiba di dusun tersebut ia melihat rumah yang besar-besar ukurannya. Tambahan lagi, pada atap bagian tengah setiap rumah menjulang tinggi sebuah menara. Rumah-rumah tersebut, delapan jumlahnya, berdiri mengelilingi kubur batu peninggalan zaman dahulu kala.

Di salah satu rumah, teman Panggalih mempersilakan masuk. Setiap rumah rupanya tersusun dalam tiga bagian, yaitu menara rumah, bangunan utama, dan bagian bawah rumah.

“Kita akan menginap di rumah ini,” jelas Panggalih. “Cepatlah beristirahat, karena esok kita akan bertolak pagi-pagi sekali, membelah pulau dengan menunggangi kuda.”

Setelah itu Panggalih bersama temannya meninggalkan Bintang seorang diri. Dalam keseorangan, Bintang mengeluarkan Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian. Karena kantuk belum cukup terasa, lebih baik mengisi waktu dengan menyelami isi kitab, pikirnya. Mata hatinya perlahan menelusuri kitab tersebut.

“Ada yang aneh dari teman seperjalananmu,” Nagaradja bersuara setelah beberapa waktu belakangan berdiam diri.

“Aneh?” Bintang sedikit heran. Secara umum, Panggalih memanglah pribadi yang tidak biasa, tapi belum cukup untuk menyebutnya aneh.

“Benar. Ia dan temannya sekarang berdiri di tengah padang rumput. Berbisik-bisik. Seperti rahasia sekali isi perbincangan mereka,” ungkap Nagaradja acuh tak acuh.

“Apakah Guru dapat mendengarkan apa yang mereka bincangkan?”

“Aku tak tertarik mencuri dengar pembicaraan dua manusia,” ungkapnya cepat sebelum kembali menghilang ke dalam mustika.

Pagi hari. Dua ekor binatang siluman Kuda Cendana terlihat santai di ujung dusun. Berbeda dengan sebagian besar binatang siluman yang memiliki tubuh besar, Kuda Cendana justru terbilang kecil, bahkan bila dibandingkan dengan kuda-kuda biasa. Berkat kekuatan kaki dan kukunya, Kuda Cendana terkenal sebagai kuda pacu dengan kemampuan daya tahan tinggi. Kecepatan dan kekuatannya terkenal sampai ke seluruh penjuru Negeri Dua Samudera.

Oleh teman Panggalih, Bintang memperoleh panduan singkat menunggang kuda. Dalam waktu singkat pula ia mulai dapat berkuda. Panggalih lalu menyerahkan ikat kepala khas Pulau Kuda, yang juga ia kenakan tidak hanya untuk menutup kepala, tetapi juga mulut dan hidung menyisakan sepasang mata. Bintang meniru. Mereka pun memulai perjalanan.

Menurut penjelasan Panggalih, mereka akan menempuh perjalanan selama lebih kurang delapan jam menuju bagian tengah Pulau Kuda. Jelang malam, mereka akan menumpang di kediaman satu lagi teman Panggalih. Keesokan harinya, mereka akan melanjutkan perjalanan. Dengan kata lain, mereka akan membelah Pulau Kuda dari sisi timur ke sisi barat.

Perjalanan darat terpaksa ditempuh karena Undan Paruh Coklat yang biasa hanya mengangkut beban satu orang di pundaknya, terpaksa menyeberangi lautan dengan beban dua orang. Ditambah perjalanan sebelum tiba di Pulau Paus, Burung siluman tersebut kelelahan. Oleh karena itu, Panggalih memerintahkan sang burung untuk beristirahat, sebelum menyusul menyusuri pantai utara Pulau Kuda. Nantinya, burung siluman tersebut akan menunggu ketibaan mereka di sisi barat Pulau Kuda.

Yang paling penting, menurut Panggalih, ini adalah kesempatan bagi Bintang menikmati pemandangan indah Pulau Kuda. Padahal, Bintang mengetahui bahwa Panggalih memang ada keperluan dengan para teman yang ia temui di sepanjang perjalanan.

Empat jam berlalu sejak Panggalih dan Bintang memulai perjalanan. Mereka kini memasuki Perbukitan Gelombang. Pemandangan yang tersaji membuat Bintang terkesima.

Sesuai namanya, perbukitan tersebut bergelombang halus layaknya lautan luas di suatu hari yang tenang. Perbedaannya, jika air laut membentuk gelombang, di hadapan Bintang saat ini gelombang perbukitan dengan rerumputan yang tumbuh menghijau sejauh mata memandang. Anehnya, tak satu pun pohon berdiri di perbukitan rendah tersebut. Benak Bintang hanyut terbawa arus lamunan gelombang.

“Jangan terpesona dengan pemandangan!” sergah Nagaradja. “Perhatikan dengan mata hatimu!”

Seketika itu juga Bintang kembali dari lamunan dan menebar indera keenamnya. Ia merasakan titik-titik Kasta Perunggu dari berbagai penjuru pergerak perlahan mendekat. Apakah mereka perompak?

“Satu ahli Kasta Perunggu Tingkat 4, dua ahli Kasta Perunggu Tingkat 3, dan enam ahli Kasta Perunggu Tingkat 2,” gumam Panggalih Rantau.

Bintang menoleh ke arah Panggalih. Raut muka lelaki yang biasa terlihat tenang tersebut mendadak kecut. Giginya bergemeretak.

Dari kejauhan, perlahan muncul orang-orang berjubah hitam mulai bergerak mengepung. Benar saja, sembilan jumlah keseluruhan mereka.

“Cih! Partai Iblis!” Panggalih setengah mendesis.

 


Catatan:

Maaf, sedikit terlambat. Beberapa hari belakangan ini diserang pilek....