Episode 24 - Menuju Pulau Dewa


Pesta di Pulau Paus, dengan Dusun Peledang Paus sebagai pusatnya, masih akan berlangsung sampai beberapa hari, bahkan sampai pekan berikutnya. Bagaimana tidak, sudah sepuluh tahun lamanya dari saat terakhir penduduk Pulau Paus mendapatkan buruan paus. Lagi pula, selama beberapa tahun ke depan, mereka tak perlu banyak khawatir karena hasil olahan paus yang masih berlimpah. Dan yang terpenting, seorang lamafa telah lahir, dimana ketenarannya nanti akan membawa kemakmuran ke seluruh penjuru Pulau Paus.

Pagi harinya, Lamalera bergegas menuju gubuk kediaman Bintang. Semalaman ia belum juga melontarkan sepatah pun pada temannya itu. Kini ia sudah memantapkan hati untuk mengucapkan terima kasih, lalu menceramahi Bintang atas kebodohan saat menyelamatkan dirinya.

Akan tetapi, Lamalera terlambat. Sudah ada tamu yang terlebih dahulu datang bertandang.

Bunda Mayang dan Bintang duduk berdampingan di teras gubuk. Di hadapan mereka, Kepala Desa Lembata Keraf duduk termenung. Di antara mereka, di atas meja kecil, sebuah lencana tergeletak. Lencana tersebut berbentuk persegi lima, berukuran selebar kepalan tangan bayi, berwarna perunggu. Di permukaan lencana terdapat ukiran sebuah gapura. Di balik gapura terukir pula sebuah gunung. Lalu ada ornamen-ornamen lain yang juga menghiasi lencana, seperti kipas dan teratai. Lencana Perunggu Perguruan Gunung Agung!

Bintang tak lagi dapat menahan diri. Sedari tadi ia sudah cukup bersabar. Ia lalu menjulurkan tangannya ke arah lencana di atas meja. Wajah Lembata Keraf tegang.

Jemari Bintang menyentuh lencana, lalu perlahan menggeser posisi lencana sedikit ke arah kanan. Terdengar bunyi lencana bergeser pelan. Meski pelan, suara tersebut terdengar jelas ibarat batu karang dihempas ombak di tengah sunyi pagi.

Bintang terlihat tersenyum sendiri. Posisi lencana kini tepat dan persis berada di tengah-tengah meja.

Bunda mayang tersenyum. Lamalera menggelengkan kepala. Lembata Keraf melongo.

“Bunda, jika diperkenankan, aku hendak menuntut ilmu ke Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa,” ungkap Bintang kepada sang ibu.

“Bakat yang luar biasa akan tersiakan bila tidak mengenyam pendidikan di Perguruan Gunung Agung,” tambah Kepala Dusun mendukung.

Lamalera hanya bisa mendengarkan. Jantungnya berdegup kencang.

Sesungguhnya berguru ke Perguruan Gunung Agung lebih dari sekedar menuntut ilmu untuk meningkatkan keahlian. Diterima saja di Perguruan Gunung Agung maka akan meningkatkan status wilayah asal sang murid. Dusun Peledang Paus, dan Pulau Paus secara umum, tidak lagi akan dipandang sebelah mata. Dan yang paling penting adalah, kejayaan dan kemakmuran zaman dulu ketika nama para lamafa terkenal ke seantero negeri memiliki harapan untuk kembali lagi.

Kemudian, bila berhasil lulus dengan predikat yang baik, maka seorang murid akan menjadi pejabat negeri. Khusus Bintang, dengan potensi yang dimiliki, Lembata Keraf bahkan berani bertaruh bahwa anak tersebut bisa menjadi penguasa wilayah tertentu.

Negeri Dua Samudera sadar bahwa ia memerlukan banyak ahli yang berkualitas tinggi. Para pemimpin negeri saat ini tidak mau mengulang kesalahan masa lalu. Dulu, meski kemajuan dunia persilatan dan kesaktian sangat pesat, masyarakat sangat bergantung kepada Sang Maha Patih seorang. Ketika bencana datang melanda, banyak yang tidak siap. Oleh karena itu, para pemimpin saat ini ingin setiap wilayah menjadi mandiri dengan ahli-ahli yang tangguh dan berkelas.

Oleh sebab itu, setiap murid perguruan mendapatkan imbal jasa yang terbilang berlimpah dari pemerintah pusat. Imbalan tersebut berupa sumber daya untuk meningkatkan keahlian, sebut saja ramuan sakti, mustika binatang siluman, tumbuhan siluman, mineral, sampai senjata pusaka. Barang-barang tersebut dapat dimanfaatkan sesuka hati oleh murid perguruan, dimana sebagian besar digunakan untuk meningkatkan kesaktian. Semakin tinggi kasta dan tingkatannya, maka semakin tinggi pula imbalan yang diterima. Sebagai gambaran, imbalan bulanan murid terendah di Perguruan Gunung Agung nilainya bisa memenuhi kebutuhan hidup seluruh penduduk Dusun Peledang Paus selama sebulan penuh.

“Apakah sudah mantap hatimu untuk menempuh jalan berliku persilatan dan kesaktian?” tanya Bunda Mayang dengan lembut.

“Bunda, aku sudah siap. Aku memiliki alasanku sendiri,” jawab Bintang cepat.

Motivasi Bintang bukan terbatas pada menjadi penguasa wilayah, apalagi sekedar memperoleh imbalan dari pemerintah. Perihal mencari tahu tentang ayahnya bahkan kini menjadi alasan nomor dua. Bintang memegang janji pada gurunya yang wajib ia tunaikan. Ia bertekad mengembalikan jiwa Nagaradja ke tubuh yang sehat. Hutang emas dapat dibayar, hutang budi dibawa mati. Inilah alasan utama.

“Mungkin memang sudah takdirmu… “ Bunda Mayang menghela napas. Terlihat berat baginya melepas Bintang. “Bunda tidak akan melarangmu. Namun, tak banyak yang bisa bunda lakukan selain hanya mendukung dengan doa…”

“Aku tidak setuju!” suara gadis kecil parau mengejutkan mereka. Wajah Lamalera merah padam. Ia menatap Bintang sejenak, lalu memutar badan dan berlari meninggalkan gubuk.

Bintang segera meminta ijin untuk mengejar Lamalera. Ia lalu meninggalkan kakek Kepala Desa dan Bunda Mayang.

“Apakah ia kekasihmu?” tanya Nagaradja sedikit mengolok-olok. “Anak-anak jaman ini… masih kecil-kecil sudah bermain cinta.”

“Kurang tepat, Guru. Ia adalah sahabatku.”

Lamalera duduk termenung di salah satu batu karang di pesisir pantai. Tempat tersebut merupakan tempat di mana anak-anak bermain peran sebagai matros pendayung perahu, lamuri pengemudi, dan lamafa penikam paus. Ia kini menghadap laut, entah apa yang ia cari. Mungkin menghadap laut merupakan kebiasaan mayoritas masyarakat pesisir.

Bintang datang menghampiri dengan santai. “Lera, mari bermain menikam paus,” ungkap Bintang santai.

Lamalera diam, bahkan tak menoleh.

“Ayolah...” Bintang melangkah lebih dekat.

“Untuk apa bermain seolah lamafa? Permainan hanya untuk anak-anak. Kau adalah Sang Lamafa Muda dari Dusun Peledang Paus…” nada Bicara Lamalera sedikit sinis.

Bintang dapat membaca dengan jelas dan terang. Bila Lamalera berlaku sinis, maka ia sedang kesal. Bila itu terjadi, cara paling mudah adalah dengan mengumpankan anak-anak dusun untuk dicaki-maki. Kekesalan pun tak akan berlangsung lama. Namun, cara tersebut tak hendak ia tempuh kali ini. Bintang hendak menghibur Lamalera, bukan sekedar mencari cara agar anak perempuan tersebut dapat melampiaskan kekesalannya.

“Lera, maukah kau melihat jurus silatku?”

“Kau ingin memamerkan kehebatanmu di depanku?” Lamalera masih sinis.

“Bukan demikian… Aku hendak menunjukkan kemampuanku agar kau tak khawatir ketika aku pergi nanti. Kepergianku pun karena ingin menunaikan janji pada guruku, dan mencari tahu tentang keberadaan ayahku.”

Lamalera menoleh ke arah Bintang. Ia tahu betul kegundahan hati Bintang terkait sang ayah. Selama bertahun-tahun mereka berteman, hanya Lamaleralah yang memahami betul betapa Bintang mendambakan sosok ayahnya.

“Lakukan semaumu,” ungkapnya.

Bintang kemudian berjalan menjauh, mengambil kuda-kuda, dan… Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak!

“Duar!” dentuman memekakkan terlinga terdengar sampai ke dusun-dusun sebelah. Kecepatan supersonik dari lima pukulan beruntun menghasilkan gelombang kejut. Batu karang besar setinggi tiga meter hancur berkeping-keping.

Lamalera terbelalak. Telapak tangannya secara reflek menutup kedua belah telinga dan kedua matanya terpejam. Baru pertama kali dalam seumur hidupnya menyaksikan jurus silat dari seorang ahli. Tidak pernah terbayangkan olehnya kekuatan yang dimiliki para ahli akan sedemikian besar.

“Kau puas dengan mengurangi satu batu karang di dusun ini!?” teriaknya masih bernada sinis. Telinganya masih pengang. Kekesalannya justru mereda.

Tinggal lebih kurang sebulan waktu yang tersisa sampai tenggat waktu penerimaan murid di Perguruan Gunung Agung. Dari Pulau Paus, perjalanan menuju Pulau Dewa perlu melewati Pulau Kuda, Pulau Sabana dan Pulau Batu. Secara keseluruhan waktu tempuh yang diperlukan adalah sekitar dua sampai tiga pekan. Tentu saja perjalangan akan berlangsung lebih cepat bila menunggang binatang siluman yang mampu terbang.

Tanpa sepengetahuan Bintang, Nagaradja beberapa kali menyempatkan diri bertemu dan berbincang-bincang dengan ibunya. Dari Mayang, Nagaradja mendapatkan gambaran lebih mendalam tentang keadaan Negeri Dua Samudera saat ini. Lebih dari 500 tahun ia tersegel bersama Pulau Bunga, menyebabkan dirinya banyak tertinggal informasi.

Kepala Dusun Lembata Keraf telah melakukan sejumlah persiapan. Ia mengirim beberapa pesan ke pulau-pulau sekitar untuk mencari informasi perjalanan. Ia ingin memastikan bahwa perjalanan Bintang menuju Pulau Dewa berlangsung lancar. Kalau saja tidak karena penyakit di sendi lututnya yang sering kambuh, maka ia sendiri yang akan mengantarkan Bintang ke Pulau Dewa.

Kepala Dusun lain di Pulau Paus juga datang membantu semampu mereka. Hanya dalam dua pekan, dusun-dusun tersebut dapat membuat sejumlah hasil kerajinan dari tubuh Paus Surai Naga. Kulit paus berubah menjadi tas punggung dan sepasang alas kaki. Usus kecil paus berubah menjadi kantong penyimpanan air. Selain itu, ada pula yang memberikan beberapa potong pakaian jadi dari kain, untuk dikenakan sebagai pakaian ganti. Sederhana memang semua pemberian tersebut, namun bila melihat kualitasnya, sungguh dikerjakan oleh tangan-tangan terampil dan berdedikasi. Harapan penduduk Pulau Paus terasa disematkan mendalam di setiap perlengkapan tersebut.

 

“Bintang, kenakanlah ini,” Bunda Mayang menyerahkan sepotong pakaian baru.

Bintang langsung mencoba pakaian tersebut. Atasannya merupakan kemeja putih tanpa kerah, dengan bagian lengan yang longgar yang panjangnya sampai sedikit di bawah siku. Bagian bawah pakaian merupakan celana buntung yang bentuknya mirip dengan celana yang selama ini ia kenakan. Perbedaannya, bahan celana kali ini adalah tenun ikat.

“Menurut informasi dari pulau sebelah, hari ini saudagar keliling akan tiba di dusun kita. Bintang, kau akan ikut dengan saudagar keliling sampai ke Pulau Dewa,” ungkap Lembata Keraf.