Episode 23 - Jenderal Ketiga


Upacara adat atas keberhasilan perburuan paus baru saja rampung. Dusun Peledang Paus riuh. Obor menyala di seluruh penjuru dusun, merampas tabir malam. Api unggun menyala membara di pesisir pantai, merompak suhu dingin angin laut. Aroma laut kalah bersaing dengan keringat puluhan orang yang sedang memanen paus yang kini berada di pesisir pantai.

Daging, kulit, lemak, darah, dan tulang paus semuanya bermanfaat. Ada bagian yang langsung diolah sendiri oleh penduduk, ada pula yang dijual ke desa atau kota saat saudagar keliling singgah ke dusun. Lemak Paus Surai Naga dapat menerangi ratusan rumah selama beberapa tahun dan menjadi bahan bakar tungku di dapur. Daging yang tersedia lebih dari cukup untuk dijadikan santapan pesta-pora selama berbulan-bulan lamanya. Dan pestalah yang akan terjadi malam ini.

Para kepala dusun dari enam dusun lain tiba bersama penduduk dusun masing-masing. Bersama kehadiran mereka, setiap dusun membawa buah tangan. Ada yang membawa kendi-kendi tuak. Ada yang menenteng jagung, ubi kayu, rempah-rempah dan hasil bumi lain. Ada pula yang membawa bahan tenun ikat dan berbagai kerajinan rumah tangga. Kehadiran mereka tentunya untuk merayakan bersama hasil perburuan. Sesuai adat kebiasaan, siapa pun dusun yang berhasil memburu paus, didalamnya terdapat hak dusun lain. Semua orang akan mendapat jatah. Namun, yang lebih penting lagi, mereka ingin menyaksikan langsung lamafa muda yang lahir dari Dusun Peledang Paus.

Lembata Keraf menyambut para kepala dusun lain satu persatu dengan ramah. Ia sangat menjunjung tinggi adat kebiasan. Di saat banjir, ikan akan memakan semut. Di saat banjir surut, semut yang akan memakan ikan. Makhluk hidup akan mengalami pasang-surut kehidupan. Sehingga tidak boleh tinggi hati. Terlebih lagi, ia memandang bahwa tak ada milik pribadi dari perburuan paus. Segala hasil menjadi milik bersama. Masing-masing telah mengetahui hak dan pembagiannya. Tidak pernah ada sengketa dalam hal ini.

Ia dan kepala dusun lain kemudian duduk di barisan paling depan, setengah melingkari api unggun. Duduk tepat di belakang mereka adalah para tetua dusun dan tokoh-tokoh berpengaruh lain di Pulau Paus. Penduduk dusun sisanya berada pada posisi semakin jauh dari api unggun. Jumlah penduduk yang berkumpul di pantai Dusun Peledang Paus kini lebih dari 500 orang.

Secara alamiah, Lembata Keraf duduk di posisi paling tengah di antara kepala dusun lain. Pembawaannya tenang, jauh berbeda dibandingkan ketika ia menatap laut setiap hari. Sesekali ia menanggapi pembicaraan kepala dusun lain, tertawa, terkejut, tertawa lagi. Gelas tanah liat berisi tuak di hadapannya tak pernah kosong. Ada saja yang menuangkan tuak.

Tepat di depan Kepala Dusun Peledang Paus, di seberang api unggun, Bintang duduk bersila. Dari waktu ke waktu ia merasakan banyak tatapan mata yang mencuri pandang ke arahnya. Bahkan ada yang sampai berdiri hanya untuk menghapal sosoknya. Banyak tatapan tersebut mencerminkan keheranan dan kekaguman. Namun, ada satu tatapan mata yang membuatnya risih dan canggung. Di sebelahnya, Lamalera menghadap dirinya dan terus menatap.

Berbagai emosi memenuhi hati Lamalera. Marah, senang, muak, rindu… Lamalera belum mengutarakan sepatah kata pun sejak Bintang tiba di Pulau Paus. Bukan sengaja tidak hendak, tapi begitu tiba Bintang disambut kepala dusun, diarak pulang ke gubuknya dan menjalani upacara adat. Namun, kenapa kini setelah duduk di sebelah Bintang, ia masih tak dapat berkata-kata?


***


Bunda Mayang tidak berada di kerumunan penduduk. Setelah menyambut dan mendengarkan ceritera singkat tentang petualangan sang anak, mereka berpisah karena Bintang dipanggil Kepala Dusun untuk upacara adat lalu meramaikan pesta. Bunda Mayang kini berdiri menyendiri di salah satu karang di tepi pantai. Menatap laut. Tidak terbaca apa yang sedang ia pikirkan.

Samar-samar sebuah bayangan mirip manusia berkelebat ke sampingnya. Meski hanya ilusi, terlihat bayangan itu tegap dan kekar, tingginya lebih dari 2 m, berwarna merah gelap. Aura yang menyelimuti bayangan tersebut menampilkan nuansa kekuatan yang tiada banding.

Bunda Mayang menyadari kehadiran bayangan tersebut, tapi menyembunyikan keterkejutannya. Setelah mengamati bayangan dan meresapi aura yang dipancarkan, baru ia menghadap bayangan dan memulai pembicaraan.

“Salam hormat dan rasa terima kasih yang teramat besar Mayang Tenggara haturkan kepada Jenderal Ketiga Pasukan Bhayangkara, Sesepuh Komodo Nagaradja,” ungkap perempuan cantik itu sambil menundukkan kepala.

“Hm…?” Bayangan itu menoleh. “Naluriku tak salah cerna. Meski kutahu kau adalah istri Balaputera, tapi aku tak menyangka kau mengenakan pusaka Untaian Tenaga Suci untuk menyembunyikan kasta keahlianmu.”

Nagaradja mengenal betul pusaka Untaian Tenaga Suci, sebentuk kalung mengkilap yang saat ini menggantung di leher Mayang Tenggara. Seribu tahun lalu, di saat kejayaan Negeri Dua Samudera, hanya ada beberapa utas Untaian Tenaga Suci, pusaka langka yang mampu menyamarkan tingkatan keahlian. Dengan mengenakan pusaka itu, mustika tenaga dalam tidak dapat dirasakan bahkan oleh mata hati para ahli tingkat tinggi sekalipun. Pusaka itu bermafaat bila hendak bersembunyi atau mengasingkan diri dari pantauan indera keenam. Karena melihat kehadiran pusaka tersebut pulalah Nagaradja menampilkan diri dalam sosok manusianya.

“Apakah suamimu yang mengabari tentang keberadaanku di Pulau Bunga?”

Hanya Balaputera yang tahu keberadaan dirinya di Pulau Bunga karena memang pernah berkunjung. Meski, Komodo Nagaradja tak pernah mengungkapkan diri sebagai salah satu Jenderal Bayangkara, yang mengabdi langsung kepada Sang Maha Patih. Namun, Balaputera adalah seorang yang cerdas, tentu lelaki tersebut dapat mendeduksi tentang jati dirinya, pikir Nagaradja.

“Sungguh suamiku tak pernah mengatakan tentang kehadiran Sesepuh Komodo Nagaradja di Pulau Bunga. Aku pun baru ini menyadari keberadaan Sesepuh setelah melihat langsung diri Sesepuh…” Mayang berhenti sejenak. Lalu melanjutkan, “Mungkin setelah sekian lama, keberadaan diriku luput dari ingatan Sesepuh.”

“Hm…?” Nagaradja menatap Mayang. Ia mencoba menelusuri ingatannya. Sungguh seumur-umur tak pernah ia berhadapan dengan perempuan cantik di sampingnya ini. Siapakah ia gerangan?

“Tadi, kau katakan namamu Mayang… Tenggara…?”

Mayang mengangguk pelan.

“Kau… Jangan katakan bila kau putri dari… Gemintang Tenggara… si Lamafa Mata Api?!” Nagaradja setengah menyeringai. Reflek kakinya pun bergerak setengah langkah ke belakang.

Gemintang Tenggara adalah nama asli dari Lamafa Mata Api. Jika Komodo Nagaradja adalah siluman terkuat di wilayah tenggara Negeri Dua Samudera, maka Gemintang Tenggara adalah manusia terkuat di wilayah yang sama. Wajar saja bila dulu Nagaradja sangat ingin mengadu ilmu, menentukan siapakah sesungguhnya ‘ahli’ terkuat di wilayah tenggara.

Nagaradja lalu mengingat Gemintang memiliki keluarga… dan seorang putri.

Ingatan Nagaradja berkelebat pada seorang anak perempuan kecil dan dekil berusia sekitar lima tahun. Di tangan anak tersebut berdiam sebuah tempuling bambu yang panjangnya berkali-kali lipat tinggi tubuh mungil tersebut. Anak perempuan tersebut tersenyum manis kepada Nagaradja. Lalu, tetiba si anak melompat tinggi dan menikamkan tempuling… tepat di kening Nagaradja!

Tempuling hancur berkeping-keping, meski kening Nagaradja tak terluka sama sekali. Kejadian serupa tak hanya sekali terjadi.

Nagaradja kembali menatap Mayang. Mayang tersenyum manis. Sisik Nagaradja berdiri.

“Sungguh maafkan kelakuanku ketika masih kecil dulu,” ungkap Mayang kembali menundukkan kepala.

“Sudahlah… Lupakan saja. Jiwa dan kesadaranku tak bisa berlama-lama berada di luar mustika…” dengan itu bayangan tegap, kekar, berwarna merah menghilang secepat kilat.


***


“Ceriterakanlah kepada kami, wahai Sang Lamafa Muda, tentang kehebatan jurus silat dan jurus saktimu,” Kepala Dusun Tempuling Emas angkat bicara. Meski Bintang tidak berasal dari dusunnya, ia turut bangga bahwa seorang lamafa sejati setelah sekian lama kembali lahir dari Pulau Paus. Sebelumnya, kata ‘lamafa’ hanyalah gelar kepada seseorang yang bertugas menikam paus. Lamafa sejati memiliki makna yang lebih dalam dari itu.

Bintang tak mau menggugat gelar Sang Lamafa Muda, meski ia sendiri merasa jauh dari pantas menyandang gelar tersebut. Biarkanlah ia mengemban harapan akan lamafa, untuk memberi keceriaan dan harapan kepada penduduk Pulau Paus.

Kepala Dusun satu ini merupakan ahli terkuat di Pulau Paus. Ia berada pada Kasta Perunggu Tingkat Tingkat 4, satu tingkat lebih tinggi dari Lembata Keraf dan Bintang saat ini. Meski berada pada tingkat keahlian yang lebih tinggi, sorot matanya tak mencerminkan keangkuhan sama sekali. Tentu saja Kasta Perunggu Tingkat 3 pada anak berusia 13 tahun, dan Kasta Perunggu Tingkat 4 pada kakek tua, perbedaaannya seperti langit dan bumi. Si anak masih bisa berkembang lebih jauh, sedangkan si kakek hanya menunggu ajal.

Segera Bintang berdiri dan mengeluarkan Tempuling Raja Naga. “Kepala Dusun, Tetua dan saudaraku sekalian, aku mampu menikam Paus Surai Naga dikarenakan tempuling ini. Tempuling ini dihadiahkan oleh guruku.”

Decak kagum terdengar dari berbagai sudut. Semua mata berbinar melihat sebuah tempuling putih dan bersih, dengan ukiran halus di sekujur bilahnya. Sejumlah ahli yang hadir memeriksa Tempuling Raja Naga menggunakan mata hati mereka. Bagi sebagian lagi, mereka tak mampu mencerna aura menekan yang dipancarkan oleh tempuling tersebut.

Bintang tidak hendak jumawa. Akan tetapi, ia sadar harus menunjukkan sesuatu untuk memuaskan rasa ingin tahu penduduk pulau. Bagi sebagian, Kasta Perunggu Tingkat 3 adalah angan-angan, tapi belum cukup untuk membuktikan kemampuan membunuh paus yang secara umum diketahui setara dengan Kasta Perunggu Tingkat 7. Dengan menampilkan senjata pusaka setara Kasta Perak, keraguan penduduk segera menguap.

“Menganugerahimu senjata pusaka Kasta Perak, dan hanya dalam rentang waktu lima bulan membangun keahlian sampai Kasta Perunggu Tingkat 3, sungguh merupakan karunia. Siapapun gurumu, kami berterima kasih tiada terkira,” seorang tetua dusun mencoba menggali lebih jauh tentang keberadaan guru Bintang.

Seketika itu Nagaradja kembali dari pertemuannya dengan Bunda Mayang. Bintang mendengar suara melalui indera keenamnya.

“Hei! Bocah tengik!”

“Guruku adalah ahli berhati teramat mulia!” ungkap Bintang cepat. “Ilmu persilatan dan kesaktiannya sangatlah digdaya. Saat ekor Paus Surai Naga akan menghantamku lima bulan lalu, ia yang kebetulan sedang melintas menyelamatkan jiwa ini. Sayangnya, ia ingin mengasingkan diri dari dunia persilatan dan kesaktian. Aku adalah murid terakhirnya.”

“Apa yang terjadi, Guru?” Bintang menjawab panggilan gurunya menggunakan mata hati.

“Sudahlah! Lupakan saja…” keluh Nagaradja.

Decak kagum kembali terdengar. Semua yang Bintang ungkapkan dapat diterima akal.

Bintang belum ingin membuka rahasia keberadaan Pulau Bunga, karena tubuh gurunya masih berdiam di sana. Tidak ingin ia membahayakan tubuh gurunya bilamana pulau tersebut dikunjungi banyak pihak. Sehingga ia perlu sedikit menyesuaikan alur ceritera tentang keahlian yang ia miliki saat ini.


Catatan:

Selesai sudah babak pertama ‘Babak Persiapan’. Babak baru segera dimulai...

Berikut statistik Bintang saat ini:

Nama:

Bintang Tenggara

Julukan:

Sang Lamafa Muda?

Guru:

Komodo Nagaradja

Peringkat Ahli:

Kasta Perunggu Tingkat 3

Senjata:

Tempuling Raja Naga (tombak tulang sepanjang 4 m, berwarna putih dengan ukiran ruas-ruas tulang belakang. Dapat berubah menjadi bentuk spiral agar mudah disimpan. Bila dialirkan tenaga dalam, saat ini berat dan massa maksimalnya bisa mencapai 100 kg.)

Jurus silat:

1. Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak (Lima pukulan beruntun berkecepatan supersonik dari tangan kanan, yang menghasilkan gelombang kejut dan suara memekakkan telinga)

2. Jurus meringankan tubuh (Jurus dasar tanpa nama. Memungkinkan berjalan di atas air)

Jurus sakti:

Delapan Penjuru Mata Angin (Mampu menyerap dan menyuling tenaga alam dengan sangat cepat. Sementara ini disegel agar hanya mampu menyerap tenaga alam sebesar satu persen dari kemampuan aslinya)

Keterampilan khusus:

Memutarbalikkan Fakta (Jurus segel, memindahkan jiwa ke wadah penampungan lain, dan menjaga raga yang ditinggal tidak rusak. Jiwa nantinya dapat dikembalikan ke raga)

Unsur sakti:

Belum diketahui.

Aksesoris:

Sisik Raja Naga (Pelindung terbuat dari sisik selebar 10 cm, berwarna merah gelap. Dipakai di pergelangan kedua tangan dan pergelangan kedua kaki).

Hobi:

Berbenah dan membaca.

Kebiasaan:

Sering melamun, menghitung langkah, dan menjaga posisi simetris.