Episode 5 - Emas


Yashwan sudah membawa uang tunai untuk Cakrakinaryo dalam kantong kertas. Tanda terima yang lebih rapi juga sudah disiapkan.

Dalam perjalanan ke rumah Cakrakinaryo, Yashwan menerima telepon dari Jardis yang berada di kamar bawah tanah Cinere bersama Damar.

"Yashwan, coba sambungan GPS dengan smartwatchmu, aku dan Damar sudah memrogram GPS supaya menampilkan visual di rolltop dan smartwatch. Untuk smartwatch lebih mengutamakan fitur audio daripada visual. Kau tinggal mengatakan tujuan dan smartwatchmu yang mencari jalan," papar Jardis.

Yashwan menyuruh Pastha mencoba smartwatchnya karena ia sedang mengemudi.

Sesaat Pastha mengutak-atik smartwatch ditangannya dan mengucapkan tujuan percobaan ke Denpasar.

"Apakah semua orang bisa mengakses GPS ini?" tanya Pastha.

"Tidak. Hanya pada orang-orang yang sudah memakai gelang penjejak saja. Kebetulan aku juga sudah memakainya jadi kita bisa melakukan voice call melalui gelang penjejak memakai saluran komunikasi Navstar," jelas Jardis lagi. "Damar yang membuat semuanya. Tak kusangka ia jenius," tambah Jardis pura-pura berbisik untuk secara tidak langsung memuji Damar.

"Ehem! Uhuk, uhuk!" Damar sengaja mengeluarkan suara batuk yang keras untuk menjawab Jardis.

Jardis tertawa lalu mengakhiri sambungan suara dengan Yashwan dan yang lain.

Kemudian mereka sampai di rumah Cakrakinaryo.

Teh dan penganan dihidangkan menemani obrolan mereka.

"Sejujurnya, saya baru tahu, Pak, kalau pemilihan kepala desa disini butuh tim sukses juga," komentar Pastha ketika Cakrakinaryo selesai menceritakan kegiatan tim suksesnya.

Cakrakinaryo tersenyum lebar. "Pemilihan ketua RT saja ada tim suksesnya tho? Apalagi calon kepala desa," jawabnya. "Tapi tim sukses saya lebih leluasa berkreasi mengunggulkan saya berkat dukungan dana dari sampeyan-sampeyan ini."

"Tapi mohon maaf, saya tidak bisa lama-lama menemani sampeyan-sampeyan karena saya ada janji ketemu kawan di restoran," tambah Cakrakinaryo lagi.

"Ohh, tidak apa-apa, Pak, kami juga tidak bermaksud lama-lama. Ini sisa uang untuk pencalonan bapak seperti yang kami janjikan dua minggu lalu," kata Yashwan buru-buru. Ia menyerahkan kantong kertas yang didalamnya ada uang dua puluh juta pecahan seratus ribu.

"Pak Cakrakinaryo akan bertemu kerabat di restoran Adlan?" tanya Desitra dengan nada suaranya yang agak manja, bermaksud memancing Cakrakinaryo mengatakan tempat pertemuan dengan kerabatnya itu.

"Bukan, di restoran Olive. Kalau Adlan kan restoran anak muda," jawab Cakrakinaryo.

"Hehehe, begitu ya. Saya tidak tahu soal itu, Pak," tukas Desitra.

Yashwan merasa ia harus melakukan sesuatu dari informasi yang didapat Desitra.

"Ngomong-ngomong, dimana kami bisa menyewa motor, Pak?"

"Disekitar sini tidak ada penyewaan motor. Kalian tanyakan saja pada hotel, mungkin mereka menyewakan motor untuk tamu-tamunya," saran Cakrakinaryo.

Lalu merekapun pamit pulang. Yashwan bersegera ke hotel agar rencana yang ia pikirkan dapat cepat dikerjakan.

Sesampainya di hotel ia meminta Pastha dan Narin menyewa motor dan menuju ke restoran Olive untuk memata-matai Cakrakinaryo. Hanya Desitra yang tidak mempertanyakan kenapa Cakrakinaryo harus dimata-matai. Pastha juga enggan memakai motor karena kuatir polisi dan sinar matahari merusak kulitnya.

"Kalau kau pakai mobil, gerakmu akan sulit karena mobil tidak selincah motor dan susah mencari parkir," jawab Yashwan.

"Dan kenapa kau berdua Narin karena ia menggantikanmu mengendarai motor. Andaikan kalian kepergok oleh Cakrakinaryo kalian bisa berkelit sedang cuci mata melihat-lihat kota. Kalian bisa pura-pura pacaran supaya lebih meyakinkan tidak dicurigai," sambung Yashwan.

"Apa?! Pura-pura pacaran?!" teriak Pastha dan Narin bersamaan.

Desitra terkikis. Yashwan mengabaikan teriakan Pastha dan Narin.

"Cepat kalian berangkat. Jangan lupa dapatkan foto wajah-wajah orang yang bersama Cakrakinaryo. Aku mengandalkanmu soal itu Narin, karena kau terbiasa mengambil gambar yang sulit saat di hutan, bukan?"

Narin mengangguk.

"Aku dan Desitra akan berkeliling sekitar Rejowinangun untuk mendokumentasikan ada apa saja di sekeliling desa itu. Ayo kita berangkat!" Yashwan memberi perintah.

Pastha dan Narin harus menunggu beberapa saat di halte bus dekat restoran Olive sampai mobil tiba. Beberapa menit kemudian Pastha dan Narin masuk juga. Selain karena lapar ingin makan siang, juga memudahkan mereka mengamat-amati Cakrakinaryo.

Restoran itu ternyata restoran keluarga. Di tengah restoran ada tempat bermain kecil dari lantai karet. Ditempat bermain itu ada jungkat-jungkit dari kayu dilapisi karet warna-warni, perosotan, dan mobil serta sepeda mainan yang dapat dikendarai.

Tidak banyak anak-anak yang ada disana karena bukan hari sekolah. Hanya beberapa anak SD yang merayakan ulang tahun.

Pastha dan Damar mengambil tempat duduk di pinggir jendela dekat pintu keluar sehingga mereka bisa cepat keluar dari restoran tanpa menarik perhatian Cakrakinaryo.

Di restoran itu Cakrakinaryo sedang santap siang bersama tiga lelaki. Narin mengambil gambar wajah mereka. Sementara itu Pastha menerbangkan drone mini ke bawah meja yang ditempati Cakrakinaryo dengan bantuan telepon selulernya. Drone mini itu seukuran kancing baju di seragam sekolah dan berfungsi merekam percakapan.

Beberapa kali Pastha menahan napas karena dronenya hampir kena terjang kaki-kaki pelayan. Hampir pula drone itu bertabrakan dengan kursi dan meja. Risiko drone itu hilang sangat besar, maka Pastha berhati-hati dalam menerbangkannya karena ia hanya punya satu pemberian dari Damar di Jakarta.

Sementara itu ditempat lain Yashwan dan Desitra menemukan bahwa ada daerah tambang di Bukit Menoreh yang masuk wilayah Desa Rejowinangun. Tambang emas itu sementara berhenti beroperasi karena masalah izin dari bupati. Di desa itu juga ada tiga pabrik kayu lapis yang terletak di tengah tiga dusun yang berbeda. Salah satu pabrik kayu lapis yang ada di Dusun Wonoboyo pernah diprotes warga karena asap dan bisingnya yang mengganggu.

Jam dua siang Yashwan dan Desitra sudah kembali ke hotel dan mendapati Pastha dan Narin sudah lebih dulu berada disana.

Yashwan menghubungi Damar.

"Aku akan kirim foto-foto kepadamu. Tolong cari tahu nama dan aktivitas serta tempat tinggal mereka," kata Yashwan. "Apakah Jardis kuliah?" sambungnya.

"Ya, dia bilang akan pulang malam," jawab Damar. "Aku akan kabari kau begitu aku dapat info yang kau cari."

Yashwan memesan makan siang dari layanan kamar untuknya dan Desitra. Tadi mereka tidak sempat makan siang karena lama berkeliling desa.

Segera setelah menu layanan kamar datang, Yashwan memberikan piring berisi beef steak black pepper pada Desitra. Desitra mengucapkan terima kasih. Selagi memberikan piring, tangan Yashwan bersentuhan dengan tangan Desitra, ia merasakan dadanya seperti berdebar aneh. Perutnya mendadak seperti diremas. Kenapa ia selalu seperti ini setiap berdekatan dengan Desitra? Apakah ini artinya jatuh cinta? Apakah ia benar-benar jatuh cinta pada Desitra? Apa perasaan ini datang karena ketegangan selama bekerjasama dengan Cakrakinaryo untuk memenuhi amanat ayah dan kakeknya?

Pikiran Yashwan segera teralihkan karena Pastha memutar rekaman suara dari drone.

Suara-suara dalam rekaman terdengar penuh canda dan senda gurau santai. Terdengar kata-kata soal bakso, ifumie, ikan mas, bakpao, dan rujak. Mereka berulang kali berbicara menggunakan kata-kata itu lalu tertawa. Seseorang bersuara berat menjanjikan ia bisa mendapatkan ifumie karena bakpao bisa didapatkan asalkan tingkat kepedasan rujaknya tepat.

"Apa-apaan itu? Kenapa kita memata-matai orang yang membicarakan makan siang mereka?" terdengar suara Pastha yang kecewa karena hasil dari memata-matai tadi siang tak sesuai harapannya. Ia membayangkan akan mendapat info tentang perselingkuhan atau penipuan atau pemerasan.

"Mereka memang tidak tampak mencurigakan, sih, justru kita yang mencurigakan dengan diam-diam memotret dan merekam obrolan mereka," sahut Narin.

Yashwan tidak menjawab karena mulutnya sedang penuh dengan cumi goreng. Tapi dalam pikirannya mengatakan bahwa isi pembicaraan dalam rekaman itu pasti ada maksudnya, lebih dari sekedar membicarakan menu makanan.

Baru saja ia akan menjawab, smartwatchnya berbunyi.

"Nyalakan rooltop, Yashwan," suara Damar menyahut pada layar smartwatch.

Yashwan membuka rolltop dan menghubungkannya ke kamar bawah tanah di rumah kaca Cinere.

Muncul foto-foto yang diambil Narin tadi siang. Ada keterangan dibawah foto-foto itu tapi Damar tetap menjelaskan siapa saja mereka.

"Foto yang paling atas ini milik Heri Darwindo, umur 45 tahun, staf ahli ekonomi bupati Magelang, tinggal di Mertoyudan," katanya merujuk pada foto lelaki berkulit coklat, berkumis tipis dengan rambut ikal.

"Foto dibawahnya jelas Cakrakinaryo, tak diragukan lagi. Kenapa foto Cakrakinaryo dikirim kepadaku?"

"Foto ketiga milik Cladius Sutanto, umur 40 tahun, bekerja di PT Buhri Brothers sebagai asisten direktur keuangan," tambah Damar membicarakan biodata lelaki berkulit putih, bermata agak sipit, rambutnya agak kemerahan, dan berwajah oval dengan kacamata tanpa bingkai menghiasi wajahnya.

"Dan terakhir adalah Rayanto Aryo Prasetio Danang Jatmiko -nama sepanjang ini bagaimana menulisnya di KTP- adalah warga desa Rejowinangun, pekerjaan mahasiswa -ini meragukan karena dari umurnya yang sudah 30 tahun tidak mungkin dia mahasiswa- mungkin dia memang mahasiswa tingkat pascasarjana atau dia tidak memperbarui datanya sehingga di pusat data Badan Statistik yang tercantum adalah pekerjaan lamanya," papar Damar menjelaskan si pemilik wajah kurus ala pemuda tahun 1970-an, bermata besar, dan berambut hitam ikal.

"Trims, Damar!" sahut Yashwan.

"Sepertinya tidak ada yang mencurigakan ya," sahut Narin.

"Memang tidak kalau tiga lelaki itu benar kawan Cakrakinaryo. Apalagi umur mereka sepantaran. Menjadi tidak wajar kalau mereka bukan kawan dan membicarakan sesuatu menggunakan sandi nama-nama makanan," tukas Desitra.

"Sandi nama makanan?" Pastha heran. "Sandi untuk apa?"

"Kata sandi!" seru Yashwan menjentikkan jari sambil tersenyum kearah Desitra mengagumi kejeliannya.

"Mereka bukan sedang membicarakan makanan tapi sesuatu..." Yashwan berpikir lagi. "... mungkin yang berhubungan dengan tambang?"

"Ahh! Buhri Brothers itu perusahaan tambang! Kami tadi sempat melihat lokasi tambang emas yang sudah ditutup di kaki Bukit Menoreh," sahut Desitra.

Mereka berempat saling berpandangan. Masing-masing mencoba menghubungkan antara Cakrakinaryo dengan perusahaan tambang, staf bupati, dan warga desa Rejowinangun.

Desitra selesai membuat kopi dan menyerahkan cangkirnya pada Yashwan.

Narin mendekati Desitra dan berbisik, "Kau sekarang pacaran dengan Yashwan?"

Desitra mendelik, "Tidak."

"Tapi kau dan dia tampaknya saling perhatian," kata Narin lagi. "Aku setuju kalau kau dengan dia. Kalian bisa saling melengkapi," Narin menggoda Desitra.

Desitra mengibaskan rambutnya tanda ia berlagak mengabaikan kata-kata Narin.

Narin terkikik.

Tiba-tiba Yashwan berseru, "Ya ampun! Gamblang! Jelas yang mereka bicarakan bukan makanan tapi izin tambang dari bupati untuk pengoperasian kembali tambang emas di Menoreh!"

"Tapi Cakrakinaryo mencalonkan jadi kepala desa bukan bupati," potong Pastha.

Yashwan menjelaskan lagi, "Tambang di Bukit Menoreh itu masuk wilayah Rejowinangun. Mungkin Cakrakinaryo didampingi tim suksesnya -siapa tadi yang namanya panjang?"

"Rayanto Aryo Prasetio Danang Jatmiko," sahut Damar dari balik rolltop.

"Ya, Rayanto itu mungkin tim sukses Cakrakinaryo, sedangkan staf ahli bupati itu mungkin penghubung untuk membujuk atau merekomendasikan kepada bupati agar membuka kembali izin tambang emas. Tambang emas itu nantinya akan dioperasikan Buhri Brothers."

"Memang tadinya tambang emas itu punya siapa?" tanya Pastha.

"Damar?" panggil Yashwan.

"Sebentar," Damar mencari catatan tentang tambang yang barusan diperolehnya dari pusat data Badan Statistik. "Itu tambang milik warga. Tak berizin alias liar, sudah beberapa kali ada penertiban dari kabupaten tapi berulangkali warga menambang emas di lokasi itu. Alasan tambang itu tak diberi izinnya karena akan merusak lingkungan. Bukit jadi rawan longsor dan banjir akan menggenangi kawasan yang ada di bawah Bukit Menoreh."

"Kenapa Buhri Brothers berminat pada tambang itu ya?" komentar Pastha.

"Karena kandungan emas di Menoreh hampir sepuluh ribu ton. Hanya sedikit dibawah kandungan emas di bekas tambang Freeport Papua." sambung Damar yang informasinya itu membuat yang lain tercengang.

"Apakah Cakrakinaryo menjanjikan akan memuluskan izin tambang itu ke bupati jika ia terpilih jadi kepala desa?" Desitra menduga-duga.

"Bisa jadi," gumam Yashwan khawatir. Kalau benar Cakrakinaryo menjanjikan seperti dugaan Desitra itu berarti ia membantu seseorang melakukan korupsi. Apakah keturunan Hamengkubuwono IX akan melakukan hal tercela seperti itu?

"Cakrakinaryo sudah kaya, bukan? Lagipula ia seorang turunan raja, bangsawan ningrat," tukas Pastha.

"Ningrat dan kaya raya tidak menjamin seseorang tidak serakah," sahut Narin.

Yashwan menyeruput kopinya. Kopinya terasa encer, berasa krimer, dan manis, buatan Desitra, meskipun bukan seperti kopi yang biasa ia minum, tetap kopi itu terasa istimewa. "Kita harus mengintai Cakrakinaryo lagi."

"Besok?" suara Pastha bertanya.

"Besok dan seterusnya sampai hari pemilihan kepala desa tiba," sahut Yashwan. "Aku jadi curiga kalau uang yang empat puluh juta yang kita berikan pada Cakrakinaryo tidak berefek apa-apa bagi pencalonannya. Aku yakin ia juga menerima uang dari Claudius berdasarkan apa yang kita dengar di rekaman tadi."

"Damar, tolong kau kirimkan tiga alat sadap untukku ke hotel ini, kamar 403. Beri perekat ekstra kuat pada alat itu supaya tak mudah lepas. Tolong usahakan supaya besok sore sudah kuterima alat sadap itu," katanya pada Damar yang menyanggupi lalu mengakhiri sambungan komunikasinya.

Yashwan menjatuhkan dirinya ke sofa empuk.

"Pastha, besok kau ikut aku ke rumah Cakrakinaryo. Kita akan bertamu, menempelkan alat sadap, lalu mengikuti aktivitas dia seharian, kemanapun dia pergi. Dan kalian..." Yashwan menatap Desitra dan Narin, "...boleh berbelanja, ke salon atau sekedar mengobrol di cafe. Besok hari bebas kalian."

Desitra dan Narin memekik senang.

"Kita ke Yogya, Narin!" seru Desitra.

"Belanjaaa!" teriak Narin.

"Thanks, Yashwan!" kata Desitra menepuk pundak Yashwan -yang memberikan senyum lebarnya untuk membalas ucapan terima kasih Desitra- lalu berputar untuk bicara dengan Narin.

Pastha menggaruk-garuk kepala dan bergumam melihat betapa perempuan mudah dibahagiakan hanya dengan diberi kebebasan berbelanja dan ke salon.

"Yashwan, apakah kau pikir Cakrakinaryo mau dibuntuti seperti itu?"

"Harus mau karena kita donaturnya, karena itu ia harus mau jika kita ikut dalam semua kegiatannya besok," Yashwan meyakinkan Pastha.

"Apa kita harus menggagalkan pencalonannya?"

Yashwan menggeleng. "Kita belum punya cukup bukti. Rekaman yang kita punya bakal mudah disangkal. Kita kumpulkan lebih banyak bukti supaya mudah menentukan langkah."

Kemudian diseruputnya lagi kopinya sampai habis lalu ia mengajak Pastha, Desitra, dan Narin untuk keluar hotel dan jalan-jalan sambil menanti malam yang sebentar lagi tiba.