Episode 2 - Kedua


Ibuku selalu membuka artikel tentang gejala terburuk yang diperlihatkan oleh orang-orang dengan darah yang kotor—atau racun yang menyebar sebab ginjal mereka sudah tidak berfungsi menetralisir racun-racun dari apa yang mereka telan. Jadi ibuku kadang suka terlalu melebih-lebihkan situasi yang tidak terlalu buruk. Misalnya saja waktu itu aku sempat tersedak karena berusaha menelan brokoli yang tidak pernah kusukai. Aku tidak mengunyah brokoli tersebut jadi aku berupaya menelannya langsung dan yang terjadi adalah sebuah kecelakaan lalu lintas di Jalan Raya Tenggorokan. Aku seperti menelan miniatur pohon yang biasa ada di pameran-pameran properti. Brokoli seperti pohon versi mini atau monster berambut kribo dan itu tersangkut di tenggorokan malangku. Aku memegang leher seperti mencekik diri sendiri dan berupaya mengambil air. Saat itu aku makan sendirian di meja makan dan mama sedang menonton tv, tapi dia mendengar suara aneh—seperti suara babi memekik—dan ia berjalan ke dapur dan mendapatiku yang sedang tersedak dan tidak mampu menjangkau air. Mama berteriak histeris dan ia menelepon ambulans. Aku mendengar ia menangis di telepon dan aku berhasil menjangkau air dan minum sebanyak mungkin. Seolah kecelakaan lalu lintas tenggorokan itu terkena tsunami dan semuanya kembali damai. Dan aku berhasil menenangkan mama sehingga ia tidak jadi menyuruh ambulans datang. Dan ia bilang kalau aku klepek-klepek seperti ikan yang keluar dari air dan itu salah satu gejala paling akut yang bisa membunuhku jika terlambat diatasi. Tapi aku tidak pernah merasakan jadi ikan yang keluar dari air.

 “Bersikap baik-lah pada kakek Elren. Panggil Kabir dengan menambahkan ‘paman’ di depannya. Dan jangan berontak jika disuntik, dan jangan mau makan apapun yang diberikan paman Sani. Nenek Gia, dia sayang padamu, dengarkan nasehatnya,” kata mama panjang lebar di depan parkiran KCC yang merupakan sebuah ruko kecil di deretan ruko kecil lainnya. Dan aku mengabaikan kata-kata mama sesuka hatiku. Dan aku merasa berdosa. Aku selalu merasa buruk jika menjalani cuci darah dengan pakaian sekolah. Aku memperjelas identitasku sebagai Anak Sekolah Penyakitan.

Tidak banyak pilihan. Aku masuk ke dalam klinik dan bunyi gesekan kusen besi dan lantai berbunyi nyaring.

 “Halo, Robin!” sambut Lauren seolah dia menyambut tamu terhormat dalam pesta termegah sepanjang hidupnya.

 “Halo,” balasku dengan nada monoton.

 “Letakkan saja tasmu di kursi dan kau bisa kencing dulu atau buang air atau buang yang lain?” katanya dengan senyum nakal, bagaimanapun juga hanya aku yang bisa digoda oleh perawat seperti Lauren sebab yang lain sudah terlalu tua dan akan menganggap serius candaan dewasa Lauren.

 “Aku sudah membuang semuanya sebelum sampai di sini,” kataku dan Lauren bilang kalau dia akan menyiapkan segala sesuatunya. Segala sesuatu yang akan memberikanku ketahanan hidup dan aku merasa sangat tidak berguna.

 Aku duduk di sofa berukuran jumbo sampai-sampai sofa ini bisa dijadikan tempat tidur yang nyaman. Aromanya tetap sama, aroma lemon monoton yang berasal dari pengharum AC, bertempur dengan aroma obat yang menyerupai muntahan. Lauren mengambil peralatan suntiknya yang selalu terlihat menyeramkan dan saat Lauren yang memegangnya itu terlihat semakin menyeramkan. Lauren dengan masker terlihat seperti psikopat Pecinta Manusia Yang Diawetkan. Aku disuntik di sekitar nadi yang tidak pernah ingin kulihat tapi tetap kurasakan jarumnya yang menembus kulit. Aku terkesan dengan cara para perawat atau dokter yang menyuntik tanpa membuat darahku muncrat ke mana-mana. Setelah menyambungkan dua selang jalur keluar masuk darah dan menyiapkan water treatment—yang entah apa itu—mesin dialyzer dinyalakan dan timer berjalan mundur. Lima jam. Lima jam terburuk dalam hidupku telah di mulai. Lima jam yang mengharuskanku terbaring dengan resiko penggumpalan darah karena terlalu banyak berbaring telah dimulai. Lima jam yang mengharuskanku meresap segala apapun yang terjadi di KCC.

 Aku memadangi darahku yang tersedot lewat selang dan terkuras lalu masuk ke dalam mesin—melakukan pekerjaan yang gagal dilakukan ginjalku—dan masuk kembali ketubuhku lewat selang satunya. Kemudian aku mengedarkan pandang dan menyadari betapa kecilnya klinik ini. hanya ada 8 dialyzer yang aktif dari 10 yang tersedia. 5 tempat tidur dan 3 sofa jumbo, 2 AC, dan 2 TV LCD, dan seluruh dinding di cat putih kusam, apa lagi? Ada sebuah komponen bangunan yang bisa membuatmu berpikir bahwa menuju KCC adalah tujuan terbaik dalam hidupmu? Tidak ada. Kamarku jauh lebih baik. Apalagi aku bisa menguasai remot tv jika di kamar.

 “Uh, Robin. Kau di sana?” tanya nenek Gia yang buta dan dengan seluruh kemampuannya yang telah terkumpul dia buang sia-sia untuk bersuara dan menanyaiku yang sedang tidak ingin bicara.

 “Um, yeah. Aku di sini.” Akhirnya aku bicara karena dikuasai perasaan tak tega.

 “Apa yang sedang diperlihatkan tv?”

 “Hmm, iklan rokok.”

 “Oh. Terima kasih,” katanya dan tidak berbicara lagi. Entah kenapa aku selalu melakukan ini selama 10 bulan. Nenek Gia akan menanyaiku tentang apa yang ada di tv dan aku akan menjawabnya dan ia tidak bertanya lagi—bukannya aku ingin ditanya terus-terusan tapi tetap saja aneh dan kesannya misterius. Jangan-jangan nenek Gia sebenarnya bisa melihat, jangan-jangan seluruh kejadian yang ada di tv saat ia tanyakan merupakan pertanda baik untuk kehidupan seseorang yang tinggal di Uganda sana, jangan-jangan nenek Gia meramal lewat iklan. Tapi tidak, dia hanya berbaring sebagaimana yang seharusnya dilakukan oleh nenek-nenek. Aku tidak ingin terdengar kejam tapi memang tidak banyak pilihan.

 1 setengah menit kemudian aku baru menyadari kalau di dalam klinik ini hanya ada nenek Gia dan aku. Aku tidak melihat kakek Elren atau Kabir atau Sani atau seseorang yang dipojok yang tidak pernah mau bersosialisasi. Aku berharap aku menjadi seseorang yang dipojok tapi mama tidak membiarkan itu terjadi. Jadi—aku enggan mengakui ini—tapi hari ini cukup sepi.

 1 Jam pertama: aku duduk sambil memandangi langit-langit yang hanya berisi lampu neon yang menyala—ada 1 yang tidak menyala—dan plafon yang menguning akibat bocor. Aku mulai berpikir kalau saja klinik ini dihantam badai saat kami sedang berada di dalamnya sambil berharap bangunan ini cukup kuat ternyata tidak. Atapnya terlepas, mesin dialyzer melayang-layang sehingga membuat fenomena Tornado Dialyzer—terdengar sangat tekonologis di zaman globalisasi ini.

 2 Jam kemudian: baiklah. Masih tersisa 3 jam lagi dan aku masih dalam tahap yang kedua. Anggap saja ini sebuah perkuliahan sistem kebut yang hanya butuh waktu 5 jam untuk lulus dan anggap saja ini Universitas Kehidupan dan anggap saja aku baru menginjak semester dua. Di sini menyenangkan sampai aku mulai berpikir untuk berdialog dengan penghuni lain. Mm, nenek Gia, coret, Lauren, centang.

 “Lauren, di mana yang lain,” tanyaku. Lauren pasti tahu maksudku.

 “Semuanya—dengan sangat amat kebetulan—mengundur jadwal mereka menjadi jam malam. Semoga saja mereka tidak kejang-kejang. Oh—iya, aku lupa memberimu roti.” Kata Lauren dan aku sama sekali tidak mau roti. Roti KCC merupakan roti terburuk nomor 1 versi Roti Terburuk Robin. Rotinya keras seperti baru saja dikeluarkan dari kulkas dan isinya yang berwarna hitam bahkan tidak terlihat atau berasa seperti coklat. Ini seperti krim yang diberi pewarna makanan warna hitam dan karena aku tidak ingin mengecewakan Lauren yang merelakan beberapa detik dalam hidupnya ia habiskan untuk berjalan ke belakang dan mengambil roti untuk orang yang benar-benar tidak suka roti itu, aku memakannya meski tidak sampai habis dan tenggelam dalam rasa hambar yang dianggap coklat.

 3 Jam sudah berjalan dan gagasan tentang Universitas Kehidupan mulai tidak menarik dan aku tidak bisa memikirkan apapun kecuali rencana-rencana yang akan kulakukan setelah ini. Tapi rencananya tidak terlihat atau tidak tersusun. Misalnya setelah ini aku kepengin minum Coke untuk merayakan aku-telah-selesai-cuci-darah, tapi tidak ada yang akan memberiku Coke karena itu artinya aku memberi pekerjaan berat untuk ginjal tak berfungsiku. Dan itu terdengar kejam seolah aku guru yang memberi setumpuk tugas yang tidak akan pernah bisa diselesaikan oleh muridku. Jadi aku memikirkan mata pelajaran Pengembangan Diri yang menuntut kami membuat makalah tentang rencana hidup atau tujuan hidup dan ini menyebalkan karena aku tidak bisa menemukan rencana apa-apa selain penderitaan mendengar kata ‘rutin’ untuk menjalani kehidupan 10 jam setiap satu minggu di KCC. Maksudku, apa yang bisa direncanakan orang dengan ginjal tak berfungsi? Walau menyebalkan aku mencoba membuat daftar itu:

Rencana Robin:

1. Setelah ini keluar dari klinik Kidney Care Center dan menghirup udara malam penuh polusi.

2. Kalau Kabir sudah datang akan kupastikan aku memanggilnya dengan sebutan ‘paman’

3. Tidak minum Coke.

4. Tidak memakan nastar yang biasa diberikan Sani—yang juga harus kupanggil paman.

4 jam sudah berjalan dan aku merasa timer ini melambat. Nenek Gia masih tertidur meskipun secara harfiah dia selalu tertidur karena buta. Yang membedakan hanya kesadarannya atau tidak. Dan aku tidak bisa membedakan antara nenek Gia sedang sadar atau tidak. 6 menit kemudian aku mendengar suara nyaring khas pintu terbuka—gesekan kusen besi dan lantai. Paman Sani dan istrinya memasuki klinik dengan wajah sumringah. Aku heran. Apa ada alasan yang membuat mereka sumringah ketika memasuki ruko kecil yang disulap menjadi klinik ini?

“Robin! Eh, kenapa sepi sekali? Mana si Keturunan Terakhir Dari Brontosaurus?” Sani mencari Kabir. Kabir mengaku sebagai keturunan terakhir dari brontosaurus.

“Hai,” sapaku. Tidak menemukan hal menarik untuk dibicarakan dengan pria yang jauh lebih tua dariku. Sani membuka toples nastar dan menawariku. Aku mengambil 5 butir dan melahapnya dengan rakus karena lapar dan roti KCC adalah usaha terburuk untuk berharap kau bisa kenyang.

Kabir datang tanpa menyerukan suara brontosaurus-nya. Ia hanya selalu bertingkah seolah baru pertama kali bertemu dengan semua orang yang ada di dunia ini. ia akan heboh melihatku atau melihat Sani atau melihat nenek Gia yang terbaring damai atau bertemu Lauren. Kabir tidak memiliki siapa-siapa yang menemaninya meski ia sudah berumur 37 tahun—maksudku, seperti istri atau semacamnya. Dan aku tidak memanggilnya dengan sebutan ‘paman’. Dan kakek Elren datang ditemani cucu-nya yang sudah beranjak dewasa. Kakek Elren menatapku dan berkata:

 “Seragam yang bagus untuk cuci darah.”

 “Yeah.. ibuku terlalu terburu-buru dan tidak mengizinkanku ganti pakaian.”

 “Oh tidak. Seragam itu cocok. Mau ku foto? Kenang-kenangan.” Dan kakek Elren memfotoku menggunakan handphonenya dan memperlihatkan padaku hasilnya. Aku melihat diriku dengan pakaian seragam sekolah, dengan duduk lemas di atas sofa seperti mayat, dengan selang-selang yang tersambung ke tanganku seolah aku sedang dalam kondisi paling parah dalam dunia kedokteran, dengan wajahku yang terlihat semakin kusam, dengan tampang kelaparan, dengan segala sesuatu yang tidak akan bisa terpikir oleh anak remaja tentang kesialan apa lagi yang harus mereka dapatkan selain duduk di sofa sambil cuci darah mengenakan seragam lalu difoto. Maksudku, difoto saat cuci darah itu memalukan—dan nilai memalukan itu ganda karena aku mengenakan seragam. Dan kakek Elren memfotoku tanpa persetujuanku. Tapi aku tidak punya wewenang kuat untuk memukulnya atau aku aku akan berubah dari Bajingan Pendiam bertransformasi menjadi Bajingan Tukang Rusuh Yang Gemar Memukul Orang-Orang Lanjut Usia.

 Setelah timer berhenti yang menandakan aku telah membuang waktu berhargaku sebanyak lima jam untuk membersihkan racun yang ada di darahku, ini belum selesai, aku masih harus disuntik atau semacamnya dan aku merasa lemas meski berupaya tidak selemah itu. Mama sudah datang saat selang-selang dicabut. Dan setelah itu berat badanku ditimbang dan aku melihat angka; 55. Dan aku menganggap dengan tinggi 179cm, berat 55 itu proporsional. Mama menghabiskan waktu di meja kasir dengan perawat untuk menanyai tingkah laku-ku selama ia mengurus orang-orang yang menghamburkan uang untuk diterapi oleh orang asing. Seolah-olah selama mama tidak ada aku bisa mencampurkan kokain ke dalam mesin dialyzer dan darahku tercampur kokain dan aku menikmati narkoba. Aku hanya duduk di samping tas sekolahku di dekat pintu masuk.

 Tidak banyak yang bisa dilakukan di bangku yang tak bisa dipindahkan ini. Jadi aku hanya memandang ke depan—memandang bokong ibuku dari samping dan ia kelihatannya sedikit tertawa bersama perawat dan artinya obrolan mereka mungkin akan lama dan aku akan menunggu lebih lama dan kini aku merasa suka mengeluh pada hal-hal sepele. Tidak, mungkin sepele bagi orang lain tapi tidak bagiku dan itulah inti sepele itu sendiri, sepele bagiku belum tentu sepele baginya, jadi mungkin saja aku tetap mengeluhkan hal-hal sepele yang tidak sepele untuk orang lain.

 2 menit kemudian aku melihat pintu depan yang terdorong ke dalam dan gesekan nyaring kusen berbunyi—bunyinya sampai membuatku ngilu—dan aku mulai berpikir betapa miskinnya klinik ini karena tidak ada pemberdayaan untuk pintu, dan aku merasa sombong dan aku benci sombong. Astaga, aku dalam tahap yang paling mengerikan dari sebuah penyakit—membenci diri sendiri. Tapi selagi aku tidak ingin memikirkan itu aku memikirkan pintu yang terbuka. Mungkin orang anti-sosial yang berada di pojok, mungkin tukang antar paket, mungkin tukang ledeng, dan masih banyak segala kemungkinan lain yang tersebar tapi seseorang itu sudah masuk ke dalam dan aku mendapati sosok rambut panjang, celana jins, hoodie, dan sepatu kets—aku memandanginya dari belakang. Dan ia membawa sebuah keranjang kecil, jenis keranjang zaman bahela yang digunakan untuk mengantar apel ke rumah nenek. Dan ia menoleh ke belakang dan matanya mendapatiku dan aku mendapati dirinya seutuhnya. Begini, apakah sangat penting untuk masuk ke dalam suatu ruangan dan kau mengedarkan pandang untuk mengetahui segala sesuatu yang ingin kau lihat? Apakah begitu penting mengetahui siapa yang ada di belakangmu sambil memperhatikanmu atau melihat lampu neon atau melihat suasana sekitarmu? Dan yeah, meski pertanyaanku terkesan harus dijawab ‘tidak’, tapi kenyataannya ‘ya’, sebab aku ingin perempuan pemegang keranjang itu tidak menghadap ke belakang dan mendapatiku seutuhnya dan aku tidak mendapati dirinya seutuhnya. Karena itu memancingnya untuk berkata:

 “Robin?” suaranya lirih. Aku ingin tidak mendengarnya tapi ia melihatku dan aku melihatnya. Aku ingin bilang kalau aku bukan Robin dan ada banyak Robin lain di dunia ini yang mempunyai tampang serupa denganku. Tapi tidak. Tidak banyak pilihan.

 “Eh, oh, hai. Ollyne,” kataku dan ini lah yang menyebabkanku mau mati sekarang juga atau seseorang sadarkan aku kalau ini hanya mimpi atau delusi yang diakibatkan kebosanan. Tapi tidak. Ini nyata.

 “Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanyanya dengan pakaian yang sangat, uh, keren dan cantik. Hoodie warna hijau dan jins biru pudar, rambutnya digerai dan diberi jepitan kupu-kupu dan ia tidak memakai riasan wajah. Dan aku memakai seragam sekolah yang sudah kumal. Dan jenis pertanyaannya sangat pasaran. Siapa sih yang tidak kebingungan melihat teman sekelasmu tiba-tiba duduk termenung di dalam sebuah klinik kecil yang menyediakan pengobatan cuci darah.

Seseorang akan mengucapkan apa saja dalam keadaan terjepit atau terancam.

 “Uh, aku. Aku sedang duduk—sambil, menunggu kakekku,” Dustaku. Tidak terlalu buruk menurutku karena aku ingat memang ada satu kakek-kakek di dalam sana dan itu adalah kakek Elren.

 “Oh, maaf.” Dan Ollyne sudah duduk di sampingku, dan aku diapit 3 makhluk. Tas, keranjang, dan Ollyne. Dan dia merasa seperti menyesal padahal aku yang harusnya paling menyesal karena telah membohongi gadis tercantik versi Majalah Alam Semesta

 “Dan.. kau?” tanyaku, berupaya tegar dan menyembunyikan berbagai suntikan di lengan ke balik sweater yang dari tadi berada di dalam tas.

 “Aku membagikan cupcake yang dimasukan ke dalam toples kecil dan memberikannya pada seluruh pasien. Cupcake buatan rumah.” Ollyne tersenyum dan aku semakin merasa bersalah karena membohonginya. Tapi jujur pun sama saja bencana. “biasanya aku membagikan cupcake untuk orang-orang yang memiliki jadwal hari selasa dan kamis. Tapi sekarang aku akan berusaha membagikan cupcake ini setiap harinya.”

 “Oh. Itu perbuatan yang sangat amat mulia,” kataku gugup dan malah terlontar kalimat barusan yang menurutku itu adalah kata-kata super idiot. Membersihkan jalan tol baru perbuatan mulia, relawan penjaga kamar mayat baru perbuatan mulia, dokter yang berhasil mengeluarkan kanker otak baru perbuatan mulia. Dan kini pujianku berubah menjadi sarkastis.

 “Terima kasih. Ngomong-ngomong yang mana kakekmu?” tanyanya.

 “Hanya ada satu kakek-kakek di dalam.”

 “Kau juga cucu yang sangat amat mulia.” Ollyne berkata dengan penuh ketulusan yang terpancar dari kedua matanya yang samar-samar berwarna coklat dan ia tersenyum. Kondisi ini yang paling buruk. Kondisi yang berawal dari kebohongan dan membuat cabang kebohongan dan jadilah pohon kebohongan yang menjulang tinggi.

 “Tidak—maksudku, aku hanya baru sekali ini datang ke sini.” Dan hari ini adalah hari yang paling membuatku banyak berbohong setelah hari di mana aku takut ke sekolah di hari pertama sebagai anak TK. Aku berbohong pada mama kalau gigiku sakit dan perutku mual.

 “Aku tidak pernah melihat anak seumuran kita masuk ke dalam klinik ini dan menunggu keluarga. Kau yang pertama kali kulihat,” ujar Ollyne dengan nada semangat meski itu menyakiti hatiku sejujurnya.

 “Ha-ha. Mungkin mereka terlalu sibuk bermain video game dan tidak mengerti konsep sosialisasi berkeluarga.” Aku semakin larut dalam permainanku sendiri.

 “Yeah mungkin. Dan sebenarnya, aku merasa, apa ini untuk pertama kalinya kita ngobrol?”

 “Mungkin,”

 “Oh. Kau cukup pendiam di kelas.”

 “Suaraku selalu kalah dari suara Billy dan Akash.”

 “Ha-ha, bahkan aku tidak pernah melihatmu berteriak.”

 “Tidak, tidak. Hanya perumpamaan. Maksudku, jika kami diurutkan berdasarkan apa yang kami miliki dan tidak kami miliki, dan kami diurutkan menjadi sebuah barisan, maka aku berada paling belakang. Yeah, semacam itu. Aku tidak akan bisa lebih mencolok.”

 “Kau tidak perlu mencolok.”

 “Terima kasih.” Kepalaku terantuk sendiri.

 “Tidak, tidak. Aku serius. Kau tidak perlu mencolok di dalam kelas untuk bisa mengenal seluruh orang di dunia. Seperti halnya sekarang ini. Sebut saja ‘pada akhirnya’. Pada akhirnya aku bisa mengenalmu lebih jauh—maksudku pengetahuanku akan dirimu tidak hanya nama—tanpa harus di kelas dan kita sudah mengobrol cukup banyak, bukan?”

 “Teori yang cukup keren,” kataku.

 “Aku tidak menyebut itu teori. Anggap saja semacam dekskripsi. Walau hampir terdengar seperti teori tapi lebih lembut dan tidak kaku.”

 “Apa kau kembali hari Jumat?” tanyaku.

 “Tentu. Kakekmu kembali hari Jumat?”

 “Yeah. Aku harus menjenguknya.”

 “Aku akan membuat cupcake lebih banyak lagi. Kau harus mencobanya. Cupcake yang mengandung jenis kenikmatan dunia yang hanya bisa kau dapatkan dalam bentuk kata-kata hiperbola.”

 “Akan kutunggu.”

 “Baiklah. Senang bisa bicara dengan Robin-yang-sudah-ku-kenal-di-dalam-kelas-tapi-pada-akhirnya-kami-bisa-ngobrol-di-klinik,” Katanya dan menjulurkan tangan. Aku menjabatnya dan merasakan kulit tangannya yang sehalus kapas bersentuhan dengan tangan kurusku yang mungkin terasa kasar sekasar serbuk kayu. “Aku harus membagikan kue ini dulu sebelum kadar Kenikmatannya menurun drastis.” Dan aku tersenyum dan bisa kupastikan—aku mabuk berat.

 Untuk waktu yang tidak bisa kuhitung berapa lamanya, ternyata aku sudah di dalam mobil dan mama sudah di depan stir, memanggil-manggil namaku yang baru kusadari saat mama menepuk pipiku dengan lemah lembut.

 “Uh, maaf. Aku mengantuk,” kataku.

 “Nak. Aku tidak ingin menanyakan ini. Tapi, apa kau merasa stress menjalani semua ini?” dan terapi dimulai.

 “Tidak. Sejujurnya, tidak.” Dan untuk pertama kalinya aku merasakan kelegaan karena kali ini aku tidak berbohong pada mama.

Di sepanjang perjalanan. Efek mabuk sedikit-demi-sedikit seperti guratan pasir yang diterpa ombak. Hilang! Efek mabuk itu hilang! Aku baru menyadari betapa bodohnya diriku yang mengajaknya ketemuan di hari Jumat di mana itu adalah jadwalku untuk kembali ke situ. Dan aku mengajaknya ketemuan seolah-olah aku ini cowok keren yang selalu menyediakan bunga di kantung sebelah kanan dan merpati di kantung sebelah kiri—tidak! Aku tidak bisa menjadi cowok seperti itu dan tadi aku berlagak seperti itu. Entah aku bodoh atau gila atau dua-duanya. Tapi ini sangat buruk. Jenis buruk yang bisa membuatmu melupakan sejenak betapa langit itu biru atau awan itu putih.

 Dan aku mulai membayangkan Ollyne akan memergokiku sedang tergelepar seperti remaja paling malas di dunia dengan selang-selang tersambung ke tanganku sehingga mengubah gagasan pemalas menjadi remaja paling sakit-sakitan di dunia dan Ollyne akan mengatakan kalau dia tidak mau berteman atau mengobrol dengan remaja yang harus cuci darah dan aku akan menangis dan dia menatapku dengan tatapan seakan aku ini bangkai tikus yang menyebarkan virus dan aku akan bilang kepadanya kalau dia cantik ketika mengenakan hoodie dan Ollyne tidak memperdulikan itu dan ia beranjak pergi dan aku tidak ingin dia pergi kemudian aku mencabut selang-selang yang tersambung untuk mencegah kepergiannya tapi darah malah muncrat ke seluruh ruangan dari lenganku dan suasana semakin menjijikkan sekaligus mengerikan dan aku benar-benar tidak ingin membayangkan kelanjutan dari peristiwa terkutuk tersebut karena itu cukup membuatku putus asa serta terdiam sampai rumah.