Episode 22 - Kum Kecho!


Kunci pembuka segel Pulau Bunga yang Bintang susun lalu henyakkan menggunakan Tinju Super Sakti terlontar jauh ke arah utara. Berkat dorongan sedemikian kuat dari gelombang kejut berkecepatan supersonik, kunci terus melayang melintasi lautan. Tidak sedikit pun aura kunci pembuka segel tersebut memudar.

Nun jauh di utara Pulau Bunga adalah Pulau Logam Utara, yang merupakan salah satu dari Lima Pulau Utama di Negeri Dua Samudera. Bentuk pulau ini terbilang unik karena menyerupai huruf ‘K’ besar yang membujur dari utara ke selatan, dengan tiga semenanjung yang membujur ke timur laut, timur, dan tenggara. Jaraknya sekira 500 km dari Pulau Bunga.

Nama Pulau Logam Utara merupakan cerminan akan kekayaan mineral di pulau ini. Mineral logam yang terkubur di sekujur pulau tidak terhingga, mulai dari tembaga, emas dan perak, sampai bijih besi. Bahkan, banyak senjata pusaka di Negeri Dua Samudera yang memiliki bahan dasar berasal dari Pulau Logam Utara.

Tidaklah mengherankan bila kemudian banyak tambang yang dibangun di berbagai lokasi di Pulau Logam Utara. Kota-kota tambang pun tumbuh bak jamur di musim penghujan. Setiap kota memiliki wewenang tersendiri atas tambang yang mereka kelola, dan tumbuh makmur karena perdagangan bahan tambang tersebut. Berbeda dengan Pulau Jumawa Selatan yang banyak menampung kerajaan-kerajaan kecil, di Pulau Logam Utara kota-kota tambang inilah yang memegang kendali pemerintahan.

Kemakmuran di Pulau Logam Utara mendorong terciptanya satu lagi kelebihan lain, yaitu kekuatan armada laut yang tiada tara. Dengan kekayaan yang melimpah dan jalur perdagangan yang ramai dari dan menuju pulau tersebut, banyak pula bermunculan perompak-perompak di laut. Para bajak laut merajalela di laut sekitar Pulau Logam Utara, sehingga armada laut sangatlah dibutuhkan dalam melindungi armada dagang.

Namun, bukanlah Pulau Logam Utara yang kali ini menjadi pembahasan ceritera kali ini.

Di semenanjung paling selatan Pulau Logam Utara sebuah tebing curam menatap laut. Ombak bersenandung beriringan menyapa batu-batu karang yang menonjol di sela-sela air laut di bawah tebing, ibarat paduan suara menyanyikan lagu alam. Bersama dengan bisikan angin, lagu tersebut begitu merdu terdengar. Kejernihan air laut memperbolehkan cahaya mataharimenari sampai ke dasar karang, dan menghidupi rumput laut yang juga menari-nari subur bersama melodi ombak.

Di balik tarian rumput laut di bawah tebing, sebuah gua bawah laut tersembunyi. Selama ratusan tahun gua tersebut tak terjamah oleh tangan manusia maupun siluman.

Liang gua bawah laut tersebut tidaklah besar, hanya seukuran tubuh seorang manusia dewasa. Karena terpaan alam, gua berliku-liku dan memiliki banyak jalur buntu, mirip sebuah labirin. Bila berhasil mengikuti jalur yang tepat, maka labirin akan membawa ke sebuah rongga gua yang berada di atas permukaan laut.

Rongga ini menjadi sebuah ruangan tersembunyi terletak jauh di dalam tebing. Untuk mencapai ke rongga gua tersebut, jalur labirin bawah laut merupakan satu-satunya jalan.

Udara di dalam rongga lembab dan berbau busuk, karena tak sehelai pun berkas matahari pernah masuk menembus. Gelap gulita. Apalagi, sirkulasi udara sangat terbatas, hanya melalui celah-celah kecil di antara tebing. Saking kecilnya, kelelawar pun tak mampu mencapai rongga gua.

Pada sudut gua yang berukuran sekitar 4 m persegi tersebut, sebuah benda berbentuk lonjong mirip sebuah telur raksasa berdiam diri. Tapi benda tersebut bukanlah telur, melainkan kepompong. Permukaan kepompong menunjukkan lilitan demi lilitan benang sutera yang telah membatu. Warnanya kelabu nan kusam.

Tiba-tiba dari arah luar tebing terlihat sebuah formasi segel melayang. Formasi ini tidaklah kasat mata bagi manusia awam, sedangkan bagi para ahli akan terlihat sangat nyata. Ukurannya sebesar roda pedati, dengan berbagai simbol tersusun rapi dan melingkar. Fomasi segel ini melayang jauh dari seberang lautan karena terdorong begitu hebatnya.

Formasi segel lalu seolah menabrak tebing, namun karena sifatnya ilusi, menembus ke dalam dan menghantam kepompong di dalam gua. Lebih kurang sejam yang lalu, formasi segel yang berfungsi sebagai pembuka segel Pulau Bunga didorong oleh Bintang menggunakan tingkat pertama jurus Tinju Super Sakti. Selama satu jam formasi tersebut menempuh perjalanan sejauh lebih kurang 500 km.

“Brrrtt…” Kepompong yang tadinya hanya berdiam diri bak batu, kini bergetar keras. Sampai-sampai, seolah terdengar gemuruh dari getarannya.

Lalu, perlahan muncul retakan demi retakan pada permukaan kepompong. Retakan semakin menjalar dan merenggang, menyibak kepulan asap berwarna hitam. Asap terlihat jelas karena disusul cahaya temaram dari antara retakan-retakan kepompong. Cahaya tersebut kini menjadi sumber penerangan temaram di dalam gua.

“Duar!” kepompong tiba-tiba meledak!

Asap hitam memenuhi ruang gua. Cahaya yang muncul di balik asap rupanya berasal dari dinding sisi dalam kepompong raksasa. Kepingan-kepingan kepompong kini berserakan ke penjuru gua, sehingga gua tak lagi gelap.

Asap hitam perlahan menyibak diri menampilkan siluet tubuh mungil. Posisi tubuhnya berdiri tegak dengan kepala tertunduk layu. Seorang anak laki-laki perlahan mengemuka. Umurnya mungkin baru 11-12 tahun. Ia mengenakan pakaian layaknya seorang bangsawan muda, yang dominan dengan warna hitam dan emas. Bahkan emas di pakaiannya adalah emas-emas asli, bukan sepuhan atau sekedar benang berwarna keemasan. Terlihat cita rasa tinggi dari pakaiannya.

Pakaian yang begitu mewah berkebalikan dengan aura yang ia pancarkan. Meski hanya anak remaja, auranya begitu gelap dan suram, seolah hatinya hanya memuat nafsu membunuh dan seluruh tubuhnya bergelimang darah. Perlahan ia mengangkat kepala. Dari celah-celah rambut kusut yang setengah menutupi raut wajahnya, terlihat warna kulit putih dan pucat pasi. Seperti tak ada darah yang mengalir ke wajahnya.

Perlahan ia meraih dan mengenakan sebuah jubah lusuh berwarna hitam.

“Hari ini aku terlahir sebagai... Kum Kecho!” Ia menatap kedua tapak tangan yang sama pucat dengan wajahnya. Ia merasakan sensasi jemarinya bergerak mengepal. Lalu, melontar pandang ke arah selatan.

“Siapakah gerangan yang berkemampuan membuka segel Kepompong Sutra Lestari…?”

Anak laki-laki tersebut menebar mata hatinya menganalisa aura segel yang samar-samar memudar. Ia mengingat baik-baik aura sang perapal kunci pembuka segel.

“Siapa pun ia… ia mampu membuka segel, disengaja atau tidak disengaja. Ia pastilah mampu menyegelku kembali… Ia harus binasa!” mata si anak menatap memicing ke arah selatan. Tampang pucatnya seketika berubah bengis.


***


“Baleo… BALEO!” terdengar teriakan panggilan berburu paus sahut-menyahut parau di dusun-dusun sepanjang pesisir utara Pulau Paus.

Kedua telapak tangan Lamalera menutup mulut nya. Kedua matanya lembab. Sekitar lima bulan lalu Bintang tewas tersapu ekor Paus Surai Naga. Kini Paus Surai Naga kembali! Kedatangan paus menariknya kembali kepada kenangan pahit itu.

Harapan yang kini kembali justru membuat hati Kepala Dusun Peledang Paus, Lembata Keraf, pilu. Langkahnya gontai menuju peledang, perahu kayu, yang ditambat di pesisir pantai. Semangatnya patah. Meski tak hendak, ia berkewajiban mengikuti perburuan paus.

Mayang Tenggara berdiri di pesisir pantai, hatinya tenang bagai laut di petang itu. Tak begitu jauh terlihat kerumunan penduduk menanti detik-detik menegangkan. Para penduduk dusun sesungguhnya lebih banyak khawatir daripada bersemangat menonton. Kegagalan perburuan lima bulan lalu masih menghantui mereka sehingga tak satu pun yang berani berharap banyak. Jari tangan kanan Mayang menyentuh salah satu liontin berwarna biru lembayung yang menggantung di lehernya.

Secara keseluruhan terdapat delapan peledang yang melaju menyambut paus. Setiap orang di atas peledang kini lebih waspada mengamati sekeliling, khususnya yang bertugas sebagai lamuri, sang juru kemudi. Pengalaman sebelumnya, dimana seekor lagi paus muncul dan menggagalkan perburuan, menjadi pelajaran berharga nan pahit bagi mereka.

Delapan peledang kini mulai mengelilingi seekor Paus Surai Naga. Lamafa, juru tikam, pertama melompat dan menghunuskan tempuling bambu dengan ujung mata besi! Paus yang berenang pelan terkejut ketika tempuling yang diarahkan ke bawah sirip sampingnya meleset dan mengenai sisi atas tubuhnya.

Incaran tempuling adalah ketiak paus, yang bila ditembus akan mengantar tempuling ke jantung Paus Surai Naga. Kesempatan emas mengincar jantung terletak di tikaman tempuling pertama. Karena bila meleset, paus akan waspada dan melarikan diri.

Dalam keterkejutan, paus yang panjangnya hampir 50 m itu bergerak membabi buta. Ia menghempaskan ekornya berkali-kali. Dua buah peledang terbalik akibat ombak deras dan satu peledang pecah terkena sapuan ekor. Paus berenang menjauh.

Lima peledang lainnya berupaya mengejar. Peledang Lembata Keraf tertinggal paling belakang. Lengannya terkulai lemah, tempuling di tangannya begitu berat sampai tak kuasa baginya mengangkat. Penduduk yang menonton pun berdiri sama lemahnya. Harapan memudar dari kerling mata mereka.

Dua orang lamafa melompat menikam dari kiri dan kanan paus. Hasilnya… sama mengecewakannya. Tikaman keduanya luput dari titik sasaran. Malah hanya membuat paus semakin berang dan menghempaskan ekor untuk kembali berenang menjauh. Akibatnya dua lagi peladang terbalik. Tiga peledang sisa menghentikan pengejaran. Adalah tidak memungkinkan bagi peledang yang tersisa melanjutkan perburuan. Lebih bermanfaat peran mereka untuk menyelamatkan dan membawa pulang saudara atau tetangga mereka yang kini berenang di laut dan berpegangan pada peledang terbalik.

Langit di ufuk barat terlihat setengah lembayung dan setengah lagi merah. Gumpalan awan tipis menampilkan siluet keemasan karena diberkahi cahaya mentari. Petang itu, penduduk Pulau Paus hanya dapat melontarkan pandangan kosong kepada awan, untuk merasa iri pada sang awan pun mereka tak mampu.

Peledang yang dinaiki Kepala Dusun Peledang Paus perlahan mengangkat para matros, pendayung perahu, yang menjadi korban amarah paus. Beruntung kali ini tidak ada korban jiwa, hanya beberapa orang yang mengalami luka-luka ringan. Pada perburuan sebelumnya lima bulan lalu, seorang anak, yang bahkan bukan bagian dari perburuan, meregang nyawa.

“Apa itu?!” teriak salah seorang lamudi, juru kemudi, sambil menjulurkan lengan dan telunjuknya ke arah paus.

Lembata Keraf dan semua yang kini masih berada di laut sontak menoleh ke arah paus. Namun, yang menarik perhatian mereka bukanlah paus itu sendiri, melainkan sebuah sosok yang jelas terlihat sebagai manusia. Melangkah santai ke arah paus. Samar-samar, sosok tersebut pun terlihat dari pesisir pantai.

Melangkah santai? Bukankah itu di tengah lautan? Pastilah pertanyaan itu berputar di benak semua yang saat ini menyaksikan, baik mereka yang berada di atas peledang maupun yang di pesisir pantai.

Adegan berikutnya lebih mengejutkan lagi. Tiba-tiba, entah dari mana, sosok tersebut mengeluarkan semacam tombak, yang panjangnya lebih dari tiga kali tinggi sosok tersebut. Kemudian, diiringi desir ombak dan suara angin, sosok tersebut melenting tinggi menuju paus. Ibarat gerak lambat, ia terlihat melayang mencapai titik tertinggi, sebelum akhirnya menghujamkan tombaknya tepat di ketiak paus.

Napas seluruh penonton tertahan. Tak seorang pun berkata-kata. Paus meregang nyawa seketika.

“Lamafa!” ucap Lembata Keraf setengah berbisik pada diri sendiri.

“Bintang…?” Lamalera hapal betul bentuk dan momentum lentingan jelang tikaman tersebut.

“…” Mayang hanya menghembuskan napas pelan. Namun sorot matanya mencerminkan kebanggaan tak terperi.

Barulah setelah sosok tersebut terlihat mencabut tombaknya dan mendekati paus, terdengar gemuruh suara penduduk menduga-duga siapakah gerangan sang lamafa.

Bintang segera menarik tenaga dalam dari Tempuling Raja Naga. Tadi ia mengalirkan tenaga dalam yang cukup untuk menambah berat tempuling menjadi sekitar 50 kg. Ditambah kekuatan lengannya, sungguh Paus Surai Naga yang setara dengan Kasta Perunggu Tingkat 7 kali ini memang ditakdirkan menjadi santapan penduduk Pulau Paus.

Bintang sebenarnya berhasil keluar dari Pulau Bunga sejak sejam sebelumnya. Namun lokasi ia mendarat jauh ke arah timur laut Dusun Peledang Paus. Di tambah lagi, karena tergesa-gesa melompat ke celah segel yang terus mengecil, permadani terbang yang ia tumpangi tertinggal di Pulau Bunga. Jadi, ia harus berjalan perlahan di atas permukaan laut. Ilmu meringankan tubuh baru saja ia pelajari, sehingga belum dapat bergerak secara leluasa di atas permukaan laut.