Episode 6 - Panah Luwuk dan Pendekar Wiraguna


Rasa rinduku terobati, akhirnya kakek angkatku, Empu Parewang kembali dari tempatnya membuat busur panah pesanan Wiraguna. Sore itu Empu Parewang pulang membawa sebuah busur panah berwarna hitam pekat yang bila diperhatikan bentuk dan lekukannya, terlihat seperti sayap kalong yang sedang dibentangkan. Kain putih yang Empu Parewang kenakan di tubuhnya terlihat lusuh dan kotor. Dia pulang dengan langkah kaki yang terseok-seok namun raut wajahnya terlihat begitu sumringah.

“Kakek!” teriakku berlari ke arah Empu Parewang sambil tetap memegang busur panah yang ku pakai berlatih.

“Jangan berlebihan! Kakek hanya pergi sebentar saja.”

“Tapi aku benar-benar senang melihat Kakek kembali.”

“Kau senang karena selama aku pergi tidak ada yang memasak untukmu, bukan?”

“Tidak begitu juga, Kek. Eh… ini busur panah yang kakek buat untuk Wiraguna?”

“Coro tolong bawa Empu Parewang ke saung… Dia terlihat sangat lelah,” ujar Wiraguna yang mendekat ke arah kami.

 Kupikir ada benarnya juga perkataannya itu. Aku dan Wiraguna memapah Empu Parewang dan membantunya berjalan ke saung. Paman Bagja pun dengan sigap berlari ke dalam besalen dan kembali membawa kendil berisi air. Kami membantu Empu Parewang untuk duduk dan menyelonjorkan kakinya di saung. Aku duduk di samping Empu Parewang sementara Wiraguna dan pamannya berdiri di luar saung.

“Wiraguna… Bagaimana latihan memanah yang kau berikan kepada Kuntjoro?” tanya Empu Parewang sesaat setelah ia duduk dan meminum air dari kendil yang diberikan oleh Paman Bagja.

“Latihannya berjalan lancer, Ki. Kuntjoro cukup cerdas dan mampu menguasai apa yang aku ajarkan dengan cepat.”

“Syukurlah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan pesanan senjata dari Keraton?”

“Kami telah berhasil menyelesaikan banyak senjata, Kek. Paman Bagja cukup mahir dalam membuat senjata,” sahutku di sela percakapan.

“Wiraguna… mendekatlah…” ujar Empu Parewang sambil menepuk telapak tangannya ke lantai saung yang terbuat dari bambu.

 Empu Parewang meminta Wiraguna untuk duduk di sampingnya. Wiraguna yang semula berdiri di luar saung langsung naik dan duduk di samping Empu Parewang.

“Ini pesananmu… Namanya Panah Luwuk. Panah ini kubuat khusus untukmu. Namun kau harus berhati-hati dalam menggunakannya. Energi dari busur panah ini mampu mengubah anak panah biasa menjadi anak panah beracun yang sangat mematikan,” ungkap Empu Parewang sembari menyerahkan busur panah itu kepada Wiraguna.

“Terimakasih, Ki. Berapa harga yang harus kubayar untuk menebus Busur ini?”

“Itu kuberikan untukmu sebagai hadiah, sehingga kau tak perlu membayarnya. Aku yakin, suatu saat busur panah itu juga akan mendatangkan kebaikan untuk Watugaluh.”

“Saya sangat berterimakasih, Ki. Tapi saya jadi merasa tidak enak.”

“Tidak perlu begitu. Kau ‘kan sudah melatih cucukku dengan baik. Itu sudah lebih dari cukup. Oh iya, bukannya bermaksud untuk mengusir… tapi bukankah waktu itu kau pernah berkata bila kau dan pamanmu sedang buru-buru ingin pergi ke suatu tempat? Mengapa tidak kau lakukan sekarang?” tanya Empu Parewang untuk mengingatkan Wiraguna.

 Wiraguna tersontak, dia sepertinya lupa bila dia dan pamannya harus segera menuju ke suatu tempat. Kedamaian Kota Raja, kesibukannya membantuku mengerjakan pesanan senjata Keraton, hingga melatihku memanah ternyata mampu membuatnya sedikit teralihkan dari alasan dia dan pamannya berada di sini.

“Heheheyyy… Aden jigana hilap, euy. Atos betah, Den?” tanya paman Bagja dengan bahasa yang sedikit asing di telingaku.

“Benar juga… Saya sampai lupa bila kami harus segera menuju ke suatu tempat. Baiklah, Ki. Tanpa mengurangi rasa hormat dan terimakasih, kami mohon pamit,” ujar Wiraguna dengan raut wajah yang terlihat panik.

 Wiraguna dan Paman Bagja pun pamit. Sebelum pergi Wiraguna berjanji untuk kembali dan mengunjungi kami suatu hari nanti. Mereka berdua terlihat sangat terburu-buru, entah mau ke mana dan mengapa mereka sangat tergesa-gesa, hanya mereka berdua dan para dewata yang tahu. Aku tidak pernah bertanya kepada mereka berdua, tempat apa yang sebenarnya ingin mereka tuju.

 Kepergian Wiraguna dan Paman Bagja masih meninggalkan tanya di benakku. Bukan… Bukan tentang mengapa mereka bisa tiba di tempat kami atau mau kemana mereka, tapi tanya yang tertuju kepada Empu Parewang. Aku masih penasaran, mengapa Empu mau membantu mereka berdua dan meninggalkann pekerjaannya di besalen.

 Dan yang membuatku lebih tak habis pikir lagi, mengapa Empu Parewang menciptakan senjata yang sangat berbahaya untuk Wiraguna. Bukankah Empu Parewang baru saja mengenalnya? Apa tidak berbahaya memberikan senjata yang terlihat begitu hebat kepada orang yang baru dikenalnya?

 Untuk menuntaskan rasa penasaranku, aku putuskan menanyakannya langsung ke Empu Parewang yang tengah bersandar di tiang saung.

“Kek, mohon maaf sebelumnya. Ada pertanyaan yang mengganjal di hati saya.”

“Kau ingin bertanya mengapa aku rela pergi meninggalkan semua pekerjaanku di besalen dan membuatkan senjata itu untuknya, bukan?” Belum sempat kuselesaikan pertanyaan, Empu Parewang telah mengetahui arah perkataanku.

“Benar, Kek. Kenapa? Dan… apa tidak berbahaya?”

“Begini, Cucukku... Ketika Wiraguna tiba di besalen, aku memang tidak mengenalinya. Namun, ketika dia memperkenalkan diri aku seperti tidak asing dengan namanya. Sambil mendengarnya menyampaikan maksud kedatangannya, aku terus menggaungkan nama Wiraguna di benakku. Sampai ketika ia menunjukkan busur panahnya yang patah, akhirnya aku teringat akan salah satu kisah yang sering dituturkan oleh para sahabatku, para pujangga keraton.”

“Para pujangga, Kek? Apa hubungannya Wiraguna dengan para pujangga, Kek? Apa jangan-jangan Wiraguna dan pamannya itu seorang penyair termahsyur?”

“Bukan, bukan begitu. Begini… aku pernah mendengar kisah yang dituturkan oleh beberapa sahabatku. Dikisahkan, ada sebuah negeri yang kaya, subur, makmur dan damai di sebuah dataran tinggi di atas tanah Pasundan. Negeri itu dipimpin oleh seorang Raja yang arif nan bijaksana. Sang Raja memiliki dua putra dari satu Istri. Ya… bila biasanya para raja memiliki lebih dari satu, namun tidak dengan raja itu. Sang Raja telah terikat sumpah untuk menikah hanya dengan satu wanita.”

“Umur kedua putranya berbeda cukup jauh dan keduanya pun berbeda karakter. Anak sulungnya sangat pandai dalam hal tata negara, sedangkan si bungsu yang masih kecil tidak suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan ketatanegaraan. Dia lebih suka bermain dengan anak abdi dalem dan kusir kuda. Meski begitu, mereka berdua saling menyayangi. Hal tersebut tidak terlepas dari peran ayahanda mereka, yang memperlakukan mereka berdua secara adil.”

“Seiring waktu berlalu, si bungsu tumbuh menjadi remaja yang tangguh. Walaupun dia anak seorang raja, namun dia sering bermain dan mengadu ketrampilan seperti berkuda, bertarung dan adu panahan dengan remaja lainnya dari kalangan rakyat jelata. Hingga tiba pada suatu saat, pikirannya mulai terbuka. Dia merasa bahwa kerajaan itu bukanlah tempat yang cocok untuknya.”

 Empu Parewang menghentikan ceritera dan menyuruhku untuk memijat kakinya. Dia bilang jika aku ingin dia melanjutkan ceritanya, maka aku harus memberikan pijatan yang nyaman di kakinya. Bagiku memijat Empu Parewang adalah hal yang biasa, selain menjadi panjak, aku pun terbiasa menjadi juru pijat pribadinya.

“Pangeran yang masih remaja itu kemudian memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya di depan ayahanda, ibunda, serta seluruh orang yang hadir dalam pertemuan yang sedang digelar di kerajaan itu. Dihadapan mereka semua, si pangeran muda meminta izin untuk pergi menjadi pengembara. Hal tersebut sontak menimbulkan kegaduhan. Ibunda dan kakandanya menolak dengan keras permintaan sang pangeran,”

“Namun sang raja memiliki pertimbangan lain. Diizinkannyalah sang pangeran pergi mengembara dengan dua syarat. Syarat pertama, si pangeran itu harus di damping oleh salah satu abdi dalem kepercayaan sang raja. Syarat yang kedua, apabila dua gunung yang mengapit kerajaannya meletus, Sang pangeran harus kembali ke kerajaan itu. Si Pangeran menyetujui dan menyanggupi dua syarat yang diberikan ayahandanya.

Dengan berat hati, sang ibunda dan kakandanya harus rela melepas si pangeran yang masih remaja itu pergi. Si Pangeran pergi dari kerajaan itu ditemani oleh seoarang abdi dalem, hanya membawa perbekalan secukupnya serta busur panah kesayangannya.”

“Tunggu, Kek... ditemani seorang abdi dalem? Membawa busur panah? Jadi… pangeran dalam cerita kakek itu si Wiraguna?”

 Aku kira Wiraguna hanya bagian kecil dari cerita yang hendak Empu Parewang ceritakan. Bahkan sempat aku berfikir bahwa Wiraguna dan pamannya adalah penjahat yang berjumpa dengan si pangeran dan mendapat pencerahan sehingga bertaubat dan membenahi jalan hidup mereka. Ternyata aku salah. Empu Parewang menduga bahwa Wiraguna adalah si pangeran yang sering diceritakan oleh kawannya.

“Sepertinya begitu…,”

“Loh? Kok sepertinya, Kek?”

“Yaa… karena memang aku belum pernah berjumpa dengan si pangeran dari tanah Pasundan itu hehehe,”

“Tapi… Nama pangeran yang mengembara itu memang Wiraguna, sama dengan namanya. Lalu, baik Wiraguna yang datang kemari dan yang ada dalam cerita itu sama-sama ahli memanah,” lanjut Empu Parewang seolah ingin meyakinkan aku dengan pendapatnya.

“Tapi, Kek... bukannya yang pergi itu pangeran yang usianya masih remaja ya?”

“Cerita itu sudah kudengar sejak lama. Kisahnya juga sudah sering diceritakan oleh juru tutur dan telah menyebar ke seantero negeri. Sayangnya memang cerita yang disampaikan tidak rinci. Tentang ciri fisik dari sang pangeran pun tidak jelas, tiap juru tutur punya bayangannya masing-masing tentang si pangeran. Bahkan ceritanya pun ada yang dilebih-lebihkan, atau pun dikurang-kurangi.”

“Oh, begitu... Jadi ada kemungkinan si pangeran itu tadi sudah dewasa ya sekarang? Pantas Empu mengira Wiraguna adalah si Pangeran itu.”

“Huuustttt… Aku tidak mengiranya… Aku yakin betul jika dia si pangeran dari tanah Pasundan itu.”

Empu Parewang menarik kakinya yang sedang kupijat kemudian ia duduk bersila dan mencondongkan tubuhnya ke arahku. Lalu ia beruasaha meyakinkanku kembali bila si Wiraguna itu benar-benar si pangeran yang berkelana.

“Kau ingat saat dia datang? Kau ingat busur panahnya yang patah? Kau percaya dengan apa yang dia ceritakan? Tidak… aku tidak percaya. Ada sisa energi dari tenaga dalam di busur panahnya yang patah. Aku yakin busur panahnya terbelah menjadi dua bukan karena terjatuh, akan tetapi tertembus oleh serangan tenaga dalam yang luar biasa.”

“Maka dari itulah aku ciptakan busur panah yang sangat kuat untuknya. Jadi bukan hanya memiliki kelenturan yang tepat, namun busur panah itu juga sangat kokoh. Sehingga bila kelak ia bertemu dengan orang yang memiliki kesaktian tinggi dan kembali diserang dengan tenaga dalam, dia mampu menahan serangan itu dengan busur panah yang kuciptakan.”

“Oh… Begitu, ya… Aku baru menyadarinya, Kek. Lantas, mengapa busur panah itu diberinama Luwuk, Kek?”

“Ya karena bentuknya mirip sayap kalonglah…. Masa begitu saja mesti kau pertanyakan? Hahaha...”

 Aku menggaruk kepala dan tertunduk karena merasa malu telah mengeluarkan pertanyaan bodoh seperti itu.

“Saat memberikan busur panah itu kepada Wiraguna, kakek menyuruhnya untuk berhati-hati dan bilang kalau busur panah itu berbahaya, apa maksudnya, Kek?”

“Jadi begini… busur panah itu kubuat dari sepasang taring Naga Gentasoka.”

“Yang benar saja, Kek? Bagaimana kakek dapat menemukan naga dan mengambil taringnya untuk dijadikan busur panah?”

“Kemarin itu sebenarnya aku pergi dan bertapa di Goa Lawang. Kemudian sukmaku keluar dari tubuh dan pergi ke Nagaloka. Di sana aku bertemu dengan para naga. Aku diantar bertemu dengan Naga Besukih. Aku sampaikan padanya, bila aku tengah mencari bahan yang pas untuk membuat sebuah busur panah untuk seorang kesatria dan akhirnya dia memberiku sepasang taring Naga Gentasoka yang berwarna hitam pekat.”

“Loh? Kenapa bisa semudah itu Kakek mendapatkannya?”

“Bangsa naga lebih peka dari bangsa manusia, sepertinya dia sudah tahu akan kujadikan apa, kuberikan kepada siapa, dan akan dipergunakan untuk apa pemberiannya itu.”

“Lalu, Kek. Bagaimana dengan Naga Gentasoka?”

“Gentasoka adalah naga yang jahat, dulu ia suka membuat kekacauan di muka bumi. Sehingga dia dihukum, dikurung dan sepasang taringnya dipotong. Taringnya memiliki racun abadi yang mematikan. Kedua taringnya itu memiliki kelenturan yang sangat baik sekaligus sangat kokoh. Itulah yang membuat Naga Besukih memberikannya kepadaku.”

“Saat sukmaku kembali ke tubuh, sepasang taring Naga Gentasoka telah ada di tanganku. Aku pun tak menyia-nyiakan waktu dan langsung mengolahnya serta memadukannya dengan bahan lain hingga jadilah Panah Luwuk yang kuberikan kepada Wiraguna. Busur panah itu mampu mengubah anak panah biasa menjadi anak panah beracun yang mematikan dengan bisa Naga Gentasoka. Ketika tali dari busur panah itu ditarik, kedua ujung busur panah itu akan melengkung dan menyalurkan bisa Gentasoka yang telah berubah menjadi energi hitam ke anak panahnya.”

“Wah…. Luar biasa sekali, Kek… Bisa buatkan lagi yang seperti itu untukku tidak, Kek?”

“Owalah… memangnya kamu siapa?? Hahahaha... Sudah… Hari sudah mulai larut, kita bereskan besalen dan pulang ke rumah.”

Setelah mendengarkan ceritanya aku menyuruhnya untuk tetap beristirahat di saung, sementara aku membereskan besalen. Setelah selesai, aku memapah Empu Parewang sampai tiba di rumah dan membaringkannya di tempat tidur. Kutawarkan makan padanya, namun dia menolak. Dia bilang bahwa dia lelah dan yang dia butuhkan hanya istirahat.