Episode 21 - Segel Pulau Bunga



Sepekan berlalu sejak jiwa dan kesadaran Nagaradja berdomilisi di mustikanya sendiri. Mustika siluman sempurna tersebut kini terletak di balik mustika Kasta Perunggu Tingkat 3 di ulu hati Bintang.  

Meski retak, mustika milik Nagaradja dapat menampung sedikit tenaga dalam. Tenaga dalam cadangan tersebut nantinya dapat dimanfaatkan di saat terdesak. Jadi, akan sangat bermanfaat bagi Bintang bila memerlukan tenaga dalam cadangan untuk mengerahkan serangan terakhir atau bahkan melarikan diri.

Dengan kehadiran Nagaradja di dalam dirinya, Bintang justru merasa risih. Jika sebelumnya Bintang menjalani latihan seorang diri, maka kini kesadaran Nagaradja selalu mengganggu dengan perintah-perintah yang sebenarnya kurang bersangkut-paut dengan inti latihan.

“Kurang keras! Tinju SUPER Sakti, Gerakan Pertama: BADAAAK,” demikian cara yang benar meneriakkannya. Penekanan dilakukan pada kata ‘super’, sedangkan suku kata kedua dari kata ‘badak’ haruslah panjang dan bernada tinggi…”

“Mengapa kau hanya melafalkan kata ‘hampa’? Padahal nama jurus tersebut adalah Delapan Penjuru Mata Angin?”

“Teknik tempulingmu monoton! Kau menyia-nyiakan potensi Tempuling Raja Naga.”

“Kau harus memahami ruang bertarung! Ganti saja nama tempuling itu menjadi Tempuling Terpaut di Pohon!”

“Mengapa kau terus membaca kitab itu? Melatih raga adalah utama. Ah sudahlah, aku mengerti… Kau mampu menyelamatkanku juga berkat kitab itu…”

Demikian celoteh demi celoteh dilontarkan Nagaradja. Ia hanya berhenti bilamana ia perlu mengisi mustikanya yang retak. Karena keretakan mustika tersebut, tenaga dalam yang masuk merembes keluar perlahan.

Bintang mulai merasa terganggu. Bila terus berlanjut, ia akan mencari cara untuk menyegel kesadaran Nagaradja.

Terlepas dari itu, ada beberapa kemampuan baru yang Bintang capai sepekan belakangan ini. Nagaradja sempat memperhatikan ketika tapak kaki Bintang amblas sampai ke mata kaki saat pertama kali mengangkat Tempuling Raja Naga. Hal tersebut menandakan bahwa Bintang belum memiliki reflek dasar atas jurus meringankan tubuh, sebuah jurus silat tingkat pemula. Dengan menguasai tingkat dasar jurus ini, kini Bintang bahkan bisa berjalan di atas air.

Bintang juga mulai dapat mengendalikan tempulingnya. Semakin banyak tenaga dalam yang ia alirkan menuju tempuling, maka semakin berat Tempuling Raja Naga. Sebaliknya, dengan menarik tenaga dalam, maka tempuling sakti tersebut akan menjadi sangatlah ringan. Atas bimbingan Nagaradja, ia kemudian berlatih kombinasi menggunakan tempuling berat dan ringan sesuai dengan kondisi. Bentuk tempuling bila mana tak digunakan pun kini menjadi lebih kemas, karena dapat berbentuk spiral. Mirip sebuah per dengan diameter kurang dari 1 m.

Selain itu, Nagaradja juga mengajarkan teknik bertempur tangan kosong. Mereka pun sering melakukan simulasi bertarung. Hanya menggunakan mata hati dan tenaga dalam yang terbatas, Nagaraja dapat menampilkan bayangan tubuh manusia sebagai lawan tanding Bintang. Naluri bertarung Bintang perlahan mulai terbangun. Di sela-sela latihan silat, Bintang juga masih memiliki kewajiban untuk berendam di ketiga Telaga Tiga Pesona. Dengan kehadiran Nagaradja, neraka dingin, panas dan racun seolah bertambah berkali lipat nyerinya.

Satu bulan berlalu tanpa terasa.

“Pagi ini aku akan menunjukkan lokasi pusat segel Pulau Bunga,” ungkap Nagaradja penuh harap. Ia sudah tak sabar ingin melihat dunia luar. Ia juga percaya dengan keajaiban dan bakat alami Bintang untuk membuka segel Pulau Bunga.

“Sebelumnya, simpanlah Tempuling Raja Naga di dalam mustikaku,” ungkap Nagaradja.

Sejumlah ahli tingkat maha tinggi mampu membuka celah dimensi di dalam mustika mereka, yang berfungsi sebagai ruang penyimpanan. Tak terkecuali Nagaradja. Ia memiliki ruang penyimpanan antar dimensi sebesar satu meter persegi di dalam mustikanya.

Bintang segera mengubah bentuk Tempuling Raja Naga menjadi bentuk spiral dan mengirimkan tempuling tersebut ke dalam dimensi penyimpanan. Ia juga memasukkan naskah daun lontar Delapan Penjuru Mata Angin dan Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian. Dari ruang penyimpanan di dalam gua, Bintang kemudian meraih beberapa benda secara acak untuk turut dimasukkan ke dalam dimensi penyimpanan. Ada beberapa bilah belati, sekantong kecil mustika binatang siluman, berbagai jenis batuan, dan sebuah kantong sedang yang berisi kepingan emas. Sepanjang masih muat dalam dimensi penyimpanan, maka apa pun akan ia lemparkan ke dalam ulu hatinya.

Menyaksikan gelagat Bintang, Nagaradja pun menghardik, “Hei! Mau kau apakan harta bendaku itu?”

“Hm..? Guru, bukankah engkau sudah mewariskan seluruh harta bendamu kepadaku sepekan yang lalu?”

“Tidak! Yang kuwariskan saat itu adalah ekorku!” teriak Nagaradja hampir kehilangan kesabaran.

Sambil meraih sebuah kitab jurus sakti dari rak, Bintang menjawab, “Jadi, apakah kita akan bepergian tanpa membawa bekal?” Kemudian ia menyempalkan kitab tersebut ke dalam dimensi penyimpanan.

“Bawa permadani itu ke luar dari ruang penyimpanan…,” Nagaradja memerintahkan. Ia tak rela harta benda yang ia miliki diperlakukan sesuka hati, walaupun oleh muridnya sendiri. Apalagi setelah ia memberikan akses ke dimensi penyimpanan kepada Bintang, yang kini dapat meletakkan dan mengambil apa saja dari dimensi penyimpanan tersebut.

Bintang memanggul gulungan permadani terbang milik Nagaradja sampai ke luar mulut gua. Meski sejak merapikan ruang penyimpanan ia telah menyadari adanya sebuah permadani, saat itu ia tidak terlalu mempedulikan.

Saat dibentangkan, permadani tersebut berukuran normal, sekitar 160 cm x 230 cm. Permukaan permadani menyibak gambar sebuah matahari dengan delapan sudut. Di dalam matahari tersebut, kemudian terdapat sebuah lingkaran yang tumpang tindih dengan satu lagi bentuk matahari bersudut delapan yang lebih kecil. Baru pada bagian terdalam, terdapat sebuah lingkaran sebagai pusat dari matahari. Bintang mencoba mengingat, karena lambang matahari ini tidak asing di benaknya. Mungkin ia pernah melihat sekilas di dalam Kitab Pandai.

Ahli pada Kasta Perunggu tidak dapat terbang. Bagi yang mampu secara keuangan, kebanyakan dari mereka terbang menumpang binatang siluman yang telah dijinakkan oleh jasa pawang, atau membeli pusaka terbang.

“Pusat segel terletak jauh di atas pulau,” jelas Nagaradja.

Bintang duduk di atas permadani menatap ke atas langit. Jantungnya berdetak kencang. Bukan karena ini kali pertama ia akan terbang, tetapi lebih karena ia akan segera bertemu sang ibu. Hampir lima bulan sudah ia terperangkap di Pulau Bunga. Beruntung ia bertemu gurunya. Bagaimana nanti perasaan ibu melihat anaknya kembali sebagai seorang ahli? Apa yang akan diutarakan Kepala Desa? Bagaimana reaksi Lera? Bintang semakin tak sabar.

Permadani melesat tinggi. Nagaradja menggunakan mata hatinya untuk mengemudi alat terbang tersebut. Nagaradja leluasa melakukan hal-hal sederhana walau tersegel. Indera keenamnya memang lebih piawai. Meski untuk melakukan hal sesederhana seperti menerbangkan permadani saja, ia terpaksa menguras tenaga dalam yang terbatas dari dalam mustika retak. Bintang menyadari hal ini dan membiarkan saja. Nantinya Nagaradja tak akan terlalu banyak berceloteh karena bermeditasi mengisi mustika retak tersebut.

Permadani merangsek semakin tinggi ke atas langit. Di sela-sela hempasan angin yang mengaburkan pandangan, Bintang merasakan aura segel. Semakin lama aura tersebut semakin terasa kental. Beberapa menit kemudian, mata hati Bintang menangkap seekor burung siluman melayang di angkasa. Aura segel terasa teramat kental dari tubuh burung tersebut.

Burung tersebut hanya kaku melayang di udara. Meski sayapnya terbuka, tak kelihatan tanda-tanda kehidupan dari sang burung. Bulu burung tersebut berwarna seputih awan, yang menutupi sekujur tubuhnya. Meski demikian, ujung ekor dan sayapnya berwarna merah gelap. Warna biru langit terlihat cerah menghiasi bagian pipi yang tidak ditumbuhi bulu, serta kedua mata kecilnya. Kakinya kembali berwarna merah gelap. Panjang tubuhnya hanya sekitar 25 cm dengan rentang sayap tidak begitu lebar. Agak aneh bila burung kecil ini mampu terbang di ketinggiannya saat ini secara alami.

“Ini adalah binatang siluman Jalak Dewa,” Nagaradja menjelaskan sambil mendekatkan permadani. “Sekarang ia hanyalah boneka yang menjadi medium segel. Aku tak tahu segel apa yang digunakan Kaisar Iblis Darah.”

Bintang mengamati dengan seksama. Mata hatinya dapat melihat berbagai simbol dan formasi segel yang begitu kecil, saling tumpang-tindih, dan rumit. Awalnya ia beranggapan bahwa untuk menyegel Pulau Bunga yang begitu besar, maka formasi segelnya tentulah besar pula. Namun yang ia lihat di sekujur tubuh burung tersebut adalah sebaliknya. Dengan burung itu sebagai pusat, kemudian ia melihat jejaring segel menaungi seluruh pulau.

Bintang tak sabar ingin mengutak-atik formasi segel. Ia pun menebar mata hati melingkupi seluruh tubuh burung Jalak Dewa. Analisa awalnya menyimpulkan bahwa terdapat segel di atas segel. Segel pada permukaan tubuh burung merupakan segel melindungi segel di bawahnya. Kemungkinan terdapat lebih dari satu lapisan segel.

Dua jam berlalu. Bintang masih berkonsentrasi penuh. Nagaradja bermeditasi mengumpulkan tenaga alam agar mustika retaknya tidak kehabisan tenaga.

Empat jam berlalu. Matahari kini tepat berada di atas kepala Bintang. Panasnya terik. Namun masih kalah menggigit dibandingkan dengan panas Telaga Merah, salah satu dari Telaga Tiga Pesona.

Enam jam berlalu. Bintang masih mengutak-atik segel. Secara garis telah ia pahami cara kerja formasi segel. Ia pun menarik mata hatinya dan beristirahat sejenak. Nagaradja ingin berkomentar, tapi memilih menahan diri.

“Guru, apakah kelebihan Jalak Dewa?” tanya Bintang sambil beristirahat.

“Jalak Dewa merupakan binatang siluman yang disenangi para penggemar burung. Kicauannya sangat merdu sekali, dengan nada turun naik berurutan. Sifat mereka pun periang,” ungkap Nagaradja.

Delapan jam berlalu sejak mereka tiba di pusat segel. Upaya Bintang mulai membuahkan hasil. Akhirnya ia sadari bahwa dengan pemahamannya saat ini, adalah terlalu congkak untuk membongkar formasi segel yang disusun oleh ahli sekelas Kaisar Iblis Darah. Senyum kecut menempel di bibirnya. Paling banyak yang bisa ia lakukan adalah mempertipis bagian tertentu dari segel. Lalu membuat semacam kunci untuk menerobos paksa dan membuka sementara bagian segel yang menipis tersebut.

Bintang kembali mengutak-atik segel. Mempertipis segel di suatu bagian. Ia menyadari walaupun mampu menerobos paksa, segel Pulau Bunga memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri.

“Apakah Guru merasakan lapisan segel menipis?” tanya Bintang.

“Benar,” jawab Nagaradja yang telah menyadari keanehan tersebut. “Di arah utara.

“Kita akan menerobos keluar dari sana,” ungkap Bintang penuh percaya diri.

Nagaradja segera mengarahkan permadani terbangnya ke lokasi tersebut. Secara perlahan mereka terbang semakin rendah mendekati permukaan laut. Lokasi segel yang menipis berada jauh dari garis pantai Pulau Bunga.

Mereka sekarang berada hanya sekitar 2 m dari atas permukaan laut. Setibanya di lokasi dimana segel menipis, Bintang menyusun sebuah formasi segel baru, sebuah segel kunci pembuka, bentuknya melingkar sebesar roda pedati. Ia pun menempelkan segel tersebut ke dinding segel Pulau Bunga, lalu…

“Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak!”

Bintang melontarkan tinju beruntun sehingga menghasilkan kecepatan supersonik. Gelombang kejut tercipta di ujung kepalannya, dibarengi suara dentuman memekakkan telinga. Tinju Super Sakti menghenyakkan formasi segel yang baru ke dalam lapisan tipis segel.

Bagian segel yang tipis pun terkoyak! Menyisakan lubang seukuran tubuh manusia dewasa. Tenaga Tinju Super Sakti berpendar di permukaan segel, lalu mengantarkan formasi kunci melewati segel dan terus terlontar jauh ke utara. Bintang terkesima. Bila saja sebelumnya ia tak menipiskan segel dan membuat kunci, maka dipastikan tinjunya tadi tak akan berdampak apa-apa pada segel Pulau Bunga.

“Hei! Jangan melamun!” sergah Nagaradja.

Bintang tersontak dan melihat bahwa bagian segel yang tadinya terkoyak sudah mulai memperbaiki diri. Lubang yang tercipta kini hanya berukuran setengah meter.

“Hop!” serta-merta Bintang melompat keluar.



Catatan:

Maafkan... sempat salah mengunggah Episode 20 yang belum diedit pada Jumat pagi. Silakan simak kembali Episode 20 jika merasa membacanya pada Jumat (17/2) pagi.