Episode 20 - Jurus Aliran Hitam


Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian sungguh memuat teramat banyak informasi langka. Tidak hanya menyajikan informasi berbagai ilmu silat dan ilmu sakti dari aliran putih, kitab tersebut juga mendata berbagai jenis keahlian dari aliran hitam. Sebut saja jurus sakti Merampas Jiwa Menuai Raga.

Pada jurus Merampas Jiwa Menuai Raga seorang ahli dari aliran hitam mengusir jiwa dari raga mangsanya. Meski, raga tanpa jiwa hanya mampu bertahan selama jangka waktu tertentu saja. Pemilik jurus ini bertujuan mengendalikan tubuh yang tidak lagi memiliki jiwa tersebut untuk melakukan tindakan tertentu. Sungguh keji.

Meski demikian, tidaklah mudah menerapkan jurus ini karena syarat dan kententuannya sangatlah berat. Salah satunya, korban haruslah dalam keadaan sekarat dan pasrah menjemput ajal. Tentu sulit membuat seorang ahli sampai sekarat. Apalagi, kebanyakan ahli sangatlah angkuh, mana ada yang rela mati. Lebih baik mereka mengorbankan diri daripada merelakan jasad dikendalikan oleh ahli lain. Bahkan, bukan tak mungkin memilih untuk meledakkan diri, setidaknya berupaya mencederai lawan semaksimal mungkin.  

Lalu ada lagi jurus aliran hitam yang bertujuan mengurung lalu menyantap jiwa korban-korbannya. Seperti diketahui awam, tenaga dalam dapat diperoleh dari melatih tubuh, menyuling tenaga alam, mengkonsumsi ramuan sakti, atau menyerap mustika binatang siluman. Nah, jurus sakti yang satu ini menambah satu kemungkinan lagi untuk memperoleh tenaga dalam, yaitu dengan menyerap jiwa manusia.

Syaratnya, perapal jurus harus terlebih dahulu memindahkan jiwa mangsanya ke tempat penampungan sementara. Tempat penampungan tersebut bisa apa saja, yang paling lazim adalah botol atau kendi. Hanya setelah diolah sedemikian rupa, jiwa yang tersimpan dapat diserap menjadi tenaga dalam. Kebanyakan yang menjadi korban jurus sakti ini adalah masyarakat awam atau ahli kasta rendah.

Pemilik jurus ini menjual botol kecil 10 ml yang berisi ramuan jiwa di pasar gelap. Satu botol ukuran kecil untuk Kasta Perunggu terdiri dari dari ratusan jiwa masyarakat awam. Sedangkan untuk Kasta Perak, satu botol bisa mencapai seribu jiwa! Pembelinya adalah para ahli yang memerlukan sumber tenaga dalam cadangan pada keadaan terdesak.

Karena sumber tenaga dalam dari jurus ini diperjualbelikan dengan harga tinggi, jurus sakti aliran hitam ini diberi nama Saudagar Sesat Jiwa. Layaknya, hasil tenaga dalam dari jurus ini terkenal dikenal dengan nama Jamu Sesat Jiwa. 

Selama lebih dari sebulan Bintang menelusuri Kitab Pandai mencari solusi untuk menyelamatkan gurunya. Saking lamanya ia menyelami kitab, mata hatinya sampai mencapai batas penggunaan. Kepalanya pening bak dihimpit dua batu karang besar. Sempat beberapa kali hidung dan telinganya mengeluarkan darah segar akibat penggunaan indera keenam yang berlebihan. Tidak pula ia temukan solusi yang memadai.

Pada akhirnya ia menemukan kedua jurus aliran hitam tadi. Kebetulan petunjuk tentang kedua jurus dijelaskan dalam Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian. Meski tidak rinci.

Bayangkan betapa besarnya mara bahaya bila saja kitab tersebut jatuh ke tangan orang-orang yang berhati jahat.

Bagi Bintang, kedua jurus memiliki satu kesamaan, yakni sesungguhnya berdasar kepada keterampilan khusus segel. Prinsip kedua jurus tersebut kemudian menghasilkan sebuah jurus sakti yang baru.

Jurus baru itu pulalah yang kini ia rapalkan pada gurunya. Jurus tersebut memungkinkan Bintang menarik jiwa Nagaradja, mempertahankan kondisi raga agar tidak rusak sampai batas waktu tertentu, lalu menempatkan jiwa ke dalam sebuah wadah. Wadah dalam hal ini adalah mustika Nagaradja sendiri, yang kini bertempat di ulu hati Bintang.

Yang tak Bintang duga adalah saat jiwa gurunya berada di dalam wadah mustikanya sendiri, kesadaran Nagaradja justru tidak menghilang, dan mata hati siluman sempurna tersebut juga berfungsi normal. Mungkin ini disebabkan oleh keahlian Nagaradja yang teramat tinggi, Bintang hanya bisa menduga-duga. 

"Dimana ini?" ucap Nagaradja meringis. "Ini bukanlah neraka! Auranya sangat kukenal. Bahkan sangat nyaman..."

"Guru..." Bintang sedikit ragu. "Guru berada di dalam mustika Guru sendiri," ungkap Bintang menggunakan mata hati untuk berbicara.

“…”

Tak ada reaksi lagi dari Nagaradja...

"Bocah tengik! Segera jelaskan apa yang kau lakukan?!" hardik Nagaradja. Ia telah mengamati sekeliling menggunakan mata hatinya dan memahami secara garis besar akan apa yang terjadi. Tentunya ia telah banyak memakan asam dan garam dunia persilatan dan kesaktian selama lebih dari dua ribu tahun hidupnya.

"Murid memohon maaf sebesar-besarnya. Murid telah berlaku lancang terhadap Guru. Sesungguhnya tindakan murid didasari ketidakinginan berpisah dari Guru," bibir Bintang sedikit bergetar. Matanya kembali berkabut.

"Murid menggabungkan dan memodifikasi jurus segel Merampas Jiwa Menuai Raga dengan jurus segel Saudagar Sesat Jiwa. Lalu murid merapal jurus baru yang tercipta, dan menerapkannya pada Guru."

Bintang berhenti sejenak. Menunggu reaksi. Sebaliknya, Nagaradja sedang terperangah. Asam dan garam kehidupan Nagaradja selama lebih dari dua ribu tahun tak pernah mencatat seorang anak berusia 13 tahun yang menciptakan jurus segel baru!

Nagaradja ingat betul bahwa dulu, dirinyalah yang secara langsung menumpas pemilik jurus Merampas Jiwa Menuai Raga. Sedangkan perapal jurus Saudagar Sesat Jiwa, diburu dan dibasmi tidak lain oleh sahabat yang menyusun Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian. Jadi, ia memahami bahwa kedua jurus sakti aliran hitam tersebut bukan jurus yang mudah digabungkan, apalagi kemudian dipraktekkan.

"Kehendak murid adalah menjaga raga Guru, pada saat yang sama mempertahankan jiwa Guru di dunia ini. Berharap suatu hari kelak, murid dapat menyembuhkan raga Guru, untuk kemudian mengembalikan jiwa Guru."

Tidak ada keraguan dalam kata-kata Bintang. Semua yang ia lakukan adalah untuk menyelamatkan hidup gurunya.

Hening. Meski Bintang dapat merasakan kehadiran Nagaradja, belum ada tanggapan dari siluman sempurna tersebut.

"Apa nama jurus yang kau ciptakan?"

"Belum ada nama, Guru. Baru sekali ini murid menggunakannya," Bintang menjawab cepat. Pada saat yang sama ia mulai membaca arah pembicaraan selanjutnya.

"Bagaimana mungkin kau menciptakan sebuah jurus tapi tak menamai jurus tersebut?" Nagaradja mencibir. "Terlebih lagi, sebagai ahli, kau wajib meneriakkan nama jurus saat merapal sebuah jurus!"

Benak Bintang berputar. Terkait meneriakkan nama jurus setiap kali merapal jurus sempat menjadi tanda tanya dalam batinnya. Bukankah merapal nama jurus cukup dilakukan dalam hati?

Misalnya, saat akan melontarkan jurus Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak, bila diteriakkan maka lawan dapat membaca jenis dan arah serangan. Bukankah tindakan itu memberikan kesempatan bagi lawan untuk melakukan antisipasi, bahkan melancarkan serangan balik? Selain itu, cukup panjang juga bila harus melafalkan nama jurus dan tingkatannya secara utuh.

Terkait nama jurus, Bintang tak merasa menciptakan jurus baru. Yang ia lakukan adalah mempraktekkan sebuah metode untuk menyelamatkan gurunya. Belum tentu ia akan mengulang metode yang sama terhadap ahli lain di lain hari. Meski demikian, Bintang tak hendak berdebat dengan gurunya.

"Jurus Memutarbalikkan Fakta,” ungkap Bintang sekenanya.

“Luar Biasa!” teriak Nagaradja.

“Memutarbalikkan Fakta! Mengubah jurus aliran hitam dan memperpanjang nyawa. Sungguh layak digunakan atas diriku.”

Setelah puas menceramahi muridnya, kemudian Nagaradja memerintahkan Bintang untuk meraih Tempuling Raja Naga. Ini adalah kali pertama Bintang memegang senjata sakti. Begitu memegang tempuling itu, Bintang merasakan ada kekuatan yang menolak dan menekan. Seluruh lengan kanannya kesemutan.

“Alirkan sedikit tenaga dalammu melalui tangan menuju tempuling. Lalu tebarkan indera keenammu untuk membangun ikatan,” pandu Nagaradja.

“Hm…” Bukankah ini berarti teknik segel, benak Bintang berpikir. Jika demikian betapa mudah membangun ikatan dengan senjata sakti.

Bintang kemudian mencoba mengangkat tempuling. Betapa terkejutnya ia ketika tempuling tidak sedikit pun bergerak. Tangan kirinya kemudian turut meraih Tempuling Raja Naga. Bahkan dengan otot kedua lengan yang telah diperkuat oleh gurunya, Bintang hanya mampu menggeser sedikit posisi tempuling yang masih tertancap di lantai gua.

Perlahan Bintang mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuh. Kemudian kedua tangannya menyentak tempuling ke atas…

“Brak!” tempuling merangsek keluar dari lubang dan terangkat sampai posisi dada. Tapak kedua kaki Bintang terhenyak ke dalam tanah. Tenaga dalam Kasta Perunggu Tinggat 3 terus terkuras. Bintang kemudian mengaktifkan jurus Delapan Penjuru Mata Angin untuk mengkompensasi tenaga dalam yang terus terkuras.

Kejadian ini sungguh di luar dugaan Bintang. Tempuling di kedua tangannya hampir seberat 200 kg.

“Bukanlah demikian cara penggunaannya,” sela Nagaradja dari dalam benak Bintang. Karena kini ia mendiami mustika di ulu hati, dan karena mata hatinya bekerja normal, Nagaradja dapat berbicara seperti biasa dari mata hatinya kepada mata hati Bintang.

“Kuberitahu satu lagi keahlianku yang tiada banding,” ungkap Nagaradja pongah. “Gurumu ini memiliki jurus sakti untuk memanipulasi bentuk dan massa tubuh. Jurus sakti Alih Wujud Semesta. Menggunakan jurus ini, aku bisa mengubah rupa dan bobotku sesuka hati. Kau tahu apa artinya ini?”

Bintang terkesima! Pertama gurunya bisa memangkas ekornya sendiri layaknya seekor kadal. Kemudian, sang guru mengaku dapat pengubah penampilan, bukankah ini mirip kemampuan bunglon? Jadi, siapakah jati diri sebenanya sang guru? Apakah komodo, kadal atau bunglon? Segera Bintang menepis pemikiran itu. Kalau sampai ia suarakan, pastinya sang guru akan kembali berteriak ‘bocah tengik’.

“Artinya bentuk dan bobot Tempuling Raja Naga bisa diubah sesuai kehendak empunya,” tambah Nagaradja.

Bintang kemudian memberi perintah melalui mata hatinya dan menyirkulasikan tenaga dalam. Bobot tempuling segera berubah menjadi seringan kapas. Ia lalu mengirim perintah mengubah bentuk… Sayangnya, perubahan bentuk yang dapat dilakukan hanyalah menjadi bentuk melingkar mirip gelang raksasa berwarna putih. Setidaknya kini, lingkaran berdiameter 1,5 m menjadikan Tempuling Raja Naga tidak terlalu menarik perhatian.

“Kau harus membiasakan diri menggunakan tempuling tersebut,” ungkap Nagaradja.

“Lalu, kemampuan dasarmu masih perlu ditingkatkan. Engkau akan berlatih selama sepekan lagi, sebelum aku mengantarkanmu ke pusat segel Pulau Bunga.”


 

Catatan:

Maafkan... sempat salah mengunggah episode yang belum diedit.