Episode 4 - Anggota Baru


"Aku harus kucing-kucingan dengan Jardis. Pernah aku kurang hati-hati saat masuk rumah kaca lalu dia curiga. Untung Mang Kasman pintar cari alasan. Mang Kasman bilang kepada Jardis kalau aku membantu Yashwan memperbaiki rumah kaca." Narin menceritakan kepada teman-teman pengalamannya selama menjadi penjaga di kamar bawah tanah. Sesekali ia tertawa, sesekali ia cemberut mengingat saat ia hampir diinterogasi Jardis saat berpapasan di depan rumah kaca. Ia dikira akan mencuri di rumah itu.

Pastha dan Damar menunjukkan wajah pura-pura prihatin dan terharu saat Narin bercerita sehingga Narin jadi makin sebal. Pastha dan Damar tertawa-tawa.

Dua minggu lalu sepulang dari Magelang, Yashwan memberikan waktu istirahat selama dua minggu untuk teman-temannya. Ia berpikir tak akan banyak yang bisa dilakukan selama dua minggu selagi Cakrakinaryo mempersiapkan pencalonannya menjadi kepala desa.

Selagi Narin pulang ke Tanjung Puting dalam masa "liburannya", Pastha mengisi waktu istirahatnya dengan bermain kebut-kebutan di sirkuit, bermain biliar, skydiving, sampai clubbing. Ia sedang cuti kuliah sekaligus punya uang untuk membayar semua kesenangan itu dari kompensasi cuti kuliah yang diberikan Yashwan.

Narin banyak melakukan kegiatan luar ruang selagi ia di Tanjung Puting. Ia mengunjungi taman nasional sekedar melepas kangen dengan para orangutan yang diasuhnya dulu. Ia juga berkemah di hutan bersama teman-temannya.

Dilain tempat, Damar menghabiskan waktunya dirumah. Ia bermain simulasi pesawat tempur pada perangkat virtual miliknya, mendesain permainan augmented reality, mencoba meretas beberapa situs berita untuk lelucon, dan mengunjungi mal untuk cuci mata melihat perempuan-perempuan bening.

Sedangkan Desitra melakukan hal-hal khas wanita. Ia melakukan relaksasi di spa, ke salon untuk merapikan kuku-kuku tangan dan kakinya, berenang di pusat kebugaran, dan belanja baju, sepatu, kosmetik, juga tas. Sama seperti yang lainnya, Desitra juga mendapat kompensasi dari Yashwan. Hanya saja tanpa uang dari Yashwanpun Desitra memang sudah kaya dari lahir.

Sementara Yashwan menghabiskan waktunya di kamar bawah tanah. Membaca ulang catatan-catatan ayahnya dan memerintahkan Mang Kasman mengurus rumah kaca. Rumah kaca harus ditanami lagi untuk mengkamuflase apa yang ada di kamar bawah tanah. Ia juga meminta Mang Kasman menambah pekerja rumah tangga supaya Mang Kasman bisa fokus mengurus rumah kaca.

Yashwan juga mengunjungi Profesor Suyudi dan Profesor Sinna untuk berbincang tentang banyak hal. Disatu kesempatan, Yashwan menghubungi Cakrakinaryo sekedar menanyakan kabar. Ternyata Cakrakinaryo sudah bergerak cepat. Ia sudah mendaftarkan pencalonannya, membentuk tim kecil yang bertugas mencetak stiker dan spanduk juga membagikan cenderamata yang bergambar dirinya berupa gelas, mangkuk, dan buku notes.

Yashwan berpikir, apa tidak berlebihan mencetak stiker dan spanduk hanya untuk pemilihan kepala desa? Lagipula bagi-bagi souvenir bukannya termasuk politik uang? Meski penasaran tapi ditahannya untuk tidak menyinggung hal tersebut pada Cakrakinaryo.

"Aku berpikir, sebaiknya Narin ikut kita dan Damar yang berada disini," ujar Yashwan ketika Narin selesai bercerita. Mereka sedang duduk santai di kamar bawah tanah dengan kopi, jus, dan aneka kue sebagai pelengkap.

Yashwan melanjutkan, "Damar lebih mumpuni mengoperasikan satelit dan GPS yang ada disini. Ia lebih ahli daripada kita semua."

Damar merasa bangga karena disebut sebagai ahli.

"Narin ikut kita ke Magelang. Tapi andai kau mau tetap disini bersama Damar, itu boleh juga, Narin," sambung Yashwan.

Narin menggeleng ccepat "Aku mau ikut kalian."

Tiba-tiba Narin ingat sesuatu. "Selama aku berjaga disini seringkali layar menunjukkan tulisan "intruder alert" tapi aku tidak tahu apa itu. Sistemnya tidak menunjukkan kerusakan atau crash atau hang. Mungkinkah itu bug?" Narin tidak yakin.

Baru saja Narin menutup mulutnya, Damar sudah melesat ke depan komputer. Tangannya lincah memencet-mencet keyboard. Wajahnya kelihatan tegang.

"Kau kenapa, Damar? Wajahmu seperti ketemu hantu," kata Pastha.

Yashwan menghampiri Damar. "Apa ada masalah?" tanyanya sambil menepuk bahu Damar. Damar tak menjawab. Jari-jemarinya tak henti memencet keyboard.

Sejenak suasana hening.

"Kita diretas," kata Damar lesu tapi menunjukkan kelegaan karena berhasil memproteksi komputer itu lagi. Punggungnya menyandar disandaran kursi.

"Diretas bagaimana?" Yashwan menunjukkan keterkejutannya. Bukan hanya ia yang terkejut. Desitra dan Narin bahkan memekik kecil mendengar kata "diretas" seolah-olah kata "diretas" akan menyebabkan gempa bumi. Pastha meletakkan cangkir kopinya dengan keras ke meja sampai isinya tumpah.

Damar mengusap keningnya, "Diretas maksudku ada yang masuk ke dalam satelit kita dan melacak GPS kita," katanya lagi.

"Apakah kepolisian?" Yashwan agak waswas.

Damar menggeleng. "Aku yakin mereka bukan polisi atau militer, sipil biasa. Mereka hanya masuk dan melihat-lihat, memakai-matai tapi tidak melakukan apa-apa karena mereka tidak melakukannya di operator satelit. Sebenarnya ini wajar karena satelit Navstar ini puluhan tahun lalu dipakai untuk kepentingan militer. Tapi ayahmu sudah mengacak dan mengunci pola dari sistem Navstar sehingga andaipun terdeteksi militer dan kepolisian, mereka hanya menganggapnya sebagai rotasi biasa pada satelit.

"Ayahku bisa mengacak pola satelit?!" Yashwan tidak percaya.

Damar mengangkat bahu tanda ia tidak mengetahui apa-apa soal apapun yang dilakukan ayah Yashwan.

"Mungkin ayahmu dapat bantuan dari orang lain untuk menyusun semua komunikasi satelit dan macam-macamnya ini," sahut Desitra.

"Siapa? Ayahku hanya bekerja bersama kakekku," sahut Yashwan.

Saat itulah Mang Kasman masuk kamar bawah tanah dengan tergopoh-gopoh.

"Ada apa, Mang?" tanya Yashwan.

Dada Mang Kasman naik turun dengan cepat tanda ia habis berlari kencang.

" Jardis sudah tahu tentang kamar bawah tanah ini," katanya tersengal-sengal.

"Apa?!" teriak mereka berlima hampir bersamaan.

"Iya. Dia kesini sebentar lagi," sambung Mang Kasman.

"Darimana Jardis tahu, Mang?" tanya Yashwan. Mang Kasman menggeleng.

Yashwan meneguk kopi di cangkirnya lalu mondar-mandir dengan tangan tertangkup didada untuk menutupi rasa paniknya.

Suasana hening lagi. Semua menunggu keputusan Yashwan apakah mereka harus pulang atau menunggu Jardis atau pura-pura tidak ada apa-apa.

"Jadi bagaimana, Damar?" tanya Pastha memecah keheningan.

"Kita..." belum sempat Yashwan menyelesaikan kalimatnya Jardis menelepon smart watchnya.

"Jardis, buka kunci pintu rumah kaca. Aku tahu ada sesuatu di bawah rumah kaca ini," kata Jardis lantang.

"Apa yang kau maksud?" Yashwan belagak tidak mengerti apa yang dibicarakan Jardis.

"Aku tahu tentang satelit itu karena aku yang meretasnya!" seru Jardis tidak sabar. "Sekarang buka pintunya, Yashwan!"

Yashwan terkejut. Begitu juga dengan teman-temannya. Mereka saling berpandangan. Ditengah keterkejutannya karena Jardis mengaku sebagai peretas satelit, Yashwan membuka pintu rumah kaca lalu menyuruh Jardis masuk ke kamar bawah tanah.

Jardis berhasil masuk ke kamar bawah tanah dan menyapa yang semua ada disana.

"Halo semua! Pastha, Damar," sapa Jardis. "Eh, kau Desitra? Kau juga bergabung? Apa Rudi tahu kau disini?"

Desitra tertawa, "Tentu saja Rudi tidak tahu. Andaikata tahupun dia tidak akan ikut campur," jawab Desitra. Rudi adalah kakak Desitra yang merupakan teman kuliah Jardis.

"Hei, kita ketemu lagi, Narin," sapa Jardis lagi. "Aku harus mentraktirmu makan siang karena berkat keberadaanmu yang mondar-mandir di rumah ini, aku jadi tahu bahwa perangkat komunikasi satelit itu pasti ada di rumah kaca," kata Jardis tersenyum penuh keyakinan.

Narin tersenyum kecut. Yang lain tidak tahu harus berkata apa. Mereka berpikir ini semua harusnya jadi rahasia mereka berenam dengan Mang Kasman, tapi ditambah Jardis berarti jadi tujuh orang. Tujuh orang rasanya terlalu banyak. Atau terlalu sedikit?

"Apa maksudmu tadi kalau kau yang meretas satelit?" tanya Yashwan sambil mendekati posisi Jardis berdiri. "Dan apa maksudnya berkat Narin kau jadi tahu perangkat komunikasi satelit ada di rumah kaca?"

"Ohh, meretas satelit? Yeah, aku masuk sistem operasi satelit Navstar

supaya GPS receiver yang sudah ada di komputer ini menerima sinyal dari empat satelit. Dengan empat satelit GPS akan menghitung posisi latitude, longitude dan altitude secara tiga dimensi..."

Damar memotong Jardis, "Navstar membuat posisi latitude, longitude, dan altitude lebih sempurna dan detail!"

"Ya seperti itu," jawab Jardis. "Kau tahu GPS ini memakai satelit Navstar?" Jardis terkesan akan pengetahuan Damar.

Damar berdiri didepan komputer. "Aku mengetahui dari betapa detailnya GPS menggambarkan apa yang dipancarkan satelit."

Desitra dan Narin saling berpandangan dan geleng-geleng kepala karena tidak mengerti yang dibicarakan Jardis dan Damar.

"Bagaimana kau mempelajari cara meretas satelit? Kau kan kuliah desain grafis?" tanya Yashwan pada Jardis penasaran.

"Yah, desain grafis hanya hobi sebenarnya. Aku mempelajari peretasan satelit dari Jim Geodevi. Tak secara langsung tapi kakek yang mengajariku cara merakit komputer yang khusus digunakan sebagai GPS receiver. Juga memasukkan data-data Navstar untuk diretas. Mudah saja karena itu satelit kuno jadi tidak sesusah meretas satelit mutakhir."

"Kakek yang mengajarimu?! Aku tak pernah melihat kakek menggunakan gadget apalagi bermain dengan GPS dan satelit," Yashwan setengah percaya. "Kapan kakek mengajarimu? Dia kan tinggal disini bersama ayahku."

"Waktu aku SMP," jawab Jardis singkat.

"Apa?! Anak SMP sudah bisa merakit komputer GPS dan meretas satelit?!" Yashwan tidak percaya.

Jardis menangkap kebingungan dimata Yashwan. Ia mengambil jus, menenggaknya, lalu duduk disebelah Damar. Sementara Yashwan tetap berdiri dengan perasaan bercampur antara kagum, marah, dan bodoh.

"Aku memang sudah tertarik pada hal semacam itu sejak kecil. Mungkin kakek melihat bakatku. Setelah komputer GPS itu selesai dan orbit Navstar berhasil diubah, kakek bilang bahwa beliau dan ayahmu sedang membangun kamar rahasia. Disanalah nanti ruang kendali komputer itu berada." cerita Jardis.

"Kakek bilang aku harus bekerjasama denganmu, tapi untuk hal apa, kakek tidak bilang apa-apa. Kakek cuma bilang komputer itu akan disimpan di rumah Jardis tapi harus dirahasiakan," Jardis berhenti sejenak untuk meneguk jusnya lagi. Yang lain masih diam mendengarkan.

"Tapi aku tidak mengerti maksud kakek dirahasiakan itu dirahasiakan dari kau atau kau harus diberitahu tapi dirahasiakan dari orang lain. Jadi aku putuskan merahasiakan dari kau. Aku sengaja tinggal disini untuk mencari dimana komputer itu disimpan. Tapi sejak hari pertama aku disini, keberadaan komputer itu masih gelap. Aku membuat program yang memancarkan sinyal khusus dari Navstar untuk memanggil komputer itu tapi tidak berhasil. Untuk itulah aku berterima kasih kepada Narin." Jardis melirik ke arah Narin. Narin tersenyum kecil.

"Kau mengira aku mau mencuri."

"Hahaha, aku curiga melihat Narin sering berada di rumah kaca sementara rumah kaca sendiri tidak mengalami perubahan apapun kecuali yang dibuat Mang Kasman. Selain itu sinyal pemanggil yang kubuat mulai menunjukkan tanda keberadaan komputer yang mengarah ke rumah kaca. Aku periksa tiap jengkal rumah kaca tak ada yang mencurigakan. Sampai akhirnya aku berkesimpulan pasti ada kamar bawah tanah. Pastinya kau sudah tahu soal kamar bawah tanah itu karena kau mendadak pergi ke Yogya bersama teman-temanmu, sementara Narin ada disini. Untuk apa Narin ada disini tiap hari kalau bukan menjaga kamar bawah tanah? Maka kukuatkan lagi sinyal pemanggil itu setiap hari agar siapapun yang melihatnya mengerti kalau ada orang lain yang tahu soal komputer itu dan membuka aksesnya."

"Jadi kau yang memata-matai kami?" seru Damar. "Aku menemukan tanda bahwa ada yang masuk ke sistem komputer GPS dan mencari tahu rekaman data GPS," tambahnya.

Jardis mengelak. "Aku tidak memata-matai, aku kan hanya berusaha memanggilnya untuk mengetahui dimana komputer itu berada. Ini sesuai amanat kakekku."

Desitra tiba-tiba berdiri disamping Yashwan. Dengan begitu ia ingin menunjukkan bahwa apapun yang dipikirkan Yashwan ia selalu mendukungnya.

"Amanat kakek, juga ayahku, adalah menemukan keturunan sultan Yogya Hamengkubuwono IX lalu membantunya menjadi pemimpin. Kami sudah menemukannya, dia tinggal di Magelang. Lusa insya Allah kami berangkat lagi ke Magelang untuk membantunya menjadi kepala desa."

Jardis mengerutkan kening, "Keturunan sultan Yogya? Kenapa harus keturunan sultan Yogya? Hanya untuk jadi kepala desa?"

"Begitulah. Panjang ceritanya. Apa kau mau ikut ke Magelang?" tawar Jardis. "Aku bisa menceritakan semuanya saat di perjalanan nanti." Sejenak Ia bimbang apakah harus menceritakan juga soal emas dalam peti atau tidak. Apakah jika Jardis tahu ia akan minta bagian dari emas itu atau tidak. Ia melihat Desitra yang berdiri disampingnya. Wajah Desitra enak dipandang dan menenangkan. Desitra tersenyum pada Yashwan.

"Aku disini saja. Aku akan menyempurnakan komputer ini kalau ada kekurangan. Lagipula aku harus kuliah. Apa kalian tidak kuliah?!" tanyanya pada Pastha, Damar, dan Desitra.

Pastha tersenyum lebar, "Kami cuti satu semester. Yashwan memberi kami uang kompensasi untuk mengganti waktu cuti kami."

Jardis mengerutkan kening lagi. "Kompensasi? Kalian dapat berapa dari Yashwan?"

"Duapuluh juta untuk uang muka," jawab Pastha.

Jardis terbelalak mendengar kata duapuluh juta.

"Nanti kuceritakan," sahut Yashwan pada Jardis yang belum hilang rasa terkejutnya.

Pada hari itu mereka mengobrol sampai malam. Desitra dan Narin pulang saat adzan maghrib berkumandang. Pastha dan Damar menginap di rumah Yashwan sampai mereka ke Magelang lusa.

Jardis dan Damar berada di depan komputer selama beberapa lama untuk membetulkan rotasi dan orbit satelit-satelit untuk GPS receiver supaya lebih aman dari otoritas keamanan dan tangan-tangan jahil. Damar memperhatikan Jardis yang menyempurnakan sistem komunikasi sehingga mereka berenam, bertujuh dengan Mang Kasman, bisa saling berkomunikasi verbal dengan gelang penjejak memakai sinyal satelit.

Hari sudah tengah malam ketika Pastha dan Damar tertidur di sofa kuning. Dengkuran halus mereka terdengar bersahutan.

Jardis juga sudah lelah dan ingin tidur. Tapi dia ingin melibatkan Jardis untuk urusan besi.

"Jardis, aku ingin kau ikut besok denganku ke bank. Bisakah?"

"Pagi ya. Siang aku harus kuliah. Ke bank mana?"

"Bank Indonesia," jawab Yashwan.

"Mau apa ke Bank Indonesia?"

"Menukar emas. Kita punya seratus emas batangan. Tapi aku akan menukar sebatang dulu," tukas Yashwan.

Jardis terperangah, "Seratus batang emas?! Berapa nilai sebatangnya?"

Yashwan menghitung singkat, "Kira-kira delapan ratus juta."

"Haaa?! Delapan ratus juta, dan kau punya seratus batang emas?!" Jardis benar-benar terperanjat.

Yashwan mengangguk.

Jardis dengan wajahnya yang terkejut masih melongo saat Yashwan mengucapkan selamat malam dan selamat tidur.