Episode 7 - Janji Kecil di Sebuah Mall

Rupanya, Kirana mengajak Badut ke sebuah mall di kawasan Jakarta Utara. Badut pasrah saja, mengekor Kirana yang melangkah bersemangat entah ke mana. Lalu, di lantai dua mall ini Kirana memasuki toko buku.

Badut mulai memprediksi ke rak buku apa langkah Kirana akan berlabuh. Namun, Kirana berbelok di rak bagian depan—bagian alat tulis. Lalu, di ujung rak, Kirana berhenti. Ditatapnya Badut lekat-lekat.

“Pilih kartu ucapan yang paling kamu butuhkan. Aku yang traktir.” Kirana tersenyum. “Di sini juga ada kartu ucapan buatanku, lho.”

Badut balas tersenyum. “Pertama, aku mau kamu memisahkan dulu kartu ucapan yang kamu buat, baru selanjutnya aku memilih.”

Kirana memilah beberapa kartu ucapan, kemudian menyerahkan seluruhnya kepada Badut.

Badut membaca satu per satu tumpukan kartu ucapan di tangannya.

“Tuhan, jika kali ini aku jatuh, pada cinta yang baik, jatuhkan aku selamanya.” Badut membaca tulisan di kartu ucapan.

Wajah Kirana merah sebab malu sendiri mendengar orang lain membaca apa yang ditulisnya. Dia mencoba mengatasi diri dengan mengambil tumpukan kartu di tangan Badut, kemudian memilih satu.

“Rasa sakit, rawatlah aku dari cinta yang sakit ini,” ucap Kirana. “Aku rasa ini lebih cocok denganmu.” Kirana menyerahkan kartu ke tangan Badut.

Badut tersenyum geli, kemudian mengambil tumpukan di tangan Kirana, membacanya ulang satu per satu.

“Kamu nggak keberatan, kan, traktir aku dua kartu ucapan, Na?”

Badut menyerahkan dua kartu ucapan kepada Kirana, kemudian mengambil satu lagi, dan menaruh sisanya ke tempat semula.

Mereka melantunkan langkah ke kasir. Kirana membayar dua kartunya ucapannya, kemudian Badut membayar yang ada di tangannya. Lalu, mereka keluar toko buku dan duduk di bangku yang berada di dekat pilar besar area bioskop.

“Nih,” Kirana menyerahkan dua kartunya kepada Badut, “buat lelaki besar yang melankolis.”

Badut menerima kartu ucapannya, meletakkan benda tersebut di pahanya. Lalu, dia mengambil miliknya dan secara mengejutkan menyerahkannya kepada Kirana. “Untuk kamu, Na.”

Kirana kaget pada tingkah Badut. Dia mengambil kartu dari Badut.

“Ketika kau merasa terpuruk,” ucap Badut, membaca kalimat yang sudah dihapalnya. “Ketika kau merasa terpuruk,” ulangnya, “yakinlah bahwa ada banyak hal baik dalam dirimu yang tersimpan dalam ingatan orang lain.”

Kirana gagal menyembunyikan raut bahagia. Meskipun sebenarnya, menurutnya, itu kalimat paling naif yang pernah dia buat. Namun, kali ini, baru kali pertama, dia merasa terhibur dengan apa yang selama ini dilakukannya. Ini kali pertama bagi si Pembuat Kartu Ucapan menerima kartu ucapan. Bukan sesuatu yang istimewa, namun Kirana yakin ini hari yang akan diingatnya sepanjang hidup.

“Makan, yuk, Dut.” Kirana mencoba mengalihkan suasana hatinya; mencoba menguncupkan kembang yang mekar dalam dadanya.

**

Sore sudah menyapa langit Jakarta. Di pelataran QS Kopitiam, Badut dan Kirana sudah menandaskan secangkir kopi dan sepiring makan siang yang terlambat. Sudah dua jam mereka duduk, membicarakan banyak hal. Keduanya sepakat untuk pulang, dan akan berpisah jalan lepas dari mall.

Usai Badut membayarkan tagihan makan siangnya, mereka melangkah pulang beriringan.

Belum jauh kafe ditinggalkan, Badut tercekat melihat di kejauhan Claudya dan Daniel tengah berjalan ke arahnya. Tampak mesra dan bahagia. Itu membuat tungkai Badut mogok, dan memancing tanya Kirana. Badut mulai menyadari lagi bahwa hidupnya memang masih berupa rangkaian kesialan.

“Kok, berhenti, Dut?” tanya Kirana, seraya menatap wajah Badut.

“A-ada Claudya dan Daniel di depan sana.” Wajah Badut yang kehilangan cuaca menjelaskan betapa perasaan lelaki itu tengah campur aduk antara marah, sedih, dan kecewa. Badut tertunduk.

Kirana menatap arah yang dimaksud Badut, dan dilihatnya sepasang manusia yang tampak bahagia. “Tegakkan kepalamu!” Kirana meminta secara tegas kepada Badut. Namun, kepala Badut seolah dibebani jutaan ton kenangan.

“Tegakkan kepalamu, Dut. Jangan permalukan dirimu.” Lebih dari sekadar iba kepada Badut, Kirana tak mau Badut kehilangan kehormatannya.

Sementara itu, Claudya semakin mendekat. Perempuan itu mulai menyadari ada sosok yang tampak tak asing di depannya. Namun, dia belum bisa membenarkan dugaannya, paling tidak sampai lelaki yang tertunduk itu menampakkan batang hidungnya.

Claudya semakin dekat, sedangkan Badut masih saja tertunduk. Kirana memukuli pelan tubuh Badut, memaksa lelaki itu menantang kesedihannya.

Badut masih tertunduk. Air matanya hampir jatuh. Sedangkan Claudya kini hanya beberapa depa darinya, tengah melihat pakaian di tubuh manekin di etalase toko pakaian.

“Dut! Jangan permalukan dirimu sendiri!” ucap Kirana, tak kenal lelah.

Badut kalah. Dia memilih memutar langkah meninggalkan Claudya dan Daniel. Punggungnya ditikam dingin. Sementara itu, Kirana masih terpaku. Dia jengkel setengah mati. Lalu, setelah beberapa saat, dia menyusul Badut yang di kejauhan belok ke lorong menuju toilet.

Kirana mengejar Badut dan menghadangnya di lorong.

“Dut.” Kirana mencoba meredam kemarahannya. “Hadapi, Dut.” Intonasi Kirana berubah lembut.

Badut mencoba menemukan nyalinya. Kirana meremas pelan bahu lelaki besar itu, dan dia berhasil. Badut mencoba memutar arah dan menghadapi Claudya; menghadapi kesedihannya. Namun, saat dia hendak melangkah keluar lorong, Claudya dan Daniel lewat, bergandengan tangan.

Badut kembali menyandarkan punggungnya di tembok. Dia kalah sebelum sempat berperang melawan masa lalunya. Tetapi, kali ini, dia mulai bisa menguasai dirinya sendiri. “Selama beberapa tahun bersama Claudya, setiap kali jalan berdua di tempat umum, cuma satu yang aku pengin, Na,” ucap Badut, parau.

“Apa, Dut?”

“Bergandengan tangan.” Badut menarik napas. “Tapi selama kami bersama, Claudya nggak pernah mau sebab katanya dia nggak nyaman. Sementara aku,” Badut kembali menarik napas, “aku punya rasa bangga berlebihan atas Claudya, sehingga aku pengin menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa perempuan itu milikku.”

Tiba-tiba, Kirana menggenggam tangan Badut. “Selain pegangan tangan, apa lagi keinginanmu yang nggak bisa diwujudkan bersama Claudya?”

Badut masih terkejut, kehilangan kata-kata.

“Duuuut …” panggil Kirana, mengalun.

“Na …” Badut merasa canggung, dan mencoba menarik tangannya. Namun, Kirana malah mengeratkan genggaman.

“Hari ini, kita lakukan hal-hal yang nggak bisa kamu wujudkan ketika masih bersama Claudya. Sekarang, jawab aku, apa ada hal lain selain bergandengan tangan di tempat umum?”

Badut ragu untuk mengutarakan hal-hal yang dipikirkannya.

“Dut.” Kirana mendesak.

Kepala Badut memutar sekeping kenangannya bersama Claudya. Pernah, di sebuah mall, mereka terlibat pertengkaran, hingga keduanya berpisah jalan. Namun, baru sepuluh menit berlalu, Badut menyesal dan mencoba menghubungi Claudya. Rupanya, ponsel Claudya mati—atau dimatikan—sehingga Badut memutuskan memanggil namanya dengan bantuan operator mall. Beberapa jam Badut menunggu, tetapi Claudya tak juga muncul.

“A-aku pengin seseorang mencariku de-dengan bantuan operator mall.”

“Sesederhana itu?” tanya Kirana, dilanjutkan senyum.

“Iya, sesederhana itu.”

“Oke. Sekarang, aku akan balik badan, dan kamu boleh pergi. Nanti, aku akan memanggil namamu lewat operator.”

“Lho, kenapa harus balik badan? Kan, kita nggak main petak umpet, Na.”

“Karena aku nggak mungkin mencari seseorang yang memilih pergi. Aku cuma mau mencari seseorang yang hilang saja.”

“Okelah.”

Kirana balik Badan, sementara Badut melangkah perlahan meninggalkan perempuan itu.

“Aku janji akan menemukanmu. Kamu bisa pegang janjiku.” Kirana mengucap dalam posisi memunggungi Badut. Badut berhenti sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi membatalkannya. Entah apa yang dipikirkan Badut, sehingga wajahnya tampak gusar.