Episode 5 - Tamu di Padepokan Brojobhumi


Beberapa hari berlalu sejak Empu Parewang membawaku ke rumahnya. Keseharianku kini diisi dengan membantu Empu Parewang di Padepokannya, membuat persenjatan untuk para prajurit Keraton Watugaluh. Ya, selain diangkat menjadi cucuk olehnya, kini aku pun telah resmi menjadi panjak atau asistennya yang bertugas menempa besi menjadi senjata. 

“Kulihat kemampuanmu membuat senjata, khususnya keris semakin meningkat, ya?” ujar Empu Parewang sembari menjepit dan membolak-balik bahan pamor yang sedang kutempa.

“Ahhh… Semua kan juga berkat Kakek yang dengan tekun membimbing saya.”

“Aku masih ingat beberapa hari lalu, saat pertama kuajarkan kau membuat keris. Kau hampir membakar seluruh besalenku ini… hahaha…”

“Maafkan aku, Kek. Soal itu, aku sedikit panik ketika rasa panas menjalar di tanganku saat aku hendak mengeluarkan lempengan besi merah-kuning dari perapian, karena merasa panas itulah aku tidak sengaja melemparkan besi itu dan hampir mengenai amben,” ujarku sembari menghentikan tempaan dan mengusap peluh yang mengalir di wajah dengan kain putih yang kukenakan.

 Berbeda dengan saat berada di rumah, ketika bekerja di besalen aku diwajibkan untuk mengenakan kain berwarna putih tanpa jahitan sebagai busanaku. Udara di dalam besalen terasa cukup panas. Meski di luar langit terlihat mendung dan angin bertiup cukup kencang, namun udara di dalam sini membuat keringatku bercucuran. Hal tersebut dikarenakan ada beberapa tungku api yang digunakan untuk melebur bahan pembuat senjata. Belum lagi percikan api dari besi yang kutempa juga ikut menambah panas hawa tempat ini.

Beginilah keseharianku sekarang, sambil menunggu digelarnya seleksi prajurit keraton aku membantu Empu Parewang membuat berbagai macam senjata di Padepokannya, mulai dari keris, tombak, perisai, pedang, gada, hingga panahan. Semua kami kerjakan hanya berdua. Empu parewang memang tidak sembarangan memilih murid, dan sejauh ini memang hanya aku yang diangkatnya sebagai murid. Dengan kemampuannya, Empu Parewang dapat mengerjakan pesanan senjata seorang diri. Bahkan, kudengar dari seorang pemilik warung di pasar, katanya saat muda Empu Parewang dapat menempa besi langsung dengan tangannya sendiri tanpa bantuan alat lain.

 Oh iya, meski kini aku tinggal dan bekerja bersama Empu Parewang, namun Adipati Soka Dwipa juga kerap mengunjungiku di sini. Sepertinya dia tidak main-main dengan ucapannya di hadapan Prabu Reksa Pawira, dia benar-benar menganggapku sebagai sahabatnya. Ketika ia datang berkunjung, biasanya dia akan membawakanku makanan. Hanya saja, perjumpaan kami tak begitu lama, karena Soka Dwipa harus kembali ke Keraton Watugaluh untuk kembali menyusun strategi perang.

 Bahkan terakhir kali kudengar, kabarnya dia tengah dikirim oleh Prabu Reksa Pawira bersama dengan Adipati Surya Kusuma dan Adipati dari Kadipaten Talangmulyo ke beberapa kerajaan di luar kekuasaan Watugaluh untuk merebut kembali kadipaten-kadipaten yang telah tunduk di bawah pasukan Jayalodra, sekaligus mencari sekutu dan menghimpun kekuatan untuk menghentikan sang pangeran yang terbuang itu.

“Mohon maaf, Kek. Saya hendak bertanya… Kapan kiranya kakek akan melatih saya ilmu beladiri untuk persiapan menghadapi ujian masuk prajurit keraton?” tanyaku kepada Empu Parewang saat kami beristirahat, duduk-duduk di sebuah saung kecil yang ada di halaman padepokan.

“Memangnya Kakek pernah menjanjikan kepadamu untuk mengajarimu ilmu beladiri?”

“Hehehe memang Kakek tidak pernah sih menjanjikannya… Hanya saja, waktu itu ‘kan saya dipinjami kakek baju lama kakek dan saya lihat baju itu seperti baju pendekar. Berarti Kakek dulunya adalah seorang pendekar bukan? Sehingga saya berpikir… jika saya berlatih ilmu beladiri dengan Kakek saya juga akan mampu menjadi kesatria yang hebat.”

“Ngomong opo toh kamu, Cu…. Itu masa lalu… Kakek tidak suka orang mengungkit masa lalu Kakek sebagai seorang pendekar. Saat Kakek menjadi pendekar, Kakek orang yang begitu kejam. Tidak tahu aturan. Saat itu masa-masa tergelap dalam hidup kakek. Kini jalan hidup Kakek telah berubah,”

“Tapi setidaknya Kakek bisa ‘kan mengajariku sedikit saja ilmu beladiri sebagai bekal menghadapi ujian itu?”

“Begini Cucukku, untuk dapat terpilih menjadi prajurit kerajaan Watugaluh yang kamu butuhkan bukan hanya kemampuan beladiri semata. Ujian masuk prajurit kerajaan Watugaluh dibagi menjadi tiga babak dan masing-masing babak menguji kegesitan, ketangkasan dan kekuatan. Sehingga kekek rasa bukan ilmu beladiri saja yang kamu butuhkan untuk terpilih. Toh, nantinya juga kau akan dilatih ilmu beladiri dan strategi perang ketika telah berhasil terpilih menjadi perajurit kerajaan,” ujarnya sembari berdiri dari tempatnya bersila.

Rintik hujan perlahan mulai turun, aku dan Empu Parewang bergegas kembali ke besalen untuk melanjutkan pekerjaan kami. Saat kami masuk ke dalam besalen, tiba-tiba ada yang menahan pintu yang hendak kututup. Kami kedatangan tamu rupanya. Dari busana yang mereka kenakan sepertinya kedua tamu itu berasal dari tempat yang jauh. Yang satu masih muda dan berwajah tampan, ya tidak jauh berbedalah denganku…

Maaf, aku berbohong. Jauh berbeda denganku, wajahnya tampan, kulitnya kuning langsat, tubuhnya tegap berisi. Sementara yang satunya kesebalikan dari tamu yang pertama. Sudah paruh baya, berkulit sawo matang, bertubuh pendek dan berperut buncit. Tak lupa kumis tipis di atas senyumnya yang lebar juga agak sedikit mengganggu bagiku.

“Sampurasun… Kami mencari Empu Parewang…. Apa benar di sini Padepokan Brojobhumi milik Empu parewang?” tanya si pemuda yang pakaiannya telah basah oleh air hujan.

“Iya benar, saya sendiri. Mongo… Silahkan masuk. Di luar hujan dan anginnya cukup lebat,” Empu Parewang mempersilakan kedua tamu itu untuk masuk dan mengajak mereka duduk di amben.

Agak sedikit aneh. Ketika mereka dipersilahkan duduk, yang duduk hanya si pemuda itu sedangkan pria buncit yang ikut dengannya tetap berdiri di sampingnya dan terus memasang senyum yang membuat pipi gempalnya semakin terlihat membulat.

“Cu, tolong ambilkan air untuk mereka,” pinta Empu Parewang kepadaku.

 Aku pun bergegas mengambilkan kendil berisi air minum untuk mereka berdua. Si pemuda itu memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud kedatangan mereka ke padepokan ini.

“Begini Empu… Saya Wiraguna dan ini paman Bagja. Kami adalah pengembara, Ki. Namun, beberapa waktu lalu, ketika kami berburu di hutan dekat perbatasan Wilujaya, saya tersandung dan busur panah saya patah. Kemudian sesampainya kami di Kota Raja, ada yang memberitahu kami tentang Empu Parewang dan menyarankan kepada kami untuk meminta bantuan Empu memperbaiki busur panah miliki ku ini.

“Mohon maaf sebelumnya jika kami lancing. Kami mengetahui dari orang-orang di pasar bila Empu tengah sibuk membuat banyak persenjataan untuk keraton Watugaluh, namun kami tidak tahu lagi harus meminta bantuan kepada siapa lagi, Ki,” papar Wiraguna kepada Empu Parewang.

“Berburu di hutan? Tersandung dan busur panahmu patah? Apa kau yakin dengan ceritamu itu? Hehehehe… Bisa kulihat kau bukan pengembara biasa anak muda. Dari mana asalmu?”

“Saya dan paman berasal dari sebuah negeri di sebelah barat tanah Jawa Dwipa ini, Ki.”

“Baiklah, kemarikan busurmu yang patah?” pinta Empu Parewang.

Dari dalam kain pembungkus yang dibawa oleh paman Bagja, Wiraguna mengeluarkan busur panahnya yang telah terbelah menjadi dua dan memberikannya kepada Empu Parewang. Empu Parewang memperhatikan busur yang telah rusak itu dengan seksama. Sesekali busur itu diangkatnya ke atas lalu didekatkan ke arah matanya.

“Wah, sepertinya ini sudah tidak bisa diperbaiki lagi,” ujar Empu Parewang sembari memberikan kembali busur patah itu kepada Wiraguna.

“Mohon maaf Empu, jika memang busur panah saya tidak dapat diperbaiki, apakah saya boleh membeli salah satu busur panah yang Empu buat untuk prajurit keraton itu?” tanya Wiraguna sambil menunjuk ke arah busur-busur panah yang tergantung di dinding besalen.

“Begini, bukannya saya tidak mau memberikan busur-busur panah itu padamu. Hanya saja… busur panah itu memang dipesan khusus untuk prajurit keraton. Membuat panah juga tidak boleh sembarangan, sama halnya dengan membuat senjata yang lainnya. Membuat busur panah juga harus disesuaikan dengan orang yang menggunakannya. Meski dengan keahlianmu kau mampu menggunakan busur panah mana pun yang kau mau, namun jiwamu tidak akan menyatu dengan panahan yang kau gunakan itu. Tiap lesatan anak panahnya tidak akan mewakili sukmamu.”

Tampak raut kekecewaan dari wajah Wiraguna. Ia memandangi busur panahnya yang patah lalu menoleh ke arah pamannya dan dibalas dengan gelengan kepala oleh si paman.

“Baiklah kalau begitu, saya dan paman saya pamit dan… maaf bila mengganggu Empu.”

“Haiissshh… Tunggu anak muda, jangan pamit dulu. Busurmu memang sudah tidak dapat dibetulkan lagi dan kau memang tidak kuizinkan membeli busur panah yang kubuat untuk para prajurit keraton itu. Tapi aku dapat membuatkan busur panah yang baru untukmu. Hanya saja, aku harus meninggalkan padepokan ini untuk sementara waktu, karena busur panah yang cocok untukmu harus dibuat di tempat lain, tidak bisa di besalenku ini.”

“Tapi, Kek? Bukankah kita harus menyelesaikan masih banyak lagi pesanan keraton?” sahutku mendengar percakapan mereka.

“Cu, kamu ‘kan sudah tahu cara membuat beberapa senja… Aku akan menyerahkan pengerjaan persenjataan keraton kepadamu.”

“Yang benar saja, Kek? Aku masih belum begitu mahir dalam mengerjakan senjata-senjata itu, Kek.”

“Mohon maaf bila menyela pembicaraan. Begini…Hehehe… dulu sebelum abdi ikut dengan Aden Wiraguna berkelana, abdi teh juga pernah belajar membuat senjata. Tapi hanya senjata-senjata kecil seperti keris, kujang, dan mata tombak. Abdi bisa membantu walau sedikit,” ujar Paman Bagja yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan kami sambil senyum-senyum.

“Begini, Wiraguna, kamu ‘kan bisa memanah, bagaimana jika setiap sore kamu melatih Kuntjoro memanah? Cucukku ini akan mengikuti ujian masuk sebagai prajurit keraton. Salah satu ujiannya adalah uji ketangkasan, memanah. Kalau kau bersedia mengajarinya memanah saya rasa dia tidak akan keberatan jika kutinggal beberapa waktu untuk mengerjakan busur panahmu,” ujar Empu Parewang untuk mencari jalan tengah supaya semua mendapat rasa adil.

“Baiklah, aku menyetujui persyaratan Empu. Aku juga akan membantu cucuk Empu dan Bagja membuat senjata di besalen ini selama Empu pergi,” sahut Wiraguna.

“Oh iya… kamu tidak terburu-buru kan? Pasalnya pengerjaan busur panahmu akan memakan waktu beberapa hari.”

Pertanyaan Empu Parewang membuat raut wajah Wiraguna menjadi berubah. Dia tampak seperti orang yang sedang berfikir dan lagi-lagi dia menoleh ke arah Paman Bagja. Namun kali ini Paman Bagja hanya menunjuk Wiraguna dengan jempolnya sembari sedikit menundukan kepala.

“Sebenarnya kami harus segera menuju ke suatu tempat, Ki. Namun kami juga tidak mungkin ke sana tanpa busur panahku. Jadi, aku putuskan untuk tetap meminta bantuan Empu untuk membuatkanku busur panah yang baru. Mohon bantuannya, Ki,” jawab Wiraguna setelah beberapa saat terdiam.

Pada malam harinya Empu Parewang menitipkan besalen dan padepokannya kepadaku. Dia pamit pergi ke suatu tempat untuk mengerjakan busur panah pesanan Wiraguna. Aku tak habis pikir, mengapa Empu rela meninggalkan pekerjaannya hanya untuk membuatkan pesanan dari orang yang baru dikenalnya.

Sebelum Empu Parewang pergi, ia memintaku untuk mengajak Wiraguna dan Paman Bagja pulang ke rumahnya dan menjamu mereka berdua. Aku pun menuruti perintahnya.

“Oh iya, siapa namamu? Kita belum sempat berkenalan,” tanya Wiraguna kepadaku sambil berjalan menuju rumah Empu Parewang.

“Saya Kuntjoro, cucuk angkat Empu Parewang,”

“Cucuk angkat? Jadi kau bukan cucuk kandung Empu Parewang?”

 Aku ceritakan secara mendetail, peristiwa demi peristiwa yang kualami hingga tiba di Watugaluh dan diangkat sebagai cucuk oleh Empu Parewang. Ketika berbicara tentang Jayalodra, terlihat Wiraguna begitu antusias untuk mencaritahu lebih banyak tentang adik Prabu Reksa Pawira itu. Kuceritakan semua yang kutahu tentang Jayalodra kepadanya.

Malam itu menjadi awal perkenalan kami bertiga. Aku pun tak segan untuk bertanya tentang mereka, dan mereka pun dengan senang hati menceriterakan kisah perjalanan mereka, meski…. aku merasa masih ada cerita lain yang mereka sembunyikan. Namun bagiku itu tidaklah penting. Dari cerita yang mereka sampaikan, akhirnya aku tahu bahwa mereka berdua adalah pendekar yang berkelana dengan tujuan untuk mencari jati diri dan keluhuran hidup.

Beberapa hari kulalui bersama dengan Wiraguna dan pamannya. Jujur saja, keberadaan mereka di sini sangat membantu. Aku yang ditinggal Empu Parewang dapat menyelesaikan banyak senjata pesanan keraton dalam jangka waktu cukup singkat berkat bantuan mereka berdua. Wiraguna pun menepati janjinya untuk melatihku memanah pada setiap sore.

Dia mengajariku memanah, mulai dari dasar-dasar memanah seperti sikap tubuh saat memanah, bagaimana cara membidik sasaran, hingga mengajariku olah rasa. Saat pertama kali aku mencoba untuk melepas anak panah dari busurnya, aku hampir saja membunuh Paman Bagja.

Saat itu Wiraguna memintaku untuk memanah buah yang diletakkannya di atas pagar bambu yang mengitari padepokan. Meski telah diajarkan dasar-dasar memanah, karena rasa gugup yang datang tiba-tiba, akhirnya aku lupa bila saat menarik anak panah, telunjuk dan jari tengah dari tangan yang memegang busur panah juga harus menopang dan menjaga arah anak panah. Hingga akhirnya saat kulepaskan anak panah itu tidak sengaja berubah arah dan melesat ke arah Paman Bagja yang sedang duduk-duduk sambil bermain seruling di saung. Untungnya anak panah itu tidak mengenai Paman Bagja.

Namun, itu beberapa hari yang lalu. Kini aku sudah bisa memanah meski belum begitu mahir dan beberapa anak panah yang kulesatkan juga tidak mengenai sasaran dengan tepat. Tapi tidak masalah. Setidaknya aku sudah ada kemajuan, dari yang sebelumnya tidak mampu bertarung sama sekali kini aku telah bisa memanah.

Sore ini Wiraguna kembali melatihku. Namun kali ini sedikit berbeda dari biasanya. Jika biasanya dia hanya menyuruhku untuk menyerang satu sasaran dengan anak panah, kini dia memintaku menyerang tiga sasaran sekaligus. Ia meletakkan tiga buah apel di atas pagar, diletakkan satu baris di hadapanku, dari kanan ke kiri.

“Di sana ada tiga buah apel, coba kau serang ketiga apel tersebut dengan sekali serangan,” ujar Wiraguna yang telah berdiri di sampingku.

“Tunggu…. Bagaimana mungkin aku dapat mengenai ketiga buah itu hanya dengan satu serangan?” tanyaku memerotes tentangannya.

“Bukankah aku telah mengajarimu bagaimana mengolah rasa? Kini kau harus mengembangkannya dan memadukannya dengan energi alam.”

“Tapi…. mana mungkin?”

Wiraguna tersenyum kemudian mengambil busur panah dari gengaman tanganku.

“Begini… kau perhatikan ketiga buah itu, kemudian pasang kuda-kuda. Tarik anak panah dari busurmu, buka bahumu selebar mungkin. Atur nafasmu dan rasakan setiap udara yang kau hirup dan kau hembuskan. Menyatulah….. Satukan rasamu dengan udara dan ruang di sekitarmu. Satukan presaanmu, jiwamu, sukmamu dengan anak panah yang kau tarik. Dan…. lepaskan anak panahmu sesuai alur udara yang kau rasakan.”

 Wiraguna melesatkan anak panahnya ke arah kanan. Aku sempat bertanya dalam hati mengapa dia malah mengarahkan anak panahnya ke arah yang salah…. Ternyata dugaanku yang salah, panah itu berbelok seolah dibelokkan oleh angin. Yang semula dilesatkan ke arah kanan kini malah menikung tajam ke arah kiri dan mengenai semua sasaran dari samping secara berturut-turut. Melihat itu aku hanya dapat berdecak kagum dan menggelengkan kepalaku seirama dengan gelengan kepala yang juga dilakukan oleh Paman Bagja di saung.

“Kini giliranmu mencoba,” ujar Wiraguna sambil memberiku busur panah dan berjalan ke arah pagar untuk kembali menata sasaran panahan.

Namun, belum sempat aku mencoba memanah ketiga sasaran yang telah kembali disusun oleh Wiraguna, latihan kami terhenti. Latihan kami sore itu terhenti karena kepulangan Empu Parewang. Iya, sore itu Empu Parewang pulang membawa sebuah busur panah berwarna hitam pekat yang bila diperhatikan bentuk dan lekukannya, terlihat seperti sayap kalong yang sedang dibentangkan.