Episode 19 - Harta Warisan


Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Demikianlah pepatah yang dapat mewakili nasib Bintang saat ini. Setiap hari ia berendam di tiap-tiap Telaga Tiga Pesona. Jangka waktu berendam dan jarak dari tepian telaga semakin panjang dan jauh. Ia pun sudah mulai terbiasa dengan suhu teramat panas dan teramat dingin. Sedangkan racun di Telaga Hijau, sempat terlintas dipikirannya untuk mempelajari kesaktian terkait racun. Sebagai senjata, racun pastilah sangat mengerikan.  

Yang tumbuh lebih signifikan adalah kemampuan dirinya menyembuhkan diri. Dengan menyirkulasikan tenaga dalam, bukan hanya kulit dan otot yang bisa diperkuat. Mungkin pemahaman tentang tenaga dalam yang paling besar manfaatnya nanti adalah kemampuan penyembuhan ini. Tentunya, kemampuan ini sebagian besarnya ditopang oleh jurus Delapan Penjuru Mata Angin, yang dapat menyedot dan menyuling tenaga alam secara bersamaan.

Bagi sebagian besar ahli, sebagaimana terangkum dalam Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian, proses penyerapan tenaga dalam tidaklah mudah. Mereka harus bermeditasi berjam-jam, bahkan berhari-hari. Alasan itu pula yang membuat ramuan dan mustika binatang siluman sangat berharga dalam memupuk keahlian.

Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian merupakan sebuah pusaka teramat berharga bagi Bintang. Ia yang memiliki dasar rasa ingin tahu yang tinggi dan kesenangan membaca, merasa mendapat anugerah besar. Kitab tersebut mampu menjembatani keterbatasan Komodo Nagaradja dalam menurunkan ilmu, sebut saja terkait segel. Bintang mengetahui bahwa segel dapat dipelajari oleh banyak ahli sebagai jurus sakti. Akan tetapi, ada ahli-ahli tertentu yang memiliki bakat lahiriah atas ilmu silat atau ilmu sakti tertentu pula. Sehingga bagi mereka, pemahaman, penafsiran dan pencerahan dapat cepat dan mudah dicapai, bahkan dikembangkan.

Di sisi lain, satu-satunya jurus silat yang Bintang kuasai saat ini adalah jurus Tinju Super Sakti. Sekali mendengar nama jurus ini, mungkin orang-orang akan mencibir. Tapi percayalah, kecepatan supersonik dan gelombang kejut yang dihasilkan, ditambah lagi dentuman suara yang memekakkan telinga, adalah satu paket yang bisa mengubah cibiran menjadi kekaguman. Untuk satu hal ini, Bintang mengalami sendiri. Super sekali.

Gulungan naskah daun lontar Delapan Penjuru Mata Angin, Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian, serta jurus Tinju Super Sakti adalah tiga hal yang ia peroleh dari Nagaradja. Lebih lanjut lagi, untuk memberikan ketiga hal tersebut, Nagaradja bahkan rela mengorbankan usianya. Semua ini pada akhirnya bertujuan agar Bintang dapat memupuk keahlian dan mencari jalan keluar dari Pulau Bunga.

Utang emas dapat dibayar, utang budi dibawa mati. Demikian perasaan Bintang. Dan oleh karena itu, ia ingin mencari jawaban atas kondisi tubuh Nagaradja. Petunjuk yang Bintang miliki terkait kondisi Nagaradja adalah bahwa tubuh sang komodo raksasa menderita pukulan hebat yang mengandung racun.

Beberapa pekan terakhir Bintang rajin menelusuri kitab-kitab lain di ruang penyimpanan Nagaradja untuk mencari petunjuk tambahan. Sayangnya, kitab-kitab tersebut adalah kitab ilmu silat dan ilmu sakti. Sedangkan untuk batu atau senjata, tak satu pun yang Bintang ketahui kegunaannya. Setidaknya, tak satu pun yang akan bermanfaat bagi penyembuhan Nagaradja. Karena bila pun ada, pastilah sudah dimanfaatkan oleh sang empunya.

Secara umum, sesungguhnya Bintang memiliki sebuah teori dasar untuk mengubah nasib gurunya. Hasil dari penerapan teori tersebut mungkin justru bertolak belakang dengan keinginan gurunya, tapi lebih baik daripada harus kehilangannya nyawa di tempat ini. Justru yang menjadi kekhawatiran Bintang adalah apakah teori tersebut dapat dipraktekkan. Semula ia ingin berdiskusi dengan gurunya, namun ia tak mau memupuk harapan palsu.


...


“Mengapa kau senang sekali membaca? Bagaimana dengan latihanmu,” sergah Nagaradja lemah.

“Murid sedang mencari petunjuk,” jawab bintang sambil menutup kitab yang tebalnya hampir setinggi selutut.

 Lalu ia melanjutkan “Di Telaga Biru dan Telaga Merah pada jarak 4 m, murid mampu bertahan selama 5 menit. Di Telaga Hijau, murid baru bisa bertahan selama 1 menit pada jarak 2 m dari tepian.”

“Berapa banyak mustika binatang siluman yang dapat kau kumpulkan?”

“Selama sepuluh hari, aku telah mengumpulkan 61 mustika. 57 mustika dari siluman Kasta Perunggu tingkat bawah dan menengah, serta 4 mustika binatang siluman Kasta Perunggu tingkat atas,” papar Bintang.

“Kau masih menggunakan tempuling?”

“Adalah cita-cita murid ingin menjadi seorang lamafa,” ungkap Bintang dengan mantap.

“…”

Tiba-tiba Komodo Nagaradja mengangkat ekornya dan…

“Wush!"

Ekor Nagaradja terpenggal!

Bagian yang terpenggal kemudian melayang di udara. Panjangnya sekitar 4-5 m, dengan diameter pangkal lebih kurang 2 m.

Bintang terperangah menyaksikan kejadian aneh tepat di depan matanya.

Ekor komodo raksasa tersebut lalu membelah diri menjadi gumpalan daging, lembaran sisik, dan sepenggal tulang. Gumpalan daging melesat menuju Bintang dan segera menyatu dengan otot-otot di sekujur tubuhnya. Sensasi yang Bintang rasakan berbeda dengan ketika menyerap tenaga alam. Yang ia rasakan adalah seluruh otot di sekujur tubuhnya mengencang karena mendapat nutrisi yang bersifat permanen.

Lembaran sisik yang masih melayang kemudian berputar dan merangkai diri menjadi empat bagian. Masing-masih bagian membentuk tabung tipis sepanjang lebih kurang 10 cm. Keempat tabung tersebut juga melesat menuju Bintang. Dua bagian melingkari pergelangan kedua tangan, dan dua lagi melingkar tepat di atas kedua mata kaki.

Bintang mengamati kedua pergelangan tangannya yang kini dibalut semacam pelindung terbuat dari sisik berwarna merah gelap. Ia dapat merasakan kelenturan layaknya pelindung kulit. Tidak terasa ada beban sama sekali di kedua pergelangan tangan maupun di kedua pergelangan kaki saat ia mencoba bergerak.

Terakhir, tulang ekor yang masih melayang terlihat begitu besar dan perkasa. Rangkaian tulang memiliki ruas-ruas seperti tulang belakang yang berduri-duri. Perlahan tulang ekor tersebut memadatkan diri. Setiap ruas tulang secara berurutan menyatu menjadi sebuah... bilah panjang. Salah satu ujungnya terlihat melancip tajam. Bilah panjang tersebut juga melesat secepat kilat.

“Duar!”

Sebilah tulang lurus panjang tertancap tepat di hadapan Bintang. Warna putih bersih. Panjang bilah lebih kurang 4 m, bulat sempurna dengan diameter lebih kurang 5-6 cm. Bila diperhatikan dengan teliti, terdapat ukiran halus bermotif ruas-ruas tulang di sepanjang permukaan bilah.

Dada Bintang berdebar keras. Napasnya terisak. Matanya kini menatap mata Nagaradja yang layu berwarna kuning kusam. Bintang tak dapat menahan emosi. Matanya mulai berkabut.

Bintang sadar betul apa yang sedang terjadi. Nagaradja sudah mendekati akhir hayatnya. Di saat-saat akhir itu pula sang guru merelakan tubuhnya, tubuh siluman sempurna, untuk digunakan sebagai penunjang keahlian sang murid. Dan yang terakhir… selama ini sang guru seolah membenci betul sosok lamafa, tapi ia malah menghadiahi sebuah... tempuling?!

“Guru, murid menemukan cara…”

“Dengarkan baik-baik...,” Nagaradja menyela.

“Tapi Guru…”

“Kusematkan padamu dagingku untuk memperkuat otot-ototmu agar hentakan balik jurus Tinju Super Sakti tak banyak memakan tenaga dalam. Meskipun kau saat ini berada pada Kasta Perunggu Tingkat 3, namun aku yakinkan dengan kekuatan otot-ototmu engkau dapat dengan mudah mengalahkan lawan beberapa tingkat di atasmu.

“Kupasangkan sisikku untuk melindungimu dari serangan senjata-senjata lawan. Kekuatan sisik akan selalu berada satu kasta di atasmu. Sebagai pelindung, sisik-sisik tersebut juga akan tumbuh seiring dengan pertumbuhanmu.”

“Kubuatkan untukmu sebuah tombak, atau tempuling, dari tulang ekorku. Kupastikan tak akan ada unsur yang tak mampu ditembus oleh tempuling tersebut. Tempuling itu kunamakan ‘Tempuling Tulang Ekor Komodo’.”

“…”

Nagaradja menikmati reaksi Bintang yang penuh emosi.

“Guru! Muridmu sungguh berterima kasih yang tak terkira,” Bintang tak lagi dapat menahan diri. “Namun… nama tempuling yang menakjubkan ini terlalu harfiah.”

“Hm.. Bagaimana kalau huruf ‘g’ pada kata ‘tulang’ diganti dengan huruf ‘k’. ‘Tempuling Tulank Ekor Komodo’. Terasa lebih berwibawa, bukan?” Nagaradja membalas komentar Bintang.

“Guru, murid ada saran lain untuk sebuah nama yang lebih mewakili Guru.”

“Apakah ‘Tempuling Super Sakti’?”

“Guru, bagaimana dengan... ‘Tempuling Raja Naga’? Sederhana namun mengena. Penuh wibawa. Setiap aku menggunakannya, aku akan mengingatmu.

“Nama yang bagus!” Nagaradja kemudian mengulang-ulang nama baru tempuling tersebut. Dibandingkan dengan Tempuling Neraka milik Lamafa Mata Api, Tempuling Raja Naga tentu lebih digdaya, pikirnya…

Lalu…

“Hei! Bocah tengik! Apa yang kau pikirkan?! Aku dipenghujung hayat dan bersusah payah menggunakan tenaga dalam terakhirku untuk memberikan harta warisan kepadamu! Kau malah sibuk dengan nama tempuling! Dimana nuranimu?! Dimana nuranimu?!”

“Guru, murid punya saran…”

“Sudahlah…”

“Tapi guru, ini terkait nyawamu…” Bintang bersikeras ingin menyampaikan pandangannya.

“Sudahlah! Bocah tengik! Dengarkan gurumu!” Nagaradja sangat kesal pada muridnya.

“Terakhir, aku akan menganugerahimu dengan mustika siluman sempurna. Mustika ini akan kusembunyikan di balik mustika tenaga dalammu. Meski mustika ini sedikit retak, ia masih mampu menampung sedikit tenaga dalam. Ia akan menjadi wadah penyimpanan cadangan. Bilamana tenaga dalam di mustikamu terkuras, kau bisa mengambil tenaga dalam dari mustika cadangan ini…”

Sejurus setelah Nagaradja menyelesaikan kata-katanya, sebuah kristal berwarna merah gelap mengapung keluar dari dahi komodo raksasa tersebut. Nagaradja yang sudah diambang ajal kini tidak tanggung-tanggung dengan menganugerahi mustikanya sendiri kepada Bintang. Dengan kata lain, sebentar lagi Nagaradja akan segera sirna dari muka bumi ini. Mustika itu kemudian melesat ke arah ulu hati Bintang.

Bintang terpana! Jantungnya kembali berdebar kencang. Pada saat yang sama, sebuah simpul senyum menghias ujung bibirnya.

Mustika retak Nagaradja kini menjadi ilusi dan bercokol di balik mustika tenaga dalam Bintang.

Ketika Bintang merasakan ada ikatan dengan mustika baru di ulu hatinya, ia pun segera mengangkat tangan kanan dan menunjuk ke arah Nagaradja. Jari telunjuknya bergerak cepat, kadang melingkar, terkadang seperti menulis. Lalu, sebuah formasi segel terbentuk dan segera ia arahkan ke tubuh Nagaradja. Jarinya masih tak berhenti dan terlihat membuat satu lagi formasi segel. Saat formasi segel kedua terbentuk, segera ia arahkan ke mustika Nagaradja.

“Huuaaaaaaahh…” terdengar suara Nagaradja seperti seseorang yang baru saja berhasil menghirup napas panjang dari mulut, setelah hampir tenggelam di laut.

“Apa ini?! Bagaimana mungkin ini terjadi?!”

“Guru, maafkan muridmu…”



Catatan:

Pilkada! Selamat menggunakan hak pilih!