Episode 18 - Kasta Perunggu Tingkat 3


‘Lamafa’. Sudah lama Komodo Nagaradja tidak mendengar ‘kata’ itu. Atau lebih tepatnya ‘gelar sakral’ yang diberikan kepada seorang penikam paus. Dulu ia sering menyaksikan dengan mata kepalanya ketangguhan para lamafa. Saat Perang Jagat antara kubu Sang Maha Patih berhadapan dengan kawanan Kaisar Iblis Darah, adalah sepasukan lamafa yang selalu tampil menonjol.

Pasukan Lamafa Langit hanya terdiri dari puluhan orang Lamafa. Nama besar pasukan ini begitu megahnya sampai tidak berlebihan bila dikatakan mereka benar-benar turun dari langit. Masing-masing individu di dalamnya memiliki keahlian yang luar biasa tinggi. Pasukan ini bergerak secara mandiri, dan seringkali menjadi penentu kemenangan.

Dalam peperangan terbuka, terkadang mereka berada di garis depan membuka jalan, menghantam lawan membabi buta. Pernah mereka menusuk pasukan lawan dari sisi, mengincar dan menjagal pimpinan mereka. Bahkan, sekali waktu, sekonyong-konyong mereka muncul di belakang barisan musuh, menutup ruang gerak, sebelum melakukan pembantaian bergelimang darah. 

Sering pula Pasukan Lamafa Langit menjelma dari balik bayangan. Menyusupi wilayah pasukan musuh dalam bayangan malam. Ibarat malaikat maut, mereka mencabut nyawa dalam hening, satu per satu sampai tak lagi ada yang bersisa. Sebuah pasukan gerak cepat, yang dapat merangsek maju atau menarik diri, lalu menghilang seketika. 

Secara struktur, Pasukan Lamafa Langit tidak berada di bawah komando Sembilan Jenderal Bhayangkara. Mereka adalah pasukan khusus yang langsung bertanggung jawab kepada Sang Maha Patih. Sampai-sampai, pimpinan Pasukan Lamafa Langit sangatlah disegani dan bahkan memiliki status sederajat dengan ke-Sembilan Jenderal Bhayangkara.  

Komodo Nagaradja mengingat sosok pimpinan Pasukan Lamafa Langit yang bergelar Lamafa Mata Api. Seorang pria dewasa berpenampilan gagah dan tegap. Mata kirinya buta, yang ditutupi oleh penutup mata berwarna merah darah. Meski hanya bermata satu, sorot mata kanannya dipenuhi semangat membara.

Tempuling miliknya adalah batangan api, dibuat dari kesaktian inti api yang dikatakan berasal dari neraka.  Meski agak berlebih, tidak usah diragukan bahwa panas membara tempuling tersebut benar-benar bak tombak yang datang langsung dari neraka. 

Kedua ahli, Komodo Nagaradja dan Lamafa Mata Api sempat berselisih paham tentang keahlian siapa yang lebih tinggi. Nagaradja kemudian menantang sang Lamafa Mata Api, dan meminta Sang Maha Patih menjadi saksi. Oleh Sang Maha Patih, mereka hanya diberi kesempatan bertukar tiga pukulan. Karena bila lebih dari itu, maka bisa memporak-porandakan wilayah sekitar. 

Walhasil, pertempuran jurus Tinju Super Sakti berhadapan dengan jurus Tempuling Api dari Neraka berlangsung sengit. Satu menyerang, satunya lagi menahan, bergantian. Yang terakhir keduanya saling serang. Hasilnya… seri. Sampai sekarang Nagaradja tak pernah puas dengan hasil tersebut. 

Pada akhirnya kedua rival tersebut menjadi sahabat. Bahu-membahu saat Perang Jagat berlangsung. 

“Huh! Apa hebatnya lamafa!?” seru Nagaradja. “Seingatku, ayahmu bukanlah seorang lamafa.” 

“Ibuku ialah seorang lamafa,” ungkap Bintang sedikit mengangkat dagu. Meski ia tidak seratus persen yakin, tapi ibunya sendiri yang mengatakan bahwa dirinya merupakan pemilik setumpuk tempuling di belakang gubuk. Dengan kata lain, bunda mengaku sebagai seorang lamafa. 

Melihat reaksi Bintang, Nagaradja semakin menjadi. “Aku pernah berhadapan dengan seorang lamafa. Ia tidak bisa mematahkan Tinju Super Sakti,” Nagaradja juga tidak berbohong, meski kurang lengkap. Keduanya saat itu memang tidak bisa mematahkan jurus satu sama lain. 

“Aku yakin bahwa jurus Tinju Super Sakti sangatlah dahsyat. Aku juga mempertanyakan mengapa di dalam Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian tidak ada informasi seputar jurus tersebut. Padahal, pengetahuan tentang Lamafa sendiri memakan tiga halaman,” ungkap Bintang menunjukan ekspresi seolah tidak puas. 

Perbincangan antara guru dan murid ini memasuki babak baru. Babak yang lebih mirip lomba saling mengatai dan tak mau kalah antara dua anak kecil sebelum tidur malam. Yang menang seolah akan tertidur lebih pulas. 

Nagaradja tersentak. Ia memang diminta mengisi Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian dengan jurus-jurus dan kepandaian yang ia miliki. Nanti aku akan mengisi puluhan halaman kitab, pikirnya. Kemudian ia sadari bahwa merangkai kata-kata bukanlah salah satu dari kepandaiannya. 

“Sebagai muridku, adalah kewajibanmu menuliskan jurus yang telah kuwariskan ke dalam kitab itu,” Nagaradja membalikkan keadaan. “Jangan kau lalai!” 

Bintang baru saja akan membuka mulut ketika Nagaradja menyambung, "Kau berlatih saja yang benar! Jikalau nanti kau bisa bertahan lebih lama di dalam telaga, aku akan ungkapkan rahasia tentang segel pulau ini."

Bintang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Berminggu-minggu ia menelusuri Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian mencari informasi tentang wilayah yang disegel. Ada ia temukan informasi tentang formasi segel yang digunakan untuk menangkal serangan atau segel pertahanan. Segel-segel tersebut pada umumnya digunakan dalam melindungi wilayah kediaman, istana, bahkan perguruan. Namun, tidak satu pun yang skalanya begitu besar sampai layaknya memindahkan sebuah pulau ke dimensi lain. 

"Sudikah guru memberi sedikit uraian?" ungkap Bintang penuh tanya.

"Bila waktunya tiba, akan aku sampaikan. Sekarang aku perlu istirahat," ungkap Nagaradja lemah. Sedari tadi ia terlalu bersemangat sampai melupakan kondisi tubuhnya. Kata-kata Nagaradja kali ini bukan untuk mengulur waktu. Ia memang perlu beristirahat. 

Berkat ‘motivasi’ dari Nagaradja, semangat Bintang membara. Hari-hari berikutnya ia jalani dengan berlatih tanpa mengenal waktu. Bahkan, beberapa kali ia nyaris kehilangan kesadaran, dan mungkin kehilangan nyawa, karena ingin melewati batas kemampuannya sendiri. Dari keadaan tersebut, ia juga menyadari bahwa setiap kali ia melampaui batas kemampuan, maka hasil yang ia peroleh akan lebih besar. 

Daya tahan Bintang terhadap racun sedikit demi sedikit meningkat, meski jauh tertinggal dari daya tahan terhadap panas dan dingin. Di Telaga Biru dan Telaga Merah pada jarak 3 m, Bintang mampu bertahan selama 5 menit. Akan tetapi, pada jarak 2 m dari tepian Telaga Hijau, 1 menit adalah batas maksimalnya bertahan.

Pada hari ke-20, Bintang sedang menyirkulasikan tenaga dalam untuk membuang racun yang menyerap ke dalam pori-pori tubuhnya. Pada saat yang sama, ia juga mengaktifkan jurus Delapan Penjuru Mata Angin agar tenaga dalam yang keluar perlahan terisi kembali. 

Tiba-tiba ia merasakan keanehan. Sirkulasi tenaga dalamnya mengalir tak teratur. Kepalanya mulai pening. Ulu hati terasa perih. Segera Bintang menghentikan sirkulasi tenaga dalam dan jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Meski, perasaan aneh tersebut masih tak kunjung hilang. Ia memantau mustika tenaga dalam di ulu hatinya. Kristal tersebut bergetar, bentuknya mulai mengembang. 

Apa yang terjadi? Apakah ada kesalahan ketika aku menyirkulasikan tenaga? pikirnya dalam hati. Jikalau mustika tersebut retak, keahlianku akan mengalami kecacatan. Jikalau pecah, maka tubuhku akan meledak. Informasi ini ia peroleh ketika menelusuri Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian. 

Apakah ini petanda terobosan menuju tingkat selanjutnya?

Menyadari apa yang mungkin terjadi, Bintang lebih berkonsentrasi lagi. Ia mengatur tenaga dalam agar kembali mengalir teratur. Empat jam berlalu, tubuhnya penuh dengan keringat. Sebelumnya, saat naik ke Kasta Perunggu Tingkat 2, ia tak sadarkan diri. Pastilah gurunya membantu mensirkulasikan tenaga dalam. 

Dua jam kemudian, kepalanya serasa hendak pecah. Ulu hatinya terasa panas. Sirkulasi tenaga yang tadinya mulai teratur kini kembali kocar-kacir. Kristal mustika bergetar keras. Bintang hampir hilang akal. Ingin rasanya ia berteriak memanggil gurunya. 

Hampir putus asa, Bintang terus berupaya menjaga sirkulasi tenaga. Kemudian ia teringat bagaimana daya tahan tubuhnya meningkat setiap kali ia melewati ambang batas. 

“Hampa!” perlahan Bintang kembali merapal jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Tenaga alam menyerap perlahan dan berubah menjadi tenaga dalam. Penuh konsentrasi, Bintang mengatur sirkulasi. Mustika perlahan mengembang sampai ke ambang batas dan…. 

“Prang!”

Mustika tenaga dalam pecah! Bintang segera menghentikan serapan tenaga dari jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Pada saat yang sama, ia tetap mengatur sirkulasi agar tenaga dalam yang kehilangan wadahnya tetap menggumpal. Diperlukan konsentrasi penuh melalui mata hati untuk menjaga kestabilan tenaga. Perlahan, terasa pecahan mustika kembali menyatu dan membungkus tenaga dalam.  

Tenaga dalam Bintang kembali stabil. Jangkauan mata hatinya lebih terbuka. Ia perhatikan mustika di ulu hati. Warna merah kehijauan terlihat sedikit lebih pekat dan konsentrasinya terasa sedikit lebih kental. 

“Kasta Perunggu Tingkat 3…” gumamnya sambil merebahkan tubuh kelelahan. Dadanya naik turun, deru napasnya masih tersengal. 

Pikiran Bintang melayang. Lebih dari tiga bulan sudah waktu yang ia habiskan di Pulau Bunga. Setiap detiknya penuh manfaat. Ia menyerap banyak pengetahuan baru serta mempelajari kemampuan baru. Tak terbilang betapa besarnya anugerah yang ia terima dari Komodo Nagaradja, sang guru. 

Awalnya, yang berat mengganjal di hati Bintang hanyalah bayangan akan ibunya yang bersedih dan kesepian. Ia hendak segera pulang. Ia harus segera pulang. Kini, nasib gurunya juga menjadi pertimbangan yang teramat penting. Ia sadar betul bahwa dalam melatih muridnya, sang guru mengorbankan tenaga dalam yang jumlahnya sudah sangat terbatas, sehingga memangkas usianya. 

“Mungkin cara itu bisa kutempuh…” Bintang bergumam sambil membayangkan isi Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian. 

“Tidak. Itu adalah satu-satunya cara…” 



Catatan:

Akhirnya…