Episode 17 - Telaga Tiga Pesona


"Guru, bagaimana kondisi tubuhmu?" tanya Bintang yang habis berlari dari kaki gunung kembali ke gua. Keringat bercucuran di dahi, napasnya tersengal-sengal.

Ia tahu betul hari ini adalah hari ke-40. Sejak sehari sebelumnya ia bertolak dari pesisir pantai, bersemangat hendak mengabari gurunya akan perkembangan jurus Tinju Super Sakti.

Nagaradja membuka kedua mata. Bola matanya yang tadinya bersinar keemasan, kini hanya menyiratkan warna kuning kusam. Kelopak matanya pun menggantung, ibarat menahan beban batu karang besar sehingga tak kuat mengangkat diri.

"Aku baik-baik saja..." jawab Nagaradja lemah. "Bagaimana perkembanganmu dengan jurus silat yang kuwariskan?"

"Murid kini dapat melontarkan lima rentetan tinju untuk menghasilkan satu Tinju Super Sakti!" jawab Bintang dengan semangat. "Sungguh jurus yang luar biasa. Tak bisa dibayangkan betapa tak terdandinginya guru pada kondisi prima."

"Heh?!" Nagaradja tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Diperlukan waktu ratusan tahun baginya merumuskan dan menyempurnakan jurus yang mematikan sekaligus menarik decak kagum dunia! Meski membekali dengan pedoman lengkap tentang cara berlatih secara terpadu dan rinci, Nagaradja tak mengira jurus Tinju Super Sakti dapat dikuasai secepat itu.

Awalnya, Nagaradja memberi waktu 40 hari karena yakin Bintang tak akan dapat menguasai jurus tersebut. Setidaknya tidak secara utuh. Ketika itu terjadi, Nagaradja telah menyiapkan kalimat-kalimat celoteh layaknya seorang guru kepada murid. Bahwa seorang murid haruslah berlatih dengan tekun. Yang kemudian akan ia tutup dengan nasehat bijak agar muridnya tak mudah berputus asa, karena perjalanan memupuk keahlian dipenuhi jurang terjal dan jalan berliku.

Akan tetapi, yang terjadi sungguh di luar dugaan. Untunglah kalimat kedua Bintang memuja dirinya. ‘Jurus yang luar biasa...’ ‘Tak terdandingi saat kondisi prima...’ Tentu saja, pikir Nagaradja.

Kenangan masa lalu pun mengisi benak Nagaradja. Kenangan ketika ia berada di puncak. Tidak sedikit yang kagum pada kesaktiannya, bahkan banyak pula yang datang hendak berguru. Mungkin saja ia bisa mengasuh sebuah perguruan silat miliknya sendiri saat itu.

Kemudian ia kembali ke keadaan saat ini. Hanya seonggok daging terluka. Tak bisa banyak bergerak. Kesaktian memudar. Menunggu ajal. Menyedihkan.

Bintang mendeteksi perubahan emosi Nagaradja. Ia tak menyangka kata-kata pujiannya malah membuat gurunya murung. Andaikan ada sesuatu yang dapat ia lakukan...

"Bagaimana dengan konsumsi tenaga dalammu?" sergah Nagaradja keluar dari lamunannya sendiri.

"Saat ini murid hanya bisa melepaskan lima tinju beruntun," jawab Bintang cepat. "Lima tinju tersebut menguras 90% dari tenaga dalamku. Beruntung jurus Delapan Penjuru Mata Angin dapat mengisi mustika tenaga dalam dengan cepat."

"Kau tahu mengapa demikian?"

Bintang menjawab dengan cepat, “Karena sebelum melontarkan Gerakan Pertama jurus Tinju Super Sakti, seluruh tubuh harus dialiri tenaga dalam. Mulai dari tulang, sendi, otot, sampai kulit. Baru setelah itu mengumpulkan tenaga dalam di dada, lalu seketika itu meledakkan tenaga dalam tersebut melalui lengan, untuk menghasilkan kecepatan yang luar biasa. Lalu, saat melontarkan tinju, yang terlebih penting lagi adalah melindungi lengan dan kepalan dengan tenaga dalam.”

Seluruh proses ini memang memakan tenaga dalam yang luar biasa besarnya. Bahkan sampai hampir mengosongkan mustika tenaga dalam Kasta Perunggu Tingkat II.

“Bukan itu alasannya...,” ungkap Nagaradja yang kini memperoleh celah untuk menceramahi muridnya.

Bintang terdiam.

“Alasannya adalah karena sebagai seorang Ahli, tubuhmu terlalu lembek,” tambah Nagaradja sedikit mencibir.

“Andai kata tubuhmu lebih kuat, maka tidak akan banyak tenaga dalam yang diperlukan untuk melindungi tubuh dari hentakan balik saat melancarkan jurus,” Nagaradja berhenti sejenak… “Sehingga engkau masih bisa menghemat tenaga dalam.”

Bintang mengangguk tanpa ragu.

“Kini waktunya untuk melatih tubuh, sekaligus melatih naluri bertarungmu,” ungkap Nagaradja. “Apakah kau tahu alasan pulau ini disebut Pulau Bunga?”

“Tidak, Guru.”

“Pulau Bunga memiliki tempat-tempat khas untuk mengasah keahlian,” nada suara Nagaradja bangga. “Adalah Telaga Tiga Pesona, yang menyerupai tiga kelopak bunga berbeda warna, dahulu kala banyak menarik para ahli untuk berlatih.”

Lalu Nagaradja melanjutkan penjelasan tentang Telaga Tiga Pesona. Telaga pertama bernama Telaga Merah yang airnya sangat panas, lalu Telaga Biru dengan air sangat dingin, serta Telaga Hijau dengan kandungan air beracun.

Dulu, sebelum Pulau Bunga disegel oleh Kaisar Siluman Darah, berbagai perguruan dan ahli bergantian mengajukan ijin berlatih kepada penguasa pulau. Para ahli tersebut berendam di telaga pilihan mereka, demi mengasah kemampuan.

"Lalu, apakah kau tahu apa alasannya aku melarangmu menjelajahi sisi selatan gunung?”

“Karena di sisi selatan Pulau Bunga adalah lokasi berdiamnya binatang siluman,” jawab Bintang. Sejak membuka indera keenam atau mata hati, Bintang sudah menyadari kehadiran berbagai binatang siluman di sisi selatan Pulau Bunga.

“Apakah murid akan diharuskan berendam di ketiga telaga untuk mengolah tubuh dan kemudian memburu binatang siluman di sisi selatan pulau untuk mengasah naluri bertarung?” tebak Bintang membaca arah penjelasan gurunya.

“Hm…” Nagaradja sedikit risih rencana latihan intensif yang telah ia susun ditebak dengan mudah oleh seorang bocah.

“Saat subuh, berendamlah di Telaga Biru. Pada pagi kumpulkan tiga mustika binatang siluman. Di siang hari, berendamlah di Telaga Merah. Sore hari kumpulkan lagi tiga mustika binatang siluman. Jelang malam, berendamlah di Telaga Hijau. Di setiap telaga, gunakan tenaga dalam untuk melindungi tubuh,” Nagaradja menyampaikan cepat. Suasana hatinya tiba-tiba enggan memberikan penjelasan lebih lanjut.

“Baik, Guru. Murid akan berlatih dengan keras,” Bintang segera membalas dan hendak melangkah pergi.

“Tunggu,” sergah Nagaradja. “Dalam berlatih, kau harus pahami batas kemampuanmu! Saat merendamkan diri, jangan lewati jarak lebih dari lima meter dari tepian telaga! Saat berburu, jangan hadapi binatang siluman Kasta Perak!”


Sejak tiba di gunung ini, bahkan sebelum bertemu gurunya, Bintang telah memantau ketiga telaga. Ketiga telaga berada di puncak gunung, di kawah bekas gunung berapi. Kawah tersebut membentuk tiga telaga yang luas. Dua telaga berdampingan satu sama lain berwarna biru dan merah, sedangkan yang ketiga sedikit lebih jauh ke arah barat berwarna hijau.

Subuh pertama, dingin bukan kepalang. Dinginnya sampai merasuk ke sumsum tulang belakang. Padahal, Bintang hanya bertahan tidak lebih dari satu menit saat berendam pada jarak kurang dari satu meter dari tepian Telaga Biru. Sekeluarnya dari telaga, tubuhnya menggigil keras, giginya bergemeretak tak terkendali. Ia menyirkulasikan tenaga dalam untuk menstabilkan suhu tubuh.

Pengalaman pahit juga terjadi di Telaga Merah pada siang hari bolong. Bedanya, suhu panas yang ia rasakan bak ribuan jarum-jarum tajam menusuk sekujur tubuh pada waktu yang bersamaan. Terus menusuk tiada henti. Bintang merayap keluar dari Telaga Merah, dadanya sesak, hampir kehilangan kesadaran. Tertatih-tatih ia mengambil posisi duduk bersila. Barulah setelah kembali menyirkulasikan tenaga dalam tubuhnya terasa lebih lega.

Binatang siluman dapat dideteksi menggunakan indera keenam. Walau ada monyet yang berstatus binatang siluman, monyet di Pulau Bunga bukan salah satu dari mereka. Binatang siluman ditentukan dari mustika yang mereka miliki. Posisi mustika di tubuh binatang siluman berbeda-beda. Tentunya, seorang ahli dapat mendeteksi binatang siluman dengan mudah mengunakan mata hati.

Di hutan selatan kawah, Bintang dapat merasakan berbagai makhluk siluman. Binatang siluman kasta perunggu tingkat rendah sampai menengah mencakup Kuskus Ekor Cambuk, Biawak Tanah dan Ayam Jengger Merah. Sedangkan rata-rata Rusa Tanduk Perunggu, Ular Sanca Api dan Burung Cucak Timur berada pada kasta perunggu tingkat atas. Lalu, ada Babi Taring Hutan dan Kerbau Tanduk Merah yang berkasta perak.

Bintang cukup hati-hati untuk menghindari Kerbau Tanduk Merah dan Babi Taring Hutan, khususnya Babi Taring Hutan yang cukup agresif menyerang.

Akan tetapi, Berburu binatang siluman tingkat rendah pun susahnya bukan main. Untungnya populasi Ayam Jengger Merah cukup besar. Mereka hidup dalam kawanan, meski gerakan mereka sangatlah lincah. Bahkan setelah mengalirkan tenaga dalam ke sekujur kaki supaya dapat berlari kencang dan melompat lebih tinggi, Ayam Jengger Merah masih lebih lincah. Mereka berlari sigap ke kiri dan kanan, memanfaatkan kepakan sayap untuk menikung tajam. Melompat ke atas pohon, mengarungi semak belukar.

Segala cara ditempuh. Bahkan, Bintang mencoba membuat segel berbentuk kerangkeng kecil yang berfungsi sebagai perangkap. Malangnya, karena proses menyusun formasi cukup rumit dan kerangkeng yang dihasilkan tidak stabil, hasilnya adalah membuang-buang waktu saja. Sepanjang hari pertama, Bintang hanya mampu memperoleh dua mustika seukuran kuku manusia milik Ayam Jengger Merah.

Sore harinya lebih menderita lagi. Tidak sampai tiga detik di dalam Telaga Hijau, sekujur kulit tubuh Bintang meruam, mucul bintil-bintil berwarna merah. Rasa gatalnya bukan kepalang. Menyirkulasikan tenaga dalam tidak berdampak banyak. Bintang kembali ke Telaga Merah untuk membasuh diri… Hasilnya adalah rasa sangat perih, ditambah nyeri yang ia rasakan. Dalam keadaan sakit dan tertekan, Bintang melepaskan Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak yang menghantam tebing batu di dekatnya. Kemudian jatuh pingsan.

Tubuh manusia bisa menahan panas dan dingin karena merupakan kondisi yang secara umum pernah dialami. Tubuh mampu beradaptasi sampai batasan tertentu. Akan tetapi, racun adalah perkara lain.

Hari ketiga Bintang mulai terbiasa dengan Telaga Merah dan Telaga Biru. Telaga Hijau masih menjadi momok yang menghantui sekujur tubuhnya.

Di hutan, ia menenteng tempuling, tombak, dari bambu sepanjang hampir 4 m. Dari kejauhan, tempuling terlihat lebih panjang lagi karena tinggi bintang hanyalah 150 cm. Tempuling rupanya hanya efektif bila Ayam Jengger Merah sedang berada dalam kawanan. Sedangkan dalam pengejaran satu lawan satu di antara pepohonan kemiri dan lontar, tempuling yang panjang seringkali terpaut di dahan-dahan pohon.

Sepekan berlalu. Bintang mengumpulkan 35 mustika binatang siluman, kurang dari jumlah yang ditentukan gurunya. Sebagian besar terdiri dari mustika Ayam Jengger Merah, beberapa dari Biawak Tanah, serta satu dari Ular Sanca Api yang kebetulan sedang berganti kulit sebelum kena tikaman tempuling.

“Kenapa kau membawa-bawa joran?” tanya Nagaradja dengan nada setengah mengolok-olok. “Kau mau memancing di telaga? Tidak ada ikan siluman di dalam sana.”

“Guru, ini adalah tempuling…” jawab Bintang sedikit kesal. Ia menyadari betul bahwa untuk keluar dari Pulau Bunga, meningkatkan kesaktian adalah satu-satunya jalan. Oleh karena itu, selama sepekan ia menahan derita demi derita untuk menjadi lebih kuat. Jadi, saat ia tidak dalam kondisi ingin bercanda.

“Hahaha…” Nagaradja justru tertawa. “Seingatku ayahmu bukanlah seorang lamafa.”

“Ibuku adalah seorang lamafa,” jawab Bintang singkat.

“Oh…?”



Catatan:

Berhasil mengejar tenggat waktu…