Episode 3 - Keturunan Sultan


Hari Selasa pagi ini matahari bersinar amat terik, padahal malamnya hujan turun sangat deras bagai air bah tumpah.

Sebelum berangkat ke Magelang hari ini, mereka membekali diri dengan koneksi GPS yang dihubungkan Narin dari satelit Navstar, air minum untuk Damar yang gampang haus, dan aneka cemilan untuk Pastha yang takut lapar. Padahal jarak Yogya - Magelang tidak jauh.

Setelah menitipkan kunci kamar pada resepsionis hotel, Yashwan dan kawan-kawan berangkat dengan mobil sedan sewaan.

Karena jarak dari Hotel Arjuna tempat mereka menginap menuju Magelang tidak jauh, satu jam kemudian mereka sudah sampai di kantor kepala desa Rejowinangun di Magelang.

Kantor kepala desa itu berbentuk rumah joglo namun dengan pintu dan jendela moderen. Tiang penyangga di depan rumah bermotif ukiran majapahit dan lantainya dari keramik warna krem gradasi kuning.

Yashwan mengutarakan maksud kedatangannya kepada penerima tamu. Dibacanya name tag di dada bernama "Mita".

"Daftar nama kepala dusun yang ada di Rejowinangun, niku wonten teng Pak Karyo, sebelah situ, Mas," kata perempuan muda yang jadi penerima tamu sambil menunjuk ke arah meja orang yang dimaksud.

Yashwan mengucapkan terima kasih lalu menghampiri meja yang dimaksud.

"Selamat pagi, Pak!" sapa Yashwan sopan. "Kami mau minta tolong diperlihatkan nama-nama RW dan kepala dusun di Desa Rejowinangun."

"Sampeyan darimana, to?" tanya petugas yang bernama Karyo itu dengan logat Jawanya yang kental.

"Dari Jakarta, Pak."

"Nama-nama kepala dusun untuk keperluan?"

"Nngg... untuk tugas lapangan kuliah. Penerapan teknologi pada kehidupan masyarakat sosial di pedesaan," jawab Yashwan tanpa berpikir. Hanya itulah yang ada di kepalanya saat ditanya soal keperluannya.

"Berapa dusun yang akan dikunjungi?"

"Semua, Pak."

Pak Karyo sedikit terkejut, "Semua? Ada 13 dusun. Memang berapa lama diberi waktu oleh dosen sampeyan?"

"Sebulan, Pak."

Kemudian Pak Karyo memberikan dua lembar kertas yang berisi nama-nama kepala dusun beserta alamatnya. "Ini di copy dulu di meja sana sama Mbak Mita," tunjuknya ke arah meja penerima tamu yang tadi ditemui saat kedatangan.

Setelah mendapat salinan lembaran kertas itu, Yashwan mengucapkan terima kasih dan pamit kepada staf di kantor kepala desa. Ia sempat melihat ke ruangan yang pintunya bertuliskan "Kepala Desa" di belakang meja Pak Karyo. Yashwan melihat sang kepala desa sedang menerima tamu. Kepala desanya seorang perempuan paruh baya, wajahnya cantik khas Jawa nampak ramah, sementara tamunya laki-laki belum terlalu tua, memakai blankon dan baju lurik berpadanan celana panjang hitam.

"Ayo lanjut," kata Yashwan kepada teman-temannya. Ia menyerahkan lembaran kertas itu pada Desitra karena dianggapnya perempuan lebih rapi dalam menyimpan arsip.

Desitra membaca lembaran di tangannya sambil masuk ke mobil.

"Yashwan, kau sudah baca daftar kepala dusun ini?" tanya Desitra.

"Belum."

"Beruntunglah kita. Lihat nama Cakrakinaryo ada di daftar ini. Beliau kepala Dusun Sempu!" Desitra mengacungkan lembaran itu ke dekat wajah Yashwan.

Pastha dan Damar spontan berebut ikut melihat karena tak percaya perjalanan mereka tak sesulit yang mereka bayangkan.

Yashwan tersenyum optimis. Sementara Pastha tertawa begitu membaca nama Cakrakinaryo pada lembaran itu.

"Hahaha, benar! Tapi apa ini Cakrakinaryo yang raden mas itu? Yang cucu Hamengkubuwono IX itu?!" Pastha antusias setengah tak percaya.

"Ayo kita cari tahu. Kita langsung ke Dusun Sempu!" kata Yashwan menyalakan starter mobil lalu tancap gas.

Dari jarak peta yang diberikan Narin, Dusun Sempu dekat, hanya berjarak 1,5 kilometer dari kantor kepala desa.

Mudah saja mencari rumah itu, karena mereka sudah mendapat visualisasi dari Narin bentuk rumah mana yang harus didatangi. Maka ketika menemukan rumah yang dimaksud mereka tanpa ragu memarkir mobil di depan pekarangan.

Rumah Cakrakinaryo biasa saja untuk ukuran orang kota. Hanya saja rumah itu memang luas. Halaman depan dan belakang dipasang rumput sintetis. Kaktus warna-warni tumbuh dalam pot-pot hidroponik besar.

"Assalamualaikum!" Yashwan memanggil pemilik rumah.

Belum ada orang yang keluar sehingga Yashwan harus mengulangi sampai tiga kali. Seorang perempuan 40 puluh tahunan berpakaian rapi dengan rok panjang dan blus panjang hijau muncul dari balik pintu rumah.

"Permisi, Bu, saya Yashwan dan ini kawan-kawan saya. Apa benar ini rumah Raden Mas Cakrakinaryo?" Sapa Yashwan ramah.

"Benar. Mas ini darimana?" si empunya rumah bertanya balik.

"Dari Jakarta, Bu, mau menemui Raden Mas Cakrakinaryo untuk keperluan tugas sosial," jawab Yashwan.

"Tugas sosial?" si perempuan bertanya lagi tapi langsung mempersilahkan Yashwan dan kawan-kawannya masuk kerumah tanpa menunggu jawaban dari Yashwan akan tugas sosialnya. "Ayo masuk dulu. Bapak masih di kantor desa, tunggu sebentar ya. Oya, panggil saja Pak Cakrakinaryo, tanpa raden mas ya," sambungnya yang kemudian memperkenalkan diri sebagai istri Cakrakinaryo bernama Kinasih. Yashwan juga memperkenalkan kawan-kawannya.

Setelah memanggil pembantunya untuk minta dibuatkan minuman, Kinasih bertanya lagi.

"Kalian kerja atau kuliah?"

Yashwan menjawab, "Saya petani, Bu, kalau mereka kuliah."

Kinasih agak takjub mendengar kalau Yashwan adalah seorang petani.

"Rumah kaca?"

"Iya."

"Baru kali ini saya lihat petani rumah kaca yang muda, ganteng dan gagah!" katanya memuji Yashwan.

Yashwan merasakan wajahnya panas karena karena malu. Pastha dan Damar tertawa mendengus sambil meninju bahu Yashwan. Desitra melihat penuh perhatian kepada Yashwan tanda mengiyakan pendapat Kinasih.

Saat itulah terdengar deru sepeda motor masuk pekarangan.

"Nah, itu Pak Cakrakinaryo sudah pulang," seru Kinasih.

Sesaat Yashwan terperanjat ketika melihat sosok Cakrakinaryo yang tak asing. Tamu yang dilihat Yashwan di ruangan kepala desa ternyata Raden Mas Cakrakinaryo.

"Pantas ada mobil parkir di depan pekarangan, ada tamu rupanya," kata Cakrakinaryo saat masuk rumah.

Yashwan menyalami Cakrakinaryo diikuti kawan-kawannya lalu memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan mereka.

"Ohh, tugas sosial seperti apa yang ingin kalian aplikasikan disini?" tanya Yashwan.

"Kami ingin mendukung bapak..." belum sempat Yashwan meneruskan ucapannya Desitra keburu memotong.

"Mohon maaf, semoga bapak berkenan menjawab kalau saya bertanya siapakah kakek Pak Cakrakinaryo. Kami hanya ingin menambah wawasan tentang silsilah Bapak karena berkaitan dengan tugas sosial ini," tukas Desitra.

Yashwan, Pastha, dan Damar tersentak. Tak ada satupun dari mereka yang memastikan asal-usul Cakrakinaryo apakah ia benar keturunan Hamengkubuwono IX atau bukan.

Cakrakinaryo bercerita bahwa ibunya bernama Nyi Raden Riya Jayaningrum. Sejak menikah dengan ayahnya ibunya ikut ke Sragen mengelola pertanian tembakau. Tapi karena bangkrut mereka kemudian mulai hidup baru di Magelang. Orangtuanya mengelola guest house di dekat Candi Borobudur. Guest house itu sekarang dikelola oleh adik lelaki Cakrakinaryo yang bernama Roy Suwiryo. Cakrakinaryo punya kakak perempuan tapi wafat dua tahun lalu akibat kanker serviks.

Cakrakinaryo juga bercerita bahwa ayah dari ibunya bernama Joyokusumo anak ngarso dalem Hamengkubuwono IX. Tapi ibu dan ayah Cakrakinaryo sudah parang berhubungan dengan keluarga istana sejak Hamengkubuwono X mengangkat anak perempuannya, GKR Pembayun, menjadi pewaris tahta. Karena itulah sehari-harinya ia today menambahkan gelar 'raden mas' lagi didepan namanya. Kakeknya, Pangeran Joyokusumo, termasuk yang menentang naiknya GKR Pembayun menjadi ratu karena kesultanan Yogya adalah kesultanan Islam. Sultannya bergelar khalifatullah yang merujuk bahwa pemimpin umat haruslah laki-laki.

"Begitulah riwayat singkat saya." Cakrakinaryo mengakhiri kisah hidup singkatnya.

"COCOK!" sambaran Pastha yang berteriak membuat kawan-kawannya yang sedang menyimak kaget.

"Kowe ngagetin, gus!" tukas Cakrakinaryo menyebut Pastha dengan sebutan "gus" kependekan dari cah bagus yang berarti anak cakep.

Damar meninju lengan Pastha untuk melampiaskan kekagetannya.

"Maaf, Pak, saya cuma antusias," Pastha merendahkan suaranya dan menunduk karena malu.

"Iya, maaf, Pak, kalau kami mengagetkan bapak," sambung Yashwan ingin bicara lagi tapi Desitra keburu memotong, "Berapa usia Pak Cakrakinaryo, kalau bapak berkenan menjawabnya?"

"45 tahun," jawab Cakrakinaryo.

Yashwan menganggap waktunya basa-basi sudah selesai sehingga ia kemudian menyampaikan maksudnya datang ke rumah Cakrakinaryo.

"Jadi begini, hmm, kami ingin membantu Bapak apabila Bapak ada keinginan politik untuk menjadi pemimpin," kata Yashwan.

Cakrakinaryo mengerutkan kening tanda tak mengerti maksud Yashwan.

Desitra angkat bicara, "Berkaitan dengan tugas sosial yang kami lakukan ini, kami berkomitmen untuk membantu Pak Cakrakinaryo dalam hal pembiayaan apabila Bapak punya niat untuk menjadi seorang pemimpin masyarakat. Kami melihat Bapak sebagai cicit Hamengkubuwono IX pantas menjadi pemimpin," jelas Desitra.

Mata Cakrakinaryo berbinar mendengar kata 'dana' yang bisa memuluskan niatnya, tapi ia tak percaya pada sekelompok anak muda tak dikenal yang tiba-tiba menawarkan uang. Apa ini lelucon atau anak-anak ini disuruh orang unuk mengerjai dirinya?

"Pembiayaan maksudnya pinjaman dana?" tanya Cakrakinaryo menyelidik.

"Bukan pinjaman, tapi hibah, Pak," jawab Yashwan.

"Apa syaratnya?"

"Tidak ada."

Cakrakinaryo tertawa terbahak-bahak. Yashwan menggaruk kepalanya meski tidak gatal, kuatir ia salah bicara. Damar geleng-geleng kepala mengira Cakrakinaryo hilang akal.

Setelah puas terbahak-bahak, Cakrakinaryo menarik napas dan berusaha bicara disisa-sisa tawanya.

"Siapa kalian sebenarnya? Siapa yang menyuruh kalian mengolok-olok saya?" ujar Cakrakinaryo.

Alis Yashwan berkerut, "mengolok-olok Bapak?"

Wajah Cakrakinaryo berubah serius. "Saya tidak ada urusan dengan kalian. Sebaiknya kalian juga tidak mengganggu saya lagi," katanya dengan nada mengusir.

"Tapi kami serius, Pak!" Pastha mencoba meyakinkan.

"Saya juga serius. Kalian ada urusan yang lebih penting daripada menghabiskan waktu di rumah saya, toh?" usirnya.

Yashwan baru saja membuka mulutnya tapi keburu dipotong Cakrakinaryo. "Kita tidak ada urusan lagi, anak-anak, saya sibuk," katanya ketus.

Dengan gontai Yashwan dan kawan-kawannya meninggalkan rumah itu.

"Sudah didepan mata..." keluh Damar.

Desitra mendesah, "kalau aku jadi Cakrakinaryo aku juga tidak akan percaya kalau ada orang asing tiba-tiba menawarkan uang padaku."

"Jadi bagaimana caranya?" tukas Pastha.

Suasana dalam mobil hening sejenak.

"Kita ke bank!" ujar Yashwan. "Raden Mas Cakrakinaryo itu harus melihat uang kita agar percaya apa yang akan kita berikan itu sungguhan." Katanya lagi sambil menyalakan mesin mobil.

"Yes!" sorak Pastha.

"Hmm, sejujurnya, saya memang ingin membangun desa ini melebihi desa-desa lain di seluruh Magelang. Ingin masyarakatnya maju dan mandiri, sehingga bangga jadi wong Magelang," ujar Cakrakinaryo dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.

Diselingi menyeruput tehnya, ia melanjutkan, "Untuk itulah kalau Mas Yashwan dan sampeyan-sampeyan ini sejalan dengan niat mulia ini dan berniat membantu saya, mari kita sama-sama saling mendukung. Saya punya sumber daya manusia dan pikiran-pikiran cemerlang. Mas Yashwan bisa melengkapi dengan dana. Idealnya begitu, kan, Mas Yashwan?!" lanjut Cakrakinaryo

"Intinya Pak Cakrakinaryo ini minta dukungan dana untuk mencalonkan jadi kepala desa?" Pastha memastikan.

"Saya tidak minta, kalian yang mengajukan diri membantu saya, toh?" tegas Cakrakinaryo sambil mengembangkan senyumnya lagi.

Yashwan tertawa kecil. "Maksud Pastha apakah hanya untuk jadi kepala desa? Bukan yang lainnya, Pak?" tambah Yashwan.

"Memangnya yang lain itu apa? Kalian mau menjadikan saya komisaris bank?" canda Cakrakinaryo.

Pastha dan Damar tertawa. "Suka bercanda juga ya bapak ini."

Yashwan tersenyum. Saat tersenyum itu matanya bertatapan beberapa detik dengan Desitra yang sedang menyeruput teh.

Setiap berpapasan mata dengan Desitra Yashwan selalu bergetar. Tapi segera ditepisnya jauh-jauh getaran itu.

Dalam hati Yashwan berkata, membantu keturunan Hamengkubuwono IX jadi kepala desa? Apa ini yang dimaksud ayahnya, bukannya jadi raja atau presiden? Haha, kalau hanya jadi kepala desa berarti tugasku tidak terlalu berat. Yashwan sekarang merasa lega karena bebannya ternyata tidak seberat dugaannya. Tapi terasa seperti terlalu mudah. Ah, mungkin memang ini sesuai yang diperintahkan ayahnya.

"Iya, Pak, kami akan membantu secara finansial kebutuhan bapak untuk pencalonan sebagai kepala desa," jawab Yashwan mantab.

Cakrakinaryo tertawa lepas. Diikuti Yashwan kemudian Pastha dan Damar ikut tertawa. Adapun Desitra hanya tertawa kecil.

"Kalau sudah sepakat seperti ini maka sebaiknya kita mulai kerjasama ini secepatnya, supaya tidak buang waktu," tambah Cakrakinaryo.

"Yashwan, apakah semudah ini tugas dari ayahmu untuk keturunan Hamengkubuwono IX? Rasanya terlalu mudah,"

Yashwan menatap Desitra sambil tersenyum, "Raden Mas Cakrakinaryo sesuai dengan ciri yang diberikan ayahku. Kita harus membantunya. Kalau ternyata hanya untuk menjadi kepala desa bukannya raja atau presiden, maka tugas kita lebih mudah, bukan? Kita tak perlu berkeliling kota dan mencari petunjuk-petunjuk lagi," Yashwan meyakinkan Desitra meski dalam hatinya terbersit sekelebat rasa ragu.

Desitra akan membantah tapi Damar keburu memotong pembicaraan, "Yashwan, sebaiknya kita tukar emas yang kau punya itu ke Bank Indonesia. Kalau terlalu sering menukar di bank akan mencurigakan otoritas keuangan karena emas itu milik Bank Indonesia," kata Damar dengan mata tetap menatap layar rolltop.

"Kau benar. Setibanya kita di Jakarta, akan kita tukarkan emas-emas itu," jawab Yashwan.