Episode 4 - Arya Jayalodra


Aahh.... Segar rasanya tubuhku tersentuh oleh air. Tapi... Mandi di sumur tidak seperti yang kubayangkan tadi. Ternyata lebih enak mandi di kali, tidak perlu menimba air seperti di sini. Kalau di kali aku hanya perlu menceburkan diri dan membiarkan arus sungai yang menyapu tubuhku. Di sini aku harus mengeluarkan tenaga untuk menimba air.

Ah! Dasar kuntjoro pemalas! Hidup modern saja megeluh! Bagaimana bisa menjadi prajurit kerajaan Watugaluh! hardikku di dalam hati kepada diriku sendiri.

Terlihat asap mengepul keluar dari dapur Empu Parewang, sepertinya Empu tengah memasak. Aku coba mencium bau masakannya untuk menebak Empu sedang masak apa. Namun ternyata, yang tercium oleh hidungku hanya bau asap. Sepertinya Empu Parewang baru mulai menyalakan kayu bakar. Saat tengah asik mandi, Empu Parewang tiba-tiba datang menghampiri sambil membawa baju dan celana di tangannya.

"Ini baju dan celanaku, kau pakai lah," ujarnya sambil meletakkan baju dan celana itu di atas bilik sumur.

"Terimakasih kek untuk pakaiannya,"

"Sama-sama, kau telah mengorbankan segala yang kau punya untuk menyelamatkan Adipati Soka Dwipa, ini adalah hal kecil yang pantas kau dapatkan,"

"Maaf bila model dan ukurannya kurang pas, itu bajuku dulu sewaktu masih menjadi pendekar," lanjut Empu Parewang sambil berjalan masuk ke dapur.

"Jadi Empu Parewang dulumya seorang pendekar? Jika begitu Empu bisa melatihku bertarung…"

"Itu dulu, sudah sangat lama. Cepat selesaikan mandimu lalu bantu aku menyiapkan makan malam," ujarnya sambil terus berjalan ke dapur.

Usai mandi, aku mengenakan pakaian yang diberikan oleh Empu Parewang. Pakaiam yang tersebut terasa longgar di tubuhku. Entah aku yang terlalu kurus, atau Empu Parewang yang dulu sewaktu muda bertubuh besar. Setelah selesai mengenakam pakaian, aku bergegas menuju dapur menemui Empu Parewang untuk membantunya memasak. Namun, setibanya di dapur, ia malah menyuruhku untuk pergi ke ruang tamu.

"Kamu ngapain di sini, Cu?"

"Saya mau membantu kakek menyiapkan makanan."

"Kau baru mandi, kalau sekarang kau membantuku memasak disini, nanti tubuhmu bau asa."

"Bukankah tadi kakek sendiri yang memintaku untuk membantu kakek menyiapkan makanan?"

"Aahh... Itu kan alasanku saja supaya kau kembali mandi dan tidak menanyakan tentang masa laluku sebagai seorang pendekar."

"Jadi bagaimana ceritanya saat dulu kakek masih jadi seorang pendekar?"

"Weehhhh... Sudah sana! Pergi ke ruang tamu! Aku tidak mau membahas masalah itu! Nanti setelah makan malam akan kuceriterakan kau tentang Arya Jayalodra.

Tak ingin membuat Empu Parewang marah, aku memutuskan untuk menunggunya di ruang tamu. Hari mulai gelap, aku membatu menutup jendela yang ada di ruang tamu itu dan menyalakan damar (lampu berbahan bakar minyak) yang tergantung di beberapa sudut ruang tamu. Tak berapa lama, Empu Parewang datang membawa bakul nasi.

"Sini kek biar kubantu."

"Tidak perlu, kau duduk saja di bale-bale sana! Damar di ruang tengah dan dapur belum kunyalakan, masih sagat gelap. Kalau kau ke belakang takutnya kau tersandung."

"Baiklah kalau begitu, Kek."

Aku memperhatikan Empu Parewang. Entah dia memiliki kemampuan melihat dalam gelap atau memang sudah hafal dengan kondisi rumahnya, yang pasti dia dapat membawakan makanan dan minuman dari dapur yang gelap dengan cepat ke ruang tamu tanpa ada kendala.

"Makanlah duluan, aku mau menyalakan damar di belakang dan di sekitar rumah."

"Baik, Kek."

Meskipun begitu, aku merasa tidak enak bila menyantap makanan ini duluan, aku menunggunya hingga kembali.

"Loh? Kamu belum mulai makan?"

"Belum kek, saya menunggu kakek. Tidak enak rasanya makan mendahului si empunya rumah."

"Weleh-weleh... Kamu ini.. Ya sudah.. Makanlah."

Kami makan sambil berbincang-bincang tengang bopoku. Sepertinya Empu Parewang penasaran dengan bopo. Aku pun berjanji kepada Empu Parewang untuk memperkenalkannya kepada bopoku suatu hari nanti. Setelah selesai makan dan membersihkan tangan, aku menagih cerita kepada Empu Parewang.

"Kakek, tadi... Sebelum saya mandi, kalek bilang kakek akan menceriterakan tentang Jayalodra. Boleh kudengar cerita itu, Kek?"

"Tentu saja boleh. Jadi begini," Empu Parewang menaikkan dan menyilakan kedua kakinya ke atas bale-bale dan mulai bercerita.

"Jayalodra terlahir dari perkawinan antara seorang selir bernama Sukma Ayu Wardhani dengan Sri Maharaja Adhipramana, raja Watugaluh. Hubungan antara Sukma Ayu Wardhani dengan Maheswari Putri Wulandari, Ibu Suri Watugaluh pun begitu baik. Semenjak kecil, Jayalodra diberikan pendidikan tentang budi pekerti oleh ibunya."

"Loh? Jika benar begitu, seharusnya Jayalodra menjadi orang yang baik... Tapi mengapa dia bisa jadi sekejam ini?"

"Iya, saat kecil Jayalodra memang anak yang baik, dia dan Reksa Pawira pun cukup dekat. Bahkan mereka dulu sering berbagi dan tolong-menolomg bila salah satu menghadapi masalah.

"Hingga tiba pada suatu hari... Ketika Jayalodra menginjak usia 7 tahun, ibu yang sangat dikasihinya meninggal karena penyakit. Jayalodra begiru terpukul, iya terus berada di samping jasad ibundanya hingga tiba upacara Ngaben Sawa Wedana. Sejak saat itulah Jayalodra mulai berubah. Dia kehilangan cahaya di dalam hatinya. Kehilangan ibunda, sang surya yang selama ini menghangatkan jiwanya."

"Lantas... Apakah Jayalodra langsung jadi orang jahat, Kek?"

"Belum... Di kala dukanya itu, tak ada satupun yang mampu menghiburnya termasuk Reksa Pawira dan kakak-kakaknya."

"Prabu Reksa Pawira punya kakak, Kek?"

"Punya... Ada dua orang, Mahapura dan Duryowardhana. Tapi keduanya sudah mulih, sudah meninggal. Mahapura meninggal saat sedang berburu sedangkan Duryowardhana gugur dalam perang."

"Sampai di mana ceritaku tadi?" tanya Empu Parewang sambil menggaruk kepalanya.

"Sampai tidak ada yang bisa menghibur Jayalodra, Kek."

"Oh iya... Itu dia... Selama bertahun-tahun Jayalodra seperti mayat hidup. Yang dikerjakannya hanya duduk di taman pada siang hari dan menatap rembulan di kala malam."

"Itu pula yang menyebabkan ia tidak punya ilmu kanuragan, jangankan untuk berlatih kanuragan, belajar ilmu tata negara dan sembahyang pun dia enggan. Dia merasa para dewa mengkhianatinya dengan mengambil ibundanya."

"Eh... Kau bisa bantu aku, tidak?"

"Bantu apa, Kek?"

"Pijit kepalaku, rasanya agak berat."

"Baik, Kek. Maaf ya kek saya pegang kepalanya."

Aku berpindah posisi, duduk di belakang Empu Parewang dan mulai memijat kepalanya.

"Nah gitu... Enak..."

"Lanjutkan dong kek ceritanya," pintaku kepada Empu Parewang yang mulai keenakan dipijit dan berhenti bercerita.

"Oh iya.. Di saat jiwanya semakin kosong itulah iblis datang menghasutnya."

"Ada iblis, Kek?"

"Berwujud manusia... Patih sebelumnya... Patih Giriwarman. Dia merencanakan kudeta melalui Jayalodra muda. Diam-diam ia mendekati Jayalodra dan mulai menghasutnya. Kelicikan dan kepiawaiannya dalam merangkai kata mampu membuat Jayalodra yang tadinya acuh menjadi terpengaruh."

"Jayalodra dijadikan alat olehnya, Kek?"

"Iya... Patih Giriwarman bilang jika penyebab kematian ibunda Jayalodra bukan karena penyakit, melainkan diracun oleh Ratu Maheswari. Jayalodra muda kemudian meminta tolong kepada Patih Giriwarman untuk membalaskan dendamnya."

"Lantas apa yang dilakukan oleh Patih Maman, Kek?

"Giriwarman!"

"Iya.. Itu maksudku, Kek..."

"Giriwarman secara sembunyi-sembunyi mengajari Jayalodra menjadi pemuda yang cerdas namun licik. Strategi perang hingga kemampuan bela diri diajarkannya kepada Jayalodra. Hanya saja... ia tidak mengajari Jayalodra ilmu kanuragan. Ia tidak ingin bila Jayalodra lebih hebat daripadanya. Bagaimanapun, Jayalodra harus tetap dalam kendalinya.

“Bertahun-tahun bersahabat dan dilatih oleh Giriwarman membuat kepribadian Jayalodra menjadi berubah. Dia menjadi pemuda yang kasar, suka bertindak semaunya sendiri tanpa aturan, gemar berjudi dan bermain wanita.

“Hingga tiba pada suatu malam, jerit emban, pelayan kerajaan Watugaluh menggema membangunkan seisi keraton. Sang Ibu Suri Kerajaan Watugaluh yang tengah ditinggal berburu oleh suami dan anak laki-lakinya ditemukan tewas mengenaskan di kamarnya.”

“Jadi, pada malam itu Prabu Reksapawira bersama ayahandanya tengah pergi berburu, Kek?”

“Benar, dan saat itu dimanfaatkan dengan baik oleh Jayalodra yang telah termakan oleh hasutan Patih Giriwarman untuk membunuh Ratu Maheswari. Berita duka itu pun sampai ke telinga Prabu Adhipramana. Terpukul dengan berita tersebut sang Prabu jatuh sakit. Ia dibawa kembali ke kerajaan dengan menggunakan tandu kerajaan.

“Sesampainya di kerajaan, Prabu Adhipramana langsung ditangani oleh tabib. Sang Prabu memberikan amanah kepada Reksa Pawira untuk mengambil alih kepemimpinan di Watugaluh, mengurus pemakaman ibundanya dan mencari pembunuh Ratu Maheswari.”

“Apa mulai saat itu Prabu Reksa Pawira resmi menjadi seorang raja, Kek?” tanyaku menyela cerita Empu Parewang.

“Dapat dikatakan begitu. Hanya saja belum dilakukan acara penobatan, karena suasana kerajaan yang tengah berduka.”

“Setelah upacara kematian sang Ratu selesai dilaksanakan, titah pertama Reksa Pawira sebagai seorang raja kepada para pengikutnya adalah untuk mencari dan menemukan pembunuh ibunya. Penyelidikan itu dipimpin oleh Patih Giriwarman.”

“Apa, Kek? Yang benar saja? Bukankah ia bersekongkol dengan Jayalodra untuk membunuh sang Ratu?”

“Benar sekali! Tapi asal kau tahu, patih Giriwarman bermuka dua. Dia begitu baik di depan sang raja dan rakyat meski dia menyimpan kebusukan di dalam hatinya. Sangat jauh berbeda dengan Jayalodra yang sifat buruknya sudah tersohor di seantero negeri. Setelah melakukan penelusuran, bukti-bukti yang ditemukan mengarah pada satu nama, Jayalodra.”

“Jadi Patih Giriwarman mengorbankan Jayalodra, Kek?”

“Iya, itu bagian dari rencana besarnya. Jayalodra dipanggil ke Balai istana untuk diadili. Jayalodra yang merasa dikhianati berusaha membela diri dan mengatakan bahwa itu semua adalah rencana Patih Giriwarman. Namun semua tidak ada yang mempercayai perkataan Jayalodra karena semua mengenal patih Giriwarman sebagai sosok yang baik dan pada saat kejadian pun sang Patih ikut bersama Reksa Pawira dan ayahnya berburu ke hutan.”

“Lantas hukuman apa kek yang diberikan kepada Jayalodra?”

“Seharusnya Jayalodra dihukum mati di hadapan rakyat, namun dengan segala pertimbangan, akhirnya dipilihlah hukuman pengasingan. Jayalodra akan dibuang ke Gunung Sindoro dan dibiarkan bertahan hidup di sana tanpa bekal apapun.”

“Di Gunung Sindoro, Kek? Bukankah itu tempat dimana Mustika Karang Abang dan Jasad Rakyan Pamungkas disimpan, Kek?

“Benar sekali. Di sana Jayalodra berhasil membuka mulut goa yang semula hendak dijadikannya tempat bernaung. Namun siapa sangka, yang didapatkannya lebih dari yang dia butuhkan. Dia menemukan mustika Karang Abang dan mendapatkan kekuatan dari mustika itu.”

“Lalu Patih Giriwarman bagaimana, Kek?”

“Rencananya untuk menguasai Watugaluh hampir berhasil. Sang Raja, Adhipramana yang tengah sakit semakin terpukul dengan pengkhianatan putranya hingga akhirnya Sang Raja pun menyusul kedua istrinya ke Nirwana. Sang Raja meninggal, pangeran dari selir telah dibuang ke pengasingan, Putra Mahkota yang hanya tersisa satu orang tengah dalam kedukaan yang mendalam, sungguh saat yang tepat bukan bagi patih Giriwarman untuk melakukan pemberontakan.”

“Jadi itu rencanya, Kek? Lantas apa dia berhasil melakukan rencananya?”

”Kurang lebih begitu. Namun belum sempat dia melakukan pemberontakan, terdengar kabar bahwa ada kadipaten yang diserang oleh Jayalodra. Hingga akhirnya Prabu Reksa Pawira memerintahkan Patih Giriwarman untuk menaklukan Jayalodra. Giriwarman yang merasa kesal dan terancam oleh keberadaan Jayalodra menyanggupi titah itu dan pergi berangkat dengan pasukannya untuk mengalahkan Jayalodra. Ia tidak tahu seberapa kuat Jayalodra saat itu. Dia pergi untuk menjemput ajalnya sendiri, untuk memenuhi karmapalanya.”

Empu Parewang menghentikan ceriteranya dan menenggak air langsung dari kendil. Dia juga memintaku untuk menghentikan pijatan. Dia bilang sudah cukup. Aku yang berhenti memijat kepalanya berpindah posisi duduk di hadapannya. Namun Empu Parewang tidak melanjutkan. Ia seperti memikirkan sesuatu. Setelah diam seperti beberapa saat, baru Empu Parewang melanjutkan ceritanya.

“Giriwarman dan pasukannya bertemu dengan Jayalodra di Kadipaten Krukup yang telah porak-poranda. Melihat kedatangan Giriwarman, amarah Jayalodra pun terpancing. Dengan kekuatan baru yang dimilikinya, Jayalodra berhasil menaklukan sebagian prajurit yang ikut bersama Giriwarman sementara sebagian prajurit lainnya lari tunggang-langgang. Melihat hal tersebut, Giriwarman tidak tinggal diam, dari atas kudanya dia melompat dan langsung melancarkan tendangan yang berhasil ditahan oleh Jayalodra. Bukan hanya itu, tangkisan dari Jayalodra justru membuat Giriwarman terpental.

“Terkejut dengan apa yang dilakukan Jayalodra, sang Mahapatih Watugaluh itu pun tidak tinggal diam. Ia melancarkan pukulan dan tendangan beruntun dari jurus ke’tek yang dikuasainya. Terjadi pertarungan sengit di antara keduanya. Hingga disaat yang tepat, ketika ada celah, Jayalodra berhasil menyerang Giriwarman dengan Mustika Karang Abang,”

“Giriwarman merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, namun ia kebingungan karena secara kasat mata tidak ada yang terjadi dengan dirinya. Melihat ada peluang, patih Giriwarman melakukan ancang-ancang untuk melepaskan ajian pamungkasnya. Namun setelah beberapa kali ia mencoba, tidak ada tenaga apapun yang terpancar dari dirinya.

“Setelah beberapa saat, ia menyadari bahwa ilmu kanuragannya telah hilang. Melihat wajah panik Giriwarman, Jayalodra tertawa lepas. Giriwarman berusaha lari, namun sia-sia. Jayalodra berhasil mengejarnya dan menyerangnya lagi dengan mustika Karang Abang hingga tubuh Giriwarman hancur tak tersisa.”

“Jadi, mulai dari sana Jayalodra melakukan penaklukan atas kadipaten lainnya, Kek?”

“Kamu sudah mulai pintar ya, Cu. Sudah, bersihkan peralatan makan ini di belakang dan tidurlah di kamar kulon. Esok pagi kau akan mulai kuajarkan bagaimana caranya membuat senjata,” perintah Empu Parewang kepadaku.

“Baik, Kek… Tapi... aku penasaran. Bagaimana kakek bisa tahu tentang cerita-cerita itu secara rinci?” tanyaku padanya sambil mengangkat peralatan makan yang sudah kotor.

“Pergaulan kakek ‘kan luas, Cu. Jadi kabar yang masuk juga banyak,” ujurnya sembari tersenyum meledekku.

“Begini, Cu... Apa yang diketahui manusia itu terbatas, karena manusia hanya menggunakan indera yang sifatnya terbatas seperti mata dan telinga untuk menangkap pesan. Tapi ada sebagian orang yang menggunakan indera manusia yang tidak terbatas untuk menerima pesan.”

“Indera manusia yang tidak terbatas? Maksudnya apa kek?

“Bathin. Bathin manusia begitu luas dan terkoneksi dengan semesta, hanya saja sedikit orang yang menggunakan bathin mereka untuk menerima pesan.”